Pemerintah RRC bekerjasama dengan UNDESA (United Nations Departement of Economic and Social Affairs), WHO dan UNESCAP, telah menjadi tuan rumah pertemuan tingkat menteri kawasan Asia Pasifik dalam kerangka 2009 Economic and Social Councils Annual Ministerial Review (AMR).
Tema yang di bahas adalah Peningkatan Kesadaran Masyarakat mengenai kesehatan (Health Literacy).
Pertemuan diikuti oleh perwakilan pemerintah, asosisasi tenaga medis, ahli dan akademisi dari universitas dan think tank, NGO, media dan pemangku kepentingan terkait lainnya dari 25 negara, serta perwakilan dari organisasi internasional antara lain WHO, IOM, UNAIDS, UNICEF dan SAARC. Delegasi Pemerintah Indonesia yang hadir yaitu: Dr. Rahmi Untoro, MPH, Staf Ahli Menteri Bidang Medico Legal dan didampingi oleh Dra. Zuraida MPH, Kepala Bidang Teknologi Sarana Pusat Promosi Kesehatan, serta Puji Lestari, staf dari KBRI Beijing.
Pertemuan mempunyai tujuan sebagai forum konsultasi regional guna merumuskan rekomendasi kebijakan terkait upaya peningkatan ‘melek kesehatan’ (health literacy) dalam rangka pencapaian target MDGs, khususnya yang menyangkut kesehatan global, untuk kemudian dijadikan masukan guna dibahas lebih lanjut pada the Annual Ministerial Review (AMR) ECOSOC di Jenewa pada bulan Juli 2009 mendatang.
Health literacy didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk memperoleh, memahami dan menggunakan informasi untuk menjaga dan meningkatkan kesehatannya. Lebih jauh, melek kesehatan menunjukkan tingkat pengetahuan dan keyakinan diri untuk mengambil keputusan dan tindakan, mengubah pola hidup yang lebih sehat bagi masyarakat secara mandiri dan lingkungannya.
Beberapa Rekomendasi dan Informasi Penting yang perlu ditindaklanjuti:
a. Tantangan utama yang dihadapi dalam upaya peningkatan health literacy antara lain adalah tingkat basic literacy yang relatif masih rendah, keterbatasan akses masyarakat terhadap media-media diseminasi informasi, kendala nilai sosial dan budaya (mitos, tabu), keterbatasan studi dan penelitian, penyusunan bahan pendidikan dan kampanye kesehatan yang efektif dan efisien, keterbatasan SDM, dan kurangnya koordinasi antar instansi pemerintah maupun antara pemerintah dengan stakeholders lain.
b. Inti dari program health literacy adalah health care democratization, yaitu memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan self-awareness dan self-efficacy dalam kesehatan. Pendidikan kesehatan agar diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan formal sedini mungkin untuk meningkatkan health literacy. Selain itu, pengintegrasian melalui media budaya tradisional, seperti seni pertunjukan (wayang), yang umumnya lebih mampu menjangkau masyarakat pedesaan secara lebih luas, juga perlu dipertimbangkan.
c. Model program dan pengalaman sukses yang telah berhasil dilakukan di negara lain dapat diterapkan dengan penyesuaian terhadap konteks sosial ekonomi dan budaya nasional atau think globally act locally. Setiap negara hendaknya mengidentifikasi masalah dan kendala yang dihadapi di wilayahnya dan menyusun strategi dan rencana aksi nasional sesuai dengan karakteristik domestik masing-masing.
d. Health literacy adalah kunci untuk mencapai kemajuan pembangunan di bidang kesehatan. Oleh karenanya, topik ini sepatutnya dapat menjadi bahasan penting dalam AMR ECOSOC Juli mendatang. Tiga isu utama yang mengemuka dalam pertemuan Beijing dan perlu diangkat dalam AMR yaitu ketersediaan indikator dan benchmark untuk pengukuran dan monitoring kemajuan health literacy, pengembangan ICT guna mendukung diseminasi informasi dan mobilisasi partisipasi masyarakat yang lebih luas, dan perlunya pendekatan multisektor pada tiap tingkatan untuk mengembangkan health literacy secara terintegrasi.
e. Presiden ECOSOC secara khusus mengundang negara peserta untuk dapat menyampaikan national presentation pada forum AMR ECOSOC di masa-masa mendatang, misalnya pada AMR 2011 dengan topik ‘the implementation of the agreed goals in regards to education’. Melalui forum dimaksud, tiap negara dapat memaparkan tantangan yang dihadapi dan keberhasilan yang telah dicapai dalam kerangka MDGs.
Manfaat yang Diperoleh bagi Indonesia
Sebagai ajang bertukar informasi, pengalaman, sekaligus inovasi-inovasi baru tentang perkembangan Melek Sehat (Health Literacy ) di negara-negara Asia Pasifik. Seperti Indonesia melalui program TV B4M, Talkshow, stikerisasi untuk program Kesehatan Ibu dan Anak merupakan suatu terobosan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan. Model program dan perjalanan sukses story yang telah berhasil dilakukan di negara lain, misalnya China dapat diterapkan dan disesuaikan dengan keadaan sosial budaya masyarakat Indonesia. Yaitu dengan membuat strategi dan rencana aksi sesuai dengan karakteristik masyarakat setempat.
Indonesia mempunyai kapasitas untuk melanjutkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat dan perlu diikuti oleh monitoring dan evaluasi yang akurat untuk menilai tingkat keberhasilannya.
Melakukan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di pelayanan kesehatan dengan menyediakan waktu berkomunikasi (personal komunikasi) dengan pasien untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan
Creation date : 05/03/2010 . 07:12
Last update : 05/03/2010 . 07:13
Category : KAMP. KESEHATAN
Page read 5087 times
Print preview
Print the page
|