KLB Polio Depkes Segera Lakukan Imunisasi Massa di DKI, Jabar dan Banten
Departemen Kesehatan segera melakukan imunisasi polio massal di Wilayah DKI Jakarta, propinsi Jawa Barat dan Propinsi Banten, sehubungan dengan Kejadian Luar biasa (KLB) Polio yang saat ini terjadi di Indonesia. Namun, Menkes Siti Fadillah Supari mengimbau masyarakat tidak panik. Dalam konperensi pers di Departemen Kesehatan, Jum’at (6/5), Menkes Siti Fadillah Supari yang didampingi Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular Prof. Umar Fahmi Achmadi, menjelaskan, mencermati penyakit polio yang berkembang di Sukabumi belakangan ini, Depkes bekerjasama dengan WHO dan UNICEF akan melakukan imunisasi massal di DKI, Jawa Barat dan Banten. "Untuk vaksinasi, kita membutuhkan dana 8,5 Milyar Rupiah. Itu akan kami ambil dari APBN.Sementara, untuk dana operasionalnya kita membutuhkan 9 Milyar Rupiah yang akan dibantu dari WHO dan lembaga donor lainnya," tegas Supari kepada pers. Sampai dengan tanggal 6 Mei 2005, lanjutnya, telah ditemukan 15 kasus yang terkait polio. Dari 15 kasus itu, 3 diantaranya polio positif yang disebabkan polio liar dengan virus sama dengan yang ditemukan di Arab saudi. Sementara 1 kasus masih memerlukan ITD (Intra Typic Differentitation). "ITD ini diperlukan untuk memastikan apakah virus yang menyebabkannya itu virus liar atau virus vaksin. Kita juga memastikan 1 kasus dari 15 itu bukan polio dan 10 kasus lainnya sedang menunggu konfirmasi dari laboratorium Biofarma," ujar Menkes. Dalam kesempatan itu, Supari juga menegaskan bahwa penyakit lumpuh layuh yang disebut-sebut media massa sebagai polio, bisa juga disebabkan virus lain. "Jadi, tidak hanya disebabkan karena virus polio tapi juga banyak lainnya, misalnya Guillaire Barre Syndrome, Polyneuropathy, transverse myelitis dan lain-lain," kata Supari.
Tidak Ada Karantina Meski Polio yang menjangkiti beberapa daerah di Sukabumi belakangan ini sudah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa, Menkes Siti Fadillah Supari menegaskan tidak ada karantina terhadap daerah-daerah yang terjangkit polio. "Kita sudah langsung melakukan imunisasi di 4 desa sekaligus pada 4000 orang balita di 4 desa (di Sukabumi). Memang, (kasus munculnya kembali polio) ini mengkhawatirkan. Padahal, kita berencana bebas polio tahun 2008. Mudah-mudahan ini bisa terlaksana," kata Supari.
KLB Polio Depkes Segera Lakukan Imunisasi Massa di DKI, Jabar dan Banten
Departemen Kesehatan segera melakukan imunisasi polio massal di Wilayah DKI Jakarta, propinsi Jawa Barat dan Propinsi Banten, sehubungan dengan Kejadian Luar biasa (KLB) Polio yang saat ini terjadi di Indonesia. Namun, Menkes Siti Fadillah Supari mengimbau masyarakat tidak panik. Dalam konperensi pers di Departemen Kesehatan, Jum’at (6/5), Menkes Siti Fadillah Supari yang didampingi Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular Prof. Umar Fahmi Achmadi, menjelaskan, mencermati penyakit polio yang berkembang di Sukabumi belakangan ini, Depkes bekerjasama dengan WHO dan UNICEF akan melakukan imunisasi massal di DKI, Jawa Barat dan Banten. "Untuk vaksinasi, kita membutuhkan dana 8,5 Milyar Rupiah. Itu akan kami ambil dari APBN.Sementara, untuk dana operasionalnya kita membutuhkan 9 Milyar Rupiah yang akan dibantu dari WHO dan lembaga donor lainnya," tegas Supari kepada pers. Sampai dengan tanggal 6 Mei 2005, lanjutnya, telah ditemukan 15 kasus yang terkait polio. Dari 15 kasus itu, 3 diantaranya polio positif yang disebabkan polio liar dengan virus sama dengan yang ditemukan di Arab saudi. Sementara 1 kasus masih memerlukan ITD (Intra Typic Differentitation). "ITD ini diperlukan untuk memastikan apakah virus yang menyebabkannya itu virus liar atau virus vaksin. Kita juga memastikan 1 kasus dari 15 itu bukan polio dan 10 kasus lainnya sedang menunggu konfirmasi dari laboratorium Biofarma," ujar Menkes. Dalam kesempatan itu, Supari juga menegaskan bahwa penyakit lumpuh layuh yang disebut-sebut media massa sebagai polio, bisa juga disebabkan virus lain. "Jadi, tidak hanya disebabkan karena virus polio tapi juga banyak lainnya, misalnya Guillaire Barre Syndrome, Polyneuropathy, transverse myelitis dan lain-lain," kata Supari.
Tidak Ada Karantina Meski Polio yang menjangkiti beberapa daerah di Sukabumi belakangan ini sudah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa, Menkes Siti Fadillah Supari menegaskan tidak ada karantina terhadap daerah-daerah yang terjangkit polio. "Kita sudah langsung melakukan imunisasi di 4 desa sekaligus pada 4000 orang balita di 4 desa (di Sukabumi). Memang, (kasus munculnya kembali polio) ini mengkhawatirkan. Padahal, kita berencana bebas polio tahun 2008. Mudah-mudahan ini bisa terlaksana," kata Supari.
Bisa Meluas Dalam kesempatan itu, Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular Prof. Umar Fahmi Achmadi, mengingatkan kemungkinan meluasnya virus polio ini ke daerah lain. Alasannya, Sukabumi yang menjadi tempat pertama penyebaran virus itu merupakan daerah yang punya kemudahan transportasi antar daerah. Selain itu, penduduk Sukabumi banyak yang bekerja di luar daerahnya. Ia juga membenarkan bahwa di beberapa desa yang terjangkit polio, warganya ada yang bekerja sebagai TKW. "Kalau dari penelitian terhadap polio yang berjangkit di Sukabumi, kelumpuhan itu terjadi pada anak-anak yang belum pernah imunisasi polio. Kita juga menemukan virus polio liar positif. Penularannya sendiri kemungkinan dari jakarta atau jemaah haji, TKI Sukabumi. tapi, kepastian asal virus itu menunggu konfirmasi laboratorium Mumbai," kata Prof. Umar Fahmi Achmadi.
Penularan virus ini bisa berlangsung cepat terutama pada musim hujan. Sebab, virus polio ini bisa hidup selama 100 hari pada musim hujan dan hanya dapat mati dengan penyinaran ultra violet. Pertama kali kasus polio ini ditemukan pada 22 April 2005, menjangkiti bayi laki-laki berusia 20 bulan di Desa Giri Jaya, kec. Cidahu. bayi ini diketahui belum pernah melakukan imunisasi. Lalu, 13 kasus polio lainnya ditemukan di Cidahu dan Cicurug. "Kita sudah mulai melakukan vaksinasi sejak 31 Mei lalu dan periode keduanya akan mulai 28 Juni mendatang. kami juga melakukan pengawasan ketat di seluruh wilayah Indonesia, terutama Jawa, bali, Sumatera Selatan dan Lampung," kata Achmadi.
Hidup Bersih Karena penyebaran virus polio ini melalui tinja, maka Depkes menghimbau semua keluarga Indonesia menjaga kebersihan lebih baik lagi, terutama pada jamban di rumah-rumah mereka. "Bayi dan anak yang sudah di vaksin polio lengkap tidak perlu khawatir karena tidak akan terjangkit. tapi sangat penting untuk waspada dini di semua propinsi. kemarin kita door to door untuk melakukan vaksinasi," demikian menkes Siti Fadillah supari. (Lily Bertha Kartika)
Lumpuh Layuh di Lombok Bukan Polio
Wakil Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dr Gerudug menyatakan, setelah mendapatkan hasil pemeriksaan di laboratorium, ketiga pasien lumpuh layuh atau Acute Falaccid Paralysis (AFP) yang ditemukan di Lombok Tengah bukan karena virus liar polio. "Setelah ketiganya mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Darek dan Mangkung, Lombok Tengah, ketiga orang tersebut sudah membaik dan bisa berjalan normal kembali," katanya kepada wartawan ketika dihubungi dihubungi wartawan di Mataram, Minggu (15/5). Pihaknya setiap tahun secara kontinyu melakukan pemantauan atas kemungkinan masih adanya virus liar polio di NTB. "Setiap tahun Dinkes NTB melakukan pencarian terhadap masyarakat yang terkena lumpuh layuh. Namun yang ditemukan selama ini jauh dari target yang ditetapkan 15 pasien," ujarnya. Dalam beberapa tahun terakhir ini temuan Dinkes NTB terhadap pasien lumpuh layuh relatif kecil. Semua temuan itu bukan akibat virus liar polio.
Untuk tahun ini, katanya, pihaknya baru menemukan lima kasus lumpuh layuh, tiga terdapat di Lombok Tengah, yakni di Dusun Nusa (Desa Pelambek), Dusun Tanggong (Desa Darek) serta Desa Mangkung, semuanya di Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah. "Sedangkan dua kasus lainnya terdapat di Kabupaten Dompu dan Bima," katanya. Ia optimistis bahwa dari hasil pemantauan selama ini NTB masih bebas penyakit akibat virus liar polio. Lima pasien lumpuh layuh yang ditemukan bukan disebabkan oleh virus liar polio. Menurut Antara, di tiga dusun di Lombok Tengah tersebut, ketiga pasien yakni Marzuki Darusman, Mustiwardana dan Fatoni sudah mulai membaik dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Ketika wartawan berkunjung ke rumah mereka, anak-anak tersebut bermain dengan teman-temannya. Berdasarkan keterangan dari orangtua mereka, ketiganya sempat dibawa ke Puskesmas Darek dan Mangkung. Mereka mendapat perawatan dari dokter, dan kesehatan anak-anak itu sudah pulih kembali. Ketiga pasien tersebut terpaksa dibawa ke puskesmas karena sakit perut dan panas serta mengalami kelumpuhan. Namun setelah mendapat perawatan, mereka disuruh kembali karena sakitnya sudah membaik. Para orangtua tersebut mengaku ketika masih bayi mereka tidak mendapat imunisasi lengkap. Lokasi permukiman ketiga pasien tersebut kurang memadai. Misalnya rumah keluarga Mustiwardana di Dusun Nusa, Desa Pelambek yang jaraknya cukup jauh dari Mataram, harus melintasi pematang sawah. Mustiwardana saat dikunjungi wartawan terlihat baru pulang mandi di sungai bersama-sama teman sebayanya. Demikian juga halnya dengan Marzuki Darusman (14). Saat ditemui di rumahnya yang sangat sederhana karena beratap rumbia, ia sedang mengaji. Marzuki sudah tidak merasakan sakit apa-apa lagi, ia sudah bisa melaksanakan aktivitas sehari-hari termasuk mengikuti pengajian di kampungnya. "Memang sepuluh hari lalu saya sakit, saya sulit berjalan", katanya. (Ant/Edj)
Australia Sumbang 1 Juta Dollar untuk Atasi Polio di Indonesia
Pemerintah Australia akan memberikan sumbangan kepada Indonesia sebesar satu juta dollar Australia untuk membantu pencegahan penularan penyakit polio yang kini muncul di Sukabumi, Jawa Barat. Siaran pers Australia di Jakarta, Jumat (6/5), menyebutkan bahwa sumbangan tersebut diumumkan Sekretaris Parlemen Urusan Luar Negeri dan Perdagangan Australia Bruce Billson, hari ini.
Sumbangan tersebut diberikan melalui AusAID untuk mendukung biaya operasional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam pemberian vaksin. "Kami juga bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dan UNICEF (Badan PBB yang menangani masalah anak-anak) untuk menanggapi kemunculan penyakit polio tersebut," katanya. Billson mengatakan, bantuan tersebut akan membiayai setengah dari perkiraan dana kampanye imunisasi. "Kami juga telah menawarkan keahlian kami dalam bidang logistik imunisasi massal kepada WHO di Jakarta," katanya. Menurut dia, melalui aksi cepat Indonesia, pejabat WHO dan UNICEF anak-anak di empat desa yang berdekatan dengan kemunculan penyakit polio yang dianggap tidak ada lagi di Indonesia sejak 1995 itu telah menerima vaksinasi polio. Australia, katanya, telah mendukung kampanye imunisasi di Indonesia selama bertahun-tahun dan sejak 1995 lebih dari 2,5 juta dolar Australia telah disumbangkan untuk vaksinasi massal anak-anak di berbagai provinsi di Indonesia.
Jakarta Siap Hadapi Polio
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menganggarkan Rp 10 miliar untuk mengantisipasi penyebaran virus polio. Anggaran itu dilakukan antara lain untuk imunisasi gratis yang akan dilakukan awal Juni mendatang. Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso di Balaikota, Jakarta, Senin (9/5), mengungkapkan bahwa sampai saat ini virus polio memang belum menyerang bayi-bayi di Jakarta. Namun, letak Jakarta yang dekat dengan Sukabumi -- daerah yang telah ditetapkan menjadi kejadian luar biasa penyakit lumpuh layu (polio) -- dinilai sangat rawan penyebaran virus polio. Sutiyoso mengatakan, anggaran Rp 10 miliar akan diambil dari pos pengeluaran tak terduga Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta 2005. Sutiyoso juga memerintah semua rumah sakit di Jakarta siaga selama 24 jam untuk menerima penderita polio.
Hilangnya Keceriaan Anak-Anak di Kaki Gunung Salak ... FITRI Ramdani (19 bulan) menangis meraung-raung ketika digendong dan dibawa ibunya ke depan rumahnya, di Kampung Cidadap, Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Kamis (5/5).
Sesekali bocah berkulit sawo matang itu membenamkan kepalanya ke dada ibunya. Tangan kanannya berusaha menggapai bagian belakang leher ibunya. Sepasang matanya yang bening tak henti-hentinya meneteskan air mata. Bocah mungil yang siang itu mengenakan baju kaos dipadu celana pendek warna oranye itu kemudian menarik-narik kerah baju Ny Yayat (30), ibu kandungnya, tanda ingin minum ASI. Rengekannya baru berhenti ketika keinginannya untuk minum ASI dituruti sang ibu. Sudah sejak dua bulan terakhir ini Fikri, anak kedua pasangan Mumu dan Yayat ini hanya bisa tergolek lemah di atas ranjang. Sehari-hari ia tak lepas dari gendongan orangtuanya. Bocah yang gemar bermain bola itu tak lagi bisa menggerakkan kakinya untuk bermain bersama teman-teman sebayanya di kampung tempat tinggalnya. Jangankan menendang bola, sekadar berdiri dan berjalan kaki pun ia tak sanggup lagi. Lengan kirinya juga ikut lumpuh. Padahal semula ia bisa berjalan kaki, bahkan berlari, sejak genap berumur setahun. “Setiap kali lihat teman-temannya main bola anak saya selalu nangis, pengen ikut bermain. Kalau sudah gitu, saya jadi suka ikut nangis," tutur Mumu lirih. Kelumpuhan yang diderita Fikri itu berawal ketika ia menderita demam tinggi dua bulan lalu. Setiap kali menangis ia selalu mengalami kejang-kejang, terutama pada bagian kaki. Karena menganggap hanya sakit panas biasa Fikri tidak dibawa ke puskesmas maupun ke dokter oleh kedua orangtuanya itu. Ia hanya diberi obat bebas. Menginjak hari kelima demam, sepasang kaki dan lengan kiri Fikri tidak dapat digerakkan sama sekali. Setelah berbagai pengobatan tradisional tidak membuahkan hasil, Fikri akhirnya dibawa berobat ke dokter anak di Sukabumi. Hasil diagnosis awal menyatakan, bocah malang itu menderita radang otak dan harus dirawat inap di rumah sakit. Namun, saat diperiksa dokter yang berbeda, ia justru dinyatakan sakit thypus. “Kami hanya bisa pasrah. Dari mana uang untuk biaya pengobatan anak kami ini," tutur Mumu. Sebelum anak mereka mengalami kelumpuhan, Yayat bekerja sebagai buruh bangunan di Jakarta dengan upah lebih kurang Rp 175.000 per minggu. Namun, kini Yayat memutuskan berjualan (keliling) es kelapa di Sukabumi dengan penghasilan berkisar Rp 20.000 per hari agar bisa ikut merawat anaknya yang sakit. Kelumpuhan juga dialami belasan anak lainnya di Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Abdul Rozak (6), anak pasangan Matkaseh dan Wulan, misalnya, menderita lumpuh layu pada bagian kakinya sejak dua pekan terakhir ini. Alat vitalnya juga mengalami pembengkakan. “Setahun lalu cucu saya bisa jalan biarpun pincang. Tapi, dua minggu ini cucu saya tidak bisa jalan sama sekali," ungkap Ny Rum (60-an), nenek Rozak. Dede Leni (2,5), warga Kampung Cidadap, bahkan telah menderita lumpuh layu sejak setahun terakhir ini. Bocah perempuan berkulit kuning langsat itu hanya bisa tergolek lemah di atas lantai papan di rumah orangtuanya. Ia sehari-hari digendong orangtua dan saudaranya yang lain secara bergantian lantaran bagian leher dan sepasang kakinya lumpuh. Sebelumnya anak keenam dari delapan bersaudara itu kerap ikut ibunya yang bekerja sebagai buruh tani di sawah. Ia juga dikenal lincah dan suka bermain bersama teman-teman sebaya dan saudaranya di dekat rumahnya. Namun, sejak setahun terakhir ini ia tak dapat bercengkerama lagi dengan teman-temannya akibat mengalami kelumpuhan yang diawali demam tinggi. Hingga kini anak pasangan Udin (40) dan Samsiah itu belum pernah dibawa berobat ke puskesmas terdekat maupun dokter. Karena tidak punya uang untuk berobat, kedua orangtuanya yang bekerja sebagai buruh tani hanya membawa Leni ke paraji (dukun beranak) untuk dipijat dan diberi ramuan tradisional. “Jangankan uang untuk biaya berobat, buat makan saja susah," tutur Udin. Anak-anak yang menderita lumpuh layu itu memang kebanyakan berasal dari keluarga miskin dengan sanitasi lingkungan tempat tinggal yang buruk. Fikri, penderita lumpuh layu, misalnya, tinggal bersama kedua orangtua dan seorang kakaknya di dalam salah satu kamar di rumah kakek dan neneknya. Sejumlah korban lainnya tinggal di dalam rumah beranyaman bambu yang sempit. Kelumpuhan yang diderita anak-anak di Desa Girijaya itu diduga akibat serangan virus polio liar. Berdasarkan hasil uji laboratorium Biofarma di Bandung dan laboratorium rujukan global di Mumbai, India, tercatat lima anak di Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Sukabumi, dinyatakan positif terjangkit virus polio liar. Mereka antara lain, Selvi yang kini dirawat inap di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, dan Fikri Ramdani. Sejauh ini Dinas Kesehatan setempat masih menunggu hasil uji laboratorium belasan anak yang diduga terkena virus polio liar. Sebanyak 126 bayi dan anak di bawah usia lima tahun diperiksa kesehatannya, 14 orang di antaranya menunjukkan gejala lumpuh layu. Pada akhir April lalu Tim Departemen Kesehatan melakukan imunisasi terhadap 4.048 bayi dan balita di Desa Girijaya, Cidahu, dan Tangkil, Kecamatan Cidahu, serta di Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug. Kasus lumpuh layu itu mengejutkan dunia internasional. Pasalnya, sejak sepuluh tahun terakhir Indonesia dinyatakan bebas virus polio liar. “Virus polio liar asal Afrika ini diperkirakan masuk ke Sukabumi dari Jakarta melalui perjalanan darat. Kemungkinan lain, virus itu masuk lewat penduduk yang jadi jemaah haji maupun tenaga kerja Indonesia di Timur Tengah," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi dr Buhono Thahadibrata. Rentannya anak-anak di daerah itu terserang virus polio liar dipicu ketidakpahaman sebagian warga setempat terhadap pentingnya imunisasi sehingga mereka enggan membawa balita ke pos pelayanan terpadu maupun puskesmas terdekat untuk diimunisasi. “Penyebaran virus polio liar ini bisa lewat saluran pernapasan, ludah, maupun kotoran manusia yang terbawa arus sungai," tutur Buhono. Kelumpuhan yang dialami anak-anak di Desa Girijaya itu telah mengoyak ketenangan dan kesejukan di daerah yang terletak di kaki Gunung Salak, Sukabumi, itu. Jika kelumpuhan itu tidak bisa disembuhkan secara total, maka bisa dibayangkan suramnya masa depan anak-anak yang merupakan generasi penerus masyarakat di desa yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai buruh tani itu. Untuk mencapai daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Bogor itu, kita harus melewati jalan aspal yang rusak parah sepanjang lebih kurang tujuh kilometer. Sebagian warga bermukim di daerah perbukitan dan lembah yang dikelilingi areal persawahan serta kebun sayuran sehingga tempat tinggal mereka tidak bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor. Kendati dikenal sebagai daerah subur dan pemasok utama air bersih bagi puluhan industri air minum dalam kemasan, daerah Girijaya dan sejumlah desa lain di Kecamatan Cidahu merupakan salah satu daerah miskin di Kabupaten Sukabumi. Selain menghadapi wabah virus polio liar, masyarakat setempat juga harus bergulat dengan kemelaratan dan memperjuangkan akses pelayanan kesehatan yang memadai.
Amitabh Bachchan dan Keberhasilan Iklan Antipolio Amitabh Bachchan, aktor senior sekaligus produser film India yang lahir di Allahabad (India), 11 Oktober 1942, tengah membuktikan diri untuk menjadi duta besar paling berhasil bagi usaha pemberantasan polio. Minggu-minggu lalu para orangtua di seluruh India pergi ke pos-pos pelayanan terdekat untuk memberi anak-anak mereka dua tetes vaksin antipolio. Sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa mereka telah diyakinkan oleh iklan layanan masyarakat mengenai pemberantasan polio, yang dibawakan oleh Bachchan, di televisi dan radio. "Sampai 70 persen dari orang-orang yang datang ke pos-pos pelayanan itu mengakui bahwa Amitabh Bachchan telah menjadi pendorong utama (untuk memperoleh vaksin antipolio)," kata Brent Burkholder, penasihat regional WHO (World Health Organization) bidang pengembangan imunisasi dan vaksin untuk Asia Selatan dan Timur. Adalah betul-betul mengejutkan, hampir 165 juta anak dalam sehari berhasil dijangkau dalam usaha pemberantasan polio tersebut.
Penderita Lumpuh Layuh di Bondowoso Tercatat Lima Orang
Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, menyatakan jumlah penderita lumpuh layuh atau atau accute flaccid paralysis (AFP) hingga Mei 2005 mencapai lima orang atau meningkat drastis dibanding 2004 yang hanya tercatat dua orang. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, dr Agus Suwarjito, Jumat (13/5), menjelaskan sampai saat ini Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, baru berhasil mengidentifikasi empat dari lima penderita lumpuh layuh. Agus menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian terhadap tinja empat orang penderita lumpuh layuh tersebut, ternyata bukan disebabkan virus polio, tetapi diakibatkan gangguan saraf atau penyakit lainnya seperti jantung dan paru-paru. "Ada peningkatan jumlah korban itu, karena Dinas Kesehatan setempat semakin aktif melakukan sosialisasi dan mencari anak di bawah 15 tahun yang diketahui penderita AFP," ujar Agus. Sementara, keempat penderita lumpuh layuh di Kabupaten Bondowoso, antara lain Suri (10) warga Desa Gadingsari, Kecamatan Binakal; Muamar Qadafi (9) warga Desa Walidono, Kecamatan Prajekan; Nursi (3,5), warga Desa Gadingsari, Kecamatan Pakem; dan Yeni Septiani Safitri (12) warga Kelurahan Dabasah, Kecamatan Kota. Sementara Arman Maulana (3,5), warga Kelurahan Dabasah, Kecamatan Kota hingga kini masih menjalani perawatan intensif. Bahkan Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, sampai saat ini masih menunggu hasil penelitian terhadap tinja balita tersebut. Yeni Septiani Safitri (12), salah seorang penderita penyakit lumpuh layuh yang sebelumnya sempat dinyatakan sembuh, kini terpaksa dirujuk kembali ke rumah sakit umum di wilayah setempat. Karena, menurut petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, kondisi pelajar SMP, tinggal di Jalan Panjaitan Gang II No 52, Kelurahan Dabasah ini, semakin kritis sejak meninggalkan rumah sakit umum tiga bulan lalu. Yeni sebelumnya sudah dua kali dilarikan ke rumah sakit, karena mengalami kelainan jantung serta paru-paru.
Kendati belum ditemukan warga yang positif terkena virus polio, Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso terus meningkatan kewaspadaannya terhadap kemungkinan serangan virus yang dapat menyebabkan kelumpuhan tersebut. Selain penyebaran pamflet atau poster, Dinas Kesehatan setempat juga meningkatkan pendataan anak berusia di bawah 15 tahun di seluruh Puskesmas yang ada.
Kasus Lumpuh Layu Belasan Anak di Sukabumi
Belasan Anak Sukabumi Sedikitnya 11 anak di Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jumat (6/5) menunjukkan gejala lumpuh layu. Kelumpuhan yang diderita anak-anak di Desa Girijaya itu diduga akibat serangan virus polio liar. Waktu Tiga Bulan Hanya untuk Tuntaskan Kondisi Darurat DBD
Jangka waktu tiga bulan hanya bisa menuntaskan kondisi darurat akibat wabah demam berdarah dengue (DBD). "Sementara, penyakit demam berdarah tidak bisa dibasmi seluruhnya," ujar Amir Hamzah Pane dari Indonesia Pharmaceutical Watch (IPhW). Amir Hamzah yang dihubungi KCM, Senin (1/3) mengatakan lebih lanjut, DBD berbeda dengan polio atau cacar. Kedua penyakit itu bisa diberantas vektor dan faktornya ada di dalam tubuh manusia. "Dengan memberikan imunisasi kepada manusia, penyakit polio dan cacar bisa diberantas," katanya. Sementara, DBD berada di luar kontrol manusia. Penyebaran DBD oleh nyamuk aedes aegypti, berdasarkan pengalaman, bergerak begitu cepat. Akibatnya, jumlah korban yang menderita DBD meluas, tidak hanya pada satu lokal saja. "Dari sisi penyebaran itu, DBD memang tidak bisa diprediksikan dengan mudah," kata Amir Hamzah. Oleh karena itulah, pencanangan waktu tiga bulan oleh pemerintah terhadap DBD mestinya diupayakan untuk mengurangi atau bahkan menuntaskan kondisi darurat dampak DBD. "Itu dilakukan untuk mengurangi jumlah korban yang jatuh," ujarnya. Kendati begitu, untuk benar-benar mengikis habis DBD, setidaknya tiga aspek pilar yang harus betul-betul dicermati. Pertama kesehatan lingkungan yang harus dijaga. Kedua pemberantasan nyamuk berikut jentik-jentiknya. Ketiga perilaku manusia yang betul-betul menjaga kebersihan lingkungannya. "Dengan cara seperti itu pemberantasan DBD dilakukan berkesinambungan," kata Amir Hamzah. Pemerintah, seperti terungkap dalam rapat koordinasi bidang kesejahteraan rakyat, Senin, bertekad mengakhiri kondisi luar biasa (KLB) selama tiga bulan. Upaya itu dilakukan untuk menekan jumlah penderita DBD di bawah 35 ribu orang. Di samping itu, jumlah korban meninggal pun akan dipangkas hingga maksimal satu persen dari jumlah korban DBD. Data menunjukkan, tahun ini, dari 12 provinsi yang terkena wabah DBD, tercatat 19.150 orang penderita. Sementara, korban meninggal mencapai 338 orang atau 1,8 persen dari jumlah penderita DBD.
Menkes: Kemunculan Wabah Polio Terus Diteliti
Kemunculan wabah polio di beberapa daerah di Indonesia, khususnya di Jawa Barat mendorong pemerintah Indonesia melakukan penelitian mendalam dan pengawasan yang intensif, untuk mencegah penyebaran virus tersebut. Munculnya kasus poliomyelitis di Provinsi Jawa Barat pada pertengahan Maret lalu telah direspon secara terarah oleh pemerintah dan saat ini penelitian lebih mendalam sedang dilaksanakan, kata Menkes Siti Fadilah Supari dalam pernyataannya di depan sidang World Health Assembly (WHA) ke-58 di Markas Besar PBB Jenewa sebagaimana siaran pers yang diterima detikcom, Kamis (19/5/2005). Ditambahkannya, pemerintah Indonesia juga telah mendorong pelayanan kesehatan di tingkat kabupaten untuk meningkatkan pemantauan dan pengawasan terhadap wabah tersebut di wilayah masing-masing. Pemerintah juga menyampaikan penghargaan kepada WHO dan kantor regionalnya (SEARO) yang telah mengirimkan timnya untuk membantu pemerintah dalam melakukan penelitian epidemis, ujar Menkes. Sidang WHA ini merupakan sidang tahunan World Health Organization (WHO) yang ditujukan untuk membahas pemajuan kesehatan masyarakat secara global dan mengupayakan strategi pencegahan dan penanggulangan wabah penyakit khususnya yang menular seperti HIV/AIDS, SARS, Avian Flu, Polio dan lainnya. Sidang yang diikuti oleh wakil 192 negara anggota, organisasi internasional dan LSM ini, akan berlangsung dari tanggal 16 Mei hingga 25 Mei 2005. Diharapkan pertemuan ini menghasilkan sejumlah resolusi yang terkait dengan upaya pemajuan kesehatan masyarakat secara global
Balita Disweeping Polio Sampai ke Terminal
Sekitar seratus ribu anak di bawah lima tahun (balita) di Kota Bogor akan disweeping untuk diberi vaksin polio. Imunisasi akan di lakukan selama sepekan mulai 31 Mei mendatang. Imunisasi massal merata di berbagai tempat, mulai dari pos yandu, perumahan penduduk, taman kana-kanak, sampai terminal Baranangsiang dan stasiun Bogor. Selama sepekan kami akan melakukan mopping-up atau bergerak terus untuk memberikan vaksin polio, kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor dr. Triwandda Elan. Insya Allah, Triwandda menambahkan, Tidak ada balita atau batita yang terlewat untuk diberikan vaksin polio secara gratis. Untuk melakukan imunisasi pihaknya menerjunkan 2.739 kader pelaksana, 1.288 tenaga sweeping, tempat-tempat umum sebanyak 102 orang, 350 supervisor, serta sekitar 200 tenaga medis dan dokter. Semua personil dibagi dalam 884 pos yandu, 51 tempat umum (seperti pasar, terminal, dan stasiun), 145.505 rumah, 3.082 Rukun Tetangga dan 105 Taman Kanak-kanak (TK). Iimunisasi polio juga dilakukan di pos Mopping-up di sejumlah rumah sakit, puskesmas, rumah bersalin, dokter spesialis anak, dan pos terpadu. Menariknya, untuk memberi ciri anak balita yang sudah mendapatkan imunisasi polio setiap anak akan diberi tanda dengan kutek pada jari kelingking kirinya. Jadi, bayi anak balita yang sudah diberi kutek berarti ia sudah diberi imunisasi polio,? kata Kepala Bidang Penanggulangan Pemberantasan Penyakit dan Kesehatan Masyarakat, dr. Sri Pinantri Hanum. Ia juga menjelaskan, bagi anak blita yang pernah diberi imunisasi beberapa bulan sebelumnya juga akan diberikan lagi. Berdasarkan data kegiatan Pekan Imunisasi Nasional tahun 2002 di Kota Bogor tercatat 80.623 anak balita, diperkirakan tahun 2005 jumlahnya mencapai 100 ribu anak Balita. Pada tahun 2002 lalu Dinas Kesehatan Kota Bogor telah melakukan imunisasi polio sebanyak 74 persen, tahun 2003 sebesar 98,2 persen, tahun 2004 sebesar 89,3 persen. Sedangkan imunisasi 2005 akan dilakukan dengan target 100 persen. Dari Jakarta dilaporkan, sebanyak 67 ribu balita di wilayah Jakarta Pusat akan diimunisasi. Menurut Kepala Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Jakarta Pusat Sugandi, imunisasi itu akan dilakukan serentak bersamaan dengan imunisasi masal di tiga provinsi, pada 31 Mei dan 28 Juni. Kami sedang menyiapkan 1.200 pos pelayanan imunisasi,? kata Sugandi. Satu pos dipersiapkan untuk tiga sampai empat RT. ?Bila dihitung-hitung, kami harus menyiapkan sekitar enam ribu tenaga,? ungkap Sugandi. Kepada masyarakat, dia meminta agar tidak gelisah. Yang penting, jika di masing-masing keluarga ada balita yang belum diimunisasi polio, segera datang ke pos pelayangan imunisasi, menjaga kebersihan lingkungan. Jika kelihatanan ada gejala polio, segera bawa ke puskesmas, ujarnya. Deffan Purnama/Raden Rachmadi-Tempo
Dana Penunjang PIN Polio Jawa Barat Kurang Rp2,7 Miliar
Kekurangan dana penunjang pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio di Jabar sebesar Rp2,7 miliar, akan ditanggung Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar dan 25 Pemerintah Kota dan Kabupaten se provinsi ini. Pemprov akan menyumbang dana sebesar Rp1,3 miliar atau 50 persen dari kekurangan dana yang diperlukan. Pemerintah Kota dan Kabupaten di Jabar, sudah saya minta untuk urunan memenuhi Rp1,4 miliar yang masih dibutuhkan, tutur Gubernur Jabar Danny Setiawan. Usai berbicara pada rapat kordinasi Mopping Up Polio, Rabu (18/5), dia menambahkan, 25 kabupaten dan kota di Jabar menggulirkan dana secara proporsional, sesuai jumlah balita dan bayi yang ada di wilayah masing-masing. Dana ini tidak boleh ditunda-tunda untuk pencariannya, dan harus ada pada minggu ini. Secara nasional PIN Polio di tiga provinsi, Jabar, DKI Jakarta dan Banten disediakan dana sebesar Rp38 miliar, dan Jabar mendapat jatah Rp21,6 miliar. Sementara kebutuhan dana untuk Jabar sebesar Rp24,3 miliar, sehingga Rp1,7 miliar di antaranya harus disediakan oleh Pemprov Jabar dan 25 Pemerintah Kabupaten dan Kota. Tidak ada dana yang di-cancel untuk program PIN Polio ini. Semua sudah harus cair minggu ini, sehingga PIN Polio bisa dilakukan serentak, tandasnya. Bagi Pemprov Jabar, lanjut Danny, dana akan diambil dari APBD Pos Dana tak tersangka, karena persediaan dana di pos ini masih ada. Besaran dana Rp1,3 miliar tidak perlu masuk dalam Anggaran Belanja Tambahan (ABT), yang baru bisa disetujui Agustus mendatang. Dia menambahkan, kasus Acute Flacid Paralysis (AFP) atau lumpuh layu di Jabar hingga saat ini mencapai 24 kasus. Dari jumlah itu, 8 kasus positif sebagai Polio Liar
Sementara dari pemeriksaan 158 spesimen kontak yang dilakukan terhadap anak sehat berusia di baah 15 tahun, ditemukan 22 di antaranya mengandung virus Polio liar. Saat ini, proses pemeriksaan masih dilakukan terhadap beberapa kasus AFP dan kontak. Kemungkinan kasus Polio Positif jumlahnya masih akan bertambah. Untuk mengantisipasi korban yang mungkin meningkat, PIN Polio harus mencapai 100 persen pada cakupan anak berusia nol sampai lima tahun, tandasnya. Sementara itu, Direktur Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Departemen Kesehatan Hariadi Wibisono menambahkan, ancaman menularnya virus liar di Indonesia masih tetap besar, karena sampai saat ini ada beberapa negara endemis di dunia, seperti Nigeria, Niger, Mesir, India, Pakistan dan Afganistan. Dengan tingginya mobilitas warga dunia, maka kemungkinan virus ini terbawa ke luar dari negara itu, dan salah satunya masuk ke Indonesia sangat besar. Sebenarnya, sejak 1995, di Indonesia tidak pernah lagi ditemukan penyakit Polio. Kasus Polio di Kabupaten Sukabumi adalah bukti bahwa ancaman penyakit polio bisa muncul kembali di Indonesia, tandasnya. Di sisi lain, Perwakilan WHO untuk Indonesia Keith Feldon mengungkapkan, WHO membantu Indonesia dalam program PIN Polio dengan menggulirkan dana sebesar US$1,5 juta. Sumbangan lain juga diterima
dari UNICEF, Australian AID dan US AID. Sampai sekarang, Indonesia belum dinyatakan sebagai negara endemi Polio. Kita masih perlu melihat perkembangannya hingga enam bulan ke depan, ungkapnya. WHO, lanjutnya, tidak bisa menyumbangkan dana dalam jumlah besar untuk Indonesia, karena banyak dana sudah disalurkan untuk negara-negara endemi Polio. Karenanya, Pemerintah Indonesia harus berusaha mencari sumbangan untuk menggulirkan program pemberantasan Polio.
Dinas Kesehatan Bali Lancarkan Sweeping Vaksinasi Polio Dinas Kesehatan Bali kini secara gencar melakukan sweeping terhadap bayi-bayi usia di bawah tiga tahun untuk diberikan suntikan vaksin polio. Langkah ini sebagai upaya pencegahan munculnya penderita penyakit polio di Bali.
Kami dari jajaran Dinas Kesehatan Bali sedang melakukan sweeping terhadap bayi-bayi usia di bawah tiga tahun yang belum atau dianggap kurang mendapat vaksin polio, ujar Kepala Dinas Kesehatan Bali, Dewa Ketut Oka saat ditemui usai menghadiri sidang paripurna DPRD Bali, Rabu (18/5). Oka mengakui, masih ada empat desa di Bali yang semuanya berada di wilayah Kabupaten Jembrana hingga saat ini masih rawan ancaman penyakit polio. Hanya, Oka tidak merinci nama-nama desa tersebut. Memang masih ada empat desa yang rawan polio di Bali, yakni ada di Kabupaten Jembrana, ujar Oka. Namun, ditegaskan pula, saat ini di Bali belum ada yang terkena polio. Secara keseluruhan, lanjut Oka, dari total cakupan bayi-bayi yang menjadi sasaran vaksinasi polio di Bali, hingga kini sudah terealisasi program vaksinasi sebanyak 99,45 persen. Sehingga sasaran sweeping yang dilancarkan kini adalah menyasar bayi-bayi yang belum sama sekali atau belum lengkap menerima suntikan vaksinasi. Dalam merealisasikan vaksinasi lewat program sweeping, Oka mengakui persediaan vaksin sangat cukup di Bali. Penyediaan vaksin polio ini menggunakan dana yang bersumber APBD Provinsi Bali dan juga dari APBN.
Presiden: Lokalisasikan Penyebaran Virus Polio
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan kepada instansi terkait untuk melokalisasikan penyebaran virus polio di Kabupaten Sukabumi agar tidak meluas ke daerah lain. Hal itu disampaikan Presiden saat memanggil Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Alwi Shihab, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) M. Ma’ruf, serta Menteri Kesehatan yang diwakili Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan LIngkungan Umar Fahmi Ahmadi di Kantor Presiden, Rabu (18/5). Presiden minta laporan kepada Menko Kesra, Menkes yang diwakili Dirjen dan Mendagri sehubungan dengan adanya penyakit menular, virus, dan indikasi berkembangnya polio, ujar Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi dalam jumpa pers usai pertemuan. Hadir dalam kesempatan jumpa pers itu Menko Kesra, Mendagri, dan Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, serta Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng. Menurut Menko Kesra Alwi Shihab, setelah mendengarkan laporan, Presiden menganggap perlu dikembalikannya berbagai kegiatan yang selama ini dianggap sebagai stigma masa pemerintahan Orde Baru yakni semacam Pekan Imunisasi Nasional (PIN). Presiden juga meminta agar instansi terkait mengefektifkan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Presiden juga meminta adanya program pendek, menengah, dan panjang untuk pemberantasan penyakit menular tersebut. Untuk jangka pendek, jelas Alwi, Presiden menginstruksikan pelayanan kesehatan. Upaya ini dilakukan untuk melokalisasikan penularan penyakit ke tempat lain. Bapak Presiden minta agar program jangka pendek ini dilakukan secermat dan seintensif mungkin agar memberikan rasa aman kepada masyarakat. Terutama, di daerah-daerah yang terjangkit virus, kata Alwi. Sedangkan untuk program jangka menengah dan panjang, perlu diadakan gerakan reguler yang dimotori pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Gerakan ini harus terpadu dan dilaksanakan dengan kerja sama antara pihak masyarakat madani, lembaga swadaya masyarakat (LSM), lembaga internasional, dan sebagainya. Berkenaan dengan ini, lanjut Alwi, akan diadakan Pekan Kesehatan Nasional dalam waktu dekat. Acara itu berisi PIN dan Gerakan Kebersihan Lingkungan.
Kombinasi Sementara, Dirjen Umar Fahmi Ahmadi mengatakan pihaknya melaporkan kepada Presiden, kasus di Kabupaten Sukabumi merupakan kombinasi dari terjadinya globalisasi meliputi barang dan orang yang membawa penyakit menular serta ketahanan wilayah yang tidak merata. Umar melanjutkan, kasus polio di Kabupaten Sukabumi menyerang delapan anak. Sedangkan, yang lumpuh tapi belum dipastikan polio ada 12 anak. Sehingga, korban total ada 20 anak. Berikutnya, di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, ada 19 anak menderita lumpuh layuh. Lalu, di DKI Jakarta ada satu anak terkena polio. Anak tersebut sebetulnya berasal dari Kabupaten Sukabumi. Berkaitan dengan upaya lokalisasi agar virus tidak meluas, Umar menjelaskan, Departemen Kesehatan (Depkes) telah melakukan imunisasi terhadap 22.700 anak di tiga wilayah. Pertama di desa-desa di Kabupaten Lebak. Kedua di Kabupaten Sukabumi. Ketiga di kawasan Sawah Besar, DKI Jakarta. Depkes juga mengintensifkan pengamatan di ketiga wilayah tersebut apakah ada tambahan korban di situ. Sampai saat ini tidak ada kasus tambahan. Kalau sampai akhir bulan ini tidak ada tambahan, berarti virus bisa kita lokalisasikan di daerah itu, katanya. Presiden, menurut Dirjen, juga menginstruksikan imunisasi lebih luas di Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Selain itu, Presiden juga minta agar pengamatan kasus-kasus serupa dilakukan di seluruh wilayah Indonesia. Khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTB), Bali, seluruh provinsi di Jawa, dan Lampung. Kemudian, Mendagri M. Ma’ruf mengatakan untuk mengimplementasikan instruksi itu, pihaknya akan mengeluarkan petunjuk kepada pemerintahan di daerah mulai dari gubernur sampai dengan desa. Pihak Departemen Dalam Negeri akan mengoptimalkan peranan PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga) untuk membantu di Posyandu.
Serangan Virus Polio di Jantung Industri Air Mineral
DI balik wabah polio, Kecamatan Cidahu dan sekitarnya di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, adalah sentra industri air minum dalam kemasan yang biasa diminum warga Ibu Kota Jakarta. Industri air minum kelas internasional hingga sederhana itu berkembang di Cidahu, sementara sebagian warganya yang berpendidikan rendah ini kurang menyadari pentingnya kesehatan. SPA kelas internasional, deretan vila mewah, beragam industri air minum dalam kemasan berkembang di kawasan kaki Gunung Salak dan Halimun yang berbukit sejuk di ketinggian sekitar 700 hingga 1.000 meter dari permukaan laut ini. Di saat sama sekitar 12.000 jiwa dari lebih kurang 54.000 penduduk Cidahu masih termasuk dalam kategori miskin dan berpendidikan rendah. Dari wilayah Babakan Pari yang berdekatan dengan Jalan Raya Sukabumi-Jakarta hingga Kecamatan Cidahu terdapat sumber air yang menghasilkan air kemasan kelas wahid dan bergengsi. Sumber air dan keindahan alam memang mengangkat gengsi Kecamatan Cidahu. Camat Cidahu Rosip Rusdi mencontohkan, bahkan sepetak tanah ukuran 15 meter persegi bernilai hingga Rp 650 juta karena memiliki sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk industri air kemasan. Ucapan tersebut tidaklah omong kosong belaka. Di sepanjang perjalanan dari Simpang Tiga Cidahu hingga Desa Girijaya terdapat sejumlah papan pengumuman: Tanah dijual berikut sumber air. Hubungi no telepon…. Lalu lalang truk pembawa botol galon air mineral dan industri pengolah limbah plastik turut mewarnai kehidupan Cidahu dan sekitarnya. Bahkan, konon Kecamatan Cidahu melalui industri air minum dalam kemasan merupakan salah satu penyumbang pendapatan asli daerah terbesar Kabupaten Sukabumi. Namun, di saat industri merebak di Cidahu, masyarakat sekali lagi hanya menjadi penonton. Karena pendidikan yang rendah, sebagian besar masyarakat hanya berkutat pada kegiatan ekonomi subsistem: menjadi buruh tani, kuli bangunan di kota besar, tukang ojek, dan yang sedikit beruntung menjadi buruh di industri air minum dalam kemasan di tanah lahir mereka.
Sawah-sawah mereka sudah tergadai dan dikuasai pemodal besar atau pejabat dari kota besar. Sumber air mineral tidak dikelola langsung sebagai industri oleh penduduk setempat yang cenderung meraih keuntungan sesaat dengan menjual sumber daya unggulan daerah mereka.
Kepala Desa Girijaya Aji R Alamsyah menjelaskan, dari seluruh lahan pertanian di desa tersebut, sudah 30 persen lebih berada di tangan orang Jakarta. Para pemilik tanah tersebut membiarkan warga setempat menjadi penggarap sehingga warga masih mendapat kesempatan mendapatkan nafkah ala kadarnya. RODA industri air mineral terus melaju di Cidahu hingga menembus pasar mancanegara meninggalkan penduduk setempat yang terpasung dalam keterbelakangan tanpa mereka sadari. Sebagian besar dari mereka hanya mengetahui dunia luar terjauh adalah Pasar Kecamatan Cicurug atau Jakarta sebagai tujuan sebagian warga yang mau jadi kuli bangunan. Hidup bagi warga Cidahu hanya sekadar menyambung hidup keseharian dalam kemiskinan. Siang itu Juen dan Hurin, petani di Girijaya, baru saja selesai bekerja di sawah seluas empat hektar milik seorang warga Jakarta. Musim panen ini rugi besar. Dari empat hektar sawah cuma menghasilkan satu ton gabah. Modal sudah Rp 8 juta lebih dan hasil panen hanya senilai Rp 900.000. Biasanya satu hektar bisa menghasilkan empat sampai lima ton gabah, kata Hurin menjelaskan dampak serangan wereng coklat di sawah garapannya.
Sebelumnya, untuk mempersiapkan sawah di tempat tersebut dibutuhkan biaya besar lantaran pupuk dan pelbagai kebutuhan harus didatangkan dari Pasar Cicurug. Menurut mereka, sudah tak ada lagi bantuan, seperti kredit usaha tani atau jenis pendampingan bagi petani di wilayah tersebut, selepas kekisruhan politik menyusul tumbangnya rezim Soeharto.
Petang itu Hurin dan Juen menunjukkan sawah mereka yang rusak diserang wereng coklat. Sebagian batang padi terlihat mengering akibat serangan hama di lahan berbukit di tepi jalan Desa Girijaya. Di sebelah sawah terlihat ladang jagung yang baru tumbuh dan baru saja mereka tanam. Lagi- lagi serangan hama merusak tanaman tersebut, hama pengerek akar membuat tanaman layu dan mati. Hurin harus bersabar menanti musim tanam berikutnya untuk mengadu peruntungan dari bertani di lahan yang sebetulnya subur itu.
Juen, yang tinggal di batas Desa Girijaya dengan Desa Tangkil, nasibnya sedikit lebih beruntung. Ia memiliki penghasilan tambahan dari hasil membuka sebuah bengkel sepeda motor dan warung kecil-kecilan. Toh, usaha tersebut tidak membuatnya kaya karena rendahnya daya beli masyarakat. Lain lagi cerita Nyonya Cucun, tetangga Juen, yang juga tidak memiliki sawah. Suaminya terpaksa bekerja sebagai tukang ojek di Pasar Cicurug, sembilan kilometer dari rumah mereka. Setiap hari paling banyak suaminya membawa pulang Rp 15.000 hingga Rp 20.000. Dengan penghasilan sebesar itu, mereka harus hidup dalam segala keterbatasan dan menghambat kemajuan penghidupan mereka. Itu sangat kontras dengan keberadaan fasilitas modern seperti antena parabola wartel hingga bengkel dinamo dan servis perlengkapan rumah tangga yang terdapat di sekitar Desa Girijaya, yang bagi warga Kecamatan Cidahu termasuk desa paling tertinggal.
Pilihan terakhir mencari nafkah adalah meninggalkan Girijaya memburuh pada pabrik air minum dalam kemasan atau merantau ke kota besar menjadi buruh serabutan atau kuli bangunan. Nyonya Nenah (27), warga Dusun Cidadap, Desa Girijaya, mengatakan suaminya terpaksa menjadi kuli bangunan di Jakarta karena tidak ada sumber penghidupan di tanah lahirnya. Suami saya pulang sebulan sekali. Itu pun paling banyak bawa uang Rp 150.000 sampai Rp 200.000, kata Nenah. Kalau kakak saya, merantau ke Tasik jadi buruh jahit dengan penghasilan kurang lebih sama. Kalau bersawah, sudah sulit karena tanah di sini kebanyakan dimiliki orang kota, ujarnya. Nenah siang itu menemani Nyonya Endi (33), kakak iparnya yang juga ibunda Fauziah, korban polio di Cidadap. Berada di rumah seharian adalah kegiatan kaum ibu sambil mengasuh anak di Girijaya. Rumah mereka sebetulnya tergolong memadai untuk ukuran pedesaan di Indonesia. Bangunan permanen, ruang tamu, kamar tidur, dan dapur melengkapi kebanyakan rumah warga Desa Girijaya. Namun, ada satu yang kurang, yakni kamar mandi sebagai sarana mandi, cuci, dan kakus (MCK). Menurut Hurin dan Juen, hanya 20 persen warga yang memiliki MCK pribadi. Sungai yang mengalir dan MCK umum tampaknya menjadi pilihan warga setempat seperti umumnya di pedesaan Pulau Jawa. Sebagian besar lebih suka memakai sungai atau MCK umum untuk dipakai bersama. Bahkan, tempat wudu di masjid pun dimanfaatkan airnya untuk mencuci oleh warga, kata Hurin, sambil menunjuk pada segerombolan ibu rumah tangga yang membawa perlengkapan dapur ke tempat wudu di sebuah masjid.
PENGHASILAN rendah membuat warga Girijaya tidak mampu meraih pendidikan tinggi sebagai sarana untuk meningkatkan taraf hidup. Untuk melanjutkan sekolah setingkat SMA, mereka harus pergi ke kota Kecamatan Cicurug yang setiap hari membutuhkan ongkos transpor Rp 250.000 per bulan. Padahal, penghasilan rata- rata tiap keluarga hanya Rp 200.000. Tentu saja dalam kondisi tersebut, melanjutkan sekolah bukan menjadi pilihan. Apalagi setiap keluarga rata- rata memiliki anak lebih dari dua. Bahkan, ada sejumlah keluarga yang memiliki delapan anak. Kepala Desa Girijaya Aji R Alamsyah menjelaskan, sebagian besar dari 6.397 penduduk hanya sempat mengecap pendidikan sekolah dasar. Ada juga yang lulusan perguruan tinggi, tetapi sebagian bekerja sebagai perangkat desa. Dari data kependudukan Desa Girijaya memang terlihat timpangnya tingkat pendidikan. Lulusan sekolah dasar tercatat 954 jiwa, lulus SMP 195 jiwa, dan lulus SMA 88 jiwa. Sebagian besar lainnya hanya mengecap pendidikan ala kadar dan tercatat 572 penduduk tergolong buta huruf.
Mayoritas penduduk hidup dari bertani atau menjadi buruh. Hanya sekitar 40 orang yang menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri, kata Alamsyah menjelaskan. Kendala terbesar bagi Girijaya, menurut Alamsyah, adalah transportasi bagi daerah terisolasi tersebut. Meski hanya berjarak kurang dari 80 kilometer di selatan Jakarta, tidak ada angkutan umum yang melayani ke daerah tersebut. Bahkan, warga Girijaya demi membuka keterasingan telah beberapa kali melakukan swadaya membangun dan memperbaiki jalan desa. Kondisi terisolasi di daerah relatif modern itulah yang secara tidak langsung memicu rendahnya kesadaran terhadap upaya menjaga kesehatan. Seorang warga di dekat Simpang Cidahu-Jalan Raya Sukabumi- Jakarta mengatakan, warga Cidahu pedalaman, seperti di Desa Girijaya, cenderung tidak memedulikan kesehatan dan perawatan medis modern. Namun, saat ditanya tentang perawatan kesehatan, Nyonya Nenah yang jarang meninggalkan Desa Girijaya mengaku ingin mendapatkan perawatan kesehatan yang layak. Apa daya, kemampuan keuangan membatasi mereka dari mobilitas ke puskesmas yang membutuhkan biaya sekurangnya Rp 5.000 sekali jalan. Kalau boleh memilih, mana ada orangtua yang mau anaknya sakit. Bukan kami menolak imunisasi, tetapi untuk hidup sehari-hari saja sudah susah, kata Nenah. Apalagi kalau harus menambah biaya ke puskesmas yang tidak sedikit. Setidaknya anak-anak yang kakinya sakit (diduga polio-Red) di desa ini umumnya dibawa ke tukang urut untuk pengobatan, ujarnya menjelaskan. Nenah dan kaum ibu di Girijaya mengaku tidak tahu-menahu mengenai penularan polio sampai pemberitaan media massa mengekspos desa mereka. Tragis memang melihat potret Cidahu dan Desa Girijaya. Tidak jauh dari kemajuan zaman internet, virus negara terbelakang seperti polio masih mewabah. Di saat triliunan rupiah dikucurkan untuk membiayai birokrasi rusak dan pembobol dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, penyelenggara negara ternyata tidak mampu menyalurkan beberapa tetes cairan vaksin bagi bocah-bocah di Cidahu. (Iwan Santosa)
Bekas Vaksin Polio Akan Dibakar Virus polio dapat berbiak liar di tempat sampah jika bekas vaksin dibuang sembarangan. Oleh karena itu Dinas Kesehatan (Diskes) DKI Jakarta akan melatih petugas Pekan Imunisasi Nasional (PIN) agar membuang bekas vaksin di plastik yang disediakan. Juru Bicara Diskes Evi Selvino Rabu (18/5) mengakui pihaknya belum melatih petugas tentang cara pembuangan bekas vaksin. “Nanti akan diberi tahu bahwa bekas vaksin harus dibuang di plastik yang telah disediakan,” ujarnya. Evi mengatakan bahwa sampah-sampah plastik itu akan dikumpulkan di tiap-tiap kecamatan dan akan dibakar jika kecamatan itu telah memiliki incenerator. Mengenai batas waktu pengumpulan sampah plastik, ia mengatakan, “Tidak ada, yang penting secepatnya.” Sebagaimana diketahui, pada 31 Mei dan 28 Juni nanti Diskes merencanakan melakukan vaksin polio kepada 700 ribu balita yang tersebar di 9.000 pos PIN seluruh Jakarta. Tiap pos PIN menghimpun tiga hingga empat RT. Evi mengatakan, sebagian besar petugas PIN direkrut dari warga laki-laki dan perempuan dewasa tanpa dibatasi latar belakang pendidikan dan spesifikasi. “Mereka dilatih satu hari untuk cara meneteskan,” ujarnya. Selain itu, juga diterangkan gambaran tentang virus polio. Enam Balita DIY Terserang Penyakit Mirip Polio
Sedikitnya enam orang balita di Provinsi DIY teridentifikasi terserang penyakit lumpuh layuh yang semula diduga polio. Namun setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata bukan penyakit polio yang diderita mereka. Keenam balita itu terserang penyakit virus gulian bare syndrome yang menyerang sumsum tulang belakang dan post meningitis atau radang otak, kata Kabid Penanggulangan Penyakit Menular dan Kesehatan Lingkungan (P2MKL) Dinas Kesehatan DIY Dr Kencono Gunawan. Hal itu dikatakan Kencono kepada wartawan saat ditemui di kantornya, Jl. Kyai Mojo, Yogyakarta, Selasa (17/5/2005). Penyakit yang mirip polio ini bisa disembuhkan melalui fisioterapi secara rutin, lanjutnya. Selama 10 tahun terakhir ini tidak ditemukan kasus polio di DIY. Berdasarkan sweeping dan pendataan yang dilakukan dokter-dokter di seluruh puskesmas di DIY, hampir 90 persen bayi sudah mendapat imunisasi polio hingga empat kali. Mulai tanggal 30 Mei 2005 mendatang akan kita lakukan vaksinasi masal polio ke seluruh pelosok DIY. Vaksin yang digunakan yaitu jenis vaksin oral dari Biofarma, katanya. Kasus balita yang terserang lumpuh layu yaitu Zaumi Robin Fadhila umur 29 bulan, anak pasangan Paitono (50) dan Sukirah (46) warga Sokoliman, Bejiharjo, Arangmojo, Gunung Kidul sejak tanggal 20 April 2004, juga bukan merupakan penyakit polio. Tapi merupakan radang otak karena sering mengalami kejang-kejang disertai diare. Bila gejalanya seperti itu bukan ciri khas polio, katanya.
Dinas Kesehatan Kota Bekasi Gelar Imunasi Polio Massal
Dinas Kesehatan Kota Bekasi gelar imunisasi polio massal pada Selasa (31/5) pukul 08.00 WIB-11.00 WIB pada 1.451 pos kesehatan se-Kota Bekasi. Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Bambang Jati Kusumo, mengatakan, pada 31 Mei 2005 pukul 08.00 -11.00 WIB pihaknya menggelar imunisasi polio massal guna mengantisipasi berjangkitnya kelumpuhan akibat virus polio liar tersebut. Imunisasi massal akan dipusatkan di 1.451 pos kesehatan se-Kota Bekasi dengan melibatkan ribuan petugas nonmedis, kata Bambang Jati Kusumo di Bekasi, Senin (16/5). Dana yang dibutuhkan untuk operasional kegiatan itu diperkirakan mencapai sekitar Rp350 juta. Dana itu sudah diajukan ke Pemkot Bekasi tinggal menunggu persetujuan Wali Kota Akhmad Zurfaih. Biaya untuk itu sudah saya ajukan ke Wali Kota Bekasi dan diharapkan segera disetujui karena menyangkut kepentingan orang banyak, katanya. Sasaran imunisasi massal itu, dititikberatkan kepada anak-anak berusia di bawah 15 tahun dengan cara memasukkan dua tetes cairan melalui mulut anak yang akan divaksinasi. Namun, sebelum dilakukan imunisasi massal itu, sejumlah tenaga medis Dinas kesehatan Kota Bekasi akan menggelar pelatihan terhadap kader di tiap posyandu agar pelaksanaan di lapangan tidak terjadi kendala. Sementara itu, Dokter Yusni dari Dinas Kesehatan Kota Bekasi menambahkan imunisasi massal tahap pertama dilakukan pada 31 Mei 2005 dan berikutnya 28 Juni tahun yang sama. Kami mengimbau kepada masyarakat di Kota Bekasi pada hari dan waktu yang ditentukan itu mendatangi Pos Pekan Imunisasi (Pos PIN) setempat dengan membawa putra-putrinya agar diimunisasi terhadap polio liar, katanya. Keluarga yang putra-putrinya sudah diimunisasi, pada pintu rumahnya ditempel stiker bergambar rumput. Sedangkan, yang belum, pada pintu rumah mereka akan ditempel stiker polos alias tidak ada gambarnya. Gejala-gejala awal bagi seseorang yang diduga terserang virus polio liar antara lain, badan panas, pusing, mual sakit perut, dan otot tungkai kaki terasa nyeri. Tetapi, orang yang mengalami gejala itu belum tentu terserang virus polio liar. Pasalnya, untuk memastikan seseorang terserang virus polio liar, kotoran pasien harus diperiksa di laboratorium terlebih dahulu. Menjawab pertanyaan berapa warga Kota Bekasi yang terserang kelumpuhan akibat penyakit polio liar, Yusni mengatakan, ada empat orang yang kini mengalami lumpuh layuh tetapi bukan menderita polio. Keempat orang tersebut yakni, Annisa Ayu (12), warga Kelurahan Pejuang dan Nila (2,5 tahun), warga Kelurahan Perwira, keduanya di Bekasi Utara. Sedangkan, dua korban lainnya adalah Normaya S (14) warga Kelurahan Kayuringin, Bekasi Barat serta Krisna (4,5 tahun) warga Kelurahan Jatibening, Pondok Gede. Mereka itu bukan terserang virus polio liar, tetapi lumpuh layuh dan penyebabnya baru diteliti dokter spesialis anak dengan cara mengambil kotoran pasien untuk diperiksa di laboratorium, kata Yusni. Biasanya, seseorang yang terserang penyakit lumpuh layuh mengalami kelumpuhan sekitar 14 hari mulai dari pertama menderita sakit. Jika penderita tidak terserang virus polio liar, penderita dapat disembuhkan meski membutuhkan waktu cukup lama. (Ant/Prim)
Pemerintah Tanggung Biaya Pengobatan Penderita Polio
Pemerintah akan menanggung biaya pengobatan untuk penderita polio. Akan tetapi, pemerintah tidak bisa memberikan kompensasi kepada semua yang sakit. Kalau satu polio dikasih, nanti semua orang yang sakit di Indonesia minta kompensasi, kata Wakil Presiden Jusuf Kalla kepada wartawan, di Kantor Wapres, Jakarta, Senin. Menurut dia, yang paling baik untuk mengeliminasi penyebaran polio adalah semua orang menjaga diri masing-masing dan dengan melakukan imunisasi. Karena di dunia ini tidak bisa lagi kita tutup, katanya. Dia menambahkan, ada tiga kemungkinan penyebaran polio yang berasal dari Afrika. Pertama, saat naik haji. Kedua, melalui Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Ketiga,melalui warga Afrika yang datang ke Indonesia atau di tempat sanitasi yang kurang baik. (Hnr/Tia/O-5)
Sidang WHA Bahas Polio
Sidang Kesehatan Dunia (World Health Assembly/WHA) di Jenewa, Swiss, pada 16-25 Mei, membahas sejumlah isu kritis di bidang kesehatan di antaranya mengenai eradikasi polio. Sidang itu dihadiri 192 negara ang- gota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Menurut situs www.who.int, Senin (16/5), WHA ini merupakan yang ke-58 dan menghadirkan pembicara Presiden Republik Maldiv Maumoon Abdul Gayoom serta Bill Gates dari Bill dan Melinda Gates Foundation. Seperti diketahui Bill dan Melinda Gates Foundation memberikan bantuan untuk penanggulangan HIV/AIDS, malaria, dan tuberkulosis. Isu kesehatan kritis yang akan dibahas dalam WHA ini antara lain, penanggulangan HIV/AIDS, promosi gaya hidup sehat, draf resolusi untuk pencegahan dan pemantauan kanker, serta imunisasi global. Sementara itu, berdasarkan data dari Departemen Kesehatan, sampai Sabtu (14/5), delapan warga Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dinyatakan positif polio. Kepastian itu diperoleh setelah diperiksa di laboratorium Bio Farma di Bandung dan ditemukan virus polio liar tipe P1 pada spesimen penderita lumpuh layuh. Delapan kasus yang positif polio itu berasal dari 17 kasus lumpuh layuh. Penderita polio itu, FR (20 bulan) dari Dusun Cidadap, Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Fa (48 bulan) dari Desa Girijaya, Al (32 bulan) dari Dusun Ciseke, Desa Girijaya, Dar (24) dari Desa Cipanengah, Kecamatan Bojong Genteng, Sel (21 bulan) dari Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug, MSA (26 bulan), dari Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug, DL (9 bulan) dari Desa Cidadap, Kecamatan Cidahu, dan Sus (30 bulan) dari Desa Cipondok, Kecamatan Cicurug. Selain delapan kasus lumpuh layuh positif saat ini pihak Bio Farma memeriksa delapan kasus lumpuh layuh. Di samping itu diperiksa sejumlah anak yang mengadakan kontak dengan penderita positif polio liar, yaitu kontak serumah dan kontak tetangga. Hasil pemeriksaan laboratorium sementara terhadap 157 spesimen menunjukkan, 22 spesimen positif pada anak sehat. Artinya anak-anak itu tidak sakit polio, tetapi bisa menjadi sumber penularan polio.
Menurut Kepala Biro Umum dan Humas Departemen Kesehatan, Suprijadi SKM, penderita polio Sel (21 bulan) yang sempat dirawat di RSCM sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Dalam penyelidikan terhadap laporan kasus lumpuh layuh di Kabupaten Lebak, Banten, ditemukan 15 kasus lumpuh layuh dari 4 kecamatan.
Di Jakarta, 700.000 Bayi Akan Diimunisasi Polio
Dinas Kesehatan DKI Jakarta tengah mendata bayi berusia di bawah lima tahun (balita) untuk diimunisasi pada 28 Mei dan 30 Juni mendatang. Jumlah balita itu mencapai 700 ribu orang. Kepala Seksi Epidemiologi Dinas Kesehatan DKI Jakarta Paripurna Harimuda Sediyono mengemukakan hal itu di Jakarta, Senin (16/5). Ia menjelaskan, pendataan dilakukan agar tidak ada bayi yang terlewatkan saat imunisasi yang dilakukan serentak dan gratis tersebut. Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Abdul Chalik Masulili mengatakan, bayi-bayi akan di-sweeping agar tidak luput dari imunisasi.
Perihal adanya bayi penderita polio dari Sukabumi, Jawa Barat yang dibawa ke Jakarta dan saat ini dirawat di Rumah Sakit Pusat Infeksi Sulianti Saroso di Sunter, Jakarta Utara, Paripurna mengakui itu sebagai sebuah kecolongan. Penderita polio seharusnya tidak boleh dipindahkan agar virus polio itu tidak menyebar ke daerah lain, kata Paripurna. Sementara itu, Marius Widjajarta dari Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) secara terpisah mengatakan, penderita dan keluarga penderita polio seharusnya dikarantina. Dinas Kesehatan, katanya, bisa bekerja sama dengan polisi untuk mencegah orang yang berupaya memindahkan pasien polio dari daerah asal si penderita.
Soal masalah karantina itu, Paripurna mengatakan, hal itu bisa saja dilakukan tetapi perlu biaya. Kalau harus dikarantina, keluarga pasien juga, katanya, tidak boleh bekerja dan pemerintah harus menanggung biaya hidup keluarga tersebut. Paripurna menjelaskan, yang dilakukan DKI Jakarta saat ini adalah isolasi. Bayi-bayi di kawasan yang diduga telah terkena virus polio, katanya, langsung diimunisasi, seperti yang telah dilakukan di daaerah Sawah Besar pekan lalu.
Pemerintah Bantu Imunisasi Polio, Tidak Ada Kompensasi
Wapres Jusuf Kalla menegaskan pemerintah tidak akan memberikan kompensasi kepada warga masyarakat yang terkena polio melainkan hanya membantu semua upaya imunisasinya. Pemerintah membantu semua upaya imunisasi itu, tetapi pemerintah juga tidak bisa memberikan kompensasi kepada semua mereka yang sakit, katanya di Kantor Wapres, Senin (16/5). Menurut Wapres, apabila satu orang terkena polio diberikan kompensasi maka semua orang sakit di Indonesia juga akan meminta hak yang sama. Mereka akan bertanya apa bedanya polio dengan malaria. Tidak ada bedanya. Jadi semua pihak harus menjaga tingkat sanitasi yang baik di lingkungan masing-masing, ujar Wapres.
Penyakit polio yang saat ini sedang menjadi sorotan di masyarakat, lanjut Wapres, obatnya hanya satu yakni imunisasi saja. Wapres mengatakan bahwa pihaknya telah mencoba menelusuri dari mana virus Afrika itu bisa masuk ke Indonesia. Kita coba telusuri di mana orang Indonesia bersentuhan dengan orang Afrika. Kalau orang Indonesia ke Afrika jelas jarang, ungkapnya. Kendati demikian, Wapres berpendapat, ada tiga kemungkinan saling kontak itu yakni bertemu sewaktu musim haji, bertemu TKI dengan TKI di luar negeri atau orang Afrika yang datang ke Indonesia dan bertemu di tempat yang sanitasinya tidak baik. Jika di tempat haji, kemungkinan sanitasinya cukup baik karenanya sekarang ini kita tidak tahu di mana asal mulanya penyakit itu karena pada dasarnya adalah sanitasi yang kurang baik, katanya. (Ant/Ima)
Pemerintah Tolak Beri Kompensasi BBM pada Korban Polio
Masyarakat yang menuntut pengucuran dana kompensasi BBM untuk korban polio harus gigit. Pemerintah menolak tuntutan tersebut. Pemerintah tidak bisa memberikan kompensasi kepada semua yang sakit. Satu polio dikasih nanti semua orang yang sakit di Indonesia minta kompensasi, cacar iya, malaria iya, ungkap Wapres Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin, (16/5/2005). Namun, lanjut Kalla, pemerintah tidak akan lepas tangan begitu saja. Setidaknya pemerintah akan membantu dalam hal imunisasi massal yang akan dilakukan. Dan, untuk mengatasi penyebaran polio, Kalla meminta agar masyarakat mampu menjaga dirinya masing-masing. Selain meminta masyarakat menjaga kesehatannya, pemerintah juga akan bekerjasama dengan dunia internasional untuk mencegah penyebaran polio lebih luas lagi. Polio kan hanya satu pencegahannya yaitu imunisasi karena di dunia ini kita tidak bisa tertutup lagi. Jadi betul-betul kita harus kerjasama dengan dunia internasional, katanya.
Langkah ini perlu dilakukan, karena setelah ditelusuri, penyebaran polio di Indonesia baru-baru ini terkait dengan aktivitas para TKI dan orang-orang Afrika di Indonesia. Kita bicara kemarin dari mana virus ini, karena itu virus Afrika. Jadi kira-kira dari mana orang Indonesia dapat virus dari Afrika, kata Kalla. Masalahnya, lanjut Kalla, sejauh ini jarang sekali orang Indonesia berkunjung ke Afrika. Padahal, dalam penyebaran virus polio tersebut hanya ada tiga kemungkinan, yakni saat naik haji, TKI ketemu TKI dan orang Afrika ke Indonesia yang tinggal di daerah yang sanitasinya kurang baik. Kalau naik haji sanitasinya baik. Lalu kenapa di Sukabumi? Mungkin saja ada persentuhan. Ini kan sedang diselidiki di mana tempatnya. Jadi ada persentuhan, kata Kalla.
Tidak Semua Lumpuh Layuh Suspect Polio
Tidak semua penderita lumpuh layuh merupakan suspect polio karena kelumpuhan seseorang dikatakan menderita polio jika hasil pemeriksaan laboratoriumnya mengandung virus polio liar Kepala Seksi Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Dinas Kesehatan NTB, dr Thamrin Hidjaz dalam klarifikasi tertulisnya, Minggu, menanggapi ditemukannya lima kasus suspect polio yang dimuat sejumlah media massa, menyatakan sampai dengan tanggal 13 Mei 2005 belum ditemukan adanya penularan virus polio di NTB. Sehingga NTB dikatakan belum terjangkit polio, karena lima kasus yang ditemukan tersebut merupakan kasus Acute Flaccid Paralysis (AFP), bukan kasus polio dan bukan suspect polio, ujarnya. Dari lima kasus AFP tersebut, satu kasus tidak termasuk polio karena berdasarkan hasil pemeriksaan Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Surabaya tidak ditemukan virus polio liar pada tinja penderita. Sedangkan empat kasus lainnya belum ada hasil pemeriksaan laboratorium, katanya. Program kesehatan untuk menemukan segera kasus kelumpuhan yang bersifat lemas/layuh pada anak usia di bawah 15 tahun telah dilaksanakan sejak tahun 1997, kini sudah berjalan delapan tahun, yang disebut Surveillance AFP.
Dikatakannya, kelumpuhan pada seseorang bukan saja disebabkan oleh kasus polio liar, banyak faktor yang menyebabkan seseorang itu menjadi lumpuh. Lumpuh layuh pada anak usia di bawah 15 tahun tanpa diketahui penyebabnya dikategorikan sebagai kasus AFP, bukan sebagai kasus suspect polio atau kasus polio. Ia menambahkan, Surveillance AFP yang dilakukan oleh pemerintah merupakan upaya untuk mengetahui secara dini apakah masih ada penularan virus polio liar atau tidak di Indonesia. Karena itu masyarakat diharapkan jangan resah, tindakan yang perlu dilakukan antara lain segera melengkapi cakupan imunisasi polio pada bayi minimal tiga kali, ujarnya. Masyarakat jika menemukan kasus kelumpuhan mendadak pada anak di bawah 15 tahun tanpa diketahui penyebabnya diminta segera memeriksakannya atau melaporkan kepada pihak Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota, Puskesmas dan Rumah Sakit. Bisa juga dilaporkan kepada Dinkes NTB pada nomor telepon 0370-628140 atau Made Utama Hp 08123763094 untuk segera dilakukan tatalaksana kasus dan pengambilan spesimen.(Ant/Ol-1)
Delapan Balita di Sukabumi Tertular Virus Polio Liar
Delapan anak usia bawah lima tahun (balita) dari 17 balita menderita sakit lumpuh layuh (AFP - Acutc Placcid Paralysis) dinyatakan tertular virus polio liar P-1, kata Kepala Biro Umum dan Humas Depkes Suprijadi, SKM. Pemeriksaan di laboratorium Bio Farma Bandung terhadap specimen faces dari 17 balita penderita AFP berasal Kabupaten Sukabumi, Jabar hingga 14 Mei 2005 ditemukan delapan balita positif tertular virus polio liar P-1, katanya dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu. Menurut Suprijadi, hasil pemeriksaan 17 specimen faces di Bandung itu, delapan balita dinyatakan positif tertular poliar liar jenis P-1, sedang delapan specimen masih menunggu proses pemriksaan dan satu specimen dinyatakan negatif. Depkes bekerjasama dengan organisasi kesehatan dunia (WHO) dan Badan PBB urusan Anak-anak (Unicef) selain memeriksa balita yang diduga sakit polio, juga telah memberikan imunisasi polio bagi 4.000 balita di sejumlah kecamatan di Sukabumi, Jabar, akhir April 2005. Untuk mencegah penularan virus polio, Pemerintah akan memberikan imunisasi polio secara gratis bagi 5,2 juta anak usia 0-59 bulan (balita) di Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jabar pada 31 Mei 2005 dan 28 Juni 2005. Supriyadi menambahkan, satu balita dari delapan tertular polio liar dari Sukabumi yang dirawat di RSCM Jakarta sejak 3 Mei 2005 kini telah sembuh dan sempat pulang ke tempat keluarganya di Kelurahan Mangga Besar, Jakarta Utara. Namun, untuk mencegah penularan virus polio, balita asal Sukabumi itu sejak 12 Mei 2005 dirawat ke RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso di Sunter, Jakarta Utara, selanjutnya seluruh balita di Kelurahan Mangga Besar dan di Kecamatan Mangga Besar diberikan imunisasi polio. Menanggapi laporan 15 kasus lumpuh layuh pada balita di Kabupaten Lebak, Banten, Tim Pemantaua Depkes dan WHO telah mengambil 15 sample tinja dari 15 balita untuk diperiksa di Laboratorium Badan Litbangkes Jakarta, demikian untuk laporan empat kasus lumpuh layuh di Kabupaten Karanganyar, Jateng Sebelumnya, Menkes Siti Fadilah berharap, masyarakat tidak perlu panik jika ada balita sakit lumpuh, tapi segera dibawa ke rumah sakit (RS) terdekat untuk diobati dan diambil specimen tinja untuk diperiksa di laboratorium guna ditentukan jenis virus penularan penyakitnya. Bayi dan anak yang telah mendapat imunisasi polio lengkap tidak akan tertular penyakit polio. Balita yang belum mendapat imunisasi polio harus segera ke Puskesmas terdekat untuk diberikan imunisasi, katanya.(Ant/Ol-1)
Dua Orang Lagi Dipastikan Mengidap Polio Penderita polio di Sukabumi bertambah. Hingga Sabtu (14/5) kemarin, hasil uji di laboratorium Bio Farma, Bandung, mencatat sebanyak dua orang lagi mengidap penyakit itu. Sebelumnya sudah ada enam orang yang dipastikan mengidap polio, dari 17 orang penderita lumpuh layuh yang diteliti. Kini menjadi delapan orang, kata Yusharmen, Direktur Epidemiologi dan Imunisasi Departemen Kesehatan ketika dihubungi Tempo, Minggu (15/5). Yusharmen menjelaskan, dari penelitian terhadap 120 orang kontak, 14 orang dinyatakan positif mengidap polio. Kontak adalah orang sehat yang mempunyai riwayat dengan ke-17 orang penderita, seperti tetangga atau kerabat. Para kontak itu dinyatakan sehat, katanya. Jumlah kontak yang akan diperiksa di Bio Farma, kata Yusharmen, akan terus bertambah. Sesuai dengan hasil penelusuran tim pengawasan Departemen Kesehatan, ia menjelaskan. Ami Afriatni
Lumpuh Layuh di Lombok Bukan Polio Wakil Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dr Gerudug menyatakan, setelah mendapatkan hasil pemeriksaan di laboratorium, ketiga pasien lumpuh layuh atau Acute Falaccid Paralysis (AFP) yang ditemukan di Lombok Tengah bukan karena virus liar polio. Setelah ketiganya mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Darek dan Mangkung, Lombok Tengah, ketiga orang tersebut sudah membaik dan bisa berjalan normal kembali, katanya kepada wartawan ketika dihubungi dihubungi wartawan di Mataram, Minggu (15/5). Pihaknya setiap tahun secara kontinyu melakukan pemantauan atas kemungkinan masih adanya virus liar polio di NTB. Setiap tahun Dinkes NTB melakukan pencarian terhadap masyarakat yang terkena lumpuh layuh. Namun yang ditemukan selama ini jauh dari target yang ditetapkan 15 pasien, ujarnya. Dalam beberapa tahun terakhir ini temuan Dinkes NTB terhadap pasien lumpuh layuh relatif kecil. Semua temuan itu bukan akibat virus liar polio. Untuk tahun ini, katanya, pihaknya baru menemukan lima kasus lumpuh layuh, tiga terdapat di Lombok Tengah, yakni di Dusun Nusa (Desa Pelambek), Dusun Tanggong (Desa Darek) serta Desa Mangkung, semuanya di Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah. Sedangkan dua kasus lainnya terdapat di Kabupaten Dompu dan Bima, katanya. Ia optimistis bahwa dari hasil pemantauan selama ini NTB masih bebas penyakit akibat virus liar polio. Lima pasien lumpuh layuh yang ditemukan bukan disebabkan oleh virus liar polio.
Menurut Antara, di tiga dusun di Lombok Tengah tersebut, ketiga pasien yakni Marzuki Darusman, Mustiwardana dan Fatoni sudah mulai membaik dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Ketika wartawan berkunjung ke rumah mereka, anak-anak tersebut bermain dengan teman-temannya. Berdasarkan keterangan dari orangtua mereka, ketiganya sempat dibawa ke Puskesmas Darek dan Mangkung. Mereka mendapat perawatan dari dokter, dan kesehatan anak-anak itu sudah pulih kembali. Ketiga pasien tersebut terpaksa dibawa ke puskesmas karena sakit perut dan panas serta mengalami kelumpuhan. Namun setelah mendapat perawatan, mereka disuruh kembali karena sakitnya sudah membaik. Para orangtua tersebut mengaku ketika masih bayi mereka tidak mendapat imunisasi lengkap. Lokasi permukiman ketiga pasien tersebut kurang memadai. Misalnya rumah keluarga Mustiwardana di Dusun Nusa, Desa Pelambek yang jaraknya cukup jauh dari Mataram, harus melintasi pematang sawah. Mustiwardana saat dikunjungi wartawan terlihat baru pulang mandi di sungai bersama-sama teman sebayanya. Demikian juga halnya dengan Marzuki Darusman (14). Saat ditemui di rumahnya yang sangat sederhana karena beratap rumbia, ia sedang mengaji. Marzuki sudah tidak merasakan sakit apa-apa lagi, ia sudah bisa melaksanakan aktivitas sehari-hari termasuk mengikuti pengajian di kampungnya. Memang sepuluh hari lalu saya sakit, saya sulit berjalan, katanya.
17 Balita Jakarta Lumpuh Layuh, Hanya 1 Positif Polio Jumlah balita di Jakarta yang menderita lumpuh layuh ada 17. Namun hanya 1 balita saja yang dinyatakan positif polio, yaitu Silvi Yulianti, 20 bulan. Silvi dan sejumlah balita penderita lumpuh layuh lainnya saat ini dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) dr.Sulianti Suroso, Jakarta Utara. Dari 17 balita itu, sudah ada yang diperbolehkan pulang. Silvi ketularan polio saat tinggal dengan neneknya di Sukabumi, daerah pertama ditemukannya amukan virus polio liar. Kedua orangtua Silvi tinggal di Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Dikhawatirkan virus polio yang dibawa Silvi ke Jakarta menjangkiti bayi-bayi di sekitarnya. Kecamatan Sawah Besar sudah dilakukan vaksinasi, kata Humas Dinas Kesehatan DKI Jakarta Evi Zelvino saat dihubungi detikcom melalui telepon, Minggu (15/5/2905). Vaksinasi itu segera dilakukan sesuai aturan bahwa jika ada ditemukan kasus polio di daerah tertentu, maka daerah tersebut langsung divaksinasi. Balita yang ketularan polio di Jakarta hingga kini belum ada. Silvi kan kenanya di Sukabumi, tegas Evi. Rencananya imunisasi polio massal akan dilakukan di Provinsi DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, dalam dua tahap, pada tanggal 31 Mei 2005 dan 28 Juni 2005. Imunisasi massal tersebut tetap akan dilakukan dengan maksud meminimalisasi dan mengantisipasi penyebaran virus polio yang penularannya bergerak cepat,kata Evi. Dari RSPI dr Sulianti Suroso dilaporkan, RS tersebut menyediakan ruang Mawar untuk para pasien polio. Namun Silvi hingga saat ini dirawat di ruang Melati. Di ruangan itu juga ada kakak Silvi yaitu Siti Masitoh (4 tahun) yang juga menderita lumpuh layuh. Sedang di ruang Mawar dirawat pasien bernama Rifki (2,7 tahun). Pengobatan mereka ditanggung negara alias gratis.(nrl)
Delapan Anak Asal Sukabumi Positif Terjangkit Polio Liar Penyakit polio terus mengincar anak-anak. Hasil pemeriksaan Laboratorium Bio Farma Bandung yang ditunjuk oleh Depkes untuk memeriksa kasus polio, delapan dari 17 orang anak asal Sukabumi yang menderita lumpuh layu positif mengidap polio. Satu orang dinyatakan negatif sementara sisanya masih dalam pemeriksaan. Lumpuh layu yang menyerupai penyakit polio tidak hanya disebabkan oleh virus polio, namun banyak penyebabnya jadi bukan hanya akibat virus polio. Untuk menentukan penyebab kelumpuhan harus dilakukan melalui pemeriksaan tinja pasien, jelas Kepala Biro Umum dan Humas Depkes Suprijadi dalam siaran pers yang diterima detikcom Sabtu (14/5/2005). Kedelapan penderita polio itu adalah Fr (20 bulan), Fa (48 bulan), Dl (9 bulan) ketiganya warga Dusun Cidadap, Giri Jaya, Cidahu, Al (32 bulan), warga Dusun Ciseke, Giri Jaya, Cidahu, Dar (24 bulan) warga Dusun Cipanengah, Bojong Genteng, Sel (21 bulan) dan Msa (26 bulan), warga dusun Cisaat, Cicurug, Sus (30 bulan) Desa Cipondok, Cicurug, Sukabumi. Sedangkan 9 kasus lumpuh layu lainnya yaitu satu orang atas nama Lut(18 bulan), warga Cidadap, dinyatakan negatip menderita polio, sementara 8 kasus lainnya dalam proses pemeriksaan di Bio Farma Bandung, kata Suprijadi. Selain memeriksa penderita lumpuh layu, Depkes juga memeriksa anak-anak yang yang melakukan kontak dengan penderita polio. Dari 157 anak yang diperiksa, terdapat 22 anak sehat, artinya tidak sakit polio tapi dapat menjadi sumber penularan, ujarnya. Satu penderita positip polio yaitu Sel warga Cicurug pada tanggal 12 Mei 2005, dipindahkan perawatannya dari RSCM Jakarta ke RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso (RSPI) Jakarta, menyusul adanya keresahan warga yang takut polio akan menular pada anak-anak mereka. Sementara itu Depkes telah melakukan upaya pencegahan penularan dengan melakukan ORI (Outbreak Response Imunisasi) di kelurahan Mangga Besar pada tanggal 12 Mei 2005, yaitu memberikan imunisasi polio pada semua anak di bawah lima tahun setelah 72 jam diterima kasus polio positif. Pemda DKI menanggung biaya semua penderita lumpuh layu dengan ketentuan semua penderita harus dirawat sampai adanya hasil pemeriksaan laboratorium. Pemda DKI akan menanggung biaya penderita polio positif sampai 60 hari setelah tanggal kelumpuhan, jelasnya. Selain itu imunisasi massal juga akan dilakukan di dua provinsi lainnya yaitu Jawa Barat, dan Banten pada tanggal 31 Mei 2005 dan 28 Juni 2005. Sasarannya adalah semua anak balita. Kasus lumpuh layu juga ditemukan di Kabupaten Lebak, Banten sebanyak 15 kasus, sementara di Kabupaten Karanganyar, Jateng sebanyak 4 kasus. Sudah dilakukan investigasi dan diambil spesimennya untuk diperiksa di laboratorium guna memastikan penyebab kelumpuhan, demikian Suprijadi.
Satu Balita Polio dari Sukabumi Dirawat di Jakarta
Silvi (21 bulan) Balita asal Sukabumi Jawa Barat yang selama ini tinggal dengan neneknya, kini dirawat di Rumas Sakit Penanggulangan Infeksi (RSPI) Sulyanti Suroso Sunter Jakarta Utara dengan biaya Pemprov DKI Jakarta. Dia dibawa keluarganya ke RSCM lalu sempat dirawat 11 hari, setelah itu dibawa ayah ibunya yang tinggal di Kecamatan Sawah Besar. Kami lalu mengambil bayi ke RSPI serta mengadakan vaksinasi untuk semua Balita di Sawah Besar, kata Kepala Dinas Kesehatan Chalik Masulili di Jakarta Jumat. Silvi yang ternyata positif polio tersebut tiba di RSPI pada Kamis (12/5) siang demikian pula kakaknya yang berumur 4 tahun dalam pemeriksaan. Kami juga sudah memeriksa tinja seluruh keluarganya untuk mengetahui apakah ada penyebaran, tapi sampai saat ini hanya Silvi saja yang positif, kata Masulili. Dia menjelaskan imunisasi untuk seluruh Balita di Sawah Besar adalah prosedur ORI (outbreak response imunisation) atau imunisasi massal lebih awal untuk mencegah berjangkitnya polio. Dinas Kesehatan menyiapkan 5 ribu vaksin untuk semua Balita di Sawah Besar, walaupun sebenarnya imunisasi cukup dilakukan di RW tempat orang tua Silvi tinggal. Semua Balita harus diimunisasi walau sudah diimunisasi. Balita yang sudah diimunisasi dalam ORI kami imbau tetap ikut imunisasi massal polio yang akan berlangsung 31 Mei, bahkan ikut lagi untuk imunisasi ulangan pada 28 Juni 2005, kata Masulili.
Menurut Masulili, vaksin polio adalah yang paling aman karena tidak masalah jika dosisnya berlebih maupun sering diberikan. Lebih lanjut Masulili menjelaskan semua warga DKI yang terjangkit polio semua biaya perawatan termasuk obat ditanggung Dinkes DKI Jakarta sedangkan biaya untuk warga non DKI akan dirundingkan dengan Depkes. Kami tegaskan untuk Jakarta hingga kini tidak ada kasus polio, yang ada hanyalah 17 kasus lumpuh layuh yang ternyata tidak satupun disebabkan polio, kata Masulili. Kepala Dinas Kesehatan menjelaskan ORI dilakukan agar Balita kebal virus minimal 100 hari karena virus polio dapat bertahan di udara terbuka 60 hari.
Imunisasi Polio Massal Masih Dilakukan Terbatas Departemen Kesehatan masih mengutamakan imunisasi polio massal secara terbatas hanya untuk tiga provinsi yang sudah terkena kasus, sehingga belum akan ada imunisasi massal secara nasional. Itu merupakan standar penanggulangan yang dilakukan negara manapun di dunia jika terjadi kasus seperti ini, daerah yang terdekat yang diutamakan, kata Dr. Muhammad Nadirin, Kasubdit Surveilans Etidemologi Dirjen Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPMPL) Depkes, di sela acara Bincang Sabtu pagi yang berlangsung di Marios Place Kuningan Jakarta,(14/5/2005). Tiga provinsi yang akan melakukan imunisasi massal polio adalah Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten. Imunisasi massal itu akan dilakukan dalam dua tahap, yakni tanggal 31 mei 2005 dan 28 Juni 2005. Sasaran imunisasi massal ini adalah anak balita tanpa melihat status imunisasi sebelumnya yang jumlahnya mencapai 5,2 juta anak. Dana yang disediakan Depkes sekitar Rp 41 miliar untuk tiga provinsi ditambah bantuan dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organizations/WHO) dan negara asing seperti Australia. Menurut Nadirin, imunisasi massal dilakukan untuk meminimalisasi dan mengantisipasi penyebaran virus polio. Selain itu, Depkes juga berupaya melokalisir virus yang menyebar melalui tinja di daerah yang sudah terkena, agar tetap disitu. Sedangkan bagi penderita yang sudah positif menderita polio menurut Nadirin akan dibiayai rumah sakit setempat sampai pada proses fisioterapinya namun pada batas-batas tertentu. Mengenai perlunya rumah sakit khusus, menurut Nadirin untuk penanganan polio sebenarnya tidak dibutuhkan peralatan canggih, karena sampai saat ini memang tidak ada obat untuk menyembuhkan penyakit polio. Namun ia menilai fasilitas rumah sakit yang ada termasuk di Sukabumi sudah sangat mencukupi. Khususnya dalam hal universal precaution dimana belum terjadi penyebaran melalui tinja, katanya. Nadirin juga menjelaskan, bahwa polio yang telah masuk ke Jakarta bukan asli dari Jakarta, karena korban yang dinyatakan positif tersebut terkena di Sukabumi. Penderita itu adalah orang Sukabumi yang mempunyai rumah di Jakarta. Jadi waktu dia terinfeksi polio pada saat berada di Sukabumi, katanya. Dia juga menghimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak perlu khawatir terhadap ancaman penyebaran virus polio. Pasalnya, Depkes telah mempunyai agen-agen desease inteligent yang melakukan survei di seluruh Indonesia untuk mencari dan menemukan AFP (Acute Palccid Paralysis) atau lumpuh layuh yaitu kumpulan penyakit yang memberikan gejala seperti polio. Saat ini menurut data Depkes, polio yang disebabkan oleh AFP jumlahnya kurang dari satu persen. (ir)
Pasien Positif Polio Bertambah
Jumlah balita yang positif tertular virus polio liar (VPL) di Kabupaten Sukabumi terus bertambah. Berdasarkan hasil pemeriksaan balita yang diduga terjangkit polio di Labotarium Bio Farma Bandung, balita yang positif bertambah dua orang. Jumlah keseluruhannya kini menjadi delapan orang. '' Penambahan penderita yang positif tersebut diketahui setelah kami mendapatkan informasi dari hasil labotarium Bio Farma Bandung, Sabtu (14/5),'' ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, dr Buhono Thahadibrata kepada wartawan, senin (16/5) di Sukabumi. Namun demikian, lanjut dia, pihaknya tidak bersedia menyebutkan secara rinci nama balita yang positif tersebut. Survailans Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Jauhari Muas mengatakan, kedua balita yang positif menderita polio tersebut berinisial DD dan SS. Dikatakan Jauhari, data balita yang positif terserang di Kabupaten Sukabumi dikhawatirkan akan terus bertambah. Pasalnya, lanjut dia, dari kotoran balita yang diperiksa oleh Labotarium Bio Farma Bandung sebanyak 156 orang yang diduga terserang polio. Sebanyak 20 orang di antaranya, kata dia, dinyatakan contactship. Setelah kasus penyebaran Polio di Kabupaten Sukabumi beberapa waktu lalu, empat anak di Kabupaten Karawang terindikasi mengalami penyakit serupa. Pasalnya, keempat anak ini telah mengidap penyakit lumpuh layu, gejala awal penyakit polio. Sementara itu, menurut Kabid Penyebaran Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, dr Asep Hidayat, pihaknya telah menyerahkan contoh feses (tinja) empat anak yang menderita lumpuh layu dan diduga polio ke labolatorium Bio Farma. ''Untungnya, hasil dari labolatorium menyatakan mereka negatif polio,'' kata Asep akhir pekan lalu.
Keempat anak itu, kata Asep adalah Wanta (13 tahun), warga Kampung Pasar Batu Jaya, Kecamatan Batu Jaya; Zulfi Nurislami (5) , warga Desa Sirnaruju, Kecamatan Tegal Waru; Opik (1), warga Desa Kertamulya, Kecamatan Pedes; dan Eka Maulidin (3), warga Desa Payung Sari, Kecamatan Pedes. Meski mereka tidak dinyatakan positif polio, Asep mengatakan, keempatnya mengalami lumpuh layu, semacam penyakit syaraf yang menyebabkan kelumpuhan. Pasalnya, kata dia, masih ada 32 jenis penyakit, selain polio, yang timbul akibat penyakit lumpuh layu. ''Tapi, kelumpuhannya masih bisa diobati. Mungkin satu atau dua bulan ini mereka bisa sembuh,'' kata Asep. Menurut Asep, pihaknya memang setiap tahun menginstruksikan untuk mencari anak dari 0 hingga 15 tahun yang mengidap penyakit lumpuh layu. Pasalnya, kata dia, penyakit lumpuh layu merupakan indikasi terserangnya penyakit polio, yang bisa menyebabkan lumpuh permanen. Untuk tahun 2004 lalu, kata Asep, di Kabupaten Karawang terdapat 11 anak usia 0 hingga 15 tahun dari 11 kecamatan yang mengidap penyakit lumpuh layu. ''Tapi, semuanya negatif polio,'' ujar dia. Menghadapi masalah polio ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan pemerintah tidak akan memberikan kompensasi kepada warga masyarakat yang terkena polio melainkan hanya membantu semua upaya imunisasinya. ''Pemerintah membantu semua upaya imunisasi itu, tetapi pemerintah juga tidak bisa memberikan kompensasi kepada semua mereka yang sakit,'' katanya di Kantor Wapres, Jakarta, Senin (16/5). Menurut Wapres, apabila satu orang terkena polio diberikan kompensasi maka semua orang sakit di Indonesia juga akan meminta hak yang sama. ''Mereka akan bertanya apa bedanya polio dengan malaria. Tidak ada bendanya. Jadi semua pihak harus menjaga tingkat sanitasi yang baik di lingkungan masing-masing," kata Wapres. Mengenai asal muasal munculnya virus polio liar ini, Wapres berpendapat, ada tiga kemungkinan saling kontak itu yakni bertemu sewaktu musim haji, bertemu TKI dengan TKI di luar negeri, atau orang Afrika yang datang ke Indonesia dan bertemu di tempat yang sanitasinya tidak baik. ''Jika di tempat haji, kemungkinan sanitasinya cukup baik karenanya sekarang ini kita tidak tahu di mana asal mulanya penyakit itu karena pada dasarnya adalah sanitasi yang kurang baik," katanya.
Kerja Sama Internasional Tanggulangi Virus Polio
Sebuah langkah kerja sama internasoinal ingin dibangun pemerintah untuk menanggulangi penyebaran virus volio asal Benua Afrika yang kini sedang menyerang Indonesia. Namun pemerintah tak akan memberikan dana kompensasi bagi penderita polio ini kecuali biaya pengobatan di rumah sakit. ''Ya, polio itu kan hanya satu pencegahannya, yaitu imunisasi. Karena di dunia ini tidak bisa lagi kita tutup, jadi betul-betul kita harus bekerja sama dengan dunia internasional,'' ungkap Wakil Presiden Jusuf Kalla, di Kantornya, di Jakarta, Senin (16/5). Kalla lantas menyontohkan virus polio yang sedang mewabah di beberapa daerah di tanah air. Ia mempertanyakan mengapa virus asal Afrika itu bisa menjangkit di sini. ''Jadi kira-kira dari mana orang indonesia dapat virus dari Afrika, kalau orang indonesia ke Afrika jarang,'' ujarnya. ''Cuma tiga kemungkinannya, yaitu dia naik haji, ketemu TKI dengan TKI atau orang Afrika ke Indonesia di tempat dimana sanitasi kurang baik.''
Menurut Kalla, untuk kegiatan ibadah haji dinilai memiliki sanitasi yang baik. Ia menduga virus volio asal benua hitam itu mewabah di daerah Sukabumi karena ada persentuhan pisik di sana. ''Ini kan sedang diselidiki dimana tempatnya,'' katanya. Sebagai bentuk tanggung jawab, Kalla menyatakan, pemerintah akan membantu semua biaya imunisasi anti polio. Namun, sergahnya, pemerintah tidak bisa memberikan kompensasi kepada semua yang terserang penyakit ini. ''Satu polio dikasih, nanti semua orang yang sakit di indonesia minta kompensasi. Cacar iya, malaria iya, jadi itu masing-masing harus menjaga diri, tapi semua biaya pengobatannya ditanggung pemerintah,'' jelasnya.
Sebotol vaksin influenza beserta jarum suntiknya.
Vaksin (dari kata vaccinia, penyebab infeksi cacar sapi yang ketika diberikan kepada manusia, akan menimbulkan pengaruh kekebalan terhadap cacar), adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau "liar". Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit. Vaksin dapat juga berupa organisme mati atau hasil-hasil pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus, dsb.). Vaksin akan mempersiapkan sistem kekebalan manusia atau hewan untuk bertahan terhadap serangan patogen tertentu, terutama bakteri, virus, atau toksin. Vaksin juga bisa membantu sistem kekebalan untuk melawan sel-sel degeneratif (kanker).
Menumbuhkan kekebalan Sistem kekebalan mengenali partikel vaksin sebagai agen asing, menghancurkannya, dan "mengingat"-nya. Ketika di kemudian hari agen yang virulen menginfeksi tubuh, sistem kekebalan telah siap: (1) menetralkan bahannya sebelum bisa memasuki sel dan (2) mengenali dan menghancurkan sel yang telah terinfeksi sebelum agen ini dapat berbiak. Vaksin yang dilemahkan digunakan untuk melawan tuberkulosis, rabies, dan cacar; agen yang telah mati digunakan untuk mengatasi kolera dan tifus; toksoid digunakan untuk melawan difteri dan tetanus. Meskipun vaksin sejauh ini tidak virulen sebagaimana agen "sebenarnya", bisa menimbulkan efek samping yang merugikan, dan harus diperkuat dengan vaksinasi ulang beberapa tiap tahun. Suatu cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan vaksinasi DNA. DNA yang menyandi suatu bagian virus atau bakteri yang dapat dikenali oleh sistem kekebalan dimasukkan dan diekspresikan dalam sel manusia/hewan. Sel-sel ini selanjutnya menghasilkan toksoid agen penginfeksi, tanpa pengaruh berbahaya lainnya. Pada tahun 2003, vaksinasi DNA masih dalam percobaan, namun menunjukkan hasil yang menjanjikan.
Pemberantasan penyakit Berbagai penyakit seperti polio telah dapat dikendalikan di negara-negara maju melalui penggunaan vaksin secara massal (malah, cacar telah berhasil dimusnahkan, sedangkan rubella dilaporkan telah musnah dari AS). Sepanjang mayoritas masyarakat telah diimunisasi, penyakit infeksi akan sulit mewabah. Pengaruh ini disebut herd immunity. Beberapa kalangan, terutama yang melakukan praktik pengobatan alternatif, menolak untuk mengimunisasi dirinya atau keluarganya, berdasarkan keyakinan bahwa efek samping vaksin merugikan mereka. Para pendukung vaksinasi rutin menjawab dengan mengatakan bahwa efek samping vaksin yang telah berizin, jika ada, jauh lebih kecil dibandingkan dengan akibat infeksi penyakit, atau sangat jarang, dan beranggapan bahwa hitungan untung/rugi haruslah berdasarkan keuntungan terhadap kemanusiaan secara keseluruhan, bukan hanya keuntungan pribadi yang diimunisasi. Resiko utama rubella, misalnya, adalah terhadap janin wanita hamil, tapi resiko ini dapat secara efektif dikurangi dengan imunisasi anak-anak agar tidak menular kepada wanita hamil.
PEMERINTAH BANTU IMUNISASI POLIO DAN TIDAK BERI KOMPENSASI Informasi yang disajikan dalam situs ini hanya untuk pengguna akhir (end-user). Menyiarkannya kembali dalam bentuk cetak, elektronik dan lain-lain tidak diperkenankan, tanpa izin tertulis dari LKBN ANTARA. Jakarta (ANTARA News) - Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan pemerintah tidak akan memberikan kompensasi kepada warga masyarakat yang terkena polio melainkan hanya membantu semua upaya imunisasinya. "Pemerintah membantu semua upaya imunisasi itu, tetapi pemerintah juga tidak bisa memberikan kompensasi kepada semua mereka yang sakit," katanya di Kantor Wapres, Jakarta, Senin. Menurut Wapres, apabila satu orang terkena polio diberikan kompensasi maka semua orang sakit di Indonesia juga akan meminta hak yang sama. "Mereka akan bertanya apa bedanya polio dengan malaria. Tidak ada bedanya. Jadi semua pihak harus menjaga tingkat sanitasi yang baik di lingkungan masing-masing," kata Wapres. Penyakit polio yang saat ini sedang menjadi sorotan di masyarakat, kata Kalla, obatnya hanya satu yakni imunisasi saja. Lebih lanjut Wapres mengatakan bahwa pihaknya telah mencoba menelusuri dari mana virus Afrika itu bisa masuk ke Indonesia.
"Kita coba telusuri di mana orang Indonesia bersentuhan dengan orang Afrika. Kalau orang Indonesia ke Afrika jelas jarang," katanya. Kendati demikian, Wapres berpendapat, ada tiga kemungkinan saling kontak itu yakni bertemu sewaktu musim haji, bertemu TKI dengan TKI di luar negeri atau orang Afrika yang datang ke Indonesia dan bertemu di tempat yang sanitasinya tidak baik. "Jika di tempat haji, kemungkinan sanitasinya cukup baik karenanya sekarang ini kita tidak tahu di mana asal mulanya penyakit itu karena pada dasarnya adalah sanitasi yang kurang baik," katanya.(*)
DELAPAN BALITA DI SUKABUMI TERTULAR VIRUS POLIO LIAR Delapan anak usia bawah lima tahun (balita) dari 17 balita menderita sakit lumpuh layuh (AFP - Acutc Placcid Paralysis) dinyatakan tertular virus polio liar P-1, kata Kepala Biro Umum dan Humas Depkes Suprijadi, SKM. "Pemeriksaan di laboratorium Bio Farma Bandung terhadap specimen faces dari 17 balita penderita AFP berasal Kabupaten Sukabumi, Jabar hingga 14 Mei 2005 ditemukan delapan balita positif tertular virus polio liar P-1," katanya dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu. Menurut Suprijadi, hasil pemeriksaan 17 specimen faces di Bandung itu, delapan balita dinyatakan positif tertular poliar liar jenis P-1, sedang delapan specimen masih menunggu proses pemriksaan dan satu specimen dinyatakan negatif. Depkes bekerjasama dengan organisasi kesehatan dunia (WHO) dan Badan PBB urusan Anak-anak (Unicef) selain memeriksa balita yang diduga sakit polio, juga telah memberikan imunisasi polio bagi 4.000 balita di sejumlah kecamatan di Sukabumi, Jabar, akhir April 2005. Untuk mencegah penularan virus polio, Pemerintah akan memberikan imunisasi polio secara gratis bagi 5,2 juta anak usia 0-59 bulan (balita) di Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jabar pada 31 Mei 2005 dan 28 Juni 2005. Supriyadi menambahkan, satu balita dari delapan tertular polio liar dari Sukabumi yang dirawat di RSCM Jakarta sejak 3 Mei 2005 kini telah sembuh dan sempat pulang ke tempat keluarganya di Kelurahan Mangga Besar, Jakarta Utara. Namun, untuk mencegah penularan virus polio, balita asal Sukabumi itu sejak 12 Mei 2005 dirawat ke RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso di Sunter, Jakarta Utara, selanjutnya seluruh balita di Kelurahan Mangga Besar dan di Kecamatan Mangga Besar diberikan imunisasi polio. Menanggapi laporan 15 kasus lumpuh layuh pada balita di Kabupaten Lebak, Banten, Tim Pemantaua Depkes dan WHO telah mengambil 15 sample tinja dari 15 balita untuk diperiksa di Laboratorium Badan Litbangkes Jakarta, demikian untuk laporan empat kasus lumpuh layuh di Kabupaten Karanganyar, Jateng
Sebelumnya, Menkes Siti Fadilah berharap, masyarakat tidak perlu panik jika ada balita sakit lumpuh, tapi segera dibawa ke rumah sakit (RS) terdekat untuk diobati dan diambil specimen tinja untuk diperiksa di laboratorium guna ditentukan jenis virus penularan penyakitnya. "Bayi dan anak yang telah mendapat imunisasi polio lengkap tidak akan tertular penyakit polio. Balita yang belum mendapat imunisasi polio harus segera ke Puskesmas terdekat untuk diberikan imunisasi," katanya.
WHO: WABAH POLIO DI YAMAN KEMUNGKINAN AKIBATKAN 100 ANAK LUMPUH Wabah polio di Yaman kemungkinan telah membuat lebih dari 100 anak menderita kelumpuhan sebelum penyakit itu dapat diatasi perluasannya, demikian menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Rabu. Seorang pejabat Kementerian Kesehatan Yaman mengatakan di ibukota Sanaa awal pekan ini, jumlah anak-anak yang didiagnosa menderita penyakit lumpuh layu (polio) itu telah meningkat menjadi 40 orang, hampir dua kali lipat dari kasus sebelumnya sebanyak 22 kasus seperti dikonfirmasi WHO pada akhir April lalu. Namun WHO menyatakan lebih banyak orang yang diduga menderita polio tengah diselidiki. "Kami memperkirakan jumlah para penderita polio itu akan bertambah menjadi lebih dari 100 orang sebelum wabah itu dapat diatasi," ujar jurubicara WHO Oliver Rosenbauer kepada Reuters. Penyakit tersebut, yang sebagian besar menjangkiti anak-anak di bawah usia lima tahun, menyebabkan kelumpuhan permanen. Angka imunisasi yang rendah di kalangan anak-anak di Yaman, yang terakhir dilaporkan terjadi tahun 1996, telah membantu penyebaran virus itu, demikian menurut WHO. Satu kampanye imunisasi nasional direncanakan dalam pertengahan kedua Mei. Dana Kanak-Kanak PBB (UNICEF) mengirim enam juta dosis vaksin oral polio, yang akan tiba di negara itu pada pekan depan, demikian menurut jubir WHO itu. "Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa dengan imunisasi yang cepat dan berkualitas tinggi, wabah sporadis penyakit itu dapat dikendalikan," ujar Rosenbauer disiarkan QNA. Yaman merupakan negara bebas-polio kelimabelas namun penyakit itu muncul kembali dalam dua tahun terakhir ini, termasuk 13 negara Afrika.
EVAKUASI TIGA KORBAN POLIO KE RSHS BANDUNG DIWARNAI KETEGANGAN Tiga orang korban virus polio liar dari Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Senin (9/5) sore tiba di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung setelah proses evakuasi ketiga penderita itu sempat diwarnai ketegangan karena aparat Pemkab setempat menghalangi-halangi proses evakuasi tersebut. Ketiga orang korban virus polio liar tersebut, yakni, Siti Fitria (7 tahun), M Luthfi (8 bulan) dan Ismail (3 tahun), selanjutnya ketiga orang tersebut langsung dirawat di ruang khusus perawatan untuk anak-anak No.A2. Dikatakan, proses evakuasi ini sendiri berjalan molor atau di luar jadwal semula yang sebelumnya direncanakan tiba di RSHS Bandung pukul 13.00 WIB namun tiba terlambat pukul 17.30 WIB akibat adanya aksi menghalangi oleh pemerintah setempat. Anggota LBH Kesehatan Royke Bagalatu, mengatakan, sebenarnya korban virus liar yang akan dievakuasi ke RSHS Bandung itu sebanyak tujuh orang namun akibat petugas keamanan serta aparat setempat melarang, sehingga hanya tiga orang yang bisa dievakuasi untuk dirawat di RSHS Bandung. "Kami hanya bisa membawa tiga orang korban virus polio sedangkan empat orang lagi hendak dibawa dihalang-halangi oleh aparat keamanan," tegasnya. Royke menyebutkan, petugas keamanan atau aparat Pemkab setempat tidak boleh mengevakuasi ketiga orang Balita itu, tidak jelas alasannya, dan kabarnya terkait dengan akan datangnya Menteri Kesehatan. Sebenarnya juga, LBH Kesehatan akan mengevakuasi 41 orang lainnya yang terkena gejala virus polio liar, namun kami hanya akan mengevakuasi tujuh orang anak yang positif terkena virus polio liar. "Tentunya kami akan melaporkan kepada pihak kepolisian atas sikap pemerintahan setempat yang mencoba menghalang-halangi proses evakuasi ini," tegasnya. Pasalnya, menurut dia, langkah isolasi terhadap korban yang terkena virus polio liar tersebut, harus dilakukan karena mengingat virus ini dapat menyebar terutama ke daerah lainnya. "Upaya isolasi mau tidak mau harus dilakukan guna mencegah terjadinya penyebaran terhadap virus tersebut ke anak-anak lainnya," tandasnya. Terlebih lagi, LBH Kesehatan merasa kecewa atas sikap pemerintah yang tidak pernah memberikan kejelasan tentang virus polio tersebut kepada masyarakat karena hanya memberikan polemik asal virus yang dikatakan dari Arab Saudi atau negara-negara Afrika. Sementara itu, Direktur RSHS Bandung Prof Dr dr Cissy Rachiana Sudjana membenarkan akan datangnya pasien korban virus polio liar dari Sukabumi yang direncanakan tiba di RSHS Bandung pada hari Senin (9/5) siang.
LBH KESEHATAN BAWA ENAM ANAK SUKABUMI KORBAN VIRUS POLIO Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kesehatan Jakarta, membawa enam dari 20 anak korban serangan virus polio di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, ke RS Hasan Sadikin Bandung, untuk dirawat secara intensif. "Senin pagi tadi sekitar pukul 08.00 WIB telah kami bawa enam anak dari 20 anak Sukabumi yang terserang virus polio untuk dirawat intensif di RS Hasan Sadikin Bandung," kata Direktur Pendiri LBH Kesehatan, Iskandar Sitorus yang menghubungi ANTARA Jambi via telepon dari Bandung, Senin. Menurut dia, virus polio yang menyerang anak balita rata-rata usia dua tahun itu di bawa ke RS Hasan Sadikin setelah pihaknya melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat dan pemerintah pusat. LBH Kesehatan yang menurunkan tim ke Sukabumi untuk melakukan penelitian dan membantu para korban, mendesak pemerintah untuk membasmi serangan virus polio yang melumpuhkan anak-anak balita. itu. Ia menjelaskan, tidak menutup kemungkinan serangan virus polio akan terus menyebar di daerah itu, bila penanganannya terlambat. Semenatara dilaporkan, jumlah penderita polio di Kabupaten Sukabumi terus bertambah dengan area temuan yang semakin meluas. Hasil penelitian sementara Tim dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dinas Kesehatan Jabar beserta petugas Puskesmas setempat, Kamis (5/5) diperoleh informasi penderita polio ternyata tidak hanya ditemukan di Kecamatan Cidahu, tetapi sudah merambah ke Kecamatan Bojonggenteng dan Kecamatan Cicurug. Sedikitnya sudah lebih dari 10 orang yang positif terkena virus penyakit lumpuh layu itu. Lima diantaranya terjangkit virus P1 patogen yang dikatagorikan sebagai virus polio liar. Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi terus melakukan pantauan terhadap serangan virus tersebut. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, dr Buhono Thahadibrata M.Kes, mengatakan, untuk memastikan berapa jumlah sebenarnya penderita polio , masih harus menunggu hasil laboratorium WHO. Beberapa korban yang baru ditemukan terdapat di Desa Cipanengah Kecamatan Bojonggenteng dan Desa Cisaat Kecamatan Cicurug. "Untuk mencegah semakin meluasnya virus liar tersebut dalam kurun sepuluh hari ini, pemerintah daerah telah melakukan vaksinasi di ketiga kecamatan itu. Sedikitnya 4.048 anak sudah mendapatkan vaksinasi polio," kata Buhono.
RS PEMERINTAH HARUS LAYANI GRATIS VAKSINASI POLIO Pemerintah menetapkan pelayanan vaksinasi polio secara gratis bagi anak usia 0-59 bulan (balita) di rumah sakit (RS) pemerintah se-Indonesia, mulai Mei 2005, kata Menko Kesra Alwi Shihab. "Menkes Siti Fadilah Supari telah mengeluarkan surat pelayanan gratis vaksinasi polio bagi balita se-Indonesia, menyusul penemuan 15 balita di Sukambumi yang menderita sakit lumpuh," katanya di Yogayakarta, Sabtu. Seusai menyaksikan pemberian imunisasi polio dan kartu askes gratis penduduk miskin di Puskemas Tegalrejo, Yogyakarta, Alwi minta masyarakat melaporkan ke Depkes jika mengetahui RS pemerintah memungut biaya imunisasi polio. Alwi menegaskan, kejadian luar biasa (KLB) penyakit polio akibat virus polio liar yang menimpa tiga balita di Sukabumi, Jabar tidak akan meluas ke daerah lain, karena hampir seluruh balita di Indonesia telah diimunisasi polio secara rutin. Pada kesempatan terpisah ,Menkes Siti Fadilah Supari mengatakan, tiga balita terkena virus polio liar di Sukabumi, Jabar, akhir April 2005 karena belum mendapatkan imunisasi polio. Depkes bekerja sama tim Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) telah menemukan 15 kasus sakit lumpuh layuh(lemah) di Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jabar, April 2005 yang terbagi atas tiga kasus positif karena virus polio liar, satu negatif, satu menunggu konfirmasi dan 10 kasus menunggu pemeriksaan labaratorium Biofarma di Bandung. Tim Depkes dan WHO juga telah melakukan imunisasi polio bagi sekitar 4.000 balita di dua kecamatan di Sukabumi, pada 24 - 27 April 2005 agar tidak tertular virus polio dari tiga balita di daerah itu. Balita di Sukabumi tertular virus polio liar diduga berasal sejumlah warga yang bepergian Arab Saudi yang membawa virus polio karena di Arab Saudi ditemukan lima anak dari Negeria dan satu dari Sudan menderita lumpuh layuh akibat virus polio. Menkes menyatakan, untuk memutus rantai penularan virus polio dari Afrika itu, pemerintah akan melaksanakan imunisasi polio gratis bagi sekitar 5,2 juta anak balita di Banten, DKI dan Jabar pada 31 Mei dan 28 Juni 2005. Biaya untuk pelaksanaan imunisasi di tiga provinsi mencapai Rp17,5 miliar terbagi Rp8,5 miliar untuk pembelian vaksin polio dari APBN dan dan Rp9 miliar untuk biaya operasional dari bantuan luar negeri. Dia menambahkan, masih terdapat enam negara di seluruh dunia yang endemis polio, yakni India, Sudan, Nigeria, Afghanistan, Mesir dan Pakistan, tetapi pada awal 2005, beberapa negara yang sudah bebas polio seperti Chad dan Yaman terserang kembali oleh virus polio yang berasal dari negera endemis polio.
KASUS POLIO DI INDONESIAN JADI PERHATIAN PERS AMERIKA Ditemukannya kasus penyakit polio di Indonesia mendapat sorotan dari sejumlah media massa di Amerika Serikat dalam sepekan terakhir ini. Beberapa media terkemuka AS seperti The New York Times, LA Times dan Boston Globe antara lain menulis bahwa virus polio di Indonesia yang diperkirakan berasal dari Afrika, menunjukkan betapa wabah tersebut makin meluas di dunia. Apalagi kasus terebut muncul ketika WHO sedang giat-giatnya melakukan kampanye vaksinasi polio dan di Indonesia sejak 1995 tidak pernah ditemukan kasus polio. "Kasus polio terakhir di Indonesia terjadi tahun 1995, kini negara muslim itu menjadi negara ke-16 yang terkena wabah tersebut," tulis The New York Times. Surat kabar tersebut juga menulis bahwa upaya memerangi polio di dunia ternyata belum selesai. Padahal organisasi kesehatan dunia (WHO) pernah mencanangkan target bebas polio sebelum tahun 2008 mendatang. Surat kabar Boston Globe dalam edisi on-line juga menyorot mengenai makin jauhnya "perjalanan" virus polio tersebut dari Nigeria hingga ke Indonesia. Disebutkan pula bahwa virus polio tersebut mulai menyebar lagi pada dua tahun lalu karena ada penghentian vaksinasi di Nigeria. Sementara itu pejabat bidang informasi perwakitan tetap Nigeria untuk PBB, Okon Isong menyayangkan pemberitaan pers barat yang cenderung menyalahkan negaranya dalam kasus penyebaran polio tersebut. "Pemberitaan persrat tampak menyalahkan Pemerintah Nigeria atas masalh penyeberan polio tersebut," katanya kepada ANTARA di New York, Jumat. Ia menjelaskan, penghentian sementara vaksinasi pada dua tahun lalu itu hanya terjadi di negara bagian Kano, utara Nigeria, karena ada keraguan masyarakat atas vaksin yang diproduksi suatu perusahaan farmasi. "Kebijakan itu sendiri diluar wewenang pemerintah pusat," kata Okon Isong. Dia juga menyatakan tidak yakin bahwa kasus di Nigeria itu menjadi satu-satunya penyebab penyebaran virus polio tersebut.(*)
VIRUS POLIO DI SUKABUMI DIPERKIRAKAN DARI ARAB SAUDI Dinas Kesehatan Jawa Barat memperkirakan virus polio yang menyerang sejumlah anak di Kabupaten Sukabumi berasal dari Arab Saudi sebagaimana hasil penelitian organisasi kesehatan dunia WHO bahwa karakteristik virus polio di dua tempat itu sama. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Yudi Prayudha di Bandung, Jumat, mengatakan, virus polio yang sifat penyebarannya tanpa batas, bisa saja dibawa oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang baru pulang dari Arab Saudi atau dari mereka yang usai pergi haji atau umroh. Selain itu kehadirannya diduga terkait dengan banyaknya orang yang keluar masuk Desa Girijaya Sukabumi, seperti yang datang dari Jakarta dan Jawa Tengah. Yudi menyebutkan, WHO tidak pernah menyatakan suatu negara bebas dari penyakit polio, kecuali berdasarkan luasan regional, seperti Indonesia masuk dalam regional Asia Selatan, dan untuk regional Asia Selatan ditargetkan bebas polio tahun 2008. WHO sendiri melakukan upaya untuk mencari anak-anak yang mengalami `lumpuh layu` akibat terkena virus polio dengan asumsi dari 100 ribu anak yang diperiksa satu orang di antaranya mengalami lumpuh layu. Di Jabar sendiri pencarian dilakukan dengan menggunakan hitungan 1,3 yang artinya satu anak dapat jalan dan dua anak mengalami lumpuh layu, sedangkan sampai tahun 2005 tercatat terdapat 100 ribu anak mengalami lumpuh. Namun persoalannya dari ke-100 ribu anak yang mengalami kelumpuhan itu tidak seluruhnya diakibatkan oleh virus polio, sehingga dugaan serangan virus polio kepada seorang anak harus diteliti lagi melalui laboratorium, seperti meneliti tinja anak yang bersangkutan. Keberadaan virus polio itu sendiri bersifat tidak terbatas seperti penyebarannya tidak hanya terbatas di Kabupaten Sukabumi saja, namun juga dapat terjadi di daerah lainnya. "Hingga kewaspadaan akan kehadiran virus tersebut harus ditingkatkan seperti dengan cara melakukan imunisasi polio," tandasnya. Diungkapkan, pemberian imuniasi polio sendiri di wilayah Jabar sudah rutin dilakukan, sementara adanya korban apakah sudah diimunisasi atau belum, kejelasannya belum diketahui.
PT. BIO FARMA SIAP KURANGI EKPOR VAKSIN POLIO PT Bio Farma siap mengurangi ekspor vaksin polio dalam upaya memenuhi persediaan vaksin di dalam negeri seiring terjadinya serangan virus polio pada sejumlah anak di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. "PT Bio Farma siap mengurangi ekspor vaksin polio terutama ke negara berkembang seperti India," ungkap Kahumas PT Bio Farma Elvyn Fajrul Jaya Saputra di Bandung, Jum`at. Menurut Elvyn, pengurangan ekspor vaksin itu sendiri terkait dengan permintaan di dalam negeri terhadap vaksin tersebut yang meningkat setelah kehadiran virus polio di Kabupaten Sukabumi. Sebenarnya, ia menyebutkan, PT Bio Farma sendiri dalam memproduksi vaksin polio sudah disesuaikan dengan kebutuhan balita di dalam negeri, yakni untuk sebanyak 45 juta balita per tahun. Oleh karena itu, menurut dia, tidak benar bilamana ada pandangan bahwa PT Bio Farma dalam memproduksi vaksin polio tidak sesuai dengan kebutuhan di dalam negeri. "PT Bio Farma siap kalau pemerintah meminta tambahan vaksin polio tersebut," tandasnya. Sementara itu Kasubdin Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Jabar, Fatimah Resmiyati mengatakan, PT Bio Farma akan menyiapkan 12 juta dosis vaksin polio untuk pelaksanaan imunisasi massal di tiga propinsi. Ketiga propinsi tersebut adalah Propinsi Banten, Propinsi Jawa Barat dan Propinsi DKI Jakarta yang akan dilakukan pada akhir Mei 2005 dan akhir Juni 2005. Di bagian lain, ia menyebutkan, akibat keberadaan virus polio yang positif menyerang lima anak di Kabupaten Sukabumi, maka pemerintah telah menetapkan statusnya Keadaan Luar Biasa (KLB). Sedangkan total kasus `Accute Flaccid Paralysis` (AFP) selama periode 1 Januari sampai 5 Mei 2005 sebanyak 18 kasus, dan yang positif terkena berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen tinja di Laboratorium Bio Farma sebanyak lima orang. Pemberian imunisasi polio pada putaran pertama dilakukan dari tanggal 24 April sampai 28 April 2005 di empat desa di Kabupaten Sukabumi, yakni terhadap 3.960 balita di daerah itu.(*)
LIMA WARGA DI KABUPATEN KEDIRI TERDETEKSI MENDERITA POLIO Sedikitnya lima orang warga di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, terdeteksi penyakit polio selama satu tahun terakhir ini. Kepala Bagian Humas Pemkab Kediri, Sigit Rahardjo, Jumat, mengemukakan bahwa selama tahun 2005 ini baru ditemukan satu orang penderita, sedang pada tahun 2004 lalu tercatat 4 orang penderita. Menurut Sigit, penderita atas nama Fenny Nurdina (12) anak dari Santun Luhur, warga Desa Selosari, Kecamatan Kandat diketahui menderita polio pada 24 April lalu. "Saat dibawa ke Puskesmas Blabak, Fenny menderita kelumpuhan dengan diagnosa myelitis," tandas Sigit menirukan staf Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri. Sementara empat penderita lainnya terdeteksi sejak bulan April hingga Agustus 2004 lalu. Keempat penderita itu adalah Rizki Aprilia (7,9) warga Bangsongan, Pagu mengalami kelumpuhan pada 21 April 2004, Siti Masruroh (8,4), warga Blabak, Kandat, mengalami kelumpuhan 27 April 2004, Uut Lestari (3), warga Batuaji, Ringinrejo, lumpuh pada 28 April 2004 dan Kinanti Krinaningtyas (10), warga Sambiresik, Gampengrejo mengalami kelumpuhan pada 18 Agustus 2004 lalu. Namun demikian, Sigit menyatakan bahwa penyakit yang diakibatkan oleh virus dan mulai diketahui setelah sempat reda selama sepuluh tahun terakhir ini kasus di Kabupaten Kediri belum termasuk kejadian luar biasa (KLB). Menurut dia, selama ini petugas kesehatan di Kabupaten Kediri telah melakukan tindakan preventif atas penyebaran penyakit polio yang konon penyebaran virusnya berawal dari kawasan Laut Merah. Untuk imunisasi polio I petugas kesehatan di Kabupaten Kediri telah melakukan terhadap 27.472 bayi, atau mencapai 105,29 persen dari target yang ditetapkan. Sedang imunisasi polio II telah diberikan kepada 25.924 bayi atau 99,36 persen dari jumlah bayi lahir dan untuk imunisasi polio III dan IV masing-masing 25.512 bayi dan 25.402 bayi.
5,2 JUTA BALITA DI BANTEN, DKI, JABAR DIIMUNISASI CEGAH POLIO Sekitar 5,2 juta anak usia 0-59 bulan (balita) di Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jabar wajib mengikuti imunisasi polio pada 31 Mei dan 28 Juni 2005 menyusul ditemukan tiga balita menderita lumpuh layuh karena virus polio di Sukabumi, kata Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari. "Depkes bekerjasama dengan tim dari Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) telah menemukan 15 kasus sakit lumpuh layuh di Kecamatan Cidahu, Sukabumi, Jabar, terdiri atas tiga kasus positif sakit karena virus polio liar, satu negatif, satu menunggu konfirmasi kejelasan virus dan 10 kasus menunggu pemeriksaan labaratorium Biofarma di Bandung," katanya di Jakarta, Jumat. Menkes minta seluruh orang tua di tiga provinsi itu yang memiliki anak balita untuk membawa ke pos imunisasi di RT/RW terdekat agar mendapatkan imunisasi polio secara gratis yang diteteskan pada mulutnya sehingga terhindar dari kemungkinan penularan virus polio liar. Menurut Menkes, hasil kepastian tiga balita menderita lumpuh layuh yang disertai gejala panas, pusing kepala, muntah dan lumpuh itu setelah contoh tinja mereka diperiksa di Laboaratorim Mumbai, India, akhir April 2005. "Tim Depkes dan WHO juga telah melakukan imunisasi polio bagi sekitar 4.000 balita di Sukabumi pada 24 - 27 April 2005 agar tidak tertular viruspolio dari tiga balita di daerah itu," katanya. "Depkes bekerjasama dengan tim dari Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) telah menemukan 15 kasus sakit lumpuh layuh di Kecamatan Cidahu, Sukabumi, Jabar, terdiri atas tiga kasus positif sakit karena virus polio liar, satu negatif, satu menunggu konfirmasi kejelasan virus dan 10 kasus menunggu pemeriksaan labaratorium Biofarma di Bandung," kata Menkes Siti Fadilah Supari. Menkes menegaskan, penyakit lumpuh layuh (lemas pada persendian kaki) yang menyerupai polio tidak hanya disebab virus polio, tapi penyakit lain seperti polyuneuropathy. "Masyarakat tidak perlu panik, karena bayi dan anak yang telah mendapat imunisasi polio lengkap tidak akan tertular penyakit polio. Balita yang belum mendapat imunisasi polio harus segera ke Puskemas terdekat untuk diberikan imunisasi," katanya. Menkes menambahkan, virus polio liar tidak pernah lagi ditemukan di Indonesia sejak tahun 1995, namun untuk menghapus virus polio liar dari bumi Indonesia, Depkes telah menyelenggarakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) polio pada 1995, 1996, 1997 dan diulang pada 2002 yang diikuti 90 persen balita. Menurut Menkes, masih terdapat enam negara di seluruh dunia yang endemis polio, yakni India, Sudan, Nigeria, Afghanistan, Mesir dan Pakistan, tetapi pada awal 2005, beberapa negara yang sudah bebas polio seperti Chad dan Yaman terserang kembali oleh virus polio yang berasal dari negera endemis polio.
Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPMPL) Depkes Umar Fahmi Achmadi mengatakan, balita di Sukabumi tertular virus polio liar diduga berasal dari jamaah haji RI yang membawa virus polio karena di Arab Saudi ditemukan lima anak dari Negeria dan satu dari Sudan menderita lumpuh layuh. PENYEBARAN VIRUS POLIO DI SUKABUMI KARENA VAKSINASI TIDAK TUNTAS Semakin meluasnya serangan virus polio di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, terjadi karena vaksinasi yang dilakukan selama ini tidak tuntas, sementara penyebaran virus ini sulit dideteksi bila penderita tidak mendapatkan pengawasan memadai. "Selama ini yang dilakukan pemerintah nampaknya hanya jargon untuk memberikan `image` kepada dunia bahwa kita sudah bebas polio. Padahal dengan percepatan jumlah penduduk yang cukup besar realitasnya sangat sulit untuk dikatakan bebas polio," kata anggota DPRD Propinsi Jawa Barat, dr Anwar Turjana, kepada ANTARA di Sukabumi, Jum`at. Menurut Anwar yang juga mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi itu, dirinya saat menjabat Kepala Dinas Kabupaten Sukabumi sempat mengusulkan kepada Depatemen Kesehatan agar vaksinasi polio tetap dilakukan meskipun Indonesia sudah masuk katagori bebas polio. "Sekarang kan terbukti, bahwa Indonesia khususnya Kabupaten Sukabumi belum bebas polio," katanya. Ia menawarkan kepada pemerintah untuk kembali menggalakan pekan imunisasi nasional (PIN) di beberapa daerah yang rawan penyebaran virus polio. "Kita harus segera melakukan kerja besar untuk memerangi menjangkit lebih hebatnya virus tersebut, beberapa daerah yang sudah terdeteksi hendaknya segera diupayakan vaksinasi, " katanya. Berdasarkan pantauan ANTARA di lapangan jumlah penderita polio di Kabupaten Sukabumi terus bertambah dengan area temuan yang semakin meluas. Hasil penelitian sementara Tim dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dinas Kesehatan Jabar beserta petugas Puskesmas setempat , Kamis (5/5) , diperoleh informasi penderita polio ternyata tidak hanya ditemukan di Kecamatan Cidahu, tetapi sudah merambah ke Kecamatan Bojonggenteng dan Kecamatan Cicurug. Sedikitnya sudah lebih dari 10 orang yang positif terkena virus penyakit lumpuh layu itu. Lima diantaranya terjangkit virus P1 patogen yang dikatagorikan sebagai virus polio liar. Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi terus melakukan pantauan terhadap serangan virus tersebut. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, dr Buhono Thahadibrata M.Kes, mengatakan untuk memastikan berapa jumlah sebenarnya penderita polio , masih harus menunggu hasil laboratorium WHO.
Beberapa korban yang baru ditemukan terdapat di Desa Cipanengah Kecamatan Bojonggenteng dan Desa Cisaat Kecamatan Cicurug. "Untuk mencegah semakin meluasnya virus liar tersebut dalam kurun waktu sepuluh hari ini, pemerintah daerah telah melakukan vaksinasi di ketiga kecamatan itu. Sedikitnya 4.048 anak sudah mendapatkan vaksinasi polio," kata Buhono.
AUSTRALIA SUMBANG 1 JUTA DOLAR ATASI POLIO Pemerintah Australia akan memberikan sumbangan kepada Indonesia sebesar satu juta dolar Australia untuk membantu pencegahan penularan penyakit polio yang kini muncul di Sukabumi, Jawa Barat. Siaran pers yang diterima ANTARA dari Kedubes Australia di Jakarta, Kamis, menyebutkan bahwa sumbangan tersebut diumumkan Sekretaris Parlemen Urusan Luar Negeri dan Perdagangan Australia Bruce Billson, hari ini. Sumbangan tersebut diberikan melalui AusAID untuk mendukung biaya operasional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam pemberian vaksin. "Kami juga bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dan UNICEF (Badan PBB yang menangani masalah anak-anak) untuk menanggapi kemunculan penyakit polio tersebut," katanya. Billson mengatakan, bantuan tersebut akan membiayai setengah dari perkiraan dana kampanye imunisasi. "Kami juga telah menawarkan keahlian kami dalam bidang logistik imunisasi massal kepada WHO di Jakarta," katanya. Menurut dia, melalui aksi cepat Indonesia, pejabat WHO dan UNICEF anak-anak di empat desa yang berdekatan dengan kemunculan penyakit polio yang dianggap tidak ada lagi di Indonesia sejak 1995 itu telah menerima vaksinasi polio. Australia, katanya, telah mendukung kampanye imunisasi di Indonesia selama bertahun-tahun dan sejak 1995 lebih dari 2,5 juta dolar Australia telah disumbangkan untuk vaksinasi massal anak-anak di berbagai provinsi di Indonesia.
WHO TEMUKAN KASUS POLIO PERTAMA DI INDONESIA SEJAK 1955 Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO) menemukan kasus polio pertama di Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir ini sejak 1955. Siaran pers yang diterima ANTARA di Jakarta, Rabu menyebutkan, kasus tersebut ditemukan di Jawa Barat dan menurut Christine McNab dari WHO, kasus serupa juga ditemukan di Jenewa, dimana anak berumur 18 tahun terinfeksi virus polio, virus yang baru-baru ini mewabah di Afrika Barat. Dikatakannya, setelah mengamati rangkaian genetika dari kasus di Indonesia, WHO yakin virus tersebut entah bagaimana berhasil masuk Indonesia melalui Laut Merah dimana kasus serupa juga dilaporkan dari Arab Saudi dan Sudan. Oleh karena itu, katanya, untuk mencegah infeksi yang berkelanjutan, maka negara harus memperkuat sistem pengawasan terhadap polio dan ketika virus itu terdeteksi langkah vaksinasi harus dilakukan dengan segera terhadap anak dibawah lima tahun. "Hal ini sudah terjadi di Indonesia dan lima juta anak menjadi sasaran di kawasan yang lebih luas," katanya. WHO bersama negara-negara lain, kata dia, perlu melanjutkan pemantauan lebih dekat terhadap cadangan virus polio seperti di Nigeria, India, dimana virus berasal. WHO juga menilai perlu menggalang dana 50 juta dolar AS antara saat ini hingga akhir Juli 2005 untuk melakukan kampanye vaksinasi polio bagi anak di wilayah tersebut serta dibutuhkan dana tambahan untuk kegiatan yang sama sekitar 200 juta dolar tahun depan. Polio adalah virus yang berkembang biak di air dan banyak menyerang anak-anak. Penyakit ini sangat mematikan bagi beberapa korbannya karena membuat sebagian tubuhnya lumpuh atau bahkan lumpuh total.
PBB IMBAU INDONESIA WASPADA SETELAH POLIO DITEMUKAN LAGI Badan PBB untuk kesehatan dunia (WHO) hari Selasa mengimbau pemerintah Indonesia dan negara-negara lainnya di dunia agar waspada dan segera mengambil langkah dalam menghadapi penyebaran virus polio, menyusul ditemukannya lagi penyakit tersebut di Jawa Barat baru-baru ini. "Kunci untuk menghindari penyebaran lebih lanjut adalah memastikan bahwa tiap negara telah memperkuat sistem pemantau atas kasus itu. Begitu virus terdeteksi, maka perlu segera dilakukan vaksinasi pada anak-anak balita," kata seorang pejabat WHO, Christine McNab, yang dipublikasikan di New York, Selasa. Upaya itu sendiri sudah dilaksanakan di Indonesia dengan target sekitar lima juta anak dalam lingkup kawasan yang lebih luas. Namun, tambahnya, WHO dan pemerintah tiap negara perlu terus memantau lebih dseksama atas tempat-tempat yang menjadi sarang virus polio, terutama di India dan Nigera. WHO yang bermarkas di Genewa telah memastikan terjadinya lagi kasus polio pertama di Indonesia sejak 1995. Kasus itu ditemukan di Sukabumi, Jawa Barat, yakni atas seorang anak berusia 18 bulan yang belum divaksinasi. Ia terinfeksi suatu jenis virus polio yang sama dengan yang saat ini menyebar di Afrika Barat. Virus polio itu menyebar di Afrika Barat setelah kampanye vaksinasi dihentikan di Nigeria. Virus polio umumnya menyerang anak-anak serta bisa menyebabkan kematian atau kelumpuhan.
McNab mengatakan, setelah melihat genetika dari virus di Indonesia, peneliti WHO yakin bahwa virus itu masuk ke Indonesia melalui kawasan Laut Merah, tempat kasus polio dikabarkan terjadi di Arab Saudi dan Sudan. WHO saat ini hingga akhir Juli mendatang memerlukan dana sekitar 50 juta dolar AS untuk vaksinasi polio bagi anak-anak di kedua negara. Untuk vaksinasi di tahun 2006 mendatang, WHO memerlukan sekitar 200 juta dolar AS.
BALITA DI BANTEN, DKI, JABAR WAJIB IMUNISASI POLIO PADA 2005 Seluruh anak di bawah usia lima tahun (balita) di Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat (Jabar) wajib mengikuti imunisasi polio selama 2005 menyusul ditemukan enam kasus sakit lumpuh layuh pada balita di Sukabumi, Jabar diduga karena virus polio. "Depkes bekerjasama dengan tim dari Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) telah menyelidiki laporan bahwa enam balita menderita kasus lumpuh pada 24 - 27 April 2005 dan memberikan imunisasi polio di Sukabumi," kata Menkes Siti Fadilah Supari di Jakarta, Sabtu. Untuk memastikan penyakit lumpuh layuh keenam balita itu berasal dari virus polio, maka Depkes bekerjasama dengan WHO dan Unicef (badan PBB urusan anak-anak) mengirimkan contoh darah dan tinja untuk diteliti ke laboraorium polio internasional di Mumbai, India. Menkes berharap, pemda dan masyarakat di seluruh Indonesia agar meningkatkan kewaspadaan khususnya melaporkan ke pelayanan kesehatan terdekat jika menemukan anak menderita penyakit lumpuh layuh. Untuk mencegah kemungkinan kasus lumpuh layuh di Sukabumi menular ke daerah sekitar, maka Depkes memberikan imunisasi polio sebanyak dua kali bagi balita di Jabar, DKI dan Banten pada 2005 untuk meningkatkan kekebalan tubuh dari serangan polio liar. "Seluruh anak usia kurang dari setahun di seluruh Indonesia juga diberikan imunisasi polio secara rutin setiap tahun untuk mencegah penularan virus polio liar yang dapat mengakibatkan penyakit lumpuh," kata Menkes. Menkes menambahkan, virus polio liar tidak pernah lagi ditemukan di Indonesia sejak tahun 1995, namun untuk menghapus virus polio liar dari bumi Indonesia, Depkes telah menyelenggarakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) polio pada 1995, 1996 dan 1997. "PIN Polio kembali dilaksanakan pada tahun 2002 untuk mempertahankan tingkat kekebalan anak terhadap ancaman virus polio liar. Setiap tahun, sekitar 90 persen bayi di Indonesia mendapatkan imunisasi polio secara rutin," katanya. Menurut Menkes, masih terdapat enam negara di seluruh dunia yang endemis polio, yakni India, Sudan, Nigeria, Afghanistan, Mesir dan Pakistan, tetapi pada awal 2005, beberapa negara yang sudah bebas polio seperti Chad dan Yaman terserang kembali oleh virus polio yang berasal dari negera endemis polio.
KLB Polio Depkes Segera Lakukan Imunisasi Massa di DKI, Jabar dan Banten
Departemen Kesehatan segera melakukan imunisasi polio massal di Wilayah DKI Jakarta, propinsi Jawa Barat dan Propinsi Banten, sehubungan dengan Kejadian Luar biasa (KLB) Polio yang saat ini terjadi di Indonesia. Namun, Menkes Siti Fadillah Supari mengimbau masyarakat tidak panik. Dalam konperensi pers di Departemen Kesehatan, Jum’at (6/5), Menkes Siti Fadillah Supari yang didampingi Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular Prof. Umar Fahmi Achmadi, menjelaskan, mencermati penyakit polio yang berkembang di Sukabumi belakangan ini, Depkes bekerjasama dengan WHO dan UNICEF akan melakukan imunisasi massal di DKI, Jawa Barat dan Banten. "Untuk vaksinasi, kita membutuhkan dana 8,5 Milyar Rupiah. Itu akan kami ambil dari APBN.Sementara, untuk dana operasionalnya kita membutuhkan 9 Milyar Rupiah yang akan dibantu dari WHO dan lembaga donor lainnya," tegas Supari kepada pers. Sampai dengan tanggal 6 Mei 2005, lanjutnya, telah ditemukan 15 kasus yang terkait polio. Dari 15 kasus itu, 3 diantaranya polio positif yang disebabkan polio liar dengan virus sama dengan yang ditemukan di Arab saudi. Sementara 1 kasus masih memerlukan ITD (Intra Typic Differentitation). "ITD ini diperlukan untuk memastikan apakah virus yang menyebabkannya itu virus liar atau virus vaksin. Kita juga memastikan 1 kasus dari 15 itu bukan polio dan 10 kasus lainnya sedang menunggu konfirmasi dari laboratorium Biofarma," ujar Menkes. Dalam kesempatan itu, Supari juga menegaskan bahwa penyakit lumpuh layuh yang disebut-sebut media massa sebagai polio, bisa juga disebabkan virus lain. "Jadi, tidak hanya disebabkan karena virus polio tapi juga banyak lainnya, misalnya Guillaire Barre Syndrome, Polyneuropathy, transverse myelitis dan lain-lain," kata Supari.
Tidak Ada Karantina Meski Polio yang menjangkiti beberapa daerah di Sukabumi belakangan ini sudah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa, Menkes Siti Fadillah Supari menegaskan tidak ada karantina terhadap daerah-daerah yang terjangkit polio. "Kita sudah langsung melakukan imunisasi di 4 desa sekaligus pada 4000 orang balita di 4 desa (di Sukabumi). Memang, (kasus munculnya kembali polio) ini mengkhawatirkan. Padahal, kita berencana bebas polio tahun 2008. Mudah-mudahan ini bisa terlaksana," kata Supari.
Bisa Meluas Dalam kesempatan itu, Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular Prof. Umar Fahmi Achmadi, mengingatkan kemungkinan meluasnya virus polio ini ke daerah lain. Alasannya, Sukabumi yang menjadi tempat pertama penyebaran virus itu merupakan daerah yang punya kemudahan transportasi antar daerah. Selain itu, penduduk Sukabumi banyak yang bekerja di luar daerahnya. Ia juga membenarkan bahwa di beberapa desa yang terjangkit polio, warganya ada yang bekerja sebagai TKW. "Kalau dari penelitian terhadap polio yang berjangkit di Sukabumi, kelumpuhan itu terjadi pada anak-anak yang belum pernah imunisasi polio. Kita juga menemukan virus polio liar positif. Penularannya sendiri kemungkinan dari jakarta atau jemaah haji, TKI Sukabumi. tapi, kepastian asal virus itu menunggu konfirmasi laboratorium Mumbai," kata Prof. Umar Fahmi Achmadi.
Penularan virus ini bisa berlangsung cepat terutama pada musim hujan. Sebab, virus polio ini bisa hidup selama 100 hari pada musim hujan dan hanya dapat mati dengan penyinaran ultra violet. Pertama kali kasus polio ini ditemukan pada 22 April 2005, menjangkiti bayi laki-laki berusia 20 bulan di Desa Giri Jaya, kec. Cidahu. bayi ini diketahui belum pernah melakukan imunisasi. Lalu, 13 kasus polio lainnya ditemukan di Cidahu dan Cicurug. "Kita sudah mulai melakukan vaksinasi sejak 31 Mei lalu dan periode keduanya akan mulai 28 Juni mendatang. kami juga melakukan pengawasan ketat di seluruh wilayah Indonesia, terutama Jawa, bali, Sumatera Selatan dan Lampung," kata Achmadi.
Hidup Bersih Karena penyebaran virus polio ini melalui tinja, maka Depkes menghimbau semua keluarga Indonesia menjaga kebersihan lebih baik lagi, terutama pada jamban di rumah-rumah mereka. "Bayi dan anak yang sudah di vaksin polio lengkap tidak perlu khawatir karena tidak akan terjangkit. tapi sangat penting untuk waspada dini di semua propinsi. kemarin kita door to door untuk melakukan vaksinasi," demikian menkes Siti Fadillah supari. (Lily Bertha Kartika)
Lumpuh Layuh di Lombok Bukan Polio
Wakil Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dr Gerudug menyatakan, setelah mendapatkan hasil pemeriksaan di laboratorium, ketiga pasien lumpuh layuh atau Acute Falaccid Paralysis (AFP) yang ditemukan di Lombok Tengah bukan karena virus liar polio. "Setelah ketiganya mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Darek dan Mangkung, Lombok Tengah, ketiga orang tersebut sudah membaik dan bisa berjalan normal kembali," katanya kepada wartawan ketika dihubungi dihubungi wartawan di Mataram, Minggu (15/5). Pihaknya setiap tahun secara kontinyu melakukan pemantauan atas kemungkinan masih adanya virus liar polio di NTB. "Setiap tahun Dinkes NTB melakukan pencarian terhadap masyarakat yang terkena lumpuh layuh. Namun yang ditemukan selama ini jauh dari target yang ditetapkan 15 pasien," ujarnya. Dalam beberapa tahun terakhir ini temuan Dinkes NTB terhadap pasien lumpuh layuh relatif kecil. Semua temuan itu bukan akibat virus liar polio.
Untuk tahun ini, katanya, pihaknya baru menemukan lima kasus lumpuh layuh, tiga terdapat di Lombok Tengah, yakni di Dusun Nusa (Desa Pelambek), Dusun Tanggong (Desa Darek) serta Desa Mangkung, semuanya di Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah. "Sedangkan dua kasus lainnya terdapat di Kabupaten Dompu dan Bima," katanya. Ia optimistis bahwa dari hasil pemantauan selama ini NTB masih bebas penyakit akibat virus liar polio. Lima pasien lumpuh layuh yang ditemukan bukan disebabkan oleh virus liar polio. Menurut Antara, di tiga dusun di Lombok Tengah tersebut, ketiga pasien yakni Marzuki Darusman, Mustiwardana dan Fatoni sudah mulai membaik dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Ketika wartawan berkunjung ke rumah mereka, anak-anak tersebut bermain dengan teman-temannya. Berdasarkan keterangan dari orangtua mereka, ketiganya sempat dibawa ke Puskesmas Darek dan Mangkung. Mereka mendapat perawatan dari dokter, dan kesehatan anak-anak itu sudah pulih kembali. Ketiga pasien tersebut terpaksa dibawa ke puskesmas karena sakit perut dan panas serta mengalami kelumpuhan. Namun setelah mendapat perawatan, mereka disuruh kembali karena sakitnya sudah membaik. Para orangtua tersebut mengaku ketika masih bayi mereka tidak mendapat imunisasi lengkap. Lokasi permukiman ketiga pasien tersebut kurang memadai. Misalnya rumah keluarga Mustiwardana di Dusun Nusa, Desa Pelambek yang jaraknya cukup jauh dari Mataram, harus melintasi pematang sawah. Mustiwardana saat dikunjungi wartawan terlihat baru pulang mandi di sungai bersama-sama teman sebayanya. Demikian juga halnya dengan Marzuki Darusman (14). Saat ditemui di rumahnya yang sangat sederhana karena beratap rumbia, ia sedang mengaji. Marzuki sudah tidak merasakan sakit apa-apa lagi, ia sudah bisa melaksanakan aktivitas sehari-hari termasuk mengikuti pengajian di kampungnya. "Memang sepuluh hari lalu saya sakit, saya sulit berjalan", katanya. (Ant/Edj)
Australia Sumbang 1 Juta Dollar untuk Atasi Polio di Indonesia
Pemerintah Australia akan memberikan sumbangan kepada Indonesia sebesar satu juta dollar Australia untuk membantu pencegahan penularan penyakit polio yang kini muncul di Sukabumi, Jawa Barat. Siaran pers Australia di Jakarta, Jumat (6/5), menyebutkan bahwa sumbangan tersebut diumumkan Sekretaris Parlemen Urusan Luar Negeri dan Perdagangan Australia Bruce Billson, hari ini.
Sumbangan tersebut diberikan melalui AusAID untuk mendukung biaya operasional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam pemberian vaksin. "Kami juga bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dan UNICEF (Badan PBB yang menangani masalah anak-anak) untuk menanggapi kemunculan penyakit polio tersebut," katanya. Billson mengatakan, bantuan tersebut akan membiayai setengah dari perkiraan dana kampanye imunisasi. "Kami juga telah menawarkan keahlian kami dalam bidang logistik imunisasi massal kepada WHO di Jakarta," katanya. Menurut dia, melalui aksi cepat Indonesia, pejabat WHO dan UNICEF anak-anak di empat desa yang berdekatan dengan kemunculan penyakit polio yang dianggap tidak ada lagi di Indonesia sejak 1995 itu telah menerima vaksinasi polio. Australia, katanya, telah mendukung kampanye imunisasi di Indonesia selama bertahun-tahun dan sejak 1995 lebih dari 2,5 juta dolar Australia telah disumbangkan untuk vaksinasi massal anak-anak di berbagai provinsi di Indonesia.
Jakarta Siap Hadapi Polio
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menganggarkan Rp 10 miliar untuk mengantisipasi penyebaran virus polio. Anggaran itu dilakukan antara lain untuk imunisasi gratis yang akan dilakukan awal Juni mendatang. Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso di Balaikota, Jakarta, Senin (9/5), mengungkapkan bahwa sampai saat ini virus polio memang belum menyerang bayi-bayi di Jakarta. Namun, letak Jakarta yang dekat dengan Sukabumi -- daerah yang telah ditetapkan menjadi kejadian luar biasa penyakit lumpuh layu (polio) -- dinilai sangat rawan penyebaran virus polio. Sutiyoso mengatakan, anggaran Rp 10 miliar akan diambil dari pos pengeluaran tak terduga Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta 2005. Sutiyoso juga memerintah semua rumah sakit di Jakarta siaga selama 24 jam untuk menerima penderita polio.
Hilangnya Keceriaan Anak-Anak di Kaki Gunung Salak ... FITRI Ramdani (19 bulan) menangis meraung-raung ketika digendong dan dibawa ibunya ke depan rumahnya, di Kampung Cidadap, Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Kamis (5/5).
Sesekali bocah berkulit sawo matang itu membenamkan kepalanya ke dada ibunya. Tangan kanannya berusaha menggapai bagian belakang leher ibunya. Sepasang matanya yang bening tak henti-hentinya meneteskan air mata. Bocah mungil yang siang itu mengenakan baju kaos dipadu celana pendek warna oranye itu kemudian menarik-narik kerah baju Ny Yayat (30), ibu kandungnya, tanda ingin minum ASI. Rengekannya baru berhenti ketika keinginannya untuk minum ASI dituruti sang ibu. Sudah sejak dua bulan terakhir ini Fikri, anak kedua pasangan Mumu dan Yayat ini hanya bisa tergolek lemah di atas ranjang. Sehari-hari ia tak lepas dari gendongan orangtuanya. Bocah yang gemar bermain bola itu tak lagi bisa menggerakkan kakinya untuk bermain bersama teman-teman sebayanya di kampung tempat tinggalnya. Jangankan menendang bola, sekadar berdiri dan berjalan kaki pun ia tak sanggup lagi. Lengan kirinya juga ikut lumpuh. Padahal semula ia bisa berjalan kaki, bahkan berlari, sejak genap berumur setahun. “Setiap kali lihat teman-temannya main bola anak saya selalu nangis, pengen ikut bermain. Kalau sudah gitu, saya jadi suka ikut nangis," tutur Mumu lirih. Kelumpuhan yang diderita Fikri itu berawal ketika ia menderita demam tinggi dua bulan lalu. Setiap kali menangis ia selalu mengalami kejang-kejang, terutama pada bagian kaki. Karena menganggap hanya sakit panas biasa Fikri tidak dibawa ke puskesmas maupun ke dokter oleh kedua orangtuanya itu. Ia hanya diberi obat bebas. Menginjak hari kelima demam, sepasang kaki dan lengan kiri Fikri tidak dapat digerakkan sama sekali. Setelah berbagai pengobatan tradisional tidak membuahkan hasil, Fikri akhirnya dibawa berobat ke dokter anak di Sukabumi. Hasil diagnosis awal menyatakan, bocah malang itu menderita radang otak dan harus dirawat inap di rumah sakit. Namun, saat diperiksa dokter yang berbeda, ia justru dinyatakan sakit thypus. “Kami hanya bisa pasrah. Dari mana uang untuk biaya pengobatan anak kami ini," tutur Mumu. Sebelum anak mereka mengalami kelumpuhan, Yayat bekerja sebagai buruh bangunan di Jakarta dengan upah lebih kurang Rp 175.000 per minggu. Namun, kini Yayat memutuskan berjualan (keliling) es kelapa di Sukabumi dengan penghasilan berkisar Rp 20.000 per hari agar bisa ikut merawat anaknya yang sakit. Kelumpuhan juga dialami belasan anak lainnya di Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Abdul Rozak (6), anak pasangan Matkaseh dan Wulan, misalnya, menderita lumpuh layu pada bagian kakinya sejak dua pekan terakhir ini. Alat vitalnya juga mengalami pembengkakan. “Setahun lalu cucu saya bisa jalan biarpun pincang. Tapi, dua minggu ini cucu saya tidak bisa jalan sama sekali," ungkap Ny Rum (60-an), nenek Rozak. Dede Leni (2,5), warga Kampung Cidadap, bahkan telah menderita lumpuh layu sejak setahun terakhir ini. Bocah perempuan berkulit kuning langsat itu hanya bisa tergolek lemah di atas lantai papan di rumah orangtuanya. Ia sehari-hari digendong orangtua dan saudaranya yang lain secara bergantian lantaran bagian leher dan sepasang kakinya lumpuh. Sebelumnya anak keenam dari delapan bersaudara itu kerap ikut ibunya yang bekerja sebagai buruh tani di sawah. Ia juga dikenal lincah dan suka bermain bersama teman-teman sebaya dan saudaranya di dekat rumahnya. Namun, sejak setahun terakhir ini ia tak dapat bercengkerama lagi dengan teman-temannya akibat mengalami kelumpuhan yang diawali demam tinggi. Hingga kini anak pasangan Udin (40) dan Samsiah itu belum pernah dibawa berobat ke puskesmas terdekat maupun dokter. Karena tidak punya uang untuk berobat, kedua orangtuanya yang bekerja sebagai buruh tani hanya membawa Leni ke paraji (dukun beranak) untuk dipijat dan diberi ramuan tradisional. “Jangankan uang untuk biaya berobat, buat makan saja susah," tutur Udin. Anak-anak yang menderita lumpuh layu itu memang kebanyakan berasal dari keluarga miskin dengan sanitasi lingkungan tempat tinggal yang buruk. Fikri, penderita lumpuh layu, misalnya, tinggal bersama kedua orangtua dan seorang kakaknya di dalam salah satu kamar di rumah kakek dan neneknya. Sejumlah korban lainnya tinggal di dalam rumah beranyaman bambu yang sempit. Kelumpuhan yang diderita anak-anak di Desa Girijaya itu diduga akibat serangan virus polio liar. Berdasarkan hasil uji laboratorium Biofarma di Bandung dan laboratorium rujukan global di Mumbai, India, tercatat lima anak di Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Sukabumi, dinyatakan positif terjangkit virus polio liar. Mereka antara lain, Selvi yang kini dirawat inap di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, dan Fikri Ramdani. Sejauh ini Dinas Kesehatan setempat masih menunggu hasil uji laboratorium belasan anak yang diduga terkena virus polio liar. Sebanyak 126 bayi dan anak di bawah usia lima tahun diperiksa kesehatannya, 14 orang di antaranya menunjukkan gejala lumpuh layu. Pada akhir April lalu Tim Departemen Kesehatan melakukan imunisasi terhadap 4.048 bayi dan balita di Desa Girijaya, Cidahu, dan Tangkil, Kecamatan Cidahu, serta di Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug. Kasus lumpuh layu itu mengejutkan dunia internasional. Pasalnya, sejak sepuluh tahun terakhir Indonesia dinyatakan bebas virus polio liar. “Virus polio liar asal Afrika ini diperkirakan masuk ke Sukabumi dari Jakarta melalui perjalanan darat. Kemungkinan lain, virus itu masuk lewat penduduk yang jadi jemaah haji maupun tenaga kerja Indonesia di Timur Tengah," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi dr Buhono Thahadibrata. Rentannya anak-anak di daerah itu terserang virus polio liar dipicu ketidakpahaman sebagian warga setempat terhadap pentingnya imunisasi sehingga mereka enggan membawa balita ke pos pelayanan terpadu maupun puskesmas terdekat untuk diimunisasi. “Penyebaran virus polio liar ini bisa lewat saluran pernapasan, ludah, maupun kotoran manusia yang terbawa arus sungai," tutur Buhono. Kelumpuhan yang dialami anak-anak di Desa Girijaya itu telah mengoyak ketenangan dan kesejukan di daerah yang terletak di kaki Gunung Salak, Sukabumi, itu. Jika kelumpuhan itu tidak bisa disembuhkan secara total, maka bisa dibayangkan suramnya masa depan anak-anak yang merupakan generasi penerus masyarakat di desa yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai buruh tani itu. Untuk mencapai daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Bogor itu, kita harus melewati jalan aspal yang rusak parah sepanjang lebih kurang tujuh kilometer. Sebagian warga bermukim di daerah perbukitan dan lembah yang dikelilingi areal persawahan serta kebun sayuran sehingga tempat tinggal mereka tidak bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor. Kendati dikenal sebagai daerah subur dan pemasok utama air bersih bagi puluhan industri air minum dalam kemasan, daerah Girijaya dan sejumlah desa lain di Kecamatan Cidahu merupakan salah satu daerah miskin di Kabupaten Sukabumi. Selain menghadapi wabah virus polio liar, masyarakat setempat juga harus bergulat dengan kemelaratan dan memperjuangkan akses pelayanan kesehatan yang memadai.
Amitabh Bachchan dan Keberhasilan Iklan Antipolio Amitabh Bachchan, aktor senior sekaligus produser film India yang lahir di Allahabad (India), 11 Oktober 1942, tengah membuktikan diri untuk menjadi duta besar paling berhasil bagi usaha pemberantasan polio. Minggu-minggu lalu para orangtua di seluruh India pergi ke pos-pos pelayanan terdekat untuk memberi anak-anak mereka dua tetes vaksin antipolio. Sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa mereka telah diyakinkan oleh iklan layanan masyarakat mengenai pemberantasan polio, yang dibawakan oleh Bachchan, di televisi dan radio. "Sampai 70 persen dari orang-orang yang datang ke pos-pos pelayanan itu mengakui bahwa Amitabh Bachchan telah menjadi pendorong utama (untuk memperoleh vaksin antipolio)," kata Brent Burkholder, penasihat regional WHO (World Health Organization) bidang pengembangan imunisasi dan vaksin untuk Asia Selatan dan Timur. Adalah betul-betul mengejutkan, hampir 165 juta anak dalam sehari berhasil dijangkau dalam usaha pemberantasan polio tersebut.
Penderita Lumpuh Layuh di Bondowoso Tercatat Lima Orang
Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, menyatakan jumlah penderita lumpuh layuh atau atau accute flaccid paralysis (AFP) hingga Mei 2005 mencapai lima orang atau meningkat drastis dibanding 2004 yang hanya tercatat dua orang. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, dr Agus Suwarjito, Jumat (13/5), menjelaskan sampai saat ini Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, baru berhasil mengidentifikasi empat dari lima penderita lumpuh layuh. Agus menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian terhadap tinja empat orang penderita lumpuh layuh tersebut, ternyata bukan disebabkan virus polio, tetapi diakibatkan gangguan saraf atau penyakit lainnya seperti jantung dan paru-paru. "Ada peningkatan jumlah korban itu, karena Dinas Kesehatan setempat semakin aktif melakukan sosialisasi dan mencari anak di bawah 15 tahun yang diketahui penderita AFP," ujar Agus. Sementara, keempat penderita lumpuh layuh di Kabupaten Bondowoso, antara lain Suri (10) warga Desa Gadingsari, Kecamatan Binakal; Muamar Qadafi (9) warga Desa Walidono, Kecamatan Prajekan; Nursi (3,5), warga Desa Gadingsari, Kecamatan Pakem; dan Yeni Septiani Safitri (12) warga Kelurahan Dabasah, Kecamatan Kota. Sementara Arman Maulana (3,5), warga Kelurahan Dabasah, Kecamatan Kota hingga kini masih menjalani perawatan intensif. Bahkan Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, sampai saat ini masih menunggu hasil penelitian terhadap tinja balita tersebut. Yeni Septiani Safitri (12), salah seorang penderita penyakit lumpuh layuh yang sebelumnya sempat dinyatakan sembuh, kini terpaksa dirujuk kembali ke rumah sakit umum di wilayah setempat. Karena, menurut petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, kondisi pelajar SMP, tinggal di Jalan Panjaitan Gang II No 52, Kelurahan Dabasah ini, semakin kritis sejak meninggalkan rumah sakit umum tiga bulan lalu. Yeni sebelumnya sudah dua kali dilarikan ke rumah sakit, karena mengalami kelainan jantung serta paru-paru.
Kendati belum ditemukan warga yang positif terkena virus polio, Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso terus meningkatan kewaspadaannya terhadap kemungkinan serangan virus yang dapat menyebabkan kelumpuhan tersebut. Selain penyebaran pamflet atau poster, Dinas Kesehatan setempat juga meningkatkan pendataan anak berusia di bawah 15 tahun di seluruh Puskesmas yang ada.
Kasus Lumpuh Layu Belasan Anak di Sukabumi
Belasan Anak Sukabumi Sedikitnya 11 anak di Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jumat (6/5) menunjukkan gejala lumpuh layu. Kelumpuhan yang diderita anak-anak di Desa Girijaya itu diduga akibat serangan virus polio liar. Waktu Tiga Bulan Hanya untuk Tuntaskan Kondisi Darurat DBD
Jangka waktu tiga bulan hanya bisa menuntaskan kondisi darurat akibat wabah demam berdarah dengue (DBD). "Sementara, penyakit demam berdarah tidak bisa dibasmi seluruhnya," ujar Amir Hamzah Pane dari Indonesia Pharmaceutical Watch (IPhW). Amir Hamzah yang dihubungi KCM, Senin (1/3) mengatakan lebih lanjut, DBD berbeda dengan polio atau cacar. Kedua penyakit itu bisa diberantas vektor dan faktornya ada di dalam tubuh manusia. "Dengan memberikan imunisasi kepada manusia, penyakit polio dan cacar bisa diberantas," katanya. Sementara, DBD berada di luar kontrol manusia. Penyebaran DBD oleh nyamuk aedes aegypti, berdasarkan pengalaman, bergerak begitu cepat. Akibatnya, jumlah korban yang menderita DBD meluas, tidak hanya pada satu lokal saja. "Dari sisi penyebaran itu, DBD memang tidak bisa diprediksikan dengan mudah," kata Amir Hamzah. Oleh karena itulah, pencanangan waktu tiga bulan oleh pemerintah terhadap DBD mestinya diupayakan untuk mengurangi atau bahkan menuntaskan kondisi darurat dampak DBD. "Itu dilakukan untuk mengurangi jumlah korban yang jatuh," ujarnya. Kendati begitu, untuk benar-benar mengikis habis DBD, setidaknya tiga aspek pilar yang harus betul-betul dicermati. Pertama kesehatan lingkungan yang harus dijaga. Kedua pemberantasan nyamuk berikut jentik-jentiknya. Ketiga perilaku manusia yang betul-betul menjaga kebersihan lingkungannya. "Dengan cara seperti itu pemberantasan DBD dilakukan berkesinambungan," kata Amir Hamzah. Pemerintah, seperti terungkap dalam rapat koordinasi bidang kesejahteraan rakyat, Senin, bertekad mengakhiri kondisi luar biasa (KLB) selama tiga bulan. Upaya itu dilakukan untuk menekan jumlah penderita DBD di bawah 35 ribu orang. Di samping itu, jumlah korban meninggal pun akan dipangkas hingga maksimal satu persen dari jumlah korban DBD. Data menunjukkan, tahun ini, dari 12 provinsi yang terkena wabah DBD, tercatat 19.150 orang penderita. Sementara, korban meninggal mencapai 338 orang atau 1,8 persen dari jumlah penderita DBD.
Menkes: Kemunculan Wabah Polio Terus Diteliti
Kemunculan wabah polio di beberapa daerah di Indonesia, khususnya di Jawa Barat mendorong pemerintah Indonesia melakukan penelitian mendalam dan pengawasan yang intensif, untuk mencegah penyebaran virus tersebut. Munculnya kasus poliomyelitis di Provinsi Jawa Barat pada pertengahan Maret lalu telah direspon secara terarah oleh pemerintah dan saat ini penelitian lebih mendalam sedang dilaksanakan, kata Menkes Siti Fadilah Supari dalam pernyataannya di depan sidang World Health Assembly (WHA) ke-58 di Markas Besar PBB Jenewa sebagaimana siaran pers yang diterima detikcom, Kamis (19/5/2005). Ditambahkannya, pemerintah Indonesia juga telah mendorong pelayanan kesehatan di tingkat kabupaten untuk meningkatkan pemantauan dan pengawasan terhadap wabah tersebut di wilayah masing-masing. Pemerintah juga menyampaikan penghargaan kepada WHO dan kantor regionalnya (SEARO) yang telah mengirimkan timnya untuk membantu pemerintah dalam melakukan penelitian epidemis, ujar Menkes. Sidang WHA ini merupakan sidang tahunan World Health Organization (WHO) yang ditujukan untuk membahas pemajuan kesehatan masyarakat secara global dan mengupayakan strategi pencegahan dan penanggulangan wabah penyakit khususnya yang menular seperti HIV/AIDS, SARS, Avian Flu, Polio dan lainnya. Sidang yang diikuti oleh wakil 192 negara anggota, organisasi internasional dan LSM ini, akan berlangsung dari tanggal 16 Mei hingga 25 Mei 2005. Diharapkan pertemuan ini menghasilkan sejumlah resolusi yang terkait dengan upaya pemajuan kesehatan masyarakat secara global
Balita Disweeping Polio Sampai ke Terminal
Sekitar seratus ribu anak di bawah lima tahun (balita) di Kota Bogor akan disweeping untuk diberi vaksin polio. Imunisasi akan di lakukan selama sepekan mulai 31 Mei mendatang. Imunisasi massal merata di berbagai tempat, mulai dari pos yandu, perumahan penduduk, taman kana-kanak, sampai terminal Baranangsiang dan stasiun Bogor. Selama sepekan kami akan melakukan mopping-up atau bergerak terus untuk memberikan vaksin polio, kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor dr. Triwandda Elan. Insya Allah, Triwandda menambahkan, Tidak ada balita atau batita yang terlewat untuk diberikan vaksin polio secara gratis. Untuk melakukan imunisasi pihaknya menerjunkan 2.739 kader pelaksana, 1.288 tenaga sweeping, tempat-tempat umum sebanyak 102 orang, 350 supervisor, serta sekitar 200 tenaga medis dan dokter. Semua personil dibagi dalam 884 pos yandu, 51 tempat umum (seperti pasar, terminal, dan stasiun), 145.505 rumah, 3.082 Rukun Tetangga dan 105 Taman Kanak-kanak (TK). Iimunisasi polio juga dilakukan di pos Mopping-up di sejumlah rumah sakit, puskesmas, rumah bersalin, dokter spesialis anak, dan pos terpadu. Menariknya, untuk memberi ciri anak balita yang sudah mendapatkan imunisasi polio setiap anak akan diberi tanda dengan kutek pada jari kelingking kirinya. Jadi, bayi anak balita yang sudah diberi kutek berarti ia sudah diberi imunisasi polio,? kata Kepala Bidang Penanggulangan Pemberantasan Penyakit dan Kesehatan Masyarakat, dr. Sri Pinantri Hanum. Ia juga menjelaskan, bagi anak blita yang pernah diberi imunisasi beberapa bulan sebelumnya juga akan diberikan lagi. Berdasarkan data kegiatan Pekan Imunisasi Nasional tahun 2002 di Kota Bogor tercatat 80.623 anak balita, diperkirakan tahun 2005 jumlahnya mencapai 100 ribu anak Balita. Pada tahun 2002 lalu Dinas Kesehatan Kota Bogor telah melakukan imunisasi polio sebanyak 74 persen, tahun 2003 sebesar 98,2 persen, tahun 2004 sebesar 89,3 persen. Sedangkan imunisasi 2005 akan dilakukan dengan target 100 persen. Dari Jakarta dilaporkan, sebanyak 67 ribu balita di wilayah Jakarta Pusat akan diimunisasi. Menurut Kepala Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Jakarta Pusat Sugandi, imunisasi itu akan dilakukan serentak bersamaan dengan imunisasi masal di tiga provinsi, pada 31 Mei dan 28 Juni. Kami sedang menyiapkan 1.200 pos pelayanan imunisasi,? kata Sugandi. Satu pos dipersiapkan untuk tiga sampai empat RT. ?Bila dihitung-hitung, kami harus menyiapkan sekitar enam ribu tenaga,? ungkap Sugandi. Kepada masyarakat, dia meminta agar tidak gelisah. Yang penting, jika di masing-masing keluarga ada balita yang belum diimunisasi polio, segera datang ke pos pelayangan imunisasi, menjaga kebersihan lingkungan. Jika kelihatanan ada gejala polio, segera bawa ke puskesmas, ujarnya. Deffan Purnama/Raden Rachmadi-Tempo
Dana Penunjang PIN Polio Jawa Barat Kurang Rp2,7 Miliar
Kekurangan dana penunjang pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio di Jabar sebesar Rp2,7 miliar, akan ditanggung Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar dan 25 Pemerintah Kota dan Kabupaten se provinsi ini. Pemprov akan menyumbang dana sebesar Rp1,3 miliar atau 50 persen dari kekurangan dana yang diperlukan. Pemerintah Kota dan Kabupaten di Jabar, sudah saya minta untuk urunan memenuhi Rp1,4 miliar yang masih dibutuhkan, tutur Gubernur Jabar Danny Setiawan. Usai berbicara pada rapat kordinasi Mopping Up Polio, Rabu (18/5), dia menambahkan, 25 kabupaten dan kota di Jabar menggulirkan dana secara proporsional, sesuai jumlah balita dan bayi yang ada di wilayah masing-masing. Dana ini tidak boleh ditunda-tunda untuk pencariannya, dan harus ada pada minggu ini. Secara nasional PIN Polio di tiga provinsi, Jabar, DKI Jakarta dan Banten disediakan dana sebesar Rp38 miliar, dan Jabar mendapat jatah Rp21,6 miliar. Sementara kebutuhan dana untuk Jabar sebesar Rp24,3 miliar, sehingga Rp1,7 miliar di antaranya harus disediakan oleh Pemprov Jabar dan 25 Pemerintah Kabupaten dan Kota. Tidak ada dana yang di-cancel untuk program PIN Polio ini. Semua sudah harus cair minggu ini, sehingga PIN Polio bisa dilakukan serentak, tandasnya. Bagi Pemprov Jabar, lanjut Danny, dana akan diambil dari APBD Pos Dana tak tersangka, karena persediaan dana di pos ini masih ada. Besaran dana Rp1,3 miliar tidak perlu masuk dalam Anggaran Belanja Tambahan (ABT), yang baru bisa disetujui Agustus mendatang. Dia menambahkan, kasus Acute Flacid Paralysis (AFP) atau lumpuh layu di Jabar hingga saat ini mencapai 24 kasus. Dari jumlah itu, 8 kasus positif sebagai Polio Liar
Sementara dari pemeriksaan 158 spesimen kontak yang dilakukan terhadap anak sehat berusia di baah 15 tahun, ditemukan 22 di antaranya mengandung virus Polio liar. Saat ini, proses pemeriksaan masih dilakukan terhadap beberapa kasus AFP dan kontak. Kemungkinan kasus Polio Positif jumlahnya masih akan bertambah. Untuk mengantisipasi korban yang mungkin meningkat, PIN Polio harus mencapai 100 persen pada cakupan anak berusia nol sampai lima tahun, tandasnya. Sementara itu, Direktur Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Departemen Kesehatan Hariadi Wibisono menambahkan, ancaman menularnya virus liar di Indonesia masih tetap besar, karena sampai saat ini ada beberapa negara endemis di dunia, seperti Nigeria, Niger, Mesir, India, Pakistan dan Afganistan. Dengan tingginya mobilitas warga dunia, maka kemungkinan virus ini terbawa ke luar dari negara itu, dan salah satunya masuk ke Indonesia sangat besar. Sebenarnya, sejak 1995, di Indonesia tidak pernah lagi ditemukan penyakit Polio. Kasus Polio di Kabupaten Sukabumi adalah bukti bahwa ancaman penyakit polio bisa muncul kembali di Indonesia, tandasnya. Di sisi lain, Perwakilan WHO untuk Indonesia Keith Feldon mengungkapkan, WHO membantu Indonesia dalam program PIN Polio dengan menggulirkan dana sebesar US$1,5 juta. Sumbangan lain juga diterima
dari UNICEF, Australian AID dan US AID. Sampai sekarang, Indonesia belum dinyatakan sebagai negara endemi Polio. Kita masih perlu melihat perkembangannya hingga enam bulan ke depan, ungkapnya. WHO, lanjutnya, tidak bisa menyumbangkan dana dalam jumlah besar untuk Indonesia, karena banyak dana sudah disalurkan untuk negara-negara endemi Polio. Karenanya, Pemerintah Indonesia harus berusaha mencari sumbangan untuk menggulirkan program pemberantasan Polio.
Dinas Kesehatan Bali Lancarkan Sweeping Vaksinasi Polio Dinas Kesehatan Bali kini secara gencar melakukan sweeping terhadap bayi-bayi usia di bawah tiga tahun untuk diberikan suntikan vaksin polio. Langkah ini sebagai upaya pencegahan munculnya penderita penyakit polio di Bali.
Kami dari jajaran Dinas Kesehatan Bali sedang melakukan sweeping terhadap bayi-bayi usia di bawah tiga tahun yang belum atau dianggap kurang mendapat vaksin polio, ujar Kepala Dinas Kesehatan Bali, Dewa Ketut Oka saat ditemui usai menghadiri sidang paripurna DPRD Bali, Rabu (18/5). Oka mengakui, masih ada empat desa di Bali yang semuanya berada di wilayah Kabupaten Jembrana hingga saat ini masih rawan ancaman penyakit polio. Hanya, Oka tidak merinci nama-nama desa tersebut. Memang masih ada empat desa yang rawan polio di Bali, yakni ada di Kabupaten Jembrana, ujar Oka. Namun, ditegaskan pula, saat ini di Bali belum ada yang terkena polio. Secara keseluruhan, lanjut Oka, dari total cakupan bayi-bayi yang menjadi sasaran vaksinasi polio di Bali, hingga kini sudah terealisasi program vaksinasi sebanyak 99,45 persen. Sehingga sasaran sweeping yang dilancarkan kini adalah menyasar bayi-bayi yang belum sama sekali atau belum lengkap menerima suntikan vaksinasi. Dalam merealisasikan vaksinasi lewat program sweeping, Oka mengakui persediaan vaksin sangat cukup di Bali. Penyediaan vaksin polio ini menggunakan dana yang bersumber APBD Provinsi Bali dan juga dari APBN.
Presiden: Lokalisasikan Penyebaran Virus Polio
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan kepada instansi terkait untuk melokalisasikan penyebaran virus polio di Kabupaten Sukabumi agar tidak meluas ke daerah lain. Hal itu disampaikan Presiden saat memanggil Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Alwi Shihab, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) M. Ma’ruf, serta Menteri Kesehatan yang diwakili Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan LIngkungan Umar Fahmi Ahmadi di Kantor Presiden, Rabu (18/5). Presiden minta laporan kepada Menko Kesra, Menkes yang diwakili Dirjen dan Mendagri sehubungan dengan adanya penyakit menular, virus, dan indikasi berkembangnya polio, ujar Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi dalam jumpa pers usai pertemuan. Hadir dalam kesempatan jumpa pers itu Menko Kesra, Mendagri, dan Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, serta Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng. Menurut Menko Kesra Alwi Shihab, setelah mendengarkan laporan, Presiden menganggap perlu dikembalikannya berbagai kegiatan yang selama ini dianggap sebagai stigma masa pemerintahan Orde Baru yakni semacam Pekan Imunisasi Nasional (PIN). Presiden juga meminta agar instansi terkait mengefektifkan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Presiden juga meminta adanya program pendek, menengah, dan panjang untuk pemberantasan penyakit menular tersebut. Untuk jangka pendek, jelas Alwi, Presiden menginstruksikan pelayanan kesehatan. Upaya ini dilakukan untuk melokalisasikan penularan penyakit ke tempat lain. Bapak Presiden minta agar program jangka pendek ini dilakukan secermat dan seintensif mungkin agar memberikan rasa aman kepada masyarakat. Terutama, di daerah-daerah yang terjangkit virus, kata Alwi. Sedangkan untuk program jangka menengah dan panjang, perlu diadakan gerakan reguler yang dimotori pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Gerakan ini harus terpadu dan dilaksanakan dengan kerja sama antara pihak masyarakat madani, lembaga swadaya masyarakat (LSM), lembaga internasional, dan sebagainya. Berkenaan dengan ini, lanjut Alwi, akan diadakan Pekan Kesehatan Nasional dalam waktu dekat. Acara itu berisi PIN dan Gerakan Kebersihan Lingkungan.
Kombinasi Sementara, Dirjen Umar Fahmi Ahmadi mengatakan pihaknya melaporkan kepada Presiden, kasus di Kabupaten Sukabumi merupakan kombinasi dari terjadinya globalisasi meliputi barang dan orang yang membawa penyakit menular serta ketahanan wilayah yang tidak merata. Umar melanjutkan, kasus polio di Kabupaten Sukabumi menyerang delapan anak. Sedangkan, yang lumpuh tapi belum dipastikan polio ada 12 anak. Sehingga, korban total ada 20 anak. Berikutnya, di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, ada 19 anak menderita lumpuh layuh. Lalu, di DKI Jakarta ada satu anak terkena polio. Anak tersebut sebetulnya berasal dari Kabupaten Sukabumi. Berkaitan dengan upaya lokalisasi agar virus tidak meluas, Umar menjelaskan, Departemen Kesehatan (Depkes) telah melakukan imunisasi terhadap 22.700 anak di tiga wilayah. Pertama di desa-desa di Kabupaten Lebak. Kedua di Kabupaten Sukabumi. Ketiga di kawasan Sawah Besar, DKI Jakarta. Depkes juga mengintensifkan pengamatan di ketiga wilayah tersebut apakah ada tambahan korban di situ. Sampai saat ini tidak ada kasus tambahan. Kalau sampai akhir bulan ini tidak ada tambahan, berarti virus bisa kita lokalisasikan di daerah itu, katanya. Presiden, menurut Dirjen, juga menginstruksikan imunisasi lebih luas di Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Selain itu, Presiden juga minta agar pengamatan kasus-kasus serupa dilakukan di seluruh wilayah Indonesia. Khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTB), Bali, seluruh provinsi di Jawa, dan Lampung. Kemudian, Mendagri M. Ma’ruf mengatakan untuk mengimplementasikan instruksi itu, pihaknya akan mengeluarkan petunjuk kepada pemerintahan di daerah mulai dari gubernur sampai dengan desa. Pihak Departemen Dalam Negeri akan mengoptimalkan peranan PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga) untuk membantu di Posyandu.
Serangan Virus Polio di Jantung Industri Air Mineral
DI balik wabah polio, Kecamatan Cidahu dan sekitarnya di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, adalah sentra industri air minum dalam kemasan yang biasa diminum warga Ibu Kota Jakarta. Industri air minum kelas internasional hingga sederhana itu berkembang di Cidahu, sementara sebagian warganya yang berpendidikan rendah ini kurang menyadari pentingnya kesehatan. SPA kelas internasional, deretan vila mewah, beragam industri air minum dalam kemasan berkembang di kawasan kaki Gunung Salak dan Halimun yang berbukit sejuk di ketinggian sekitar 700 hingga 1.000 meter dari permukaan laut ini. Di saat sama sekitar 12.000 jiwa dari lebih kurang 54.000 penduduk Cidahu masih termasuk dalam kategori miskin dan berpendidikan rendah. Dari wilayah Babakan Pari yang berdekatan dengan Jalan Raya Sukabumi-Jakarta hingga Kecamatan Cidahu terdapat sumber air yang menghasilkan air kemasan kelas wahid dan bergengsi. Sumber air dan keindahan alam memang mengangkat gengsi Kecamatan Cidahu. Camat Cidahu Rosip Rusdi mencontohkan, bahkan sepetak tanah ukuran 15 meter persegi bernilai hingga Rp 650 juta karena memiliki sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk industri air kemasan. Ucapan tersebut tidaklah omong kosong belaka. Di sepanjang perjalanan dari Simpang Tiga Cidahu hingga Desa Girijaya terdapat sejumlah papan pengumuman: Tanah dijual berikut sumber air. Hubungi no telepon…. Lalu lalang truk pembawa botol galon air mineral dan industri pengolah limbah plastik turut mewarnai kehidupan Cidahu dan sekitarnya. Bahkan, konon Kecamatan Cidahu melalui industri air minum dalam kemasan merupakan salah satu penyumbang pendapatan asli daerah terbesar Kabupaten Sukabumi. Namun, di saat industri merebak di Cidahu, masyarakat sekali lagi hanya menjadi penonton. Karena pendidikan yang rendah, sebagian besar masyarakat hanya berkutat pada kegiatan ekonomi subsistem: menjadi buruh tani, kuli bangunan di kota besar, tukang ojek, dan yang sedikit beruntung menjadi buruh di industri air minum dalam kemasan di tanah lahir mereka.
Sawah-sawah mereka sudah tergadai dan dikuasai pemodal besar atau pejabat dari kota besar. Sumber air mineral tidak dikelola langsung sebagai industri oleh penduduk setempat yang cenderung meraih keuntungan sesaat dengan menjual sumber daya unggulan daerah mereka.
Kepala Desa Girijaya Aji R Alamsyah menjelaskan, dari seluruh lahan pertanian di desa tersebut, sudah 30 persen lebih berada di tangan orang Jakarta. Para pemilik tanah tersebut membiarkan warga setempat menjadi penggarap sehingga warga masih mendapat kesempatan mendapatkan nafkah ala kadarnya. RODA industri air mineral terus melaju di Cidahu hingga menembus pasar mancanegara meninggalkan penduduk setempat yang terpasung dalam keterbelakangan tanpa mereka sadari. Sebagian besar dari mereka hanya mengetahui dunia luar terjauh adalah Pasar Kecamatan Cicurug atau Jakarta sebagai tujuan sebagian warga yang mau jadi kuli bangunan. Hidup bagi warga Cidahu hanya sekadar menyambung hidup keseharian dalam kemiskinan. Siang itu Juen dan Hurin, petani di Girijaya, baru saja selesai bekerja di sawah seluas empat hektar milik seorang warga Jakarta. Musim panen ini rugi besar. Dari empat hektar sawah cuma menghasilkan satu ton gabah. Modal sudah Rp 8 juta lebih dan hasil panen hanya senilai Rp 900.000. Biasanya satu hektar bisa menghasilkan empat sampai lima ton gabah, kata Hurin menjelaskan dampak serangan wereng coklat di sawah garapannya.
Sebelumnya, untuk mempersiapkan sawah di tempat tersebut dibutuhkan biaya besar lantaran pupuk dan pelbagai kebutuhan harus didatangkan dari Pasar Cicurug. Menurut mereka, sudah tak ada lagi bantuan, seperti kredit usaha tani atau jenis pendampingan bagi petani di wilayah tersebut, selepas kekisruhan politik menyusul tumbangnya rezim Soeharto.
Petang itu Hurin dan Juen menunjukkan sawah mereka yang rusak diserang wereng coklat. Sebagian batang padi terlihat mengering akibat serangan hama di lahan berbukit di tepi jalan Desa Girijaya. Di sebelah sawah terlihat ladang jagung yang baru tumbuh dan baru saja mereka tanam. Lagi- lagi serangan hama merusak tanaman tersebut, hama pengerek akar membuat tanaman layu dan mati. Hurin harus bersabar menanti musim tanam berikutnya untuk mengadu peruntungan dari bertani di lahan yang sebetulnya subur itu.
Juen, yang tinggal di batas Desa Girijaya dengan Desa Tangkil, nasibnya sedikit lebih beruntung. Ia memiliki penghasilan tambahan dari hasil membuka sebuah bengkel sepeda motor dan warung kecil-kecilan. Toh, usaha tersebut tidak membuatnya kaya karena rendahnya daya beli masyarakat. Lain lagi cerita Nyonya Cucun, tetangga Juen, yang juga tidak memiliki sawah. Suaminya terpaksa bekerja sebagai tukang ojek di Pasar Cicurug, sembilan kilometer dari rumah mereka. Setiap hari paling banyak suaminya membawa pulang Rp 15.000 hingga Rp 20.000. Dengan penghasilan sebesar itu, mereka harus hidup dalam segala keterbatasan dan menghambat kemajuan penghidupan mereka. Itu sangat kontras dengan keberadaan fasilitas modern seperti antena parabola wartel hingga bengkel dinamo dan servis perlengkapan rumah tangga yang terdapat di sekitar Desa Girijaya, yang bagi warga Kecamatan Cidahu termasuk desa paling tertinggal.
Pilihan terakhir mencari nafkah adalah meninggalkan Girijaya memburuh pada pabrik air minum dalam kemasan atau merantau ke kota besar menjadi buruh serabutan atau kuli bangunan. Nyonya Nenah (27), warga Dusun Cidadap, Desa Girijaya, mengatakan suaminya terpaksa menjadi kuli bangunan di Jakarta karena tidak ada sumber penghidupan di tanah lahirnya. Suami saya pulang sebulan sekali. Itu pun paling banyak bawa uang Rp 150.000 sampai Rp 200.000, kata Nenah. Kalau kakak saya, merantau ke Tasik jadi buruh jahit dengan penghasilan kurang lebih sama. Kalau bersawah, sudah sulit karena tanah di sini kebanyakan dimiliki orang kota, ujarnya. Nenah siang itu menemani Nyonya Endi (33), kakak iparnya yang juga ibunda Fauziah, korban polio di Cidadap. Berada di rumah seharian adalah kegiatan kaum ibu sambil mengasuh anak di Girijaya. Rumah mereka sebetulnya tergolong memadai untuk ukuran pedesaan di Indonesia. Bangunan permanen, ruang tamu, kamar tidur, dan dapur melengkapi kebanyakan rumah warga Desa Girijaya. Namun, ada satu yang kurang, yakni kamar mandi sebagai sarana mandi, cuci, dan kakus (MCK). Menurut Hurin dan Juen, hanya 20 persen warga yang memiliki MCK pribadi. Sungai yang mengalir dan MCK umum tampaknya menjadi pilihan warga setempat seperti umumnya di pedesaan Pulau Jawa. Sebagian besar lebih suka memakai sungai atau MCK umum untuk dipakai bersama. Bahkan, tempat wudu di masjid pun dimanfaatkan airnya untuk mencuci oleh warga, kata Hurin, sambil menunjuk pada segerombolan ibu rumah tangga yang membawa perlengkapan dapur ke tempat wudu di sebuah masjid.
PENGHASILAN rendah membuat warga Girijaya tidak mampu meraih pendidikan tinggi sebagai sarana untuk meningkatkan taraf hidup. Untuk melanjutkan sekolah setingkat SMA, mereka harus pergi ke kota Kecamatan Cicurug yang setiap hari membutuhkan ongkos transpor Rp 250.000 per bulan. Padahal, penghasilan rata- rata tiap keluarga hanya Rp 200.000. Tentu saja dalam kondisi tersebut, melanjutkan sekolah bukan menjadi pilihan. Apalagi setiap keluarga rata- rata memiliki anak lebih dari dua. Bahkan, ada sejumlah keluarga yang memiliki delapan anak. Kepala Desa Girijaya Aji R Alamsyah menjelaskan, sebagian besar dari 6.397 penduduk hanya sempat mengecap pendidikan sekolah dasar. Ada juga yang lulusan perguruan tinggi, tetapi sebagian bekerja sebagai perangkat desa. Dari data kependudukan Desa Girijaya memang terlihat timpangnya tingkat pendidikan. Lulusan sekolah dasar tercatat 954 jiwa, lulus SMP 195 jiwa, dan lulus SMA 88 jiwa. Sebagian besar lainnya hanya mengecap pendidikan ala kadar dan tercatat 572 penduduk tergolong buta huruf.
Mayoritas penduduk hidup dari bertani atau menjadi buruh. Hanya sekitar 40 orang yang menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri, kata Alamsyah menjelaskan. Kendala terbesar bagi Girijaya, menurut Alamsyah, adalah transportasi bagi daerah terisolasi tersebut. Meski hanya berjarak kurang dari 80 kilometer di selatan Jakarta, tidak ada angkutan umum yang melayani ke daerah tersebut. Bahkan, warga Girijaya demi membuka keterasingan telah beberapa kali melakukan swadaya membangun dan memperbaiki jalan desa. Kondisi terisolasi di daerah relatif modern itulah yang secara tidak langsung memicu rendahnya kesadaran terhadap upaya menjaga kesehatan. Seorang warga di dekat Simpang Cidahu-Jalan Raya Sukabumi- Jakarta mengatakan, warga Cidahu pedalaman, seperti di Desa Girijaya, cenderung tidak memedulikan kesehatan dan perawatan medis modern. Namun, saat ditanya tentang perawatan kesehatan, Nyonya Nenah yang jarang meninggalkan Desa Girijaya mengaku ingin mendapatkan perawatan kesehatan yang layak. Apa daya, kemampuan keuangan membatasi mereka dari mobilitas ke puskesmas yang membutuhkan biaya sekurangnya Rp 5.000 sekali jalan. Kalau boleh memilih, mana ada orangtua yang mau anaknya sakit. Bukan kami menolak imunisasi, tetapi untuk hidup sehari-hari saja sudah susah, kata Nenah. Apalagi kalau harus menambah biaya ke puskesmas yang tidak sedikit. Setidaknya anak-anak yang kakinya sakit (diduga polio-Red) di desa ini umumnya dibawa ke tukang urut untuk pengobatan, ujarnya menjelaskan. Nenah dan kaum ibu di Girijaya mengaku tidak tahu-menahu mengenai penularan polio sampai pemberitaan media massa mengekspos desa mereka. Tragis memang melihat potret Cidahu dan Desa Girijaya. Tidak jauh dari kemajuan zaman internet, virus negara terbelakang seperti polio masih mewabah. Di saat triliunan rupiah dikucurkan untuk membiayai birokrasi rusak dan pembobol dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, penyelenggara negara ternyata tidak mampu menyalurkan beberapa tetes cairan vaksin bagi bocah-bocah di Cidahu. (Iwan Santosa)
Bekas Vaksin Polio Akan Dibakar Virus polio dapat berbiak liar di tempat sampah jika bekas vaksin dibuang sembarangan. Oleh karena itu Dinas Kesehatan (Diskes) DKI Jakarta akan melatih petugas Pekan Imunisasi Nasional (PIN) agar membuang bekas vaksin di plastik yang disediakan. Juru Bicara Diskes Evi Selvino Rabu (18/5) mengakui pihaknya belum melatih petugas tentang cara pembuangan bekas vaksin. “Nanti akan diberi tahu bahwa bekas vaksin harus dibuang di plastik yang telah disediakan,” ujarnya. Evi mengatakan bahwa sampah-sampah plastik itu akan dikumpulkan di tiap-tiap kecamatan dan akan dibakar jika kecamatan itu telah memiliki incenerator. Mengenai batas waktu pengumpulan sampah plastik, ia mengatakan, “Tidak ada, yang penting secepatnya.” Sebagaimana diketahui, pada 31 Mei dan 28 Juni nanti Diskes merencanakan melakukan vaksin polio kepada 700 ribu balita yang tersebar di 9.000 pos PIN seluruh Jakarta. Tiap pos PIN menghimpun tiga hingga empat RT. Evi mengatakan, sebagian besar petugas PIN direkrut dari warga laki-laki dan perempuan dewasa tanpa dibatasi latar belakang pendidikan dan spesifikasi. “Mereka dilatih satu hari untuk cara meneteskan,” ujarnya. Selain itu, juga diterangkan gambaran tentang virus polio. Enam Balita DIY Terserang Penyakit Mirip Polio
Sedikitnya enam orang balita di Provinsi DIY teridentifikasi terserang penyakit lumpuh layuh yang semula diduga polio. Namun setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata bukan penyakit polio yang diderita mereka. Keenam balita itu terserang penyakit virus gulian bare syndrome yang menyerang sumsum tulang belakang dan post meningitis atau radang otak, kata Kabid Penanggulangan Penyakit Menular dan Kesehatan Lingkungan (P2MKL) Dinas Kesehatan DIY Dr Kencono Gunawan. Hal itu dikatakan Kencono kepada wartawan saat ditemui di kantornya, Jl. Kyai Mojo, Yogyakarta, Selasa (17/5/2005). Penyakit yang mirip polio ini bisa disembuhkan melalui fisioterapi secara rutin, lanjutnya. Selama 10 tahun terakhir ini tidak ditemukan kasus polio di DIY. Berdasarkan sweeping dan pendataan yang dilakukan dokter-dokter di seluruh puskesmas di DIY, hampir 90 persen bayi sudah mendapat imunisasi polio hingga empat kali. Mulai tanggal 30 Mei 2005 mendatang akan kita lakukan vaksinasi masal polio ke seluruh pelosok DIY. Vaksin yang digunakan yaitu jenis vaksin oral dari Biofarma, katanya. Kasus balita yang terserang lumpuh layu yaitu Zaumi Robin Fadhila umur 29 bulan, anak pasangan Paitono (50) dan Sukirah (46) warga Sokoliman, Bejiharjo, Arangmojo, Gunung Kidul sejak tanggal 20 April 2004, juga bukan merupakan penyakit polio. Tapi merupakan radang otak karena sering mengalami kejang-kejang disertai diare. Bila gejalanya seperti itu bukan ciri khas polio, katanya.
Dinas Kesehatan Kota Bekasi Gelar Imunasi Polio Massal
Dinas Kesehatan Kota Bekasi gelar imunisasi polio massal pada Selasa (31/5) pukul 08.00 WIB-11.00 WIB pada 1.451 pos kesehatan se-Kota Bekasi. Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Bambang Jati Kusumo, mengatakan, pada 31 Mei 2005 pukul 08.00 -11.00 WIB pihaknya menggelar imunisasi polio massal guna mengantisipasi berjangkitnya kelumpuhan akibat virus polio liar tersebut. Imunisasi massal akan dipusatkan di 1.451 pos kesehatan se-Kota Bekasi dengan melibatkan ribuan petugas nonmedis, kata Bambang Jati Kusumo di Bekasi, Senin (16/5). Dana yang dibutuhkan untuk operasional kegiatan itu diperkirakan mencapai sekitar Rp350 juta. Dana itu sudah diajukan ke Pemkot Bekasi tinggal menunggu persetujuan Wali Kota Akhmad Zurfaih. Biaya untuk itu sudah saya ajukan ke Wali Kota Bekasi dan diharapkan segera disetujui karena menyangkut kepentingan orang banyak, katanya. Sasaran imunisasi massal itu, dititikberatkan kepada anak-anak berusia di bawah 15 tahun dengan cara memasukkan dua tetes cairan melalui mulut anak yang akan divaksinasi. Namun, sebelum dilakukan imunisasi massal itu, sejumlah tenaga medis Dinas kesehatan Kota Bekasi akan menggelar pelatihan terhadap kader di tiap posyandu agar pelaksanaan di lapangan tidak terjadi kendala. Sementara itu, Dokter Yusni dari Dinas Kesehatan Kota Bekasi menambahkan imunisasi massal tahap pertama dilakukan pada 31 Mei 2005 dan berikutnya 28 Juni tahun yang sama. Kami mengimbau kepada masyarakat di Kota Bekasi pada hari dan waktu yang ditentukan itu mendatangi Pos Pekan Imunisasi (Pos PIN) setempat dengan membawa putra-putrinya agar diimunisasi terhadap polio liar, katanya. Keluarga yang putra-putrinya sudah diimunisasi, pada pintu rumahnya ditempel stiker bergambar rumput. Sedangkan, yang belum, pada pintu rumah mereka akan ditempel stiker polos alias tidak ada gambarnya. Gejala-gejala awal bagi seseorang yang diduga terserang virus polio liar antara lain, badan panas, pusing, mual sakit perut, dan otot tungkai kaki terasa nyeri. Tetapi, orang yang mengalami gejala itu belum tentu terserang virus polio liar. Pasalnya, untuk memastikan seseorang terserang virus polio liar, kotoran pasien harus diperiksa di laboratorium terlebih dahulu. Menjawab pertanyaan berapa warga Kota Bekasi yang terserang kelumpuhan akibat penyakit polio liar, Yusni mengatakan, ada empat orang yang kini mengalami lumpuh layuh tetapi bukan menderita polio. Keempat orang tersebut yakni, Annisa Ayu (12), warga Kelurahan Pejuang dan Nila (2,5 tahun), warga Kelurahan Perwira, keduanya di Bekasi Utara. Sedangkan, dua korban lainnya adalah Normaya S (14) warga Kelurahan Kayuringin, Bekasi Barat serta Krisna (4,5 tahun) warga Kelurahan Jatibening, Pondok Gede. Mereka itu bukan terserang virus polio liar, tetapi lumpuh layuh dan penyebabnya baru diteliti dokter spesialis anak dengan cara mengambil kotoran pasien untuk diperiksa di laboratorium, kata Yusni. Biasanya, seseorang yang terserang penyakit lumpuh layuh mengalami kelumpuhan sekitar 14 hari mulai dari pertama menderita sakit. Jika penderita tidak terserang virus polio liar, penderita dapat disembuhkan meski membutuhkan waktu cukup lama. (Ant/Prim)
Pemerintah Tanggung Biaya Pengobatan Penderita Polio
Pemerintah akan menanggung biaya pengobatan untuk penderita polio. Akan tetapi, pemerintah tidak bisa memberikan kompensasi kepada semua yang sakit. Kalau satu polio dikasih, nanti semua orang yang sakit di Indonesia minta kompensasi, kata Wakil Presiden Jusuf Kalla kepada wartawan, di Kantor Wapres, Jakarta, Senin. Menurut dia, yang paling baik untuk mengeliminasi penyebaran polio adalah semua orang menjaga diri masing-masing dan dengan melakukan imunisasi. Karena di dunia ini tidak bisa lagi kita tutup, katanya. Dia menambahkan, ada tiga kemungkinan penyebaran polio yang berasal dari Afrika. Pertama, saat naik haji. Kedua, melalui Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Ketiga,melalui warga Afrika yang datang ke Indonesia atau di tempat sanitasi yang kurang baik. (Hnr/Tia/O-5)
Sidang WHA Bahas Polio
Sidang Kesehatan Dunia (World Health Assembly/WHA) di Jenewa, Swiss, pada 16-25 Mei, membahas sejumlah isu kritis di bidang kesehatan di antaranya mengenai eradikasi polio. Sidang itu dihadiri 192 negara ang- gota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Menurut situs www.who.int, Senin (16/5), WHA ini merupakan yang ke-58 dan menghadirkan pembicara Presiden Republik Maldiv Maumoon Abdul Gayoom serta Bill Gates dari Bill dan Melinda Gates Foundation. Seperti diketahui Bill dan Melinda Gates Foundation memberikan bantuan untuk penanggulangan HIV/AIDS, malaria, dan tuberkulosis. Isu kesehatan kritis yang akan dibahas dalam WHA ini antara lain, penanggulangan HIV/AIDS, promosi gaya hidup sehat, draf resolusi untuk pencegahan dan pemantauan kanker, serta imunisasi global. Sementara itu, berdasarkan data dari Departemen Kesehatan, sampai Sabtu (14/5), delapan warga Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dinyatakan positif polio. Kepastian itu diperoleh setelah diperiksa di laboratorium Bio Farma di Bandung dan ditemukan virus polio liar tipe P1 pada spesimen penderita lumpuh layuh. Delapan kasus yang positif polio itu berasal dari 17 kasus lumpuh layuh. Penderita polio itu, FR (20 bulan) dari Dusun Cidadap, Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Fa (48 bulan) dari Desa Girijaya, Al (32 bulan) dari Dusun Ciseke, Desa Girijaya, Dar (24) dari Desa Cipanengah, Kecamatan Bojong Genteng, Sel (21 bulan) dari Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug, MSA (26 bulan), dari Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug, DL (9 bulan) dari Desa Cidadap, Kecamatan Cidahu, dan Sus (30 bulan) dari Desa Cipondok, Kecamatan Cicurug. Selain delapan kasus lumpuh layuh positif saat ini pihak Bio Farma memeriksa delapan kasus lumpuh layuh. Di samping itu diperiksa sejumlah anak yang mengadakan kontak dengan penderita positif polio liar, yaitu kontak serumah dan kontak tetangga. Hasil pemeriksaan laboratorium sementara terhadap 157 spesimen menunjukkan, 22 spesimen positif pada anak sehat. Artinya anak-anak itu tidak sakit polio, tetapi bisa menjadi sumber penularan polio.
Menurut Kepala Biro Umum dan Humas Departemen Kesehatan, Suprijadi SKM, penderita polio Sel (21 bulan) yang sempat dirawat di RSCM sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Dalam penyelidikan terhadap laporan kasus lumpuh layuh di Kabupaten Lebak, Banten, ditemukan 15 kasus lumpuh layuh dari 4 kecamatan.
Di Jakarta, 700.000 Bayi Akan Diimunisasi Polio
Dinas Kesehatan DKI Jakarta tengah mendata bayi berusia di bawah lima tahun (balita) untuk diimunisasi pada 28 Mei dan 30 Juni mendatang. Jumlah balita itu mencapai 700 ribu orang. Kepala Seksi Epidemiologi Dinas Kesehatan DKI Jakarta Paripurna Harimuda Sediyono mengemukakan hal itu di Jakarta, Senin (16/5). Ia menjelaskan, pendataan dilakukan agar tidak ada bayi yang terlewatkan saat imunisasi yang dilakukan serentak dan gratis tersebut. Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Abdul Chalik Masulili mengatakan, bayi-bayi akan di-sweeping agar tidak luput dari imunisasi.
Perihal adanya bayi penderita polio dari Sukabumi, Jawa Barat yang dibawa ke Jakarta dan saat ini dirawat di Rumah Sakit Pusat Infeksi Sulianti Saroso di Sunter, Jakarta Utara, Paripurna mengakui itu sebagai sebuah kecolongan. Penderita polio seharusnya tidak boleh dipindahkan agar virus polio itu tidak menyebar ke daerah lain, kata Paripurna. Sementara itu, Marius Widjajarta dari Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) secara terpisah mengatakan, penderita dan keluarga penderita polio seharusnya dikarantina. Dinas Kesehatan, katanya, bisa bekerja sama dengan polisi untuk mencegah orang yang berupaya memindahkan pasien polio dari daerah asal si penderita.
Soal masalah karantina itu, Paripurna mengatakan, hal itu bisa saja dilakukan tetapi perlu biaya. Kalau harus dikarantina, keluarga pasien juga, katanya, tidak boleh bekerja dan pemerintah harus menanggung biaya hidup keluarga tersebut. Paripurna menjelaskan, yang dilakukan DKI Jakarta saat ini adalah isolasi. Bayi-bayi di kawasan yang diduga telah terkena virus polio, katanya, langsung diimunisasi, seperti yang telah dilakukan di daaerah Sawah Besar pekan lalu.
Pemerintah Bantu Imunisasi Polio, Tidak Ada Kompensasi
Wapres Jusuf Kalla menegaskan pemerintah tidak akan memberikan kompensasi kepada warga masyarakat yang terkena polio melainkan hanya membantu semua upaya imunisasinya. Pemerintah membantu semua upaya imunisasi itu, tetapi pemerintah juga tidak bisa memberikan kompensasi kepada semua mereka yang sakit, katanya di Kantor Wapres, Senin (16/5). Menurut Wapres, apabila satu orang terkena polio diberikan kompensasi maka semua orang sakit di Indonesia juga akan meminta hak yang sama. Mereka akan bertanya apa bedanya polio dengan malaria. Tidak ada bedanya. Jadi semua pihak harus menjaga tingkat sanitasi yang baik di lingkungan masing-masing, ujar Wapres.
Penyakit polio yang saat ini sedang menjadi sorotan di masyarakat, lanjut Wapres, obatnya hanya satu yakni imunisasi saja. Wapres mengatakan bahwa pihaknya telah mencoba menelusuri dari mana virus Afrika itu bisa masuk ke Indonesia. Kita coba telusuri di mana orang Indonesia bersentuhan dengan orang Afrika. Kalau orang Indonesia ke Afrika jelas jarang, ungkapnya. Kendati demikian, Wapres berpendapat, ada tiga kemungkinan saling kontak itu yakni bertemu sewaktu musim haji, bertemu TKI dengan TKI di luar negeri atau orang Afrika yang datang ke Indonesia dan bertemu di tempat yang sanitasinya tidak baik. Jika di tempat haji, kemungkinan sanitasinya cukup baik karenanya sekarang ini kita tidak tahu di mana asal mulanya penyakit itu karena pada dasarnya adalah sanitasi yang kurang baik, katanya. (Ant/Ima)
Pemerintah Tolak Beri Kompensasi BBM pada Korban Polio
Masyarakat yang menuntut pengucuran dana kompensasi BBM untuk korban polio harus gigit. Pemerintah menolak tuntutan tersebut. Pemerintah tidak bisa memberikan kompensasi kepada semua yang sakit. Satu polio dikasih nanti semua orang yang sakit di Indonesia minta kompensasi, cacar iya, malaria iya, ungkap Wapres Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin, (16/5/2005). Namun, lanjut Kalla, pemerintah tidak akan lepas tangan begitu saja. Setidaknya pemerintah akan membantu dalam hal imunisasi massal yang akan dilakukan. Dan, untuk mengatasi penyebaran polio, Kalla meminta agar masyarakat mampu menjaga dirinya masing-masing. Selain meminta masyarakat menjaga kesehatannya, pemerintah juga akan bekerjasama dengan dunia internasional untuk mencegah penyebaran polio lebih luas lagi. Polio kan hanya satu pencegahannya yaitu imunisasi karena di dunia ini kita tidak bisa tertutup lagi. Jadi betul-betul kita harus kerjasama dengan dunia internasional, katanya.
Langkah ini perlu dilakukan, karena setelah ditelusuri, penyebaran polio di Indonesia baru-baru ini terkait dengan aktivitas para TKI dan orang-orang Afrika di Indonesia. Kita bicara kemarin dari mana virus ini, karena itu virus Afrika. Jadi kira-kira dari mana orang Indonesia dapat virus dari Afrika, kata Kalla. Masalahnya, lanjut Kalla, sejauh ini jarang sekali orang Indonesia berkunjung ke Afrika. Padahal, dalam penyebaran virus polio tersebut hanya ada tiga kemungkinan, yakni saat naik haji, TKI ketemu TKI dan orang Afrika ke Indonesia yang tinggal di daerah yang sanitasinya kurang baik. Kalau naik haji sanitasinya baik. Lalu kenapa di Sukabumi? Mungkin saja ada persentuhan. Ini kan sedang diselidiki di mana tempatnya. Jadi ada persentuhan, kata Kalla.
Tidak Semua Lumpuh Layuh Suspect Polio
Tidak semua penderita lumpuh layuh merupakan suspect polio karena kelumpuhan seseorang dikatakan menderita polio jika hasil pemeriksaan laboratoriumnya mengandung virus polio liar Kepala Seksi Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Dinas Kesehatan NTB, dr Thamrin Hidjaz dalam klarifikasi tertulisnya, Minggu, menanggapi ditemukannya lima kasus suspect polio yang dimuat sejumlah media massa, menyatakan sampai dengan tanggal 13 Mei 2005 belum ditemukan adanya penularan virus polio di NTB. Sehingga NTB dikatakan belum terjangkit polio, karena lima kasus yang ditemukan tersebut merupakan kasus Acute Flaccid Paralysis (AFP), bukan kasus polio dan bukan suspect polio, ujarnya. Dari lima kasus AFP tersebut, satu kasus tidak termasuk polio karena berdasarkan hasil pemeriksaan Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Surabaya tidak ditemukan virus polio liar pada tinja penderita. Sedangkan empat kasus lainnya belum ada hasil pemeriksaan laboratorium, katanya. Program kesehatan untuk menemukan segera kasus kelumpuhan yang bersifat lemas/layuh pada anak usia di bawah 15 tahun telah dilaksanakan sejak tahun 1997, kini sudah berjalan delapan tahun, yang disebut Surveillance AFP.
Dikatakannya, kelumpuhan pada seseorang bukan saja disebabkan oleh kasus polio liar, banyak faktor yang menyebabkan seseorang itu menjadi lumpuh. Lumpuh layuh pada anak usia di bawah 15 tahun tanpa diketahui penyebabnya dikategorikan sebagai kasus AFP, bukan sebagai kasus suspect polio atau kasus polio. Ia menambahkan, Surveillance AFP yang dilakukan oleh pemerintah merupakan upaya untuk mengetahui secara dini apakah masih ada penularan virus polio liar atau tidak di Indonesia. Karena itu masyarakat diharapkan jangan resah, tindakan yang perlu dilakukan antara lain segera melengkapi cakupan imunisasi polio pada bayi minimal tiga kali, ujarnya. Masyarakat jika menemukan kasus kelumpuhan mendadak pada anak di bawah 15 tahun tanpa diketahui penyebabnya diminta segera memeriksakannya atau melaporkan kepada pihak Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota, Puskesmas dan Rumah Sakit. Bisa juga dilaporkan kepada Dinkes NTB pada nomor telepon 0370-628140 atau Made Utama Hp 08123763094 untuk segera dilakukan tatalaksana kasus dan pengambilan spesimen.(Ant/Ol-1)
Delapan Balita di Sukabumi Tertular Virus Polio Liar
Delapan anak usia bawah lima tahun (balita) dari 17 balita menderita sakit lumpuh layuh (AFP - Acutc Placcid Paralysis) dinyatakan tertular virus polio liar P-1, kata Kepala Biro Umum dan Humas Depkes Suprijadi, SKM. Pemeriksaan di laboratorium Bio Farma Bandung terhadap specimen faces dari 17 balita penderita AFP berasal Kabupaten Sukabumi, Jabar hingga 14 Mei 2005 ditemukan delapan balita positif tertular virus polio liar P-1, katanya dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu. Menurut Suprijadi, hasil pemeriksaan 17 specimen faces di Bandung itu, delapan balita dinyatakan positif tertular poliar liar jenis P-1, sedang delapan specimen masih menunggu proses pemriksaan dan satu specimen dinyatakan negatif. Depkes bekerjasama dengan organisasi kesehatan dunia (WHO) dan Badan PBB urusan Anak-anak (Unicef) selain memeriksa balita yang diduga sakit polio, juga telah memberikan imunisasi polio bagi 4.000 balita di sejumlah kecamatan di Sukabumi, Jabar, akhir April 2005. Untuk mencegah penularan virus polio, Pemerintah akan memberikan imunisasi polio secara gratis bagi 5,2 juta anak usia 0-59 bulan (balita) di Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jabar pada 31 Mei 2005 dan 28 Juni 2005. Supriyadi menambahkan, satu balita dari delapan tertular polio liar dari Sukabumi yang dirawat di RSCM Jakarta sejak 3 Mei 2005 kini telah sembuh dan sempat pulang ke tempat keluarganya di Kelurahan Mangga Besar, Jakarta Utara. Namun, untuk mencegah penularan virus polio, balita asal Sukabumi itu sejak 12 Mei 2005 dirawat ke RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso di Sunter, Jakarta Utara, selanjutnya seluruh balita di Kelurahan Mangga Besar dan di Kecamatan Mangga Besar diberikan imunisasi polio. Menanggapi laporan 15 kasus lumpuh layuh pada balita di Kabupaten Lebak, Banten, Tim Pemantaua Depkes dan WHO telah mengambil 15 sample tinja dari 15 balita untuk diperiksa di Laboratorium Badan Litbangkes Jakarta, demikian untuk laporan empat kasus lumpuh layuh di Kabupaten Karanganyar, Jateng Sebelumnya, Menkes Siti Fadilah berharap, masyarakat tidak perlu panik jika ada balita sakit lumpuh, tapi segera dibawa ke rumah sakit (RS) terdekat untuk diobati dan diambil specimen tinja untuk diperiksa di laboratorium guna ditentukan jenis virus penularan penyakitnya. Bayi dan anak yang telah mendapat imunisasi polio lengkap tidak akan tertular penyakit polio. Balita yang belum mendapat imunisasi polio harus segera ke Puskesmas terdekat untuk diberikan imunisasi, katanya.(Ant/Ol-1)
Dua Orang Lagi Dipastikan Mengidap Polio Penderita polio di Sukabumi bertambah. Hingga Sabtu (14/5) kemarin, hasil uji di laboratorium Bio Farma, Bandung, mencatat sebanyak dua orang lagi mengidap penyakit itu. Sebelumnya sudah ada enam orang yang dipastikan mengidap polio, dari 17 orang penderita lumpuh layuh yang diteliti. Kini menjadi delapan orang, kata Yusharmen, Direktur Epidemiologi dan Imunisasi Departemen Kesehatan ketika dihubungi Tempo, Minggu (15/5). Yusharmen menjelaskan, dari penelitian terhadap 120 orang kontak, 14 orang dinyatakan positif mengidap polio. Kontak adalah orang sehat yang mempunyai riwayat dengan ke-17 orang penderita, seperti tetangga atau kerabat. Para kontak itu dinyatakan sehat, katanya. Jumlah kontak yang akan diperiksa di Bio Farma, kata Yusharmen, akan terus bertambah. Sesuai dengan hasil penelusuran tim pengawasan Departemen Kesehatan, ia menjelaskan. Ami Afriatni
Lumpuh Layuh di Lombok Bukan Polio Wakil Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dr Gerudug menyatakan, setelah mendapatkan hasil pemeriksaan di laboratorium, ketiga pasien lumpuh layuh atau Acute Falaccid Paralysis (AFP) yang ditemukan di Lombok Tengah bukan karena virus liar polio. Setelah ketiganya mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Darek dan Mangkung, Lombok Tengah, ketiga orang tersebut sudah membaik dan bisa berjalan normal kembali, katanya kepada wartawan ketika dihubungi dihubungi wartawan di Mataram, Minggu (15/5). Pihaknya setiap tahun secara kontinyu melakukan pemantauan atas kemungkinan masih adanya virus liar polio di NTB. Setiap tahun Dinkes NTB melakukan pencarian terhadap masyarakat yang terkena lumpuh layuh. Namun yang ditemukan selama ini jauh dari target yang ditetapkan 15 pasien, ujarnya. Dalam beberapa tahun terakhir ini temuan Dinkes NTB terhadap pasien lumpuh layuh relatif kecil. Semua temuan itu bukan akibat virus liar polio. Untuk tahun ini, katanya, pihaknya baru menemukan lima kasus lumpuh layuh, tiga terdapat di Lombok Tengah, yakni di Dusun Nusa (Desa Pelambek), Dusun Tanggong (Desa Darek) serta Desa Mangkung, semuanya di Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah. Sedangkan dua kasus lainnya terdapat di Kabupaten Dompu dan Bima, katanya. Ia optimistis bahwa dari hasil pemantauan selama ini NTB masih bebas penyakit akibat virus liar polio. Lima pasien lumpuh layuh yang ditemukan bukan disebabkan oleh virus liar polio.
Menurut Antara, di tiga dusun di Lombok Tengah tersebut, ketiga pasien yakni Marzuki Darusman, Mustiwardana dan Fatoni sudah mulai membaik dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Ketika wartawan berkunjung ke rumah mereka, anak-anak tersebut bermain dengan teman-temannya. Berdasarkan keterangan dari orangtua mereka, ketiganya sempat dibawa ke Puskesmas Darek dan Mangkung. Mereka mendapat perawatan dari dokter, dan kesehatan anak-anak itu sudah pulih kembali. Ketiga pasien tersebut terpaksa dibawa ke puskesmas karena sakit perut dan panas serta mengalami kelumpuhan. Namun setelah mendapat perawatan, mereka disuruh kembali karena sakitnya sudah membaik. Para orangtua tersebut mengaku ketika masih bayi mereka tidak mendapat imunisasi lengkap. Lokasi permukiman ketiga pasien tersebut kurang memadai. Misalnya rumah keluarga Mustiwardana di Dusun Nusa, Desa Pelambek yang jaraknya cukup jauh dari Mataram, harus melintasi pematang sawah. Mustiwardana saat dikunjungi wartawan terlihat baru pulang mandi di sungai bersama-sama teman sebayanya. Demikian juga halnya dengan Marzuki Darusman (14). Saat ditemui di rumahnya yang sangat sederhana karena beratap rumbia, ia sedang mengaji. Marzuki sudah tidak merasakan sakit apa-apa lagi, ia sudah bisa melaksanakan aktivitas sehari-hari termasuk mengikuti pengajian di kampungnya. Memang sepuluh hari lalu saya sakit, saya sulit berjalan, katanya.
17 Balita Jakarta Lumpuh Layuh, Hanya 1 Positif Polio Jumlah balita di Jakarta yang menderita lumpuh layuh ada 17. Namun hanya 1 balita saja yang dinyatakan positif polio, yaitu Silvi Yulianti, 20 bulan. Silvi dan sejumlah balita penderita lumpuh layuh lainnya saat ini dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) dr.Sulianti Suroso, Jakarta Utara. Dari 17 balita itu, sudah ada yang diperbolehkan pulang. Silvi ketularan polio saat tinggal dengan neneknya di Sukabumi, daerah pertama ditemukannya amukan virus polio liar. Kedua orangtua Silvi tinggal di Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Dikhawatirkan virus polio yang dibawa Silvi ke Jakarta menjangkiti bayi-bayi di sekitarnya. Kecamatan Sawah Besar sudah dilakukan vaksinasi, kata Humas Dinas Kesehatan DKI Jakarta Evi Zelvino saat dihubungi detikcom melalui telepon, Minggu (15/5/2905). Vaksinasi itu segera dilakukan sesuai aturan bahwa jika ada ditemukan kasus polio di daerah tertentu, maka daerah tersebut langsung divaksinasi. Balita yang ketularan polio di Jakarta hingga kini belum ada. Silvi kan kenanya di Sukabumi, tegas Evi. Rencananya imunisasi polio massal akan dilakukan di Provinsi DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, dalam dua tahap, pada tanggal 31 Mei 2005 dan 28 Juni 2005. Imunisasi massal tersebut tetap akan dilakukan dengan maksud meminimalisasi dan mengantisipasi penyebaran virus polio yang penularannya bergerak cepat,kata Evi. Dari RSPI dr Sulianti Suroso dilaporkan, RS tersebut menyediakan ruang Mawar untuk para pasien polio. Namun Silvi hingga saat ini dirawat di ruang Melati. Di ruangan itu juga ada kakak Silvi yaitu Siti Masitoh (4 tahun) yang juga menderita lumpuh layuh. Sedang di ruang Mawar dirawat pasien bernama Rifki (2,7 tahun). Pengobatan mereka ditanggung negara alias gratis.(nrl)
Delapan Anak Asal Sukabumi Positif Terjangkit Polio Liar Penyakit polio terus mengincar anak-anak. Hasil pemeriksaan Laboratorium Bio Farma Bandung yang ditunjuk oleh Depkes untuk memeriksa kasus polio, delapan dari 17 orang anak asal Sukabumi yang menderita lumpuh layu positif mengidap polio. Satu orang dinyatakan negatif sementara sisanya masih dalam pemeriksaan. Lumpuh layu yang menyerupai penyakit polio tidak hanya disebabkan oleh virus polio, namun banyak penyebabnya jadi bukan hanya akibat virus polio. Untuk menentukan penyebab kelumpuhan harus dilakukan melalui pemeriksaan tinja pasien, jelas Kepala Biro Umum dan Humas Depkes Suprijadi dalam siaran pers yang diterima detikcom Sabtu (14/5/2005). Kedelapan penderita polio itu adalah Fr (20 bulan), Fa (48 bulan), Dl (9 bulan) ketiganya warga Dusun Cidadap, Giri Jaya, Cidahu, Al (32 bulan), warga Dusun Ciseke, Giri Jaya, Cidahu, Dar (24 bulan) warga Dusun Cipanengah, Bojong Genteng, Sel (21 bulan) dan Msa (26 bulan), warga dusun Cisaat, Cicurug, Sus (30 bulan) Desa Cipondok, Cicurug, Sukabumi. Sedangkan 9 kasus lumpuh layu lainnya yaitu satu orang atas nama Lut(18 bulan), warga Cidadap, dinyatakan negatip menderita polio, sementara 8 kasus lainnya dalam proses pemeriksaan di Bio Farma Bandung, kata Suprijadi. Selain memeriksa penderita lumpuh layu, Depkes juga memeriksa anak-anak yang yang melakukan kontak dengan penderita polio. Dari 157 anak yang diperiksa, terdapat 22 anak sehat, artinya tidak sakit polio tapi dapat menjadi sumber penularan, ujarnya. Satu penderita positip polio yaitu Sel warga Cicurug pada tanggal 12 Mei 2005, dipindahkan perawatannya dari RSCM Jakarta ke RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso (RSPI) Jakarta, menyusul adanya keresahan warga yang takut polio akan menular pada anak-anak mereka. Sementara itu Depkes telah melakukan upaya pencegahan penularan dengan melakukan ORI (Outbreak Response Imunisasi) di kelurahan Mangga Besar pada tanggal 12 Mei 2005, yaitu memberikan imunisasi polio pada semua anak di bawah lima tahun setelah 72 jam diterima kasus polio positif. Pemda DKI menanggung biaya semua penderita lumpuh layu dengan ketentuan semua penderita harus dirawat sampai adanya hasil pemeriksaan laboratorium. Pemda DKI akan menanggung biaya penderita polio positif sampai 60 hari setelah tanggal kelumpuhan, jelasnya. Selain itu imunisasi massal juga akan dilakukan di dua provinsi lainnya yaitu Jawa Barat, dan Banten pada tanggal 31 Mei 2005 dan 28 Juni 2005. Sasarannya adalah semua anak balita. Kasus lumpuh layu juga ditemukan di Kabupaten Lebak, Banten sebanyak 15 kasus, sementara di Kabupaten Karanganyar, Jateng sebanyak 4 kasus. Sudah dilakukan investigasi dan diambil spesimennya untuk diperiksa di laboratorium guna memastikan penyebab kelumpuhan, demikian Suprijadi.
Satu Balita Polio dari Sukabumi Dirawat di Jakarta
Silvi (21 bulan) Balita asal Sukabumi Jawa Barat yang selama ini tinggal dengan neneknya, kini dirawat di Rumas Sakit Penanggulangan Infeksi (RSPI) Sulyanti Suroso Sunter Jakarta Utara dengan biaya Pemprov DKI Jakarta. Dia dibawa keluarganya ke RSCM lalu sempat dirawat 11 hari, setelah itu dibawa ayah ibunya yang tinggal di Kecamatan Sawah Besar. Kami lalu mengambil bayi ke RSPI serta mengadakan vaksinasi untuk semua Balita di Sawah Besar, kata Kepala Dinas Kesehatan Chalik Masulili di Jakarta Jumat. Silvi yang ternyata positif polio tersebut tiba di RSPI pada Kamis (12/5) siang demikian pula kakaknya yang berumur 4 tahun dalam pemeriksaan. Kami juga sudah memeriksa tinja seluruh keluarganya untuk mengetahui apakah ada penyebaran, tapi sampai saat ini hanya Silvi saja yang positif, kata Masulili. Dia menjelaskan imunisasi untuk seluruh Balita di Sawah Besar adalah prosedur ORI (outbreak response imunisation) atau imunisasi massal lebih awal untuk mencegah berjangkitnya polio. Dinas Kesehatan menyiapkan 5 ribu vaksin untuk semua Balita di Sawah Besar, walaupun sebenarnya imunisasi cukup dilakukan di RW tempat orang tua Silvi tinggal. Semua Balita harus diimunisasi walau sudah diimunisasi. Balita yang sudah diimunisasi dalam ORI kami imbau tetap ikut imunisasi massal polio yang akan berlangsung 31 Mei, bahkan ikut lagi untuk imunisasi ulangan pada 28 Juni 2005, kata Masulili.
Menurut Masulili, vaksin polio adalah yang paling aman karena tidak masalah jika dosisnya berlebih maupun sering diberikan. Lebih lanjut Masulili menjelaskan semua warga DKI yang terjangkit polio semua biaya perawatan termasuk obat ditanggung Dinkes DKI Jakarta sedangkan biaya untuk warga non DKI akan dirundingkan dengan Depkes. Kami tegaskan untuk Jakarta hingga kini tidak ada kasus polio, yang ada hanyalah 17 kasus lumpuh layuh yang ternyata tidak satupun disebabkan polio, kata Masulili. Kepala Dinas Kesehatan menjelaskan ORI dilakukan agar Balita kebal virus minimal 100 hari karena virus polio dapat bertahan di udara terbuka 60 hari.
Imunisasi Polio Massal Masih Dilakukan Terbatas Departemen Kesehatan masih mengutamakan imunisasi polio massal secara terbatas hanya untuk tiga provinsi yang sudah terkena kasus, sehingga belum akan ada imunisasi massal secara nasional. Itu merupakan standar penanggulangan yang dilakukan negara manapun di dunia jika terjadi kasus seperti ini, daerah yang terdekat yang diutamakan, kata Dr. Muhammad Nadirin, Kasubdit Surveilans Etidemologi Dirjen Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPMPL) Depkes, di sela acara Bincang Sabtu pagi yang berlangsung di Marios Place Kuningan Jakarta,(14/5/2005). Tiga provinsi yang akan melakukan imunisasi massal polio adalah Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten. Imunisasi massal itu akan dilakukan dalam dua tahap, yakni tanggal 31 mei 2005 dan 28 Juni 2005. Sasaran imunisasi massal ini adalah anak balita tanpa melihat status imunisasi sebelumnya yang jumlahnya mencapai 5,2 juta anak. Dana yang disediakan Depkes sekitar Rp 41 miliar untuk tiga provinsi ditambah bantuan dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organizations/WHO) dan negara asing seperti Australia. Menurut Nadirin, imunisasi massal dilakukan untuk meminimalisasi dan mengantisipasi penyebaran virus polio. Selain itu, Depkes juga berupaya melokalisir virus yang menyebar melalui tinja di daerah yang sudah terkena, agar tetap disitu. Sedangkan bagi penderita yang sudah positif menderita polio menurut Nadirin akan dibiayai rumah sakit setempat sampai pada proses fisioterapinya namun pada batas-batas tertentu. Mengenai perlunya rumah sakit khusus, menurut Nadirin untuk penanganan polio sebenarnya tidak dibutuhkan peralatan canggih, karena sampai saat ini memang tidak ada obat untuk menyembuhkan penyakit polio. Namun ia menilai fasilitas rumah sakit yang ada termasuk di Sukabumi sudah sangat mencukupi. Khususnya dalam hal universal precaution dimana belum terjadi penyebaran melalui tinja, katanya. Nadirin juga menjelaskan, bahwa polio yang telah masuk ke Jakarta bukan asli dari Jakarta, karena korban yang dinyatakan positif tersebut terkena di Sukabumi. Penderita itu adalah orang Sukabumi yang mempunyai rumah di Jakarta. Jadi waktu dia terinfeksi polio pada saat berada di Sukabumi, katanya. Dia juga menghimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak perlu khawatir terhadap ancaman penyebaran virus polio. Pasalnya, Depkes telah mempunyai agen-agen desease inteligent yang melakukan survei di seluruh Indonesia untuk mencari dan menemukan AFP (Acute Palccid Paralysis) atau lumpuh layuh yaitu kumpulan penyakit yang memberikan gejala seperti polio. Saat ini menurut data Depkes, polio yang disebabkan oleh AFP jumlahnya kurang dari satu persen. (ir)
Pasien Positif Polio Bertambah
Jumlah balita yang positif tertular virus polio liar (VPL) di Kabupaten Sukabumi terus bertambah. Berdasarkan hasil pemeriksaan balita yang diduga terjangkit polio di Labotarium Bio Farma Bandung, balita yang positif bertambah dua orang. Jumlah keseluruhannya kini menjadi delapan orang. '' Penambahan penderita yang positif tersebut diketahui setelah kami mendapatkan informasi dari hasil labotarium Bio Farma Bandung, Sabtu (14/5),'' ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, dr Buhono Thahadibrata kepada wartawan, senin (16/5) di Sukabumi. Namun demikian, lanjut dia, pihaknya tidak bersedia menyebutkan secara rinci nama balita yang positif tersebut. Survailans Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Jauhari Muas mengatakan, kedua balita yang positif menderita polio tersebut berinisial DD dan SS. Dikatakan Jauhari, data balita yang positif terserang di Kabupaten Sukabumi dikhawatirkan akan terus bertambah. Pasalnya, lanjut dia, dari kotoran balita yang diperiksa oleh Labotarium Bio Farma Bandung sebanyak 156 orang yang diduga terserang polio. Sebanyak 20 orang di antaranya, kata dia, dinyatakan contactship. Setelah kasus penyebaran Polio di Kabupaten Sukabumi beberapa waktu lalu, empat anak di Kabupaten Karawang terindikasi mengalami penyakit serupa. Pasalnya, keempat anak ini telah mengidap penyakit lumpuh layu, gejala awal penyakit polio. Sementara itu, menurut Kabid Penyebaran Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, dr Asep Hidayat, pihaknya telah menyerahkan contoh feses (tinja) empat anak yang menderita lumpuh layu dan diduga polio ke labolatorium Bio Farma. ''Untungnya, hasil dari labolatorium menyatakan mereka negatif polio,'' kata Asep akhir pekan lalu.
Keempat anak itu, kata Asep adalah Wanta (13 tahun), warga Kampung Pasar Batu Jaya, Kecamatan Batu Jaya; Zulfi Nurislami (5) , warga Desa Sirnaruju, Kecamatan Tegal Waru; Opik (1), warga Desa Kertamulya, Kecamatan Pedes; dan Eka Maulidin (3), warga Desa Payung Sari, Kecamatan Pedes. Meski mereka tidak dinyatakan positif polio, Asep mengatakan, keempatnya mengalami lumpuh layu, semacam penyakit syaraf yang menyebabkan kelumpuhan. Pasalnya, kata dia, masih ada 32 jenis penyakit, selain polio, yang timbul akibat penyakit lumpuh layu. ''Tapi, kelumpuhannya masih bisa diobati. Mungkin satu atau dua bulan ini mereka bisa sembuh,'' kata Asep. Menurut Asep, pihaknya memang setiap tahun menginstruksikan untuk mencari anak dari 0 hingga 15 tahun yang mengidap penyakit lumpuh layu. Pasalnya, kata dia, penyakit lumpuh layu merupakan indikasi terserangnya penyakit polio, yang bisa menyebabkan lumpuh permanen. Untuk tahun 2004 lalu, kata Asep, di Kabupaten Karawang terdapat 11 anak usia 0 hingga 15 tahun dari 11 kecamatan yang mengidap penyakit lumpuh layu. ''Tapi, semuanya negatif polio,'' ujar dia. Menghadapi masalah polio ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan pemerintah tidak akan memberikan kompensasi kepada warga masyarakat yang terkena polio melainkan hanya membantu semua upaya imunisasinya. ''Pemerintah membantu semua upaya imunisasi itu, tetapi pemerintah juga tidak bisa memberikan kompensasi kepada semua mereka yang sakit,'' katanya di Kantor Wapres, Jakarta, Senin (16/5). Menurut Wapres, apabila satu orang terkena polio diberikan kompensasi maka semua orang sakit di Indonesia juga akan meminta hak yang sama. ''Mereka akan bertanya apa bedanya polio dengan malaria. Tidak ada bendanya. Jadi semua pihak harus menjaga tingkat sanitasi yang baik di lingkungan masing-masing," kata Wapres. Mengenai asal muasal munculnya virus polio liar ini, Wapres berpendapat, ada tiga kemungkinan saling kontak itu yakni bertemu sewaktu musim haji, bertemu TKI dengan TKI di luar negeri, atau orang Afrika yang datang ke Indonesia dan bertemu di tempat yang sanitasinya tidak baik. ''Jika di tempat haji, kemungkinan sanitasinya cukup baik karenanya sekarang ini kita tidak tahu di mana asal mulanya penyakit itu karena pada dasarnya adalah sanitasi yang kurang baik," katanya.
Kerja Sama Internasional Tanggulangi Virus Polio
Sebuah langkah kerja sama internasoinal ingin dibangun pemerintah untuk menanggulangi penyebaran virus volio asal Benua Afrika yang kini sedang menyerang Indonesia. Namun pemerintah tak akan memberikan dana kompensasi bagi penderita polio ini kecuali biaya pengobatan di rumah sakit. ''Ya, polio itu kan hanya satu pencegahannya, yaitu imunisasi. Karena di dunia ini tidak bisa lagi kita tutup, jadi betul-betul kita harus bekerja sama dengan dunia internasional,'' ungkap Wakil Presiden Jusuf Kalla, di Kantornya, di Jakarta, Senin (16/5). Kalla lantas menyontohkan virus polio yang sedang mewabah di beberapa daerah di tanah air. Ia mempertanyakan mengapa virus asal Afrika itu bisa menjangkit di sini. ''Jadi kira-kira dari mana orang indonesia dapat virus dari Afrika, kalau orang indonesia ke Afrika jarang,'' ujarnya. ''Cuma tiga kemungkinannya, yaitu dia naik haji, ketemu TKI dengan TKI atau orang Afrika ke Indonesia di tempat dimana sanitasi kurang baik.''
Menurut Kalla, untuk kegiatan ibadah haji dinilai memiliki sanitasi yang baik. Ia menduga virus volio asal benua hitam itu mewabah di daerah Sukabumi karena ada persentuhan pisik di sana. ''Ini kan sedang diselidiki dimana tempatnya,'' katanya. Sebagai bentuk tanggung jawab, Kalla menyatakan, pemerintah akan membantu semua biaya imunisasi anti polio. Namun, sergahnya, pemerintah tidak bisa memberikan kompensasi kepada semua yang terserang penyakit ini. ''Satu polio dikasih, nanti semua orang yang sakit di indonesia minta kompensasi. Cacar iya, malaria iya, jadi itu masing-masing harus menjaga diri, tapi semua biaya pengobatannya ditanggung pemerintah,'' jelasnya.
Sebotol vaksin influenza beserta jarum suntiknya.
Vaksin (dari kata vaccinia, penyebab infeksi cacar sapi yang ketika diberikan kepada manusia, akan menimbulkan pengaruh kekebalan terhadap cacar), adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau "liar". Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit. Vaksin dapat juga berupa organisme mati atau hasil-hasil pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus, dsb.). Vaksin akan mempersiapkan sistem kekebalan manusia atau hewan untuk bertahan terhadap serangan patogen tertentu, terutama bakteri, virus, atau toksin. Vaksin juga bisa membantu sistem kekebalan untuk melawan sel-sel degeneratif (kanker).
Menumbuhkan kekebalan Sistem kekebalan mengenali partikel vaksin sebagai agen asing, menghancurkannya, dan "mengingat"-nya. Ketika di kemudian hari agen yang virulen menginfeksi tubuh, sistem kekebalan telah siap: (1) menetralkan bahannya sebelum bisa memasuki sel dan (2) mengenali dan menghancurkan sel yang telah terinfeksi sebelum agen ini dapat berbiak. Vaksin yang dilemahkan digunakan untuk melawan tuberkulosis, rabies, dan cacar; agen yang telah mati digunakan untuk mengatasi kolera dan tifus; toksoid digunakan untuk melawan difteri dan tetanus. Meskipun vaksin sejauh ini tidak virulen sebagaimana agen "sebenarnya", bisa menimbulkan efek samping yang merugikan, dan harus diperkuat dengan vaksinasi ulang beberapa tiap tahun. Suatu cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan vaksinasi DNA. DNA yang menyandi suatu bagian virus atau bakteri yang dapat dikenali oleh sistem kekebalan dimasukkan dan diekspresikan dalam sel manusia/hewan. Sel-sel ini selanjutnya menghasilkan toksoid agen penginfeksi, tanpa pengaruh berbahaya lainnya. Pada tahun 2003, vaksinasi DNA masih dalam percobaan, namun menunjukkan hasil yang menjanjikan.
Pemberantasan penyakit Berbagai penyakit seperti polio telah dapat dikendalikan di negara-negara maju melalui penggunaan vaksin secara massal (malah, cacar telah berhasil dimusnahkan, sedangkan rubella dilaporkan telah musnah dari AS). Sepanjang mayoritas masyarakat telah diimunisasi, penyakit infeksi akan sulit mewabah. Pengaruh ini disebut herd immunity. Beberapa kalangan, terutama yang melakukan praktik pengobatan alternatif, menolak untuk mengimunisasi dirinya atau keluarganya, berdasarkan keyakinan bahwa efek samping vaksin merugikan mereka. Para pendukung vaksinasi rutin menjawab dengan mengatakan bahwa efek samping vaksin yang telah berizin, jika ada, jauh lebih kecil dibandingkan dengan akibat infeksi penyakit, atau sangat jarang, dan beranggapan bahwa hitungan untung/rugi haruslah berdasarkan keuntungan terhadap kemanusiaan secara keseluruhan, bukan hanya keuntungan pribadi yang diimunisasi. Resiko utama rubella, misalnya, adalah terhadap janin wanita hamil, tapi resiko ini dapat secara efektif dikurangi dengan imunisasi anak-anak agar tidak menular kepada wanita hamil.
PEMERINTAH BANTU IMUNISASI POLIO DAN TIDAK BERI KOMPENSASI Informasi yang disajikan dalam situs ini hanya untuk pengguna akhir (end-user). Menyiarkannya kembali dalam bentuk cetak, elektronik dan lain-lain tidak diperkenankan, tanpa izin tertulis dari LKBN ANTARA. Jakarta (ANTARA News) - Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan pemerintah tidak akan memberikan kompensasi kepada warga masyarakat yang terkena polio melainkan hanya membantu semua upaya imunisasinya. "Pemerintah membantu semua upaya imunisasi itu, tetapi pemerintah juga tidak bisa memberikan kompensasi kepada semua mereka yang sakit," katanya di Kantor Wapres, Jakarta, Senin. Menurut Wapres, apabila satu orang terkena polio diberikan kompensasi maka semua orang sakit di Indonesia juga akan meminta hak yang sama. "Mereka akan bertanya apa bedanya polio dengan malaria. Tidak ada bedanya. Jadi semua pihak harus menjaga tingkat sanitasi yang baik di lingkungan masing-masing," kata Wapres. Penyakit polio yang saat ini sedang menjadi sorotan di masyarakat, kata Kalla, obatnya hanya satu yakni imunisasi saja. Lebih lanjut Wapres mengatakan bahwa pihaknya telah mencoba menelusuri dari mana virus Afrika itu bisa masuk ke Indonesia.
"Kita coba telusuri di mana orang Indonesia bersentuhan dengan orang Afrika. Kalau orang Indonesia ke Afrika jelas jarang," katanya. Kendati demikian, Wapres berpendapat, ada tiga kemungkinan saling kontak itu yakni bertemu sewaktu musim haji, bertemu TKI dengan TKI di luar negeri atau orang Afrika yang datang ke Indonesia dan bertemu di tempat yang sanitasinya tidak baik. "Jika di tempat haji, kemungkinan sanitasinya cukup baik karenanya sekarang ini kita tidak tahu di mana asal mulanya penyakit itu karena pada dasarnya adalah sanitasi yang kurang baik," katanya.(*)
DELAPAN BALITA DI SUKABUMI TERTULAR VIRUS POLIO LIAR Delapan anak usia bawah lima tahun (balita) dari 17 balita menderita sakit lumpuh layuh (AFP - Acutc Placcid Paralysis) dinyatakan tertular virus polio liar P-1, kata Kepala Biro Umum dan Humas Depkes Suprijadi, SKM. "Pemeriksaan di laboratorium Bio Farma Bandung terhadap specimen faces dari 17 balita penderita AFP berasal Kabupaten Sukabumi, Jabar hingga 14 Mei 2005 ditemukan delapan balita positif tertular virus polio liar P-1," katanya dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu. Menurut Suprijadi, hasil pemeriksaan 17 specimen faces di Bandung itu, delapan balita dinyatakan positif tertular poliar liar jenis P-1, sedang delapan specimen masih menunggu proses pemriksaan dan satu specimen dinyatakan negatif. Depkes bekerjasama dengan organisasi kesehatan dunia (WHO) dan Badan PBB urusan Anak-anak (Unicef) selain memeriksa balita yang diduga sakit polio, juga telah memberikan imunisasi polio bagi 4.000 balita di sejumlah kecamatan di Sukabumi, Jabar, akhir April 2005. Untuk mencegah penularan virus polio, Pemerintah akan memberikan imunisasi polio secara gratis bagi 5,2 juta anak usia 0-59 bulan (balita) di Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jabar pada 31 Mei 2005 dan 28 Juni 2005. Supriyadi menambahkan, satu balita dari delapan tertular polio liar dari Sukabumi yang dirawat di RSCM Jakarta sejak 3 Mei 2005 kini telah sembuh dan sempat pulang ke tempat keluarganya di Kelurahan Mangga Besar, Jakarta Utara. Namun, untuk mencegah penularan virus polio, balita asal Sukabumi itu sejak 12 Mei 2005 dirawat ke RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso di Sunter, Jakarta Utara, selanjutnya seluruh balita di Kelurahan Mangga Besar dan di Kecamatan Mangga Besar diberikan imunisasi polio. Menanggapi laporan 15 kasus lumpuh layuh pada balita di Kabupaten Lebak, Banten, Tim Pemantaua Depkes dan WHO telah mengambil 15 sample tinja dari 15 balita untuk diperiksa di Laboratorium Badan Litbangkes Jakarta, demikian untuk laporan empat kasus lumpuh layuh di Kabupaten Karanganyar, Jateng
Sebelumnya, Menkes Siti Fadilah berharap, masyarakat tidak perlu panik jika ada balita sakit lumpuh, tapi segera dibawa ke rumah sakit (RS) terdekat untuk diobati dan diambil specimen tinja untuk diperiksa di laboratorium guna ditentukan jenis virus penularan penyakitnya. "Bayi dan anak yang telah mendapat imunisasi polio lengkap tidak akan tertular penyakit polio. Balita yang belum mendapat imunisasi polio harus segera ke Puskesmas terdekat untuk diberikan imunisasi," katanya.
WHO: WABAH POLIO DI YAMAN KEMUNGKINAN AKIBATKAN 100 ANAK LUMPUH Wabah polio di Yaman kemungkinan telah membuat lebih dari 100 anak menderita kelumpuhan sebelum penyakit itu dapat diatasi perluasannya, demikian menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Rabu. Seorang pejabat Kementerian Kesehatan Yaman mengatakan di ibukota Sanaa awal pekan ini, jumlah anak-anak yang didiagnosa menderita penyakit lumpuh layu (polio) itu telah meningkat menjadi 40 orang, hampir dua kali lipat dari kasus sebelumnya sebanyak 22 kasus seperti dikonfirmasi WHO pada akhir April lalu. Namun WHO menyatakan lebih banyak orang yang diduga menderita polio tengah diselidiki. "Kami memperkirakan jumlah para penderita polio itu akan bertambah menjadi lebih dari 100 orang sebelum wabah itu dapat diatasi," ujar jurubicara WHO Oliver Rosenbauer kepada Reuters. Penyakit tersebut, yang sebagian besar menjangkiti anak-anak di bawah usia lima tahun, menyebabkan kelumpuhan permanen. Angka imunisasi yang rendah di kalangan anak-anak di Yaman, yang terakhir dilaporkan terjadi tahun 1996, telah membantu penyebaran virus itu, demikian menurut WHO. Satu kampanye imunisasi nasional direncanakan dalam pertengahan kedua Mei. Dana Kanak-Kanak PBB (UNICEF) mengirim enam juta dosis vaksin oral polio, yang akan tiba di negara itu pada pekan depan, demikian menurut jubir WHO itu. "Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa dengan imunisasi yang cepat dan berkualitas tinggi, wabah sporadis penyakit itu dapat dikendalikan," ujar Rosenbauer disiarkan QNA. Yaman merupakan negara bebas-polio kelimabelas namun penyakit itu muncul kembali dalam dua tahun terakhir ini, termasuk 13 negara Afrika.
EVAKUASI TIGA KORBAN POLIO KE RSHS BANDUNG DIWARNAI KETEGANGAN Tiga orang korban virus polio liar dari Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Senin (9/5) sore tiba di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung setelah proses evakuasi ketiga penderita itu sempat diwarnai ketegangan karena aparat Pemkab setempat menghalangi-halangi proses evakuasi tersebut. Ketiga orang korban virus polio liar tersebut, yakni, Siti Fitria (7 tahun), M Luthfi (8 bulan) dan Ismail (3 tahun), selanjutnya ketiga orang tersebut langsung dirawat di ruang khusus perawatan untuk anak-anak No.A2. Dikatakan, proses evakuasi ini sendiri berjalan molor atau di luar jadwal semula yang sebelumnya direncanakan tiba di RSHS Bandung pukul 13.00 WIB namun tiba terlambat pukul 17.30 WIB akibat adanya aksi menghalangi oleh pemerintah setempat. Anggota LBH Kesehatan Royke Bagalatu, mengatakan, sebenarnya korban virus liar yang akan dievakuasi ke RSHS Bandung itu sebanyak tujuh orang namun akibat petugas keamanan serta aparat setempat melarang, sehingga hanya tiga orang yang bisa dievakuasi untuk dirawat di RSHS Bandung. "Kami hanya bisa membawa tiga orang korban virus polio sedangkan empat orang lagi hendak dibawa dihalang-halangi oleh aparat keamanan," tegasnya. Royke menyebutkan, petugas keamanan atau aparat Pemkab setempat tidak boleh mengevakuasi ketiga orang Balita itu, tidak jelas alasannya, dan kabarnya terkait dengan akan datangnya Menteri Kesehatan. Sebenarnya juga, LBH Kesehatan akan mengevakuasi 41 orang lainnya yang terkena gejala virus polio liar, namun kami hanya akan mengevakuasi tujuh orang anak yang positif terkena virus polio liar. "Tentunya kami akan melaporkan kepada pihak kepolisian atas sikap pemerintahan setempat yang mencoba menghalang-halangi proses evakuasi ini," tegasnya. Pasalnya, menurut dia, langkah isolasi terhadap korban yang terkena virus polio liar tersebut, harus dilakukan karena mengingat virus ini dapat menyebar terutama ke daerah lainnya. "Upaya isolasi mau tidak mau harus dilakukan guna mencegah terjadinya penyebaran terhadap virus tersebut ke anak-anak lainnya," tandasnya. Terlebih lagi, LBH Kesehatan merasa kecewa atas sikap pemerintah yang tidak pernah memberikan kejelasan tentang virus polio tersebut kepada masyarakat karena hanya memberikan polemik asal virus yang dikatakan dari Arab Saudi atau negara-negara Afrika. Sementara itu, Direktur RSHS Bandung Prof Dr dr Cissy Rachiana Sudjana membenarkan akan datangnya pasien korban virus polio liar dari Sukabumi yang direncanakan tiba di RSHS Bandung pada hari Senin (9/5) siang.
LBH KESEHATAN BAWA ENAM ANAK SUKABUMI KORBAN VIRUS POLIO Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kesehatan Jakarta, membawa enam dari 20 anak korban serangan virus polio di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, ke RS Hasan Sadikin Bandung, untuk dirawat secara intensif. "Senin pagi tadi sekitar pukul 08.00 WIB telah kami bawa enam anak dari 20 anak Sukabumi yang terserang virus polio untuk dirawat intensif di RS Hasan Sadikin Bandung," kata Direktur Pendiri LBH Kesehatan, Iskandar Sitorus yang menghubungi ANTARA Jambi via telepon dari Bandung, Senin. Menurut dia, virus polio yang menyerang anak balita rata-rata usia dua tahun itu di bawa ke RS Hasan Sadikin setelah pihaknya melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat dan pemerintah pusat. LBH Kesehatan yang menurunkan tim ke Sukabumi untuk melakukan penelitian dan membantu para korban, mendesak pemerintah untuk membasmi serangan virus polio yang melumpuhkan anak-anak balita. itu. Ia menjelaskan, tidak menutup kemungkinan serangan virus polio akan terus menyebar di daerah itu, bila penanganannya terlambat. Semenatara dilaporkan, jumlah penderita polio di Kabupaten Sukabumi terus bertambah dengan area temuan yang semakin meluas. Hasil penelitian sementara Tim dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dinas Kesehatan Jabar beserta petugas Puskesmas setempat, Kamis (5/5) diperoleh informasi penderita polio ternyata tidak hanya ditemukan di Kecamatan Cidahu, tetapi sudah merambah ke Kecamatan Bojonggenteng dan Kecamatan Cicurug. Sedikitnya sudah lebih dari 10 orang yang positif terkena virus penyakit lumpuh layu itu. Lima diantaranya terjangkit virus P1 patogen yang dikatagorikan sebagai virus polio liar. Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi terus melakukan pantauan terhadap serangan virus tersebut. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, dr Buhono Thahadibrata M.Kes, mengatakan, untuk memastikan berapa jumlah sebenarnya penderita polio , masih harus menunggu hasil laboratorium WHO. Beberapa korban yang baru ditemukan terdapat di Desa Cipanengah Kecamatan Bojonggenteng dan Desa Cisaat Kecamatan Cicurug. "Untuk mencegah semakin meluasnya virus liar tersebut dalam kurun sepuluh hari ini, pemerintah daerah telah melakukan vaksinasi di ketiga kecamatan itu. Sedikitnya 4.048 anak sudah mendapatkan vaksinasi polio," kata Buhono.
RS PEMERINTAH HARUS LAYANI GRATIS VAKSINASI POLIO Pemerintah menetapkan pelayanan vaksinasi polio secara gratis bagi anak usia 0-59 bulan (balita) di rumah sakit (RS) pemerintah se-Indonesia, mulai Mei 2005, kata Menko Kesra Alwi Shihab. "Menkes Siti Fadilah Supari telah mengeluarkan surat pelayanan gratis vaksinasi polio bagi balita se-Indonesia, menyusul penemuan 15 balita di Sukambumi yang menderita sakit lumpuh," katanya di Yogayakarta, Sabtu. Seusai menyaksikan pemberian imunisasi polio dan kartu askes gratis penduduk miskin di Puskemas Tegalrejo, Yogyakarta, Alwi minta masyarakat melaporkan ke Depkes jika mengetahui RS pemerintah memungut biaya imunisasi polio. Alwi menegaskan, kejadian luar biasa (KLB) penyakit polio akibat virus polio liar yang menimpa tiga balita di Sukabumi, Jabar tidak akan meluas ke daerah lain, karena hampir seluruh balita di Indonesia telah diimunisasi polio secara rutin. Pada kesempatan terpisah ,Menkes Siti Fadilah Supari mengatakan, tiga balita terkena virus polio liar di Sukabumi, Jabar, akhir April 2005 karena belum mendapatkan imunisasi polio. Depkes bekerja sama tim Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) telah menemukan 15 kasus sakit lumpuh layuh(lemah) di Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jabar, April 2005 yang terbagi atas tiga kasus positif karena virus polio liar, satu negatif, satu menunggu konfirmasi dan 10 kasus menunggu pemeriksaan labaratorium Biofarma di Bandung. Tim Depkes dan WHO juga telah melakukan imunisasi polio bagi sekitar 4.000 balita di dua kecamatan di Sukabumi, pada 24 - 27 April 2005 agar tidak tertular virus polio dari tiga balita di daerah itu. Balita di Sukabumi tertular virus polio liar diduga berasal sejumlah warga yang bepergian Arab Saudi yang membawa virus polio karena di Arab Saudi ditemukan lima anak dari Negeria dan satu dari Sudan menderita lumpuh layuh akibat virus polio. Menkes menyatakan, untuk memutus rantai penularan virus polio dari Afrika itu, pemerintah akan melaksanakan imunisasi polio gratis bagi sekitar 5,2 juta anak balita di Banten, DKI dan Jabar pada 31 Mei dan 28 Juni 2005. Biaya untuk pelaksanaan imunisasi di tiga provinsi mencapai Rp17,5 miliar terbagi Rp8,5 miliar untuk pembelian vaksin polio dari APBN dan dan Rp9 miliar untuk biaya operasional dari bantuan luar negeri. Dia menambahkan, masih terdapat enam negara di seluruh dunia yang endemis polio, yakni India, Sudan, Nigeria, Afghanistan, Mesir dan Pakistan, tetapi pada awal 2005, beberapa negara yang sudah bebas polio seperti Chad dan Yaman terserang kembali oleh virus polio yang berasal dari negera endemis polio.
KASUS POLIO DI INDONESIAN JADI PERHATIAN PERS AMERIKA Ditemukannya kasus penyakit polio di Indonesia mendapat sorotan dari sejumlah media massa di Amerika Serikat dalam sepekan terakhir ini. Beberapa media terkemuka AS seperti The New York Times, LA Times dan Boston Globe antara lain menulis bahwa virus polio di Indonesia yang diperkirakan berasal dari Afrika, menunjukkan betapa wabah tersebut makin meluas di dunia. Apalagi kasus terebut muncul ketika WHO sedang giat-giatnya melakukan kampanye vaksinasi polio dan di Indonesia sejak 1995 tidak pernah ditemukan kasus polio. "Kasus polio terakhir di Indonesia terjadi tahun 1995, kini negara muslim itu menjadi negara ke-16 yang terkena wabah tersebut," tulis The New York Times. Surat kabar tersebut juga menulis bahwa upaya memerangi polio di dunia ternyata belum selesai. Padahal organisasi kesehatan dunia (WHO) pernah mencanangkan target bebas polio sebelum tahun 2008 mendatang. Surat kabar Boston Globe dalam edisi on-line juga menyorot mengenai makin jauhnya "perjalanan" virus polio tersebut dari Nigeria hingga ke Indonesia. Disebutkan pula bahwa virus polio tersebut mulai menyebar lagi pada dua tahun lalu karena ada penghentian vaksinasi di Nigeria. Sementara itu pejabat bidang informasi perwakitan tetap Nigeria untuk PBB, Okon Isong menyayangkan pemberitaan pers barat yang cenderung menyalahkan negaranya dalam kasus penyebaran polio tersebut. "Pemberitaan persrat tampak menyalahkan Pemerintah Nigeria atas masalh penyeberan polio tersebut," katanya kepada ANTARA di New York, Jumat. Ia menjelaskan, penghentian sementara vaksinasi pada dua tahun lalu itu hanya terjadi di negara bagian Kano, utara Nigeria, karena ada keraguan masyarakat atas vaksin yang diproduksi suatu perusahaan farmasi. "Kebijakan itu sendiri diluar wewenang pemerintah pusat," kata Okon Isong. Dia juga menyatakan tidak yakin bahwa kasus di Nigeria itu menjadi satu-satunya penyebab penyebaran virus polio tersebut.(*)
VIRUS POLIO DI SUKABUMI DIPERKIRAKAN DARI ARAB SAUDI Dinas Kesehatan Jawa Barat memperkirakan virus polio yang menyerang sejumlah anak di Kabupaten Sukabumi berasal dari Arab Saudi sebagaimana hasil penelitian organisasi kesehatan dunia WHO bahwa karakteristik virus polio di dua tempat itu sama. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Yudi Prayudha di Bandung, Jumat, mengatakan, virus polio yang sifat penyebarannya tanpa batas, bisa saja dibawa oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang baru pulang dari Arab Saudi atau dari mereka yang usai pergi haji atau umroh. Selain itu kehadirannya diduga terkait dengan banyaknya orang yang keluar masuk Desa Girijaya Sukabumi, seperti yang datang dari Jakarta dan Jawa Tengah. Yudi menyebutkan, WHO tidak pernah menyatakan suatu negara bebas dari penyakit polio, kecuali berdasarkan luasan regional, seperti Indonesia masuk dalam regional Asia Selatan, dan untuk regional Asia Selatan ditargetkan bebas polio tahun 2008. WHO sendiri melakukan upaya untuk mencari anak-anak yang mengalami `lumpuh layu` akibat terkena virus polio dengan asumsi dari 100 ribu anak yang diperiksa satu orang di antaranya mengalami lumpuh layu. Di Jabar sendiri pencarian dilakukan dengan menggunakan hitungan 1,3 yang artinya satu anak dapat jalan dan dua anak mengalami lumpuh layu, sedangkan sampai tahun 2005 tercatat terdapat 100 ribu anak mengalami lumpuh. Namun persoalannya dari ke-100 ribu anak yang mengalami kelumpuhan itu tidak seluruhnya diakibatkan oleh virus polio, sehingga dugaan serangan virus polio kepada seorang anak harus diteliti lagi melalui laboratorium, seperti meneliti tinja anak yang bersangkutan. Keberadaan virus polio itu sendiri bersifat tidak terbatas seperti penyebarannya tidak hanya terbatas di Kabupaten Sukabumi saja, namun juga dapat terjadi di daerah lainnya. "Hingga kewaspadaan akan kehadiran virus tersebut harus ditingkatkan seperti dengan cara melakukan imunisasi polio," tandasnya. Diungkapkan, pemberian imuniasi polio sendiri di wilayah Jabar sudah rutin dilakukan, sementara adanya korban apakah sudah diimunisasi atau belum, kejelasannya belum diketahui.
PT. BIO FARMA SIAP KURANGI EKPOR VAKSIN POLIO PT Bio Farma siap mengurangi ekspor vaksin polio dalam upaya memenuhi persediaan vaksin di dalam negeri seiring terjadinya serangan virus polio pada sejumlah anak di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. "PT Bio Farma siap mengurangi ekspor vaksin polio terutama ke negara berkembang seperti India," ungkap Kahumas PT Bio Farma Elvyn Fajrul Jaya Saputra di Bandung, Jum`at. Menurut Elvyn, pengurangan ekspor vaksin itu sendiri terkait dengan permintaan di dalam negeri terhadap vaksin tersebut yang meningkat setelah kehadiran virus polio di Kabupaten Sukabumi. Sebenarnya, ia menyebutkan, PT Bio Farma sendiri dalam memproduksi vaksin polio sudah disesuaikan dengan kebutuhan balita di dalam negeri, yakni untuk sebanyak 45 juta balita per tahun. Oleh karena itu, menurut dia, tidak benar bilamana ada pandangan bahwa PT Bio Farma dalam memproduksi vaksin polio tidak sesuai dengan kebutuhan di dalam negeri. "PT Bio Farma siap kalau pemerintah meminta tambahan vaksin polio tersebut," tandasnya. Sementara itu Kasubdin Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Jabar, Fatimah Resmiyati mengatakan, PT Bio Farma akan menyiapkan 12 juta dosis vaksin polio untuk pelaksanaan imunisasi massal di tiga propinsi. Ketiga propinsi tersebut adalah Propinsi Banten, Propinsi Jawa Barat dan Propinsi DKI Jakarta yang akan dilakukan pada akhir Mei 2005 dan akhir Juni 2005. Di bagian lain, ia menyebutkan, akibat keberadaan virus polio yang positif menyerang lima anak di Kabupaten Sukabumi, maka pemerintah telah menetapkan statusnya Keadaan Luar Biasa (KLB). Sedangkan total kasus `Accute Flaccid Paralysis` (AFP) selama periode 1 Januari sampai 5 Mei 2005 sebanyak 18 kasus, dan yang positif terkena berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen tinja di Laboratorium Bio Farma sebanyak lima orang. Pemberian imunisasi polio pada putaran pertama dilakukan dari tanggal 24 April sampai 28 April 2005 di empat desa di Kabupaten Sukabumi, yakni terhadap 3.960 balita di daerah itu.(*)
LIMA WARGA DI KABUPATEN KEDIRI TERDETEKSI MENDERITA POLIO Sedikitnya lima orang warga di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, terdeteksi penyakit polio selama satu tahun terakhir ini. Kepala Bagian Humas Pemkab Kediri, Sigit Rahardjo, Jumat, mengemukakan bahwa selama tahun 2005 ini baru ditemukan satu orang penderita, sedang pada tahun 2004 lalu tercatat 4 orang penderita. Menurut Sigit, penderita atas nama Fenny Nurdina (12) anak dari Santun Luhur, warga Desa Selosari, Kecamatan Kandat diketahui menderita polio pada 24 April lalu. "Saat dibawa ke Puskesmas Blabak, Fenny menderita kelumpuhan dengan diagnosa myelitis," tandas Sigit menirukan staf Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri. Sementara empat penderita lainnya terdeteksi sejak bulan April hingga Agustus 2004 lalu. Keempat penderita itu adalah Rizki Aprilia (7,9) warga Bangsongan, Pagu mengalami kelumpuhan pada 21 April 2004, Siti Masruroh (8,4), warga Blabak, Kandat, mengalami kelumpuhan 27 April 2004, Uut Lestari (3), warga Batuaji, Ringinrejo, lumpuh pada 28 April 2004 dan Kinanti Krinaningtyas (10), warga Sambiresik, Gampengrejo mengalami kelumpuhan pada 18 Agustus 2004 lalu. Namun demikian, Sigit menyatakan bahwa penyakit yang diakibatkan oleh virus dan mulai diketahui setelah sempat reda selama sepuluh tahun terakhir ini kasus di Kabupaten Kediri belum termasuk kejadian luar biasa (KLB). Menurut dia, selama ini petugas kesehatan di Kabupaten Kediri telah melakukan tindakan preventif atas penyebaran penyakit polio yang konon penyebaran virusnya berawal dari kawasan Laut Merah. Untuk imunisasi polio I petugas kesehatan di Kabupaten Kediri telah melakukan terhadap 27.472 bayi, atau mencapai 105,29 persen dari target yang ditetapkan. Sedang imunisasi polio II telah diberikan kepada 25.924 bayi atau 99,36 persen dari jumlah bayi lahir dan untuk imunisasi polio III dan IV masing-masing 25.512 bayi dan 25.402 bayi.
5,2 JUTA BALITA DI BANTEN, DKI, JABAR DIIMUNISASI CEGAH POLIO Sekitar 5,2 juta anak usia 0-59 bulan (balita) di Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jabar wajib mengikuti imunisasi polio pada 31 Mei dan 28 Juni 2005 menyusul ditemukan tiga balita menderita lumpuh layuh karena virus polio di Sukabumi, kata Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari. "Depkes bekerjasama dengan tim dari Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) telah menemukan 15 kasus sakit lumpuh layuh di Kecamatan Cidahu, Sukabumi, Jabar, terdiri atas tiga kasus positif sakit karena virus polio liar, satu negatif, satu menunggu konfirmasi kejelasan virus dan 10 kasus menunggu pemeriksaan labaratorium Biofarma di Bandung," katanya di Jakarta, Jumat. Menkes minta seluruh orang tua di tiga provinsi itu yang memiliki anak balita untuk membawa ke pos imunisasi di RT/RW terdekat agar mendapatkan imunisasi polio secara gratis yang diteteskan pada mulutnya sehingga terhindar dari kemungkinan penularan virus polio liar. Menurut Menkes, hasil kepastian tiga balita menderita lumpuh layuh yang disertai gejala panas, pusing kepala, muntah dan lumpuh itu setelah contoh tinja mereka diperiksa di Laboaratorim Mumbai, India, akhir April 2005. "Tim Depkes dan WHO juga telah melakukan imunisasi polio bagi sekitar 4.000 balita di Sukabumi pada 24 - 27 April 2005 agar tidak tertular viruspolio dari tiga balita di daerah itu," katanya. "Depkes bekerjasama dengan tim dari Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) telah menemukan 15 kasus sakit lumpuh layuh di Kecamatan Cidahu, Sukabumi, Jabar, terdiri atas tiga kasus positif sakit karena virus polio liar, satu negatif, satu menunggu konfirmasi kejelasan virus dan 10 kasus menunggu pemeriksaan labaratorium Biofarma di Bandung," kata Menkes Siti Fadilah Supari. Menkes menegaskan, penyakit lumpuh layuh (lemas pada persendian kaki) yang menyerupai polio tidak hanya disebab virus polio, tapi penyakit lain seperti polyuneuropathy. "Masyarakat tidak perlu panik, karena bayi dan anak yang telah mendapat imunisasi polio lengkap tidak akan tertular penyakit polio. Balita yang belum mendapat imunisasi polio harus segera ke Puskemas terdekat untuk diberikan imunisasi," katanya. Menkes menambahkan, virus polio liar tidak pernah lagi ditemukan di Indonesia sejak tahun 1995, namun untuk menghapus virus polio liar dari bumi Indonesia, Depkes telah menyelenggarakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) polio pada 1995, 1996, 1997 dan diulang pada 2002 yang diikuti 90 persen balita. Menurut Menkes, masih terdapat enam negara di seluruh dunia yang endemis polio, yakni India, Sudan, Nigeria, Afghanistan, Mesir dan Pakistan, tetapi pada awal 2005, beberapa negara yang sudah bebas polio seperti Chad dan Yaman terserang kembali oleh virus polio yang berasal dari negera endemis polio.
Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPMPL) Depkes Umar Fahmi Achmadi mengatakan, balita di Sukabumi tertular virus polio liar diduga berasal dari jamaah haji RI yang membawa virus polio karena di Arab Saudi ditemukan lima anak dari Negeria dan satu dari Sudan menderita lumpuh layuh. PENYEBARAN VIRUS POLIO DI SUKABUMI KARENA VAKSINASI TIDAK TUNTAS Semakin meluasnya serangan virus polio di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, terjadi karena vaksinasi yang dilakukan selama ini tidak tuntas, sementara penyebaran virus ini sulit dideteksi bila penderita tidak mendapatkan pengawasan memadai. "Selama ini yang dilakukan pemerintah nampaknya hanya jargon untuk memberikan `image` kepada dunia bahwa kita sudah bebas polio. Padahal dengan percepatan jumlah penduduk yang cukup besar realitasnya sangat sulit untuk dikatakan bebas polio," kata anggota DPRD Propinsi Jawa Barat, dr Anwar Turjana, kepada ANTARA di Sukabumi, Jum`at. Menurut Anwar yang juga mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi itu, dirinya saat menjabat Kepala Dinas Kabupaten Sukabumi sempat mengusulkan kepada Depatemen Kesehatan agar vaksinasi polio tetap dilakukan meskipun Indonesia sudah masuk katagori bebas polio. "Sekarang kan terbukti, bahwa Indonesia khususnya Kabupaten Sukabumi belum bebas polio," katanya. Ia menawarkan kepada pemerintah untuk kembali menggalakan pekan imunisasi nasional (PIN) di beberapa daerah yang rawan penyebaran virus polio. "Kita harus segera melakukan kerja besar untuk memerangi menjangkit lebih hebatnya virus tersebut, beberapa daerah yang sudah terdeteksi hendaknya segera diupayakan vaksinasi, " katanya. Berdasarkan pantauan ANTARA di lapangan jumlah penderita polio di Kabupaten Sukabumi terus bertambah dengan area temuan yang semakin meluas. Hasil penelitian sementara Tim dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dinas Kesehatan Jabar beserta petugas Puskesmas setempat , Kamis (5/5) , diperoleh informasi penderita polio ternyata tidak hanya ditemukan di Kecamatan Cidahu, tetapi sudah merambah ke Kecamatan Bojonggenteng dan Kecamatan Cicurug. Sedikitnya sudah lebih dari 10 orang yang positif terkena virus penyakit lumpuh layu itu. Lima diantaranya terjangkit virus P1 patogen yang dikatagorikan sebagai virus polio liar. Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi terus melakukan pantauan terhadap serangan virus tersebut. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, dr Buhono Thahadibrata M.Kes, mengatakan untuk memastikan berapa jumlah sebenarnya penderita polio , masih harus menunggu hasil laboratorium WHO.
Beberapa korban yang baru ditemukan terdapat di Desa Cipanengah Kecamatan Bojonggenteng dan Desa Cisaat Kecamatan Cicurug. "Untuk mencegah semakin meluasnya virus liar tersebut dalam kurun waktu sepuluh hari ini, pemerintah daerah telah melakukan vaksinasi di ketiga kecamatan itu. Sedikitnya 4.048 anak sudah mendapatkan vaksinasi polio," kata Buhono.
AUSTRALIA SUMBANG 1 JUTA DOLAR ATASI POLIO Pemerintah Australia akan memberikan sumbangan kepada Indonesia sebesar satu juta dolar Australia untuk membantu pencegahan penularan penyakit polio yang kini muncul di Sukabumi, Jawa Barat. Siaran pers yang diterima ANTARA dari Kedubes Australia di Jakarta, Kamis, menyebutkan bahwa sumbangan tersebut diumumkan Sekretaris Parlemen Urusan Luar Negeri dan Perdagangan Australia Bruce Billson, hari ini. Sumbangan tersebut diberikan melalui AusAID untuk mendukung biaya operasional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam pemberian vaksin. "Kami juga bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dan UNICEF (Badan PBB yang menangani masalah anak-anak) untuk menanggapi kemunculan penyakit polio tersebut," katanya. Billson mengatakan, bantuan tersebut akan membiayai setengah dari perkiraan dana kampanye imunisasi. "Kami juga telah menawarkan keahlian kami dalam bidang logistik imunisasi massal kepada WHO di Jakarta," katanya. Menurut dia, melalui aksi cepat Indonesia, pejabat WHO dan UNICEF anak-anak di empat desa yang berdekatan dengan kemunculan penyakit polio yang dianggap tidak ada lagi di Indonesia sejak 1995 itu telah menerima vaksinasi polio. Australia, katanya, telah mendukung kampanye imunisasi di Indonesia selama bertahun-tahun dan sejak 1995 lebih dari 2,5 juta dolar Australia telah disumbangkan untuk vaksinasi massal anak-anak di berbagai provinsi di Indonesia.
WHO TEMUKAN KASUS POLIO PERTAMA DI INDONESIA SEJAK 1955 Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO) menemukan kasus polio pertama di Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir ini sejak 1955. Siaran pers yang diterima ANTARA di Jakarta, Rabu menyebutkan, kasus tersebut ditemukan di Jawa Barat dan menurut Christine McNab dari WHO, kasus serupa juga ditemukan di Jenewa, dimana anak berumur 18 tahun terinfeksi virus polio, virus yang baru-baru ini mewabah di Afrika Barat. Dikatakannya, setelah mengamati rangkaian genetika dari kasus di Indonesia, WHO yakin virus tersebut entah bagaimana berhasil masuk Indonesia melalui Laut Merah dimana kasus serupa juga dilaporkan dari Arab Saudi dan Sudan. Oleh karena itu, katanya, untuk mencegah infeksi yang berkelanjutan, maka negara harus memperkuat sistem pengawasan terhadap polio dan ketika virus itu terdeteksi langkah vaksinasi harus dilakukan dengan segera terhadap anak dibawah lima tahun. "Hal ini sudah terjadi di Indonesia dan lima juta anak menjadi sasaran di kawasan yang lebih luas," katanya. WHO bersama negara-negara lain, kata dia, perlu melanjutkan pemantauan lebih dekat terhadap cadangan virus polio seperti di Nigeria, India, dimana virus berasal. WHO juga menilai perlu menggalang dana 50 juta dolar AS antara saat ini hingga akhir Juli 2005 untuk melakukan kampanye vaksinasi polio bagi anak di wilayah tersebut serta dibutuhkan dana tambahan untuk kegiatan yang sama sekitar 200 juta dolar tahun depan. Polio adalah virus yang berkembang biak di air dan banyak menyerang anak-anak. Penyakit ini sangat mematikan bagi beberapa korbannya karena membuat sebagian tubuhnya lumpuh atau bahkan lumpuh total.
PBB IMBAU INDONESIA WASPADA SETELAH POLIO DITEMUKAN LAGI Badan PBB untuk kesehatan dunia (WHO) hari Selasa mengimbau pemerintah Indonesia dan negara-negara lainnya di dunia agar waspada dan segera mengambil langkah dalam menghadapi penyebaran virus polio, menyusul ditemukannya lagi penyakit tersebut di Jawa Barat baru-baru ini. "Kunci untuk menghindari penyebaran lebih lanjut adalah memastikan bahwa tiap negara telah memperkuat sistem pemantau atas kasus itu. Begitu virus terdeteksi, maka perlu segera dilakukan vaksinasi pada anak-anak balita," kata seorang pejabat WHO, Christine McNab, yang dipublikasikan di New York, Selasa. Upaya itu sendiri sudah dilaksanakan di Indonesia dengan target sekitar lima juta anak dalam lingkup kawasan yang lebih luas. Namun, tambahnya, WHO dan pemerintah tiap negara perlu terus memantau lebih dseksama atas tempat-tempat yang menjadi sarang virus polio, terutama di India dan Nigera. WHO yang bermarkas di Genewa telah memastikan terjadinya lagi kasus polio pertama di Indonesia sejak 1995. Kasus itu ditemukan di Sukabumi, Jawa Barat, yakni atas seorang anak berusia 18 bulan yang belum divaksinasi. Ia terinfeksi suatu jenis virus polio yang sama dengan yang saat ini menyebar di Afrika Barat. Virus polio itu menyebar di Afrika Barat setelah kampanye vaksinasi dihentikan di Nigeria. Virus polio umumnya menyerang anak-anak serta bisa menyebabkan kematian atau kelumpuhan.
McNab mengatakan, setelah melihat genetika dari virus di Indonesia, peneliti WHO yakin bahwa virus itu masuk ke Indonesia melalui kawasan Laut Merah, tempat kasus polio dikabarkan terjadi di Arab Saudi dan Sudan. WHO saat ini hingga akhir Juli mendatang memerlukan dana sekitar 50 juta dolar AS untuk vaksinasi polio bagi anak-anak di kedua negara. Untuk vaksinasi di tahun 2006 mendatang, WHO memerlukan sekitar 200 juta dolar AS.
BALITA DI BANTEN, DKI, JABAR WAJIB IMUNISASI POLIO PADA 2005 Seluruh anak di bawah usia lima tahun (balita) di Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat (Jabar) wajib mengikuti imunisasi polio selama 2005 menyusul ditemukan enam kasus sakit lumpuh layuh pada balita di Sukabumi, Jabar diduga karena virus polio. "Depkes bekerjasama dengan tim dari Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) telah menyelidiki laporan bahwa enam balita menderita kasus lumpuh pada 24 - 27 April 2005 dan memberikan imunisasi polio di Sukabumi," kata Menkes Siti Fadilah Supari di Jakarta, Sabtu. Untuk memastikan penyakit lumpuh layuh keenam balita itu berasal dari virus polio, maka Depkes bekerjasama dengan WHO dan Unicef (badan PBB urusan anak-anak) mengirimkan contoh darah dan tinja untuk diteliti ke laboraorium polio internasional di Mumbai, India. Menkes berharap, pemda dan masyarakat di seluruh Indonesia agar meningkatkan kewaspadaan khususnya melaporkan ke pelayanan kesehatan terdekat jika menemukan anak menderita penyakit lumpuh layuh. Untuk mencegah kemungkinan kasus lumpuh layuh di Sukabumi menular ke daerah sekitar, maka Depkes memberikan imunisasi polio sebanyak dua kali bagi balita di Jabar, DKI dan Banten pada 2005 untuk meningkatkan kekebalan tubuh dari serangan polio liar. "Seluruh anak usia kurang dari setahun di seluruh Indonesia juga diberikan imunisasi polio secara rutin setiap tahun untuk mencegah penularan virus polio liar yang dapat mengakibatkan penyakit lumpuh," kata Menkes. Menkes menambahkan, virus polio liar tidak pernah lagi ditemukan di Indonesia sejak tahun 1995, namun untuk menghapus virus polio liar dari bumi Indonesia, Depkes telah menyelenggarakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) polio pada 1995, 1996 dan 1997. "PIN Polio kembali dilaksanakan pada tahun 2002 untuk mempertahankan tingkat kekebalan anak terhadap ancaman virus polio liar. Setiap tahun, sekitar 90 persen bayi di Indonesia mendapatkan imunisasi polio secara rutin," katanya. Menurut Menkes, masih terdapat enam negara di seluruh dunia yang endemis polio, yakni India, Sudan, Nigeria, Afghanistan, Mesir dan Pakistan, tetapi pada awal 2005, beberapa negara yang sudah bebas polio seperti Chad dan Yaman terserang kembali oleh virus polio yang berasal dari negera endemis polio.
Penyakit Polio Mulai Serang Anak di Bekasi
Penyakit polio mulai menyebar di Kota Bekasi. Kemarin, dua orang anak, warga Kelurahan Seroja dan Kelurahan Jatibening, Kota Bekasi, dilaporkan terserang virus polio. Meski fisik keduanya mengalami perubahan, seperti bagian kaki mengecil dan mengalami kelumpuhan, namun Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat masih menyatakan baru tersangka polio. Ditemukannya kedua pasien penyakit polio yang berusia 4,5 tahun dan usia 2,5 tahun itu menutut Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular (P2M), Dinkes Pemkot Bekasi, Krisna Dewayani, setelah pihak posyandu di kedua kelurahan mengadakan program pemeriksaan anak-anak, Jumat (6/5), ''Ada tiga yang ditemukan, tetapi yang satu, warga Kelurahan Kayuringin, sudah dinyatakan negatif virus polio. Yang dua lagi masih tersangka polio, karena untuk kepastiannya harus dilakukan penelitian di laboratorium dulu,'' ujar Krisna, kemarin. Selain itu, tambah Krisna, penyakit polio baru teridentifikasi setelah orang tua si anak menceritakan bahwa belakangan ini anaknya mengalami perubahan suhu tubuh dan panas yang terus menerus. Setelah itu, petugas melakukan penelitian dan pemeriksaan dan hasilnya belum bisa dipastikan apakah positif terkena polio. ''Tapi masih tersangka,'' tandasnya. Berdasarkan data Dinkes, tiap tahun rata-rata ditemukan empat sampai lima kasus tersangka polio di kota ini. Pada 2004 lalu, ditemukan empat kasus. Tahun sebelumnya juga ditemukan empat orang. ''Dari jumlah itu, setelah dilakukan penelitian, mereka tidak sampai polio.'' Menurut Penyakit Krisna, polio memiliki gejala panas, demam, dan mengalami kelumpuhan. Penyebabnya berasal dari virus, biasanya ditularkan melalui kotoran manusia. Masa inkubasi serangan penyakit ini kira-kira satu minggu. ''Penyakit ini rentan menyerang anak sampai usia tiga tahunan,'' jelas Krisna.
Pemeriksaan yang dilakukan terhadap anak-anak di kota ini, lanjutnya, merupakan tindak lanjut dari instruksi Departemen Kesehatan (Depkes) atas penemuan penyakit polio di Sukabumi, Jawa Barat. Dijelaskan, kasus penemuan tersangka polio ini mendapat perhatian khusus dari Tim Medis Dinkes Kota Bekasi. Menindaklanjuti penemuan dua tersangka polio itu, Dinkes pada 31 Mei dan 28 Juni mendatang akan menggelar pelaksanaan pekan imunisasi untuk bayi. Imunisasi massal ini dimaksudkan untuk melakukan langkah pemutusan mata rantai penyebaran virus polio. ''Dilaksanakan di puskesmas, terminal, mal, stasiun kereta api, dan tempat umum lainnya,'' paparnya. Untuk keperluan pekan imunisasi tersebut, kata Krisna, saat ini sedang dipersiapkan sebanyak 1.451 buah pos untuk pelayanan imunisasi. Bagi para kader disiapkan oleh Dinkes Kota Bekasi. Sedangkan untuk vaksin dan biaya operasional kader di lapangan, kemungkinan besar mendapat bantuan langsung dari Depkes
( Dari berbagai sumber )
Penyakit polio mulai menyebar di Kota Bekasi. Kemarin, dua orang anak, warga Kelurahan Seroja dan Kelurahan Jatibening, Kota Bekasi, dilaporkan terserang virus polio. Meski fisik keduanya mengalami perubahan, seperti bagian kaki mengecil dan mengalami kelumpuhan, namun Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat masih menyatakan baru tersangka polio. Ditemukannya kedua pasien penyakit polio yang berusia 4,5 tahun dan usia 2,5 tahun itu menutut Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular (P2M), Dinkes Pemkot Bekasi, Krisna Dewayani, setelah pihak posyandu di kedua kelurahan mengadakan program pemeriksaan anak-anak, Jumat (6/5), ''Ada tiga yang ditemukan, tetapi yang satu, warga Kelurahan Kayuringin, sudah dinyatakan negatif virus polio. Yang dua lagi masih tersangka polio, karena untuk kepastiannya harus dilakukan penelitian di laboratorium dulu,'' ujar Krisna, kemarin. Selain itu, tambah Krisna, penyakit polio baru teridentifikasi setelah orang tua si anak menceritakan bahwa belakangan ini anaknya mengalami perubahan suhu tubuh dan panas yang terus menerus. Setelah itu, petugas melakukan penelitian dan pemeriksaan dan hasilnya belum bisa dipastikan apakah positif terkena polio. ''Tapi masih tersangka,'' tandasnya. Berdasarkan data Dinkes, tiap tahun rata-rata ditemukan empat sampai lima kasus tersangka polio di kota ini. Pada 2004 lalu, ditemukan empat kasus. Tahun sebelumnya juga ditemukan empat orang. ''Dari jumlah itu, setelah dilakukan penelitian, mereka tidak sampai polio.'' Menurut Penyakit Krisna, polio memiliki gejala panas, demam, dan mengalami kelumpuhan. Penyebabnya berasal dari virus, biasanya ditularkan melalui kotoran manusia. Masa inkubasi serangan penyakit ini kira-kira satu minggu. ''Penyakit ini rentan menyerang anak sampai usia tiga tahunan,'' jelas Krisna.
Pemeriksaan yang dilakukan terhadap anak-anak di kota ini, lanjutnya, merupakan tindak lanjut dari instruksi Departemen Kesehatan (Depkes) atas penemuan penyakit polio di Sukabumi, Jawa Barat. Dijelaskan, kasus penemuan tersangka polio ini mendapat perhatian khusus dari Tim Medis Dinkes Kota Bekasi. Menindaklanjuti penemuan dua tersangka polio itu, Dinkes pada 31 Mei dan 28 Juni mendatang akan menggelar pelaksanaan pekan imunisasi untuk bayi. Imunisasi massal ini dimaksudkan untuk melakukan langkah pemutusan mata rantai penyebaran virus polio. ''Dilaksanakan di puskesmas, terminal, mal, stasiun kereta api, dan tempat umum lainnya,'' paparnya. Untuk keperluan pekan imunisasi tersebut, kata Krisna, saat ini sedang dipersiapkan sebanyak 1.451 buah pos untuk pelayanan imunisasi. Bagi para kader disiapkan oleh Dinkes Kota Bekasi. Sedangkan untuk vaksin dan biaya operasional kader di lapangan, kemungkinan besar mendapat bantuan langsung dari Depkes
( Dari berbagai sumber ) Dalam kesempatan itu, Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular Prof. Umar Fahmi Achmadi, mengingatkan kemungkinan meluasnya virus polio ini ke daerah lain. Alasannya, Sukabumi yang menjadi tempat pertama penyebaran virus itu merupakan daerah yang punya kemudahan transportasi antar daerah. Selain itu, penduduk Sukabumi banyak yang bekerja di luar daerahnya. Ia juga membenarkan bahwa di beberapa desa yang terjangkit polio, warganya ada yang bekerja sebagai TKW. "Kalau dari penelitian terhadap polio yang berjangkit di Sukabumi, kelumpuhan itu terjadi pada anak-anak yang belum pernah imunisasi polio. Kita juga menemukan virus polio liar positif. Penularannya sendiri kemungkinan dari jakarta atau jemaah haji, TKI Sukabumi. tapi, kepastian asal virus itu menunggu konfirmasi laboratorium Mumbai," kata Prof. Umar Fahmi Achmadi.
Penularan virus ini bisa berlangsung cepat terutama pada musim hujan. Sebab, virus polio ini bisa hidup selama 100 hari pada musim hujan dan hanya dapat mati dengan penyinaran ultra violet. Pertama kali kasus polio ini ditemukan pada 22 April 2005, menjangkiti bayi laki-laki berusia 20 bulan di Desa Giri Jaya, kec. Cidahu. bayi ini diketahui belum pernah melakukan imunisasi. Lalu, 13 kasus polio lainnya ditemukan di Cidahu dan Cicurug. "Kita sudah mulai melakukan vaksinasi sejak 31 Mei lalu dan periode keduanya akan mulai 28 Juni mendatang. kami juga melakukan pengawasan ketat di seluruh wilayah Indonesia, terutama Jawa, bali, Sumatera Selatan dan Lampung," kata Achmadi.
Hidup Bersih Karena penyebaran virus polio ini melalui tinja, maka Depkes menghimbau semua keluarga Indonesia menjaga kebersihan lebih baik lagi, terutama pada jamban di rumah-rumah mereka. "Bayi dan anak yang sudah di vaksin polio lengkap tidak perlu khawatir karena tidak akan terjangkit. tapi sangat penting untuk waspada dini di semua propinsi. kemarin kita door to door untuk melakukan vaksinasi," demikian menkes Siti Fadillah supari. (Lily Bertha Kartika)
Lumpuh Layuh di Lombok Bukan Polio
Wakil Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dr Gerudug menyatakan, setelah mendapatkan hasil pemeriksaan di laboratorium, ketiga pasien lumpuh layuh atau Acute Falaccid Paralysis (AFP) yang ditemukan di Lombok Tengah bukan karena virus liar polio. "Setelah ketiganya mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Darek dan Mangkung, Lombok Tengah, ketiga orang tersebut sudah membaik dan bisa berjalan normal kembali," katanya kepada wartawan ketika dihubungi dihubungi wartawan di Mataram, Minggu (15/5). Pihaknya setiap tahun secara kontinyu melakukan pemantauan atas kemungkinan masih adanya virus liar polio di NTB. "Setiap tahun Dinkes NTB melakukan pencarian terhadap masyarakat yang terkena lumpuh layuh. Namun yang ditemukan selama ini jauh dari target yang ditetapkan 15 pasien," ujarnya. Dalam beberapa tahun terakhir ini temuan Dinkes NTB terhadap pasien lumpuh layuh relatif kecil. Semua temuan itu bukan akibat virus liar polio.
Untuk tahun ini, katanya, pihaknya baru menemukan lima kasus lumpuh layuh, tiga terdapat di Lombok Tengah, yakni di Dusun Nusa (Desa Pelambek), Dusun Tanggong (Desa Darek) serta Desa Mangkung, semuanya di Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah. "Sedangkan dua kasus lainnya terdapat di Kabupaten Dompu dan Bima," katanya. Ia optimistis bahwa dari hasil pemantauan selama ini NTB masih bebas penyakit akibat virus liar polio. Lima pasien lumpuh layuh yang ditemukan bukan disebabkan oleh virus liar polio. Menurut Antara, di tiga dusun di Lombok Tengah tersebut, ketiga pasien yakni Marzuki Darusman, Mustiwardana dan Fatoni sudah mulai membaik dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Ketika wartawan berkunjung ke rumah mereka, anak-anak tersebut bermain dengan teman-temannya. Berdasarkan keterangan dari orangtua mereka, ketiganya sempat dibawa ke Puskesmas Darek dan Mangkung. Mereka mendapat perawatan dari dokter, dan kesehatan anak-anak itu sudah pulih kembali. Ketiga pasien tersebut terpaksa dibawa ke puskesmas karena sakit perut dan panas serta mengalami kelumpuhan. Namun setelah mendapat perawatan, mereka disuruh kembali karena sakitnya sudah membaik. Para orangtua tersebut mengaku ketika masih bayi mereka tidak mendapat imunisasi lengkap. Lokasi permukiman ketiga pasien tersebut kurang memadai. Misalnya rumah keluarga Mustiwardana di Dusun Nusa, Desa Pelambek yang jaraknya cukup jauh dari Mataram, harus melintasi pematang sawah. Mustiwardana saat dikunjungi wartawan terlihat baru pulang mandi di sungai bersama-sama teman sebayanya. Demikian juga halnya dengan Marzuki Darusman (14). Saat ditemui di rumahnya yang sangat sederhana karena beratap rumbia, ia sedang mengaji. Marzuki sudah tidak merasakan sakit apa-apa lagi, ia sudah bisa melaksanakan aktivitas sehari-hari termasuk mengikuti pengajian di kampungnya. "Memang sepuluh hari lalu saya sakit, saya sulit berjalan", katanya. (Ant/Edj)
Australia Sumbang 1 Juta Dollar untuk Atasi Polio di Indonesia
Pemerintah Australia akan memberikan sumbangan kepada Indonesia sebesar satu juta dollar Australia untuk membantu pencegahan penularan penyakit polio yang kini muncul di Sukabumi, Jawa Barat. Siaran pers Australia di Jakarta, Jumat (6/5), menyebutkan bahwa sumbangan tersebut diumumkan Sekretaris Parlemen Urusan Luar Negeri dan Perdagangan Australia Bruce Billson, hari ini.
Sumbangan tersebut diberikan melalui AusAID untuk mendukung biaya operasional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam pemberian vaksin. "Kami juga bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dan UNICEF (Badan PBB yang menangani masalah anak-anak) untuk menanggapi kemunculan penyakit polio tersebut," katanya. Billson mengatakan, bantuan tersebut akan membiayai setengah dari perkiraan dana kampanye imunisasi. "Kami juga telah menawarkan keahlian kami dalam bidang logistik imunisasi massal kepada WHO di Jakarta," katanya. Menurut dia, melalui aksi cepat Indonesia, pejabat WHO dan UNICEF anak-anak di empat desa yang berdekatan dengan kemunculan penyakit polio yang dianggap tidak ada lagi di Indonesia sejak 1995 itu telah menerima vaksinasi polio. Australia, katanya, telah mendukung kampanye imunisasi di Indonesia selama bertahun-tahun dan sejak 1995 lebih dari 2,5 juta dolar Australia telah disumbangkan untuk vaksinasi massal anak-anak di berbagai provinsi di Indonesia.
Jakarta Siap Hadapi Polio
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menganggarkan Rp 10 miliar untuk mengantisipasi penyebaran virus polio. Anggaran itu dilakukan antara lain untuk imunisasi gratis yang akan dilakukan awal Juni mendatang. Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso di Balaikota, Jakarta, Senin (9/5), mengungkapkan bahwa sampai saat ini virus polio memang belum menyerang bayi-bayi di Jakarta. Namun, letak Jakarta yang dekat dengan Sukabumi -- daerah yang telah ditetapkan menjadi kejadian luar biasa penyakit lumpuh layu (polio) -- dinilai sangat rawan penyebaran virus polio. Sutiyoso mengatakan, anggaran Rp 10 miliar akan diambil dari pos pengeluaran tak terduga Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta 2005. Sutiyoso juga memerintah semua rumah sakit di Jakarta siaga selama 24 jam untuk menerima penderita polio.
Hilangnya Keceriaan Anak-Anak di Kaki Gunung Salak ... FITRI Ramdani (19 bulan) menangis meraung-raung ketika digendong dan dibawa ibunya ke depan rumahnya, di Kampung Cidadap, Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Kamis (5/5).
Sesekali bocah berkulit sawo matang itu membenamkan kepalanya ke dada ibunya. Tangan kanannya berusaha menggapai bagian belakang leher ibunya. Sepasang matanya yang bening tak henti-hentinya meneteskan air mata. Bocah mungil yang siang itu mengenakan baju kaos dipadu celana pendek warna oranye itu kemudian menarik-narik kerah baju Ny Yayat (30), ibu kandungnya, tanda ingin minum ASI. Rengekannya baru berhenti ketika keinginannya untuk minum ASI dituruti sang ibu. Sudah sejak dua bulan terakhir ini Fikri, anak kedua pasangan Mumu dan Yayat ini hanya bisa tergolek lemah di atas ranjang. Sehari-hari ia tak lepas dari gendongan orangtuanya. Bocah yang gemar bermain bola itu tak lagi bisa menggerakkan kakinya untuk bermain bersama teman-teman sebayanya di kampung tempat tinggalnya. Jangankan menendang bola, sekadar berdiri dan berjalan kaki pun ia tak sanggup lagi. Lengan kirinya juga ikut lumpuh. Padahal semula ia bisa berjalan kaki, bahkan berlari, sejak genap berumur setahun. “Setiap kali lihat teman-temannya main bola anak saya selalu nangis, pengen ikut bermain. Kalau sudah gitu, saya jadi suka ikut nangis," tutur Mumu lirih. Kelumpuhan yang diderita Fikri itu berawal ketika ia menderita demam tinggi dua bulan lalu. Setiap kali menangis ia selalu mengalami kejang-kejang, terutama pada bagian kaki. Karena menganggap hanya sakit panas biasa Fikri tidak dibawa ke puskesmas maupun ke dokter oleh kedua orangtuanya itu. Ia hanya diberi obat bebas. Menginjak hari kelima demam, sepasang kaki dan lengan kiri Fikri tidak dapat digerakkan sama sekali. Setelah berbagai pengobatan tradisional tidak membuahkan hasil, Fikri akhirnya dibawa berobat ke dokter anak di Sukabumi. Hasil diagnosis awal menyatakan, bocah malang itu menderita radang otak dan harus dirawat inap di rumah sakit. Namun, saat diperiksa dokter yang berbeda, ia justru dinyatakan sakit thypus. “Kami hanya bisa pasrah. Dari mana uang untuk biaya pengobatan anak kami ini," tutur Mumu. Sebelum anak mereka mengalami kelumpuhan, Yayat bekerja sebagai buruh bangunan di Jakarta dengan upah lebih kurang Rp 175.000 per minggu. Namun, kini Yayat memutuskan berjualan (keliling) es kelapa di Sukabumi dengan penghasilan berkisar Rp 20.000 per hari agar bisa ikut merawat anaknya yang sakit. Kelumpuhan juga dialami belasan anak lainnya di Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Abdul Rozak (6), anak pasangan Matkaseh dan Wulan, misalnya, menderita lumpuh layu pada bagian kakinya sejak dua pekan terakhir ini. Alat vitalnya juga mengalami pembengkakan. “Setahun lalu cucu saya bisa jalan biarpun pincang. Tapi, dua minggu ini cucu saya tidak bisa jalan sama sekali," ungkap Ny Rum (60-an), nenek Rozak. Dede Leni (2,5), warga Kampung Cidadap, bahkan telah menderita lumpuh layu sejak setahun terakhir ini. Bocah perempuan berkulit kuning langsat itu hanya bisa tergolek lemah di atas lantai papan di rumah orangtuanya. Ia sehari-hari digendong orangtua dan saudaranya yang lain secara bergantian lantaran bagian leher dan sepasang kakinya lumpuh. Sebelumnya anak keenam dari delapan bersaudara itu kerap ikut ibunya yang bekerja sebagai buruh tani di sawah. Ia juga dikenal lincah dan suka bermain bersama teman-teman sebaya dan saudaranya di dekat rumahnya. Namun, sejak setahun terakhir ini ia tak dapat bercengkerama lagi dengan teman-temannya akibat mengalami kelumpuhan yang diawali demam tinggi. Hingga kini anak pasangan Udin (40) dan Samsiah itu belum pernah dibawa berobat ke puskesmas terdekat maupun dokter. Karena tidak punya uang untuk berobat, kedua orangtuanya yang bekerja sebagai buruh tani hanya membawa Leni ke paraji (dukun beranak) untuk dipijat dan diberi ramuan tradisional. “Jangankan uang untuk biaya berobat, buat makan saja susah," tutur Udin. Anak-anak yang menderita lumpuh layu itu memang kebanyakan berasal dari keluarga miskin dengan sanitasi lingkungan tempat tinggal yang buruk. Fikri, penderita lumpuh layu, misalnya, tinggal bersama kedua orangtua dan seorang kakaknya di dalam salah satu kamar di rumah kakek dan neneknya. Sejumlah korban lainnya tinggal di dalam rumah beranyaman bambu yang sempit. Kelumpuhan yang diderita anak-anak di Desa Girijaya itu diduga akibat serangan virus polio liar. Berdasarkan hasil uji laboratorium Biofarma di Bandung dan laboratorium rujukan global di Mumbai, India, tercatat lima anak di Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Sukabumi, dinyatakan positif terjangkit virus polio liar. Mereka antara lain, Selvi yang kini dirawat inap di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, dan Fikri Ramdani. Sejauh ini Dinas Kesehatan setempat masih menunggu hasil uji laboratorium belasan anak yang diduga terkena virus polio liar. Sebanyak 126 bayi dan anak di bawah usia lima tahun diperiksa kesehatannya, 14 orang di antaranya menunjukkan gejala lumpuh layu. Pada akhir April lalu Tim Departemen Kesehatan melakukan imunisasi terhadap 4.048 bayi dan balita di Desa Girijaya, Cidahu, dan Tangkil, Kecamatan Cidahu, serta di Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug. Kasus lumpuh layu itu mengejutkan dunia internasional. Pasalnya, sejak sepuluh tahun terakhir Indonesia dinyatakan bebas virus polio liar. “Virus polio liar asal Afrika ini diperkirakan masuk ke Sukabumi dari Jakarta melalui perjalanan darat. Kemungkinan lain, virus itu masuk lewat penduduk yang jadi jemaah haji maupun tenaga kerja Indonesia di Timur Tengah," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi dr Buhono Thahadibrata. Rentannya anak-anak di daerah itu terserang virus polio liar dipicu ketidakpahaman sebagian warga setempat terhadap pentingnya imunisasi sehingga mereka enggan membawa balita ke pos pelayanan terpadu maupun puskesmas terdekat untuk diimunisasi. “Penyebaran virus polio liar ini bisa lewat saluran pernapasan, ludah, maupun kotoran manusia yang terbawa arus sungai," tutur Buhono. Kelumpuhan yang dialami anak-anak di Desa Girijaya itu telah mengoyak ketenangan dan kesejukan di daerah yang terletak di kaki Gunung Salak, Sukabumi, itu. Jika kelumpuhan itu tidak bisa disembuhkan secara total, maka bisa dibayangkan suramnya masa depan anak-anak yang merupakan generasi penerus masyarakat di desa yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai buruh tani itu. Untuk mencapai daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Bogor itu, kita harus melewati jalan aspal yang rusak parah sepanjang lebih kurang tujuh kilometer. Sebagian warga bermukim di daerah perbukitan dan lembah yang dikelilingi areal persawahan serta kebun sayuran sehingga tempat tinggal mereka tidak bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor. Kendati dikenal sebagai daerah subur dan pemasok utama air bersih bagi puluhan industri air minum dalam kemasan, daerah Girijaya dan sejumlah desa lain di Kecamatan Cidahu merupakan salah satu daerah miskin di Kabupaten Sukabumi. Selain menghadapi wabah virus polio liar, masyarakat setempat juga harus bergulat dengan kemelaratan dan memperjuangkan akses pelayanan kesehatan yang memadai.
Amitabh Bachchan dan Keberhasilan Iklan Antipolio Amitabh Bachchan, aktor senior sekaligus produser film India yang lahir di Allahabad (India), 11 Oktober 1942, tengah membuktikan diri untuk menjadi duta besar paling berhasil bagi usaha pemberantasan polio. Minggu-minggu lalu para orangtua di seluruh India pergi ke pos-pos pelayanan terdekat untuk memberi anak-anak mereka dua tetes vaksin antipolio. Sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa mereka telah diyakinkan oleh iklan layanan masyarakat mengenai pemberantasan polio, yang dibawakan oleh Bachchan, di televisi dan radio. "Sampai 70 persen dari orang-orang yang datang ke pos-pos pelayanan itu mengakui bahwa Amitabh Bachchan telah menjadi pendorong utama (untuk memperoleh vaksin antipolio)," kata Brent Burkholder, penasihat regional WHO (World Health Organization) bidang pengembangan imunisasi dan vaksin untuk Asia Selatan dan Timur. Adalah betul-betul mengejutkan, hampir 165 juta anak dalam sehari berhasil dijangkau dalam usaha pemberantasan polio tersebut.
Penderita Lumpuh Layuh di Bondowoso Tercatat Lima Orang
Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, menyatakan jumlah penderita lumpuh layuh atau atau accute flaccid paralysis (AFP) hingga Mei 2005 mencapai lima orang atau meningkat drastis dibanding 2004 yang hanya tercatat dua orang. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, dr Agus Suwarjito, Jumat (13/5), menjelaskan sampai saat ini Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, baru berhasil mengidentifikasi empat dari lima penderita lumpuh layuh. Agus menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian terhadap tinja empat orang penderita lumpuh layuh tersebut, ternyata bukan disebabkan virus polio, tetapi diakibatkan gangguan saraf atau penyakit lainnya seperti jantung dan paru-paru. "Ada peningkatan jumlah korban itu, karena Dinas Kesehatan setempat semakin aktif melakukan sosialisasi dan mencari anak di bawah 15 tahun yang diketahui penderita AFP," ujar Agus. Sementara, keempat penderita lumpuh layuh di Kabupaten Bondowoso, antara lain Suri (10) warga Desa Gadingsari, Kecamatan Binakal; Muamar Qadafi (9) warga Desa Walidono, Kecamatan Prajekan; Nursi (3,5), warga Desa Gadingsari, Kecamatan Pakem; dan Yeni Septiani Safitri (12) warga Kelurahan Dabasah, Kecamatan Kota. Sementara Arman Maulana (3,5), warga Kelurahan Dabasah, Kecamatan Kota hingga kini masih menjalani perawatan intensif. Bahkan Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, sampai saat ini masih menunggu hasil penelitian terhadap tinja balita tersebut. Yeni Septiani Safitri (12), salah seorang penderita penyakit lumpuh layuh yang sebelumnya sempat dinyatakan sembuh, kini terpaksa dirujuk kembali ke rumah sakit umum di wilayah setempat. Karena, menurut petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, kondisi pelajar SMP, tinggal di Jalan Panjaitan Gang II No 52, Kelurahan Dabasah ini, semakin kritis sejak meninggalkan rumah sakit umum tiga bulan lalu. Yeni sebelumnya sudah dua kali dilarikan ke rumah sakit, karena mengalami kelainan jantung serta paru-paru.
Kendati belum ditemukan warga yang positif terkena virus polio, Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso terus meningkatan kewaspadaannya terhadap kemungkinan serangan virus yang dapat menyebabkan kelumpuhan tersebut. Selain penyebaran pamflet atau poster, Dinas Kesehatan setempat juga meningkatkan pendataan anak berusia di bawah 15 tahun di seluruh Puskesmas yang ada.
Kasus Lumpuh Layu Belasan Anak di Sukabumi
Belasan Anak Sukabumi Sedikitnya 11 anak di Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jumat (6/5) menunjukkan gejala lumpuh layu. Kelumpuhan yang diderita anak-anak di Desa Girijaya itu diduga akibat serangan virus polio liar. Waktu Tiga Bulan Hanya untuk Tuntaskan Kondisi Darurat DBD
Jangka waktu tiga bulan hanya bisa menuntaskan kondisi darurat akibat wabah demam berdarah dengue (DBD). "Sementara, penyakit demam berdarah tidak bisa dibasmi seluruhnya," ujar Amir Hamzah Pane dari Indonesia Pharmaceutical Watch (IPhW). Amir Hamzah yang dihubungi KCM, Senin (1/3) mengatakan lebih lanjut, DBD berbeda dengan polio atau cacar. Kedua penyakit itu bisa diberantas vektor dan faktornya ada di dalam tubuh manusia. "Dengan memberikan imunisasi kepada manusia, penyakit polio dan cacar bisa diberantas," katanya. Sementara, DBD berada di luar kontrol manusia. Penyebaran DBD oleh nyamuk aedes aegypti, berdasarkan pengalaman, bergerak begitu cepat. Akibatnya, jumlah korban yang menderita DBD meluas, tidak hanya pada satu lokal saja. "Dari sisi penyebaran itu, DBD memang tidak bisa diprediksikan dengan mudah," kata Amir Hamzah. Oleh karena itulah, pencanangan waktu tiga bulan oleh pemerintah terhadap DBD mestinya diupayakan untuk mengurangi atau bahkan menuntaskan kondisi darurat dampak DBD. "Itu dilakukan untuk mengurangi jumlah korban yang jatuh," ujarnya. Kendati begitu, untuk benar-benar mengikis habis DBD, setidaknya tiga aspek pilar yang harus betul-betul dicermati. Pertama kesehatan lingkungan yang harus dijaga. Kedua pemberantasan nyamuk berikut jentik-jentiknya. Ketiga perilaku manusia yang betul-betul menjaga kebersihan lingkungannya. "Dengan cara seperti itu pemberantasan DBD dilakukan berkesinambungan," kata Amir Hamzah. Pemerintah, seperti terungkap dalam rapat koordinasi bidang kesejahteraan rakyat, Senin, bertekad mengakhiri kondisi luar biasa (KLB) selama tiga bulan. Upaya itu dilakukan untuk menekan jumlah penderita DBD di bawah 35 ribu orang. Di samping itu, jumlah korban meninggal pun akan dipangkas hingga maksimal satu persen dari jumlah korban DBD. Data menunjukkan, tahun ini, dari 12 provinsi yang terkena wabah DBD, tercatat 19.150 orang penderita. Sementara, korban meninggal mencapai 338 orang atau 1,8 persen dari jumlah penderita DBD.
Menkes: Kemunculan Wabah Polio Terus Diteliti
Kemunculan wabah polio di beberapa daerah di Indonesia, khususnya di Jawa Barat mendorong pemerintah Indonesia melakukan penelitian mendalam dan pengawasan yang intensif, untuk mencegah penyebaran virus tersebut. Munculnya kasus poliomyelitis di Provinsi Jawa Barat pada pertengahan Maret lalu telah direspon secara terarah oleh pemerintah dan saat ini penelitian lebih mendalam sedang dilaksanakan, kata Menkes Siti Fadilah Supari dalam pernyataannya di depan sidang World Health Assembly (WHA) ke-58 di Markas Besar PBB Jenewa sebagaimana siaran pers yang diterima detikcom, Kamis (19/5/2005). Ditambahkannya, pemerintah Indonesia juga telah mendorong pelayanan kesehatan di tingkat kabupaten untuk meningkatkan pemantauan dan pengawasan terhadap wabah tersebut di wilayah masing-masing. Pemerintah juga menyampaikan penghargaan kepada WHO dan kantor regionalnya (SEARO) yang telah mengirimkan timnya untuk membantu pemerintah dalam melakukan penelitian epidemis, ujar Menkes. Sidang WHA ini merupakan sidang tahunan World Health Organization (WHO) yang ditujukan untuk membahas pemajuan kesehatan masyarakat secara global dan mengupayakan strategi pencegahan dan penanggulangan wabah penyakit khususnya yang menular seperti HIV/AIDS, SARS, Avian Flu, Polio dan lainnya. Sidang yang diikuti oleh wakil 192 negara anggota, organisasi internasional dan LSM ini, akan berlangsung dari tanggal 16 Mei hingga 25 Mei 2005. Diharapkan pertemuan ini menghasilkan sejumlah resolusi yang terkait dengan upaya pemajuan kesehatan masyarakat secara global
Balita Disweeping Polio Sampai ke Terminal
Sekitar seratus ribu anak di bawah lima tahun (balita) di Kota Bogor akan disweeping untuk diberi vaksin polio. Imunisasi akan di lakukan selama sepekan mulai 31 Mei mendatang. Imunisasi massal merata di berbagai tempat, mulai dari pos yandu, perumahan penduduk, taman kana-kanak, sampai terminal Baranangsiang dan stasiun Bogor. Selama sepekan kami akan melakukan mopping-up atau bergerak terus untuk memberikan vaksin polio, kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor dr. Triwandda Elan. Insya Allah, Triwandda menambahkan, Tidak ada balita atau batita yang terlewat untuk diberikan vaksin polio secara gratis. Untuk melakukan imunisasi pihaknya menerjunkan 2.739 kader pelaksana, 1.288 tenaga sweeping, tempat-tempat umum sebanyak 102 orang, 350 supervisor, serta sekitar 200 tenaga medis dan dokter. Semua personil dibagi dalam 884 pos yandu, 51 tempat umum (seperti pasar, terminal, dan stasiun), 145.505 rumah, 3.082 Rukun Tetangga dan 105 Taman Kanak-kanak (TK). Iimunisasi polio juga dilakukan di pos Mopping-up di sejumlah rumah sakit, puskesmas, rumah bersalin, dokter spesialis anak, dan pos terpadu. Menariknya, untuk memberi ciri anak balita yang sudah mendapatkan imunisasi polio setiap anak akan diberi tanda dengan kutek pada jari kelingking kirinya. Jadi, bayi anak balita yang sudah diberi kutek berarti ia sudah diberi imunisasi polio,? kata Kepala Bidang Penanggulangan Pemberantasan Penyakit dan Kesehatan Masyarakat, dr. Sri Pinantri Hanum. Ia juga menjelaskan, bagi anak blita yang pernah diberi imunisasi beberapa bulan sebelumnya juga akan diberikan lagi. Berdasarkan data kegiatan Pekan Imunisasi Nasional tahun 2002 di Kota Bogor tercatat 80.623 anak balita, diperkirakan tahun 2005 jumlahnya mencapai 100 ribu anak Balita. Pada tahun 2002 lalu Dinas Kesehatan Kota Bogor telah melakukan imunisasi polio sebanyak 74 persen, tahun 2003 sebesar 98,2 persen, tahun 2004 sebesar 89,3 persen. Sedangkan imunisasi 2005 akan dilakukan dengan target 100 persen. Dari Jakarta dilaporkan, sebanyak 67 ribu balita di wilayah Jakarta Pusat akan diimunisasi. Menurut Kepala Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Jakarta Pusat Sugandi, imunisasi itu akan dilakukan serentak bersamaan dengan imunisasi masal di tiga provinsi, pada 31 Mei dan 28 Juni. Kami sedang menyiapkan 1.200 pos pelayanan imunisasi,? kata Sugandi. Satu pos dipersiapkan untuk tiga sampai empat RT. ?Bila dihitung-hitung, kami harus menyiapkan sekitar enam ribu tenaga,? ungkap Sugandi. Kepada masyarakat, dia meminta agar tidak gelisah. Yang penting, jika di masing-masing keluarga ada balita yang belum diimunisasi polio, segera datang ke pos pelayangan imunisasi, menjaga kebersihan lingkungan. Jika kelihatanan ada gejala polio, segera bawa ke puskesmas, ujarnya. Deffan Purnama/Raden Rachmadi-Tempo
Dana Penunjang PIN Polio Jawa Barat Kurang Rp2,7 Miliar
Kekurangan dana penunjang pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio di Jabar sebesar Rp2,7 miliar, akan ditanggung Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar dan 25 Pemerintah Kota dan Kabupaten se provinsi ini. Pemprov akan menyumbang dana sebesar Rp1,3 miliar atau 50 persen dari kekurangan dana yang diperlukan. Pemerintah Kota dan Kabupaten di Jabar, sudah saya minta untuk urunan memenuhi Rp1,4 miliar yang masih dibutuhkan, tutur Gubernur Jabar Danny Setiawan. Usai berbicara pada rapat kordinasi Mopping Up Polio, Rabu (18/5), dia menambahkan, 25 kabupaten dan kota di Jabar menggulirkan dana secara proporsional, sesuai jumlah balita dan bayi yang ada di wilayah masing-masing. Dana ini tidak boleh ditunda-tunda untuk pencariannya, dan harus ada pada minggu ini. Secara nasional PIN Polio di tiga provinsi, Jabar, DKI Jakarta dan Banten disediakan dana sebesar Rp38 miliar, dan Jabar mendapat jatah Rp21,6 miliar. Sementara kebutuhan dana untuk Jabar sebesar Rp24,3 miliar, sehingga Rp1,7 miliar di antaranya harus disediakan oleh Pemprov Jabar dan 25 Pemerintah Kabupaten dan Kota. Tidak ada dana yang di-cancel untuk program PIN Polio ini. Semua sudah harus cair minggu ini, sehingga PIN Polio bisa dilakukan serentak, tandasnya. Bagi Pemprov Jabar, lanjut Danny, dana akan diambil dari APBD Pos Dana tak tersangka, karena persediaan dana di pos ini masih ada. Besaran dana Rp1,3 miliar tidak perlu masuk dalam Anggaran Belanja Tambahan (ABT), yang baru bisa disetujui Agustus mendatang. Dia menambahkan, kasus Acute Flacid Paralysis (AFP) atau lumpuh layu di Jabar hingga saat ini mencapai 24 kasus. Dari jumlah itu, 8 kasus positif sebagai Polio Liar
Sementara dari pemeriksaan 158 spesimen kontak yang dilakukan terhadap anak sehat berusia di baah 15 tahun, ditemukan 22 di antaranya mengandung virus Polio liar. Saat ini, proses pemeriksaan masih dilakukan terhadap beberapa kasus AFP dan kontak. Kemungkinan kasus Polio Positif jumlahnya masih akan bertambah. Untuk mengantisipasi korban yang mungkin meningkat, PIN Polio harus mencapai 100 persen pada cakupan anak berusia nol sampai lima tahun, tandasnya. Sementara itu, Direktur Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Departemen Kesehatan Hariadi Wibisono menambahkan, ancaman menularnya virus liar di Indonesia masih tetap besar, karena sampai saat ini ada beberapa negara endemis di dunia, seperti Nigeria, Niger, Mesir, India, Pakistan dan Afganistan. Dengan tingginya mobilitas warga dunia, maka kemungkinan virus ini terbawa ke luar dari negara itu, dan salah satunya masuk ke Indonesia sangat besar. Sebenarnya, sejak 1995, di Indonesia tidak pernah lagi ditemukan penyakit Polio. Kasus Polio di Kabupaten Sukabumi adalah bukti bahwa ancaman penyakit polio bisa muncul kembali di Indonesia, tandasnya. Di sisi lain, Perwakilan WHO untuk Indonesia Keith Feldon mengungkapkan, WHO membantu Indonesia dalam program PIN Polio dengan menggulirkan dana sebesar US$1,5 juta. Sumbangan lain juga diterima
dari UNICEF, Australian AID dan US AID. Sampai sekarang, Indonesia belum dinyatakan sebagai negara endemi Polio. Kita masih perlu melihat perkembangannya hingga enam bulan ke depan, ungkapnya. WHO, lanjutnya, tidak bisa menyumbangkan dana dalam jumlah besar untuk Indonesia, karena banyak dana sudah disalurkan untuk negara-negara endemi Polio. Karenanya, Pemerintah Indonesia harus berusaha mencari sumbangan untuk menggulirkan program pemberantasan Polio.
Dinas Kesehatan Bali Lancarkan Sweeping Vaksinasi Polio Dinas Kesehatan Bali kini secara gencar melakukan sweeping terhadap bayi-bayi usia di bawah tiga tahun untuk diberikan suntikan vaksin polio. Langkah ini sebagai upaya pencegahan munculnya penderita penyakit polio di Bali.
Kami dari jajaran Dinas Kesehatan Bali sedang melakukan sweeping terhadap bayi-bayi usia di bawah tiga tahun yang belum atau dianggap kurang mendapat vaksin polio, ujar Kepala Dinas Kesehatan Bali, Dewa Ketut Oka saat ditemui usai menghadiri sidang paripurna DPRD Bali, Rabu (18/5). Oka mengakui, masih ada empat desa di Bali yang semuanya berada di wilayah Kabupaten Jembrana hingga saat ini masih rawan ancaman penyakit polio. Hanya, Oka tidak merinci nama-nama desa tersebut. Memang masih ada empat desa yang rawan polio di Bali, yakni ada di Kabupaten Jembrana, ujar Oka. Namun, ditegaskan pula, saat ini di Bali belum ada yang terkena polio. Secara keseluruhan, lanjut Oka, dari total cakupan bayi-bayi yang menjadi sasaran vaksinasi polio di Bali, hingga kini sudah terealisasi program vaksinasi sebanyak 99,45 persen. Sehingga sasaran sweeping yang dilancarkan kini adalah menyasar bayi-bayi yang belum sama sekali atau belum lengkap menerima suntikan vaksinasi. Dalam merealisasikan vaksinasi lewat program sweeping, Oka mengakui persediaan vaksin sangat cukup di Bali. Penyediaan vaksin polio ini menggunakan dana yang bersumber APBD Provinsi Bali dan juga dari APBN.
Presiden: Lokalisasikan Penyebaran Virus Polio
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan kepada instansi terkait untuk melokalisasikan penyebaran virus polio di Kabupaten Sukabumi agar tidak meluas ke daerah lain. Hal itu disampaikan Presiden saat memanggil Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Alwi Shihab, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) M. Ma’ruf, serta Menteri Kesehatan yang diwakili Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan LIngkungan Umar Fahmi Ahmadi di Kantor Presiden, Rabu (18/5). Presiden minta laporan kepada Menko Kesra, Menkes yang diwakili Dirjen dan Mendagri sehubungan dengan adanya penyakit menular, virus, dan indikasi berkembangnya polio, ujar Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi dalam jumpa pers usai pertemuan. Hadir dalam kesempatan jumpa pers itu Menko Kesra, Mendagri, dan Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, serta Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng. Menurut Menko Kesra Alwi Shihab, setelah mendengarkan laporan, Presiden menganggap perlu dikembalikannya berbagai kegiatan yang selama ini dianggap sebagai stigma masa pemerintahan Orde Baru yakni semacam Pekan Imunisasi Nasional (PIN). Presiden juga meminta agar instansi terkait mengefektifkan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Presiden juga meminta adanya program pendek, menengah, dan panjang untuk pemberantasan penyakit menular tersebut. Untuk jangka pendek, jelas Alwi, Presiden menginstruksikan pelayanan kesehatan. Upaya ini dilakukan untuk melokalisasikan penularan penyakit ke tempat lain. Bapak Presiden minta agar program jangka pendek ini dilakukan secermat dan seintensif mungkin agar memberikan rasa aman kepada masyarakat. Terutama, di daerah-daerah yang terjangkit virus, kata Alwi. Sedangkan untuk program jangka menengah dan panjang, perlu diadakan gerakan reguler yang dimotori pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Gerakan ini harus terpadu dan dilaksanakan dengan kerja sama antara pihak masyarakat madani, lembaga swadaya masyarakat (LSM), lembaga internasional, dan sebagainya. Berkenaan dengan ini, lanjut Alwi, akan diadakan Pekan Kesehatan Nasional dalam waktu dekat. Acara itu berisi PIN dan Gerakan Kebersihan Lingkungan.
Kombinasi Sementara, Dirjen Umar Fahmi Ahmadi mengatakan pihaknya melaporkan kepada Presiden, kasus di Kabupaten Sukabumi merupakan kombinasi dari terjadinya globalisasi meliputi barang dan orang yang membawa penyakit menular serta ketahanan wilayah yang tidak merata. Umar melanjutkan, kasus polio di Kabupaten Sukabumi menyerang delapan anak. Sedangkan, yang lumpuh tapi belum dipastikan polio ada 12 anak. Sehingga, korban total ada 20 anak. Berikutnya, di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, ada 19 anak menderita lumpuh layuh. Lalu, di DKI Jakarta ada satu anak terkena polio. Anak tersebut sebetulnya berasal dari Kabupaten Sukabumi. Berkaitan dengan upaya lokalisasi agar virus tidak meluas, Umar menjelaskan, Departemen Kesehatan (Depkes) telah melakukan imunisasi terhadap 22.700 anak di tiga wilayah. Pertama di desa-desa di Kabupaten Lebak. Kedua di Kabupaten Sukabumi. Ketiga di kawasan Sawah Besar, DKI Jakarta. Depkes juga mengintensifkan pengamatan di ketiga wilayah tersebut apakah ada tambahan korban di situ. Sampai saat ini tidak ada kasus tambahan. Kalau sampai akhir bulan ini tidak ada tambahan, berarti virus bisa kita lokalisasikan di daerah itu, katanya. Presiden, menurut Dirjen, juga menginstruksikan imunisasi lebih luas di Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Selain itu, Presiden juga minta agar pengamatan kasus-kasus serupa dilakukan di seluruh wilayah Indonesia. Khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTB), Bali, seluruh provinsi di Jawa, dan Lampung. Kemudian, Mendagri M. Ma’ruf mengatakan untuk mengimplementasikan instruksi itu, pihaknya akan mengeluarkan petunjuk kepada pemerintahan di daerah mulai dari gubernur sampai dengan desa. Pihak Departemen Dalam Negeri akan mengoptimalkan peranan PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga) untuk membantu di Posyandu.
Serangan Virus Polio di Jantung Industri Air Mineral
DI balik wabah polio, Kecamatan Cidahu dan sekitarnya di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, adalah sentra industri air minum dalam kemasan yang biasa diminum warga Ibu Kota Jakarta. Industri air minum kelas internasional hingga sederhana itu berkembang di Cidahu, sementara sebagian warganya yang berpendidikan rendah ini kurang menyadari pentingnya kesehatan. SPA kelas internasional, deretan vila mewah, beragam industri air minum dalam kemasan berkembang di kawasan kaki Gunung Salak dan Halimun yang berbukit sejuk di ketinggian sekitar 700 hingga 1.000 meter dari permukaan laut ini. Di saat sama sekitar 12.000 jiwa dari lebih kurang 54.000 penduduk Cidahu masih termasuk dalam kategori miskin dan berpendidikan rendah. Dari wilayah Babakan Pari yang berdekatan dengan Jalan Raya Sukabumi-Jakarta hingga Kecamatan Cidahu terdapat sumber air yang menghasilkan air kemasan kelas wahid dan bergengsi. Sumber air dan keindahan alam memang mengangkat gengsi Kecamatan Cidahu. Camat Cidahu Rosip Rusdi mencontohkan, bahkan sepetak tanah ukuran 15 meter persegi bernilai hingga Rp 650 juta karena memiliki sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk industri air kemasan. Ucapan tersebut tidaklah omong kosong belaka. Di sepanjang perjalanan dari Simpang Tiga Cidahu hingga Desa Girijaya terdapat sejumlah papan pengumuman: Tanah dijual berikut sumber air. Hubungi no telepon…. Lalu lalang truk pembawa botol galon air mineral dan industri pengolah limbah plastik turut mewarnai kehidupan Cidahu dan sekitarnya. Bahkan, konon Kecamatan Cidahu melalui industri air minum dalam kemasan merupakan salah satu penyumbang pendapatan asli daerah terbesar Kabupaten Sukabumi. Namun, di saat industri merebak di Cidahu, masyarakat sekali lagi hanya menjadi penonton. Karena pendidikan yang rendah, sebagian besar masyarakat hanya berkutat pada kegiatan ekonomi subsistem: menjadi buruh tani, kuli bangunan di kota besar, tukang ojek, dan yang sedikit beruntung menjadi buruh di industri air minum dalam kemasan di tanah lahir mereka.
Sawah-sawah mereka sudah tergadai dan dikuasai pemodal besar atau pejabat dari kota besar. Sumber air mineral tidak dikelola langsung sebagai industri oleh penduduk setempat yang cenderung meraih keuntungan sesaat dengan menjual sumber daya unggulan daerah mereka.
Kepala Desa Girijaya Aji R Alamsyah menjelaskan, dari seluruh lahan pertanian di desa tersebut, sudah 30 persen lebih berada di tangan orang Jakarta. Para pemilik tanah tersebut membiarkan warga setempat menjadi penggarap sehingga warga masih mendapat kesempatan mendapatkan nafkah ala kadarnya. RODA industri air mineral terus melaju di Cidahu hingga menembus pasar mancanegara meninggalkan penduduk setempat yang terpasung dalam keterbelakangan tanpa mereka sadari. Sebagian besar dari mereka hanya mengetahui dunia luar terjauh adalah Pasar Kecamatan Cicurug atau Jakarta sebagai tujuan sebagian warga yang mau jadi kuli bangunan. Hidup bagi warga Cidahu hanya sekadar menyambung hidup keseharian dalam kemiskinan. Siang itu Juen dan Hurin, petani di Girijaya, baru saja selesai bekerja di sawah seluas empat hektar milik seorang warga Jakarta. Musim panen ini rugi besar. Dari empat hektar sawah cuma menghasilkan satu ton gabah. Modal sudah Rp 8 juta lebih dan hasil panen hanya senilai Rp 900.000. Biasanya satu hektar bisa menghasilkan empat sampai lima ton gabah, kata Hurin menjelaskan dampak serangan wereng coklat di sawah garapannya.
Sebelumnya, untuk mempersiapkan sawah di tempat tersebut dibutuhkan biaya besar lantaran pupuk dan pelbagai kebutuhan harus didatangkan dari Pasar Cicurug. Menurut mereka, sudah tak ada lagi bantuan, seperti kredit usaha tani atau jenis pendampingan bagi petani di wilayah tersebut, selepas kekisruhan politik menyusul tumbangnya rezim Soeharto.
Petang itu Hurin dan Juen menunjukkan sawah mereka yang rusak diserang wereng coklat. Sebagian batang padi terlihat mengering akibat serangan hama di lahan berbukit di tepi jalan Desa Girijaya. Di sebelah sawah terlihat ladang jagung yang baru tumbuh dan baru saja mereka tanam. Lagi- lagi serangan hama merusak tanaman tersebut, hama pengerek akar membuat tanaman layu dan mati. Hurin harus bersabar menanti musim tanam berikutnya untuk mengadu peruntungan dari bertani di lahan yang sebetulnya subur itu.
Juen, yang tinggal di batas Desa Girijaya dengan Desa Tangkil, nasibnya sedikit lebih beruntung. Ia memiliki penghasilan tambahan dari hasil membuka sebuah bengkel sepeda motor dan warung kecil-kecilan. Toh, usaha tersebut tidak membuatnya kaya karena rendahnya daya beli masyarakat. Lain lagi cerita Nyonya Cucun, tetangga Juen, yang juga tidak memiliki sawah. Suaminya terpaksa bekerja sebagai tukang ojek di Pasar Cicurug, sembilan kilometer dari rumah mereka. Setiap hari paling banyak suaminya membawa pulang Rp 15.000 hingga Rp 20.000. Dengan penghasilan sebesar itu, mereka harus hidup dalam segala keterbatasan dan menghambat kemajuan penghidupan mereka. Itu sangat kontras dengan keberadaan fasilitas modern seperti antena parabola wartel hingga bengkel dinamo dan servis perlengkapan rumah tangga yang terdapat di sekitar Desa Girijaya, yang bagi warga Kecamatan Cidahu termasuk desa paling tertinggal.
Pilihan terakhir mencari nafkah adalah meninggalkan Girijaya memburuh pada pabrik air minum dalam kemasan atau merantau ke kota besar menjadi buruh serabutan atau kuli bangunan. Nyonya Nenah (27), warga Dusun Cidadap, Desa Girijaya, mengatakan suaminya terpaksa menjadi kuli bangunan di Jakarta karena tidak ada sumber penghidupan di tanah lahirnya. Suami saya pulang sebulan sekali. Itu pun paling banyak bawa uang Rp 150.000 sampai Rp 200.000, kata Nenah. Kalau kakak saya, merantau ke Tasik jadi buruh jahit dengan penghasilan kurang lebih sama. Kalau bersawah, sudah sulit karena tanah di sini kebanyakan dimiliki orang kota, ujarnya. Nenah siang itu menemani Nyonya Endi (33), kakak iparnya yang juga ibunda Fauziah, korban polio di Cidadap. Berada di rumah seharian adalah kegiatan kaum ibu sambil mengasuh anak di Girijaya. Rumah mereka sebetulnya tergolong memadai untuk ukuran pedesaan di Indonesia. Bangunan permanen, ruang tamu, kamar tidur, dan dapur melengkapi kebanyakan rumah warga Desa Girijaya. Namun, ada satu yang kurang, yakni kamar mandi sebagai sarana mandi, cuci, dan kakus (MCK). Menurut Hurin dan Juen, hanya 20 persen warga yang memiliki MCK pribadi. Sungai yang mengalir dan MCK umum tampaknya menjadi pilihan warga setempat seperti umumnya di pedesaan Pulau Jawa. Sebagian besar lebih suka memakai sungai atau MCK umum untuk dipakai bersama. Bahkan, tempat wudu di masjid pun dimanfaatkan airnya untuk mencuci oleh warga, kata Hurin, sambil menunjuk pada segerombolan ibu rumah tangga yang membawa perlengkapan dapur ke tempat wudu di sebuah masjid.
PENGHASILAN rendah membuat warga Girijaya tidak mampu meraih pendidikan tinggi sebagai sarana untuk meningkatkan taraf hidup. Untuk melanjutkan sekolah setingkat SMA, mereka harus pergi ke kota Kecamatan Cicurug yang setiap hari membutuhkan ongkos transpor Rp 250.000 per bulan. Padahal, penghasilan rata- rata tiap keluarga hanya Rp 200.000. Tentu saja dalam kondisi tersebut, melanjutkan sekolah bukan menjadi pilihan. Apalagi setiap keluarga rata- rata memiliki anak lebih dari dua. Bahkan, ada sejumlah keluarga yang memiliki delapan anak. Kepala Desa Girijaya Aji R Alamsyah menjelaskan, sebagian besar dari 6.397 penduduk hanya sempat mengecap pendidikan sekolah dasar. Ada juga yang lulusan perguruan tinggi, tetapi sebagian bekerja sebagai perangkat desa. Dari data kependudukan Desa Girijaya memang terlihat timpangnya tingkat pendidikan. Lulusan sekolah dasar tercatat 954 jiwa, lulus SMP 195 jiwa, dan lulus SMA 88 jiwa. Sebagian besar lainnya hanya mengecap pendidikan ala kadar dan tercatat 572 penduduk tergolong buta huruf.
Mayoritas penduduk hidup dari bertani atau menjadi buruh. Hanya sekitar 40 orang yang menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri, kata Alamsyah menjelaskan. Kendala terbesar bagi Girijaya, menurut Alamsyah, adalah transportasi bagi daerah terisolasi tersebut. Meski hanya berjarak kurang dari 80 kilometer di selatan Jakarta, tidak ada angkutan umum yang melayani ke daerah tersebut. Bahkan, warga Girijaya demi membuka keterasingan telah beberapa kali melakukan swadaya membangun dan memperbaiki jalan desa. Kondisi terisolasi di daerah relatif modern itulah yang secara tidak langsung memicu rendahnya kesadaran terhadap upaya menjaga kesehatan. Seorang warga di dekat Simpang Cidahu-Jalan Raya Sukabumi- Jakarta mengatakan, warga Cidahu pedalaman, seperti di Desa Girijaya, cenderung tidak memedulikan kesehatan dan perawatan medis modern. Namun, saat ditanya tentang perawatan kesehatan, Nyonya Nenah yang jarang meninggalkan Desa Girijaya mengaku ingin mendapatkan perawatan kesehatan yang layak. Apa daya, kemampuan keuangan membatasi mereka dari mobilitas ke puskesmas yang membutuhkan biaya sekurangnya Rp 5.000 sekali jalan. Kalau boleh memilih, mana ada orangtua yang mau anaknya sakit. Bukan kami menolak imunisasi, tetapi untuk hidup sehari-hari saja sudah susah, kata Nenah. Apalagi kalau harus menambah biaya ke puskesmas yang tidak sedikit. Setidaknya anak-anak yang kakinya sakit (diduga polio-Red) di desa ini umumnya dibawa ke tukang urut untuk pengobatan, ujarnya menjelaskan. Nenah dan kaum ibu di Girijaya mengaku tidak tahu-menahu mengenai penularan polio sampai pemberitaan media massa mengekspos desa mereka. Tragis memang melihat potret Cidahu dan Desa Girijaya. Tidak jauh dari kemajuan zaman internet, virus negara terbelakang seperti polio masih mewabah. Di saat triliunan rupiah dikucurkan untuk membiayai birokrasi rusak dan pembobol dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, penyelenggara negara ternyata tidak mampu menyalurkan beberapa tetes cairan vaksin bagi bocah-bocah di Cidahu. (Iwan Santosa)
Bekas Vaksin Polio Akan Dibakar Virus polio dapat berbiak liar di tempat sampah jika bekas vaksin dibuang sembarangan. Oleh karena itu Dinas Kesehatan (Diskes) DKI Jakarta akan melatih petugas Pekan Imunisasi Nasional (PIN) agar membuang bekas vaksin di plastik yang disediakan. Juru Bicara Diskes Evi Selvino Rabu (18/5) mengakui pihaknya belum melatih petugas tentang cara pembuangan bekas vaksin. “Nanti akan diberi tahu bahwa bekas vaksin harus dibuang di plastik yang telah disediakan,” ujarnya. Evi mengatakan bahwa sampah-sampah plastik itu akan dikumpulkan di tiap-tiap kecamatan dan akan dibakar jika kecamatan itu telah memiliki incenerator. Mengenai batas waktu pengumpulan sampah plastik, ia mengatakan, “Tidak ada, yang penting secepatnya.” Sebagaimana diketahui, pada 31 Mei dan 28 Juni nanti Diskes merencanakan melakukan vaksin polio kepada 700 ribu balita yang tersebar di 9.000 pos PIN seluruh Jakarta. Tiap pos PIN menghimpun tiga hingga empat RT. Evi mengatakan, sebagian besar petugas PIN direkrut dari warga laki-laki dan perempuan dewasa tanpa dibatasi latar belakang pendidikan dan spesifikasi. “Mereka dilatih satu hari untuk cara meneteskan,” ujarnya. Selain itu, juga diterangkan gambaran tentang virus polio. Enam Balita DIY Terserang Penyakit Mirip Polio
Sedikitnya enam orang balita di Provinsi DIY teridentifikasi terserang penyakit lumpuh layuh yang semula diduga polio. Namun setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata bukan penyakit polio yang diderita mereka. Keenam balita itu terserang penyakit virus gulian bare syndrome yang menyerang sumsum tulang belakang dan post meningitis atau radang otak, kata Kabid Penanggulangan Penyakit Menular dan Kesehatan Lingkungan (P2MKL) Dinas Kesehatan DIY Dr Kencono Gunawan. Hal itu dikatakan Kencono kepada wartawan saat ditemui di kantornya, Jl. Kyai Mojo, Yogyakarta, Selasa (17/5/2005). Penyakit yang mirip polio ini bisa disembuhkan melalui fisioterapi secara rutin, lanjutnya. Selama 10 tahun terakhir ini tidak ditemukan kasus polio di DIY. Berdasarkan sweeping dan pendataan yang dilakukan dokter-dokter di seluruh puskesmas di DIY, hampir 90 persen bayi sudah mendapat imunisasi polio hingga empat kali. Mulai tanggal 30 Mei 2005 mendatang akan kita lakukan vaksinasi masal polio ke seluruh pelosok DIY. Vaksin yang digunakan yaitu jenis vaksin oral dari Biofarma, katanya. Kasus balita yang terserang lumpuh layu yaitu Zaumi Robin Fadhila umur 29 bulan, anak pasangan Paitono (50) dan Sukirah (46) warga Sokoliman, Bejiharjo, Arangmojo, Gunung Kidul sejak tanggal 20 April 2004, juga bukan merupakan penyakit polio. Tapi merupakan radang otak karena sering mengalami kejang-kejang disertai diare. Bila gejalanya seperti itu bukan ciri khas polio, katanya.
Dinas Kesehatan Kota Bekasi Gelar Imunasi Polio Massal
Dinas Kesehatan Kota Bekasi gelar imunisasi polio massal pada Selasa (31/5) pukul 08.00 WIB-11.00 WIB pada 1.451 pos kesehatan se-Kota Bekasi. Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Bambang Jati Kusumo, mengatakan, pada 31 Mei 2005 pukul 08.00 -11.00 WIB pihaknya menggelar imunisasi polio massal guna mengantisipasi berjangkitnya kelumpuhan akibat virus polio liar tersebut. Imunisasi massal akan dipusatkan di 1.451 pos kesehatan se-Kota Bekasi dengan melibatkan ribuan petugas nonmedis, kata Bambang Jati Kusumo di Bekasi, Senin (16/5). Dana yang dibutuhkan untuk operasional kegiatan itu diperkirakan mencapai sekitar Rp350 juta. Dana itu sudah diajukan ke Pemkot Bekasi tinggal menunggu persetujuan Wali Kota Akhmad Zurfaih. Biaya untuk itu sudah saya ajukan ke Wali Kota Bekasi dan diharapkan segera disetujui karena menyangkut kepentingan orang banyak, katanya. Sasaran imunisasi massal itu, dititikberatkan kepada anak-anak berusia di bawah 15 tahun dengan cara memasukkan dua tetes cairan melalui mulut anak yang akan divaksinasi. Namun, sebelum dilakukan imunisasi massal itu, sejumlah tenaga medis Dinas kesehatan Kota Bekasi akan menggelar pelatihan terhadap kader di tiap posyandu agar pelaksanaan di lapangan tidak terjadi kendala. Sementara itu, Dokter Yusni dari Dinas Kesehatan Kota Bekasi menambahkan imunisasi massal tahap pertama dilakukan pada 31 Mei 2005 dan berikutnya 28 Juni tahun yang sama. Kami mengimbau kepada masyarakat di Kota Bekasi pada hari dan waktu yang ditentukan itu mendatangi Pos Pekan Imunisasi (Pos PIN) setempat dengan membawa putra-putrinya agar diimunisasi terhadap polio liar, katanya. Keluarga yang putra-putrinya sudah diimunisasi, pada pintu rumahnya ditempel stiker bergambar rumput. Sedangkan, yang belum, pada pintu rumah mereka akan ditempel stiker polos alias tidak ada gambarnya. Gejala-gejala awal bagi seseorang yang diduga terserang virus polio liar antara lain, badan panas, pusing, mual sakit perut, dan otot tungkai kaki terasa nyeri. Tetapi, orang yang mengalami gejala itu belum tentu terserang virus polio liar. Pasalnya, untuk memastikan seseorang terserang virus polio liar, kotoran pasien harus diperiksa di laboratorium terlebih dahulu. Menjawab pertanyaan berapa warga Kota Bekasi yang terserang kelumpuhan akibat penyakit polio liar, Yusni mengatakan, ada empat orang yang kini mengalami lumpuh layuh tetapi bukan menderita polio. Keempat orang tersebut yakni, Annisa Ayu (12), warga Kelurahan Pejuang dan Nila (2,5 tahun), warga Kelurahan Perwira, keduanya di Bekasi Utara. Sedangkan, dua korban lainnya adalah Normaya S (14) warga Kelurahan Kayuringin, Bekasi Barat serta Krisna (4,5 tahun) warga Kelurahan Jatibening, Pondok Gede. Mereka itu bukan terserang virus polio liar, tetapi lumpuh layuh dan penyebabnya baru diteliti dokter spesialis anak dengan cara mengambil kotoran pasien untuk diperiksa di laboratorium, kata Yusni. Biasanya, seseorang yang terserang penyakit lumpuh layuh mengalami kelumpuhan sekitar 14 hari mulai dari pertama menderita sakit. Jika penderita tidak terserang virus polio liar, penderita dapat disembuhkan meski membutuhkan waktu cukup lama. (Ant/Prim)
Pemerintah Tanggung Biaya Pengobatan Penderita Polio
Pemerintah akan menanggung biaya pengobatan untuk penderita polio. Akan tetapi, pemerintah tidak bisa memberikan kompensasi kepada semua yang sakit. Kalau satu polio dikasih, nanti semua orang yang sakit di Indonesia minta kompensasi, kata Wakil Presiden Jusuf Kalla kepada wartawan, di Kantor Wapres, Jakarta, Senin. Menurut dia, yang paling baik untuk mengeliminasi penyebaran polio adalah semua orang menjaga diri masing-masing dan dengan melakukan imunisasi. Karena di dunia ini tidak bisa lagi kita tutup, katanya. Dia menambahkan, ada tiga kemungkinan penyebaran polio yang berasal dari Afrika. Pertama, saat naik haji. Kedua, melalui Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Ketiga,melalui warga Afrika yang datang ke Indonesia atau di tempat sanitasi yang kurang baik. (Hnr/Tia/O-5)
Sidang WHA Bahas Polio
Sidang Kesehatan Dunia (World Health Assembly/WHA) di Jenewa, Swiss, pada 16-25 Mei, membahas sejumlah isu kritis di bidang kesehatan di antaranya mengenai eradikasi polio. Sidang itu dihadiri 192 negara ang- gota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Menurut situs www.who.int, Senin (16/5), WHA ini merupakan yang ke-58 dan menghadirkan pembicara Presiden Republik Maldiv Maumoon Abdul Gayoom serta Bill Gates dari Bill dan Melinda Gates Foundation. Seperti diketahui Bill dan Melinda Gates Foundation memberikan bantuan untuk penanggulangan HIV/AIDS, malaria, dan tuberkulosis. Isu kesehatan kritis yang akan dibahas dalam WHA ini antara lain, penanggulangan HIV/AIDS, promosi gaya hidup sehat, draf resolusi untuk pencegahan dan pemantauan kanker, serta imunisasi global. Sementara itu, berdasarkan data dari Departemen Kesehatan, sampai Sabtu (14/5), delapan warga Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dinyatakan positif polio. Kepastian itu diperoleh setelah diperiksa di laboratorium Bio Farma di Bandung dan ditemukan virus polio liar tipe P1 pada spesimen penderita lumpuh layuh. Delapan kasus yang positif polio itu berasal dari 17 kasus lumpuh layuh. Penderita polio itu, FR (20 bulan) dari Dusun Cidadap, Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Fa (48 bulan) dari Desa Girijaya, Al (32 bulan) dari Dusun Ciseke, Desa Girijaya, Dar (24) dari Desa Cipanengah, Kecamatan Bojong Genteng, Sel (21 bulan) dari Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug, MSA (26 bulan), dari Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug, DL (9 bulan) dari Desa Cidadap, Kecamatan Cidahu, dan Sus (30 bulan) dari Desa Cipondok, Kecamatan Cicurug. Selain delapan kasus lumpuh layuh positif saat ini pihak Bio Farma memeriksa delapan kasus lumpuh layuh. Di samping itu diperiksa sejumlah anak yang mengadakan kontak dengan penderita positif polio liar, yaitu kontak serumah dan kontak tetangga. Hasil pemeriksaan laboratorium sementara terhadap 157 spesimen menunjukkan, 22 spesimen positif pada anak sehat. Artinya anak-anak itu tidak sakit polio, tetapi bisa menjadi sumber penularan polio.
Menurut Kepala Biro Umum dan Humas Departemen Kesehatan, Suprijadi SKM, penderita polio Sel (21 bulan) yang sempat dirawat di RSCM sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Dalam penyelidikan terhadap laporan kasus lumpuh layuh di Kabupaten Lebak, Banten, ditemukan 15 kasus lumpuh layuh dari 4 kecamatan.
Di Jakarta, 700.000 Bayi Akan Diimunisasi Polio
Dinas Kesehatan DKI Jakarta tengah mendata bayi berusia di bawah lima tahun (balita) untuk diimunisasi pada 28 Mei dan 30 Juni mendatang. Jumlah balita itu mencapai 700 ribu orang. Kepala Seksi Epidemiologi Dinas Kesehatan DKI Jakarta Paripurna Harimuda Sediyono mengemukakan hal itu di Jakarta, Senin (16/5). Ia menjelaskan, pendataan dilakukan agar tidak ada bayi yang terlewatkan saat imunisasi yang dilakukan serentak dan gratis tersebut. Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Abdul Chalik Masulili mengatakan, bayi-bayi akan di-sweeping agar tidak luput dari imunisasi.
Perihal adanya bayi penderita polio dari Sukabumi, Jawa Barat yang dibawa ke Jakarta dan saat ini dirawat di Rumah Sakit Pusat Infeksi Sulianti Saroso di Sunter, Jakarta Utara, Paripurna mengakui itu sebagai sebuah kecolongan. Penderita polio seharusnya tidak boleh dipindahkan agar virus polio itu tidak menyebar ke daerah lain, kata Paripurna. Sementara itu, Marius Widjajarta dari Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) secara terpisah mengatakan, penderita dan keluarga penderita polio seharusnya dikarantina. Dinas Kesehatan, katanya, bisa bekerja sama dengan polisi untuk mencegah orang yang berupaya memindahkan pasien polio dari daerah asal si penderita.
Soal masalah karantina itu, Paripurna mengatakan, hal itu bisa saja dilakukan tetapi perlu biaya. Kalau harus dikarantina, keluarga pasien juga, katanya, tidak boleh bekerja dan pemerintah harus menanggung biaya hidup keluarga tersebut. Paripurna menjelaskan, yang dilakukan DKI Jakarta saat ini adalah isolasi. Bayi-bayi di kawasan yang diduga telah terkena virus polio, katanya, langsung diimunisasi, seperti yang telah dilakukan di daaerah Sawah Besar pekan lalu.
Pemerintah Bantu Imunisasi Polio, Tidak Ada Kompensasi
Wapres Jusuf Kalla menegaskan pemerintah tidak akan memberikan kompensasi kepada warga masyarakat yang terkena polio melainkan hanya membantu semua upaya imunisasinya. Pemerintah membantu semua upaya imunisasi itu, tetapi pemerintah juga tidak bisa memberikan kompensasi kepada semua mereka yang sakit, katanya di Kantor Wapres, Senin (16/5). Menurut Wapres, apabila satu orang terkena polio diberikan kompensasi maka semua orang sakit di Indonesia juga akan meminta hak yang sama. Mereka akan bertanya apa bedanya polio dengan malaria. Tidak ada bedanya. Jadi semua pihak harus menjaga tingkat sanitasi yang baik di lingkungan masing-masing, ujar Wapres.
Penyakit polio yang saat ini sedang menjadi sorotan di masyarakat, lanjut Wapres, obatnya hanya satu yakni imunisasi saja. Wapres mengatakan bahwa pihaknya telah mencoba menelusuri dari mana virus Afrika itu bisa masuk ke Indonesia. Kita coba telusuri di mana orang Indonesia bersentuhan dengan orang Afrika. Kalau orang Indonesia ke Afrika jelas jarang, ungkapnya. Kendati demikian, Wapres berpendapat, ada tiga kemungkinan saling kontak itu yakni bertemu sewaktu musim haji, bertemu TKI dengan TKI di luar negeri atau orang Afrika yang datang ke Indonesia dan bertemu di tempat yang sanitasinya tidak baik. Jika di tempat haji, kemungkinan sanitasinya cukup baik karenanya sekarang ini kita tidak tahu di mana asal mulanya penyakit itu karena pada dasarnya adalah sanitasi yang kurang baik, katanya. (Ant/Ima)
Pemerintah Tolak Beri Kompensasi BBM pada Korban Polio
Masyarakat yang menuntut pengucuran dana kompensasi BBM untuk korban polio harus gigit. Pemerintah menolak tuntutan tersebut. Pemerintah tidak bisa memberikan kompensasi kepada semua yang sakit. Satu polio dikasih nanti semua orang yang sakit di Indonesia minta kompensasi, cacar iya, malaria iya, ungkap Wapres Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin, (16/5/2005). Namun, lanjut Kalla, pemerintah tidak akan lepas tangan begitu saja. Setidaknya pemerintah akan membantu dalam hal imunisasi massal yang akan dilakukan. Dan, untuk mengatasi penyebaran polio, Kalla meminta agar masyarakat mampu menjaga dirinya masing-masing. Selain meminta masyarakat menjaga kesehatannya, pemerintah juga akan bekerjasama dengan dunia internasional untuk mencegah penyebaran polio lebih luas lagi. Polio kan hanya satu pencegahannya yaitu imunisasi karena di dunia ini kita tidak bisa tertutup lagi. Jadi betul-betul kita harus kerjasama dengan dunia internasional, katanya.
Langkah ini perlu dilakukan, karena setelah ditelusuri, penyebaran polio di Indonesia baru-baru ini terkait dengan aktivitas para TKI dan orang-orang Afrika di Indonesia. Kita bicara kemarin dari mana virus ini, karena itu virus Afrika. Jadi kira-kira dari mana orang Indonesia dapat virus dari Afrika, kata Kalla. Masalahnya, lanjut Kalla, sejauh ini jarang sekali orang Indonesia berkunjung ke Afrika. Padahal, dalam penyebaran virus polio tersebut hanya ada tiga kemungkinan, yakni saat naik haji, TKI ketemu TKI dan orang Afrika ke Indonesia yang tinggal di daerah yang sanitasinya kurang baik. Kalau naik haji sanitasinya baik. Lalu kenapa di Sukabumi? Mungkin saja ada persentuhan. Ini kan sedang diselidiki di mana tempatnya. Jadi ada persentuhan, kata Kalla.
Tidak Semua Lumpuh Layuh Suspect Polio
Tidak semua penderita lumpuh layuh merupakan suspect polio karena kelumpuhan seseorang dikatakan menderita polio jika hasil pemeriksaan laboratoriumnya mengandung virus polio liar Kepala Seksi Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Dinas Kesehatan NTB, dr Thamrin Hidjaz dalam klarifikasi tertulisnya, Minggu, menanggapi ditemukannya lima kasus suspect polio yang dimuat sejumlah media massa, menyatakan sampai dengan tanggal 13 Mei 2005 belum ditemukan adanya penularan virus polio di NTB. Sehingga NTB dikatakan belum terjangkit polio, karena lima kasus yang ditemukan tersebut merupakan kasus Acute Flaccid Paralysis (AFP), bukan kasus polio dan bukan suspect polio, ujarnya. Dari lima kasus AFP tersebut, satu kasus tidak termasuk polio karena berdasarkan hasil pemeriksaan Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Surabaya tidak ditemukan virus polio liar pada tinja penderita. Sedangkan empat kasus lainnya belum ada hasil pemeriksaan laboratorium, katanya. Program kesehatan untuk menemukan segera kasus kelumpuhan yang bersifat lemas/layuh pada anak usia di bawah 15 tahun telah dilaksanakan sejak tahun 1997, kini sudah berjalan delapan tahun, yang disebut Surveillance AFP.
Dikatakannya, kelumpuhan pada seseorang bukan saja disebabkan oleh kasus polio liar, banyak faktor yang menyebabkan seseorang itu menjadi lumpuh. Lumpuh layuh pada anak usia di bawah 15 tahun tanpa diketahui penyebabnya dikategorikan sebagai kasus AFP, bukan sebagai kasus suspect polio atau kasus polio. Ia menambahkan, Surveillance AFP yang dilakukan oleh pemerintah merupakan upaya untuk mengetahui secara dini apakah masih ada penularan virus polio liar atau tidak di Indonesia. Karena itu masyarakat diharapkan jangan resah, tindakan yang perlu dilakukan antara lain segera melengkapi cakupan imunisasi polio pada bayi minimal tiga kali, ujarnya. Masyarakat jika menemukan kasus kelumpuhan mendadak pada anak di bawah 15 tahun tanpa diketahui penyebabnya diminta segera memeriksakannya atau melaporkan kepada pihak Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota, Puskesmas dan Rumah Sakit. Bisa juga dilaporkan kepada Dinkes NTB pada nomor telepon 0370-628140 atau Made Utama Hp 08123763094 untuk segera dilakukan tatalaksana kasus dan pengambilan spesimen.(Ant/Ol-1)
Delapan Balita di Sukabumi Tertular Virus Polio Liar
Delapan anak usia bawah lima tahun (balita) dari 17 balita menderita sakit lumpuh layuh (AFP - Acutc Placcid Paralysis) dinyatakan tertular virus polio liar P-1, kata Kepala Biro Umum dan Humas Depkes Suprijadi, SKM. Pemeriksaan di laboratorium Bio Farma Bandung terhadap specimen faces dari 17 balita penderita AFP berasal Kabupaten Sukabumi, Jabar hingga 14 Mei 2005 ditemukan delapan balita positif tertular virus polio liar P-1, katanya dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu. Menurut Suprijadi, hasil pemeriksaan 17 specimen faces di Bandung itu, delapan balita dinyatakan positif tertular poliar liar jenis P-1, sedang delapan specimen masih menunggu proses pemriksaan dan satu specimen dinyatakan negatif. Depkes bekerjasama dengan organisasi kesehatan dunia (WHO) dan Badan PBB urusan Anak-anak (Unicef) selain memeriksa balita yang diduga sakit polio, juga telah memberikan imunisasi polio bagi 4.000 balita di sejumlah kecamatan di Sukabumi, Jabar, akhir April 2005. Untuk mencegah penularan virus polio, Pemerintah akan memberikan imunisasi polio secara gratis bagi 5,2 juta anak usia 0-59 bulan (balita) di Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jabar pada 31 Mei 2005 dan 28 Juni 2005. Supriyadi menambahkan, satu balita dari delapan tertular polio liar dari Sukabumi yang dirawat di RSCM Jakarta sejak 3 Mei 2005 kini telah sembuh dan sempat pulang ke tempat keluarganya di Kelurahan Mangga Besar, Jakarta Utara. Namun, untuk mencegah penularan virus polio, balita asal Sukabumi itu sejak 12 Mei 2005 dirawat ke RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso di Sunter, Jakarta Utara, selanjutnya seluruh balita di Kelurahan Mangga Besar dan di Kecamatan Mangga Besar diberikan imunisasi polio. Menanggapi laporan 15 kasus lumpuh layuh pada balita di Kabupaten Lebak, Banten, Tim Pemantaua Depkes dan WHO telah mengambil 15 sample tinja dari 15 balita untuk diperiksa di Laboratorium Badan Litbangkes Jakarta, demikian untuk laporan empat kasus lumpuh layuh di Kabupaten Karanganyar, Jateng Sebelumnya, Menkes Siti Fadilah berharap, masyarakat tidak perlu panik jika ada balita sakit lumpuh, tapi segera dibawa ke rumah sakit (RS) terdekat untuk diobati dan diambil specimen tinja untuk diperiksa di laboratorium guna ditentukan jenis virus penularan penyakitnya. Bayi dan anak yang telah mendapat imunisasi polio lengkap tidak akan tertular penyakit polio. Balita yang belum mendapat imunisasi polio harus segera ke Puskesmas terdekat untuk diberikan imunisasi, katanya.(Ant/Ol-1)
Dua Orang Lagi Dipastikan Mengidap Polio Penderita polio di Sukabumi bertambah. Hingga Sabtu (14/5) kemarin, hasil uji di laboratorium Bio Farma, Bandung, mencatat sebanyak dua orang lagi mengidap penyakit itu. Sebelumnya sudah ada enam orang yang dipastikan mengidap polio, dari 17 orang penderita lumpuh layuh yang diteliti. Kini menjadi delapan orang, kata Yusharmen, Direktur Epidemiologi dan Imunisasi Departemen Kesehatan ketika dihubungi Tempo, Minggu (15/5). Yusharmen menjelaskan, dari penelitian terhadap 120 orang kontak, 14 orang dinyatakan positif mengidap polio. Kontak adalah orang sehat yang mempunyai riwayat dengan ke-17 orang penderita, seperti tetangga atau kerabat. Para kontak itu dinyatakan sehat, katanya. Jumlah kontak yang akan diperiksa di Bio Farma, kata Yusharmen, akan terus bertambah. Sesuai dengan hasil penelusuran tim pengawasan Departemen Kesehatan, ia menjelaskan. Ami Afriatni
Lumpuh Layuh di Lombok Bukan Polio Wakil Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dr Gerudug menyatakan, setelah mendapatkan hasil pemeriksaan di laboratorium, ketiga pasien lumpuh layuh atau Acute Falaccid Paralysis (AFP) yang ditemukan di Lombok Tengah bukan karena virus liar polio. Setelah ketiganya mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Darek dan Mangkung, Lombok Tengah, ketiga orang tersebut sudah membaik dan bisa berjalan normal kembali, katanya kepada wartawan ketika dihubungi dihubungi wartawan di Mataram, Minggu (15/5). Pihaknya setiap tahun secara kontinyu melakukan pemantauan atas kemungkinan masih adanya virus liar polio di NTB. Setiap tahun Dinkes NTB melakukan pencarian terhadap masyarakat yang terkena lumpuh layuh. Namun yang ditemukan selama ini jauh dari target yang ditetapkan 15 pasien, ujarnya. Dalam beberapa tahun terakhir ini temuan Dinkes NTB terhadap pasien lumpuh layuh relatif kecil. Semua temuan itu bukan akibat virus liar polio. Untuk tahun ini, katanya, pihaknya baru menemukan lima kasus lumpuh layuh, tiga terdapat di Lombok Tengah, yakni di Dusun Nusa (Desa Pelambek), Dusun Tanggong (Desa Darek) serta Desa Mangkung, semuanya di Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah. Sedangkan dua kasus lainnya terdapat di Kabupaten Dompu dan Bima, katanya. Ia optimistis bahwa dari hasil pemantauan selama ini NTB masih bebas penyakit akibat virus liar polio. Lima pasien lumpuh layuh yang ditemukan bukan disebabkan oleh virus liar polio.
Menurut Antara, di tiga dusun di Lombok Tengah tersebut, ketiga pasien yakni Marzuki Darusman, Mustiwardana dan Fatoni sudah mulai membaik dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Ketika wartawan berkunjung ke rumah mereka, anak-anak tersebut bermain dengan teman-temannya. Berdasarkan keterangan dari orangtua mereka, ketiganya sempat dibawa ke Puskesmas Darek dan Mangkung. Mereka mendapat perawatan dari dokter, dan kesehatan anak-anak itu sudah pulih kembali. Ketiga pasien tersebut terpaksa dibawa ke puskesmas karena sakit perut dan panas serta mengalami kelumpuhan. Namun setelah mendapat perawatan, mereka disuruh kembali karena sakitnya sudah membaik. Para orangtua tersebut mengaku ketika masih bayi mereka tidak mendapat imunisasi lengkap. Lokasi permukiman ketiga pasien tersebut kurang memadai. Misalnya rumah keluarga Mustiwardana di Dusun Nusa, Desa Pelambek yang jaraknya cukup jauh dari Mataram, harus melintasi pematang sawah. Mustiwardana saat dikunjungi wartawan terlihat baru pulang mandi di sungai bersama-sama teman sebayanya. Demikian juga halnya dengan Marzuki Darusman (14). Saat ditemui di rumahnya yang sangat sederhana karena beratap rumbia, ia sedang mengaji. Marzuki sudah tidak merasakan sakit apa-apa lagi, ia sudah bisa melaksanakan aktivitas sehari-hari termasuk mengikuti pengajian di kampungnya. Memang sepuluh hari lalu saya sakit, saya sulit berjalan, katanya.
17 Balita Jakarta Lumpuh Layuh, Hanya 1 Positif Polio Jumlah balita di Jakarta yang menderita lumpuh layuh ada 17. Namun hanya 1 balita saja yang dinyatakan positif polio, yaitu Silvi Yulianti, 20 bulan. Silvi dan sejumlah balita penderita lumpuh layuh lainnya saat ini dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) dr.Sulianti Suroso, Jakarta Utara. Dari 17 balita itu, sudah ada yang diperbolehkan pulang. Silvi ketularan polio saat tinggal dengan neneknya di Sukabumi, daerah pertama ditemukannya amukan virus polio liar. Kedua orangtua Silvi tinggal di Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Dikhawatirkan virus polio yang dibawa Silvi ke Jakarta menjangkiti bayi-bayi di sekitarnya. Kecamatan Sawah Besar sudah dilakukan vaksinasi, kata Humas Dinas Kesehatan DKI Jakarta Evi Zelvino saat dihubungi detikcom melalui telepon, Minggu (15/5/2905). Vaksinasi itu segera dilakukan sesuai aturan bahwa jika ada ditemukan kasus polio di daerah tertentu, maka daerah tersebut langsung divaksinasi. Balita yang ketularan polio di Jakarta hingga kini belum ada. Silvi kan kenanya di Sukabumi, tegas Evi. Rencananya imunisasi polio massal akan dilakukan di Provinsi DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, dalam dua tahap, pada tanggal 31 Mei 2005 dan 28 Juni 2005. Imunisasi massal tersebut tetap akan dilakukan dengan maksud meminimalisasi dan mengantisipasi penyebaran virus polio yang penularannya bergerak cepat,kata Evi. Dari RSPI dr Sulianti Suroso dilaporkan, RS tersebut menyediakan ruang Mawar untuk para pasien polio. Namun Silvi hingga saat ini dirawat di ruang Melati. Di ruangan itu juga ada kakak Silvi yaitu Siti Masitoh (4 tahun) yang juga menderita lumpuh layuh. Sedang di ruang Mawar dirawat pasien bernama Rifki (2,7 tahun). Pengobatan mereka ditanggung negara alias gratis.(nrl)
Delapan Anak Asal Sukabumi Positif Terjangkit Polio Liar Penyakit polio terus mengincar anak-anak. Hasil pemeriksaan Laboratorium Bio Farma Bandung yang ditunjuk oleh Depkes untuk memeriksa kasus polio, delapan dari 17 orang anak asal Sukabumi yang menderita lumpuh layu positif mengidap polio. Satu orang dinyatakan negatif sementara sisanya masih dalam pemeriksaan. Lumpuh layu yang menyerupai penyakit polio tidak hanya disebabkan oleh virus polio, namun banyak penyebabnya jadi bukan hanya akibat virus polio. Untuk menentukan penyebab kelumpuhan harus dilakukan melalui pemeriksaan tinja pasien, jelas Kepala Biro Umum dan Humas Depkes Suprijadi dalam siaran pers yang diterima detikcom Sabtu (14/5/2005). Kedelapan penderita polio itu adalah Fr (20 bulan), Fa (48 bulan), Dl (9 bulan) ketiganya warga Dusun Cidadap, Giri Jaya, Cidahu, Al (32 bulan), warga Dusun Ciseke, Giri Jaya, Cidahu, Dar (24 bulan) warga Dusun Cipanengah, Bojong Genteng, Sel (21 bulan) dan Msa (26 bulan), warga dusun Cisaat, Cicurug, Sus (30 bulan) Desa Cipondok, Cicurug, Sukabumi. Sedangkan 9 kasus lumpuh layu lainnya yaitu satu orang atas nama Lut(18 bulan), warga Cidadap, dinyatakan negatip menderita polio, sementara 8 kasus lainnya dalam proses pemeriksaan di Bio Farma Bandung, kata Suprijadi. Selain memeriksa penderita lumpuh layu, Depkes juga memeriksa anak-anak yang yang melakukan kontak dengan penderita polio. Dari 157 anak yang diperiksa, terdapat 22 anak sehat, artinya tidak sakit polio tapi dapat menjadi sumber penularan, ujarnya. Satu penderita positip polio yaitu Sel warga Cicurug pada tanggal 12 Mei 2005, dipindahkan perawatannya dari RSCM Jakarta ke RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso (RSPI) Jakarta, menyusul adanya keresahan warga yang takut polio akan menular pada anak-anak mereka. Sementara itu Depkes telah melakukan upaya pencegahan penularan dengan melakukan ORI (Outbreak Response Imunisasi) di kelurahan Mangga Besar pada tanggal 12 Mei 2005, yaitu memberikan imunisasi polio pada semua anak di bawah lima tahun setelah 72 jam diterima kasus polio positif. Pemda DKI menanggung biaya semua penderita lumpuh layu dengan ketentuan semua penderita harus dirawat sampai adanya hasil pemeriksaan laboratorium. Pemda DKI akan menanggung biaya penderita polio positif sampai 60 hari setelah tanggal kelumpuhan, jelasnya. Selain itu imunisasi massal juga akan dilakukan di dua provinsi lainnya yaitu Jawa Barat, dan Banten pada tanggal 31 Mei 2005 dan 28 Juni 2005. Sasarannya adalah semua anak balita. Kasus lumpuh layu juga ditemukan di Kabupaten Lebak, Banten sebanyak 15 kasus, sementara di Kabupaten Karanganyar, Jateng sebanyak 4 kasus. Sudah dilakukan investigasi dan diambil spesimennya untuk diperiksa di laboratorium guna memastikan penyebab kelumpuhan, demikian Suprijadi.
Satu Balita Polio dari Sukabumi Dirawat di Jakarta
Silvi (21 bulan) Balita asal Sukabumi Jawa Barat yang selama ini tinggal dengan neneknya, kini dirawat di Rumas Sakit Penanggulangan Infeksi (RSPI) Sulyanti Suroso Sunter Jakarta Utara dengan biaya Pemprov DKI Jakarta. Dia dibawa keluarganya ke RSCM lalu sempat dirawat 11 hari, setelah itu dibawa ayah ibunya yang tinggal di Kecamatan Sawah Besar. Kami lalu mengambil bayi ke RSPI serta mengadakan vaksinasi untuk semua Balita di Sawah Besar, kata Kepala Dinas Kesehatan Chalik Masulili di Jakarta Jumat. Silvi yang ternyata positif polio tersebut tiba di RSPI pada Kamis (12/5) siang demikian pula kakaknya yang berumur 4 tahun dalam pemeriksaan. Kami juga sudah memeriksa tinja seluruh keluarganya untuk mengetahui apakah ada penyebaran, tapi sampai saat ini hanya Silvi saja yang positif, kata Masulili. Dia menjelaskan imunisasi untuk seluruh Balita di Sawah Besar adalah prosedur ORI (outbreak response imunisation) atau imunisasi massal lebih awal untuk mencegah berjangkitnya polio. Dinas Kesehatan menyiapkan 5 ribu vaksin untuk semua Balita di Sawah Besar, walaupun sebenarnya imunisasi cukup dilakukan di RW tempat orang tua Silvi tinggal. Semua Balita harus diimunisasi walau sudah diimunisasi. Balita yang sudah diimunisasi dalam ORI kami imbau tetap ikut imunisasi massal polio yang akan berlangsung 31 Mei, bahkan ikut lagi untuk imunisasi ulangan pada 28 Juni 2005, kata Masulili.
Menurut Masulili, vaksin polio adalah yang paling aman karena tidak masalah jika dosisnya berlebih maupun sering diberikan. Lebih lanjut Masulili menjelaskan semua warga DKI yang terjangkit polio semua biaya perawatan termasuk obat ditanggung Dinkes DKI Jakarta sedangkan biaya untuk warga non DKI akan dirundingkan dengan Depkes. Kami tegaskan untuk Jakarta hingga kini tidak ada kasus polio, yang ada hanyalah 17 kasus lumpuh layuh yang ternyata tidak satupun disebabkan polio, kata Masulili. Kepala Dinas Kesehatan menjelaskan ORI dilakukan agar Balita kebal virus minimal 100 hari karena virus polio dapat bertahan di udara terbuka 60 hari.
Imunisasi Polio Massal Masih Dilakukan Terbatas Departemen Kesehatan masih mengutamakan imunisasi polio massal secara terbatas hanya untuk tiga provinsi yang sudah terkena kasus, sehingga belum akan ada imunisasi massal secara nasional. Itu merupakan standar penanggulangan yang dilakukan negara manapun di dunia jika terjadi kasus seperti ini, daerah yang terdekat yang diutamakan, kata Dr. Muhammad Nadirin, Kasubdit Surveilans Etidemologi Dirjen Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPMPL) Depkes, di sela acara Bincang Sabtu pagi yang berlangsung di Marios Place Kuningan Jakarta,(14/5/2005). Tiga provinsi yang akan melakukan imunisasi massal polio adalah Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten. Imunisasi massal itu akan dilakukan dalam dua tahap, yakni tanggal 31 mei 2005 dan 28 Juni 2005. Sasaran imunisasi massal ini adalah anak balita tanpa melihat status imunisasi sebelumnya yang jumlahnya mencapai 5,2 juta anak. Dana yang disediakan Depkes sekitar Rp 41 miliar untuk tiga provinsi ditambah bantuan dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organizations/WHO) dan negara asing seperti Australia. Menurut Nadirin, imunisasi massal dilakukan untuk meminimalisasi dan mengantisipasi penyebaran virus polio. Selain itu, Depkes juga berupaya melokalisir virus yang menyebar melalui tinja di daerah yang sudah terkena, agar tetap disitu. Sedangkan bagi penderita yang sudah positif menderita polio menurut Nadirin akan dibiayai rumah sakit setempat sampai pada proses fisioterapinya namun pada batas-batas tertentu. Mengenai perlunya rumah sakit khusus, menurut Nadirin untuk penanganan polio sebenarnya tidak dibutuhkan peralatan canggih, karena sampai saat ini memang tidak ada obat untuk menyembuhkan penyakit polio. Namun ia menilai fasilitas rumah sakit yang ada termasuk di Sukabumi sudah sangat mencukupi. Khususnya dalam hal universal precaution dimana belum terjadi penyebaran melalui tinja, katanya. Nadirin juga menjelaskan, bahwa polio yang telah masuk ke Jakarta bukan asli dari Jakarta, karena korban yang dinyatakan positif tersebut terkena di Sukabumi. Penderita itu adalah orang Sukabumi yang mempunyai rumah di Jakarta. Jadi waktu dia terinfeksi polio pada saat berada di Sukabumi, katanya. Dia juga menghimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak perlu khawatir terhadap ancaman penyebaran virus polio. Pasalnya, Depkes telah mempunyai agen-agen desease inteligent yang melakukan survei di seluruh Indonesia untuk mencari dan menemukan AFP (Acute Palccid Paralysis) atau lumpuh layuh yaitu kumpulan penyakit yang memberikan gejala seperti polio. Saat ini menurut data Depkes, polio yang disebabkan oleh AFP jumlahnya kurang dari satu persen. (ir)
Pasien Positif Polio Bertambah
Jumlah balita yang positif tertular virus polio liar (VPL) di Kabupaten Sukabumi terus bertambah. Berdasarkan hasil pemeriksaan balita yang diduga terjangkit polio di Labotarium Bio Farma Bandung, balita yang positif bertambah dua orang. Jumlah keseluruhannya kini menjadi delapan orang. '' Penambahan penderita yang positif tersebut diketahui setelah kami mendapatkan informasi dari hasil labotarium Bio Farma Bandung, Sabtu (14/5),'' ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, dr Buhono Thahadibrata kepada wartawan, senin (16/5) di Sukabumi. Namun demikian, lanjut dia, pihaknya tidak bersedia menyebutkan secara rinci nama balita yang positif tersebut. Survailans Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Jauhari Muas mengatakan, kedua balita yang positif menderita polio tersebut berinisial DD dan SS. Dikatakan Jauhari, data balita yang positif terserang di Kabupaten Sukabumi dikhawatirkan akan terus bertambah. Pasalnya, lanjut dia, dari kotoran balita yang diperiksa oleh Labotarium Bio Farma Bandung sebanyak 156 orang yang diduga terserang polio. Sebanyak 20 orang di antaranya, kata dia, dinyatakan contactship. Setelah kasus penyebaran Polio di Kabupaten Sukabumi beberapa waktu lalu, empat anak di Kabupaten Karawang terindikasi mengalami penyakit serupa. Pasalnya, keempat anak ini telah mengidap penyakit lumpuh layu, gejala awal penyakit polio. Sementara itu, menurut Kabid Penyebaran Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, dr Asep Hidayat, pihaknya telah menyerahkan contoh feses (tinja) empat anak yang menderita lumpuh layu dan diduga polio ke labolatorium Bio Farma. ''Untungnya, hasil dari labolatorium menyatakan mereka negatif polio,'' kata Asep akhir pekan lalu.
Keempat anak itu, kata Asep adalah Wanta (13 tahun), warga Kampung Pasar Batu Jaya, Kecamatan Batu Jaya; Zulfi Nurislami (5) , warga Desa Sirnaruju, Kecamatan Tegal Waru; Opik (1), warga Desa Kertamulya, Kecamatan Pedes; dan Eka Maulidin (3), warga Desa Payung Sari, Kecamatan Pedes. Meski mereka tidak dinyatakan positif polio, Asep mengatakan, keempatnya mengalami lumpuh layu, semacam penyakit syaraf yang menyebabkan kelumpuhan. Pasalnya, kata dia, masih ada 32 jenis penyakit, selain polio, yang timbul akibat penyakit lumpuh layu. ''Tapi, kelumpuhannya masih bisa diobati. Mungkin satu atau dua bulan ini mereka bisa sembuh,'' kata Asep. Menurut Asep, pihaknya memang setiap tahun menginstruksikan untuk mencari anak dari 0 hingga 15 tahun yang mengidap penyakit lumpuh layu. Pasalnya, kata dia, penyakit lumpuh layu merupakan indikasi terserangnya penyakit polio, yang bisa menyebabkan lumpuh permanen. Untuk tahun 2004 lalu, kata Asep, di Kabupaten Karawang terdapat 11 anak usia 0 hingga 15 tahun dari 11 kecamatan yang mengidap penyakit lumpuh layu. ''Tapi, semuanya negatif polio,'' ujar dia. Menghadapi masalah polio ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan pemerintah tidak akan memberikan kompensasi kepada warga masyarakat yang terkena polio melainkan hanya membantu semua upaya imunisasinya. ''Pemerintah membantu semua upaya imunisasi itu, tetapi pemerintah juga tidak bisa memberikan kompensasi kepada semua mereka yang sakit,'' katanya di Kantor Wapres, Jakarta, Senin (16/5). Menurut Wapres, apabila satu orang terkena polio diberikan kompensasi maka semua orang sakit di Indonesia juga akan meminta hak yang sama. ''Mereka akan bertanya apa bedanya polio dengan malaria. Tidak ada bendanya. Jadi semua pihak harus menjaga tingkat sanitasi yang baik di lingkungan masing-masing," kata Wapres. Mengenai asal muasal munculnya virus polio liar ini, Wapres berpendapat, ada tiga kemungkinan saling kontak itu yakni bertemu sewaktu musim haji, bertemu TKI dengan TKI di luar negeri, atau orang Afrika yang datang ke Indonesia dan bertemu di tempat yang sanitasinya tidak baik. ''Jika di tempat haji, kemungkinan sanitasinya cukup baik karenanya sekarang ini kita tidak tahu di mana asal mulanya penyakit itu karena pada dasarnya adalah sanitasi yang kurang baik," katanya.
Kerja Sama Internasional Tanggulangi Virus Polio
Sebuah langkah kerja sama internasoinal ingin dibangun pemerintah untuk menanggulangi penyebaran virus volio asal Benua Afrika yang kini sedang menyerang Indonesia. Namun pemerintah tak akan memberikan dana kompensasi bagi penderita polio ini kecuali biaya pengobatan di rumah sakit. ''Ya, polio itu kan hanya satu pencegahannya, yaitu imunisasi. Karena di dunia ini tidak bisa lagi kita tutup, jadi betul-betul kita harus bekerja sama dengan dunia internasional,'' ungkap Wakil Presiden Jusuf Kalla, di Kantornya, di Jakarta, Senin (16/5). Kalla lantas menyontohkan virus polio yang sedang mewabah di beberapa daerah di tanah air. Ia mempertanyakan mengapa virus asal Afrika itu bisa menjangkit di sini. ''Jadi kira-kira dari mana orang indonesia dapat virus dari Afrika, kalau orang indonesia ke Afrika jarang,'' ujarnya. ''Cuma tiga kemungkinannya, yaitu dia naik haji, ketemu TKI dengan TKI atau orang Afrika ke Indonesia di tempat dimana sanitasi kurang baik.''
Menurut Kalla, untuk kegiatan ibadah haji dinilai memiliki sanitasi yang baik. Ia menduga virus volio asal benua hitam itu mewabah di daerah Sukabumi karena ada persentuhan pisik di sana. ''Ini kan sedang diselidiki dimana tempatnya,'' katanya. Sebagai bentuk tanggung jawab, Kalla menyatakan, pemerintah akan membantu semua biaya imunisasi anti polio. Namun, sergahnya, pemerintah tidak bisa memberikan kompensasi kepada semua yang terserang penyakit ini. ''Satu polio dikasih, nanti semua orang yang sakit di indonesia minta kompensasi. Cacar iya, malaria iya, jadi itu masing-masing harus menjaga diri, tapi semua biaya pengobatannya ditanggung pemerintah,'' jelasnya.
Sebotol vaksin influenza beserta jarum suntiknya.
Vaksin (dari kata vaccinia, penyebab infeksi cacar sapi yang ketika diberikan kepada manusia, akan menimbulkan pengaruh kekebalan terhadap cacar), adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau "liar". Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit. Vaksin dapat juga berupa organisme mati atau hasil-hasil pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus, dsb.). Vaksin akan mempersiapkan sistem kekebalan manusia atau hewan untuk bertahan terhadap serangan patogen tertentu, terutama bakteri, virus, atau toksin. Vaksin juga bisa membantu sistem kekebalan untuk melawan sel-sel degeneratif (kanker).
Menumbuhkan kekebalan Sistem kekebalan mengenali partikel vaksin sebagai agen asing, menghancurkannya, dan "mengingat"-nya. Ketika di kemudian hari agen yang virulen menginfeksi tubuh, sistem kekebalan telah siap: (1) menetralkan bahannya sebelum bisa memasuki sel dan (2) mengenali dan menghancurkan sel yang telah terinfeksi sebelum agen ini dapat berbiak. Vaksin yang dilemahkan digunakan untuk melawan tuberkulosis, rabies, dan cacar; agen yang telah mati digunakan untuk mengatasi kolera dan tifus; toksoid digunakan untuk melawan difteri dan tetanus. Meskipun vaksin sejauh ini tidak virulen sebagaimana agen "sebenarnya", bisa menimbulkan efek samping yang merugikan, dan harus diperkuat dengan vaksinasi ulang beberapa tiap tahun. Suatu cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan vaksinasi DNA. DNA yang menyandi suatu bagian virus atau bakteri yang dapat dikenali oleh sistem kekebalan dimasukkan dan diekspresikan dalam sel manusia/hewan. Sel-sel ini selanjutnya menghasilkan toksoid agen penginfeksi, tanpa pengaruh berbahaya lainnya. Pada tahun 2003, vaksinasi DNA masih dalam percobaan, namun menunjukkan hasil yang menjanjikan.
Pemberantasan penyakit Berbagai penyakit seperti polio telah dapat dikendalikan di negara-negara maju melalui penggunaan vaksin secara massal (malah, cacar telah berhasil dimusnahkan, sedangkan rubella dilaporkan telah musnah dari AS). Sepanjang mayoritas masyarakat telah diimunisasi, penyakit infeksi akan sulit mewabah. Pengaruh ini disebut herd immunity. Beberapa kalangan, terutama yang melakukan praktik pengobatan alternatif, menolak untuk mengimunisasi dirinya atau keluarganya, berdasarkan keyakinan bahwa efek samping vaksin merugikan mereka. Para pendukung vaksinasi rutin menjawab dengan mengatakan bahwa efek samping vaksin yang telah berizin, jika ada, jauh lebih kecil dibandingkan dengan akibat infeksi penyakit, atau sangat jarang, dan beranggapan bahwa hitungan untung/rugi haruslah berdasarkan keuntungan terhadap kemanusiaan secara keseluruhan, bukan hanya keuntungan pribadi yang diimunisasi. Resiko utama rubella, misalnya, adalah terhadap janin wanita hamil, tapi resiko ini dapat secara efektif dikurangi dengan imunisasi anak-anak agar tidak menular kepada wanita hamil.
PEMERINTAH BANTU IMUNISASI POLIO DAN TIDAK BERI KOMPENSASI Informasi yang disajikan dalam situs ini hanya untuk pengguna akhir (end-user). Menyiarkannya kembali dalam bentuk cetak, elektronik dan lain-lain tidak diperkenankan, tanpa izin tertulis dari LKBN ANTARA. Jakarta (ANTARA News) - Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan pemerintah tidak akan memberikan kompensasi kepada warga masyarakat yang terkena polio melainkan hanya membantu semua upaya imunisasinya. "Pemerintah membantu semua upaya imunisasi itu, tetapi pemerintah juga tidak bisa memberikan kompensasi kepada semua mereka yang sakit," katanya di Kantor Wapres, Jakarta, Senin. Menurut Wapres, apabila satu orang terkena polio diberikan kompensasi maka semua orang sakit di Indonesia juga akan meminta hak yang sama. "Mereka akan bertanya apa bedanya polio dengan malaria. Tidak ada bedanya. Jadi semua pihak harus menjaga tingkat sanitasi yang baik di lingkungan masing-masing," kata Wapres. Penyakit polio yang saat ini sedang menjadi sorotan di masyarakat, kata Kalla, obatnya hanya satu yakni imunisasi saja. Lebih lanjut Wapres mengatakan bahwa pihaknya telah mencoba menelusuri dari mana virus Afrika itu bisa masuk ke Indonesia.
"Kita coba telusuri di mana orang Indonesia bersentuhan dengan orang Afrika. Kalau orang Indonesia ke Afrika jelas jarang," katanya. Kendati demikian, Wapres berpendapat, ada tiga kemungkinan saling kontak itu yakni bertemu sewaktu musim haji, bertemu TKI dengan TKI di luar negeri atau orang Afrika yang datang ke Indonesia dan bertemu di tempat yang sanitasinya tidak baik. "Jika di tempat haji, kemungkinan sanitasinya cukup baik karenanya sekarang ini kita tidak tahu di mana asal mulanya penyakit itu karena pada dasarnya adalah sanitasi yang kurang baik," katanya.(*)
DELAPAN BALITA DI SUKABUMI TERTULAR VIRUS POLIO LIAR Delapan anak usia bawah lima tahun (balita) dari 17 balita menderita sakit lumpuh layuh (AFP - Acutc Placcid Paralysis) dinyatakan tertular virus polio liar P-1, kata Kepala Biro Umum dan Humas Depkes Suprijadi, SKM. "Pemeriksaan di laboratorium Bio Farma Bandung terhadap specimen faces dari 17 balita penderita AFP berasal Kabupaten Sukabumi, Jabar hingga 14 Mei 2005 ditemukan delapan balita positif tertular virus polio liar P-1," katanya dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu. Menurut Suprijadi, hasil pemeriksaan 17 specimen faces di Bandung itu, delapan balita dinyatakan positif tertular poliar liar jenis P-1, sedang delapan specimen masih menunggu proses pemriksaan dan satu specimen dinyatakan negatif. Depkes bekerjasama dengan organisasi kesehatan dunia (WHO) dan Badan PBB urusan Anak-anak (Unicef) selain memeriksa balita yang diduga sakit polio, juga telah memberikan imunisasi polio bagi 4.000 balita di sejumlah kecamatan di Sukabumi, Jabar, akhir April 2005. Untuk mencegah penularan virus polio, Pemerintah akan memberikan imunisasi polio secara gratis bagi 5,2 juta anak usia 0-59 bulan (balita) di Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jabar pada 31 Mei 2005 dan 28 Juni 2005. Supriyadi menambahkan, satu balita dari delapan tertular polio liar dari Sukabumi yang dirawat di RSCM Jakarta sejak 3 Mei 2005 kini telah sembuh dan sempat pulang ke tempat keluarganya di Kelurahan Mangga Besar, Jakarta Utara. Namun, untuk mencegah penularan virus polio, balita asal Sukabumi itu sejak 12 Mei 2005 dirawat ke RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso di Sunter, Jakarta Utara, selanjutnya seluruh balita di Kelurahan Mangga Besar dan di Kecamatan Mangga Besar diberikan imunisasi polio. Menanggapi laporan 15 kasus lumpuh layuh pada balita di Kabupaten Lebak, Banten, Tim Pemantaua Depkes dan WHO telah mengambil 15 sample tinja dari 15 balita untuk diperiksa di Laboratorium Badan Litbangkes Jakarta, demikian untuk laporan empat kasus lumpuh layuh di Kabupaten Karanganyar, Jateng
Sebelumnya, Menkes Siti Fadilah berharap, masyarakat tidak perlu panik jika ada balita sakit lumpuh, tapi segera dibawa ke rumah sakit (RS) terdekat untuk diobati dan diambil specimen tinja untuk diperiksa di laboratorium guna ditentukan jenis virus penularan penyakitnya. "Bayi dan anak yang telah mendapat imunisasi polio lengkap tidak akan tertular penyakit polio. Balita yang belum mendapat imunisasi polio harus segera ke Puskesmas terdekat untuk diberikan imunisasi," katanya.
WHO: WABAH POLIO DI YAMAN KEMUNGKINAN AKIBATKAN 100 ANAK LUMPUH Wabah polio di Yaman kemungkinan telah membuat lebih dari 100 anak menderita kelumpuhan sebelum penyakit itu dapat diatasi perluasannya, demikian menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Rabu. Seorang pejabat Kementerian Kesehatan Yaman mengatakan di ibukota Sanaa awal pekan ini, jumlah anak-anak yang didiagnosa menderita penyakit lumpuh layu (polio) itu telah meningkat menjadi 40 orang, hampir dua kali lipat dari kasus sebelumnya sebanyak 22 kasus seperti dikonfirmasi WHO pada akhir April lalu. Namun WHO menyatakan lebih banyak orang yang diduga menderita polio tengah diselidiki. "Kami memperkirakan jumlah para penderita polio itu akan bertambah menjadi lebih dari 100 orang sebelum wabah itu dapat diatasi," ujar jurubicara WHO Oliver Rosenbauer kepada Reuters. Penyakit tersebut, yang sebagian besar menjangkiti anak-anak di bawah usia lima tahun, menyebabkan kelumpuhan permanen. Angka imunisasi yang rendah di kalangan anak-anak di Yaman, yang terakhir dilaporkan terjadi tahun 1996, telah membantu penyebaran virus itu, demikian menurut WHO. Satu kampanye imunisasi nasional direncanakan dalam pertengahan kedua Mei. Dana Kanak-Kanak PBB (UNICEF) mengirim enam juta dosis vaksin oral polio, yang akan tiba di negara itu pada pekan depan, demikian menurut jubir WHO itu. "Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa dengan imunisasi yang cepat dan berkualitas tinggi, wabah sporadis penyakit itu dapat dikendalikan," ujar Rosenbauer disiarkan QNA. Yaman merupakan negara bebas-polio kelimabelas namun penyakit itu muncul kembali dalam dua tahun terakhir ini, termasuk 13 negara Afrika.
EVAKUASI TIGA KORBAN POLIO KE RSHS BANDUNG DIWARNAI KETEGANGAN Tiga orang korban virus polio liar dari Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Senin (9/5) sore tiba di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung setelah proses evakuasi ketiga penderita itu sempat diwarnai ketegangan karena aparat Pemkab setempat menghalangi-halangi proses evakuasi tersebut. Ketiga orang korban virus polio liar tersebut, yakni, Siti Fitria (7 tahun), M Luthfi (8 bulan) dan Ismail (3 tahun), selanjutnya ketiga orang tersebut langsung dirawat di ruang khusus perawatan untuk anak-anak No.A2. Dikatakan, proses evakuasi ini sendiri berjalan molor atau di luar jadwal semula yang sebelumnya direncanakan tiba di RSHS Bandung pukul 13.00 WIB namun tiba terlambat pukul 17.30 WIB akibat adanya aksi menghalangi oleh pemerintah setempat. Anggota LBH Kesehatan Royke Bagalatu, mengatakan, sebenarnya korban virus liar yang akan dievakuasi ke RSHS Bandung itu sebanyak tujuh orang namun akibat petugas keamanan serta aparat setempat melarang, sehingga hanya tiga orang yang bisa dievakuasi untuk dirawat di RSHS Bandung. "Kami hanya bisa membawa tiga orang korban virus polio sedangkan empat orang lagi hendak dibawa dihalang-halangi oleh aparat keamanan," tegasnya. Royke menyebutkan, petugas keamanan atau aparat Pemkab setempat tidak boleh mengevakuasi ketiga orang Balita itu, tidak jelas alasannya, dan kabarnya terkait dengan akan datangnya Menteri Kesehatan. Sebenarnya juga, LBH Kesehatan akan mengevakuasi 41 orang lainnya yang terkena gejala virus polio liar, namun kami hanya akan mengevakuasi tujuh orang anak yang positif terkena virus polio liar. "Tentunya kami akan melaporkan kepada pihak kepolisian atas sikap pemerintahan setempat yang mencoba menghalang-halangi proses evakuasi ini," tegasnya. Pasalnya, menurut dia, langkah isolasi terhadap korban yang terkena virus polio liar tersebut, harus dilakukan karena mengingat virus ini dapat menyebar terutama ke daerah lainnya. "Upaya isolasi mau tidak mau harus dilakukan guna mencegah terjadinya penyebaran terhadap virus tersebut ke anak-anak lainnya," tandasnya. Terlebih lagi, LBH Kesehatan merasa kecewa atas sikap pemerintah yang tidak pernah memberikan kejelasan tentang virus polio tersebut kepada masyarakat karena hanya memberikan polemik asal virus yang dikatakan dari Arab Saudi atau negara-negara Afrika. Sementara itu, Direktur RSHS Bandung Prof Dr dr Cissy Rachiana Sudjana membenarkan akan datangnya pasien korban virus polio liar dari Sukabumi yang direncanakan tiba di RSHS Bandung pada hari Senin (9/5) siang.
LBH KESEHATAN BAWA ENAM ANAK SUKABUMI KORBAN VIRUS POLIO Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kesehatan Jakarta, membawa enam dari 20 anak korban serangan virus polio di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, ke RS Hasan Sadikin Bandung, untuk dirawat secara intensif. "Senin pagi tadi sekitar pukul 08.00 WIB telah kami bawa enam anak dari 20 anak Sukabumi yang terserang virus polio untuk dirawat intensif di RS Hasan Sadikin Bandung," kata Direktur Pendiri LBH Kesehatan, Iskandar Sitorus yang menghubungi ANTARA Jambi via telepon dari Bandung, Senin. Menurut dia, virus polio yang menyerang anak balita rata-rata usia dua tahun itu di bawa ke RS Hasan Sadikin setelah pihaknya melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat dan pemerintah pusat. LBH Kesehatan yang menurunkan tim ke Sukabumi untuk melakukan penelitian dan membantu para korban, mendesak pemerintah untuk membasmi serangan virus polio yang melumpuhkan anak-anak balita. itu. Ia menjelaskan, tidak menutup kemungkinan serangan virus polio akan terus menyebar di daerah itu, bila penanganannya terlambat. Semenatara dilaporkan, jumlah penderita polio di Kabupaten Sukabumi terus bertambah dengan area temuan yang semakin meluas. Hasil penelitian sementara Tim dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dinas Kesehatan Jabar beserta petugas Puskesmas setempat, Kamis (5/5) diperoleh informasi penderita polio ternyata tidak hanya ditemukan di Kecamatan Cidahu, tetapi sudah merambah ke Kecamatan Bojonggenteng dan Kecamatan Cicurug. Sedikitnya sudah lebih dari 10 orang yang positif terkena virus penyakit lumpuh layu itu. Lima diantaranya terjangkit virus P1 patogen yang dikatagorikan sebagai virus polio liar. Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi terus melakukan pantauan terhadap serangan virus tersebut. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, dr Buhono Thahadibrata M.Kes, mengatakan, untuk memastikan berapa jumlah sebenarnya penderita polio , masih harus menunggu hasil laboratorium WHO. Beberapa korban yang baru ditemukan terdapat di Desa Cipanengah Kecamatan Bojonggenteng dan Desa Cisaat Kecamatan Cicurug. "Untuk mencegah semakin meluasnya virus liar tersebut dalam kurun sepuluh hari ini, pemerintah daerah telah melakukan vaksinasi di ketiga kecamatan itu. Sedikitnya 4.048 anak sudah mendapatkan vaksinasi polio," kata Buhono.
RS PEMERINTAH HARUS LAYANI GRATIS VAKSINASI POLIO Pemerintah menetapkan pelayanan vaksinasi polio secara gratis bagi anak usia 0-59 bulan (balita) di rumah sakit (RS) pemerintah se-Indonesia, mulai Mei 2005, kata Menko Kesra Alwi Shihab. "Menkes Siti Fadilah Supari telah mengeluarkan surat pelayanan gratis vaksinasi polio bagi balita se-Indonesia, menyusul penemuan 15 balita di Sukambumi yang menderita sakit lumpuh," katanya di Yogayakarta, Sabtu. Seusai menyaksikan pemberian imunisasi polio dan kartu askes gratis penduduk miskin di Puskemas Tegalrejo, Yogyakarta, Alwi minta masyarakat melaporkan ke Depkes jika mengetahui RS pemerintah memungut biaya imunisasi polio. Alwi menegaskan, kejadian luar biasa (KLB) penyakit polio akibat virus polio liar yang menimpa tiga balita di Sukabumi, Jabar tidak akan meluas ke daerah lain, karena hampir seluruh balita di Indonesia telah diimunisasi polio secara rutin. Pada kesempatan terpisah ,Menkes Siti Fadilah Supari mengatakan, tiga balita terkena virus polio liar di Sukabumi, Jabar, akhir April 2005 karena belum mendapatkan imunisasi polio. Depkes bekerja sama tim Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) telah menemukan 15 kasus sakit lumpuh layuh(lemah) di Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jabar, April 2005 yang terbagi atas tiga kasus positif karena virus polio liar, satu negatif, satu menunggu konfirmasi dan 10 kasus menunggu pemeriksaan labaratorium Biofarma di Bandung. Tim Depkes dan WHO juga telah melakukan imunisasi polio bagi sekitar 4.000 balita di dua kecamatan di Sukabumi, pada 24 - 27 April 2005 agar tidak tertular virus polio dari tiga balita di daerah itu. Balita di Sukabumi tertular virus polio liar diduga berasal sejumlah warga yang bepergian Arab Saudi yang membawa virus polio karena di Arab Saudi ditemukan lima anak dari Negeria dan satu dari Sudan menderita lumpuh layuh akibat virus polio. Menkes menyatakan, untuk memutus rantai penularan virus polio dari Afrika itu, pemerintah akan melaksanakan imunisasi polio gratis bagi sekitar 5,2 juta anak balita di Banten, DKI dan Jabar pada 31 Mei dan 28 Juni 2005. Biaya untuk pelaksanaan imunisasi di tiga provinsi mencapai Rp17,5 miliar terbagi Rp8,5 miliar untuk pembelian vaksin polio dari APBN dan dan Rp9 miliar untuk biaya operasional dari bantuan luar negeri. Dia menambahkan, masih terdapat enam negara di seluruh dunia yang endemis polio, yakni India, Sudan, Nigeria, Afghanistan, Mesir dan Pakistan, tetapi pada awal 2005, beberapa negara yang sudah bebas polio seperti Chad dan Yaman terserang kembali oleh virus polio yang berasal dari negera endemis polio.
KASUS POLIO DI INDONESIAN JADI PERHATIAN PERS AMERIKA Ditemukannya kasus penyakit polio di Indonesia mendapat sorotan dari sejumlah media massa di Amerika Serikat dalam sepekan terakhir ini. Beberapa media terkemuka AS seperti The New York Times, LA Times dan Boston Globe antara lain menulis bahwa virus polio di Indonesia yang diperkirakan berasal dari Afrika, menunjukkan betapa wabah tersebut makin meluas di dunia. Apalagi kasus terebut muncul ketika WHO sedang giat-giatnya melakukan kampanye vaksinasi polio dan di Indonesia sejak 1995 tidak pernah ditemukan kasus polio. "Kasus polio terakhir di Indonesia terjadi tahun 1995, kini negara muslim itu menjadi negara ke-16 yang terkena wabah tersebut," tulis The New York Times. Surat kabar tersebut juga menulis bahwa upaya memerangi polio di dunia ternyata belum selesai. Padahal organisasi kesehatan dunia (WHO) pernah mencanangkan target bebas polio sebelum tahun 2008 mendatang. Surat kabar Boston Globe dalam edisi on-line juga menyorot mengenai makin jauhnya "perjalanan" virus polio tersebut dari Nigeria hingga ke Indonesia. Disebutkan pula bahwa virus polio tersebut mulai menyebar lagi pada dua tahun lalu karena ada penghentian vaksinasi di Nigeria. Sementara itu pejabat bidang informasi perwakitan tetap Nigeria untuk PBB, Okon Isong menyayangkan pemberitaan pers barat yang cenderung menyalahkan negaranya dalam kasus penyebaran polio tersebut. "Pemberitaan persrat tampak menyalahkan Pemerintah Nigeria atas masalh penyeberan polio tersebut," katanya kepada ANTARA di New York, Jumat. Ia menjelaskan, penghentian sementara vaksinasi pada dua tahun lalu itu hanya terjadi di negara bagian Kano, utara Nigeria, karena ada keraguan masyarakat atas vaksin yang diproduksi suatu perusahaan farmasi. "Kebijakan itu sendiri diluar wewenang pemerintah pusat," kata Okon Isong. Dia juga menyatakan tidak yakin bahwa kasus di Nigeria itu menjadi satu-satunya penyebab penyebaran virus polio tersebut.(*)
VIRUS POLIO DI SUKABUMI DIPERKIRAKAN DARI ARAB SAUDI Dinas Kesehatan Jawa Barat memperkirakan virus polio yang menyerang sejumlah anak di Kabupaten Sukabumi berasal dari Arab Saudi sebagaimana hasil penelitian organisasi kesehatan dunia WHO bahwa karakteristik virus polio di dua tempat itu sama. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Yudi Prayudha di Bandung, Jumat, mengatakan, virus polio yang sifat penyebarannya tanpa batas, bisa saja dibawa oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang baru pulang dari Arab Saudi atau dari mereka yang usai pergi haji atau umroh. Selain itu kehadirannya diduga terkait dengan banyaknya orang yang keluar masuk Desa Girijaya Sukabumi, seperti yang datang dari Jakarta dan Jawa Tengah. Yudi menyebutkan, WHO tidak pernah menyatakan suatu negara bebas dari penyakit polio, kecuali berdasarkan luasan regional, seperti Indonesia masuk dalam regional Asia Selatan, dan untuk regional Asia Selatan ditargetkan bebas polio tahun 2008. WHO sendiri melakukan upaya untuk mencari anak-anak yang mengalami `lumpuh layu` akibat terkena virus polio dengan asumsi dari 100 ribu anak yang diperiksa satu orang di antaranya mengalami lumpuh layu. Di Jabar sendiri pencarian dilakukan dengan menggunakan hitungan 1,3 yang artinya satu anak dapat jalan dan dua anak mengalami lumpuh layu, sedangkan sampai tahun 2005 tercatat terdapat 100 ribu anak mengalami lumpuh. Namun persoalannya dari ke-100 ribu anak yang mengalami kelumpuhan itu tidak seluruhnya diakibatkan oleh virus polio, sehingga dugaan serangan virus polio kepada seorang anak harus diteliti lagi melalui laboratorium, seperti meneliti tinja anak yang bersangkutan. Keberadaan virus polio itu sendiri bersifat tidak terbatas seperti penyebarannya tidak hanya terbatas di Kabupaten Sukabumi saja, namun juga dapat terjadi di daerah lainnya. "Hingga kewaspadaan akan kehadiran virus tersebut harus ditingkatkan seperti dengan cara melakukan imunisasi polio," tandasnya. Diungkapkan, pemberian imuniasi polio sendiri di wilayah Jabar sudah rutin dilakukan, sementara adanya korban apakah sudah diimunisasi atau belum, kejelasannya belum diketahui.
PT. BIO FARMA SIAP KURANGI EKPOR VAKSIN POLIO PT Bio Farma siap mengurangi ekspor vaksin polio dalam upaya memenuhi persediaan vaksin di dalam negeri seiring terjadinya serangan virus polio pada sejumlah anak di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. "PT Bio Farma siap mengurangi ekspor vaksin polio terutama ke negara berkembang seperti India," ungkap Kahumas PT Bio Farma Elvyn Fajrul Jaya Saputra di Bandung, Jum`at. Menurut Elvyn, pengurangan ekspor vaksin itu sendiri terkait dengan permintaan di dalam negeri terhadap vaksin tersebut yang meningkat setelah kehadiran virus polio di Kabupaten Sukabumi. Sebenarnya, ia menyebutkan, PT Bio Farma sendiri dalam memproduksi vaksin polio sudah disesuaikan dengan kebutuhan balita di dalam negeri, yakni untuk sebanyak 45 juta balita per tahun. Oleh karena itu, menurut dia, tidak benar bilamana ada pandangan bahwa PT Bio Farma dalam memproduksi vaksin polio tidak sesuai dengan kebutuhan di dalam negeri. "PT Bio Farma siap kalau pemerintah meminta tambahan vaksin polio tersebut," tandasnya. Sementara itu Kasubdin Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Jabar, Fatimah Resmiyati mengatakan, PT Bio Farma akan menyiapkan 12 juta dosis vaksin polio untuk pelaksanaan imunisasi massal di tiga propinsi. Ketiga propinsi tersebut adalah Propinsi Banten, Propinsi Jawa Barat dan Propinsi DKI Jakarta yang akan dilakukan pada akhir Mei 2005 dan akhir Juni 2005. Di bagian lain, ia menyebutkan, akibat keberadaan virus polio yang positif menyerang lima anak di Kabupaten Sukabumi, maka pemerintah telah menetapkan statusnya Keadaan Luar Biasa (KLB). Sedangkan total kasus `Accute Flaccid Paralysis` (AFP) selama periode 1 Januari sampai 5 Mei 2005 sebanyak 18 kasus, dan yang positif terkena berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen tinja di Laboratorium Bio Farma sebanyak lima orang. Pemberian imunisasi polio pada putaran pertama dilakukan dari tanggal 24 April sampai 28 April 2005 di empat desa di Kabupaten Sukabumi, yakni terhadap 3.960 balita di daerah itu.(*)
LIMA WARGA DI KABUPATEN KEDIRI TERDETEKSI MENDERITA POLIO Sedikitnya lima orang warga di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, terdeteksi penyakit polio selama satu tahun terakhir ini. Kepala Bagian Humas Pemkab Kediri, Sigit Rahardjo, Jumat, mengemukakan bahwa selama tahun 2005 ini baru ditemukan satu orang penderita, sedang pada tahun 2004 lalu tercatat 4 orang penderita. Menurut Sigit, penderita atas nama Fenny Nurdina (12) anak dari Santun Luhur, warga Desa Selosari, Kecamatan Kandat diketahui menderita polio pada 24 April lalu. "Saat dibawa ke Puskesmas Blabak, Fenny menderita kelumpuhan dengan diagnosa myelitis," tandas Sigit menirukan staf Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri. Sementara empat penderita lainnya terdeteksi sejak bulan April hingga Agustus 2004 lalu. Keempat penderita itu adalah Rizki Aprilia (7,9) warga Bangsongan, Pagu mengalami kelumpuhan pada 21 April 2004, Siti Masruroh (8,4), warga Blabak, Kandat, mengalami kelumpuhan 27 April 2004, Uut Lestari (3), warga Batuaji, Ringinrejo, lumpuh pada 28 April 2004 dan Kinanti Krinaningtyas (10), warga Sambiresik, Gampengrejo mengalami kelumpuhan pada 18 Agustus 2004 lalu. Namun demikian, Sigit menyatakan bahwa penyakit yang diakibatkan oleh virus dan mulai diketahui setelah sempat reda selama sepuluh tahun terakhir ini kasus di Kabupaten Kediri belum termasuk kejadian luar biasa (KLB). Menurut dia, selama ini petugas kesehatan di Kabupaten Kediri telah melakukan tindakan preventif atas penyebaran penyakit polio yang konon penyebaran virusnya berawal dari kawasan Laut Merah. Untuk imunisasi polio I petugas kesehatan di Kabupaten Kediri telah melakukan terhadap 27.472 bayi, atau mencapai 105,29 persen dari target yang ditetapkan. Sedang imunisasi polio II telah diberikan kepada 25.924 bayi atau 99,36 persen dari jumlah bayi lahir dan untuk imunisasi polio III dan IV masing-masing 25.512 bayi dan 25.402 bayi.
5,2 JUTA BALITA DI BANTEN, DKI, JABAR DIIMUNISASI CEGAH POLIO Sekitar 5,2 juta anak usia 0-59 bulan (balita) di Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jabar wajib mengikuti imunisasi polio pada 31 Mei dan 28 Juni 2005 menyusul ditemukan tiga balita menderita lumpuh layuh karena virus polio di Sukabumi, kata Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari. "Depkes bekerjasama dengan tim dari Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) telah menemukan 15 kasus sakit lumpuh layuh di Kecamatan Cidahu, Sukabumi, Jabar, terdiri atas tiga kasus positif sakit karena virus polio liar, satu negatif, satu menunggu konfirmasi kejelasan virus dan 10 kasus menunggu pemeriksaan labaratorium Biofarma di Bandung," katanya di Jakarta, Jumat. Menkes minta seluruh orang tua di tiga provinsi itu yang memiliki anak balita untuk membawa ke pos imunisasi di RT/RW terdekat agar mendapatkan imunisasi polio secara gratis yang diteteskan pada mulutnya sehingga terhindar dari kemungkinan penularan virus polio liar. Menurut Menkes, hasil kepastian tiga balita menderita lumpuh layuh yang disertai gejala panas, pusing kepala, muntah dan lumpuh itu setelah contoh tinja mereka diperiksa di Laboaratorim Mumbai, India, akhir April 2005. "Tim Depkes dan WHO juga telah melakukan imunisasi polio bagi sekitar 4.000 balita di Sukabumi pada 24 - 27 April 2005 agar tidak tertular viruspolio dari tiga balita di daerah itu," katanya. "Depkes bekerjasama dengan tim dari Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) telah menemukan 15 kasus sakit lumpuh layuh di Kecamatan Cidahu, Sukabumi, Jabar, terdiri atas tiga kasus positif sakit karena virus polio liar, satu negatif, satu menunggu konfirmasi kejelasan virus dan 10 kasus menunggu pemeriksaan labaratorium Biofarma di Bandung," kata Menkes Siti Fadilah Supari. Menkes menegaskan, penyakit lumpuh layuh (lemas pada persendian kaki) yang menyerupai polio tidak hanya disebab virus polio, tapi penyakit lain seperti polyuneuropathy. "Masyarakat tidak perlu panik, karena bayi dan anak yang telah mendapat imunisasi polio lengkap tidak akan tertular penyakit polio. Balita yang belum mendapat imunisasi polio harus segera ke Puskemas terdekat untuk diberikan imunisasi," katanya. Menkes menambahkan, virus polio liar tidak pernah lagi ditemukan di Indonesia sejak tahun 1995, namun untuk menghapus virus polio liar dari bumi Indonesia, Depkes telah menyelenggarakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) polio pada 1995, 1996, 1997 dan diulang pada 2002 yang diikuti 90 persen balita. Menurut Menkes, masih terdapat enam negara di seluruh dunia yang endemis polio, yakni India, Sudan, Nigeria, Afghanistan, Mesir dan Pakistan, tetapi pada awal 2005, beberapa negara yang sudah bebas polio seperti Chad dan Yaman terserang kembali oleh virus polio yang berasal dari negera endemis polio.
Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPMPL) Depkes Umar Fahmi Achmadi mengatakan, balita di Sukabumi tertular virus polio liar diduga berasal dari jamaah haji RI yang membawa virus polio karena di Arab Saudi ditemukan lima anak dari Negeria dan satu dari Sudan menderita lumpuh layuh. PENYEBARAN VIRUS POLIO DI SUKABUMI KARENA VAKSINASI TIDAK TUNTAS Semakin meluasnya serangan virus polio di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, terjadi karena vaksinasi yang dilakukan selama ini tidak tuntas, sementara penyebaran virus ini sulit dideteksi bila penderita tidak mendapatkan pengawasan memadai. "Selama ini yang dilakukan pemerintah nampaknya hanya jargon untuk memberikan `image` kepada dunia bahwa kita sudah bebas polio. Padahal dengan percepatan jumlah penduduk yang cukup besar realitasnya sangat sulit untuk dikatakan bebas polio," kata anggota DPRD Propinsi Jawa Barat, dr Anwar Turjana, kepada ANTARA di Sukabumi, Jum`at. Menurut Anwar yang juga mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi itu, dirinya saat menjabat Kepala Dinas Kabupaten Sukabumi sempat mengusulkan kepada Depatemen Kesehatan agar vaksinasi polio tetap dilakukan meskipun Indonesia sudah masuk katagori bebas polio. "Sekarang kan terbukti, bahwa Indonesia khususnya Kabupaten Sukabumi belum bebas polio," katanya. Ia menawarkan kepada pemerintah untuk kembali menggalakan pekan imunisasi nasional (PIN) di beberapa daerah yang rawan penyebaran virus polio. "Kita harus segera melakukan kerja besar untuk memerangi menjangkit lebih hebatnya virus tersebut, beberapa daerah yang sudah terdeteksi hendaknya segera diupayakan vaksinasi, " katanya. Berdasarkan pantauan ANTARA di lapangan jumlah penderita polio di Kabupaten Sukabumi terus bertambah dengan area temuan yang semakin meluas. Hasil penelitian sementara Tim dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dinas Kesehatan Jabar beserta petugas Puskesmas setempat , Kamis (5/5) , diperoleh informasi penderita polio ternyata tidak hanya ditemukan di Kecamatan Cidahu, tetapi sudah merambah ke Kecamatan Bojonggenteng dan Kecamatan Cicurug. Sedikitnya sudah lebih dari 10 orang yang positif terkena virus penyakit lumpuh layu itu. Lima diantaranya terjangkit virus P1 patogen yang dikatagorikan sebagai virus polio liar. Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi terus melakukan pantauan terhadap serangan virus tersebut. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, dr Buhono Thahadibrata M.Kes, mengatakan untuk memastikan berapa jumlah sebenarnya penderita polio , masih harus menunggu hasil laboratorium WHO.
Beberapa korban yang baru ditemukan terdapat di Desa Cipanengah Kecamatan Bojonggenteng dan Desa Cisaat Kecamatan Cicurug. "Untuk mencegah semakin meluasnya virus liar tersebut dalam kurun waktu sepuluh hari ini, pemerintah daerah telah melakukan vaksinasi di ketiga kecamatan itu. Sedikitnya 4.048 anak sudah mendapatkan vaksinasi polio," kata Buhono.
AUSTRALIA SUMBANG 1 JUTA DOLAR ATASI POLIO Pemerintah Australia akan memberikan sumbangan kepada Indonesia sebesar satu juta dolar Australia untuk membantu pencegahan penularan penyakit polio yang kini muncul di Sukabumi, Jawa Barat. Siaran pers yang diterima ANTARA dari Kedubes Australia di Jakarta, Kamis, menyebutkan bahwa sumbangan tersebut diumumkan Sekretaris Parlemen Urusan Luar Negeri dan Perdagangan Australia Bruce Billson, hari ini. Sumbangan tersebut diberikan melalui AusAID untuk mendukung biaya operasional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam pemberian vaksin. "Kami juga bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dan UNICEF (Badan PBB yang menangani masalah anak-anak) untuk menanggapi kemunculan penyakit polio tersebut," katanya. Billson mengatakan, bantuan tersebut akan membiayai setengah dari perkiraan dana kampanye imunisasi. "Kami juga telah menawarkan keahlian kami dalam bidang logistik imunisasi massal kepada WHO di Jakarta," katanya. Menurut dia, melalui aksi cepat Indonesia, pejabat WHO dan UNICEF anak-anak di empat desa yang berdekatan dengan kemunculan penyakit polio yang dianggap tidak ada lagi di Indonesia sejak 1995 itu telah menerima vaksinasi polio. Australia, katanya, telah mendukung kampanye imunisasi di Indonesia selama bertahun-tahun dan sejak 1995 lebih dari 2,5 juta dolar Australia telah disumbangkan untuk vaksinasi massal anak-anak di berbagai provinsi di Indonesia.
WHO TEMUKAN KASUS POLIO PERTAMA DI INDONESIA SEJAK 1955 Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO) menemukan kasus polio pertama di Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir ini sejak 1955. Siaran pers yang diterima ANTARA di Jakarta, Rabu menyebutkan, kasus tersebut ditemukan di Jawa Barat dan menurut Christine McNab dari WHO, kasus serupa juga ditemukan di Jenewa, dimana anak berumur 18 tahun terinfeksi virus polio, virus yang baru-baru ini mewabah di Afrika Barat. Dikatakannya, setelah mengamati rangkaian genetika dari kasus di Indonesia, WHO yakin virus tersebut entah bagaimana berhasil masuk Indonesia melalui Laut Merah dimana kasus serupa juga dilaporkan dari Arab Saudi dan Sudan. Oleh karena itu, katanya, untuk mencegah infeksi yang berkelanjutan, maka negara harus memperkuat sistem pengawasan terhadap polio dan ketika virus itu terdeteksi langkah vaksinasi harus dilakukan dengan segera terhadap anak dibawah lima tahun. "Hal ini sudah terjadi di Indonesia dan lima juta anak menjadi sasaran di kawasan yang lebih luas," katanya. WHO bersama negara-negara lain, kata dia, perlu melanjutkan pemantauan lebih dekat terhadap cadangan virus polio seperti di Nigeria, India, dimana virus berasal. WHO juga menilai perlu menggalang dana 50 juta dolar AS antara saat ini hingga akhir Juli 2005 untuk melakukan kampanye vaksinasi polio bagi anak di wilayah tersebut serta dibutuhkan dana tambahan untuk kegiatan yang sama sekitar 200 juta dolar tahun depan. Polio adalah virus yang berkembang biak di air dan banyak menyerang anak-anak. Penyakit ini sangat mematikan bagi beberapa korbannya karena membuat sebagian tubuhnya lumpuh atau bahkan lumpuh total.
PBB IMBAU INDONESIA WASPADA SETELAH POLIO DITEMUKAN LAGI Badan PBB untuk kesehatan dunia (WHO) hari Selasa mengimbau pemerintah Indonesia dan negara-negara lainnya di dunia agar waspada dan segera mengambil langkah dalam menghadapi penyebaran virus polio, menyusul ditemukannya lagi penyakit tersebut di Jawa Barat baru-baru ini. "Kunci untuk menghindari penyebaran lebih lanjut adalah memastikan bahwa tiap negara telah memperkuat sistem pemantau atas kasus itu. Begitu virus terdeteksi, maka perlu segera dilakukan vaksinasi pada anak-anak balita," kata seorang pejabat WHO, Christine McNab, yang dipublikasikan di New York, Selasa. Upaya itu sendiri sudah dilaksanakan di Indonesia dengan target sekitar lima juta anak dalam lingkup kawasan yang lebih luas. Namun, tambahnya, WHO dan pemerintah tiap negara perlu terus memantau lebih dseksama atas tempat-tempat yang menjadi sarang virus polio, terutama di India dan Nigera. WHO yang bermarkas di Genewa telah memastikan terjadinya lagi kasus polio pertama di Indonesia sejak 1995. Kasus itu ditemukan di Sukabumi, Jawa Barat, yakni atas seorang anak berusia 18 bulan yang belum divaksinasi. Ia terinfeksi suatu jenis virus polio yang sama dengan yang saat ini menyebar di Afrika Barat. Virus polio itu menyebar di Afrika Barat setelah kampanye vaksinasi dihentikan di Nigeria. Virus polio umumnya menyerang anak-anak serta bisa menyebabkan kematian atau kelumpuhan.
McNab mengatakan, setelah melihat genetika dari virus di Indonesia, peneliti WHO yakin bahwa virus itu masuk ke Indonesia melalui kawasan Laut Merah, tempat kasus polio dikabarkan terjadi di Arab Saudi dan Sudan. WHO saat ini hingga akhir Juli mendatang memerlukan dana sekitar 50 juta dolar AS untuk vaksinasi polio bagi anak-anak di kedua negara. Untuk vaksinasi di tahun 2006 mendatang, WHO memerlukan sekitar 200 juta dolar AS.
BALITA DI BANTEN, DKI, JABAR WAJIB IMUNISASI POLIO PADA 2005 Seluruh anak di bawah usia lima tahun (balita) di Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat (Jabar) wajib mengikuti imunisasi polio selama 2005 menyusul ditemukan enam kasus sakit lumpuh layuh pada balita di Sukabumi, Jabar diduga karena virus polio. "Depkes bekerjasama dengan tim dari Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) telah menyelidiki laporan bahwa enam balita menderita kasus lumpuh pada 24 - 27 April 2005 dan memberikan imunisasi polio di Sukabumi," kata Menkes Siti Fadilah Supari di Jakarta, Sabtu. Untuk memastikan penyakit lumpuh layuh keenam balita itu berasal dari virus polio, maka Depkes bekerjasama dengan WHO dan Unicef (badan PBB urusan anak-anak) mengirimkan contoh darah dan tinja untuk diteliti ke laboraorium polio internasional di Mumbai, India. Menkes berharap, pemda dan masyarakat di seluruh Indonesia agar meningkatkan kewaspadaan khususnya melaporkan ke pelayanan kesehatan terdekat jika menemukan anak menderita penyakit lumpuh layuh. Untuk mencegah kemungkinan kasus lumpuh layuh di Sukabumi menular ke daerah sekitar, maka Depkes memberikan imunisasi polio sebanyak dua kali bagi balita di Jabar, DKI dan Banten pada 2005 untuk meningkatkan kekebalan tubuh dari serangan polio liar. "Seluruh anak usia kurang dari setahun di seluruh Indonesia juga diberikan imunisasi polio secara rutin setiap tahun untuk mencegah penularan virus polio liar yang dapat mengakibatkan penyakit lumpuh," kata Menkes. Menkes menambahkan, virus polio liar tidak pernah lagi ditemukan di Indonesia sejak tahun 1995, namun untuk menghapus virus polio liar dari bumi Indonesia, Depkes telah menyelenggarakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) polio pada 1995, 1996 dan 1997. "PIN Polio kembali dilaksanakan pada tahun 2002 untuk mempertahankan tingkat kekebalan anak terhadap ancaman virus polio liar. Setiap tahun, sekitar 90 persen bayi di Indonesia mendapatkan imunisasi polio secara rutin," katanya. Menurut Menkes, masih terdapat enam negara di seluruh dunia yang endemis polio, yakni India, Sudan, Nigeria, Afghanistan, Mesir dan Pakistan, tetapi pada awal 2005, beberapa negara yang sudah bebas polio seperti Chad dan Yaman terserang kembali oleh virus polio yang berasal dari negera endemis polio.
Penyakit Polio Mulai Serang Anak di Bekasi
Penyakit polio mulai menyebar di Kota Bekasi. Kemarin, dua orang anak, warga Kelurahan Seroja dan Kelurahan Jatibening, Kota Bekasi, dilaporkan terserang virus polio. Meski fisik keduanya mengalami perubahan, seperti bagian kaki mengecil dan mengalami kelumpuhan, namun Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat masih menyatakan baru tersangka polio. Ditemukannya kedua pasien penyakit polio yang berusia 4,5 tahun dan usia 2,5 tahun itu menutut Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular (P2M), Dinkes Pemkot Bekasi, Krisna Dewayani, setelah pihak posyandu di kedua kelurahan mengadakan program pemeriksaan anak-anak, Jumat (6/5), ''Ada tiga yang ditemukan, tetapi yang satu, warga Kelurahan Kayuringin, sudah dinyatakan negatif virus polio. Yang dua lagi masih tersangka polio, karena untuk kepastiannya harus dilakukan penelitian di laboratorium dulu,'' ujar Krisna, kemarin. Selain itu, tambah Krisna, penyakit polio baru teridentifikasi setelah orang tua si anak menceritakan bahwa belakangan ini anaknya mengalami perubahan suhu tubuh dan panas yang terus menerus. Setelah itu, petugas melakukan penelitian dan pemeriksaan dan hasilnya belum bisa dipastikan apakah positif terkena polio. ''Tapi masih tersangka,'' tandasnya. Berdasarkan data Dinkes, tiap tahun rata-rata ditemukan empat sampai lima kasus tersangka polio di kota ini. Pada 2004 lalu, ditemukan empat kasus. Tahun sebelumnya juga ditemukan empat orang. ''Dari jumlah itu, setelah dilakukan penelitian, mereka tidak sampai polio.'' Menurut Penyakit Krisna, polio memiliki gejala panas, demam, dan mengalami kelumpuhan. Penyebabnya berasal dari virus, biasanya ditularkan melalui kotoran manusia. Masa inkubasi serangan penyakit ini kira-kira satu minggu. ''Penyakit ini rentan menyerang anak sampai usia tiga tahunan,'' jelas Krisna.
Pemeriksaan yang dilakukan terhadap anak-anak di kota ini, lanjutnya, merupakan tindak lanjut dari instruksi Departemen Kesehatan (Depkes) atas penemuan penyakit polio di Sukabumi, Jawa Barat. Dijelaskan, kasus penemuan tersangka polio ini mendapat perhatian khusus dari Tim Medis Dinkes Kota Bekasi. Menindaklanjuti penemuan dua tersangka polio itu, Dinkes pada 31 Mei dan 28 Juni mendatang akan menggelar pelaksanaan pekan imunisasi untuk bayi. Imunisasi massal ini dimaksudkan untuk melakukan langkah pemutusan mata rantai penyebaran virus polio. ''Dilaksanakan di puskesmas, terminal, mal, stasiun kereta api, dan tempat umum lainnya,'' paparnya. Untuk keperluan pekan imunisasi tersebut, kata Krisna, saat ini sedang dipersiapkan sebanyak 1.451 buah pos untuk pelayanan imunisasi. Bagi para kader disiapkan oleh Dinkes Kota Bekasi. Sedangkan untuk vaksin dan biaya operasional kader di lapangan, kemungkinan besar mendapat bantuan langsung dari Depkes
( Dari berbagai sumber )
Tanggal dibuat : 01/06/2005 . 13:18
Revisi terakhir : 17/02/2010 . 19:16
Kategori : INFORMASI
Halaman pernah dibaca 19748 kali
Tampilan Print
Cetak halaman ini
|