FLU BURUNG
FLU BURUNG DI INDONESIA ( Oleh : Dr. H. Ilham Patu,SpBS )
Penyakit influenza pada unggas ( Avian Influenza / AI ) yang saat ini kita kenal dengan sebutan flu burung adalah penyakit yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dari Family Orthomyxomiridae. Virus ini dapat menimbulkan gejala penyakit pernafasan pada unggas, mulai dari yang ringan (Low pathogenic) sampai pada yang bersifat fatal ( highly pathogenic ). Penyakit unggas di Indonesia terdiri dari virus sebanyak 12 jenis diantaranya AI, bakteri 3 jenis, dan parasit 1 jenis. Virus AI dibagi kedalam sub type berdasarkan permukaan Hemagglutinin (HA) dan Neoraminidase (NA) ada 15 sub type HA dan 9 jenis NA.
Virus Influenza ada tiga tipe, yaitu tipe A ( pada unggas ) , tipe B dan C ( pada manusia ). Influensa tipe A terdiri dari beberapa strain, antara lain H1N1, H3N2, H5N1 dan lain-lain. Influensa A (H5N1) merupakan penyebab wabah flu burung yang sangat mematikan di Hongkong, Vietnam, Thailand, Indonesia dan Jepang. Di Indonesia Virus Influenza tipe A subtipe H5N1 tersebut diatas menyerang ternak ayam sejak bulan Oktober 2003 s/d Februari 2005 akibatnya 14,7 juta ayam mati. Masa inkubasi ( saat penularan sampai timbulnya penyakit ) avian influenza adalah 3 hari untuk unggas. Sedangkan untuk flok dapat mencapai 14 – 21 hari. Hal itu tergantung pada jumlah virus, cara penularan, spesies yang terinfeksi dan kemampuan peternak untuk mendeteksi gejala klinis ( berdasarkan pengamatan klinik ). Pada akhir tahun 2003 di sejumlah Negara telah tertular penyakit influenza pada unggas dan bersifat mewabah ( pandemi ) seperti Korsel, Jepang, Vietnam, Thailand, Taiwan, kamboja, Hongkong, Laos, RRC dan Pakistan termasuk Indonesia.
Data terakhir menunjukan bahwa sebanyak 139 Kabupaten/Kota di 22 Provinsi telah tertular ( dan menjadi daerah endemis ) Avian Influenza, yaitu Jabar, Banten, DKI Jakarta, Bali, NTB, NTT, Lampung, Sumsel, Bengkulu, Bangka Belitung, Sumbar, Jambi, Sumut, Kalbar, Kalteng, Kalsel, Kaltim, Sulsel dan Sultra. Penyakit ini menimbulkan kematian yang sangat tinggi (hampir 90 %) pada beberapa peternakan dan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar bagi peternak. Kemungkinan penularan kepada manusia dapat terjadi apabila virus avian influenza bermutasi. Unggas ( ayam, burung dan itik ) merupakan sumber penularan virus influenza. Untuk unggas air lebih kebal (resistensi) terhadap virus avian influenza daripada unggas peliharaan, Sedangkan burung kebanyakan dapat juga terinfeksi, termasuk burung liar dan unggas air. Flu burung merupakan infeksi oleh virus influenza A Subtipe H5N1 ( H = hemagglutinin; N = Neuraminidase ), sampai saat ini tidak ditemukan bukti ilmiah adanya penularan antar manusia. Tetapi pada keadaan sekarang ini virus flu burung belum mengalami mutasi pada manusia yang dapat mengakibatkan penyebaran dari manusia ke manusia.
Skenario menakutkan yang sedang dikaji Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ini mengingatkan dunia soal wabah flu Spanyol tahun 1918-1919. Saat itu virus flu muncul dan menyebar ke seluruh dunia hanya dalam waktu enam bulan. Serangan ini telah mengakibatkan 40 juta orang meninggal dunia. Dua kasus pandemi flu lainnya juga pernah meledak tahun 1957 dan 1968. Pandemi tahun 1957 menewaskan empat juta orang dan pandemi 1968 menewaskan dua juta orang. Pandemi adalah sebutan bagi wabah yang terjadi serempak di kawasan geografi yang luas. Kasus Flu Burung dalam perkembangan, bukan menyerang pada unggas saja, tetapi juga menyerang manusia. Pada Tahun 1997, 18 orang di Hongkong diserang flu burung, 6 orang meninggal dunia. Sementara data WHO yang telah dikonfirmasi untuk tahun 2003 di Vietnam ditemukan tiga kasus pada manusia dan ketiganya meninggal dunia ( angka kematian 100 % ), tahun 2004 kasus di Vietnam bertambah 29 kasus ( 20 meninggal ), ditahun yang sama negara Thailan ada kasus Flu Burung pada manusia sebanyak 17 penderita (12 Penderita meninggal dunia). Tahun 2005 : Vietnam 61 penderita (19 Meninggal Dunia), Indonesia 16 Penderita (11 meningal Dunia), Thailan 5 penderita ( 2 Meninggal Dunia ), China 7 penderita ( 3 Meninggal Dunia ), Kamboja 4 penderita ( 4 meninggal dunia ) dan Turki 2 penderita dan keduanya meiniggal dunia.
Sementara penyebaran virus tersebut pada manusia di Indonesia sejak bulan Juli Tahun 2005 hingga 12 April 2006 telah ditemukan 479 kasus kumulatif yang dicurigai sebagai flu burung pada manusia, dimana telah ditemukan 33 kasus konfirm flu burung, 24 diantaranya meninggal dunia. 115 Kasus masih dalam penyelidikan (36 diantaranya meninggal dunia), sementara yang telah dinyatakan bukan flu burung sebanyak 330 kasus.
Bila dilihat sejarahnya, flu burung sudah terjadi sejak 1960-an. Berikut kilasannya: o 1968: Penularan virus influenza asal unggas ke manusia sudah dilaporkan sejak 1968. o 1997: Flu burung pertama kali melewati "halangan spesies” dari unggas ke manusia. Sebelumnya, flu ini hanya menyerang burung, bukan manusia. Pertama kali muncul di Hongkong dengan 18 orang dirawat di rumah sakit dan enam orang diantaranya meninggal dunia, kemudian menyebar ke Vietnam dan Korea. Jenis yang diketahui menjangkiti manusia adalah influenza A sub jenis H5N1. o 1999: Satu varian dari H5N1 yang disebut H9N2, kembali mengguncang Hongkong dengan menginfeksi dua orang. o 20 Mei 2001: Untuk mencegah penyebaran flu burung, 40 ribu ekor ayam dimusnahkan di Hongkong dengan menggunakan karbondioksida. o 7 Februari 2002: Ratusan ribu ekor ayam dan itik dimusnahkan di Hongkong. Pemerintah setempat meminta penjualan dan impor ayam dihentikan, menyusul merebaknya wabah flu burung. Sejak saat itu pula, H5N1 mulai menyebar di luar teritorialnya. o April 2003: Penyakit flu burung mewabah di Belanda. o 15 April 2003: Kantor Kesehatan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, akan memeriksa secara ketat semua jenis unggas dan bahan makanan hasil olahan dari unggas yang berasal dari Belanda. Peraturan itu diberlakukan hingga negeri kincir angin itu bebas dari penyakit flu burung. Instruksi itu sendiri dikeluarkan oleh Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Depkes. o Nopember 2003: Tujuh juta ekor ayam dimusnahkan di Thailand. Sekitar 4,7 juta ayam di Indonesia mati, 40 persen diantaranya terkena virus flu burung dan virus New Castle. o Desember 2003: Virus ini kembali menunjukkan aksinya di Hongkong dan memakan satu korban. o 22 Desember 2003: Virus flu burung menyerang unggas di Korea Selatan. Kasus flu burung yang pertama di Korsel, ini ditemukan di peternakan itik dekat Kota Eumseong. Korea Selatan yang sedang berusaha mengatasi penyakit flu burung (bird flu) yang tingkat penyebarannya tinggi, menyetujui langkah-langkah untuk menahan perkembangan penyakit tersebut dan membatasi dampaknya pada industri peternakan. Virus itu, yang dapat mematikan manusia, muncul di antara ayam-ayam di kandang peternakan sekitar 80 km (50 mil) tenggara ibukota Seoul. o 24 Desember 2003: Pemerintah Korea Selatan memusnahkan sekitar 600 ribu ekor ayam dan itik akibat menyebarnya virus H5N1, penyebab flu burung. o Sepanjang 2003: Ditemukan tiga kasus flu burung pada manusia di Vietnam dan ketiganya meninggal dunia. Dua kasus di Hongkong dengan satu diantaranya meninggal. Kedua kasus itu mempunyai riwayat perjalanan dari Cina. Virus yang ditemukan adalah Avian Influenza A (H5N1). Ditemukan 83 kasus pada pekerja peternakan di Netherland, termasuk keluarganya dengan satu diantaranya meninggal. Virus yang ditemukan adalah Avian Influeza A (H7N7). Ditemukan seorang anak tanpa kematian di Hongkong terserang virus Avian Influenza A (H9N2). o Januari 2004: Penyakit flu burung menyebar sampai Jepang, Korea Selatan, Vietnam dan Thailand dengan satu identifikasi mereka menyebar dari Kamboja, Hongkong dan Taiwan. o 13 Januari 2004: Flu burung menewaskan jutaan ayam di Korea Selatan, Vietnam dan Jepang. Para peternak di Thailand mengatakan, ribuan ayam telah tewas karena sakit. Tapi sampai sekarang, belum dikonfirmasikan apakah peristiwa itu disebabkan flu burung. Hongkong dan Kamboja telah melarang impor ayam dari negara-negara yang telah terkena wabah itu. o 24 Januari 2004, PBB memperingatkan, flu burung lebih berbahaya dari SARS, karena kemampuan virus ini yang mampu membangkitkan hampir keseluruhan respon bunuh diri dalam sistem imunitas tubuh manusia. o 25 Januari 2004, Departemen Pertanian membenarkan adanya flu burung yang masuk ke Indonesia. o 26 Januari 2005, Wabah penyakit flu burung yang sesungguhnya telah menyerang perunggasan nasional sejak Agustus 2003 lalu kini resmi diakui oleh pemerintah. Penyebab wabah penyakit tersebut adalah virus Avian Influenza (AI) tipe A dan dinyatakan pula telah membunuh 4,7 juta ayam di Indonesia o 29 Januari 2004, Pemerintah menetapkan flu burung sebagai bencana darurat nasional dan meminta persetujuan DPR untuk pengucuran dana sebesar Rp. 212 milyar untuk penanggulangannya. Pemerintah juga akan memusnahkan hewan dan unggas lain yang positif terkena virus Avian Influensa.
Perjalanan Unggas penyebab flu burung di Indonesia :
Ada dugaan kuat perjalannnya melalui Jalur Pantura-Indonesia, khususnya Kabupaten Indramayu yang menjadi daerah yang rawan terhadap berjangkitnya virus penyebab penyakit berbahaya flu burung. Hal itu disebabkan wilayah udaranya selama ini jadi jalur lalu lintas migrasi jutaan burung setiap pergantian musim. Burung dari Australia atau Eropa, dalam perjalanan migrasinya yang menempuh ribuan kilometer, mengambil Kepulauan Rakit sebagai tempat peristirahatan atau transit. Pulau Rakit Utara, Gosong dan Rakit Selatan atau Pulau Biawak menjadi tempat persinggahan burung-burung itu. Di pulau-pulau itu, jutaan ekor burung tinggal cukup lama, 2-2,5 bulan. Di tempat peristirahatan itu, burung - burung bereproduksi, kawin dan banyak juga yang sampai menetaskan telurnya.
Virus flu burung hidup di dalam saluran pencernaan unggas. Virus ini kemudian dikeluarkan bersama kotoran, dan infeksi akan terjadi bila orang mendekatinya. Penularan diduga terjadi dari kotoran secara oral atau melalui saluran pernapasan. Flu burung (H5N1) dapat menyebar dengan cepat diantara populasi unggas dengan kematian yang tinggi. Bahkan dapat menyebar antar peternakan dari suatu daerah ke daerah lain. Seperti halnya influensa, flu burung ini sangat mudah bermutasi. Orang yang terserang flu burung menunjukkan gejala seperti terkena flu biasa, antara lain demam, batuk, sakit tenggorokan, sesak napas dan kadang-kadang disertai diare, tetapi kondisinya sangat cepat menurun drastis. Bila tidak segera ditolong, penderita bisa meninggal. Penyakit ini dapat juga menyerang manusia, lewat udara yang tercemar virus itu. Belum ada bukti terjadinya penularan dari manusia ke manusia. Dan juga belum terbukti adanya penularan pada manusia lewat daging yang dikonsumsi. Orang yang mempunyai resiko besar untuk terserang flu burung (H5N1) ini adalah pekerja peternakan unggas, penjual dan penjamah unggas. Saat ini, strain yang paling virulen penyebab flu burung adalah strain H5N1. Dari hasil studi yang ada menunjukkan, unggas yang sakit (oleh Influenza A H5N1) dapat mengeluarkan virus dengan jumlah besar dalam kotorannya. Virus itu dapat bertahan hidup di air sampai empat hari pada suhu 22 derajad celcius dan lebih dari 30 hari pada nol derajad celcius. Di dalam kotoran dan tubuh unggas yang sakit, virus dapat bertahan lebih lama, tapi mati pada pemanasan 600 derajad celcius selama 30 menit. Virus ini sendiri mempunyai masa inkubasi selama 1–3 hari.
Secara umum, gejala klinis serangan virus itu adalah gejala seperti flu pada umumnya, yaitu demam, batuk,sesak dan sakit tenggorokan, ber-ingus, nyeri otot, sakit kepala, lemas, dan dalam waktu singkat dapat menjadi lebih berat dengan terjadinya peradangan di paru-paru (pneumonia), dan apabila tidak dilakukan tatalaksana dengan baik dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu, setiap kasus flu yang menderita pneumonia dengan faktor risiko kontak dengan unggas pada daerah yang sedang terjadi KLB “flu burung” sebaiknya segera diperiksakan pada rumah sakit rujukan flu burung untuk segera dirawat dan diambil spesimennya, sampai kasus tersebut dapat dibuktikan bukan flu burung. Flu burung banyak menyerang anak-anak di bawah usia 12 tahun. Hampir separuh kasus flu burung pada manusia menimpa anak-anak, karena sistem kekebalan tubuh anak-anak belum begitu kuat.
Kemampuan virus flu burung adalah membangkitkan hampir keseluruhan respon "bunuh diri" dalam sistem imunitas tubuh manusia. Semakin banyak virus itu terreplikasi, semakin banyak pula sitokin protein yang memicu untuk peningkatan respons imunitas yang memainkan peran penting dalam peradangan yang diproduksi tubuh. Sitokin yang membanjiri aliran darah, karena virus yang bertambah banyak, justru melukai jaringan-jaringan dalam tubuh,sehingga terjadi efek bunuh diri.
Upaya pencegahan penularan tentu saja dilakukan dengan cara menghindari bahan yang terkontaminasi tinja dan sekret unggas, dengan beberapa tindakan seperti: - Mencuci tangan dengan sabun cair pada air yang mengalir sebelum dan sesudah melakukan suatu pekerjaan. - Melaksanakan kebersihan lingkungan - Melakukan kebersihan diri - Tiap orang yang berhubungan dengan bahan yang berasal dari saluran cerna unggas harus menggunakan pelindung (masker, kacamata khusus) - Bahan yang berasal dari saluran cerna unggas, seperti tinja harus ditatalaksana dengan baik (ditanam atau dibakar) agar tidak menjadi sumber penularan bagi orang disekitarnya. - Alat-alat yang digunakan dalam peternakan harus dicuci dengan desinfektan. - Kandang dan tinja tidak boleh dikeluarkan dari lokasi peternakan - Mengkonsumsi daging ayam yang telah dimasak dengan suhu 800 derajad celcius selama satu menit, telur unggas dipanaskan dengan suhu 640 derajad celcius selama lima menit
Untuk pengobatan sementara, penderita bisa diberikan obat antivirus Oseltamivir (75mg/kaps), antibiotik dan analgetik. Sebagai pedoman, petugas medis dan paramedis dalam penanganan flu burung bisa merujuk kepada Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso Jakarta (Prosedur Tetap Penanganan Penderita Flu Burung)
KEWASPADAAN MENGHADAPI PANDEMIK PADA FLU MANUSIA
Virus flu burung juga sangat mudah berubah di lapangan. Karena itu, vaksin flu burung yang diberikan pada unggas saat ini belum tentu cocok untuk tahun depan. Mudah berubahnya virus flu burung maupun virus flu manusia makin menunjukkan bahwa vaksinasi influenza pada manusia tidak akan melindungi manusia dari risiko penularan flu burung. Data didapat dari pengalaman kasus di Hongkong. Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa sejauh ini jumlah kasus flu burung pada manusia masih relatif sedikit jumlahnya. Artinya, walau sejak 1997 kasus ini sudah dilaporkan mulai terjadi dan jutaan unggas yang mati, jumlah kasus pada manusia dalam hitungan puluhan orang. Masyarakat tidak perlu resah berlebihan, kendati memang perlu waspada dan mengikuti perkembangan yang ada. Program penanggulangan telah dan sedang dilakukan oleh berbagai negara. Dari pengalaman tahun-tahun lalu, kasus flu burung dapat ditanggulangi. Tentu saja kita harus waspada, sebab bila program penanggulangan tidak berjalan baik, apalagi kalau terjadi mutasi dan timbul virus baru yang ganas dan mudah menular, masalahnya tentu akan jadi lebih serius lagi. Sejauh ini kita percaya upaya penanggulangan telah dilakukan secara optimal di berbagai negara yang terkena flu burung.
Kemungkinan terjadinya suatu Pandemi ( Wabah yang sangat besar ) dari virus flu burung ini dapat kita lihat dari perkembangan menuju terjadinya Pandemi yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai berikut :
Fase pandemi: A. Periode Interpandemik B. Periode kewaspadaan terhadap pandemi C. Periode Pandemik
Periode Interpandemik ; Fase 1. ( Indonesia sebelum Juli, 2003) Tidak ada subtipe virus influenza baru dideteksi pada manusia. Suatu subtipe virus influenza yang telah menyebabkan infeksi pada manusia mungkin ada pada binatang. Jika ada pada munusia risiko infeksi atau penyakit pada manusia diperkirakan rendah.
Fase 2. Tidak ada subtipe virus influenza baru dideteksi pada manusia. Tetapi, suatu subtipe virus influenza bersirkulasi pada binatang memiliki suatu risiko penyakit pada manusia. Di Indonesia fase ini mulai pada bulan Agustus 2003 ketika virus subtipe H5N1 dideteksi pada unggas.
Periode kewaspadaan terhadap pandemi; Fase 3. Infeksi pada munusia dengan suatu subtipe baru , tetapi tidak ada penyebaran dari manusia ke manusia, atau pada kejadian-kejadian yang paling jarang pada kontak yang dekat. Di Indonesia fase ini mulai pada bulan Juli 2005 ketika infeksi oleh subtipe H5N1 dikonfirmasikan pada manusia.
Fase 4. kelompok melingkar kecil (cluster) dengan penularan terbatas dari manusia ke manusia tetapi penyebaran sangat terlokalisir, memberi isyarat bahwa virus itu tidak beradaptasi baik dengan manusia. Di Indonesia sampai September 2005, fase ini belum mulai.
Fase 5. “Cluster” lebih besar, tetapi penyebaran dari manusia ke manusia masih terlokalisasi, memberi isyarat bahwa virus itu meningkat menjadi lebih baik beradaptasi dengan manusia, tetapi mungkin belum sepenuhnya menular dengan mudah (risiko pandemi yang substantif). Waktu yang diperlukan dari fase lima ini untuk masuk ke periode pandemik (fase keenam) selama tiga bulan.
Periode Pandemik ; Fase 6. Fase Pandemik : penularan yang meningkat dan berkesinambungan pada masyarakat umum.
Indonesia Bebas Flu Burung Tiga Tahun Lagi
JAKARTA -- Indonesia baru dapat dinyatakan bebas dari wabah flu burung tiga tahun dari kasus terakhir ditemukannya wabah tersebut. Hal itu sesuai dengan ketentuan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE). ''Kita dapat dinyatakan bebas dari wabah flu burung tiga tahun sejak kasus terakhir ditemukan. Ketentuan itu sesuai dengan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE),'' kata Dirjen Bina Produksi Peternakan Deptan, Sofjan Sudardjat, kepada pers, usai kampanye mengonsumsi ayam di Jakarta, Kamis. Menurut Sofjan, upaya untuk membebaskan diri dari wabah flu burung itu adalah dengan melakukan vaksinasi dan hingga kini sudah 50 hingga 60 juta ekor unggas yang telah divaksin avian influenza (AI). Sejak ditemukan wabah flu burung di Indoensia sampai kini telah mematikan sekitar lima juta ekor unggas. Namun, kata Sofjan, dari segi pertumbuhan populasi dan ketersediaan bibit unggas secara nasional tidak berpengaruh. Saat ini populasi unggas nasional mencapai 1,3 miliar ekor yang meliputi ayam buras 287,3 juta ekor, ayam ras petelur 85,1 juta ekor, ayam ras pedaging 919,7 juta ekor, dan itik 48,1 juta ekor. Data kematian terbesar terbanyak pada ayam ras yang hanya berkisar 0,5 persen dari populasi ayam ras dan hanya 0,4 persen terhadap populasi unggas secara keseluruhan. Menurut Sofjan, sejak ditemukan wabah flu burung di Indonesia jumlah kasus yang ditemukan hingga kini terus berkurang. Pada awal terjadi wabah Agustus 2003 kematian sebanyak 9.000 ekor, September 2003 naik jadi 325 ribu ekor dan memuncak pada November 2003 dengan korban 2,3 juta ekor. Namun, pada Desember 2003 kasus kematian mulai menunjukkan penurunan jadi 0,5 juta ekor dan pada Januari 2004 turun lagi menjadi 245.030 ekor. ''Sementara pada Februari 2004 belum dilaporkan adanya kasus baru, tapi tampaknya menunjukkan tren turun,'' katanya. Menurut Sofjan, keyakinan bahwa pertumbuhan populasi ayam (khususnya ayam ras) tidak terpengaruh flu burung adalah saat ini industri bibit unggas ayam ras normal lagi, yaitu didukung oleh pembibitan grand parents stock broiler 10 buah dan pembibitan empat buah. --------------------------------------------------------------------------------
Presiden Megawati Kampanyekan Makan Daging Ayam Media Indo, Presiden Megawati Soekarnoputri sedang mengambil menu ayam dalam mengkampanyekan makan daging ayam di gedung Sekretaris Negara, Jakarta sebelum sidang kabinet, Kamis. Presiden Megawati Soekarnoputri turut mengkampanyekan bahwa makan daging ayam tetap aman, meskipun saat ini wabah flu burung menyerang sejumlah peternakan unggas di Indonesia.Kampanye tersebut dilakukan sebelum sidang kabinet di gedung Sekretaris Negara, Jakarta, Kamis, dengan bersama-sama menyantap hidangan daging ayam. Sementara para juru foto dan juru Kamera berbagai media massa mengabadikan peristiwa tersebut. "Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa makan daging ayam itu, tetap aman asalkan dimasak dengan benar," kata Menteri Pertanian Bungaran Saragih. Menurut Bungaran, gencarnya pemberitaan mengenai wabah flu burung telah menyebabkan banyak masayarakat yang ragu-ragu untuk mengkonsumsi daging unggas.Hal tersebut berdampak pada peternak unggas sehingga harga daging maupun telur anjlok. Padahal hanya dengan memasaknya, virus dari daging atau telur unggas tersebut sudah musnah sehingga aman dimakan.Ia mengharapkan media massa juga mensosialisasikan mengenai amannya makan daging dan telur ayam dan jangan hanya membesarkan soal wabah tersebut.Sebelumnya Bungaran juga telah melakukan kampanye soal keamanan daging ayam di berbagai daerah. (Ant/O-1)
Presiden: Musnahkan Ayam yang Terkena Flu Burung Presiden Megawati Soekarnoputri menginstruksikan agar ayam-ayam yang terkena virus flu burung segera dimusnahkan dan peternak yang bersangkutan harus merekapitulasi kerugian yang dideritanya. Sementara itu, Departemen Pertanian menjanjikan bahwa wabah flu burung bisa dikendalikan dalam waktu enam bulan. Untuk penanganan wabah ini, Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Menteri Pertanian (Mentan) Bungaran Saragih sepakat menyatakan wabah tersebut sebagai bencana dalam status darurat. Dengan status ini, Komisi III DPR secara politik mendukung penyediaan dana sebesar Rp 212 miliar untuk pengendalian dan pemulihan. "Segera musnahkan ayam yang terkena virus itu dan rekapitulasi berapa jumlahnya. Nanti pada saatnya pemerintah akan membantu mengatasi kerugian itu," kata Presiden Megawati seperti dikutip Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Jusuf Kalla di Istana Negara, Jakarta, Kamis (29/1). Menurut Jusuf Kalla, pemerintah menyadari, akibat pemusnahan ternak yang terkena wabah flu burung, peternak yang bersangkutan akan mengalami kerugian yang cukup besar. "Pemerintah akan memberikan kompensasi tertentu kepada peternak pada waktunya nanti. Salah satu cara yang akan dilakukan adalah memberikan bibit. Tetapi, itu tentunya nanti kalau keadaan sudah baik. Kalau sekarang akan percuma karena ada kemungkinan bisa terserang lagi," ujarnya seusai bertemu Presiden Megawati. Menjawab pertanyaan dari mana pemerintah akan menyediakan anggaran untuk memberikan kompensasi kepada peternak yang ayamnya telah dimusnahkan, Jusuf Kalla mengatakan, "Bisa dari dana darurat yang memang telah dicadangkan di APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Saya pikir pasti dari situ."
Jusuf Kalla juga meminta agar pemerintah daerah lebih aktif melakukan penanggulangan wabah flu burung di daerahnya. "Karena dengan otonomi daerah, dinas pertanian tidak lagi bertanggung jawab kepada menteri pertanian, tetapi kepada gubernur. Menteri pertanian hanya menetapkan kebijakan umum, daerah yang harus mengambil tindakan sesuai dengan kondisi dan kebijakan di daerahnya," kata Menko Kesra.Ia mengakui, pemerintah belum membuat langkah-langkah untuk mengatasi kelangkaan pasokan daging ayam akibat pemusnahan ternak yang terkena wabah. "Ini kan cuma sementara. Mungkin akan ada perubahan pola makan masyarakat dalam satu-dua bulan. Mungkin akan beralih ke daging sapi atau ikan," ujar Jusuf Kalla menambahkan.
Presiden menetapkan penanganan wabah flu burung akan dilakukan dengan koordinasi Menko Kesra, Menteri Pertanian, dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. "Pemerintah akan memberikan pernyataan resmi mengenai hal itu," tutur Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rini MS Soewandi seusai rapat kabinet di Sekretariat Negara, Jakarta, kemarin. Pulih dalam enam bulan Pihak Departemen Pertanian (Deptan) sendiri menyatakan, secara teknis, wabah flu burung bisa dikendalikan dalam enam bulan. Dalam jangka waktu tersebut, diharapkan bisa dihentikan munculnya kasus flu burung yang baru. Komisi III DPR menyatakan memberikan dukungan penyediaan dana Rp 212 miliar untuk penanganan wabah tersebut, dengan catatan perincian kebutuhan sebenarnya masih akan dikaji lebih lanjut. Koordinator Panitia Anggaran Komisi III DPR Fachry Andi Laluasa mengatakan, dana tersebut akan diambilkan dari dana tanggap darurat, bukan dari anggaran belanja tambahan (ABT). Apabila dari ABT, dibutuhkan waktu lama, sekitar Oktober, sedangkan dana tanggap darurat dalam anggaran tahun berjalan sudah ada, yaitu sekitar Rp 4,5 triliun. Dari jumlah itu terdapat sekitar Rp 1,3 triliun di kas pemerintah (menteri keuangan) yang bisa digunakan untuk keperluan sewaktu-waktu. Status wabah flu burung sebagai bencana dalam situasi darurat disepakati Komisi III DPR setelah Menteri Pertanian (Mentan) menyatakan saat ini wabah tersebut baru menyerang unggas. Namun, agar tak terjadi penularan kepada manusia, harus dilakukan pengendalian yang cepat. Jika hanya mengandalkan dana dari Deptan, untuk keperluan itu saat ini cuma ada sebesar Rp 2 miliar. Dari berbagai langkah yang akan dilakukan, Departemen Pertanian menyebutkan pemusnahan yang akan dilakukan adalah pemusnahan selektif, yakni hanya terhadap unggas yang sakit. Unggas yang sehat dan berada pada radius (ring) tertentu akan divaksinasi. Dari laporan beberapa daerah, kerugian saat ini mencapai Rp 7,7 triliun, sementara lapangan pekerjaan yang hilang dialami oleh sekitar 1,25 juta keluarga. Izin Menkeu Secara terpisah, Direktur Jenderal Anggaran Departemen Keuangan Achmad Rojadi mengatakan, pihaknya akan meminta izin terlebih dulu dari Menteri Keuangan (Menkeu) Boediono selaku atasan dan bendahara negara sebelum mencairkan dana tanggap darurat tersebut. "Tentu, sebagai pelaksana anggaran, saya tidak mungkin langsung memberikan kalau belum disetujui Menteri Keuangan. Karena itu, kami akan meminta izin Menkeu. Salah satu yang akan didiskusikan adalah apakah penggunaan dana itu termasuk dalam kategori tanggap darurat," ujarnya. Ketua Panitia Anggaran DPR Abdullah Zainie mengatakan, wabah flu burung termasuk dalam kategori bencana alam yang bisa diberikan dana tanggap darurat dalam APBN 2004. Total dana yang dicadangkan untuk bencana alam dan penanganan bencana lainnya itu disediakan Rp 7,5 triliun. Namun, untuk bencana alam, APBN 2004 sudah mengalokasikan senilai Rp 2 triliun. Abdullah menambahkan, penggunaan dana tersebut sebetulnya tidak perlu memintakan izin terlebih dulu ke DPR. "Namun, pemerintah disyaratkan untuk segera melaporkan kepada DPR setelah menggunakan dana tanggap darurat tersebut," katanya. Menkeu Boediono dalam pernyataan sebelumnya berharap dampak wabah flu burung tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Asisten Menko Perekonomian Mahendra Siregar menekankan, terlalu dini jika dikatakan dampak wabah flu burung dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam kaitan wabah flu burung ini, menyusul Malaysia, Singapura, dan Jepang, Dewan Eksekutif Uni Eropa hari Rabu lalu juga memutuskan menghentikan sementara impor burung peliharaan, seperti burung beo, dari negara-negara Asia yang dilanda wabah flu burung, yakni Kamboja, Cina, Hongkong, Indonesia, Jepang, Laos, Pakistan, Korea Selatan, Thailand, dan Vietnam. Pemerintah lamban Lambannya pemerintah menangani wabah flu burung yang sebenarnya sudah merebak sejak Agustus 2003 memicu beredarnya vaksin avian influenza (AI) ilegal di kalangan peternak ayam di Banyumas, Jawa Tengah (Jateng), dan sekitarnya. Tanpa izin pemerintah, peternak ayam akhirnya mendatangkan vaksin AI dari Cina untuk meredakan wabah tersebut. Kedatangan vaksin AI ilegal tersebut kini sudah dirasakan hasilnya dengan meredanya wabah flu burung. Vaksin tersebut diselundupkan ke Indonesia dengan cara dibawa di dalam koper oleh para peternak saat pergi pulang ke Cina mencari vaksin. Setiap peternak membawa sebanyak 200 hingga 300 vial (satu vial setara dengan 600 mililiter). Setiap vial dapat digunakan untuk memvaksin sekitar 250 ayam. Harga satu vial vaksin sekitar Rp 400.000.
Dari Semarang dilaporkan, hingga saat ini kasus flu burung dijumpai di 17 kabupaten/kota di Jateng. Namun, sejauh ini belum diperoleh data jumlah unggas yang mati akibat virus flu burung. Untuk mengatasi wabah tersebut, Pemerintah Provinsi Jateng memesan satu juta ampul vaksin flu burung ke Jakarta selain melakukan upaya pencegahan agar wabah tersebut tidak menyebar. Kampanye aman Dari Ciamis dilaporkan, para peternak ayam potong di Ciamis dan Tasikmalaya (Jawa Barat) juga mendesak agar pemerintah lebih aktif menginformasikan kepada masyarakat bahwa daging ayam aman untuk dikonsumsi. Pasalnya, wabah flu burung membuat masyarakat mulai mengurangi konsumsi daging ayam.
"Situasi bisa amat buruk bagi peternak maupun masyarakat jika konsumsi daging ayam tidak segera kembali normal," kata Adjat Darajat, peternak di Ciamis. Pernyataan ini diberikan di sela-sela pertemuan peternak wilayah Tasikmalaya dan Ciamis yang dihadiri sekitar 200 orang di Ciamis. Dalam pertemuan itu ditegaskan bahwa wabah flu burung belum ditemukan pada peternakan ayam di Ciamis dan Tasikmalaya yang dikelola sekitar 15.000 peternak. Namun, dampak dari wabah itu sudah terasa, yaitu berupa anjloknya harga ayam hidup di tingkat peternak, dari Rp 7.000 per kilogram menjadi hanya Rp 5.900 per kilogram. (ANA/NWO/IKA/MAR/ely/ eta/har/fey/fer)
--------------------------------------------------------------------------------
Lima Warga Kanada Diduga Derita Flu Burung
Media Indonesia: Lima orang yang bekerja di sebuah peternakan unggas di Kolumbia Inggris, Kanada, menderita penyakit dengan gejala-gejala flu burung, kata pejabat setempat, Jumat waktu setempat. Para penderita penyakit bergejala flu burung itu memang bekerja di kawasan yang pekan lalu dinyatakan terlanda flu burung. Namun para pejabat Kanada menekankan agar masyarakat setempat jangan panik karena jenis virusnya bukan yang sangat berbahaya. Jenis viur flu burung di Kanada disebutkan tipe H7 yang tidak seganas H5 dan telah menyebabkan 22 orang tewas di berbagai negara di Asia dan pembantain terpaksa jutaan unggas. "Lima orang itu (bekerja) berhubungan langsung dengan ayam-ayam sakit. Virus ini bukan yang berkecenderungan menyebar dari manusia ke manusia," kata David Patrick dari Pusat Pengendalian Penyakit Kolumbia Inggris. Para dokter Kanada masih akan terus meneliti lima penderita sesak pernapasan itu hingga Minggu guna memutuskan kepastian tentang asal penyakit mereka. (AFP/Ant/O-1)
--------------------------------------------------------------------------------
Depkes: Belum Ditemukan Flu Burung Pada Manusia Kompas,Jakarta, Rabu ,4 Februari 2004 Hingga kini belum ditemukan kasus flu burung (H5N1) yang menimpa pekerja peternakan di Banten dan Bali. Kesimpulan itu diperoleh setelah Depkes bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB memeriksa 122 sampel darah pekerja peternakan unggas di Banten, dan 92 rekan mereka di Bali, pada 29-31 Januari 2004. "Dengan demikian, belum ditemukan penderita flu burung pada manusia di Indonesia," kata Sekretaris Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPMPL) Depkes Sjafii Ahmad, di Jakarta, Selasa (3/2) sore. Meskipun demikian, akan mengirim tim khusus untuk meneliti kemungkinan adanya pekerja, penjual dan penjamah peternakan ayam yang terinfeksi flu burung di Riau, Jabar, Jateng, Jatim dan DI Yogyakarta. Menurut Sjafii, gejala penyakit flu burung pada manusia dan hewan adalah seperti flu biasa, demam, sakit tenggorokan, batuk, beringus, nyeri otot dan kepala. Gejala ini dalam waktu satu hingga tiga hari akan menyebabkan peradangan pada paru-paru, yang menyebabkan penderitanya meninggal dunia. Virus flu burung yang saat ini merebak di negara Asia Timur dan Asia Tenggara, dikabarkan telah menewaskan sedikitnya 13 orang di Vietnam, dan tujuh orang di Thailand. Terkait dengan itu, Pemerintah melalui Ditjen Produksi Peternakan Deptan telah melakukan pelarangan impor unggas yang berasal dari Vietnam, Korea Selatan, Jepang dan Thailand. Depkes mengimbau pekerja di peternakan, penjual ternak, pengemudi yang membawa produk unggas agar selalu memelihara kebersihan diri, seperti mencuci tangan dan mandi sehabis bekerja, meningggalkan pakaian kerja di tempat kerja, dan membersihkan kotoran unggas. Selain itu, Depkes juga telah menginstruksikan kepada Dinas Kesehatan Propinsi dan Direktur Rumah Sakit di daerah serta petugas pelayanan kesehatan di Bandara dan Pelabuhan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus flu burung ini. (Ant/edj)
--------------------------------------------------------------------------------
Korban FLU BURUNG Bertambah Kompas, 5 Februari 2004 Korban tewas karena flu burung meningkat menjadi 15 pada hari Rabu (4/2) kemarin. Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, penyakit itu menyebar dengan begitu cepat sehingga tidak ada wilayah Asia yang aman. Pertemuan darurat mengenai penyakit itu terus berlangsung di Roma. Sekitar 50 juta ayam telah dimusnahkan, sementara kesepuluh negara Asia yang terkena berjuang untuk mengatasi berjangkitnya flu burung itu. Para ahli kesehatan mengkhawatirkan penyebaran cepat flu burung meningkatkan kemungkinan bahwa virus itu bisa bermutasi menjadi sebuah ancaman global bagi manusia. Namun, mereka menekankan penyakit itu masih jauh dari dinyatakan sebagai wabah besar. Sebagian besar kasus manusia telah ditelusuri pada kontak langsung dengan ayam yang sakit. Walau penularan antarmanusia menjadi salah satu kemungkinan dalam kasus sebuah keluarga Vietnam, para ahli mengatakan tidak ada tanda-tanda munculnya sebuah strain baru yang bisa dengan mudah menginfeksi banyak orang lewat sesama manusia. Walau demikian, WHO mengakui beratnya pertarungan melawan penyebaran penyakit itu. "Kecepatan penyebaran virus ini menunjukkan bahwa tidak ada tempat di kawasan ini yang aman," kata Peter Cordingley, jubir regional WHO di Manila. "Virus itu lebih cepat dari kita," katanya. Ia menambahkan bahwa masih ada kemungkinan untuk mengalahkan penyakit itu. "Sampai sistem pengawasan bekerja sebagaimana mestinya, kita akan kesulitan menghadapi virus itu." Dua korban lagi diumumkan hari Rabu, membuat jumlah korban tewas menjadi 15 orang. Vietnam mengatakan, seorang gadis 16 tahun menjadi korban tewas ke-10 karena flu burung di negara itu. Thailand mengatakan, tes telah mengkonfirmasikan seorang berusia 6 tahun-meninggal beberapa hari lalu-memang terinfeksi virus H5N1. Ia menjadi korban kelima di Thailand. Guangdong, provinsi di Cina selatan yang merupakan tempat munculnya virus SARS sebelum menyebar ke-30 negara tahun lalu, dinyatakan telah kejangkitan virus flu burung juga. Saat ini 12 dari 31 provinsi di Cina dipastikan atau disangka terjangkit penyakit itu. Menurut FAO, flu burung telah dipastikan di 53 dari 64 provinsi di Vietnam. Berbeda dengan Thailand dan Vietnam, Cina belum lagi melaporkan adanya kasus infeksi pada manusia. Sebuah Markas Besar Pencegahan Flu Burung Nasional baru dibuka di Beijing untuk mengatur upaya setempat guna memusnahkan semua unggas yang sakit dan mengawasi orang-orang yang melakukan tugas itu. Tidak jelas bagaimana pusat itu akan mengatasi rintangan komunikasi yang khas antara pemerintah setempat dan Beijing. Bank Pembangunan Asia (ADB) kemarin mengumumkan bantuan 50.000 dollar AS kepada Vietnam untuk membeli pakaian pelindung bagi petugas pembantai unggas. Bantuan sebesar 160.000 dollar AS juga akan diberikan kepada Kementerian Kesehatan Vietnam pelatihan dan kampanye melawan flu burung. (AFP/AP/DI)
-------------------------------------------------------------------------------- Melawan Flu Burung dengan 'Strain Legok'
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengklaim flu burung yang melanda Indonesia sangat mematikan bagi manusia. Begitupun yang diungkapkan Departamen Pertanian: sangat mematikan meski sampai saat ini belum menjangkiti manusia. Berbagai cara dilakukan untuk mencegah serangan penyakit yang disebut avian influeza (AI) itu, mulai dari vaksinasi hingga pemusnahan ayam yang sedang sakit. Di Bali saja, ribuan ayam terpaksa dimusnahkan, sementara hampir empat juta ekor lainnya mati gara-gara serangan flu burung. Pekan ini flu burung menyerang Indramayu dan Sukabumi, Jawa Barat. Di Kabupaten Tangerang, Banten, sejak September hingga Desember 2003, jumlah ayam mati mencapai 188 ribu ekor, sedangkan yang terserang penyakit mencapai 1,065 juta ekor dari total populasi 3,355 juta ekor. Dinas Peternakan Kabupaten Tangerang menyebut kerugian mencapai Rp 135,61 juta. Hanya, keadaan di Tangerang sudah terkendali. Menurut Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Tangerang, drh Didi Aswadi, Tangerang telah bebas dari penyakit flu burung sejak awal Januari 2004. Rahasianya adalah pemberian vaksin kepada para peternak dengan tepat dan cepat. Vaksin itu bernama Strain Legok, yaitu vaksin lokal yang berasal dari contoh ayam yang sakit di Legok. Vaksin ini adalah contoh keberhasilan kerja sama antara peternak dan pemerintah. Didi menyatakan temuan itu telah disampaikan kepada pemerintah pusat dan kepada Balai Penelitian dan Sertifikasi Obat Hewan (BPMSOH). Direktorat Jenderal Peternakan memang menyadari pentingnya kebutuhan vaksin lokal. Karena itu, mereka mengutus BPMSOH untuk membuat master seed atau bibit virus sebagai bahan pembuat vaksin. Dananya berasal dari swadana peternak dan Dinas Peternakan Tangerang dan biayanya Rp 80 juta. Menurut kepala BPMSOH, Enuh Raharjo, berdasarkan referensi dari Organization des Epizootica (OIE), bahan vaksin yang paling bagus berasal dari wilayah tempat wabah menyerang. Oleh karena itulah, BPMSOH melakukan pengambilan sampel dari beberapa wilayah yang terjangkit, misalnya dari Kecamatan Legok, Tangerang, dan Bogor. Enuh menuturkan lembaganya melakukan pengambilan organ-organ dalam dari ayam-ayam yang terserang penyakit. Kemudian, diambil virus-virus yang menjadi penyebab penyakit dengan tujuan agar mendapat virus murni yang benar-benar sama dengan penyakit di lapangan. Hasil pengambilan sampel itu berhasil diidentifikasi mengandung tipe virus yang belakangan disebut sebagai virus H5N1, salah satu subtipe flu burung. Tipe virus ini sama dengan tipe virus dari berbagai sampel yang diuji dari Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. BPMSOH kemudian melakukan postulate koch, yaitu menyuntikkan virus itu kepada ayam sehat yang biasa disebut specific patogenic free (SPF). Tujuannya, memastikan virus itu sebagai penyebab penyakit yang mewabah dengan cara melihat efek yang ditimbulkan virus itu. Hasil dari postulate koch ternyata memuaskan, ciri-ciri sama dapat dilihat pada SPF. Virus pada ayam itu murni sebagai penyebab penyakit misterius. Waktu yang dibutuhkan dalam proses penemuan master seed sekitar satu bulan, dimulai pada akhir Oktober hingga akhir November 2003. Penggunaan vaksin ini, kata Didi, untuk mengurangi risiko vaksin yang terlalu keras seperti vaksin aktif yang menggunakan virus hidup. Namun kekurangannya, vaksin ini bereaksi lebih lama dibandingkan vaksin aktif. Setelah vaksinasi dilakukan oleh para peternak, hasil positif mulai dituai. Meskipun efek yang dialami tiap peternak berbeda-beda, namun pada akhirnya semua menunjukkan kesuksesan. Ayam yang sakit menjadi sembuh setelah bisa menghasilkan antibodi. Demikian juga ayam yang masih sehat menjadi tahan terhadap virus. Berdasarkan pengamatan Didi, kemampuan suatu peternakan untuk pulih dengan vaksin Strain Legok dan terbebas dari wabah flu burung sesuai dengan jumlah ayam yang terjangkit. Jika jumlah ayam sakit di bawah dua persen total populasi ayam ternak, maka dibutuhkan waktu sekitar 8-10 hari untuk pulih. Jika jumlah ayam sakit antara 5-30 persen, dibutuhkan waktu 10-14 hari, sedangkan jika jumlah ayam sakit di atas 30 persen maka dibutuhkan waktu lebih dari 14 hari untuk pulih.
--------------------------------------------------------------------------------
Pakar Australia: Flu Burung akan Lebih Buruk dari SARS SYDNEY--MIOL: Flu burung secara potensial akan lebih buruk ketimbang SARS, demikian para ilmuwan Australia yang tergabung dalam lembaga kesehatan dunia (WHO) pada Jumat. Para ilmuwan ini turut serta menanggulangi SARS di China. Profesor John McKenzie dari Universitas Queensland mengatakan surat kabar Australia menulis bahwa berjangkitnya flu burung yang telah menewaskan 17 orang di Asia Tenggara dan menyebabkan pemusnahan ribuan unggas agaknya mengisyaratkan bahwa skenario terburuk bukan tidak mungkin terjadi dengan munculnya pandemi flu. "Kendati SARS juga menyadarkan akan penyakit influenza, namun kekhawatiran mengenai flu burung dan adanya pandemi flu yang baru akan ratusan kali lebih buruk dari SARS," kata McKenzie. "SARS memang relatif serius ketimbang pandemi baru influenza." SARS mulai bermunculan di China pada November 2002 dan meluas sampai ke 29 negara. Ada sekitar 8.422 kasus SARS di seluruh dunia, dan 908 orang tewas di China, Taiwan, Canada, Singapura, dan Vietnam, demikian data yang dihimpun oleh WHO pada Agustus. MCKenzie, seorang ahli bidang mikrobiologi telah memimpin misi WHO ke Beijing pada Maret setelah berjangkitnya SARS. SARS diakui relatif tidak menjangkit ke manusia ketimbang flu avian yang dapat menular dari unggas ke manusia. (DPA/Ant/O-1) Sumber : MediaIndo -------------------------------------------------------------------------------- Soal FLU BURUNG: Badan POM Awasi Produk Olahan AYAM
Meski sejak awal Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan Sampurno sudah menegaskan pihaknya hanya bertanggung jawab mengenai produk olahan, para anggota Komisi VII DPR tetap banyak mengajukan pertanyaan seputar flu burung.Masalah peternakan termasuk flu burung merupakan tanggung jawab Departemen Pertanian, sehingga Badan POM hanya mendukung sesuai dengan kewenangannya.Kepada wartawan seusai Rapat Dengar Pendapat di Jakarta, Kamis (29/1), Sampurno menjelaskan, dari sisi produk olahan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) telah mengupayakan pengawasan. Data resmi menunjukkan, tak ada produk olahan dari daging ayam yang masuk dari Vietnam dan Thailand sebagai wilayah yang paling parah terkena dampak flu burung."Sedangkan produk olahan di dalam negeri dicoba untuk terus disurvei, meskipun memang tidak gampang untuk bisa mendeteksi ada tidaknya virus," papar Sampurno.Ketika penyakit sapi gila dideteksi di Amerika Serikat 24 Desember tahun lalu, Badan POM dua hari kemudian (2/12/2003) langsung bertindak dengan meminta Ditjen Bea Cukai untuk menangkal dan melarang masuknya produk olahan daging sapi yang berasal dari AS untuk sementara.Badan POM, 27 Desember 2003, juga menginstruksikan kepada importir, distributor, pasar swalayan, dan toko pengecer yang saat itu masih memiliki produk olahan daging sapi dari AS untuk mengamankannya sementara dan tidak menjualnya kepada konsumen.Sementara itu, masyarakat luas pada saat yang sama diimbau melalui media massa untuk sementara tidak mengonsumsi produk olahan daging asal AS karena berisiko terhadap keselamatan dan kesehatan mereka."Sebagai tindak lanjut, Balai POM di seluruh Indonesia telah memeriksa 592 sarana distribusi dan ternyata hanya 34 sarana yang menjual produk termaksud. Daging olahan berupa kornet, sosis, dan daging vakum sejumlah 224,756 kg telah diamankan dari peredaran," papar Sampurno dalam rapat.Kegiatan 2003· Pada kesempatan itu, Sampurno juga melaporkan berbagai kegiatan yang telah dilakukan Badan POM selama 2003. Mulai dari pengawasan keamanan dan mutu produk pangan, obat tradisional, kosmetika, produk terapetik/obat, iklan, sampai narkotika dan psikotropika.Selain sampling terhadap produk pangan secara umum, Badan POM juga menguji makanan jajanan anak dan garam beryodium yang berpotensi memengaruhi kualitas sumber daya manusia Indonesia.Ternyata, dari 656 sampel makanan jajanan anak yang diuji di 17 provinsi, 263 sampel atau sekitar 40 persennya tidak memenuhi persyaratan mutu dan keamanan. Pelanggaran yang dilakukan umumnya menggunakan pewarna bukan untuk makanan, boraks, formalin, atau menggunakan benzoat/pengawet melebihi batas maksimal yang diizinkan.Menyangkut garam beryodium, hasil pengujian Badan POM terhadap 5.619 sampel menunjukkan bahwa masih ada 28 persen yang belum memenuhi kandungan KIO3 yang dipersyaratkan, bahkan 2,5 persen tidak mengandung KIO3.Ke depan, Badan POM akan mengumumkan berbagai hasil pengujian yang telah dilakukannya. "Kami menyadari pentingnya sosialisasi ini, namun anggaran yang dibutuhkan sangat besar. Sebagai jalan keluar, Badan POM sudah menjalin kerja sama dengan berbagai media massa untuk memublikasikannya," kata Sampurno.Badan POM juga terus mengembangkan jaringan pengawasan dengan mendirikan laboratorium pengujian obat dan makanan di seluruh Indonesia. Sebagai pendukungnya, selama dua tahun mendatang upaya difokuskan pada peningkatan kemampuan sumber daya manusianya termasuk sekolah ke luar negeri, sehingga Badan POM menjadi lembaga yang berbasis pengetahuan. (nes)
--------------------------------------------------------------------------------
WHO Tak Terima Laporan soal Flu Burung di Indonesia
Jenewa, Rabu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan tidak menerima laporan resmi mengenai berjangkitnya wabah flu burung (avian influenza) di Indonesia. "Tidak ada laporan mengenai wabah flu burung," ungkap Kepala Proyek Pengawasan Influenza WHO Dr Klaus Stoehr di Jenewa, Rabu waktu setempat.Departemen Pertanian (Deptan) Republik Indonesia (RI) yang menyatakan ribuan ayam di Indonesia telah terkena flu burung. Sementara, seorang bocah di Bali telah diperiksa untuk memastikan apakah telah terjangkit wabah berbahaya tersebut. Namun, sampai kini belum ada korban jiwa manusia akibat flu burung di Indonesia.Indonesia sendiri telah dimasukkan dalam daftar negara yang telah dijangkiti flu burung bersama-sama Thailand, Vietnam, Cina, Jepang, Laos, Kamboja, Korea Selatan, Taiwan dan Pakistan.Namun begitu, Stoehr menyatakan, pihaknya belum menerima laporan resmi soal flu burung di Indonesia. "Tidak ada yang khusus yang terjadi di Indonesia sepanjang yang saya ketahui. Tidak ada yang resmi dilaporkan kepada WHO," ungkap Stoehr.Dana daruratSementara itu, siang ini pukul 13.30 WIB Komisi III DPR akan melakukan rapat kerja dengan Menteri Pertanian (Mentan). Hampir dapat dipastikan DPR akan menyetujui Dana Peduli Darurat dikeluarkan untuk dimanfaatkan membantu penyelamatan peternak unggas kecil maupun besar yang tertimpa virus flu burung.Wakil Ketua Komisi III DPR Imam Churmen mengatakan, baik peternak kecil maupun besar perlu diselamatkan dari tularan flu burung tersebut, untuk membendung kerugian yang bisa mencapai triliunan rupiah.Imam berpendapat, penelitian dan tindakan preventif perlu dilakukan, untuk mengurangi kerugian. Dalam hal ini, UU No 16/1992 tentang karantina hewan dan tumbuh-tumbuhan, harus diterapkan secara ketat. "Pengetatan pintu masuk pelabuhan dan Bandara harus diperketat, jangan sampai ada yang bawa virus tersebut. Kalau kedapatan dan ternyata terkontaminasi, harus dimusnahkan." demikian Imam Churmen.(AFP/nik
--------------------------------------------------------------------------------
Lebih 75 Persen Pengidap Flu Burung Bisa Meninggal
Christchurch, Selandia Baru, Kamis Lebih dari tiga dari setiap empat orang yang dipastikan mengidap virus flu burung yang mematikan H5N1, yang muncul di Asia, mungkin akan meninggal,kata seorang pakar virus Selandia Baru, Rabu (28/01). Pakar virologi (cabang ilmu kedokteran yang mempelajari virus atau penyakit yang diakibatkan oleh virus) di Christchurch, Dr Lance Jennings, yang bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Manila memerangi wabah flu burung yang melanda Asia, mengatakan angka kematian pada mereka yang telah terbukti mengidap virus H5N1 "sangat tinggi". "Hampir setiap orang yang terbukti mengidap jenis virus itu meninggal," katanya. Bagaimanapun, para pejabat WHO tak dapat mengkalkuasi angka kematian pasti karena mereka masih belum memiliki jumlah akurat dari semua orang yang mungkin telah terinfeksi virus itu.Di Vietnam tampaknya anak-anak yang paling beresiko karena mereka merupakan orang-orang yang terinfeksi (virus itu), kata Jennings. Hal itu menunjukkan bahwa virus tersebut tidak sama seperti virus H5N1 yang menyerang Hong Kong pada 1997, yang menewaskan enam orang dan menjangkiti orang pada tingkatan luas usia mereka. Para ilmuwan menemukan perbedaan kecil antara kedua virus asam amino itu, yang berarti prototipe vaksin yang dikembangkan sejak berjangkitnya wabah flu burung di Hong Kong, tidak berguna dalam perang (melawan virus flu burung) sekarang ini. Para pejabat sekarang harus mengembangkan vaksinasi dari luka garutan, yang dapat memerlukan waktu enam bulan, meskipun vaksinnya sendiri tak akan cukup untuk memerangi virus yang sekarang telah meluas ke 10 negara Asia itu, kata Jennings. Ada sekitar 20 juta ayam ternak di Vietnam -- sangat banyak bagi stok vaksin untuk menghadapi (virus itu) -- dan miliaran lagi di Cina. Jennings mengatakan pembasmian ternak merupakan cara terbaik untuk mengendalikan virus itu, tapi itu merupakan tugas yang besar sekali, dan para pejabat kesehatan serta pertanian mungkin akan berjuang menghadapi para penyelundup burung dan pemilik ayam jantan aduan. Ia mengatakan bahwa ketakutan besarnya adalah bahwa sebelum pemerintah dapat menahan virus H5N1, virus itu dapat bercampur dengan virus flu manusia dan menimbulkan pandemik sebuah virus baru, yang mana orang tidak akan memiliki kekebalan. Direktur kantor WHO Pasifik Barat, Shigeru Omi, Selasa (27/01) memperingatkan jutaan orang di dunia dapat meninggal jika kedua virus itu bertemu dan bermutasi.(ant/AFP/lbk) -------------------------------------------------------------------------------- Kasus Flu Burung Pukul Industri Makanan Jepang
Tokyo, Kamis Merebaknya kasus flu burung di Asia memukul industri makanan di Jepang, terutama akibat dilarangnya impor ayam dari Thailand dan China yang memasok hampir seluruh kebutuhan unggas di Jepang. Pada Selasa (27/01) kemarin atau lima hari setelah diberlakukannya larangan impor ayam dari Thailand, pemerintah Jepang juga menghentikan pengiriman unggas dari China karena Beijing mengonfirmasikan bahwa di negara tirai bambu itu juga telah ditemukan kasus terjangkitnya unggas oleh wabah H5N1 flu burung yang mematikan itu. langkah larangan impor tersebut telah memukul perusahaan pengolah makanan dan juga perusahaan restoran. Padahal banyak restoran di Jepang yang memilih daging unggas dalam menu mereka untuk menggantikan daging sapi. Pasokan daging sapi di Jepang sudah jauh berkurang sejak adanya larangan impor daging sapi Amerika Serikat berkaitan dengan mewabahnya kuman penyakit sapi gila. Seorang juru bicara dari perusahan pembuat makanan beku "Nichirei", Rabu, mengatakan bahwa larangan impor unggas merupakan "sebuah badai besar" karena perusahaannya banyak memakai bahan dasar daging unggas dari Thailand dan China. "Akan lebih mahal jika kita mencuba mengupayakan unggas dari dalam negeri," katanya seraya menegaskan sulitnya memperkirakan bagaimana situasinya jika larangan impor itu berlanjut hingga mencapai 90 hari. China dan Thailand memasok hampir seluruh produk-produk berbahan dasar unggas yang digunakan untuk bahan makanan populer di Jepang seperti "yakitori" (potongan daging yang ditusuk, semacam satai). Keluhan juga diungkapkan perusahaan makanan "Suisan Kaisha" yang merupakan perusahaan makanan beku terbesar di Jepang. Perusahaan ini menggunakan 7.000-8.000 ton daging unggas setiap tahun yang hampir semuanya dipasok dari China. "Kami akan berusaha mendapatkan ayam dari pemasok lain jika memang memungkinkan... Tapi kami tidak tahu apakah itu dari Jepang atau negara lain," kata juru bicara perusahaan tersebut.(ant/lbk)
--------------------------------------------------------------------------------
Tim Depkes Ambil Contoh Darah Pekerja Di Kandang Ayam
Denpasar, Kamis Tim dari Departemen Kesehatan RI segera mengambil contoh darah dan lendir para pekerja dan peternak ayam di kabupaten Tabanan dan Karangasem, terkait mewabahnya menyakit flu burung (avian influenza/AI) yang mengakibatkan ratusan ribu ternak ayam mati. "Tim beranggotakan empat orang akan tiba di Bali besok (Kamis, 30/1)," kata Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Bali, dr Made Molin Yudiasa, ketika mendampingi Gubernur Bali Drs Dewa Beratha dalam acara makan daging ayam bersama komponen pariwisata di Kuta, Rabu (28/01) malam. Ia mengatakan, pengambilan darah dan lendir para pekerja dan peternak yang berhubungan langsung dengan ternak ayam yang mati akibat terserang flu burung. Contoh darah dan lendir yang diambil itu akan diperiksa dalam laboratorium di Jakarta, untuk mengetahui apakah ada tanda-tanda atau terinveksi virus AI. Jika laboratorium di Jakarta peralatannya belum lengkap untuk mengetahui tertular atau tidaknya virus AI pada pekerja peternakan ayam itu, tidak tertutup kemungkinan contoh darah tersebut dikirim ke Atlanta, AS, seperti saat mewabahnya penyakit SARS. Molin menjelaskan, tim dari Depkes dalam kesempatan itu juga mengambil contoh darah dan lendir Kadek Heri Dharmaputra (3) asal Desa Senganan, Kabupaten Tabanan, anak seorang pekerja pada peternakan ayam setempat yang sempat mengalami panas badan dan flu. "Pengambilan contoh darah dan lendir itu dilakukan di RSU Tabanan, dengan dukungan peralatan laboratorium," ujar Molin yang sudah melakukan koordinasi dengan aparatnya di Kabupaten Tabanan dan Karangasem guna memudahkan proses pengambilan semple. Ia mengaku belum mengetahui secara pasti berapa semple yang akan diambil, namun yang jelas pengambilan contoh darah itu belum bisa diketahui langsung hasilnya. Kepala Dinas Peternakan Propinsi Bali, Drs I Gusti Made Alit Eka Putra mengaku bersama seluruh jajarannya di Kabupaten dan Kota dengan melibatkan peranserta para peternak, telah melakukan vaksinasi terhadap ternak ayam. Vaksinasi yang telah masuk ke Bali mencapai 1.030.000 dosis yang berarti lebih dari satu juta ekor yang memperoleh kekebalan terhadap penyakit flu burung. Populasi ayam di Bali tercatat 10,3 juta ekor, diantaranya 398.436 ekor mati akibat terserang flu burung. Ayam yang mati terbanyak di Kabupaten Tabanan yakni mencapai 300.000 ekor dan sisanya tersebar di Kabupaten Badung, Klungkung, Jembrana, Karangasem dan kota Denpasar, ujar Ekaputra.(ant/lbk)
--------------------------------------------------------------------------------
Menjinakkan Flu BANDEL..!
Musim hujan masih panjang. Tak hanya ancaman banjir, serangan flu juga bisa jadi persoalan serius. Meningkatkan daya tahan tubuh merupakan senjata utama untuk menjinakkannya. Caranya, apakah cukup hanya dengan istirahat, minum obat dan vitamin, serta menjaga pola makan? Atau perlu mendapat vaksin khusus? Sudah lima hari Lisa terserang flu. Macam-macam cara dilakukannya untuk meredakan serangan virus yang membuat aktivitasnya terganggu. Obat bebas sudah diminumnya, istirahat juga tak kurang ia lakukan. Namun tetap saja derita pilek, radang tenggorokan, dan ngilu tulang setia mengganggunya. "Sekarang flu kok bandel ya? Biasanya dua hari juga sudah baik," keluhnya sembari mengusap hidungnya yang terus-menerus meler dengan tisu. Mudah Diatasi ? Influenza dikenal sejak ratusan tahun lalu dan orang lebih sering menyebutnya sakit flu. Penyakit yang disebabkan virus ini ditularkan melalui udara. Ketika muncul batuk dan pilek misalnya, orang langsung tahu kalau itulah gejala flu. Serangan yang lebih berat umumnya dibarengi demam atau suhu tubuh naik sampai 38-40 derajat Celcius, sakit kepala, radang tenggorokan, lemas, mual, dan ngilu tulang. Masa inkubasi flu ini berlangsung sekitar 1-2 hari. Flu pada dasarnya gampang diatasi. Setelah diberi obat penurun panas, pereda batuk, antibiotika serta istirahat cukup, kondisi tubuh biasanya akan pulih. Tapi mengapa penyakit flu terkadang demikian kebal terhadap berbagai obat dan sulit sekali diusir? Setahun belakangan warga dunia dicekam serangan SARS (sindroma pernapasan sangat akut) yang baru-baru ini muncul lagi di Cina. Gejala penyakit yang menimbulkan banyak kematian ini sangat mirip dengan flu. Berdasarkan sifat genetisnya, virus flu dikenal sebagai virus yang tak stabil. Ia kerap bermutasi akibat pertukaran gen. Sebab itu kita sering mendengar munculnya jenis flu-flu baru yang sulit ditangani, lebih parah gejalanya, bahkan sampai menelan banyak korban. "Lebih dari separuh pasien yang datang ke dokter selalu mengeluhkan gangguan flu seperti batuk, pilek, demam atau derita sesak napas," jelas Dr. Faisal Yunus Ph.D, Sp.P (K), FCCP, spesialis paru dan saluran pernapasan dari RSUP Persahabatan-Jakarta. Penyakit ini sering menjadi penyebab utama anak-anak tidak masuk sekolah, dan memaksa karyawan absen. Hasil survei di Amerika Serikat yang dilakukan National Center for Health Statistics pada tahun1994 memperkirakan sekitar 66 juta kasus flu memerlukan penanganan medis intensif karena menghambat aktivitas sehari-hari. Nilai kerugian ekonomi yang diakibatkannya setara dengan aktivitas kerja yang tak optimal selama 24 juta hari. Sedangkan di Indonesia sejauh ini belum ada penelitian resmi. Penyebaran flu memang cukup tinggi terjadi pada anak-anak, yaitu 6-10 kali setahun. Keluarga yang memiliki anak usia sekolah punya peluang lebih tinggi, sekitar 12 kali per tahun. Sedang pada remaja dewasa kemungkinan itu lebih jarang, yaitu 2-4 kali setahun. Wanita usia 20-30 tahun lebih rentan dibanding pria, karena mereka lebih sering berhubungan dengan anak-anak. Ratusan Virus ? Yang dimaksud flu atau coryza dalam bahasa medis adalah kumpulan gejala akibat infeksi yang menyerang saluran napas bagian atas. Infeksi tersebut seringkali disebabkan virus yang termasuk golongan rhinovirus (virus hidung). Sekitar 30-35 persen dari sekitar 200 virus penyebab flu merupakan golongan rhinovirus. Selain itu banyak jenis virus lain yang juga menyebabkan flu, sebut di antaranya parainfluenza, golongan adenovirus, coxsackie, dan virus respiratory synctial. "Tak mudah untuk membuat vaksin flu yang efektif, karena begitu banyaknya jenis virus penyebab influenza," tambah Dr. Faisal. Golongan rhinovirus biasanya aktif pada musim hujan dan musim kemarau. Lebih dari 110 jenis golongan rhinovirus yang telah teridentifikasi, berkembang biak dengan baik pada suhu 33 derajat Celcius yang merupakan suhu selaput lendir hidung kita. Pertama-tama virus masuk ke dalam sel epitel (lapisan luar) dan mulai berkembang biak selama 24 jam. Ketika itu orang yang terinfeksi sudah dapat menularkan virus kepada orang lain, meskipun selama 1-4 hari pertama belum menampakkan gejala. Timbulnya gejala bisa tiba-tiba atau perlahan-lahan, tergantung jenis virus yang menyerang. Gejala yang terjadi pada satu dan lain penderita mungkin saja berbeda. Itu semua diduga tergantung pada karakteristik masing-masing virus. Namun kumpulan gejala tersebut secara garis besar mencakup suara yang berubah parau dalam waktu singkat, kenaikan suhu badan, bersin, sakit kepala, rasa tidak enak badan, hidung tak berfungsi baik dan diikuti adanya lendir, serta tenggorokan sakit pada awal atau akhir gejala. Reaksi Tubuh ? Sebenarnya gejala-gejala itu bukan akibat langsung infeksi virus dalam tubuh. Flu terjadi lebih sebagai akibat reaksi pertahanan tubuh melawan virus dan racun virus. Terutama karena perubahan proses peradangan dan produksi zat radang, yang merupakan tahap awal dari reaksi kekebalan tubuh. Namun jika tak mendapatkan perawatan segera, flu bisa berubah menjadi akut. Meski secara umum proses pemulihan gejalanya berlangsung cepat dan tidak mengenal periode yang tepat. Karena itu, setidaknya Anda harus mengetahui bahwa gejala seperti hidung mampet mungkin akan berlangsung selama seminggu atau lebih setelah flu. Batuk juga bisa muncul sewaktu atau sesudah infeksi mereda. Perilaku yang perlu diperhatikan selama influenza adalah istirahat yang cukup. "Penderita kalau tidak istirahat, badan akan bertambah lemah. Keadaan itu memudahkan bakteri masuk dan membuat flu semakin berat. Kalau sudah sampai terserang bakteri, pasien harus minum antibiotik. Jika tidak ia bisa mengalami komplikasi, seperti radang paru atau radang otak. Keadaan ini yang bisa membawa pada kematian," tambahnya. Terdapat tanda-tanda untuk mengenali perbedaan flu karena virus dengan flu karena bakteri. Menurut Dr. Faisal, lendir atau riak dalam hidung dan tenggorokan pasien flu karena virus memiliki tekstur lebih jernih dan berwarna putih. Sebaliknya jika sudah terkena bakteri, lendir atau riak tersebut menjadi lebih kental dan berwarna hijau atau lebih gelap. "Jadi itu seperti nanah," ungkapnya. Sejauh ini belum ditemukan obat, vaksin atau cara yang mampu memberikan garansi 100 persen untuk menangkal flu. @ Lalang Ken Handita -------------------------------------------------------------------------------- Flu Burung Merebak di Sejumlah Negara Asia Impor Unggas Dilarang
Wabah flu burung dilaporkan mulai merebak di Asia. Terakhir, wabah flu yang terjadi pada unggas dan bisa menular ke manusia itu sudah berjangkit di Vietnam, hingga mematikan 12 orang. Menghadapi ini, Departemen Pertanian Indonesia melarang pemasukan unggas, bahan asal unggas, dan hasil bahan asal unggas, yang berasal dari negara yang terkena wabah atau transit di negara wabah. Direktur Jenderal Bina Produksi Peternakan Sofyan Sudardjat di Jakarta, Kamis (15/1) mengatakan, Deptan telah melarang pemasukan unggas termasuk unggas dan produk turunannya dari Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam. "Pelarangan impor dari Jepang dan Korea Selatan sudah dilakukan, menyusul Vietnam sudah diputuskan dalam rapat tadi siang. Kita melakukan kewaspadaan yang tinggi terhadap penyakit ini karena ada strain (kuman) yang menular ke manusia. Karantina di daerah diharapkan melakukan pengetatan karena sampai sekarang kita masih bebas dari flu burung. Bahkan bulu burung juga tidak boleh masuk," kata Sudardjat. Laporan yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WHO) menyebutkan, wabah flu burung semula terjadi di Jepang dan Korea Selatan, namun laporan awal pekan menyebutkan, flu burung telah terjadi di Vietnam. Di Vietnam, strain flu burung H5N1 yang bisa berpindah ke manusia semula dilaporkan telah membunuh dua anak-anak dan satu dewasa. Akan tetapi, menurut laporan terakhir, otoritas kesehatan negara itu menyebutkan jumlah yang terinfeksi flu burung telah mencapai 18 orang, dengan 12 di antaranya meninggal. Meski demikian, WHO seperti dikutip The Asian Wall Street Journal belum mengakui data itu karena belum ada ahli yang menguji secara klinis. Kewaspadaan Indonesia juga menyangkut penyelundupan vaksin flu burung yang marak terjadi akhir tahun lalu. Kekhawatiran pengusaha terhadap flu burung yang kemudian mendorong penyelundupan vaksin, dikhawatirkan malah akan membahayakan status Indonesia yang bebas flu burung. Sementara itu, WHO juga mengatakan, dari kasus di Vietnam hingga sekarang belum terdeteksi pemindahan virus itu dari manusia ke manusia. Negara itu dilaporkan memperketat pengiriman unggas antardaerah dan sudah membasmi satu juta ayam. Industri unggas rugi Dampak dari merebaknya flu burung adalah kerugian pada industri unggas. Vietnam dilaporkan tidak bisa mengekspor 254 juta ayam. Sejumlah industri unggas dilaporkan telah membinasakan ayam di peternakan masing-masing. Charoen Pokphand Vietnam Company Ltd sudah memusnahkan 80.000 ekor ayam. Sementara saham-saham perusahaan produsen makanan berbasis ayam mengalami penurunan sangat tajam pada Selasa lalu. Sebaliknya saham produsen makanan dari ikan dan daging lainnya mengalami kenaikan, seperti Maruha Corp, perusahaan pengolah ikan laut terbesar di Jepang, yang harga sahamnya naik 2,6 persen menjadi 157 yen per saham. Kecemasan akan meluasnya wabah ini dilandasi alasan karena umumnya pengendalian epidemik di negara berkembang sangat sulit dilakukan. Kemampuan teknis dan pelayanan administrasi tidak tersusun secara baik, sementara sistem informasi juga tidak bekerja secara baik. Kecemasan lainnya muncul karena kebanyakan peternak mengusahakan ternaknya di belakang rumah. Akibatnya, penyebaran penyakit ini ke manusia berlangsung lebih cepat. Kejadian di Vietnam ini mulai memunculkan keprihatinan dunia. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) akan mengirim ahlinya ke Vietnam. Sedangkan ahli epidemologi dan ahli virus telah tiba di Hanoi untuk memantau perkembangan penyakit ini.
--------------------------------------------------------------------------------
Bagi Korban Flu Burung, Thailand Tawarkan Uang Rp 200 Juta
Bangkok, Untuk meredam kekhawatiran soal wabah flu burung, Pemerintah Thailand menawarkan kompensasi 1 juta baht (Rp 200 juta lebih) kepada korban tewas akibat flu burung. Namun, korban tewas adalah yang mengonsumsi unggas lokal. Flu burung telah menghancurkan ternak unggas di Asia, menyebabkan lima orang tewas di Vietnam. Namun, Pemerintah Thailand menepis kekhawatiran dengan mengatakan bahwa flu burung belum sampai ke Thailand. Untuk itulah Thailand menawarkan kompensasi itu agar masyarakat tidak takut mengonsumsi unggas lokal. Hal itu disepakati dalam pertemuan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra dengan kabinet di Bangkok, Selasa (20/1). Pertemuan itu dilengkapi dengan hidangan ayam rebus, ayam gaya Muslim, salad ayam gaya Thailand, dan makanan lain yang mengandung ayam. Hidangan itu disajikan di rumah pemerintahan. Para menteri mengundang wartawan untuk ikut menikmati hidangan tersebut. Sementara itu Asosiasi Eksportir Pemrosesan Ayam Broiler Thailand (Thai Broiler Processing Exporters Association/TBPEA) mengatakan, mereka akan membayar kompensasi kepada setiap kematian akibat flu burung, yang dijanjikan Pemerintah Thailand itu. Itu adalah aksi yang dilakukan untuk meyakinkan bahwa ayam Thailand bebas wabah flu burung. Presiden TBPEA Anan Sirimongkolkasem menyatakan sendiri soal itu. Pemerintah memberikan kompensasi serupa ketika wabah SARS merebak tahun 2003 lalu. Saat itu kepada korban SARS yang mengunjungi Thailand akan diberi kompensasi 25.600 dollar AS (Rp 200 juta lebih) jika meninggal. Sejumlah peternak ayam sudah mengklaim bahwa jutaan ayam telah mati akibat virus itu di Thailand. Mereka yang mengeluh itu adalah ekspor utama ayam. Namun Departemen Pertanian menepis dengan mengatakan bahwa kematian ayam tersebut bukan akibat flu burung tetapi akibat kolera dan bronkitis. Itu adalah temuan ahli perunggasan Thailand dan disetujui pemerintah. Meski demikian, penjaja makanan di pinggir jalan dan restoran di Thailand mengatakan masih banyak konsumen yang ragu akan kesehatan ayam atau unggas lokal. Karena itu mereka lebih memilih untuk mengonsumsi ikan dan daging (babi) sebagai gantinya. Asosiasi unggas Thailand mengatakan, kompensasi diberikan hingga kekhawatiran soal wabah flu burung sudah berlalu. Asosiasi itu juga mengatakan bahwa sejumlah importir ayam Thailand telah menanyakan keadaan flu burung di negara itu dan mengirimkan perwakilan ke Thailand. Untuk itu asosiasi tersebut telah mengirimkan sampel. Namun demikian belum ada pembatalan atas impor ayam Thailand sejauh ini. Tak jelas Isu flu burung di Asia sejauh ini belum begitu jelas. Besar persoalan juga belum diketahui. Yang mencuat tampaknya adalah ketakutan berlebihan dan tindakan sporadis. Isu flu burung juga menghebohkan Vietnam, Kamboja, Laos, Cina, Korea Selatan, dan Jepang. Namun titik ledakan flu burung belum begitu jelas juga. Setiap negara cenderung mengatakan relatif aman dari flu burung, namun setiap hari masih menjadi kekhawatiran besar di negara itu. Ahli epidomologi kini masih berkutat untuk menyelidiki persoalan flu burung dan penyebarannya.(AFP/AP/MON)
-------------------------------------------------------------------------------- Pandemi FLU BURUNG: Dari Italia, Hongkong, Lalu INDONESIA?
FLU burung atau flu unggas (bird flu, avian influenza) telah menjadi pandemi di dunia. Kehebohan itu bertambah ketika wabah tersebut menyebabkan sejumlah manusia juga meninggal. Terakhir, 19 Januari lalu, pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)-sebagaimana dikutip AFP-mengonfirmasikan bahwa lima warga Vietnam tewas akibat terserang flu burung. AWALNYA, penyakit flu burung ini adalah penyakit hewan yang menyerang bangsa unggas. Menurut dokter hewan Julie D Helm dari Universitas Clemson, Amerika Serikat, seperti dikutip engormix.com, flu burung atau sampar unggas (fowl plaque) adalah penyakit virus yang menyerang berbagai jenis unggas, meliputi ayam, kalkun, merpati, unggas air, burung-burung piaraan, hingga ke burung-burung liar. Namun, babi juga dapat tertular flu burung. Menurut catatan WHO, yang bertanggung jawab atas flu burung pada bangsa unggas itu adalah virus influenza tipe A. Penyakit ini tercatat pertama kali diidentifikasi di Italia lebih dari 100 tahun lalu. Tidak ada catatan lebih jauh bagaimana awal mula flu burung itu ditemukan di sana. Belakangan diketahui, yang menyebabkan tingkat kematian tinggi itu adalah galur HPAI. WHO mencatat ada 15 subtipe dari virus flu burung yang menginfeksi bangsa unggas dan menjadi tempat penyimpanan (reservoir) virus yang berpotensi menyebarkan virus tersebut ke mana-mana. Diketahui pula bahwa subtipe H5 dan H7 virus flu burung adalah yang menyebabkan wabah dengan tingkat kematian tinggi (patogenik). Namun, hanya ada satu galur dari virus flu burung yang tingkat kemampuan mematikannya tinggi atau high-pathogenic avian influenza (HPAI) H5N1 yang dapat menginfeksi manusia (zoonosis). HPAI ini jangan dikacaukan dengan virus human influenza yang menyebabkan gejala flu biasa pada manusia. Galur virus influenza H5N1 ini, menurut Julie D Helm, hanya ditemukan di Hongkong pada tahun 1997 dan tidak ditemukan di negara-negara di luar Hongkong. Namun, dalam perkembangannya, seperti dikutip AFP, ternyata galur H5N1 itu juga yang menyebabkan kematian manusia di Vietnam bulan Januari 2004. Oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (Office International des Epizooties/OIE) HPAI ini dimasukkan dalam "daftar A" klasifikasi penyakit OIE. Daftar A berisi penyakit-penyakit menular hewan yang berpotensi menyebar secara cepat dan sangat serius, tidak memedulikan batas negara, yang memiliki konsekuensi kesehatan masyarakat dan sosial ekonomi serius, dan yang mempunyai nilai penting utama dalam perdagangan hewan dan produk hewan internasional. Menurut Julie D Helm, gejala pada unggas biasanya adalah bervariasi, bahkan kadang tanpa gejala. Gejala yang umum adalah tanda-tanda pada pernapasannya, seperti bersin, pembengkakan kepala, jengger berwarna biru, bercak merah pada bagian tulang sayap. Juga muncul tanda-tanda saraf seperti tidak dapat berjalan, kepala dan leher berputar-putar. Gejala umum lainnya adalah mencret, penurunan produksi dan makan, serta kematian yang rendah serta tinggi tergantung galur virusnya. Namun, gejala-gejala tersebut sangat umum dan bisa juga disebabkan oleh bakteri, sehingga diagnosis yang meyakinkan sangat dibutuhkan. Unggas air yang sering bermigrasi-kebanyakan adalah bebek liar-adalah reservoir alami bagi virus flu burung, tetapi mereka resisten terhadap penyakit tersebut. Kontak langsung dan tidak langsung antara unggas air yang bermigrasi dengan unggas ternak, menurut WHO, berimplikasi atas seringnya terjadi epidemi flu burung di dunia burung. Pasar burung hidup juga mempunyai peranan penting dalam penyebaran epidemi, yaitu berjangkitnya penyakit di suatu negara. Mutasi virus ? Masih menurut WHO, ternyata hasil penelitian terhadap virus flu burung tersebut telah bermutasi dari daya mematikan (patogenisitas)-nya yang rendah menjadi virus yang patogenisitasnya tinggi. Selama tahun 1983-1984, epidemi flu burung di Amerika Serikat, galur virus flu burung H5N2 adalah yang menyebabkan tingkat kematian (mortalitas) rendah. Akan tetapi, hanya dalam waktu enam bulan bermutasi menjadi mematikan, dengan mortalitas mencapai 90 persen. Kontrol terhadap wabah tersebut harus mengorbankan pemusnahan lebih dari 17 juta unggas dengan biaya mendekati 65 juta dollar Amerika Serikat. Mutasi virus flu burung inilah yang menyebabkan akhirnya flu burung menular ke manusia. Penularan kepada manusia yang tercatat adalah di Hongkong tahun 1997. Waktu itu flu burung galur H5N1 menyebabkan penyakit pernapasan yang berat terhadap 18 manusia, dan enam di antaranya tewas. Infeksi flu burung kepada manusia itu kebetulan bersamaan dengan epidemi flu burung dari galur yang sama terhadap populasi unggas di Hongkong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontak dengan unggas terkena penyakit adalah yang menularkan kepada manusia. Pada bulan Maret tahun 2003, menurut siaran pers OIE, beberapa negara yang terserang flu burung adalah Belanda dan Belgia. OIE menemukan, galur virus flu burung di kedua negara tersebut adalah H7N7. Galur H7N7 tersebut, menurut OIE, mungkin dapat menyebabkan radang mata (konjunctivitis) pada orang yang secara permanen berkontak dengan peternakan yang terinfeksi flu burung, seperti pekerja peternakan atau orang yang memusnahkan unggas yang terinfeksi. Di kawasan Asia Tenggara, menurut siaran pers OIE pada Januari 2004, negara yang telah resmi terinfeksi flu burung adalah Korea Selatan, Vietnam, dan Jepang. Flu burung telah menjadi wabah yang menyebar lintas negara (pandemi). Menurut catatan OIE, sampai dengan tahun 2003, Indonesia masih belum terinfeksi virus flu burung . Untuk mengendalikan pandemi flu burung tersebut, WHO telah membuat program global, di antaranya adalah mendorong vaksinasi terhadap pekerja peternakan yang mempunyai risiko tinggi terkena flu burung. Dengan demikian, produksi vaksin flu burung terus ditingkatkan kualitasnya. Departemen Pertanian 15 Januari lalu telah melarang impor unggas, bahan asal unggas, dan hasil bahan asal unggas yang berasal dari negara yang terkena wabah atau transit negara wabah, yaitu Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam. Boleh jadi, ini langkah tangkas untuk menangkal menularnya penyakit itu ke Tanah Air. (BUR)
--------------------------------------------------------------------------------
Lima Orang Meninggal karena Flu Burung
Hanoi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Senin (19/1), mengatakan, seorang anak perempuan berusia 8 tahun diyakini menjadi orang kelima yang meninggal di Vietnam karena terjangkit wabah flu burung. Anak itu, dari utara Provinsi Ha Tay, meninggal hari Sabtu lalu. Ia dibawa ke rumah sakit di Hanoi pada 15 Januari setelah memperlihatkan gejala penyakit itu pada 11 Januari. "WHO mengkonfirmasikan, ini adalah kasus kematian kelima dari H5NI (sejenis virus flu burung)," kata Robert Dietz, juru bicara badan PBB. WHO mengatakan belum terdapat tanda-tanda penyakit itu ditularkan antara manusia. Korban diduga mendapat virus itu dari ayam yang terinfeksi. Virus itu menyebar di udara dan hidup dalam pupuk. Tetapi para pejabat mengatakan, memakan daging ayam yang dimasak dan telur yang direbus aman saja. Namun, para ahli khawatir mungkin ada campuran flu burung, flu manusia dan sejenis penyakit menular baru mematikan yang merebak di Asia, satu tahun setelah sindrom pernapasan akut parah (SARS) muncul dan menewaskan sekitar 800 orang di seluruh dunia. Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan telah melaporkan pula merebaknya flu burung, tetapi Vietnam merupakan negara paling parah. Selain lima yang dikonfirmasi meninggal di Vietnam, masih terdapat tujuh orang dicurigai meninggal akibat flu burung. Semua tersangka kasus manusia dikonfirmasikan telah terjadi di dekat ibu kota Hanoi. Namun, flu itu telah pula menimpa peternakan ayam paling parah di Vietnam selatan. Sekitar dua juta burung telah mati akibat penyakit itu atau disingkirkan dalam rangka membasmi virus itu. WHO telah mengirim ahli penyakit berjangkit ke Ho Chi Minh City untuk mencek apakah ada kasus muncul di sana akibat flu burung. Pihak Rumah Sakit Umum Kien Giang mengatakan, seorang pria yang memperlihatkan gejala serupa dengan yang terlihat pada korban flu burung, telah meninggal. Sedangkan seorang wanita dengan gejala sama kini berangsur sembuh. Rumah Sakit Pediatrik Can Tho mengatakan, seorang bayi berusia dua bulan meninggal Kamis lalu akibat penyakit pernapasan. "Kami masih memeriksa penyebab kematian itu, tetapi mungkin ada kaitannya dengan flu burung," kata Le Hoang Son, direktur rumah sakit itu. Korban fatal akibat flu burung sangat jarang dan tak dikenal sebelum tahun 1997. Ketika itu ada 6 orang di Hongkong yang meninggal karena virus H5NI. Awal 2003, seorang warga Hongkong (33) mengidap virus H5NI dan meninggal akibat pneumonia. (Reuters/AFP/mk)
--------------------------------------------------------------------------------
Kematian 10 Juta Ayam Petelur di Indonesia akibat Flu Burung
Surabaya, Kompas - Kematian ayam petelur di Jawa Timur dan juga di beberapa daerah di Indonesia yang mulai merebak sejak bulan Oktober 2003 hingga sekarang dipastikan akibat penyakit flu burung. Hal itu berbeda dengan pernyataan pemerintah yang mengatakan penyebabnya adalah virus tetelo vilogenik. Ketua I Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Jawa Timur (Jatim) yang juga anggota Tim Kelompok Kerja Wabah Ayam Nasional drh CA Nidom mengatakan hal tersebut kepada wartawan di Surabaya, Sabtu (24/1). "Sekitar 10 juta ayam di Indonesia mati sejak bulan Oktober 2003. Di Jatim sendiri hampir lima juta ayam mati, sebagian besar dari Kediri dan Blitar," ujar Nidom. Kematian itu, menurut pemerintah, akibat merebaknya virus tetelo vilogenik (velogenic viscerotropic newcastle disease/VVND). Hasil penelitian Tim Kelompok Kerja Wabah Ayam tingkat nasional menunjukkan kematian ribuan unggas tersebut positif karena virus flu burung. "Ciri-cirinya, jengger unggas berwarna biru dan kaki seperti habis kerokan, yakni bergaris merah-merah. Hanya satu virus yang punya ciri seperti itu," ujar Nidom. Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jatim Sigit Hanggono membantah bahwa kematian ratusan ribu ayam yang terjadi baru-baru ini di Jatim disebabkan flu burung. "Kematian ayam di Jatim sebenarnya tidak sebanyak itu. Namun, karena peternak di sana khawatir ayam yang lainnya akan tertular, mereka buru-buru mematikan ayam yang masih sehat dan menjualnya. Kematian ayam di Jatim itu terjadi karena VVND," kata Sigit. Informasi sebenarnya Identifikasi DNA dengan 100 sampel kematian ayam yang diambil dari berbagai daerah di Jatim sudah selesai tanggal 19 Desember 2003 dan telah diserahkan secara resmi kepada pemerintah pusat. Sekarang, kata Nidom, pihaknya sedang menunggu kiriman sampel dari Bali. PDHI Jatim mengimbau pemerintah segera menginformasikan kepada masyarakat perihal yang sebenarnya mengenai penyebab kematian unggas. Tujuannya, agar mereka bisa melakukan langkah-langkah pencegahan sehingga penyakit itu tidak meluas. Ras Afrika Menurut dosen Biologi Molekuler Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, itu, salah satu faktor keberuntungan bangsa Indonesia adalah karena dekat dengan ras Afrika. Umumnya, kematian pada kasus penyakit flu burung menimpa ras Mongoloid, seperti Cina, Vietnam, dan Korea. Mereka memiliki kepekaan tinggi terhadap flu burung. Ketika tertular flu burung, warga Indonesia yang sebagian besar keturunan Melayu tidak akan langsung mati. Nidom menambahkan, bibit penyakit flu burung yang ditemukan di Jatim dan beberapa daerah di Indonesia itu akan berbahaya apabila menempel atau melakukan assortan kepada bebek dan babi. Di daerah Mijosari, Kabupaten Mojokerto, Jatim, telah ditemukan beberapa kematian pada bebek akibat terserang penyakit flu burung. Saat ini tim dokter hewan Unair sedang meneliti dengan mengambil sampel lima bebek yang mati itu. Nidom mengemukakan, penyakit flu burung memiliki mata rantai penularan dari ayam, bebek, ke babi, baru kemudian menular kepada manusia. Penularannya kepada manusia lebih cepat apabila melalui babi karena ketika penyakit itu masuk ke tubuh babi, virus bisa berubah menjadi ganas atau melemah. Anggota Tim Forensik Bom Bali yang ahli di bidang DNA itu menjelaskan, di Provinsi Bali sekarang ini sudah terjadi banyak kematian ternak. Pemerintah mengklaim kematian tersebut karena virus tetelo vilogenik. Guna memastikan kebenaran penyebab kematian, timnya kini sedang menunggu kiriman sampel dari Bali untuk diteliti. Pasalnya, di Bali sekarang terjadi kasus kematian terhadap unggas yang sangat tinggi. Hal ini sangat berbahaya karena ada populasi babi di daerah tersebut. Penularan langsung melalui konsumsi makanan belum pernah terjadi, tetapi penularan melalui udara dan kontak langsung dengan hewan yang sakit akan lebih mempercepat penularan. Umumnya warga yang tinggal di lingkungan sekitar atau para peternak yang akan kena penyakit itu. Pencegahan penularan penyakit flu burung, baik terhadap hewan ternak maupun manusia, dilakukan melalui depopulasi. Daerah endemik tertinggi penyakit flu burung pada unggas hingga kini masih diduduki oleh Legok, Kabupaten Tangerang, karena di sana banyak peternak unggas. Virus tersebut mudah menyebar dengan kondisi sanitasi dan sistem pemberian pakan ternak yang buruk. Belum lagi ditambah maraknya peredaran vaksin ilegal dan vaksin palsu. Di Indonesia, lembaga atau perusahaan yang berhak memproduksi vaksin unggas dan ditunjuk secara resmi oleh pemerintah adalah Pusat Veterinaria Farma (Pusvetma) di Jatim dan Vaksindo. Akan tetapi, hasil produksi mereka kurang maksimal. Padahal, untuk penyakit flu burung, satu vaksin yang sampelnya diambil dari Pare Kediri belum tentu cocok untuk diberikan kepada unggas di Blitar. Di Vietnam Dari Vietnam diberitakan, di Ho Chi Minh City seorang bocah berusia 13 tahun yang terjangkit flu burung meninggal. Dengan demikian, jumlah korban flu burung di negeri itu menjadi enam orang. Direktur Departemen Kesehatan Ho Chi Minh City Nguyen The Dung mengatakan, Sabtu, remaja yang dites positif mengidap virus H5N1 itu meninggal Kamis di rumah sakit anak- anak nomor 2 kota itu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membenarkan kematiannya. Dua remaja puteri bersaudara juga meninggal Kamis di Rumah Sakit Bach Mai Hanoi akibat penyakit pernafasan berat. Le Dang Ha, Direktur Institut Penyakit Tropis, curiga mereka mengidap penyakit flu burung. (Reuers/AFP/MK/L15/FAJ) -------------------------------------------------------------------------------- Flu Burung di Indonesia
29 Agustus 2003: Muncul penyakit yang mematikan di peternakan ayam di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Setelah itu menyebar di sejumlah kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
23 Oktober 2003: Deptan mengonfirmasi wabah itu sebagai virus tetelo dengan jenis vilogenik viserotropik berdasarkan pengujian beberapa lembaga dan laboratorium.
28 Oktober 2003: Otoritas Agrifood and Veterinary Authority (AVA) Singapura telah melarang sementara impor burung dan unggas lainnya dari Indonesia karena adanya informasi wabah penyakit flu burung di beberapa daerah.
19 November 2003: Dua sumber independen yang layak dipercaya di Indonesia telah mengirim informasi adanya wabah flu burung ke International Society for Infectious Diseases (ISID). Mereka mengabarkan, wabah tersebut telah terjadi di Jawa Barat dan Sumatera.
22 Desember 2003: Pusat Informasi Unggas Indonesia (Pinsar) menyebutkan adanya keikutsertaan flu burung dalam wabah tetelo yang terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Virus tersebut tidak hanya diisolasi, tetapi sudah diidentifikasi melalui berbagai metode diagnostik. Pinsar menyarankan virus flu burung yang ditemukan sebaiknya dikirim ke laboratorium rujukan internasional di Australia, Inggris, Jerman, atau Amerika Serikat.
15 Januari 2004: Sebuah tim yang terdiri atas Kepala Badan Karantina dan Direktur Kesehatan Hewan pergi ke Cina sekitar enam hari untuk mempelajari kasus flu burung, termasuk pengadaan vaksin.
21 Januari 2004: Dirjen Bina Produksi Peternakan menginformasikan bahwa pemerintah menunjuk PT Bio Farma untuk mengimpor vaksin flu burung dengan jenis patogenitas rendah.
24 Januari 2004: Ketua I Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) CA Nidom mengumumkan, dari identifikasi DNA dengan sampel 100 ayam yang diambil dari daerah wabah diketahui positif telah berjangkit flu burung.
25 Januari 2004: Deptan mengumumkan secara resmi kasus avian influenza terjadi di Indonesia, namun belum ditemukan korban manusia akibat wabah tersebut. (K09/K12/MAR)
--------------------------------------------------------------------------------
Flu Burung Terus Merebak, Vaksin Masih 6 Bulan Lagi
Bangkok, Vaksin bagi flu burung yang menjangkiti Asia masih lebih dari enam bulan lagi baru bisa diperoleh. Demikian perkiraan seorang juru bicara Badan Kesehatan Dunia (WHO), Minggu (25/1). Sementara itu, Thailand yang terserang flu burung parah mengerahkan ratusan serdadu untuk mematikan ratusan ribu ayam, sedangkan PM Thaksin Shinawatra dihujani kritik mengenai penanganan wabah tersebut. Menghadapi tuduhan bahwa ia menutup-nutupi berjangkitnya penyakit itu, Perdana Menteri (PM) Thailand mengatakan, pemerintahnya telah mencurigai bahwa flu burung telah menyerang negaranya "beberapa minggu yang lalu". Tetapi ia tidak mengumumkan kepada publik karena mengkhawatirkan massa panik, katanya. Hanya di Vietnam dan Thailand manusia juga terkena flu burung itu, dengan enam orang dinyatakan meninggal di Vietnam dan dua kasus pasti di Thailand. Virus itu telah mengenai jutaan ayam di enam negara Asia. "Tidak bisa dibantah lagi penyakit ini sedang menyebar," kata Anton Rychemer, perwakilan badan pangan dan pertanian PBB FAO untuk Vietnam. Baru-baru ini WHO menumbuhkan harapan bahwa sebuah prototipe vaksin flu burung akan siap dalam waktu empat minggu. Tetapi badan kesehatan PBB itu hari Minggu mengatakan di situs Internet-nya, kekhawatiran bahwa virus itu akan bermutasi memang telah terjadi sehingga memperlambat ditemukannya vaksin itu. Peter Cordingley, jubir WHO untuk kawasan ini mengatakan kepada Associated Press di Filipina bahwa masih diperlukan lebih dari enam bulan sampai diperolehnya vaksin itu. Sekarang ini, korban manusia terinfeksi secara langsung dari kotoran dan bangkai ayam yang menderita penyakit itu. Namun, para ilmuwan mengkhawatirkan penyakit itu bisa berkombinasi dengan virus influensa biasa manusia, membuat infeksi dari orang ke orang menjadi mungkin. Pemerintah di Thailand, Vietnam, Kamboja, Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan, telah memerintahkan pembunuhan massal ayam untuk memerangi penyebaran virus itu. Vietnam telah menghabisi lebih dari tiga juta ayam dan Thailand lebih dari tujuh juta ayam. Hari Minggu, Thailand mengerahkan serdadu dan narapidana untuk membunuhi ratusan ribu ayam. Dengan rakyat biasa terlalu takut untuk mendekati ayam, sebanyak 400 serdadu dikerahkan ke Provinsi Suphanburi, barat laut Bangkok, kata Deputi Menteri Pertanian Newin Chidchop. Sebanyak seratus napi juga dikerahkan untuk membantu pembantaian ayam itu. Berjangkitnya penyakit flu burung itu telah memukul industri ekspor ayam Thailand, terutama para petani kecil. Pada hari Minggu, Thaksin mengakui bahwa para pejabat telah mencurigai berjangkitnya flu burung itu. "Kami telah mencurigai ini selama beberapa minggu," katanya. Namun karena belum pasti, maka itu tak diumumkan. Cina pada hari Minggu mengatakan akan melarang produk ayam dari Thailand, menyusul tindakan Uni Eropa dan Jepang-pasar terbesar ayam Thailand-pada hari Jumat.(AP/Reuters/di)
Sumber : Berbagai sumber
Tanggal dibuat : 17/03/2005 . 15:43
Revisi terakhir : 23/02/2010 . 00:00
Kategori : PENYAKIT
Halaman pernah dibaca 56633 kali
Tampilan Print
Cetak halaman ini
|