Infeksi
>> Penyakit >> SARS


Direktur Jenderal PPM - PL
Halaman Utama
Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial
Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease
Informasi Penelitian
Profile RSPI - SS
Dokter - dokter di RSPI - SS
Sejarah RSPI - SS


Rumah Sakit Pusat Nasional Penyakit Infeksi
Tim Redaksi infeksi.com

 Plasmid - Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease

Kupin - Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial


 
Halaman Utama Informasi mengenai penyakit - penyakit infeksi Informasi mengenai Imunisasi Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease Informasi Penelitian Profile RSPI - SS Dokter - dokter di RSPI - SS Sejarah RSPI - SS  
 
S A R S ( SEVERE ACUTE RESPIRATORY SYNDROMA )

DEFINISI :

ADALAH SINDROMA PERNAPASAN AKUT BERAT YANG MERUPAKAN PENYAKIT INFEKSI PADA JARINGAN PARU MANUSIA YANG PENYEBABNYA ADALAH CORONA VIRUS SUATU "SINGLE STRANDED ENVELOPED RNA VIRUS "

Riwayat Virus Corona Penyebab SARS

Jakarta - Para Ilmuan kian meyakini bahwa dari keluarga corona adalah penyebab SARS. Ilmuan dari Hongkong mengakui bahwa mereka telah berhasil menunjukkan dengan tepat virus corona itu setelah mengidentifikasi bagian kecil dari sampel DNA pasien yang terinfeksi SARS. Hasil riset ilmuan Hongkong ini didukung hasil riset Institut Pasteur di Perancis dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Atkanta AS     

Gbr. Coronovirus

          Demikian dilansir BBC News Service. Dr. Mark Salter dari WHO menyatakan, virus itu biasanya menyerang binatang, umumnya babi ( Virus ini pertama kali ditemukan oleh Tyrrell dan Bynoe ( ukuran virus 80 - 150 nm) , Mc Intosh ( ukuran virus 60 - 220 nm ) dari USA pada tahun 1965 dan berhasil melakukan kultur yang ditemukan pada manusia dengan gejala Commond Cold dan penyakit Infeksi saluran pernapasan bagian atas, biasanya virus ini muncul pada musim dingin dan awal musim semi, jika virus ini berasal dari Babi, maka pada manusia akan menyebabkan kelainan Gastro Enteritis, jika berasal dari ayam , pada manusia akan menyebabkan bronchitis dan jika berasal dari tikus, pada manusia akan menyebabkan Hepatitis, virus ini juga dapat ditemukan pada penderita HIV/AIDS yang menderita Diare), yang dengan berbagai cara akhirnya menyebar ke manusia. Saat ini ilmuwan telah melampaui tahapan penemuan virus itu sehingga mereka dapat konsentrasi untuk menemukan cara mendiagnosa, mengobati dan mencegah wabah itu sehingga dokter bisa mengkonfirmasikan pada pasien yang yang terinfeksi virus mematikan itu. Hingga kini belum ada obat antivirus yang berhasil mengobati SARS atau vaksin untuk mencegahnya.
           Tapi saat ini penyebab penyakit sudah teridentifikasi Dokter-dokter dapat berkonsentrasi untuk mencegah dan mengobati epidemi yang telah merenggut nyawa 774 ( 31 Desember 2003) manusia sejak November 2002 itu. Peneliti federal Amerika Serikat (AS) mulai bekerja untuk menemukan vaksin yang akhirnya bisa mengendalikan penyakit misterius yang telah menyebar dari Asia ke Amerika utara dan membunuh banyak manusia.
          Penelitian vaksin untuk penyakit yang dijuliki sindrom pernafasan sangat akut atau SARS (severe acute respiratory syndrome) ini dilakukan oleh Institut Kesehatan Nasional. Namun mereka juga telah melobi industri farmasi untuk memproduksi vaksin berdasarkan hasil penelitian itu. Pejabat pada Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Atlanta, menyatakan mereka, 90 persen yakin SARS ini adalah bentuk baru dari coronavirus, virus penyebab flu pada umumnya. Penelitian beranjak dari asumsi ini. Jika upaya mematikan dengan beberapa jenis virus lain berhasil, maka para peneliti akan mengulangi lagi dari awal, ujar Dr. Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Infeksi, dengan hati-hati. Skenario terbaiknya, vaksin bisa ditemukan paling lama akhir tahun ini.

DEFINISI KASUS SUSPEK SARS ( WHO,1 MEI 2003)

 
  1. Seseorang yang setelah 1 November 2002 datang dengan :
    Demam tinggi lebih dari 38° C DAN Batuk atau kesulitan bernapas DAN satu alat lebih dari paparan berikut ini dalam waktu 10 hari sebelum timblnya gejala : Kontak erat dengan penderita SARS (suspek atau probable), Riwayat perjalanan ke daerah terjadi transmisi lokal, Tinggal didaerah dimana baru-baru ini terjadi transmisi lokal. Kontak Erat : merawat,tinggal dengan atau kontak langsung dengan cairan respirasi atau tubuh dari kasus suspek atau probable SARS.
  2. Seseorang dengan penyakit pernapasan akut yang berakhir dengan kematian setelah 1 November 2002 dimana tidak dilakukan autopsi DAN satu atau lebih dari paparan berikut ini dalam waktu 10 hari sebelum timbulnya gejala : Kontak erat dengan penderita SARS (suspek atau probable), Riwayat perjalanan kedaerah dimana terjadi transmisi lokal, Tinggal didaerah dimana baru-baru ini terjadi transmisi lokal.

Masker N95 tampak depan

Masker N95 tampak belakang

KEMUNGKINAN KASUS :
          Kasus suspek dengan gambaran foto thorax menunjukkan tanda-tanda pneumonia atau respiratory Distress Syndroma atau seseorang yang meninggal karena penyakit saluran pernapasan yang tidak jelas penyebabnya dan pada pemeriksaan autopsi ditemukan tanda patologis berupa “ Respiratory Distress Syndroma “. ( RDS ).
          Selain demam dan gejala gangguan pernapasan, SARS dapat pula menimbulkan gejala-gejala sebagai berikut : Sakit Kepala, Kaku otot, kehilangan nafsu makan, lemah , gangguan kesadaran ( Confusion ), bercak merah ( Rash ) dan diare.

MANAGEMEN KASUS SUSPEK ( SUSPECT CASE )

  1. Penderita dengan gejala-gejala SARS haruslah segera melewati triage untuk dikirim ke ruang pemeriksaan atau bangsal yang sudah disiapkan.
  2. Berikanlah masker kepada pasien.
  3. Catat dan dapatkan keterangan rinci mengenai tanda klinis, riwayat perjalanan dan riwayat kontak sepuluh hari terakhir sebelum sakit.
  4. Lakukanlah pemeriksaan radiologi ( foto thorax ) dan hitung darah tepi.
  5. Kalau foto thorax masih normal, dianjurkan untuk melaksanakan kebersihan perorangan, menghindari daerah yang padat penduduknya, termasuk dalam angkutan umum, dan tetaplah dirumah sampai sembuh.
  6. Pasien yang akan keluar rumah sakit, dianjurkan untuk segera menghubungi dokter apabila penyakitnya memburuk.
  7. Kalau hasil foto thorax memperlihatkan adanya infiltrasi pada satu atau kedua belah paru, dengan atau tanpa disertai infiltrasi => Lihat managemen kemungkinan kasus ( Probable Case ).

MANAGEMEN KEMUNGKINAN KASUS ( PROBABLE CASE )

  1. Kasus ditempatkan di rumah sakit diruang isolasi atau digabungkan dengan kasus yang sama.
  2. Pengambilan sample spesimen pemeriksaan laboratorium untuk membedakan dengan kasus pneumonia atypik adalah usap hidung dan tenggorok.
              a. Sample darah untuk biakan dan pemeriksaan serum
              b. Sample urine.
              c. Sample Broncho alveolar lavage ( cairan broncho alveoli )
              d. Pemeriksaan postmortem jika dimungkinkan.
  3. Dianjurkan agar pengambilan spesimen dilakukan setiap dua hari, beberapa laboratorium bisa memproses spesimen.
  4. Memonitor hitung darah tepi setiap dua hari.
  5. Foto thorax sesuai indikasi klinis.

Sampai saat ini, efektifitas dari penggunaan antibiotik berspektrum luas belum bisa dibuktikan dalam mengatasi perluasan SARS. Ribavirin IV dan steroit dapat menstabilkan kondisi seorang pasien dalam keadaan kritis.

MANAGEMEN KONTAK KASUS SUSPEK DAN KEMUNGKINAN KASUS.

     1.    Persiapkanlah segala sesuatu yang bisa dipakai untuk memastikan diagnosa.
     2.    Catat nama dan rincian informasi dari kontak.
     3.    Berikanlah nasehat jika ada demam atau tanda-tanda gangguan pernapasan

    • Laporkanlah segera kepada dokter.
    • Dilarang masuk kerja sampai ada izin dokter.
    • Hindari tempat-tempat umum sampai ada anjuran dokter.
    • Kurangi kontak dengan anggota keluarga dan kawan-kawan.

PETUNJUK PENCEGAHAN INFEKSI DI RUMAH SAKIT.

          WHO menyarankan agar mengikuti rambu-rambu perawatan pasien SARS dengan cermat dan melakukan tindakan pencegahan penularan melalui udara, droplet dan kontak Perawat-perawat di bagian triage harus cepat tanggap mengarahan pasien dengan gejala seperti flu ke tempat pemeriksaan khusus, untuk memperkecil penularan kepada pasien lain di ruang tunggu. Kasus yang dicurigai harus menggunakan masker operasi sampai dinyatakan bukan SARS.

Pasien dengan kemungkinan SARS harus diisolasi dan dirawat sesuai urutan sebagai berikut :
     1.  Ruang tekanan negatif dengan pintu tertutup.
     2.  Ruang sendiri dengan fasilitas kamar mandi.
     3.  Pengelompokan penderita di dalam suatu tempat dengan system ventilasi udara tersendiri.

          Apabila sistem ventilasi tidak tersendiri, maka direkomendasikan untuk mematikan AC dan membuka jendela agar ventilasi udara menjadi lancar, tetapi sedapat mungkin , pasien yang dinyatakan SARS dipisahkan dengan pasien yang dicurigai lainnya atau mempunyai gejala yang sama.
          Sedapat mungkin menggunakan peralatan sekali pakai ( disposible ) dalam pengobatan dan perawatan pasien SARS. Apabila menggunakan peralatan yang dipakaii berulang harus disterilkan sesuai ketentuan, alat-alat harus dibersihkan dengan antiseptik broad spectrum ( Bactericidal, fungicidal, and virusidal ) dengan khasiat yang talah teruji.

Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Radang Pernapasan Akut ini Penyebabnya adala Coronavirus, dari data yang diperoleh dari WHO antara tanggal 1 Nov 2002 sampai dengan 31 Desember 2003 ( jam 07.00 WIB ), WHO  melaporkan penemuan Probable Case SARS di Australia (6 Penderita,0 Meninggal),Kanada (251 Penderita, 43 meninggal ), China ( 5327 penderita, 349 Meninggal ),Hongkong (1755 Penderita, 299 Meninggal ), Taiwan ( 346 penderita, 37 meninggal ), Indonesia ( 2 Penderita, 0 Meninggal ), Philipines ( 14 penderita, 2 meninggal), Kuwait ( 1 Penderita, 0 Meninggal), Malaysia ( 5 Penderita,2 Meninggal ), Singapura (238 Penderita, 33 Meninggal ), Thailand ( 9 Penderita, 2 Meninggal ),  dan Inggris ( 4 Penderita, 0 Meninggal ),  Amerika Serikat ( 27 Penderita,0 Meninggal),  Vietnam ( 63 Penderita, 5 meninggal ).

RUMAH SAKIT PENYAKIT INFEKSI
PROF. DR. SULIANTI SAROSO JAKARTA
JL. BARU SUNTER PERMAI RAYA, TELP. 021 - 6401412
FAX. 021 - 6401411, Jakarta 14340. E-MAIL : info @ infeksi.com
WEBSITE : http//www.infeksi.com ( Tlp. 021 - 70796300 )
_______________________________________________

TANYA JAWAB TENTANG
PERKEMBANGAN TERAKHIR PENYAKIT SARS (SEVERE ACUTE RESPIRATORY SYNDROME) ATAU CVP (CORONA VIRUS PNEUMONIA)


Apa penyebab penyakit yang mematikan ini?
Penyebabnya adalah strain virus baru Coronavirus , keluarga virus yang bersifat menular yang biasanya menyerang saluran pernafasan atas dan menyebabkan common cold. Peneliti di Hongkong mengusulkan nama baru untuk penyakit yang mematikan itu Coronavirus pneumonia atau disingkat CVP. Virus ini pertama kali ditemukan oleh Twnell dari USA pada tahun 1965 dan berhasil melakukan kultur yang ditemukan pada manusia dengan gejala Commond Cold dan penyakit Infeksi saluran pernapasan bagian atas, biasanya virus ini muncul pada musim dingin dan awal musim semi, jika virus ini berasal dari Babi, maka pada manusia akan menyebabkan kelainan Gastro Enteritis, jika berasal dari ayam , pada manusia akan menyebabkan bronchitis dan jika berasal dari tikus, pada manusia akan menyebabkan Hepatitis, virus ini juga dapat ditemukan pada penderita HIV/AIDS yang lagi Diare.

Kapan dan dimana penyakit ini pertama kali dilaporkan ?
Dari Propinsi Guangdong, Republik Rakyat Cina . Seorang dokter cina yang terjangkit penyakit SARS berkunjung ke Hongkong, dan menginap di lantai 9 Hotel Metropole, Hongkong pada bulan Februari. Mereka kemudian menularkan ke Vietnam, Kanada dan Singapura dan kepada orang-orang di Hongkong. Di daratan Cina wabah telah terjadi pada bulan November tahun lalu.

Berapa kasus yang telah tercatat sampai tanggal 31 Desember 2003.
8437 kasus, 813 meninggal dan tersebar di 32 negara, termasuk Indonesia, Malaysia. tanggal 11 Juli 2003 telah dinyatakan oleh WHO tidak ada lagi kasus baru diseluruh dunia.

 Dimana sebagian besar kasus terjadi dan seberapa cepat menyebar ?
Sebagian besar dilaporkan di daratan Cina, menyebar secara cepat ke Hongkong, kemudian menyebar ke seluruh dunia. Di Hongkong pada tanggal 31 Desember 2003 dilaporkan 8096 kasus, dan yang meninggal  ditemukan 774 kasus, sementara kasus yang dinyatakan sembuh sejumlah 1706 penderita.

Apakah sudah ditemukan test laboratorium untuk menegakkan diagnosis SARS/CVP ?
Sudah ada test yang dapat digunakan yaitu test DNA sequencing bagi coronavirus yang dapat diperoleh hasilnya dalam 8 jam dan sangat akurat . Test yang lama hanya mampu mendeteksi antibody. ( test Eliza )

Bagaimana cara penularannya ?
WHO menyatakan bahwa kontak erat dengan penderita SARS /CVP diperlukan agar virus dapat menular ke orang lain. Kontak dengan percikan cairan tubuh pasien yang keluar pada waktu batuk dan bersin adalah penting. Sebagian besar pasien saat ini adalah petugas kesehatan dan keluarga dekat pasien yang merawat penderita SARS / CVP. Dokter Carlo Urbani yang ditugaskan WHO dan pertamakali melacak SARS/CVP di Hanoi, Vietnam pada seorang pebisnis berkebangsaan Amerika Serikat dilaporkan WHO pada tanggal 29 Maret 2003 meninggal dunia karena tertular penyakit tersebut. Jumlah virus agar infeksi menyebabkan penularan penyakit belum dapat ditetapkan. Ilmuwan Universitas Hongkong menyatakan bahwa coronavirus hanya dapat hidup di luar tubuh dalam beberapa jam saja. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa penularan dapat saja terjadi melalui kontak sentuhan pada waktu menekan tombol lift atau memegang pegangan pintu atau handrails (pada tangga) yang telah tercemar virus.

Bagaimana gejala dan tanda-tandanya ?
Menurut CDC (Center for Diseases Control and Prevention) Atlanta, Amerika Serikat, biasanya dimulai dengan demam 100,4 derajat Fahrenheit atau 38 derajat Celcius. Demam kadang-kadang disertai menggigil, sakit kepala dan perasaan lesu, serta nyeri tubuh. Pada awal penyakit mungkin terjadi gangguan pernafasan ringan. Setelah tiga sampai tujuh hari, penderita mungkin mengalami batuk kering tidak berdahak yang lama-kelamaan menimbulkan kekurangan oksigen dalam darah. Sepuluh sampai 20% penderita memerlukan nafas bantuan menggunakan alat bantu nafas(ventilator).

Berapa lamakah waktu inkubasi-nya ?
CDC melaporkan waktu antara masuknya virus sampai timbul gejala berkisar 2 – 7 hari. Akan tetapi ada laporan yang menunjukkan waktu inkubasi sampai 10 hari.
Apakah dalam waktu inkubasi seseorang dapat menularkan penyakit itu?
Menurut WHO maupun Pejabat Kesehatan Hongkong tampaknya seseorang yang sedang dalam waktu inkubasi tidak menularkan. Saat yang paling berbahaya untuk menularkan virus adalah saat awal terjadinya kesulitan bernafas.

Apakah SARS/CVP dapat ditularkan melalui sistem ventilasi udara suatu bangunan atau pesawat terbang ?
Menurut WHO kemungkinan itu tidak dapat terjadi. Sampai saat ini sistem filtrasi udara di pesawat terbang belum terbukti dapat menularkan. Akan tetapi terdapat 9 orang yang mengalami penularan dalam pesawat terbang dari Hongkong ke Beijing yang kemungkinan penularan terjadi dalam pesawat karena mereka duduk berdekatan dengan penderita yang infeksius. Cara penularan virus SARS ini akan melalui “droplet” dari batuk atau bersin, dari seseorang yang telah terinfeksi virus ini.

Bagaimana kecepatan penularannya ?
Menurut WHO lebih lambat daripada campak , gondong dan influenza. Akan tetapi banyaknya penerbangan internasional sangat mempermudah penyebaran penyakit ini ke seluruh dunia. Kewaspadaan apakah yang harus diketahui dan dilakukan masyarakat ? Hindari tempat yang padat kerumunan orang, apabila tidak perlu, hindari kunjungan ke rumah sakit, dan hindari penderita dengan gejala pneumonia. Cuci tangan sesering mungkin, lebih baik dengan alkohol 70% yang biasa digunakan dokter/perawat untuk membersihkan kulit sebelum menyuntik. Hindari menyentuh mulut, mata, hidung dengan tangan yang kotor. Gunakan masker apabila menderita batuk/pilek agar tidak menular ke orang lain. Sebagian besar infeksi terjadi di rumah sakit , infeksi di jalan jauh lebih kecil. Untuk petugas kesehatan gunakan masker apabila merawat penderita pneumonia. Terapkan kewaspadaan universal di sarana kesehatan.

Apakah sudah ada pengobatan yang manjur ?
Sejauh ini belum ada pengobatan yang manjur untuk SARS/CVP. Antivirus (Ribavirin) maupun steroid masih diragukan manfaatnya. Namun menurut pejabat kesehatan di Hongkong kombinasi Ribavirin dan steroid meringankan penyakit pada 80% penderita SARS/CVP. Mempertahankan kondisi tubuh agar tetap sehat dan segar akan sangat membantu pertahanan tubuh dari tertularnya virus ini.

Kapan penyakit ini mematikan? Pada orang muda atau tua ?
Sebagaian besar kasus yang meninggal di Hongkong menderita pula penyakit lain yang serius. Para dokter menyatakan bahwa orang muda dan dewasa yang sehat biasanya lebih cepat sembuh apabila terinfeksi CVP.

Bagaimana dengan angka kematiannya ?
Sampai hari ini angka kematiannya sudah berada di atas 9 %


JUMLAH KUMULATIF KASUS-KASUS SARS YANG DILAPORKAN ( 19 Juli 2003 )

NEGARA
JML KUMULATIF
KASUS BARU
ANGKA KEMATIAN
ANGKA SEMBUH
DATA PROBABLE CASE PERTAMA
DATA PROBABLE CASE TERAKHIR
Austalia
6
0
0

6

26 Feb 2003
1 April 2003
Brazil
1
0
0
1
10 Juni 2003
02 Juli 2003
Kanada

251

0

43

194

23 Feb 2003
12 Juni 2003
China

5327

0

349

4941

16 Nov. 2003

3 Juni 2003
Hongkong

1755

0

299

1433

15 Feb 2003

31 May 2003
China Macao 1 0 0 1 5 May 2003 5 May 2003
Taiwan

346

0

37

254

25 Feb 2003

15 Juni 2003
Kolumbia ? 1 0 0 1 6 Mei 2003 6 Mei 2003
Finlandia ? 1 0 0 0

8 Mei 2003

21 Mei 2003
Perancis

7

0

1

6

21 Maret 2003

3 May 2003
Jerman

9

0

0

9

9 Maret 2003

6 May 2003
India 3 0 0 3 25 April 2003 6 May 2003
Indonesia 2 0 0 2 6 April 2003
17 April 2003
Itali
4
0
0

9

12 Maret 2003

20 April 2003
Kuwait
1
0
0
1

9 April 2003

20 April 2003
Malaysia

5

0

2

3

14 Maret 2003

22 April 2003
Mongolia

9

0

0

9

31 Maret 2003

6 May 2003
New Zealand 1 0 0 1 20 April 2003 20 April 2003
Philipina

14

0

2

12

25 Feb. 2003

5 May 2003
Republik Irlandia
1
0
0
1

27 Feb 2003

27 Feb 2003
Republik Korea 3 0 0 3 25 April 2003 10 May 2003
Romania
1
0
0
1

19 Maret 2003

19 maret 2003
Rusia
1
0
0
0
5 May 2003
5 May 2003
Singapura

238

0

33

171

25 Feb.2003

5 May 2003
Afrika
1
0

1

0

3 April 2003

3 April 2003
Spanyol
1
0
0
1
26 Maret 2003
26 Maret 2003
Swedia 5 0 0 3 28 Maret 2003
23 April 2003
Swiss
1
0
0
1

9 Maret 2003

9 Maret 2003
Thailand

9

0

2
7

11 Maret 2003

02 Juli 2003
Inggris

4

0
0

4

1 Maret 2003

1 April 2003
Amerika

27

0

0

67

24 Feb. 2003

13 Juli 2003
Vietnam
63
0
5

58

23 Feb.2003

14 April 2003
TOTAL

8437

0

813

7452

Kasus SARS yang dilaporkan mungkin berubah tiap kali, artinya kasus yang dilaporkan sebelumnya mungkin sudah dibuang sesudah penentuan diagnostik lebih lanjut.

Sumber : WHO, 2003 Jml Kasus Saat ini, (Tanggal 31 Desember 2003, Jam 07.00 WIB) = 8096 Org.

JML KUMULATIF
PASIEN RAWAT JALAN
PASIEN RAWAT INAP
KASUS SUSPECTED
KASUS PROBABLE
KEMATIAN
DATA LAPORAN TERAKHIR
RSPI-SS
50
19
31
6
1
0
19 Juli 2003
WHO IND
-
-
-
1
1

-

14 Juli 2003
TOTAL
-
-
-
7
2
0

Data  untuk Indonesia saat ini ( 31 Desember 2003, Jam 07.00 WIB ) adalah 7 Suspect Case dan 2 Probable Case telah dinyatakan sembuh seluruhnya, RSPI - SS telah memeriksa 50 penderita tersangka SARS, 31 orang yang menjalani rawat inap, 31 penderita rawat inap telah dipulangkan ( dengan tetap dilakukan pengawasan selama 14 hari ), dan hari ini  tidak ada penderita observasi SARS yang menjalani rawat inap. Data RSPI-SS : 6 Suspect Case dan 1 Probable Case. ( semuanya telah dinyatakan sembuh ), dua kasus observasi SARS yang meninggal adalah bukan kasus SARS.   

HOTLINE TELPON : 62 - 21 - 6406413

( Instalasi Rawat Darurat RSPI - Prof. DR. Sulianti Saroso - Jakarta )

WASPADAI SARS

GUNAKAN SELALU MASKER BILA ANDA KELUAR DARI RUMAH / KETEMPAT-TEMPAT UMUM. ( SEBAIKNYA MASKER YANG DIGUNAKAN ADALAH TYPE N95 ).

GUNAKAN KACA MATA YANG DAPAT MENUTUPI MATA ANDA SELURUHNYA JIKA ANDA BERADA PADA DAERAH YANG ANDA CURIGAI BANYAK MENGANDUNG VIRUS.

HINDARI ORANG YANG SEDANG BATUK / PILEK.

SESERING MUNGKIN ANDA LAKUKAN CUCI TANGAN DENGAN MENGGUNAKAN ALKOHOL 70 % (HINDARI TANGAN ANDA MEMEGANG MULUT,HIDUNG DAN MATA) BILA LAGI DILUAR RUMAH

HINDARI UNTUK SEMENTARA KERABAT YANG BARU DATANG ( KURANG LEBIH 10 HARI SETELAH MEREKA TIBA DI INDONESIA ) DARI NEGARA ENDEMIS.

BILA TERDAPAT GEJALA , DEMAM LEBIH DARI 38 DERAJAT CELCIUS, BATUK TIDAK BERDAHAK, DAN ADA SESAK NAPAS, ADA RIWAYAT KONTAK DENGAN TERSANGKA PENDERITA, SEBAIKNYA ANDA SEGERA MEMERIKSAKAN DIRI KE RUMAH SAKIT

SECARA MORAL BILA ANDA SEDANG BATUK SEGERALAH MENGGUNAKAN MASKER.

PELIHARALAH KONDISI KESEHATAN ANDA DENGAN SELALU MENGKOMSUMSI MAKANAN YANG BERGIZI DAN ISTIRAHAT YANG CUKUP.


Menkes APEC Bahas SARS

Sumber: Channel News Asia indosiar.com, Thailand - Menteri Kesehatan negara Asia Pasifik akan berkumpul di Thailand, Sabtu (28/06), untuk membahas rencana pencegahan jaringan penyebaran virus SARS terbaru. Perwakilan dari 21 negara anggota yang tergabung dalam Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) diperkirakan akan mendiskusikan bagaimana upaya Cina terhadap wabah SARS saat ini. Direktur Badan Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) David Heyman mengatakan, "Kita harus belajar saat virus masih bersifat alami dan faktor resiko apa terhadap virus tersebut apabila masuk ke tubuh manusia."
SARS telah menewaskan lebih dari 800 orang di seluruh dunia, dan telah menginfeksikan lebih dari 8.500 orang. Wabah SARS juga mengakibatkan penurunan pertumbuhan ekonomi dan kerugian jutaan dolar dalam bisnis. Hong Kong dan Cina adalah dua negara yang mengalami penyebaran yang paling parah, dan telah dinyatakan berhasil mengatasi virus tersebut oleh WHO pada bulan ini, dan Taiwan dan Toronto diperkirakan akan menyusul segera.
Heyman mengatakan manusia mungkin akan bebas dari virus SARS dalam waktu 2 hingga 3 minggu kedepan, namun penyebaran jaringan baru dapat terjadi lagi di Cina pada musim dingin mendatang. Perusahaan farmasi mengatakan masih membutuhkan sedikitnya 6 bulan untuk membuat sebuah vaksin virus SARS. Deputi Menteri Kesehatan Cina Wu Yi akan menghadiri pertemuan APEC tersebut bersama dengan 8 menteri lainnya. Pertemuan ini untuk menentukan tindakan sebuah prosedur standar dalam penanganan wabah SARS di 21 negara anggota APEC. (Tom) Last updated: 28/6/2003 11:1:00


Kunjungan Wisatawan di Bali Meningkat

indosiar.com, Denpasar - Arus kunjungan wisatawan ke Bali mulai meningkat. Baik wisatawan mancanegara maupun domestik. Peningkatan ini ditandai dengan meningkatnya jumlah kedatangan wisatawan melalui bandara Ngurah Rai. Hal ini dipengaruhi oleh banyaknya musim libur dan dicabutnya travel warning wabah SARS oleh WHO. Dari Kantor Imigrasi Bandara Ngurah Rai Denpasar tercatat jumlah orang asing masuk ke Bali sejak dua minggu terakhir, rata-rata 2000 orang per hari yang sebelumnya pasca ledakan bom Bali hingga kasus SARS, jumlahnya hanya mencapai 500 hingga 700 orang per hari.
Kondisi ini dibenarkan oleh Kepala Imigrasi Ngurah Rai, Drs I Gede Widiartha, di ruang kerjanya, Jumat (27/06). Menurut Widiartha, memasuki musim libur tahun ini Juli - Agustus, terjadi peningkatan jumlah penumpang pesawat yang memasuki Bali. Bahkan menurut Widiartha beberapa maskapai penerbangan menambah eksra flight penerbangan. Jumlah wisatawan manca negara yang dominan dari kawasan Asia seperti Taiwan, Hong Kong, Jepang, Korea dan Australia. namun jika dibandingkan dengan tahun sebelum peledakan bom, jumlah kunjungan rata-rata mencapai 7000 hingga 10 ribu orang per hari.
High session diperkirakan pada bulan Juli dan diperkirakan jumlah kedatangan mencapai 3000 orang per hari. Hal ini menurut Widiartha berdasarkan asumsi dibebaskannya kawasan Asia dari kasus SARS, mendorong orang kembali bepergian termasuk ke Bali. Terhadap pemberlakuan visa kunjungan yang akan efektif berlaku 1 Agustus mendatang sesuai dengan Keppres No. 18 tahun 2003, tentang visa bagi orang yang datang ke Indonesia tidak mempengaruhi kunjungan wisatawan.
Jumlah tarif yang dikenakan antara 15 sampai 50 US dollar per orang, dinilai tidak memberatkan bagi wisatawan. Karena masa berlaku juga lebih singkat yaitu 30 hari. Disamping itu ada beberapa negara yang masih diberlakukan bebas visa seperti 11 negara ASEAN, Hong Kong, Chili dan Korea.(kontributor : Masudin/Idh)


WHO Hapus Travel Warning Wabah SARS

Sumber: AFP indosiar.com, Beijing - Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) mengatakan telah mencabut larangan kunjungan ke Beijing dan menghilangkan daftar-daftar area yang terkena wabah SARS, Selasa (24/06), dan menyatakan pencabutan daftar tersebut merupakan suatu peristiwa penting bagi seluruh dunia.
"WHO memutuskan larangan kunjungan terhadap Beijing akan dicabut. Keputusan ini berdasarkan analisa situasi di Beijing," kata Dr Shigeru Omi selaku Direktur Kawasan Pasifik Barat dalam sebuah konferensi pers. "WHO telah menyimpulkan bahwa jaringan penyebaran virus SARS dari satu orang ke orang lain dan manusia ke transmisi manusia telah berakhir," lanjut Omi. Dia mengatakan keputusan tersebut mempunyai pengaruh besar bagi dunia, dimana SARS telah menginfeksi lebih dari 8 ribu orang sejak pertama kalinya muncul di Cina Bagian Selatan pada bulan November tahun lalu.
"Ini merupakan sejarah didalam memerangi SARS di Cina dan seluruh negara di dunia. Dan mulai hari ini WHO tidak lagi memberi peringatan kepada orang yang akan melakukan perjalanan ke negara manapun di dunia," tambah ia. Beijing adalah tempat terakhir di dunia yang masih berada di daftar larangan kunjungan WHO akibat wabah SARS, sebelumnya WHO telah mencabut larangan yang sama terhadap Taiwan pada tanggal 17 Juni 2003 dan Toronto pada tanggal 13 Juni 2003 lalu.(Tom/Idh) Last updated: 24/6/2003 16:54:00


Di Indonesia
90-130 Ribu Orang Terinfeksi HIV

Reporter : Danang Sangga Buwana detikcom - Jakarta, Menkes A Sujudi menyatakan, sebanyak 90 ribu hingga 130 ribu orang di Indonesia terinfeksi virus perusak kekebalan tubuh HIV. Setiap bulan mereka mesti mengeluarkan Rp 600 ribu untuk membeli obat. “Terhadap mereka yang terjangkit virus HIV, sudah ada obatnya. Namanya retroviral. Obat ini berfungsi mempertahankan daya tahan tubuh dan mengurangi rasa sakit,” kata Menkes usai mengikuti sidang kabinet membahas HIV, SARS dan harga obat di Gedung Utama Setneg, Jl.Medan Merdeka Utara, Jakpus, Kamis (5/6/2003).
“Bagi mereka yang terkena HIV, harus mengeluarkan uang Rp 600 ribu/bulan. Harganya terlalu mahal. Sehingga pemerintah akan menyubsidi 100-200 ribu/orang,” kata Sujudi. Sementara Menko Kesra Yusuf Kalla menyatakan, daerah yang rawan penyebaran HIV adalah Bali dan Riau dan daerah-daerah lainnya yang dikunjungi orang asing.

SARS, Sementara menyinggung sindrom penyakit pernafasan sangat akut SARS, Menkes Sujudi menyatakan bahwa sampai saat ini Indonesia tidak termasuk terjangkit afektif terhadap SARS. Meskipun demikian, ada beberapa kasus di Indonesia yang diperlakukan seperti SARS. “Tidak ada yang menjamin bahwa Indonesia akan bebas terus-menerus. Namun kita akan melaksanakan pengawasan terhadap orang-orang pendatang dan waspada. Khusus kepada TKI dan TKW itu juga mendapat perhatian tambahan,” demikian Menkes A Sujudi. (nrl)


LAMPIRAN
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN
NOMOR 540/MENKES/SK/IV/2003
TANGGAL 11APRIL 2003
PENANGGUNG JAWAB
:
MENTERI KESEHATAN
KETUA
:
DIREKTUR JENDERAL PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN
KOORDINATOR PELAKSANA
:
STAF AHLI MENTERI BIDANG PENYEHATAN LINGKUNGAN DAN EPIDEMOLOGI
SEKERTARIS
:
SEKRETARIS DIT.JEN. PEMBERANTASAN PENYAKIT DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN
ANGGOTA
:
1.
SEKERETARIS JENDERAL
2. DIREKTUR JENDERAL PELAYANAN MEDIK
3. DIREKTUR JENDERAL BINA KESEHATAN MASYARAKAT
4. DIREKTUR JENDERAL PALAYANAN KAFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN
5. INSPEKTUR JENDERAL
6. KEPALA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
7. KEPALA BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN SDM KESEHATAN
8. DIREKTUR PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR LANGSUNG DITJEN P2MPL
9. DIREKTUR SURVAILANS EPIDEMIOLOGI IMUNISASI DAN KESEHATAN MATRA DITJEN P2MPL
10. DIREKTUR PENYEHATAN LINGKUNGAN DITJEN P2MPL
11. DIREKTUR PENYEHATAN AIR DAN SANITASI DITJEN P2MPL
12. DIREKTUR RUMAH SAKIT PENYAKIT INFEKSI Dr. SULIANTI SAROSO
13. DIREKTUR PELAYANAN MEDIK DAN GIGI DASAR DITJEN YANMED
14. DIREKTUR PELAYANAN MEDIK DAN GIGI SPESIALISTIK DITJEN YANMED
15. DIREKTUR KEPERAWATAN DAN KETEKNISIAN MEDIK DITJEN YANMED
16. DIREKTUR LABORATORIUM KESEHATAN DITJEN YANMED
17. DIREKTUR RUMAH SAKIT PERSAHABATAN
18. DIREKTUR KESEHATAN KOMUNITAS DITJEN BINA KESMAS
19. DIREKTUR OBAT PUBLIK DAN PEMBEKALAN KESEHATAN DITJEN YANFAR DAN ALKES
20. KAPUSLITBANG PEMBERANTASAN PENYAKTI MENULAR BADAN LITBANGKES
21. KEPALA BIRO UMUM DAN HUMAS SETJEN
22. KEPALA BIRO HUKUM DAN ORGANISASI SETJEN
23. KEPALA BIRO KEPEGAWAIAN SETJEN
24. KEPALA BIRO PERENCANAAN DAN ANGGARAN SETJEN
25. KEPALA PUSAT PENANGGULANGAN MASALAH KESEHATAN SETJEN
26. KEPALA PUSAT PROMOSI KESEHATAN SETJEN
27. KEPALA DINAS KESEHATAN PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA



LAMPIRAN
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN
NOMOR 512/MENKES/SK/IV/2003
TANGGAL 8 APRIL 2003

SUSUNAN PERSONALIA TIM VERIFIKASI PUSAT
Ketua
:
Dr. Tjandra Yoga Adhitama,SpP(K),DTMM,MARS.  
Sekretaris
:
Dr. Azimal,M.Kes  
Anggota        
:
1. Prof. Dr. Agus Syahrurrachman,Ph.D,Sp.MK.  
2. Dr. Cahyani Murniati,Sp.MK.  
3. Dr. Priyanti,SpP(K).  
4. Dr. Santoso Soeroso,SpA(K),MARS.  

5. Dr. Sardikin Giriputro,SpP,MARS.

 
6. Dr. Nasir Nugroho,SpOG  
7. Dr. Diyah.  
8. Dr. Steven Bjorge  
9. Dr. Asri Amin,MPH  


NASEHAT PADA WAKTU PULANG BAGI PASIEN TERSANGKA SARS

  1. Tetaplah gunakan Masker.
  2. Hindarkan penularan kepada orang lain.
  3. Tetap dirumah selama paling tidak 14 hari setelah pulang
  4. Minum obat yang diberikan sesuai petunjuk.
  5. Ukur suhu badan menggunakan termometer setiap 8 jam . Apabila terdapat kenaikan suhu badan lebih dari 38 derajat celcius selama 2 kali berurutan segera lapor kepada RSPI – SS lewat telepon 021-6401411 (pada jam kerja) atau Hot line SARS : 021-6506568 (di luar jam kerja)
  6. Kontrol ke rumah sakit setelah 1 minggu (7 hari) pulang dari RSPI – SS

SARS adalah penyakit saluran pernafasan semacam penyakit flu yang disebabkan oleh virus, dapat menyebabkan kematian apabila penyakit tidak ditangani sedini mungkin karena menyebabkan radang paru sehingga menyebabkan sesak nafas dan penurunan kadar oksigen dalam darah terutama pada pasien yang memiliki daya tahan tubuh rendah seperti pada orang lanjut usia. SARS bukan penyakit yang disebabkan oleh penyimpangan perilaku seksual atau tindakan yang terkait dengan pelanggaran norma agama maupun kesusilaan. SARS dapat dicegah penyebarannya dengan kerja sama yang baik antara penderita dan keluarganya serta para petugas kesehatan dan pemerintah serta masyarakat.
Karena penyakit SARS sangat menular maka diperlukan pengertian dari pasien agar tidak menularkan ke orang lain terutama kepada keluarga dekat dan orang yang merawatnya. Oleh karena itu kami mohon pengertian Anda untuk mematuhi petunjuk dokter yang telah merawat Anda. Semoga Anda lekas sembuh.

DEFINISI KASUS KEMUNGKINAN SARS

ADALAH KASUS TERSANGKA SARS DENGAN HASIL RONSEN DADA ADALAH PNEUMONIA ATAU SINDROM DISTRES PERNAFASAN ATAU PASIEN YANG MENINGGAL DENGAN PENYAKIT PERNAFASAN YANG TIDAK DAPAT DIJELASKAN SEMENTARA PADA OTOPSI MENUNJUKKAN TANDA PATOLOGIS SINDROM DISTRES PERNAFASAN TANPA PENYEBAB YANG JELAS

MANAJEMEN KASUS KEMUNGKINAN SARS

RAWAT DIRUMAH SAKIT DAN LAKUKAN ISOLASI
LAKUKAN PEMERIKSAAN USAP HIDUNG DAN TENGGOROK, BIAKAN DARAH, PEMERIKSAAN URINE
MONITOR DUA HARI SEKALI DARAH LENGKAP
RONSEN DADA SESUAI INDIKASI KLINIS
PEMBERIAN OBAT SESUAI INDIKASI KLINIS

INDIKASI KELUAR RUMAH SAKIT

TIDAK PANAS SELAMA 48 JAM
TIDAK BATUK
LEUKOSIT KEMBALI NORMAL
TROMBOSIT KEMBALI NORMAL
CPK KEMBALI NORMAL
UJI FUNGSI HATI KEMBALI NORMAL
PERBAIKAN RONSEN DADA


LAMPIRAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL
PPM & PL DEPARTEMEN KESEHATAN RI
NOMOR HK.00.06.5.306
TANGGAL 31 MARET 2003
TIM PENANGGULANGAN ANTISIPASI KLB
SEVERE ACUTE RESPIRATORY SYNDROM ( SARS )
PENGARAH    
Ketua
:
Sekertaris Direktur Jenderal PPM & PL
Wakil Ketua I
:
Direktur EPIM KESMA
Wakil Ketua II
:
Direktur P2ML
Wakil Ketua III
:
Direktur RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso Jakarta
TIM PENANGGULANGAN
 
Ketua
:
Dr. Sardikin Giriputra,SpP,MARS
Anggota
:
Dr. Azimal,M.Kes
Dr. Sholah Imari,MSc
Dr. Eko Priyono,M.Kes
Drg. Yekti Praptiningsih,M.Epid.
Drh. Suharyono.
Drh. Gendro Wahyuhono.
Ike Gunawarsih,S.Kp.
Adolfina Pirade,SKM,M.Kes.
Drs. Bambang Herijanto
KONSULTAN
:
Prof. Dr. Agus Syahrurahman,MM
Dr. Tjandra Yoga Aditama,DTM&H,SpP,MARS.

UU Nomor: 4 TAHUN 1984 (4/1984)
Tentang
WABAH PENYAKIT MENULAR

Bab I
:
KETENTUAN UMUM
Bab II
:
MAKSUD DAN TUJUAN
Bab III
:
JENIS PENYAKIT YANG DAPAT MENIMBULKAN WABAH
Bab IV
:
DAERAH WABAH
Bab V
:
UPAYA PENANGGULANGAN
Bab VI
:
HAK DAN KEWAJIBAN
Bab VII
:
KETENTUAN PIDANA
Bab VIII
:
KETENTUAN PERALIHAN
Bab IX
:
KETENTUAN PENUTUP

Penjelasan Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU)
Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Nomor: 4 TAHUN 1984 (4/1984) Tanggal: 22 JUNI 1984 (JAKARTA) Sumber: LN 1984/20; TLN NO. 3273 Tentang: WABAH PENYAKIT MENULAR Indeks: KESEHATAN. Wabah.
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
Presiden Republik Indonesia,

Menimbang :

  1. bahwa terwujudnya tingkat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi rakyat Indonesia merupakan salah satu bagian dari tujuan pembangunan nasional;
  2. bahwa perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan, dan lalu lintas internasional, serta perubahan lingkungan hidup dapat mempengaruhi perubahan pola penyakit termasuk pola penyakit yang dapat menimbulkan wabah dan membahayakan kesehatan masyarakat serta dapat menghambat pelaksanaan pembangunan nasional;
  3. bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1962 tentang Wabah yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1968 tentang Perubahan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1962 tentang Wabah, tidak sesuai lagi dengan kebutuhan, dan oleh karenanya perlu ditetapkan kembali ketentuan-ketentuan mengenai wabah dalam suatu Undang-Undang;

Mengingat :

  1. Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945;
  2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor II/MPR/1983 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara;
  3. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 131, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2068);
  4. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2824);
  5. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037);
  6. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa (Lembaran Negara Tahun 1979 Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3135);
  7. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215);

Dengan persetujuan
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN :

dengan mencabut Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1962 tentang Wabah (Lembaran Negara Tahun 1962 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2390) dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1968 tentang Perubahan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1962 tentang Wabah (Lembaran Negara Tahun 1968 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2855).

Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG WABAH PENYAKIT MENULAR.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1

Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:

  1. Wabah penyakit menular yang selanjutnya disebut wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.
  2. Sumber penyakit adalah manusia, hewan, tumbuhan, dan benda-benda yang mengandung dan/atau tercemar bibit penyakit, serta yang dapat menimbulkan wabah.
  3. Kepala Unit Kesehatan adalah Kepala Perangkat Pelayanan Kesehatan Pemerintah.
  4. Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab di bidang kesehatan.

BAB II
MAKSUD DAN TUJUAN
Pasal 2

Maksud dan tujuan Undang-Undang ini adalah untuk melindungi penduduk dari malapetaka yang ditimbulkan wabah sedini mungkin, dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat.

BAB III
JENIS PENYAKIT YANG DAPAT MENIMBULKAN WABAH
Pasal 3

Menteri menetapkan jenis-jenis penyakit tertentu yang dapat menimbulkan wabah.

BAB IV
DAERAH WABAH
Pasal 4

  1. Menteri menetapkan daerah tertentu dalam wilayah Indonesia yang terjangkit wabah sebagai daerah wabah.
  2. Menteri mencabut penetapan daerah wabah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).
  3. Tata cara pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

BAB V
UPAYA PENANGGULANGAN
Pasal 5

  1. Upaya penanggulangan wabah meliputi:
    a penyelidikan epidemiologis;
    b pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan isolasi penderita, termasuk tindakan karantina;
    c pencegahan dan pengebalan;
    d pemusnahan penyebab penyakit;
    e penanganan jenazah akibat wabah;
    f penyuluhan kepada masyarakat;
    g upaya penanggulangan lainnya.
  2. Upaya penanggulangan wabah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup.
  3. Pelaksanaan ketentuan ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 6
  1. Upaya penanggulangan wabah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) dilakukan dengan mengikutsertakan masyarakat secara aktif.
  2. Tata cara dan syarat-syarat peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 7

Pengelolaan bahan-bahan yang mengandung penyebab penyakit dan dapat menimbulkan wabah diatur dengan Peraturan Pemerintah.

BAB VI
HAK DAN KEWAJIBAN
Pasal 8

  1. Kepada mereka yang mengalami kerugian harta benda yang diakibatkan oleh upaya penanggulangan wabah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) dapat diberikan ganti rugi.
  2. Pelaksanaan pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 9

  1. Kepada para petugas tertentu yang melaksanakan upaya penanggulangan wabah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) dapat diberikan penghargaan atas risiko yang ditanggung dalam melaksanakan tugasnya.
  2. Pelaksanaan pemberian penghargaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 10

Pemerintah bertanggung jawab untuk melaksanakan upaya penanggulangan wabah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1).

Pasal 11

  1. Barang siapa yang mempunyai tanggung jawab dalam lingkungan tertentu yang mengetahui adanya penderita atau tersangka penderita penyakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, wajib melaporkan kepada Kepala Desa atau Lurah dan/atau Kepala Unit Kesehatan terdekat dalam waktu secepatnya.
  2. Kepala Unit Kesehatan dan/atau Kepala Desa atau Lurah setempat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) masing-masing segera melaporkan kepada atasan langsung dan instansi lain yang bersangkutan.
  3. Tata cara penyampaian laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) serta tata cara penyampaian laporan adanya penyakit yang dapat menimbulkan wabah bagi nakoda kendaraan air dan udara, diatur dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 12

  1. Kepala Wilayah/Daerah setempat yang mengetahui adanya tersangka wabah di wilayahnya atau adanya tersangka penderita penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah, wajib segera melakukan tindakan-tindakan penanggulangan seperlunya.
  2. Tata cara penanggulangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 13

Barang siapa mengelola bahan-bahan yang mengandung penyebab penyakit dan dapat menimbulkan wabah, wajib mematuhi ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7.

BAB VII
KETENTUAN PIDANA
Pasal 14

  1. Barang siapa dengan sengaja menghalangi pelaksanaan penanggulangan wabah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, diancam dengan pidana penjara selama-lamanya 1 (satu) tahun dan/atau denda setinggi-tingginya Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah).
  2. Barang siapa karena kealpaannya mengakibatkan terhalangnya pelaksanaan penanggulangan wabah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, diancam dengan pidana kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan dan/atau denda setinggi-tingginya Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah).
  3. Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah kejahatan dan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) adalah pelanggaran.

Pasal 15

  1. Barang siapa dengan sengaja mengelola secara tidak benar bahan-bahan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini sehingga dapat menimbulkan wabah, diancam dengan pidana penjara selama-lamanya 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda setinggi-tingginya Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah).
  2. Barang siapa karena kealpaannya mengelola secara tidak benar bahan-bahan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini sehingga dapat menimbulkan wabah, diancam dengan pidana kurungan selama-lamanya 1 (satu) tahun dan/atau denda setinggi-tingginya Rp 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah).
  3. Apabila tindak pidana sebagainiana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh suatu badan hukum, diancam dengan pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha.
  4. Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah kejahatan dan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) adalah pelanggaran.

BAB VIII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 16

Dengan diundangkannya Undang-Undang ini peraturan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1962 tentang Wabah dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1968 tentang Perubahan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1962 tentang Wabah tetap berlaku, sepanjang peraturan pelaksanaan tersebut belum diganti dan tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini.

BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 17

Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Disahkan di Jakarta
pada tanggal 22 Juni 1984
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

SOEHARTO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 22 Juni 1984
MENTERI/SEKRETARIS NEGARA
REPUBLIK INDONESIA

SUDHARMONO, S.H.



 

Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com


Situs Indonesia Sehat [ www.infokes.com ]

Rumah Sakit Pusat Nasional Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso Jkt


Situs Santakin [ www.santakin.com ]

Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UTAMA  |  PENYAKIT  |  IMUNISASI  |  KUPIN  |  PLASMID  |  PENELITIAN  |  PROFILE  |  S D M  |  SEJARAH  |  RSPNPI-SS  |  REDAKSI