| |
EVALUASI PENANGGULANGAN SARS DI INDONESIA
|
 |
Indonesia bukan negara/wilayah yang terjangkit
SARS dan aman untuk setiap orang yang akan datang
dan pergi dari Indonesia. penjelasan ini merupakan
progress report upaya Pemerintah Indonesia dan jajaran
Kesehatan pada umumnya dalam upaya penanggulangan
SARS di Indonesia yang masih terus dimantapkan di
seluruh wilayah Indonesia. Penjelasan ini disampaikan
oleh Bapak Menteri Kesehatan Republik Indonesia
atas nama Pemerintah Republik Indonesia, pada acara
Jumpa Pers tanggal 17 Juni 2003 di Gedung Departemen.
Kesehatan Republik Indonesia dengan tema Upaya Penang
gulangan SARS di Indonesia.
|
Kasus SARS
(Severe Acute Respiratory Syndrome) atau Syndrome
Pernapasan Akut Berat pertama kali ditemukan di propinsi
Guangdong ( China ) pada bulan November 2003. Adanya
kejadian luar biasa di Guangdong ini baru diberitakan
oleh WHO empat bulan kemudian yaitu pada pertengahan
bulan Februari 2003. Pada waktu itu disebut sebagai
Atypical Pneumonia atau Radang Patu Atipik. Informasi
WHO ini menjadi dasar bagi DepKes untuk secara dini
pada bulan Februari 2003 menginstruksikan kepada seluruh
Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP ) di Indonesia yang
mengawasi 155 bandara, pelabuhan laut dan pos lintas
batas darat untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengambil
langkah-langkah penangkalan yang perlu. |
Pada tanggal
11 Maret 2003, WHO mengumumkan adanya penyakit baru
yang menular dengan cepat di Hongkong, Singapura dan
Vietnam yang disebut SARS. Pada tanggal 15 Maret 2003
Direktur Jenderal WHO menyatakan bahwa SARS adalah
ancaman global atau Global Threat. Dengan adanya pernyataan
itu, Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada
tangal 16 Maret 2003 segera berkoordinasi dengan WHO
dan menginformasikan kepada seluruh Dinas Kesehatan
Provinsi, Rumah sakit Provinsi, KKP di seluruh Indonesia
dan lintas sektor terkait untuk mengambil langkah
yang perlu bagi pencegahan penularan dan pencegahan
penyebaran SARS pada tanggal 17 Maret 2003. Pada waktu
itu belum diketahui apakah penyakit ini sama dengan
Atypicak Pneumonia yang berjangkit di Guangdong. pada
bulan April 2003 barulah WHO memastikan bahwa Atypical
Pneumonia di Guangdong adalah SARS |
| Pertimbangan
WHO menyatakan SARS sebagai ancaman global adalah
SARS merupakan penyakit baru yang belum dikenal penyebabnya,
SARS meneybar secara cepat melalui alat angkut antar
negara dan SARS terutama menyerang tenaga kesehatan
di rumah sakit. Wabah SARS telah mendorong berbagai
pakar kesehatan di dunia untuk bekerja sama menemukan
penyebab SARS dan memahami cara penularan SARS. Atas
kerjasama para pakar dari 13 laboratorium di dunia
maka tanggal 16 April 2003 dipastikan bahwa penyebab
SARS adalah Virus Corona atau Coronavirus. |
|
Departemen Kesehatan
secara dini dan sejak awal pandemi SARS pada bulan
Maret tahun 2003 melaksanakan Penanggulangan SARS
dengan tujuan mencegah terjadinya kesakitan dan kematian
akibat SARS dan mencegah terjadinya penularan SARS
di masyarakat (community transmission) di Indonesia |
 |
Strategi
yang dijalankan untuk mencapai tujuan itu adalah :
upaya public awareness melalui upaya advokasi dan
sosialisasi, pemantauan atau surveilans kasus secara
epidemiologi berdasarkan informasi masyarakat, informasi
rumah sakit dan informasi KKP, menyiapkan rumah sakit
baik sarana maupun prasarananya serta pengetahuan
dan keterampilan petugas. Kesemuanya itu ditunjang
dengan mengembangkan kemampuan pemeriksaan di laboratorium
dan penelitian mengenal penyakit tersebut. Untuk menunjang
pelaksanaan penanggulangan SARS pada tanggal 3 April
2003 ditetapkan keputusan |
Menteri Kesehatan
No. 424 Tahun 2003 tentang SARS sebagai penyakit yang
dapat menimbulkan wabah. Dengan penetapan ini maka
Undang-undang nomor empat tahun 1984 tentang Wabah
Penyakit Menular dapat diterapkan dalam penanggulangan
SARS |
|
Langkah tindak lanjut
untuk menjalankan strategi itu memerlukan sumber daya
(tenaga, sarana, dan pembiayaan serta pedoman-pedoman
baik untuk jajaran kesehatan maupun masyarakat umum),
yaitu dengan :
- PUBLIC AWARENESS
Untuk
memberi pengetahuan dan kewaspadaan tentang SARS
kepada masyarakat luas termasuk kepada jajaran
kesehatan, sektor di luar Departemen Kesehatan
dan jajaran pemerintah daerah serta LSM, Ikatan
Profesi dan lain-lain dibentuk Tim Sosialisasi
dan Advokasi untuk melakukan Advokasi dan sosialisasi
telah disusun satu seri pedoman yang terdiri dari
7 Buah Buku Pedoman yaitu :
- Pedoman Kewaspadaan Universal bagi Masyarakat
- Pedoman Kewaspadaan Universal di tempat-tempat
umum.
- Pedoman Kewaspadaan Universal bagi petugas
kesehatan.
- Pedoman Pemeriksaan SARS di Bandara,
Pelabuhan dan Lintas Batas.
- Pedoman Surveilans Epidemiologi Penyakit
SARS
- Pedoman Penatalaksanaan Kasus.
- Pedoman Pengambilan dan Pemeriksaan
Spesimen.
Selain itu diterbitkan Poster,
Booklet, leaflet dan Flyer (baik untuk jajaran
kesehatan kabupaten/kota dan khusus untuk para
TKI). Sejumlah perusahaan /pihak swasta sangat
membantu dalam pengadaan bahan-bahan tersebut.
Sosialisasi pada masyarakat luas dilakukan melalui
media massa dan melalui situs-situs SARS yang
dapat dilihat pada http://www.infeksi.com
; http://www.penyakitmenular.info dan http://.www.asean-disease-surveilance.net
serta saluran informasi
lainnya seperti Hotline Service RSPI Prof.
Dr. Sulianti Saroso Jakarta (021)- 6506568,
Posko Pelayanan Antisipasi KLB SARS Tlp. (021)-4265974,
021-640141 maupun telepon langsung ke Bagian Humas
DepKes dengan No. Telepon 021-5223002 dan Pusat
penanggulangan Masalah Kesehatan DepKes 021- 5265043.
- KESIAPAN RUMAH SAKIT
Menetapkan
34 Rumah Sakit menjadi rumah sakit rujukan SARS
berdasarkan kriteria :
- Di Wilayah pintu masuk laut/udara dari luar
negeri
- Di Wilayah kantong-kantong TKI yang baru pulang
dari luar negeri.
Dari 34 rumah sakit tersebut
6 rumah salit ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan
utama, yaitu RS H.Adam Malik Medan, RS Otorita
Batam, RSUP Dr. Kariadi Semarang, RSUD Dr. Sutomo
Surabaya, RSUP Sanglah Denpasar dan RSUP. Dr.
Wahidin Sudirohusodo Makassar. Tiap rumah sakit
rujukan utama tersebut diberikan dana Rp. 100.
Juta rupiah untuk penyiapan ruang isolasi dan
triase. Dalam ruang isoalsi minimal terdapat 2
tempat tidur (TT) untuk kasus probable dan 4 TT
untuk kasus suspek. Selain itu diberikan alat-alat
untuk proteksi perorangan dan alat-alat universal
precaution dan peralatan medik.
Untuk RS Penyakit Infeksi Prof.
Dr. Sulianti Saroso sebagai RS Rujukan Nasional
SARS disiapkan 20 TT bagi penderita dan 50 TT
bagi perawatan pasca sembuh namun masih infeksius,
3 ambulans khusus SARS, peralatan medik dan alat
proteksi perorangan. saat ini sedang dibuat EWORS
( Early Warning Outbreak Recognition System )
di 34 RS Rujukan untuk aspek hospotal base surveilans.
Setiap RS rujukan dibentuk Tim Penanggulangan
SARS di rumah sakit, pelatihan bagi perawat untuk
pengetahuan tentang universal precaution, workshop
dan pelatihan tentang Strict Barrier Hospital
and Nursing Care dengan dana antara lain dari
bantuan WHO sebesar Rp. 485.724.300,-.
Pelatihan dimasing-masing rumah
sakit (inservice training) bagi seluruh petugas
yang terlibat dalam penanganan SARS (kegiatan
ini masih berlangsung). Tatalaksana kasus SARS
di rumah sakit berdasarkan pedoman yang disusun
oleh Depkes bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter
Spesialis Paru Indonesia (PDPI).
- SURVEILANS
Di
Indonesia terdapat 45 KKP yang mengawasi 155 bandara,
pelabuhan laut dan pos lintas darat yang tersebar
di seluruh Indonesia. Selain itu ada 24 KKP yang
mengawasi bandara/pelabuhan laut yang disinggahi
alat angkut (peasawat udara dan kapal laut) yang
datang dari negara terjangkit SARS. Untuk petugas
KKP telah dilakukan pelatihan petugas dan penyediaan
barrier nursing protection.
Untuk kesiapsiagaan penanggulangan
SARS dilakukan penambahan tenaga kesehatan di
lokasi-lokasi Bandara Soekarno-Hatta ( terminal
2 dan terminal 3 ) sebanyak 41 orang dokter (21
dokter dari brigade Siaga Bencana /BSB Jakarta)
dan 12 perawat dari dinas kesehatan Provinsi DKI
Jakarta yang bertugas di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.
RS Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso
sebanyak 13 dokter dari Ditjen PPM dan PL. Pelabuhan
tanjung Priok sebanya 4 dokter dari Ditjen PPM
dan PL. KKP Batam sebanyak 56 dokter dengan rincian
; 29 dokter dari BSB Bandung, 17 dokter dari BSB
DI Yogyakarta dan 10 dokter dari BSB Semarang.
Departemen Kesehatan juga menerima
laporan kasus SARS dari masyarakat termasuk yang
dimuat di media massa. terhadap semua informasi
dugaan SARS tersebut dilakukan pengecekan untuk
dikonfirmasi oleh Tim Pakar dan Tim Verifikasi.
Kasus suspek dan probable harus dilaporkan oleh
setiap rumah saki dan fasilitas kesehatan ke Departemen
Kesehatan. Data klinis setiap kasus yang dilaporkan
akan diverifikasi oleh Tim Verifikasi dan Tim
Pakar. Kasus-kasus yang tidak memenuhi kriteria
akan dikeluarkan dari daftar sebagai kasus bukan
SARS. Apabila diperlukan hubungan telepon juga
digunakan untuk mendiskusikan kasus yang dilaporkan
dengan dokter yang menangani kasus. Lebih dari
80.000 TKI bekerja diluar negeri (Didaerah-daerah
terjangkit SARS). Sebagian besar dari mereka bekerja
sebagai pembantu rumah tangga dan sangat mungkin
mempunyai hubungan yang dekat (close contact).
Oleh karena itu perhatian khusus diberikan kepada
para TKI dengan jalan melakukan pemeriksaan kesehatan
(termasuk pengukuran suhu) di terminal 3. Apabila
dari mereka menunjukkan gejala sakit segera dirujuk
ke rumah sakit. Mereka juga diberikan penyuluhan
mengenai pencegahan SARS dan diberikan masker
untuk digunakan bila menunjukkan gejala penyakit
semacam flu, juga disarankan untuk tidak keluar
rumah (home isolation) selama 10 hari sejak kedatangannya.
Petugas Kesehatan di daerah TKI tersebut berkewajiban
untuk mengawasi mereka.
Upaya surveilans epidemiologi
SARS di Indonesia mencakup pemeriksaan penumpang
di bandara pada saat kedatangan (arrival screening)
dan saat keberangkatan (pres-departure screening),
pemeriksaan TKI yang datang dari daerah terjangkit
SARS, surveilans SARS di rumah sakit dan sarana
kesehatan, surveilans SARS dan penumonia di masyarakat,
investigasi dan pelacakan kontak. Denga cara demikian
adanya penderita SARS akan dapat dideteksi sedini
mungkin. Untuk menunjang kegiatan dan keberhasilan
surveilans SARS akan ditempatkan sejumlah 20 thermo
scanner di bandara dan beberapa pelabuhan laut
dan sejumlah thermo digital (telinga).
- PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Salah satu respon awal untuk
pemeriksaan laboratorium SARS dilakukan bekerja
sama dengan US NAMRU-2 Jakarta dalam mengambil
spesimen dari kasus suspek dan probable dan kemudian
dikirim ke CDC Atlanta. Untuk mendukung ini Depkes
telah menyusun pedoman untuk pengambilan dan pengiriman
spesimen berdasarkan pada pedoman WHO dan CDC.
Petugas laboratorium dari rumah-rumah sakit provinsi
telah dilatih menggunakan pedoman tersebut.
Tiga laboratorium yang ditunjuk
sebagai laboratorium SARS rujukan adalah Badan
Litbangkes Depkes, bagian Mikrobiologi UI dan
laboratorium Bio Medical Mataram. 4 Batch spesimen
SARS yang diambil dari 24 pasien telah dikirim
ke CDC Atlanta dengan hasil negatif untuk kedua
pemeriksaan RT-PCR dan tes Serologi. Selain itu
laboratorium di Medan dan Makassar diikutsertakan
untuk mengembangkan pemeriksaan laboratorium SARS.
|
|
Dalam penanggulangan
SARS, Indonesia juga menerima bantuan dari dalam dan
luar negeri antara lain dari Pemerintah Amerika Serikat
berupa 5.000 masker, pemerinta Jepang berupa peralatan
pelindung dan perlengkapan laboratorium senilai 30
juta yen atau sekitar US $ 250.000, pemerintah Singapura
akan menyumbang 1 buah thermo scanner, PT. Johnson
Home Hygiene Product berupa masker.
Jumlah penderita SARS didunia dalam
periode November 2003 - Mei 2003 meningkat dari waktu
ke waktu. Tetapi pada bulan Juni 2003 penderita baru
SARS disunia mulai meurun. Pada tanggal 13 Juni 2003
jumlah kumulatif penderita SARS probable yang dilaporkan
berjumlah 8.554, jumlah penderita baru 10 orang, jumlah
yang meninggal dunia 792 orang dan jumlah yang sembuh
6,793 orang. Ada 32 negara/wilayah yang pernah melaporkan
adanya kasus probable SARS.
Pada tanggal tersebut jumlah negara/wilayah
yang paling banyak melaporkan kasus probable SARS
adalah RRC 5.327, Hongkong 1.755, Taiwan 693, Singapura
206, Canada 242 dan Vietanam 63 orang. Di
Indonesia, sampai dengan 16 Juni 2003 ditemukan 7
kasus suspek dan 2 kasus probable Jumlah
orang yang berobat di Indonesia karena khawatir dirinya
menderita SARS atau diduga SARS sebanyak 112 orang.
Setelah diperiksa, dari jumlah ini ada 103 orang dipastikan
bukan menderita SARS. |
|
7 Kasus suspek SARS terdiri dari 3 wanita dan 4
pria yang berusia antara 20 - 57 tahun. Sebanyak
5 orang diantaranya pernah berkunjung ke Singapura
dan 2 orang pernah berkunjung ke RRC. Mereka berdomisili
di Jakarta, Depok, Tangerang. Sedangkan 2 kasus
probable SARS terdiri dari 2 pria masing-masing
berusia 47 tahun (WNA) berdomisili di Tangerang
dan telah kembali ke Hongkong dan berusia 65 tahun
(WNI) berdomisili di Medan, keduanya baru kembali
dari Singapura saat menderita SARS. Sebanyak 6 kasus
suspek SARS dirawat di RSPI - SS Jakarta dan 1 kasus
di RSUP Adam Malik.
Dari 2 kasus probable SARS seorang dirawat di RSPI
Prof. Dr. Sulianti Saroso dan seorang dirawat di
RSUP Adam Malik Medan. Semua kasus suspek SARS dan
Kasus Probable SARS, sample darah dan usapan tenggoroknya
dikirim dan diperiksa di CDC Atlanta dan semuanya
menunjukkan hasil negatif untuk virus Corona. Untuk
kasus suspek dan probable SARS dan kasus yang diduga
SARS tertentu dilakukan investigasi atau pelacakan
kontak dari investigasi dan pelacakan kontak ini
ditemukan sebanyak 103 orang yang diduga kontak.
Seluruh kontak ini dilakukan manajemen kontak berupa
penyuluhan dan surveilans. Investigasi, pelacakan
dan manajemen kontak dilakukan atas kerja sama Ditjen
PPM dan PL, Dinkes Provinsi, Dinkes Kabupaten/Kota
dan Puskesmas, Keluarga dan teman sekerja.
|
|
SARS berdampak negatif pada perekonomian negara
khususnya dibidang penerbangan, pariwisata dan tenaga
kerja. Adanya negara/wilayah yang terjangkit SARS
menyebabkan berkurangnya jumlah penerbangan dan
jumlah penumpang dengan tujuan negara/wilayah tersebut.
Sebagai contoh antara lain dampak terhadap airline
yang dimuat di Majalah Bussines News tanggal 4 April
2003 yang memberitakan jumlah penumpang GIA dari
Singapura turun hingga 20 %, biro perjalanan juga
melaporkan penurunan penumpang antara 50 - 70 %,
Bertia Harian Kompas tanggal 5 April 2003 tingkat
hunian hotel di Batam menurun hingga 10 %.
Adanya negara/wilayah terjangkit SARS diwilayah
regional ASEAN juga mengimbas pada menurunnya kunjungan
wisata ke Indonesia. Di samping itu, karena tenaga
kerja Indonesia juga banyak yang bekerja di negara/wilayah
terjangkit SARS maka pengiriman TKI ke negara/wilayah
terjangkit SARS untuk sementara tertunda.
Untuk mengatasi dampak SARS pada perekonomian regional
diadakan KTT Khusus ASEAN Plus 1 ( RRC ) dan Pertemuan
Menteri Kesehatan ASEAN Plus 3 (RRC, Jepang dan
Korea ) di Kuala Lumpur, Forum penerbangan ASEAN
plus 3 di Filipina dan pertemuan Regional ASEAN
tentang SARS di Siem Riep, kamboja dan di bangkok
Thailand. Pertemuan Menteri Kesehatan APEC tentang
SARS akan diadakan di bangkok tanggal 28 Juni 2003.
|
|
Berdasarkan laporan dari
Rumah-Rumah Sakit seluruh Indonesia, Dinas Kesehatan
dan Kantor Kesehatan Pelabuhan seluruh Indonesia
yang dipantau setiap hari sejak tanggal 14 Mei 2003
sampai hari ini 17 Juni 2003 Tidak Ada Kasus Suspek
Baru maupun Kasus Probable Baru di Indonesia. Namun
Demikian masyarakat masih harus waspada karena masih
ada wilayah diluar Indonesia yang masih menunjukkan
adanya penularan secara lokal di wilayah tersebut
per 13 Juni 2003 yaitu diantaranya adalah Kanada
( Toronto ), China ( Beijing, Hongkong danTaiwan).
Oleh karena itu pengamatan penyakit SARS melalui
kegiatan surveilans SARS akan terus dipertahankan
dan ditingkatkan misalnya pre departure screning
tetap akan diberlakukan begitu pula Arrival Screening
berupa pengisian Health Alert Card.
Begitu pula surveilans penyakit
pneumonia pada orang dewasa dirumah-rumah sakit
akan dilaksanakan seperti surveilans AFP. Karena
itu saya ( Menteri Kesehatan RI ) berpesan kepada
masyarakat luas, media cetak/elektronik, tenaga
kesehatan untuk terus menerus meningkatkan pengawasan
publik tentang SARS dan mewaspadai SARS tetapi tidak
panik.
|
|
FACT-SHEET
PERKEMBANGAN SARS ( GLOBAL DAN DI INDONESIA )
-
Riwayat singkat penyebaran
SARS dan upaya-segera Depkes dalam mengantisipasi
penyebarannya di Indonesia :
- 1 November 2002 :
untuk pertama kali ditemukannya penyakit
Atypical Pneumonia di Propinsi Guangdong RRC
yang kemudian diyaikini
sloh WHO sebagai SARS.
-
11 Februari
2003 :
SARS di Guangdong diberitakan
secara resmi oleh WHO melalui website : http://www.who.int.
-
Akhir
Februari 2003 ( 2 minggu sebelum WHO mengumumkan
SARS sebagai ancaman global )
Depkes telah mengambil langkah
penangkalan dini dengan menginstruksikan seluruh
Kantor Kesehatan Pelabuhan
( KKP ) di Indonesia agar meningkatkna kewaspadaannya
dan mengambil langkah-langkah
yang dianggap perlu ( di Indonesia ada 45
buah KKP yang bertanggung jawab dalam mengawasi
dan melaksanakan penangkalan dan pencegahan
masuknya penyakit karantina dan penyakit
menular tertentu ke Indonesia melalui bandar
udara, pelabuhan laut dan pos lintas batas
darat )
-
10 Maret
2003 :
SARS menyebar ke luar Guangdong,
yaitu ke Hongkong dan Hanoi ( Vietnam ).
Penyebaran pertama di Hongkong
terjadi di kalangan petugas rumah sakit, dan
selanjutnya menyebar ke
negara-negara lain melalui orang-orang
yang tertular dan melakukan perjalanan lintas
negara.
-
15 Maret
2003 :
WHO menyatakan secara resmi
bahwa SARS adalah ancaman global ( Global
Treat ) dengan pertimbangan
:
(1) SARS penyakit
baru yang belum diketahui penyebabnya
(2) Penularannya
terutama terjadi dikalangan petugas kesehatan
melalui sarana kesehatan
(3) SARS menyebar
antar negara melalui orang yang melakukan
perjalanan lintas negara.
-
16 Maret
2003 :
Diadakan rapat konsolidasi
dan koordinasi antara Depkes dan WHO dengan
hasil-hasil :
(1) Mengeluarkan
edaran dari Direktur Jenderal P2M dan PL kepada
seluruh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi,
Kepala KKP, Direktur RS Provinsi untuk mengambil
langkah bagi pencegahan penyebaran SARS
di Indonesia ( dikirim melalui faksimili tanggal
16 Maret 2003 sore hari )
(2) Membentuk
Task Force SARS di Ditjen P2M dan PL
(3) Membuka
POSKO SARS di Ditjen P2M dan PL ( No. Telp.
021-42655974 )
(4) Melaksanakan piket
harian SARS di di Ditjen P2M dan PL serta
Pusat Penanggulangan Masalah Kesehatan
( PPMK ) dengan No. Telp. 021-5265043
- 17 Maret 2003 :
Konferensi Pers dengan Menteri
Kesehatan
- 3 April 2003 :
Menteri Kesehatan menetapkan
SARS sebagai penyakit yang berpotensi wabah
-
4 April
2003 :
Pemerintah Indonesia mengeluarkan
Travel Advisory, yaitu menganjurkan agar warga
negara Indonesia yang akan
berkunjung ke negara / wilayah terjangkit
SARS menunda dulu. Namun apabila suatu sebab
terpaksa harus berkunjung
hendaknya memperhatikan :
(1) Tidak membawa
orang lanjut usia atau anak balita
(2) Mempersiapkan
diri dalam pencegahan SARS
(3) Memperhatikan
petunjuk jajaran kesehatan setempat tentang
pencegahan SARS.
-
16 April
2003 :
WHO mengumunkan dengan resmi
bahwa virus corona dinyatakan sebagai penyebab
SARS ( berkat kerjasama
13 lembaga penelitian di seluruh dunia )
-
25 April
2003 :
Pertemuan Menteri-menteri
Kesehatan ASEAN + 3 ( Korea, Jepang, RRC )dan
Hongkong.
-
29 April
2003 :
KTT ASEAN + 1 ( RRC ) antara
lain menyepakati :
(1) Peningkatan
kerjasama dalam penanggulangan SARS
(2) Pemeriksaan penumpang
yang tiba dan berangkat dari negara ASEAN
+ 1 untuk mencegah penyebaran
SARS.
-
12 –
16 Mei 2003 :
Delegasi Indonesia menjelaskan
kepada negara-negara anggota WHO dlaam Sidang
Majelis Kesehatan Sedunia
( World Health Assembly ) di Jenewa melalui
booklet yang dibagikan, berjudul
“ Indonesia is not
a SARS affected country “
-
15 –
16 Mei 2003 :
Diadakan ASEAN + 3 Aviation
Forum di Pampanga, Filipina, yang memantapkan
kesempatan tentang pemeriksaan
penumpang pada saat kedatangan dan keberangkatan
di bandara.
|
|
2 Kriteria
penderita diduga SARS di Indonesia :
-
Kasus Observasi SARS
:
Jika data penderita masih perlu dilengkapi
-
Kasus Suspect :
Jika data klinis menunjukan criteria suspect
menurut WHO ( Suhu tubuh > 38 Der C, batuk-batuk,
sesak napas/kesulitan bernapas, ada riwayat
perjalanan dari wilayah terjangkit atau kontak
langsung dengan penderita )
-
Probable :
Jika data klinis menunjukan kasus suspect
+ gambaran rontgen paru-paru menunjukan pneumonia,
atau jika penderita tersebut meninggal pada
pemeriksaan autopsi menunjukan pneumonia
yang tidak diketahui sebabnya atau menunjukan
RDS ( Repiratory Disstress Syndrome).
-
Bukan Kasus SARS
Bila data klinik lengkap, tapi ternyata
tidak ada kaitannya dengan SARS.
|
| |
3. Data Global
dan Indonesia
(1)
Global ( 29 Mei 2003 )
-
10 Provinsi
di RRC terjangkit SARS, yaitu :
Beijing, Guangdong, Hubei, Hebei,
Inner Mongolia, Jiangshu, jilin, Shanxi, Shaanxi,
dan Tianjin.
-
Selain RRC,
negara / wilayah yang masuk daftar sebagai
negara terjangkit : Canada, ( Toronto ),
Hongkong, Singapura dan Taiwan )
-
Jumlah
negara yang melaporkan / pernah melaporkan
adanya kasus Probable SARS ada 31 negara
/ wilayah dengan jumlah kasus 8.295 ( 17 kasus
baru, 750 kasus meninggal, 4.994 kasus
telah telah sembuh )
(2) Indonesia
-
Jumlah kasus
probable : 2 ( 1 WNA, 1 WNI )
-
Jumlah kasus
suspect : 7 ( 1 WNI, 6 WNI )
(3) Data sampai dengan
13 Juni 2003
-
Dari 10 Provinsi
hanya 3 provinsi di RRC yaitu : Beijing, Hongkong,
Taiwan
-
Negara / wilayah
yang masih ada transmisi local adalah : Canada
( Toronto ), China ( Beijing,
Hongkong, Taiwan )
|
|
|
|