| |
PEMBERIAN VAKSINASI ANTI RABIES TERHADAP
KASUS GIGITAN HEWAN PENULAR RABIES
SECARA INTRADERMAL DAN INTRAMUSKULAR DI SUMATERA BARAT
DAN DKI JAKARTA TAHUN 2003
|
|
Ditinjau
dari segi epidemiologi, secara geografis tahun 2001 di seluruh
dunia diperkirakan terdapat 30.000 – 40.000 orang yang
meninggal karena Rabies dan sebagian besar terjadi di negara
berkembang. Penyebab kematiannya adalah karena tidak mendapatkan
vaksin anti rabies dan ini disebabkan karena masyarakat tidak
tahu tentang bahaya akibat gigitan hewan tersangka rabies
dan cara menghindari diri dari terjangkitnya kasus rabies.
Petugas kesehatan belum mengerti cara penanganan kasus gigitan
hewan tersangka rabies dan faktor yang lain adalah vaksin
anti rabies memang jumlahnya terbatas.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pemberian
vaksinasi secara intradermal dibandingkan dengan cara intramuskular
terhadap kasus gigitan hewan penular Rabies, hasilnya akan
sangat diharapkan bermanfaat bagi masyarakat umum, Pemerintah,
karena efisiensi biaya dan akan efektif dalam menetralisasi
virus rabies.
|
|
|
Pemberian
VAR saat ini yang dilakukan pada program Pemberantasan Rabies
pada manusia secara nasional adalah dengan cara intramuskular
diberikan empat kali dengan dosis masing-masing 0,5 ml, jumlah
dua cc, cara pemberiannya yaitu pada hari pertama berkunjung
ke Puskesmas / Rumah Sakit diberikan dua kali ( 0,5 ml ) di
lengan kiri sebelah atas ( deltoid kiri ) dan dilengan kanan
sebelah atas ( deltoid kanan ), selanjutnya pada hari ke tujuh
diberikan satu kali ( 0,5 ml ) kanan atau kiri, sedangkan
pada hari ke duapuluh satu diberikan lagi satu kali pada deltoid
kanan atau kiri. Pemberian secara intradermal jadwal pemberian
vaksin anti rabies sama, hanya dosisnya lebih sedikit ( yaitu
0,2 ml ) per kali pemberian. Besar sample yang
akan dipilih adalah 200 sample kasus gigitan hewan penular
rabies, semua umur, kemudian diperiksa keadaan luka gigitannya
( gigitan anjing, kucing atau kera ), selain itu juga diperiksa
secara fisik keadaan kesehatan secara umum oleh seorang dokter
/ paramedis yang berpengalaman dan sudah dilatih bekerja di
Rabies Center, dan sample juga tidak sedang menderita HIV/AIDS,
Malaria dan penyakit berat lainnya.
|
Dari
200 sample tersebut akan dibagi dua yaitu 100 sample diberikan
VAR secara intradermal dan 100 sample sebagai kontrol diberikan
VAR intramuskular. Lokasi penelitian Rabies Center di Sumatera
Barat dan DKI Jakarta. Penelitian serupa telah dilaksanakan
di Negara lain, dan vaksin rebies jenis Purified Vero Rabies
Caccine ini telah dinyatakan aman untuk dipakai dalam pemberian
VAR, terhadap kasus gigitan hewan penular rabies yang bersedia
ikut dalam penelitian ini terlebi dahulu akan diambil darahnya
sejumlah tiga ml – lima ml oleh dokter / paramedis /
petugas Laboratorium yang telah berpengalaman dalam pengambilan
darah tersebut, pengambilan darah menggunakan jarum suntik
sekali pakai untuk setiap pasien guna mencegah infeksi. Pengambilan
darah dilakukan lima kali yaitu pada hari ke 0, 7, 14, 28
dan 90, setelah itu pasien baru diberikan vaksin anti rabies
yaitu pada hari ke 0, 7, dan 21, 90. ( sesuai penjelasan tersebut
diatas ).
|
Seperti
imunisasi pada umumnya akan terjadi demam, kemerahan sekitar
suntikan, gatal, ada suatu pengeran setelah suntikan tetapi
itu akan sembuh dalam beberapa hari ( reaksi imunologik ).
Apabila ada demam pasien sebelumnya akan dibekali obat penurun
panas ( Paracetamol ) dan juga pasien akan dibekali vitamin.
Pemberian vaksinasi anti rabies dengan vaksin purified vero
rabies ini oleh kasus gigitan hewan tersangka rabies akan
sangat terlindung dari penyakit rabies yang bersifat fatal.
Penelitian dilakukan oleh Ditjen PPM & PL Depkes dan RSPI
– SS. |
|
|
| PROTEIN DENGUE PERANGSANG
ANTIBODI |
|
Tim
peneliti Universitas Airlangga menemukan vaksin baru Imunisasi
Demam Berdarah. Berhasil diuji coba pada kera, Berbeda dengan
vaksin Thailand. Adela masih tergolek di bangsal anak Rumah
sakit Dr. Sutomo, Surabaya Jawa Timur, Hingga Rabu pekan lalu
, bocah tiga tahun ini belum diizinkan meninggalkan Rumah
Sakit. Adela terpaksa dirawat inap sejak pekan sebelumnya.
Orang tuanya, Adi Winarko, 36 tahun, dan Winarti, 30 tahun,
panik. Mereka tak menduga putra pertamanya terjangkit demam
berdarah. Padahal, rumah mereka di jalan Barata Jaya, Surabaya,
setiap hari dibersihkan. Bak mandipun dua hari sekali dikuras,
Kani 52 tahun, yang setiap hari menunggui Adela di rumah sakit,
menduga nyamuk Aidesaegypti, pentebab demam berdarah, yang
menyerang cucunya berasal dari waduk Kali Wonokromo, hanya
10 meter dari rumahnya. Serangan demam berdarah memang sering
datang tak terduga, Apalagi di musim hujan, “ Jumlah
nyamuk penyebab demam berdarah berlipat ganda bila hujan tiba,
“ kata Rita Kusriastuti, Kepala subdirektorat Arbovirusis,
Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular, Departemen
Kesehatan. Korban meninggal sejak penyakit ini dotemukan pun
tetap tinggi. Adela mungkin tidap perlu terlalu lama menginap
di rumah sakit, bila vaksin pencegah demam berdarah yang mumpuni.
Sejak penyakit ini diketahui pertama kali, berbagai negara
berupaya membuat vaksin, Misalnya Thailand, Para ahli “
negari gajah Putih “ ini memulai proyek pembuatan vaksin,
10 tahun lalu. Hasilnya sudah diujicobakan pada manusia. “
Namun, efektifitasnya belum sempurna,” kata Rita. Meski
terlambat, ahli-ahli Indonesia tak mau ketinggalan. Tim peneliti
Pusat Riset Penyakit Tropis Universitas Airlangga Surabaya,
telah menemukan serum baru untuk imunisasi demam berdarah,
Hasilnya dipaparkan di Singapura, dalam simposium Demam berdarah
dan TBC, 22 Januari lalu. Tim dipimpin guru besar Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga, Soegeng Soegijanto, bersama
empat koleganya sefakultas, yakni Fedik A, Rantam, Soetjipto,
Ketut Sudiana, dan Yos Priyatna. Mereka menghabiskan dana
hibah dari Departemen Pendidikan Nasional Rp. 800 juta. |
Tahun
lalu, tim ini mendatangkan enam ekor kera dari Institut Teknologi
Bandung, untuk percobaan. Dua ekor dipakai sebagai kontrol,
Empat lainnya disuntik dengan bahan imunisasi berupa E-Protein
( envelope Protein ) recombinant, yang didapat dari empat
virus dengue : DEN 1 hingga DEN 4. Menurut Soegeng, protein
E dari virus demam berdarah yang ditemukan timnya dapat merangsang
peningkatan antibodi. Keempat ekor kera diimunisasi tiap dua
minggu dengan tiga kali suntikan, hasilnya, kera yang disuntik
E-Protein recombinant memiliki tingkat kekebalan terhadap
virus dengue hinga level 460 unit. Jauh diatas batas yang
dipatok, level 10 unit, sedangkan kekebalan pada kera kontrol
dibawah level 10 unit.
Setelah
proses imunisasi, kera-kera itu diinjeksi dengan virus dengue,
yang memiliki masa inkubasi 7 – 10 hari, Setelah masa
inkubasi, ternyata level veremia ( virus dalam jumlah banyak
di dalam darah ) pada kera kontrol meningkat sampai 220. “
Sedangkan kera percobaan memiliki Level Veremia nol karena
dinetralisasi antibodi “ kata Soegeng. Vaksin temuan
timnya, menurut Soegeng, berbeda dengan yang diteliti di Thailand.
Vaksin ala Thailand itu berasal dari virus dengue yang dilemahkan,
sedangkan vaksin Surabaya berasal dari E-Protein, bagian virus
dengue yang merangsang peningkatan antibodi. “ Tapi
masih harus diteliti dampak negatifnya,” ujar Soegeng.
Agar
vaksin ini bisa diterapkan pada manusia, masih dibutuhkan
tiga tahun lagi. Bila kelak berhasil, penderitaan seperti
yang dialami Adela tak akan menimpa anak-anak Indonesia.
|
PENYEBAR MAUT DARI MANILA
Penyakit Demam berdarah Dengue
( DBD ) pertama kali ditemukan di Manila, Filipina
tahun 1953, selanjutnya menyebar ke berbagai negara.
Dalam perkiraan Pusat Pengendalian Dan Pencegahan
Penyakit ( Center For Disease Control and Prevention
) Amerika Serikat, setiap tahun diseluruh dunia terjadi
50 hingga 100 juta kasus Demam Dengue, dan ratusan
ribu kasus demam berdarah dengue.
Di Indonesia, penyakit ini pertama kali mewabah di
Surabaya dan DKI Jakarta pada 1968, kemudian menyebar
keseluruh provinsi, sejak 1968 hingga 1998, setiap
tahun rata-rata 18.000 orang dirawat di rumah sakit.
Dari jumlah itu tercatat, 700 – 750 penderita
meninggal dunia.
|
|
| KASUS
DEMAM BERDARAH
DI INDONESIA 1998 - 2001 |
| Tahun |
Jumlah
Kasus |
Kematian |
| 1998 |
72.133 |
14.114 |
| 1999 |
21.134 |
422 |
| 2000 |
33.443 |
472 |
| 2001 |
45.688 |
492 |
( Sumber : Gatra ) |
PENGAMATAN
GERAKAN LEPTOSPIRA DALAM URINE
DENGAN CARA SEDERHANA
A. Halim Mubin* Gatot
Lawrence**
* Sub Bagian Penyakit
Infeksi/Menular,
Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UNHAS;
** Bagian Patologi FK UNHAS; PETRI UjungPandang
ABSTRAK
Pemeriksaan sederhana dengan mikroskop biasa dapat dideteksi
adanya Leptospira dalam urine tanpa atau dengan pewarnaan.
Pada preparat hidup dapat dilihat gerakan-gerakan maju, mundur
atau rotasi mulai dari gerakan lambat sampai yang cepat. Umumnya
bentuk spiralnya sulit tampak dengan pembesaran 10 x 40 kali.
Leptospira yang bergerak cepat pada akhirnya berhenti bergerak
dengan sendirinya. Sebagaian tampak membelah diri dengan cara
terpotong melintang, sehingga terpisah menjadi mother dan
daughter leptospira. Hanya sebagaian kecil yang bergerak dengan
bentuk spiral yang jelas.
Morfologi leptospira lurus atau melengkung, bentuk spiralnya
sulit kelihatan dan begitu pula ujungnya berupa kait (hook).
Ukurannya panjangnya bervariasi antara pendek, sedang dan
panjang. Beberapa tampak seperti Streptokokus.
Dengan pewarnaan Giemsa berwarna kemerah-merahan, dan dengan
gram merah kebiru-biruan (gram negatif).
Dibutuhkan penelitian lanjutan untuk menetapkan diagnosis
leptospira pada seseorang.
ABSTRACT
Simple diagnostic method by using light microscopy can be
used for detecting leptospira in the urine with or without
staining. In a living specimen we can observe the movement
i.e. forward, backward and rotating, as well as slow and fast.
The morphology of leptospira is spiral and difficult to be
observed under 10x40 magnification. The fast moving leptospira
usually stop by itself. Some of them have a segmented body
and evetually separated. Thereby a mother and daughter leptospira
can be seen. The morphology usually straight, spiral with
hook ending. The size varied from short, intermediate, and
long. Some of them look like streptococcus. With Giemsa staining
the germ looks pink, and Gram staining it will look blue (
Gram negative). Further study is needed to evaluate the characteristic
and diagnostic approach of leptospira in human (J Med Nus
1996; 17:72-76).
Leptospira merupakan kelompok kuman yang dapat menyebabkan
leptospirosis, termasuk penyakit zoonosis, yang patogen disebut
Leptospira interrogans dan yang tidak petogen disebut Leptospira
biflexa. Disebut interrogans karena bentuknya menyerupai tanda
tanya (?) (interrogative : menanyai) (Sanford, 1984). Ada
3 serovar yang sering menyebabkan infeksi pada manusia yaitu
Leptospira ictrerohaemorrhagiae pada tikus, Leptospira canicola
pada anjing dan Leptospira pomona pada sapi dan babi. Yang
paling sering menyebabkan penyakit berat (penyakit Weil) adalah
Leptospira ictreromorrhagiae. Leptospira masuk ke tubuh melalui
makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan urine yang
mengandung Leptospira. Disamping itu dapat juga melalui kulit
yang lecet atau melalui konyuktiva (Jacobs RA, 1995). Leptospira
yang masuk tubuh manusia adalah patogen (Leptospira interrogans).
Untuk mengamati gerakan Leptospira digunakan mikroskop lapangan
gelap (darkfield microscope). Alat ini sulit disiapkan di
daerah perifer, sehingga diagnosis sangat sulit dilacak, walaupun
secara klinis prevalensi Leptospira dewasa ini semakin meningkat.
BAHAN DAN
CARA PENELITIAN
Bahan penelitian
Bahan pemeriksaan adalah urine segar penderita yang suspek
penyakit Weil.
Cara pemeriksaan :
A. Pemeriksaan urine langsung
-
Sebanyak 5 ml
urine segar dimasukkan ke dalam tabung sentrifus.
-
Urine dipusing
dengan kecepatan 1000-1500 rpm selama 5-10 menit.
-
Supernatan tabung
sentifus dibuang, sehingga endapan tersisa bersama dengan
urine sebanyak 1-2 tetes. Dalam prakteknya tabung dituang
saja selama 3 detik lalu kemudian tabung diletakkan pada
rak tabung yang telah disediakan.
-
Dengan hati-hati
satu tetes urine tersebut disedot dengan pipa pasteur,
lalu diletakkan ke atas gelas obyek kemudian ditutup dengan
kaca penutup yang agak kecil (berukuran 22x22 mm). Harus
dijaga agar tetesan tidak terlalu banyak, supaya urine
tidak melimpah setelah ditutup dengan kaca penutup.
-
Preparat tersebut
langsung diperiksa tanpa pewarnaan di bawah microskope
dengan pembesaran 10 x 40.
-
Cahaya diatur
jangan sampai terlalu terang yang menyilaukan atau justru
cahaya terlalu gelap, karena pada kedua keadaan tersebut
leptospira tidak akan tampak. Jadi kekuatan cahaya yang
diatur sedemikian rupa kira-kira sama kuatnya bila hendak
melihat sedimen urine.
-
Karena Leptospira
bergerak, maka untuk mengamatinya secara cermat sewaktu-waktu
diperlukan perubahan fokus.
-
Leptospira yang
tidak bergerak terlalu cepat dapat dilihat bentuknya lebih
jelas pada pembesaran 10 X 100 dengan minyak emersi.
B. Pemeriksaan dengan pewarnaan
- Dilakukan seperti langkah 1 sampai
3 di atas.
- Urine yang diteteskan di atas kaca
obyek dibuat preparat halus yang tipis lalu dikeringkan.
- Setelah kering difiksasi dengan
methanol
- Setelah kering dengan methanol
diberi pengecetan Giemsa atau Gram.
HASIL PENGAMATAN
Hasil dapat diperoleh dari pemeriksaan tanpa pewarnaan atau
dengan pewarnaan.
A. Pemeriksaan tanpa pewarnaan
Pada pemeriksaan Leptospira tanpa pewarnaan akan tampak beberapa
keadaan sebagai berikut :
Bentuk leptospira
- Ukuran Leptospira tidak sama, bervariasi
antara 2? - 24?. Ada tiga ukuran panjang yaitu:
- Berukuran mini, hanya menyerupai
kuman berbentuk batang, ukurannya 4-6? (lebar 0,1-0,2?).
- Ukuran sedang 2-3 X ukuran mini
- Ukuran terpanjang, biasanya ukurannya
2 x ukuran sedang
- Sebagaian leptospira berbentuk
menyerupai streptokokus, dimana yang berukuran mini hanya
terdiri dari 2 koki
Gerakan Leptospira
- Ditemukan bentuk-bentuk batang
yang bergerak maju sesuai dengan sumbu memanjang.
- Ada yang bergerak sangat lincah,
sehingga cepat melintasi lapangan penglihatan pada pembesaran
10x40 apalagi pada pembesaran 10x100. (pada pembesaran 10x100
Leptospira sulit dilihat). Kadang-kadang ada yang tampak
bergerak secara rotasi bila mengambil arah vertikal. Umumnya
yang bergerak lincah berukuran mini.
- Ada yang bergerak sangat lemah,
hanya dengan pengamatan yang teliti dapat diamati gerakannya
terutama pada pembesaran 10x 100.
- Ada yang tidak bergerak. Kalau
diamati agak lama, maka beberapa Leptospira yang aktif akhirnya
akan berhenti bergerak.
2. Hanya sebagaian kecil leptospira
yang bergerak dengan bentuk spiral yang jelas.
Beberapa bentuk leptospira dari urine
penderita Penyakit Weil
Leptospira yang berukuran
panjang bila bergerak sekali cukup laju dan jauh jangkauannya.
Mereka kadang-kadang bergerak kesatu arah, tetapi bila mengalami
hambatan sering bergerak ”mundur” tanpa mengubah
haluan, namun kecepatan geraknya secepat gerakan maju. Bila
diamati terus, maka Leptospira ukuran terpanjang ini merupakan
dua Leptospira yang akan membelah secara melintang, dimana
“kepalanya” lebih dahulu lahir. Setelah “aterm”
keduanya aktif untuk memisahkan diri dengan adanya pemisahan
antara kedua “ekor”. Rupanya adanya gerakan “
maju” dan “ mundur” tersebut di atas sebagai
akibat dari gerakan individu pertama ke depan, sementara individu
kedua tertarik saja, dan bila “mundur” berarti
individu kedua yang maju sedangkan individu pertama diam dan
mengikut saja. Jadi sebelum keduanya berpisah untuk membentuk
individu masing-masing, mereka dapat bergerak bergantian atau
bersamaan dengan arah yang berlawanan.
Gerakan-gerakan inilah yang akhirnya memisahkan antara mother
dan dauhter Leptospira tersebut. Spiralisasi gerakan badannya
tidak begitu jelas, kadang-kadang hanya tampak seperti bergetar
saja.
B. Dengan Pewarnaan Giemsa dan Gram
Dengan pewarnaan Giemsa
Leptospira akan tampak sebagai batang-batang kecil yang lurus
atau melengkung berwarna kemerah-merahan, tidak berbentuk
spiral. Dengan pengecetan Gram berwarna merah kebiru-biruan
(Gram Negatif). Kita mesti hati-hati dengan hyphe jamur yang
kadang-kadang juga ditemukan.
DISKUSI
Kebanyakan penulis mengemukakan bahwa Leptospira hanya dapat
dilihat dengan mikroskop lapangan gelap (dark-field microscopy),
fase kontrast (phase contrast) atau dengan cara imunofluoresens
dan tidak dapat dilihat dengan mikroskop biasa (light microscopy)
(Alexander, 1983; McClain, 1985; Kempe, 1987). Leptospira
muncul dalam urine pada minggu kedua penyakit dan dapat bertahan
satu bulan atau lebih (Kempe, 1987).
Tidak jelasnya bentuk spiral dari Leptospira sewaktu bergerak
mungkin karena spiralnya sangat halus (very fine spiral) (Jawetz,
1982). Tetapi jika diamati beberapa preparat akan tampak beberapa
Leptospira bergerak dengan spiral jelas. Dan gerakan rotasi
jelas tampak pada waktu Leptospira bergerak secara vertikal.
Gerakan maju mundur (move forward and backward) dalam urine
dapat ditemukan sebagaimana dikemukan oleh Alexander (1983),
bila Leptospira berada dalam medium cair yang lain.
Dengan pemeriksaan lapangan redup pada mikroskop biasa morfologi
leptospira secara umum dapat dilihat. Hal mana akan terlihat
lebih jelas pada pemeriksaan khusus dengan darkfield microscope
(Jawets, 1982). Dengan scaning mikrograf elektron akan tampak
kait dan spiralnya (Boyd and Hoerl, 1986). Dengan menggunakan
mikroskop biasa struktur yang yang lebih kecil masih sulit
terlihat dengan jelas.
Dalam keadaan tidak bergerak tanpa pewarnaan atau dengan pewarnaan
atau dengan pewarnaan Giemsa atau Gram sebahagian Leptospira
terkesan seperti streptokokus, sesuai dengan yang dikemukan
potrais (pendekatan pribadi, seorang peneliti Belgia).
Ukuran Leptospira bervariasi antara 4-20? (Sparling dan Basemen,
1980; Joklik, 1984). Hal yang sama ditemukan pada penelitian
ini ada yang berukuran mini, sedang dan panjang. Ukuran bervariasi
dari 4 ? sampai 25 ?.
Dengan pemeriksaan sederhana ini memungkinkan mengamati Leptospira
pada pemeriksaan rutin urine dengan cukup mudah sambil dapat
mengikuti gerakan-gerakannya.
KESIMPULAN
- Leptospiruria mudah dideteksi dengan
menggunakan mikroskop biasa dengan mengatur lapangan penglihatan
redup (agak gelap) pada pembesaran minimal 10x40 atas preparat
tanpa pewarnaan.
- Adanya Leptospiruria dianggap positif
bila ditemukan Leptospira yang bergerak minimal satu dalam
satu lapangan penglihatan 10x40.
- Leptospiruria belum dapat memastikan
apakah Leptospira interrogans atau Leptospira biflexa.
- Dengan pewarnaan Giemsa dan Gram
sulit memastikan Leptospira karena bentuknya menyerupai
hyphe jamur
- Pemeriksaan leptospiruria tanpa
pewarnaan lebih mudah mendeteksi Leptospira dari pada dengan
pewarnaan Giemsa atau Gram.
Informasi tentang gerakan-gerakan Leptospira
dalam urine dapat pula dilihat dalam Jurnal Medika Nusantara,
1996, vol 17, halaman 72-76.
BERATNYA LEPTOSPIRURI
ADALAH SEBAGAI BERIKUT:
BERAT-RINGAN JUMLAH/LP
10X40 POSITIFITAS
RINGAN <50 +
SEDANG >50-100 ++
BERAT >100 +++
|
RUJUKAN
- Alexander AD : Leptospirosis, in infection diseases,
Hoeprich PD (Ed), 3rt Ed, Harper & Row Publishers, Philadelphia,
1985, 751-759.
- Boys RE and Hoerl BG : Spirochetal and curved rods, In
Basic Medical Micribiology, 3rd, Little Brown co, Toronto,
1986, 593-612
- Jacobs RA: International Disease Spirochetal, In Current
Medical Diagnosis & Treatment, Tierney LM (Eds), 34th
Ed, A Lange Medical Book, London 1995, 1197-1214.
- Jawetz E, Melnick JL and Adelbergh EA: Spirochetes &
Other Spiral Microorganisme, Review of Medical Microbiology,
15th Ed., Lange Medical Publications, California, 1982,
253-260.
- Joklik WK, Willett HP, and Amos DB: Treponema Borrelia,
and Leptospira, In Zinsser Microbiology, 18th Ed, Appleton–Century-Crofts,
Norwalk, 1984, 728-739.
- Kempe CH, Silver HK, O’brien O, et al: Leptospirosis,
In Current Pediatric Diagnosis & Treatment 1987, 9th
Ed, Appleton & Lange, Norwalk, 1987, 893-894.
- McClaim JB : Leptospirosis, In Cecil Textbook of Medicine,
Myngaarden JB and Smith LH (Eds), Vol-2, WB Saunder Co,
Tokyo, 1985, 1666-1668.
- Sanford JP : Leptospirosis, In Hunter’s Tropical
Medicine, 16th Ed, Stricland GT (Ed), WB Saunders Co, Tokyo,
1984, 262-270.
- Sparling PF and Baseman JB: The Spirochetes, In Microbiology,
3rd Ed, Davis BD (Eds), Harper International Ed, Philadelphia,
1980, 751-762
|
|
|