Infeksi
>> Penelitian


Direktur Jenderal PPM - PL
Halaman Utama
Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial
Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease
Informasi Penelitian
Profile RSPI - SS
Dokter - dokter di RSPI - SS
Sejarah RSPI - SS


Rumah Sakit Pusat Nasional Penyakit Infeksi
Tim Redaksi infeksi.com

 Plasmid - Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease

Kupin - Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial

 
Halaman Utama Informasi mengenai penyakit - penyakit infeksi Informasi mengenai Imunisasi Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease Informasi Penelitian Profile RSPI - SS Dokter - dokter di RSPI - SS Sejarah RSPI - SS  
 

PEMBERIAN VAKSINASI ANTI RABIES TERHADAP KASUS GIGITAN HEWAN PENULAR RABIES
SECARA INTRADERMAL DAN INTRAMUSKULAR DI SUMATERA BARAT
DAN DKI JAKARTA TAHUN 2003



          Ditinjau dari segi epidemiologi, secara geografis tahun 2001 di seluruh dunia diperkirakan terdapat 30.000 – 40.000 orang yang meninggal karena Rabies dan sebagian besar terjadi di negara berkembang. Penyebab kematiannya adalah karena tidak mendapatkan vaksin anti rabies dan ini disebabkan karena masyarakat tidak tahu tentang bahaya akibat gigitan hewan tersangka rabies dan cara menghindari diri dari terjangkitnya kasus rabies. Petugas kesehatan belum mengerti cara penanganan kasus gigitan hewan tersangka rabies dan faktor yang lain adalah vaksin anti rabies memang jumlahnya terbatas.

           Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pemberian vaksinasi secara intradermal dibandingkan dengan cara intramuskular terhadap kasus gigitan hewan penular Rabies, hasilnya akan sangat diharapkan bermanfaat bagi masyarakat umum, Pemerintah, karena efisiensi biaya dan akan efektif dalam menetralisasi virus rabies.
          Pemberian VAR saat ini yang dilakukan pada program Pemberantasan Rabies pada manusia secara nasional adalah dengan cara intramuskular diberikan empat kali dengan dosis masing-masing 0,5 ml, jumlah dua cc, cara pemberiannya yaitu pada hari pertama berkunjung ke Puskesmas / Rumah Sakit diberikan dua kali ( 0,5 ml ) di lengan kiri sebelah atas ( deltoid kiri ) dan dilengan kanan sebelah atas ( deltoid kanan ), selanjutnya pada hari ke tujuh diberikan satu kali ( 0,5 ml ) kanan atau kiri, sedangkan pada hari ke duapuluh satu diberikan lagi satu kali pada deltoid kanan atau kiri. Pemberian secara intradermal jadwal pemberian vaksin anti rabies sama, hanya dosisnya lebih sedikit ( yaitu 0,2 ml ) per kali pemberian.  Besar sample yang akan dipilih adalah 200 sample kasus gigitan hewan penular rabies, semua umur, kemudian diperiksa keadaan luka gigitannya ( gigitan anjing, kucing atau kera ), selain itu juga diperiksa secara fisik keadaan kesehatan secara umum oleh seorang dokter / paramedis yang berpengalaman dan sudah dilatih bekerja di Rabies Center, dan sample juga tidak sedang menderita HIV/AIDS, Malaria dan penyakit berat lainnya.

          Dari 200 sample tersebut akan dibagi dua yaitu 100 sample diberikan VAR secara intradermal dan 100 sample sebagai kontrol diberikan VAR intramuskular. Lokasi penelitian Rabies Center di Sumatera Barat dan DKI Jakarta. Penelitian serupa telah dilaksanakan di Negara lain, dan vaksin rebies jenis Purified Vero Rabies Caccine ini telah dinyatakan aman untuk dipakai dalam pemberian VAR, terhadap kasus gigitan hewan penular rabies yang bersedia ikut dalam penelitian ini terlebi dahulu akan diambil darahnya sejumlah tiga ml – lima ml oleh dokter / paramedis / petugas Laboratorium yang telah berpengalaman dalam pengambilan darah tersebut, pengambilan darah menggunakan jarum suntik sekali pakai untuk setiap pasien guna mencegah infeksi. Pengambilan darah dilakukan lima kali yaitu pada hari ke 0, 7, 14, 28 dan 90, setelah itu pasien baru diberikan vaksin anti rabies yaitu pada hari ke 0, 7, dan 21, 90. ( sesuai penjelasan tersebut diatas ).
          Seperti imunisasi pada umumnya akan terjadi demam, kemerahan sekitar suntikan, gatal, ada suatu pengeran setelah suntikan tetapi itu akan sembuh dalam beberapa hari ( reaksi imunologik ). Apabila ada demam pasien sebelumnya akan dibekali obat penurun panas ( Paracetamol ) dan juga pasien akan dibekali vitamin. Pemberian vaksinasi anti rabies dengan vaksin purified vero rabies ini oleh kasus gigitan hewan tersangka rabies akan sangat terlindung dari penyakit rabies yang bersifat fatal.
Penelitian dilakukan oleh Ditjen PPM & PL Depkes dan RSPI – SS.

PROTEIN DENGUE PERANGSANG ANTIBODI
          Tim peneliti Universitas Airlangga menemukan vaksin baru Imunisasi Demam Berdarah. Berhasil diuji coba pada kera, Berbeda dengan vaksin Thailand. Adela masih tergolek di bangsal anak Rumah sakit Dr. Sutomo, Surabaya Jawa Timur, Hingga Rabu pekan lalu , bocah tiga tahun ini belum diizinkan meninggalkan Rumah Sakit. Adela terpaksa dirawat inap sejak pekan sebelumnya. Orang tuanya, Adi Winarko, 36 tahun, dan Winarti, 30 tahun, panik. Mereka tak menduga putra pertamanya terjangkit demam berdarah. Padahal, rumah mereka di jalan Barata Jaya, Surabaya, setiap hari dibersihkan. Bak mandipun dua hari sekali dikuras, Kani 52 tahun, yang setiap hari menunggui Adela di rumah sakit, menduga nyamuk Aidesaegypti, pentebab demam berdarah, yang menyerang cucunya berasal dari waduk Kali Wonokromo, hanya 10 meter dari rumahnya. Serangan demam berdarah memang sering datang tak terduga, Apalagi di musim hujan, “ Jumlah nyamuk penyebab demam berdarah berlipat ganda bila hujan tiba, “ kata Rita Kusriastuti, Kepala subdirektorat Arbovirusis, Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular, Departemen Kesehatan. Korban meninggal sejak penyakit ini dotemukan pun tetap tinggi. Adela mungkin tidap perlu terlalu lama menginap di rumah sakit, bila vaksin pencegah demam berdarah yang mumpuni. Sejak penyakit ini diketahui pertama kali, berbagai negara berupaya membuat vaksin, Misalnya Thailand, Para ahli “ negari gajah Putih “ ini memulai proyek pembuatan vaksin, 10 tahun lalu. Hasilnya sudah diujicobakan pada manusia. “ Namun, efektifitasnya belum sempurna,” kata Rita. Meski terlambat, ahli-ahli Indonesia tak mau ketinggalan. Tim peneliti Pusat Riset Penyakit Tropis Universitas Airlangga Surabaya, telah menemukan serum baru untuk imunisasi demam berdarah, Hasilnya dipaparkan di Singapura, dalam simposium Demam berdarah dan TBC, 22 Januari lalu. Tim dipimpin guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Soegeng Soegijanto, bersama empat koleganya sefakultas, yakni Fedik A, Rantam, Soetjipto, Ketut Sudiana, dan Yos Priyatna. Mereka menghabiskan dana hibah dari Departemen Pendidikan Nasional Rp. 800 juta.


          Tahun lalu, tim ini mendatangkan enam ekor kera dari Institut Teknologi Bandung, untuk percobaan. Dua ekor dipakai sebagai kontrol, Empat lainnya disuntik dengan bahan imunisasi berupa E-Protein ( envelope Protein ) recombinant, yang didapat dari empat virus dengue : DEN 1 hingga DEN 4. Menurut Soegeng, protein E dari virus demam berdarah yang ditemukan timnya dapat merangsang peningkatan antibodi. Keempat ekor kera diimunisasi tiap dua minggu dengan tiga kali suntikan, hasilnya, kera yang disuntik E-Protein recombinant memiliki tingkat kekebalan terhadap virus dengue hinga level 460 unit. Jauh diatas batas yang dipatok, level 10 unit, sedangkan kekebalan pada kera kontrol dibawah level 10 unit.
          Setelah proses imunisasi, kera-kera itu diinjeksi dengan virus dengue, yang memiliki masa inkubasi 7 – 10 hari, Setelah masa inkubasi, ternyata level veremia ( virus dalam jumlah banyak di dalam darah ) pada kera kontrol meningkat sampai 220. “ Sedangkan kera percobaan memiliki Level Veremia nol karena dinetralisasi antibodi “ kata Soegeng. Vaksin temuan timnya, menurut Soegeng, berbeda dengan yang diteliti di Thailand. Vaksin ala Thailand itu berasal dari virus dengue yang dilemahkan, sedangkan vaksin Surabaya berasal dari E-Protein, bagian virus dengue yang merangsang peningkatan antibodi. “ Tapi masih harus diteliti dampak negatifnya,” ujar Soegeng.
          Agar vaksin ini bisa diterapkan pada manusia, masih dibutuhkan tiga tahun lagi. Bila kelak berhasil, penderitaan seperti yang dialami Adela tak akan menimpa anak-anak Indonesia.



PENYEBAR MAUT DARI MANILA

Penyakit Demam berdarah Dengue ( DBD ) pertama kali ditemukan di Manila, Filipina tahun 1953, selanjutnya menyebar ke berbagai negara. Dalam perkiraan Pusat Pengendalian Dan Pencegahan Penyakit ( Center For Disease Control and Prevention ) Amerika Serikat, setiap tahun diseluruh dunia terjadi 50 hingga 100 juta kasus Demam Dengue, dan ratusan ribu kasus demam berdarah dengue.
Di Indonesia, penyakit ini pertama kali mewabah di Surabaya dan DKI Jakarta pada 1968, kemudian menyebar keseluruh provinsi, sejak 1968 hingga 1998, setiap tahun rata-rata 18.000 orang dirawat di rumah sakit. Dari jumlah itu tercatat, 700 – 750 penderita meninggal dunia.

KASUS DEMAM BERDARAH
DI INDONESIA 1998 - 2001
Tahun
Jumlah Kasus
Kematian
1998
72.133
14.114
1999
21.134
422
2000
33.443
472
2001
45.688
492

( Sumber : Gatra )

PENGAMATAN GERAKAN LEPTOSPIRA DALAM URINE
DENGAN CARA SEDERHANA

A. Halim Mubin* Gatot Lawrence**

* Sub Bagian Penyakit Infeksi/Menular,
Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UNHAS;
** Bagian Patologi FK UNHAS; PETRI UjungPandang

ABSTRAK
Pemeriksaan sederhana dengan mikroskop biasa dapat dideteksi adanya Leptospira dalam urine tanpa atau dengan pewarnaan.
Pada preparat hidup dapat dilihat gerakan-gerakan maju, mundur atau rotasi mulai dari gerakan lambat sampai yang cepat. Umumnya bentuk spiralnya sulit tampak dengan pembesaran 10 x 40 kali. Leptospira yang bergerak cepat pada akhirnya berhenti bergerak dengan sendirinya. Sebagaian tampak membelah diri dengan cara terpotong melintang, sehingga terpisah menjadi mother dan daughter leptospira. Hanya sebagaian kecil yang bergerak dengan bentuk spiral yang jelas.
Morfologi leptospira lurus atau melengkung, bentuk spiralnya sulit kelihatan dan begitu pula ujungnya berupa kait (hook). Ukurannya panjangnya bervariasi antara pendek, sedang dan panjang. Beberapa tampak seperti Streptokokus.
Dengan pewarnaan Giemsa berwarna kemerah-merahan, dan dengan gram merah kebiru-biruan (gram negatif).
Dibutuhkan penelitian lanjutan untuk menetapkan diagnosis leptospira pada seseorang.

ABSTRACT
Simple diagnostic method by using light microscopy can be used for detecting leptospira in the urine with or without staining. In a living specimen we can observe the movement i.e. forward, backward and rotating, as well as slow and fast. The morphology of leptospira is spiral and difficult to be observed under 10x40 magnification. The fast moving leptospira usually stop by itself. Some of them have a segmented body and evetually separated. Thereby a mother and daughter leptospira can be seen. The morphology usually straight, spiral with hook ending. The size varied from short, intermediate, and long. Some of them look like streptococcus. With Giemsa staining the germ looks pink, and Gram staining it will look blue ( Gram negative). Further study is needed to evaluate the characteristic and diagnostic approach of leptospira in human (J Med Nus 1996; 17:72-76).


Leptospira merupakan kelompok kuman yang dapat menyebabkan leptospirosis, termasuk penyakit zoonosis, yang patogen disebut Leptospira interrogans dan yang tidak petogen disebut Leptospira biflexa. Disebut interrogans karena bentuknya menyerupai tanda tanya (?) (interrogative : menanyai) (Sanford, 1984). Ada 3 serovar yang sering menyebabkan infeksi pada manusia yaitu Leptospira ictrerohaemorrhagiae pada tikus, Leptospira canicola pada anjing dan Leptospira pomona pada sapi dan babi. Yang paling sering menyebabkan penyakit berat (penyakit Weil) adalah Leptospira ictreromorrhagiae. Leptospira masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan urine yang mengandung Leptospira. Disamping itu dapat juga melalui kulit yang lecet atau melalui konyuktiva (Jacobs RA, 1995). Leptospira yang masuk tubuh manusia adalah patogen (Leptospira interrogans).
Untuk mengamati gerakan Leptospira digunakan mikroskop lapangan gelap (darkfield microscope). Alat ini sulit disiapkan di daerah perifer, sehingga diagnosis sangat sulit dilacak, walaupun secara klinis prevalensi Leptospira dewasa ini semakin meningkat.

BAHAN DAN CARA PENELITIAN

Bahan penelitian
Bahan pemeriksaan adalah urine segar penderita yang suspek penyakit Weil.

Cara pemeriksaan :

A. Pemeriksaan urine langsung

  1. Sebanyak 5 ml urine segar dimasukkan ke dalam tabung sentrifus.
  2. Urine dipusing dengan kecepatan 1000-1500 rpm selama 5-10 menit.
  3. Supernatan tabung sentifus dibuang, sehingga endapan tersisa bersama dengan urine sebanyak 1-2 tetes. Dalam prakteknya tabung dituang saja selama 3 detik lalu kemudian tabung diletakkan pada rak tabung yang telah disediakan.
  4. Dengan hati-hati satu tetes urine tersebut disedot dengan pipa pasteur, lalu diletakkan ke atas gelas obyek kemudian ditutup dengan kaca penutup yang agak kecil (berukuran 22x22 mm). Harus dijaga agar tetesan tidak terlalu banyak, supaya urine tidak melimpah setelah ditutup dengan kaca penutup.
  5. Preparat tersebut langsung diperiksa tanpa pewarnaan di bawah microskope dengan pembesaran 10 x 40.
  6. Cahaya diatur jangan sampai terlalu terang yang menyilaukan atau justru cahaya terlalu gelap, karena pada kedua keadaan tersebut leptospira tidak akan tampak. Jadi kekuatan cahaya yang diatur sedemikian rupa kira-kira sama kuatnya bila hendak melihat sedimen urine.
  7. Karena Leptospira bergerak, maka untuk mengamatinya secara cermat sewaktu-waktu diperlukan perubahan fokus.
  8. Leptospira yang tidak bergerak terlalu cepat dapat dilihat bentuknya lebih jelas pada pembesaran 10 X 100 dengan minyak emersi.

B. Pemeriksaan dengan pewarnaan

  1. Dilakukan seperti langkah 1 sampai 3 di atas.
  2. Urine yang diteteskan di atas kaca obyek dibuat preparat halus yang tipis lalu dikeringkan.
  3. Setelah kering difiksasi dengan methanol
  4. Setelah kering dengan methanol diberi pengecetan Giemsa atau Gram.

HASIL PENGAMATAN
Hasil dapat diperoleh dari pemeriksaan tanpa pewarnaan atau dengan pewarnaan.

A. Pemeriksaan tanpa pewarnaan
Pada pemeriksaan Leptospira tanpa pewarnaan akan tampak beberapa keadaan sebagai berikut :
Bentuk leptospira

  1. Ukuran Leptospira tidak sama, bervariasi antara 2? - 24?. Ada tiga ukuran panjang yaitu:
  2. Berukuran mini, hanya menyerupai kuman berbentuk batang, ukurannya 4-6? (lebar 0,1-0,2?).
  3. Ukuran sedang 2-3 X ukuran mini
  4. Ukuran terpanjang, biasanya ukurannya 2 x ukuran sedang
  5. Sebagaian leptospira berbentuk menyerupai streptokokus, dimana yang berukuran mini hanya terdiri dari 2 koki

Gerakan Leptospira

  1. Ditemukan bentuk-bentuk batang yang bergerak maju sesuai dengan sumbu memanjang.
  • Ada yang bergerak sangat lincah, sehingga cepat melintasi lapangan penglihatan pada pembesaran 10x40 apalagi pada pembesaran 10x100. (pada pembesaran 10x100 Leptospira sulit dilihat). Kadang-kadang ada yang tampak bergerak secara rotasi bila mengambil arah vertikal. Umumnya yang bergerak lincah berukuran mini.
  • Ada yang bergerak sangat lemah, hanya dengan pengamatan yang teliti dapat diamati gerakannya terutama pada pembesaran 10x 100.
  • Ada yang tidak bergerak. Kalau diamati agak lama, maka beberapa Leptospira yang aktif akhirnya akan berhenti bergerak.

2. Hanya sebagaian kecil leptospira yang bergerak dengan bentuk spiral yang jelas.

Beberapa bentuk leptospira dari urine penderita Penyakit Weil

Leptospira yang berukuran panjang bila bergerak sekali cukup laju dan jauh jangkauannya. Mereka kadang-kadang bergerak kesatu arah, tetapi bila mengalami hambatan sering bergerak ”mundur” tanpa mengubah haluan, namun kecepatan geraknya secepat gerakan maju. Bila diamati terus, maka Leptospira ukuran terpanjang ini merupakan dua Leptospira yang akan membelah secara melintang, dimana “kepalanya” lebih dahulu lahir. Setelah “aterm” keduanya aktif untuk memisahkan diri dengan adanya pemisahan antara kedua “ekor”. Rupanya adanya gerakan “ maju” dan “ mundur” tersebut di atas sebagai akibat dari gerakan individu pertama ke depan, sementara individu kedua tertarik saja, dan bila “mundur” berarti individu kedua yang maju sedangkan individu pertama diam dan mengikut saja. Jadi sebelum keduanya berpisah untuk membentuk individu masing-masing, mereka dapat bergerak bergantian atau bersamaan dengan arah yang berlawanan.
Gerakan-gerakan inilah yang akhirnya memisahkan antara mother dan dauhter Leptospira tersebut. Spiralisasi gerakan badannya tidak begitu jelas, kadang-kadang hanya tampak seperti bergetar saja.

B. Dengan Pewarnaan Giemsa dan Gram

Dengan pewarnaan Giemsa Leptospira akan tampak sebagai batang-batang kecil yang lurus atau melengkung berwarna kemerah-merahan, tidak berbentuk spiral. Dengan pengecetan Gram berwarna merah kebiru-biruan (Gram Negatif). Kita mesti hati-hati dengan hyphe jamur yang kadang-kadang juga ditemukan.

DISKUSI
Kebanyakan penulis mengemukakan bahwa Leptospira hanya dapat dilihat dengan mikroskop lapangan gelap (dark-field microscopy), fase kontrast (phase contrast) atau dengan cara imunofluoresens dan tidak dapat dilihat dengan mikroskop biasa (light microscopy) (Alexander, 1983; McClain, 1985; Kempe, 1987). Leptospira muncul dalam urine pada minggu kedua penyakit dan dapat bertahan satu bulan atau lebih (Kempe, 1987).
Tidak jelasnya bentuk spiral dari Leptospira sewaktu bergerak mungkin karena spiralnya sangat halus (very fine spiral) (Jawetz, 1982). Tetapi jika diamati beberapa preparat akan tampak beberapa Leptospira bergerak dengan spiral jelas. Dan gerakan rotasi jelas tampak pada waktu Leptospira bergerak secara vertikal. Gerakan maju mundur (move forward and backward) dalam urine dapat ditemukan sebagaimana dikemukan oleh Alexander (1983), bila Leptospira berada dalam medium cair yang lain.
Dengan pemeriksaan lapangan redup pada mikroskop biasa morfologi leptospira secara umum dapat dilihat. Hal mana akan terlihat lebih jelas pada pemeriksaan khusus dengan darkfield microscope (Jawets, 1982). Dengan scaning mikrograf elektron akan tampak kait dan spiralnya (Boyd and Hoerl, 1986). Dengan menggunakan mikroskop biasa struktur yang yang lebih kecil masih sulit terlihat dengan jelas.
Dalam keadaan tidak bergerak tanpa pewarnaan atau dengan pewarnaan atau dengan pewarnaan Giemsa atau Gram sebahagian Leptospira terkesan seperti streptokokus, sesuai dengan yang dikemukan potrais (pendekatan pribadi, seorang peneliti Belgia).
Ukuran Leptospira bervariasi antara 4-20? (Sparling dan Basemen, 1980; Joklik, 1984). Hal yang sama ditemukan pada penelitian ini ada yang berukuran mini, sedang dan panjang. Ukuran bervariasi dari 4 ? sampai 25 ?.
Dengan pemeriksaan sederhana ini memungkinkan mengamati Leptospira pada pemeriksaan rutin urine dengan cukup mudah sambil dapat mengikuti gerakan-gerakannya.

KESIMPULAN

  1. Leptospiruria mudah dideteksi dengan menggunakan mikroskop biasa dengan mengatur lapangan penglihatan redup (agak gelap) pada pembesaran minimal 10x40 atas preparat tanpa pewarnaan.
  2. Adanya Leptospiruria dianggap positif bila ditemukan Leptospira yang bergerak minimal satu dalam satu lapangan penglihatan 10x40.
  3. Leptospiruria belum dapat memastikan apakah Leptospira interrogans atau Leptospira biflexa.
  4. Dengan pewarnaan Giemsa dan Gram sulit memastikan Leptospira karena bentuknya menyerupai hyphe jamur
  5. Pemeriksaan leptospiruria tanpa pewarnaan lebih mudah mendeteksi Leptospira dari pada dengan pewarnaan Giemsa atau Gram.

Informasi tentang gerakan-gerakan Leptospira dalam urine dapat pula dilihat dalam Jurnal Medika Nusantara, 1996, vol 17, halaman 72-76.

BERATNYA LEPTOSPIRURI ADALAH SEBAGAI BERIKUT:

BERAT-RINGAN JUMLAH/LP 10X40 POSITIFITAS
RINGAN <50 +
SEDANG >50-100 ++
BERAT >100 +++



RUJUKAN

  1. Alexander AD : Leptospirosis, in infection diseases, Hoeprich PD (Ed), 3rt Ed, Harper & Row Publishers, Philadelphia, 1985, 751-759.
  2. Boys RE and Hoerl BG : Spirochetal and curved rods, In Basic Medical Micribiology, 3rd, Little Brown co, Toronto, 1986, 593-612
  3. Jacobs RA: International Disease Spirochetal, In Current Medical Diagnosis & Treatment, Tierney LM (Eds), 34th Ed, A Lange Medical Book, London 1995, 1197-1214.
  4. Jawetz E, Melnick JL and Adelbergh EA: Spirochetes & Other Spiral Microorganisme, Review of Medical Microbiology, 15th Ed., Lange Medical Publications, California, 1982, 253-260.
  5. Joklik WK, Willett HP, and Amos DB: Treponema Borrelia, and Leptospira, In Zinsser Microbiology, 18th Ed, Appleton–Century-Crofts, Norwalk, 1984, 728-739.
  6. Kempe CH, Silver HK, O’brien O, et al: Leptospirosis, In Current Pediatric Diagnosis & Treatment 1987, 9th Ed, Appleton & Lange, Norwalk, 1987, 893-894.
  7. McClaim JB : Leptospirosis, In Cecil Textbook of Medicine, Myngaarden JB and Smith LH (Eds), Vol-2, WB Saunder Co, Tokyo, 1985, 1666-1668.
  8. Sanford JP : Leptospirosis, In Hunter’s Tropical Medicine, 16th Ed, Stricland GT (Ed), WB Saunders Co, Tokyo, 1984, 262-270.
  9. Sparling PF and Baseman JB: The Spirochetes, In Microbiology, 3rd Ed, Davis BD (Eds), Harper International Ed, Philadelphia, 1980, 751-762
 

Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com


Situs Indonesia Sehat [ www.infokes.com ]

Rumah Sakit Pusat Nasional Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso Jkt


Situs Santakin [ www.santakin.com ]

Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com

 

UTAMA  |  PENYAKIT  |  IMUNISASI  |  KUPIN  |  PLASMID  |  PENELITIAN  |  PROFILE  |  S D M  |  SEJARAH  |  RSPNPI-SS  |  REDAKSI