|
Anthrax
adalah penyakit hewan yang dapat menular ke manusia dan bersifat
akut. Penyebabnya bakteri Bacillus anthracis. Menurut drh
Suprodjo Hardjo Utomo MS APU dari Balitvet, bakteri ini bersifat
aerob, memerlukan oksigen untuk hidup. Di alam bebas bakteri
ini membentuk spora yang tahan puluhan tahun dalam tanah dan
bisa menjadi sumber penularan pada hewan dan manusia. Kasus
di Bogor tejadi karena spora terbawa banjir. Hewan tertular
akibat makan spora yang menempel pada tanaman yang dimakan.
Hewan yang mati akibat anthrax harus langsung dikubur atau
dibakar, tidak boleh dilukai supaya bakteri tidak menyebar.
Penularan
pada manusia bisa lewat kontak langsung spora yang ada di
tanah, tanaman, maupun bahan dari hewan sakit (kulit, daging,
tulang atau darah). Mengonsumsi produk hewan yang kena anthrax
atau melalui udara yang mengandung spora, misalnya, pada pekerja
di pabrik wool atau kulit binatang. Karenanya ada empat tipe
anthrax, yaitu anthrax kulit, pencernaan/anthrax usus, pernapasan/anthrax
paru dan anthrax otak. Anthrax otak terjadi jika bakteri terbawa
darah masuk ke otak.
Masa
inkubasi anthrax kulit sekitar dua sampai lima hari. Mula-mula
kulit gatal, kemudian melepuh yang jika pecah membentuk keropeng
hitam di tengahnya. Di sekitar keropeng bengkak dan nyeri.
Pada anthrax yang masuk tubuh dalam 24 jam sudah tampak tanda
demam. Mual, muntah darah pada anthrax usus, batuk, sesak
napas pada anthrax paru, sakit kepala dan kejang pada anthrax
otak. Jika tak segera diobati bisa meninggal dalam waktu satu
atau dua hari. Namun obatnya sudah ada, yakni penisilin dan
derivatnya. Karena setiap petugas kesehatan sudah dilatih
untuk menangani, sebaiknya penderita segera dibawa ke Puskesmas
atau rumah sakit.
Untuk
mencegah tertular anthrax dianjurkan untuk membeli daging
dari tempat pemotongan resmi, memasak daging secara matang
untuk mematikan kuman, serta mencuci tangan sebelum makan.
Menurut staf ahli Bidang Kesehatan Lingkungan dan Epidemiologi
Depkes dr I Nyoman Kandun MPH, pemerintah menyediakan obat
untuk anthrax di seluruh kabupaten endemis anthrax, memberikan
pelatihan surveillance dan diagnosis klinis serta laboratorium
di empat provinsi endemis, mendistribusikan poster, leaflet,
dan buku petunjuk penanganan anthrax. Serta melakukan kerja
sama lintas sektoral dalam pemberantasan anthrax dan langkah
penanggulangan lain.
Tingkat
Kematian Manusia Akibat Anthrax Mencapai 18 Persen. Penyakit
Anthrax memang layak ditakuti karena sangat mematikan. Sapi,
domba atau kambing yang terserang, akan menemui ajal dalam
hitungan jam. Kemampuan membunuh yang sangat cepat ini justru
ada baiknya, karena penularan penyakit anthrak sangat lambat
dan tak meluas (endemik, sporadik). Lain dengan flu yang bisa
mewabah hampir di semua muka bumi dengan begitu cepatnya.
Penyakit
Anthrax termasuk kelompok penyakit yang dapat menular dari
hewan ke manusia (Zoonosis). Penyakit ini paling sering menyerang
ternak herbivora terutama Sapi, domba, Kambing dan selalu
berakhir pada kematian. Sasaran berikutnya kuda dan babi.
Hewan kelompok omnivora ini bisa lebih bertahan sehingga sebagian
penderita selamat dari maut. Serangan pada ayam, belum pernah
ada laporan. Berdasar penelitan yang selama ini telah dilakukan,
pada manusia, dilaporkan tingkat kematian mencapai 18 persen
(dari 100 kasus, 18 penderita meninggal). Penyebab Anthrax,
bernama Bacillus anthracis, dapat bersembunyi dalam tanah
selama 70 tahun. Bila situasi lingkungan cocok bagi pertumbuhan
kuman, misalnya karena tergenang air, B anthracis akan bangkit
dari kubur dan menyerang hewan yang ada di sekitarnya. Karenanya,
tanah yang tercemar merupakan sumber infeksi dan bersifat
bahaya laten. Kumannya dapat terserap akar tumbuh-tumbuhan
hingga mencapai daun maupun buah sehingga akan menginfeksi
ternak maupun manusia yang mengkonsumsinya.
Sumber
infeksi lainnya adalah bangkai ternak pengindap anthrax. Miliaran
B anthracis memadati darah (septisemia), organ-organ dalam.
Pokoknya seluruh tubuh bangkai, termasuk benda yang keluar
dari bangkai, mengandung kuman penyebab anthrax. Dalam 1 mililiter
darah setidaknya mengandung 1 miliar B anthracis. Bila B anthracis
aktif bersinggungan dengan Oksigen, segera mengubah diri dalam
bentuk spora yang memiliki daya tahan hidup lebih tinggi.
Dalam bentuk spora ini, kuman penyebab anthrax dapat bertahan
hidup sampai 70 tahun di dalam tanah. Spora-spora tersebut
dapat diterbangkan angin, atau dihanyutkan aliran air kemudian
mencemari apa saja (air, pakan, rumput, peralatan, kendaraan,
hewan dan sebagainya). Spora B anthracis yang menempel pada
pakan atau air minum dan benda lainnya, bila termakan atau
terhirup pernafasan atau menempel pada kulit yang luka akan
berubah menjadi bentuk aktif dan masuk ke dalam jaringan serta
berkembang biak. Sejak kuman masuk ke dalam tubuh ternak sampai
menimbulkan gejala sakit yang disebut masa inkubasi memerlukan
waktu antara 1 - 2 minggu.
|
PENDAHULUAN
Penyakit Antraks merupakan penyakit menular
yang umumnya menyerang hewan ( herbivora ) dan dapat menyebabkan
kesakitan sampai kematian pada manusia. Dalam keadaan sehari-hari
penyakit ini sangat jarang dijumpai pada manusia. Hal ini
disebabkan karena pada umumnya kesakitan pada manusia selalu
berhubungan dengan kejadian kesakitan pada hewan ternak dalam
skala wabah, atau kontak manusia dengan ternak dan produknya
didaerah endemis. Angka resiko terinfeksi pada manusia berkisar
1/ 100.000 dan sebagian besar merupakan antraks kulit (cutaneous
anthrax). (Kenneth,1999)
Oleh karena jarangnya penyakit ini pada manusia menyebabkan
lemahnya sector medis dalam mendeteksi secara dini (early
detection) gejala penyakit dan melakukan pengobatan yang tepat
(prompt treatment) sehingga menyebabkan terjadinya keterlambatan
penanganan yang dapat menyebabkan bertambah beratnya penyakit
sampai dengan tingkat kematian. Dalam upaya untuk mengeleminir
penyakit ini perlu kiranya dilakukan sosialisasi sekaligus
pengenalan manifestasi klinis sekaligus bagaimana pengobatan
dan pencegahannya bagi tenaga medis khususnya yang berada
di wilayah endemis dan perbatasan.
PENANGANAN PENYAKIT
Penanganan yang baik senantiasa harus berpedoman
pada pengamatan komprehensif. Sehubungan dengan penanganan
penyakit antraks ini perlu kiranya dilakukan :
Anamnesa terarah
Suatu early diagnosis (diagnosa dini) penyakit antraks umumnya
sulit ditegakkan karena pada awalnya menunjukkan gejala dan
tanda yang bersifat umum. Seperti demam subfebris, sakit kepala,
kelainan kulit, akut abdomen dan sesak nafas. Yang mudah ditegakkan
adalah bila gejala penyakit tersebut sudah menampakkan tanda
pathognomonik seperti “eschar” pada antraks kulit.Oleh
karena sebagian besar manifestasi klinis penyakit antraks
adalah antraks kulit (90%) , ( Marc, La Force, 1994) ; maka
umumnya penderita datang dengan keluhan demam, sakit kepala
disertai tumbuhnya papel yang gatal atau vesikel yang berisi
cairan. Pada keadaan seperti inilah perlu dilakukan anamnesa
terarah seperti :
- Riwayat sering kontak dengan ternak atau produknya (kulit,
tulang).
- Riwayat kontak dengan ternak sakit
- Riwayat mengkonsumsi daging ternak sakit
Status pekerjaan (petani ladang, peternak,
RPH, penyamak kulit).
Tidak kalah pentingnya bagi kalangan medis adalah mengetahui
dimana dia berada, di wilayah endemis atau perbatasan.
Pengenalan penyakit
Mendeteksi secara dini penyakit antraks dapat mudah dilakukan
bila kalangan medis sudah pernah melihat secara langsung kelainan
pathognomonis yang ada seperti eschar pada kulit, yaitu kerak
hitam yang berada ditengah ulkus yang mongering. Untuk mengenal
penyakit antraks tersebut maka harus diketahui manifestasi
klinisnya.
Antraks kulit
Keluhan penderita : demam subfebris, sakit kepala.
Pada pemeriksaan, umumnya di daerah terbuka seperti muka,
leher, lengan dan tangan ditemukan kelainan berupa papel,
vesikel yang berisi cairan dan jaringan nekrotik berbentuk
ulsera yang ditutupi oleh kerak berwarna hitam, kering yang
disebut eschar ( pathognomonik ) disekitar ulkus, sering didapatkan
eritema dan edema. Pada perabaan edema tersebut tidak lunak
dan tidak lekuk ( non pitting ) bila ditekan, disebut juga
malignant pustule.
Antraks saluran pencernaan
Keluhan penderita : rasa sakit perut yang hebat, mual, muntah,
tidak napsu makan, suhu badan meningkat, hematemesis.
Pemeriksaan fisik : perut membesar dan keras, dapat berkembang
menjadi ascites dan edema scrotum.
Antraks paru-paru
Keluhan penderita : demam subfebris, batuk non produktif,
lesu, lemah. Dalam 2 – 4 hari gangguan pernafasan menjadi
hebatdisertai suhu yang meningkat, sianosis. Dispneu, keringat
berlebihan, detak jantung menjadi lebih cepat.
Pemeriksaan fisik : edema subkutan di daerah dada dan leher.
Antraks meningitis : akibat dari
komplikasi bentuk antraks yang lain. Gejala klinis seperti
randang otak maupun selaput otak yaitu demam, sakit kepala
hebat, kejang, penurunan kesadaran, kaku kuduk.
PENGOBATAN
Penisilin merupakan obat antibiotika yang
paling ampuh untuk penderita antraks yang alami dan jarang
resisten. Pengobatan penderita/ tersangka antraks, tergantung
dari tipe atau gejala klinisnya yaitu;
Antraks kulit ;
Prokain penisilin 2 x 1,2 juta IU diberikan secara IM selama
5 s.d 7 hari. Atau dapat juga dengan menggunakan benzil penicillin
2500 IU secara IM setiap 6 jam. Perlu diperhatikan mengingat
drug of choise untuk antraks adalah penicillin sehingga sebelum
diberikan suntikan harus dilakukan skin test terlebih dahulu.
Bila penderita/ tersangka hipersensitif terhadap penisilin
dapat diganti dengan memberikan tetrasiklin, klorampenikol
atau eritromisin.
Antraks intestinal dan pulmonal
Penisilin G 18 – 24 juta IU / hari, IVFD ditambah dengan
streptomisin 1 – 2 gram untuk tipe pulmonal, dan untuk
tipe gastro intestinal tetrasiklin 1 gram/ hari.
Terapi supportif dan simptomatis perlu diberikan, biasanya
plasma ekspander dan regiment vasopresor bila diperlukan.
(Nalin, dkk 1977), antraks intestinal menggunakan klorampenikol
6 garam/ hari selama 5 hari, kemudian diteruskan 4 gram/ hari
selama 18 hari, diteruskan dengan eritromisin 4 garam/ hari
untuk menghindari supresi sumsum tulang
Antraks pulmonal oleh karena bioterrorism
o Pengobatan profilaksis ( terpapar ) ;
Type Pengobatan |
Dewasa |
Anak-anak |
| Pengobatan awal |
Ciprofloxacin, dosis 500 mg, setiap 12 jam
Atau
Doxycycline, 100 mg oral,
2 kali/hari |
Ciprofloxacin, 10-15 mg per Kg BB, oral setiap 12 jam
Atau Doxycycline, 100 mg per oral, 2 kali/ hari ( >
8 th dan > 45 th)
|
Pengobatan Optimal |
Amoxicilin 500 mg per oral setiap 8 jam
Atau
Doxycycline, 100 mg oral, setiap 12 jam |
Amoxicilin 500 mg per oral setiap 8 jam
( BB > 20 kg)
Untuk BB < 20 kg diberikan 40mg/kg BB per oral dibagi
3 dosis ( setiap 8 jam ) |
Pengobatan terhadap klinis antraks
Type Pengobatan
|
Dewasa |
Anak-anak
|
Pengobatan awal |
Ciprofloxacine, dosis 400 mg, intra
vena setiap 1 jam
|
Ciprofloxacin, 20-30 mg, per kg
BB per hari ( IV ), dibagi 2 dosis |
Pengobatan Optimal |
Penicilin G, 4 juta U, intra vena
setiap 4 jam
Atau
Doxycycline, 100 mg Intra Vena , setiap 12 ja |
Ciprofloxacin, 20-30 mg, per kg
BB per hari setiap 12 jam
Atau
Penicilin G, 50.000 Unit, intra vena setiap 6 jam (
<12 th )
Umur >12 th diberikan Penicilin G, 4 juta U, intra
vena setiap 4 hari |
Catatan : lamanya pengobatan sampai dengan
60 hari
Sumber : - Departement of Medicine, Bullfinch 127, Massachusetts
Generak HospitL, 55Fruit St, Boston, MA 02114-2696 Children
And Antrax : A fact Sheet For Clinicion, Nov 7 Th, 2001, U.s
Deparrtment OF Health and Human Services, CDC ATLANTA.
PENANGANAN DI RUMAH SAKIT
Penderita antraks yang dirujuk ke RS umumnya
penderita yang penyakitnya makin memburuk seperti septikemi,
syok, dehidrasi.
Untuk itu penanganannya adalah:
- Rawat di ruang isolasi
- Tindakan medik dan pemberian obat-obatan simptomatis/
supportif
- Pemberian antibiotik
- Desinfeksi terhadap ekreta dan sekreta yang dikeluarkan
penderita
- Pengambilan dan pengiriman spesimen ke Laboratorium
PENCEGAHAN
-
Hindari kontak langsung dengan bahan
atau makanan yang berasal dari hewan yang dicurigai terkena
antraks.
-
Cuci tangan dengan sabun sebelum makan
-
Cuci sayuran/ buah-buahan sebelum
dimakan
-
Memasak daging sampai matang sempurna
-
Vaksinasi antraks ( penggunaannya
selektif dan efek samping tinggi ).
|