| |
ANTHRAX
| DIARE | DHF/DBD
| D.
CHIKUNGUYA | FILARIASIS
| FLU
BURUNG | HEPATITIS
| HIV/AIDS |
J. ENCEPHALITIS | LEPTOSPIRA
| MALARIA
| NAPZA
| PNEUMONIA |
SAPI
GILA | SARS
| TUBERKULOSIS |
TOXOPLASMOSIS |
Membebaskan Masyarakat dari Wabah Antraks
|
|
Pemerhati Masalah Sosial dan Kesehatan Lingkungan, Mantan
Staf Peneliti Depkes Seperti biasanya, setiap bulan puasa,
terlebih menjelang Idul Fitri, permintaan daging di seluruh
wilayah Jakarta selalu naik, karena terjadi peningkatan yang
sangat signifikan pada konsumsi daging. Untuk bulan puasa
dan lebaran kali ini, warga DKI Jakarta dan sekitarnya perlu
waspada karena dua alasan. Pertama, ini terkait dengan pembuangan
daging impor ilegal di TPA Bantar Gebang beberapa waktu lalu.
Si pasar tradisional Bekasi dan Karawang telah ditemukan dan
disita puluhan ton daging impor ilegal yang jelas sudah rusak
kebersihan dan kesehatannya.
Kedua, kasus tewasnya enam warga Desa Citaringgul, Kecamatan
Babakan Madang, Kabupaten Bogor, yang menurut petugas Badan
Penelitian Veteriner Bogor, diduga kuat terserang antraks
yang telah mencemari daging kambing yang mereka konsumsi karena
Bogor termasuk daerah endemi antraks.
Penyakit antraks disebabkan bacillus anthracis. Bakteri ini
bertahan di lingkungan yang tak cocok untuk berkembang biak
dengan membentuk spora. Spora antraks bisa bertahan hingga
puluhan tahun dalam tanah dan menjadi bentuk bakteri kembali
jika kondisi lingkungannya mendukung. Bahaya serangan bakteri
antraks tergantung pada kekuatan kapsul pelindung dan produksi
racunnya. Kapsul pelindung menentukan daya tahan bakteri terhadap
serangan sistem imunitas tubuh, sementara produksi racun menentukan
daya bunuh antraks. Sumber penularannya bukan hanya hewan,
tetapi juga tanah, sayuran, atau air yang tercemar spora antraks.
Serangan antraks ini harus kita waspadai karena dapat terjadi
melalui tiga cara. Pertama, sekitar 95 persen infeksi berlangsung
melalui kulit yang teriris atau tergores, bersifat fatal,
dan hanya 20 persen dari korban yang tertolong. Kedua, jika
seseorang memakan daging yang tercemar antraks, lebih fatal
lagi karena 25-60 persen korbannya tak tertolong. Ketiga,
meski spora antraks sangat jarang terbang ke udara bebas,
namun fatal jika sempat terhirup manusia karena 99 persen
korban selalu meninggal.
Gejala awal serangan antraks dapat dilihat seperti terkena
flu dan batuk kering. Sesudah sepekan, penderita akan susah
bernapas, keluar keringat berlebihan, dan kulit membiru. Setelah
sembilan hari, akan terjadi kegagalan kerja sistem pernapasan
dan jantung. Karenanya, jika gejala-gejala tersebut sudah
terlihat, penderita harus segera berobat ke dokter atau dibawa
ke rumah sakit terdekat.
Sangat disesalkan, sejauh ini di Indonesia banyak rumah pemotongan
hewan (RPH) yang sangat rendah tingkat kebersihannya. Sering
ditemukan berbagai sarana dan prasarana RPH yang tidak higienis
dan saniter. Ini bukan hanya mengancam kesehatan sang peternak
akibat terpapar mikroorganisme patogen di sekitarnya, tetapi
juga merusak kualitas kesehatan daging ternak itu.
Pisau atau mesin pemotong hewan ternak harus dibersihkan secara
teratur, darah dan daging ternak yang tercecer di lantai harus
secepatnya dibersihkan. Darah dan daging yang sangat kaya
protein itu justru menjadi nutrisi bagi mikroorganisme patogen.
Agar tidak menimbulkan bau yang sangat menyengat hidung (sumber
penyakit) akibat buruknya kinerja instalasi limbah, maka instalasi
pengolahan air limbah atau limbah padat dari RPH harus benar-benar
dioperasikan sesuai prosedur.
Pengawetan untuk memperpanjang waktu simpan daging, hasilnya
harus tidak mengubah cita rasa dan kandungan gizinya. Pengawetan
kebanyakan dilakukan secara kimiawi (ditambah natrium nitrit),
atau secara fisik (pemanasan untuk sterilisasi). Pengemasan
daging juga harus dilakukan secara sempurna. Guna meminimalisasikan
kontak mikroorganisme patogen yang mungkin tersebar di udara
dengan daging, pengemasannya lebih baik secara vacuuming (penghampaan),
tetapi kemasan yang digunakan juga harus dijaga agar benar-benar
steril.
Pengolahan atau pemasakan daging secara benar untuk konsumsi
sendiri atau dijual, memegang peranan penting karena dapat
mencegah pencemaran mikroorganisme patogen pada daging. Hal
ini harus diawali dengan mencuci tangan sebersih mungkin.
Pemotongan daging mentah dan daging yang sudah matang harus
memakai landasan dan pisau yang berbeda, bahkan pisau dan
talenan itu sebelumnya harus dicuci dengan sabun dan air panas.
Daging yang dimasak minimal harus mencapai suhu 80 derajat
Celsius pada bagian dalam daging. Perubahan warna pada daging
ketika pemasakan tidak menjamin adanya tingkat kematangan
daging.
Kuah atau bumbu yang sudah dicampur ketika memasak daging
yang masih mentah, sebaiknya tidak digunakan lagi waktu mengolah
daging yang matang. Ketika daging hendak disajikan, hendaknya
digunakan piring yang berbeda antara piring yang dipakai mengolah
daging mentah dengan piring untuk daging yang sudah matang.
Hal tersebut untuk mencegah pencemaran silang mikroorganisme
patogen dari daging mentah ke dalam daging yang sudah matang.
Daging yang tersisa dan masih akan dikonsumsi lagi, harus
didinginkan dulu dalam kulkas pada suhu kurang dari 5 derajat
Celsius sesudah terpapar udara bebas selama maksimum dua jam.
Masyarakat kini harus ekstra waspada terhadap kualitas daging
yang beredar di pasaran. Guna mencegah serangan antraks, konsumen
harus selektif sebelum memutuskan untuk membeli daging. Daging
yang berkualitas baik kebanyakan memiliki ciri-ciri warna
cerah, aroma yang segar, dan tekstur serta serat yang lembut
masih terlihat dengan jelas. Daging yang sudah tercemar antraks
berpotensi untuk menyebarkan bakteri patogen ini dan bisa
menimbulkan wabah penyakit yang meluas. Daging memang relatif
lebih mahal harganya dibandingkan bahan pangan berprotein
tinggi lainnya seperti telur dan ikan. Tetapi jika hewan ternak
seperti kambing /sapi kedapatan sakit atau mati secara tidak
wajar, tidak boleh dikonsumsi apalagi diperdagangkan.
Menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah, melalui vaksinasi
ternak yang dilakukan Dinas Pertanian dan Peternakan di daerah,
untuk menjamin kesehatan dan kehalalan daging yang beredar
di masyarakat. Di samping itu, guna mencegah serangan antraks
dan penyakit lain pada umumnya, kita harus menjaga kebersihan
lingkungan, mengolah bahan pangan secara benar, memperkuat
daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi serta
bebas penyakit, juga membiasakan gaya hidup sehat dalam kegiatan
sehari-hari.
Atas munculnya kasus antraks di Bogor belum lama ini, pihak
Pemda DKI Jakarta sepatutnya bersikap waspada. Meskipun selama
ini semua daging yang masuk dan diperjualbelikan di Jakarta
harus memiliki surat resmi yang menyatakan aman dari penyakit
antraks, tetapi pihak Dinas Pertanian dan Peternakan DKI Jakarta
lebih baik melakukan inspeksi mendadak ke RPH-RPH, sementara
pihak PD Pasar Jaya perlu memantau pasar-pasar tradisional.
Semua pihak harus menjamin bahwa hewan ternak potong benar-benar
bebas dari penyakit antraks khususnya dan penyakit hewan lain
pada umumnya. Bahkan, jika perlu, jaminan bebas antraks tersebut
harus secepatnya disosialisasikan di wilayah Jadebotabek agar
warga masyarakatnya tidak merasa was-was untuk membeli atau
mengonsumsi daging
|
|
Tujuh
Daerah di Jabar Endemi Antraks |
|
Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Purwakarta melakukan
pengawasan ketat terhadap arus lalin ternak. Tujuannya? Sedikitnya
tujuh kota/kabupaten di Provinsi Jawa Barat, merupakan daerah
endemis antraks. Ketujuh daerah itu pun tak bisa bebas dari
serangan virus antraks. Virus bacillius penyebab penyakit
antraks itu, mampu bertahan hidup hingga ratusan tahun bila
sudah jatuh ke tanah.
Ketujuh daerah itu adalah, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota
Depok, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta,
dan Kabupaten Subang. Daerah tersebut sudah lama menjadi daerah
endemis antraks. ''Virus antraks itu kalau jatuh ke tanah
akan membentuk spora dan bisa bertahan sampai ratusan tahun,''
ujar Kasubdin Kesehatan Hewan Dinas Peternakan (Disnak) Jabar,
Musny Suatmodjo
Menurut Musny, di ketujuh kota/kabupaten itu, memang tidak
semua kecamatannya menjadi endemis antraks. Misalnya, katanya
menjalaskan, di Kabupaten Bogor ada sembilan kecamatan dan
15 desa yang termasuk daerah endemis. Sedangkan di Bekasi,
ada satu desa dan satu kecamatan yang menjadi daerah endemis.
''Virus antraks, ditemukan di Jabar tepatnya di daerah Cibinong
Kabupaten Bogor pada 1961-1962. Daerah Bogor memiliki daerah
endemis terbanyak,'' katanya menjelaskan.
Saat ini, kata Musny, di Bogor terdapat 78 ribu ternak yang
rawan tertular virus antraks. Binatang ternak itu adalah kambing,
kerbau, domba, dan sapi.''Daerah tersebut, tidak layak untuk
ternak sapi, kambing atau kerbau. Namun, ayam tidak akan terkena
virus antraks karena kuat terhadap virus itu,'' ujarnya menandaskan.
Dikatakan Musny, saat ini, di Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten
Bogor, sudah dibentuk tujuh posko untuk mengawasi keluar masuknya
hewan ternak. Di daerah itu, kata dia, hewan ternak dilarang
untuk masuk dan keluar. Sedangkan untuk daerah lain, kata
dia, aktivitas keluar masuk hewan ternak masih diperbolehkan.
''Sejak jauh hari, kami sudah memberikan peringatan kepada
warga di daerah Babakan Madang itu, untuk berhati-hati bila
mengonsumsi daging ternak,'' katanya menandaskan.
Selain mendirikan posko, kata Musny menambahkan, Disnak Jabar
juga sudah melakukan vaksinasi untuk 11 ribu ekor ternak yang
ada di Kabupaten Bogor. Sedangkan di Desa Citaringgol, Kacamatan
Babakan Madang itu, diperkirakan terdapat 200 ternak yang
terkena antraks dari 11 ribu populasi.
Gubernur Jabar, kata Musny menjelaskan, sudah melakukan antisipasi
penyebaran penyakit antraks ini dengan memberikan vaksin antraks
sebanyak 200 ribu dosis. Vaksin itu, kata dia, terutama akan
diberikan ke tujuh kota/kabupaten yang rawan. ''Dari mulai
tahun 2001 hingga kini, kasus ini menyebabkan tujuh orang
warga meninggal,'' katanya menandaskan.
Sementara itu, dari Kabupaten Purwakarta dikabarkan, Dinas
Peternakan dan Perikanan setempat, melakukan pengawasan ekstra
ketat terhadap arus lalu lintas ternak. Apalagi, daerah ini
pun menjadi salah satu daerah endemi antraks.''Kami lebih
memperketat pemeriksaan lalu lintas ternak,'' kata Kepala
Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Purwakarta, Drh Sri
Wuryasturati, kepada Republika, Rabu (27/10).
Menurut Sri, pemeriksaan lalu lintas ternak yang dimaksud
berupa pemeriksaan surat bebas penyakit hewan dan pemeriksaan
klinis sebelum dimasukkan ke rumah potong hewan (RPH) atau
setelah dari (RPH) ke pasar. Sri mengakui, Purwakarta termasuk
daerah endemi antraks. Daerah kantong antraks itu seperti
di Kecamatan Cibatu, Kecamatan Maniis, Tegal Waru, Bungur
Sari, dan sebagian desa di Kecamatan Pasawahan. Namun, dirinya
mengaku, terus konsisten melakukan vaksinasi sebanyak dua
kali setahun.
Selain itu, pihaknya juga telah menyebarkan surat edaran dan
leaflet mengenai antraks kepada seluruh camat, kades, lurah
serta warga. ''Dengan adanya surat edaran ini, kami meminta
kepada masyarakat yang akan melakukan pemotongan, untuk melapor
kepada kami untuk dilakukan pemeriksaan,'' katanya menandaskan.
Sri mengaku, tindakan ketat dalam pengawasan ini, dilakukan
untuk menghindari terulangnya kejadian wabah antraks yang
menyerang burung unta pada 1999 lalu
|
| |
|
|
|
|