Infeksi
>> Penyakit


Direktur Jenderal PPM - PL
Halaman Utama
Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial
Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease
Informasi Penelitian
Profile RSPI - SS
Dokter - dokter di RSPI - SS
Sejarah RSPI - SS


Rumah Sakit Pusat Nasional Penyakit Infeksi
Tim Redaksi infeksi.com

 Plasmid - Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease

Kupin - Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial


 
Halaman Utama Informasi mengenai penyakit - penyakit infeksi Informasi mengenai Imunisasi Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease Informasi Penelitian Profile RSPI - SS Dokter - dokter di RSPI - SS Sejarah RSPI - SS  

 

ANTHRAX  | DIARE  | DHF/DBD  |   D. CHIKUNGUYA | FILARIASIS   | FLU BURUNG |   HEPATITIS  | HIV/AIDS  |   J. ENCEPHALITIS  | LEPTOSPIRA | MALARIA  | NAPZA   | PNEUMONIA  |  SAPI GILA | SARS  |  TUBERKULOSIS |  TOXOPLASMOSIS 

Membebaskan Masyarakat dari Wabah Antraks


Pemerhati Masalah Sosial dan Kesehatan Lingkungan, Mantan Staf Peneliti Depkes Seperti biasanya, setiap bulan puasa, terlebih menjelang Idul Fitri, permintaan daging di seluruh wilayah Jakarta selalu naik, karena terjadi peningkatan yang sangat signifikan pada konsumsi daging. Untuk bulan puasa dan lebaran kali ini, warga DKI Jakarta dan sekitarnya perlu waspada karena dua alasan. Pertama, ini terkait dengan pembuangan daging impor ilegal di TPA Bantar Gebang beberapa waktu lalu. Si pasar tradisional Bekasi dan Karawang telah ditemukan dan disita puluhan ton daging impor ilegal yang jelas sudah rusak kebersihan dan kesehatannya.
Kedua, kasus tewasnya enam warga Desa Citaringgul, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, yang menurut petugas Badan Penelitian Veteriner Bogor, diduga kuat terserang antraks yang telah mencemari daging kambing yang mereka konsumsi karena Bogor termasuk daerah endemi antraks.
Penyakit antraks disebabkan bacillus anthracis. Bakteri ini bertahan di lingkungan yang tak cocok untuk berkembang biak dengan membentuk spora. Spora antraks bisa bertahan hingga puluhan tahun dalam tanah dan menjadi bentuk bakteri kembali jika kondisi lingkungannya mendukung. Bahaya serangan bakteri antraks tergantung pada kekuatan kapsul pelindung dan produksi racunnya. Kapsul pelindung menentukan daya tahan bakteri terhadap serangan sistem imunitas tubuh, sementara produksi racun menentukan daya bunuh antraks. Sumber penularannya bukan hanya hewan, tetapi juga tanah, sayuran, atau air yang tercemar spora antraks.
Serangan antraks ini harus kita waspadai karena dapat terjadi melalui tiga cara. Pertama, sekitar 95 persen infeksi berlangsung melalui kulit yang teriris atau tergores, bersifat fatal, dan hanya 20 persen dari korban yang tertolong. Kedua, jika seseorang memakan daging yang tercemar antraks, lebih fatal lagi karena 25-60 persen korbannya tak tertolong. Ketiga, meski spora antraks sangat jarang terbang ke udara bebas, namun fatal jika sempat terhirup manusia karena 99 persen korban selalu meninggal.
Gejala awal serangan antraks dapat dilihat seperti terkena flu dan batuk kering. Sesudah sepekan, penderita akan susah bernapas, keluar keringat berlebihan, dan kulit membiru. Setelah sembilan hari, akan terjadi kegagalan kerja sistem pernapasan dan jantung. Karenanya, jika gejala-gejala tersebut sudah terlihat, penderita harus segera berobat ke dokter atau dibawa ke rumah sakit terdekat.
Sangat disesalkan, sejauh ini di Indonesia banyak rumah pemotongan hewan (RPH) yang sangat rendah tingkat kebersihannya. Sering ditemukan berbagai sarana dan prasarana RPH yang tidak higienis dan saniter. Ini bukan hanya mengancam kesehatan sang peternak akibat terpapar mikroorganisme patogen di sekitarnya, tetapi juga merusak kualitas kesehatan daging ternak itu.
Pisau atau mesin pemotong hewan ternak harus dibersihkan secara teratur, darah dan daging ternak yang tercecer di lantai harus secepatnya dibersihkan. Darah dan daging yang sangat kaya protein itu justru menjadi nutrisi bagi mikroorganisme patogen. Agar tidak menimbulkan bau yang sangat menyengat hidung (sumber penyakit) akibat buruknya kinerja instalasi limbah, maka instalasi pengolahan air limbah atau limbah padat dari RPH harus benar-benar dioperasikan sesuai prosedur.
Pengawetan untuk memperpanjang waktu simpan daging, hasilnya harus tidak mengubah cita rasa dan kandungan gizinya. Pengawetan kebanyakan dilakukan secara kimiawi (ditambah natrium nitrit), atau secara fisik (pemanasan untuk sterilisasi). Pengemasan daging juga harus dilakukan secara sempurna. Guna meminimalisasikan kontak mikroorganisme patogen yang mungkin tersebar di udara dengan daging, pengemasannya lebih baik secara vacuuming (penghampaan), tetapi kemasan yang digunakan juga harus dijaga agar benar-benar steril.
Pengolahan atau pemasakan daging secara benar untuk konsumsi sendiri atau dijual, memegang peranan penting karena dapat mencegah pencemaran mikroorganisme patogen pada daging. Hal ini harus diawali dengan mencuci tangan sebersih mungkin. Pemotongan daging mentah dan daging yang sudah matang harus memakai landasan dan pisau yang berbeda, bahkan pisau dan talenan itu sebelumnya harus dicuci dengan sabun dan air panas. Daging yang dimasak minimal harus mencapai suhu 80 derajat Celsius pada bagian dalam daging. Perubahan warna pada daging ketika pemasakan tidak menjamin adanya tingkat kematangan daging.
Kuah atau bumbu yang sudah dicampur ketika memasak daging yang masih mentah, sebaiknya tidak digunakan lagi waktu mengolah daging yang matang. Ketika daging hendak disajikan, hendaknya digunakan piring yang berbeda antara piring yang dipakai mengolah daging mentah dengan piring untuk daging yang sudah matang. Hal tersebut untuk mencegah pencemaran silang mikroorganisme patogen dari daging mentah ke dalam daging yang sudah matang. Daging yang tersisa dan masih akan dikonsumsi lagi, harus didinginkan dulu dalam kulkas pada suhu kurang dari 5 derajat Celsius sesudah terpapar udara bebas selama maksimum dua jam.
Masyarakat kini harus ekstra waspada terhadap kualitas daging yang beredar di pasaran. Guna mencegah serangan antraks, konsumen harus selektif sebelum memutuskan untuk membeli daging. Daging yang berkualitas baik kebanyakan memiliki ciri-ciri warna cerah, aroma yang segar, dan tekstur serta serat yang lembut masih terlihat dengan jelas. Daging yang sudah tercemar antraks berpotensi untuk menyebarkan bakteri patogen ini dan bisa menimbulkan wabah penyakit yang meluas. Daging memang relatif lebih mahal harganya dibandingkan bahan pangan berprotein tinggi lainnya seperti telur dan ikan. Tetapi jika hewan ternak seperti kambing /sapi kedapatan sakit atau mati secara tidak wajar, tidak boleh dikonsumsi apalagi diperdagangkan.
Menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah, melalui vaksinasi ternak yang dilakukan Dinas Pertanian dan Peternakan di daerah, untuk menjamin kesehatan dan kehalalan daging yang beredar di masyarakat. Di samping itu, guna mencegah serangan antraks dan penyakit lain pada umumnya, kita harus menjaga kebersihan lingkungan, mengolah bahan pangan secara benar, memperkuat daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi serta bebas penyakit, juga membiasakan gaya hidup sehat dalam kegiatan sehari-hari.
Atas munculnya kasus antraks di Bogor belum lama ini, pihak Pemda DKI Jakarta sepatutnya bersikap waspada. Meskipun selama ini semua daging yang masuk dan diperjualbelikan di Jakarta harus memiliki surat resmi yang menyatakan aman dari penyakit antraks, tetapi pihak Dinas Pertanian dan Peternakan DKI Jakarta lebih baik melakukan inspeksi mendadak ke RPH-RPH, sementara pihak PD Pasar Jaya perlu memantau pasar-pasar tradisional. Semua pihak harus menjamin bahwa hewan ternak potong benar-benar bebas dari penyakit antraks khususnya dan penyakit hewan lain pada umumnya. Bahkan, jika perlu, jaminan bebas antraks tersebut harus secepatnya disosialisasikan di wilayah Jadebotabek agar warga masyarakatnya tidak merasa was-was untuk membeli atau mengonsumsi daging


Tujuh Daerah di Jabar Endemi Antraks

Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Purwakarta melakukan pengawasan ketat terhadap arus lalin ternak. Tujuannya? Sedikitnya tujuh kota/kabupaten di Provinsi Jawa Barat, merupakan daerah endemis antraks. Ketujuh daerah itu pun tak bisa bebas dari serangan virus antraks. Virus bacillius penyebab penyakit antraks itu, mampu bertahan hidup hingga ratusan tahun bila sudah jatuh ke tanah.
Ketujuh daerah itu adalah, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Subang. Daerah tersebut sudah lama menjadi daerah endemis antraks. ''Virus antraks itu kalau jatuh ke tanah akan membentuk spora dan bisa bertahan sampai ratusan tahun,'' ujar Kasubdin Kesehatan Hewan Dinas Peternakan (Disnak) Jabar, Musny Suatmodjo
Menurut Musny, di ketujuh kota/kabupaten itu, memang tidak semua kecamatannya menjadi endemis antraks. Misalnya, katanya menjalaskan, di Kabupaten Bogor ada sembilan kecamatan dan 15 desa yang termasuk daerah endemis. Sedangkan di Bekasi, ada satu desa dan satu kecamatan yang menjadi daerah endemis. ''Virus antraks, ditemukan di Jabar tepatnya di daerah Cibinong Kabupaten Bogor pada 1961-1962. Daerah Bogor memiliki daerah endemis terbanyak,'' katanya menjelaskan.
Saat ini, kata Musny, di Bogor terdapat 78 ribu ternak yang rawan tertular virus antraks. Binatang ternak itu adalah kambing, kerbau, domba, dan sapi.''Daerah tersebut, tidak layak untuk ternak sapi, kambing atau kerbau. Namun, ayam tidak akan terkena virus antraks karena kuat terhadap virus itu,'' ujarnya menandaskan.
Dikatakan Musny, saat ini, di Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, sudah dibentuk tujuh posko untuk mengawasi keluar masuknya hewan ternak. Di daerah itu, kata dia, hewan ternak dilarang untuk masuk dan keluar. Sedangkan untuk daerah lain, kata dia, aktivitas keluar masuk hewan ternak masih diperbolehkan. ''Sejak jauh hari, kami sudah memberikan peringatan kepada warga di daerah Babakan Madang itu, untuk berhati-hati bila mengonsumsi daging ternak,'' katanya menandaskan.
Selain mendirikan posko, kata Musny menambahkan, Disnak Jabar juga sudah melakukan vaksinasi untuk 11 ribu ekor ternak yang ada di Kabupaten Bogor. Sedangkan di Desa Citaringgol, Kacamatan Babakan Madang itu, diperkirakan terdapat 200 ternak yang terkena antraks dari 11 ribu populasi.
Gubernur Jabar, kata Musny menjelaskan, sudah melakukan antisipasi penyebaran penyakit antraks ini dengan memberikan vaksin antraks sebanyak 200 ribu dosis. Vaksin itu, kata dia, terutama akan diberikan ke tujuh kota/kabupaten yang rawan. ''Dari mulai tahun 2001 hingga kini, kasus ini menyebabkan tujuh orang warga meninggal,'' katanya menandaskan.
Sementara itu, dari Kabupaten Purwakarta dikabarkan, Dinas Peternakan dan Perikanan setempat, melakukan pengawasan ekstra ketat terhadap arus lalu lintas ternak. Apalagi, daerah ini pun menjadi salah satu daerah endemi antraks.''Kami lebih memperketat pemeriksaan lalu lintas ternak,'' kata Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Purwakarta, Drh Sri Wuryasturati, kepada Republika, Rabu (27/10).
Menurut Sri, pemeriksaan lalu lintas ternak yang dimaksud berupa pemeriksaan surat bebas penyakit hewan dan pemeriksaan klinis sebelum dimasukkan ke rumah potong hewan (RPH) atau setelah dari (RPH) ke pasar. Sri mengakui, Purwakarta termasuk daerah endemi antraks. Daerah kantong antraks itu seperti di Kecamatan Cibatu, Kecamatan Maniis, Tegal Waru, Bungur Sari, dan sebagian desa di Kecamatan Pasawahan. Namun, dirinya mengaku, terus konsisten melakukan vaksinasi sebanyak dua kali setahun.
Selain itu, pihaknya juga telah menyebarkan surat edaran dan leaflet mengenai antraks kepada seluruh camat, kades, lurah serta warga. ''Dengan adanya surat edaran ini, kami meminta kepada masyarakat yang akan melakukan pemotongan, untuk melapor kepada kami untuk dilakukan pemeriksaan,'' katanya menandaskan. Sri mengaku, tindakan ketat dalam pengawasan ini, dilakukan untuk menghindari terulangnya kejadian wabah antraks yang menyerang burung unta pada 1999 lalu

 


Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com


Situs Indonesia Sehat [ www.infokes.com ]

Rumah Sakit Pusat Nasional Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso Jkt


Situs Santakin [ www.santakin.com ]

Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com

 

UTAMA  |  PENYAKIT  |  IMUNISASI  |  KUPIN  |  PLASMID  |  PENELITIAN  |  PROFILE  |  S D M  |  SEJARAH  |  RSPNPI-SS  |  REDAKSI