| |
DEMAM BERDARAH
|
Demam yang akut, selama 2 hingga 7 hari,
dengan 2 atau lebih gejala – gejala berikut : nyeri
kepala, , nyeri otot, nyeri persendian, bintik-bintik pada
kulit sebagai manifestasi perdarahan dan leukopenia.
Kriteria Untuk Diagnosa Laboratorium
Satu atau lebih dari hal-hal berikut :
-
Isolasi virus dengue dari serum,
plasma, leukosit ataupun otopsi.
-
Ditemukannya anti bodi IgG ataupun
AgM yang meningkatkan tinggi titernya mencapai empat
kali lipat terhadap satu atau lebih antigen dengue dalam
spesimen serta berpadangan.
-
Dibuktikan adanya virus dengue dari
jaringan otopsi dengan cara immunokimiawi atau dengan
cara immuno-flouresens, ataupun didalam spesimen serum
dengan uji ELISA
-
Dibuktikan dengan keberadaan gambaran
genomic sekuen virus dari jaringan otopsi, sediaan serum
atau cairan serebro spinal (CSS), dengan uji Polymerase
Chain Reaction ( PCR).
Dicurigai sebagai kasus : Yaitu kasus
yang jelas dengan melihat gejala klinisnya.
Kemungkinan sebagai Kaus : ialah kasus yang menunjukkan
gejala klinis dan didukung oleh satu atau lebih dari ;
-
Uji serologi berupa munculnya titer
anti bodi dengan hemaglutinasi – inhibisi 1280
atau lebih yang sebanding dengan titer positif IgG dengan
uji ELISA, ataupun titer positif zat anti bodi IgM pada
fase akhir yang akut pada fase konvalesens.
-
Munculnya kasus DD lain dilokasi
dan waktu yang sama
Kasus yang Pasti : ialah kasus yang secara klinis benar,
serta didukung pula kebenarannya secara laboratoris.
Kriteria Untuk Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Sindrom
Syok Dengue (SSD)
-
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah
kasus tersangka ataupun kasus yang pasti dari dengue
dengan kecenderungan perdarahan disertai adanya satu
atau lebih dari hal – hal berikut :
-
Tes Tourniquet yang positif.
-
Adanya perdarahan dalam bentuk
petekiae, ekimosis atau purpura.
-
Perdarahan selaput lendir mukosa,
alat cerna gastrrointestinal, tempat suntikan atau
ditempat lainnya.
-
Hematemesis atau melena
-
Dan trombositopenia ( < 100.000
per mm3)
-
Dan perembesan plasma yang erat
hubungannya dengan kenaikan permiabilitas dinding
pembuluh darah, yang ditandai dengan munculya satu
atau lebih dari :
-
Kenaikan nilai 20 % (hematokrit
atau lebih tergantung umur dan jenis kelamin)
-
Menurunnya nilai hematokrit
dari nilai dasar 20 % atau lebih sesudah pengobatan.
-
Tanda – tanda perembesan
plasma ( yaitu, efusi pleura, asites, hipoproteinaemia
2. Sindrom Syok Dengue (SSD)
Mencakup semua kriteria DBD diatas ditambah lagi dengan
munculnya gangguan sirkulasi darah dengan tanda-tanda
denyut nadi menjadi lemah dan cepat, menyempitnya tekanan
nadi (20 mmHg atau kurang) atau hipotesi berdasar umur,
kedinginan, keringat dingin dan gelisah.
|
|
Dokter Ahli Anak: Menyesatkan, Jambu Biji Obat Demam Berdarah
|
Mataram- Rol --Ketua
SMF Anak Rumah Sakit Umum (RSU) Mataram, Dr dr Hananto Wiryo
SpA mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya dengan
pendapat bahwa buah jambu biji merupakan obat ampuh untuk
menyembuhkan penyakit demam berdarah.
"Anjuran memakan buah jambu biji sebagai obat demam berdarah
sangat menyesatkan masyarakat, karena obat untuk demam berdarah
belum ada, dan penyembuhannya sangat tergantung kepada kecepatan
perawatan," katanya di Mataram, Rabu.
Kepada masyarakat diingatkan agar setiap anggota keluarganya
mengalami gejala panas tinggi yang tidak turun-turun untuk
segera diperiksakan ke pusat kesehatan masyarakat (puskesmas)
untuk mengetahui secara pasti penyakit tersebut. "Ini
dimaksudkan agar penanganannya dapat dilakukan secara tepat
dan cepat, jangan sampai terlambat, karena akibat keterlambatan
akan sangat fatal bagi jiwa pasien," katanya. Virus demam
berdarah yang disebarkan oleh nyamuk 'Aedes Aegypti' tersebut
tidak bisa disembuhkan dengan hanya memakan buah jambu biji.
"Anjuran orang agar mereka yang terkena demam berdarah
memakan jambu biji sebagai obat penyembuh sangat menyesatkan.
Bisa saja orang itu justru tambah menderita sakit dan mempercepat
kematiannya," ujarnya.
Hananto menyatakan anjuran tersebut sama sekali tidak bisa
dibenarkan dan menyesatkan masyarakat, karena hingga saat
ini belum ada hasil penelitian yang membenarkan bahwa buah
jambu biji sebagai obat penyembuh demam berdarah. Virus demam
berdarah yang ditularkan nyamuk 'Aedes Aegypti' menyerang
sel darah merah dalam tubuh, sehingga penyembuhannya hanya
menambah sel darah merah yang berkurang di samping perawatan
lainnya.
Hingga saat ini belum ada obat untuk mematikan 'virus dengue'
yang menyebabkan penyakit demam berdarah tersebut. Untuk penyembuhannya
sangat tergantung pada kecepatan penderita dibawa ke rumah
sakit serta ketepatan pihak rumah sakit menolong pasien. "Tidak
ada jaminan dengan dibawa ke rumah sakit pasien tersebut sembuh,
karena kalau pasiennya sudah parah, artinya terlambat dibawa,
maka pihak rumah sakit tidak bisa berbuat banyak," ujarnya.ant/mim
|
|
Presiden Megawati Kunjungi Penderita Demam Berdarah
|
KUNJUNGAN PRESIDEN:
Presiden Megawati Soekarnoputri saat mengunjungi seorang anak
penderita demam berdarah di RS Persabahatan, Rawamangun, Jakarta.
Sedikitnya 300 orang meninggal dan ribuan lainnya dirawat
di rumah sakit akibat wabah demam berdarah.
Presiden Megawati Soekarnoputri, Senin, mengunjungi penderita
wabah demam berdarah di Rumah Sakit Persahabatan, Rawamangun,
Jakarta Timur. Presiden Megawati menganjurkan masyarakat untuk
lebih sering membersihkan dan menguras tempat-tempat penampungan
air guna menghindarkan meluasnya penyakit demam berdarah dengue
(DBD).
"Kalau bisa ibu-ibu lebih sering menguras bak-bak penampungan
air," kata Megawati ketika berdialog dengan keluarga
penderita DBD di RS Persahabatan, Jaktim, Senin. Megawati
yang didampingi suaminya Taufik Kiemas serta Menkes Achmad
Sujudi, Senin pagi menjenguk puluhan penderita DBD yang sedang
menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.
Dirut RS Persahaatan Hardi Yusa melaporkan bahwa sampai saat
ini rumah sakit tersebut telah merawat 88 anak penderita,
serta 106 dewasa sehingga jumlah adalah 194 orang. Dari jumlah
tersebut dua di antaranya meninggal yaitu seorang anak dan
satu dewasa.
Dalam kunjungan sektiar dua jam tersebut Megawati melihat
puluhan anak terpaksa berbaring di tempat-tempat tidur lipat
karena terbatasnya ruang rawat inap bagi para penderita. Ketika
berdialog dengan seorang anak lelaki yang masih duduk di Sekolah
Dasar, Megawati berkata, "Lebih baik kamu sekarang kegerahan
daripada digigit nyamuk lagi." Ucapan spontan itu dilontarkan
Megawati karena ruang perawatan itu terasa panas akibat terlalu
banyaknya pasien.
Sampai sekarang kasus DBD di tanah air telah mencapai 19.031
kasus, dan 336 di antara para korban itu telah meninggal dunia.
Menurun
Jumlah korban meninggal akibat demam berdarah dengue (DBD)
di Indonesia telah menurun dari 2.0 persen pada pertengahan
Februari 2004 menjadi 1,8 persen pada akhir Februari 2004,
kata Menkes Achmad Sujudi.
"Penurunan kematian DBD karena para korban cepat dibawa
ke rumah sakit (RS) dan adanya peningkatan kegiatan masyarakat
membersihkan sarang nyamuk (PSN)," katanya.
Seusai melantik 15 pejabat eselon II di lingkungan Depkes,
Menkes mengatakan, data jumah DBD (19/2) sekitar 9.000 orang,
meninggal 188 orang atau kematiannya dua persen, sedang
data (27/2) jumlahnya 17.289 orang, meninggal 312 orang
atua kematiannya 1,8 persen.
Menkes mengingatkan masyarakat, agar segera membawa ke RS
jika ada keluarganya menderita gejala DBD, seperti demam
terus menerus, sakit ulu hati, otot, sakit kepala. "Jika
penderita sampai syok, pingsan dan mengeluarkan pendarahan,
maka tim medis RS akan mengalami kesulitan untuk menolong,"
katanya. Menkes menyatakan, saat ini masih ada tiga provinsi
yang jumlah penderita DBD masih tinggi atau naik dibanding
selama Januari 2004 yakni DKI, Bali, dan NTB.
"Depkes minta Pemda DKI, Bali, dan NTB untuk meningkatkan
pertolongan penderita DBD dan menggalakkan warganya pada
kegiatan PSN, " katanya.
Sementara itu, jumlah penderita DBD 1 Januari-29 Februari
2004 di 25 provinsi mencapai 17.707 orang, 322 orang diantaranya
meninggal, sedang penderita DBD di DKI sebanyak 6.431 orang,
58 diantaranya meninggal.
Menkes menegaskan, Depkes telah mengalokasikan dana Rp50
miliar untuk penanggulangan KLB DBD di seluruh Indonesia,
sehingga tidak dibenarkan jika RS menolak pasien DBD dari
kalangan miskin.
"Seluruh RS khususnya milik pemerintah harus menerima
pasien DBD dari kalangan miskin karena total biaya pengobatan
diganti pemerintah," katanya.Pejabat eselon II Depkes
yang dilantik, antara lain Suprijadi, SKM (Kepala Biro Umum
dan Humas), dr Gunawan Setiadi, MPH (Kepala Biro Perencanaan
dan Anggaran) dan Bambang Hartono, SKM, MSc (Kepala Pusat
Promosi Kesehatan). (Ant/O-1),Kompas.com.
|
|
Ekstrak Daun Jambu Biji Bisa Mengatasi DBD
|
10/3/2004 19:01 —
Konferensi pers BPOM beserta Fakultas Kedokteran Unair. Merujuk
hasil kerja sama penelitian Fakultas Kedokteran Unair dan
BPOM, ekstrak daun jambu biji bisa menghambat pertumbuhan
virus dengue. Bahan itu juga meningkatkan trombosit tanpa
efek samping. Masyarakat mesti memperhatikan informasi penting
ini. Berdasarkan hasil kerja sama dalam uji pre klinis Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur dan
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang dilansir di Jakarta,
Rabu (10/3) siang, ekstrak daun jambu biji dipastikan bisa
menghambat pertumbuhan virus dengue penyebab demam berdarah
dengue (DBD). Bahan itu juga mampu meningkatkan jumlah trombosit
hingga 100 ribu milimeter per kubik tanpa efek samping. Peningkatan
tersebut diperkirakan dapat tercapai dalam tempo delapan hingga
48 jam setelah ekstrak daun jambu biji dikonsumsi.
Menurut Kepala BPOM dokter Sampurno, sampai saat ini obat
demam berdarah memang belum ditemukan. Tak heran bila pola
pengobatannya pun hanya bersifat pendukung semata. Sampurno
menambahkan, setelah uji lebih lanjut yang dilakukan tim peneliti
yang dipimpin Profesor Doktor Sugeng Sugiarto itu, diharapkan
ekstrak daun jambu biji dapat dijadikan obat antivirus dengue
berupa suplemen yang dipasarkan ke masyarakat. Di antaranya
dalam bentuk kapsul buat orang dewasa dan sirup untuk anak-anak.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Liputan6.com dari berbagai
sumber, sebenarnya di Bangkok, Thailand, Badan Kesehatan Dunia
(WHO) pernah berhasil membuat vaksin Dengue Divalen dan Trivalen,
buat mengatasi wabah demam berdarah alias Dengue Hemorrhagic
Fever. Namun sampai saat ini, vaksin tersebut belum dipasarkan
di Indonesia. Alternatif yang muncul adalah memperbanyak minum
air putih untuk mengembalikan homeostatis (kecenderungan menetap
dalam keadaan tubiuh normal dalam organisme) cairan tubuh.
Solusi lainnya adalah pasien diberi jus bambu biji yang memiliki
kandungan vitamin C dan vitamin A yang tinggi. Vitamin C berfungsi
dalam meningkatkan kecerdasan sel, sedangkan vitamin A berfungsi
menjaga regenerasi sel agar selalu tepat waktu.
Kehadiran dua vitamin ekstra dalam ekstrak jambu biji tadi
amat penting. Merujuk pada contoh kasus uji coba, pasien DBD
yang menerima kapsul ekstrak jambu biji berdosis 3X2 setiap
hari selama lima hari, mendapat pasokan trombosit baru lebih
besar dari 100 ribu per ml pada hari terakhir. Itu lantaran
asam amino dalam jambu biji mampu membentuk trombopoitin dari
serin dan threonin, yang berfungsi dalam proses maturasi megakariosit
menjadi trombosit.(BMI/Tim Liputan 6 SCTV)
|
|
Depkes: Stok Infus Masih Mencukupi
|
Stok cairan infus tiba
di RS Tarakan, Jakpus. 09/3/2004 12:00 — Kondisi RS
Tarakan yang sempat kekurangan cairan infus, kini sudah teratasi
lewat persediaan yang dimiliki Dinas Kesehatan Provinsi DKI
Jakarta. Wabah DBD merenggut tiga nyawa di Maluku Utara.
Masalah krisis cairan infus yang sempat melanda sejumlah rumah
sakit di Jakarta pada Senin kemarin, akhirnya sudah teratasi.
Rumah sakit yang terus menerima lonjakan jumlah pasien demam
berdarah dengue (DBD) tersebut kini sudah memiliki cadangan
infus buat para pasien. Kondisi itu lantaran stok di Dinas
Kesehatan Provinsi DKI Jakarta yang masih mencukupi. "Infus
itu kurang karena pada saat ditanya memang habis. Meski, pada
saat bersamaan sudah diminta ke Dinas Kesehatan," kata
Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Sri
Astuti Suparmanto, di Jakarta, Selasa (9/3) pagi.
Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah rumah sakit yang
merawat pasien DBD mengaku kekurangan stok infus. RS Tarakan
di Jakarta Pusat, misalnya. Rumah sakit itu mengaku memerlukan
sedikitnya 800 botol cairan infus setiap hari [baca: Rumah
Sakit di Jakarta Kekurangan Cairan Infus]. Sementara persediaan
yang ada di sana mulai menipis dan hanya cukup untuk dua hari,
walau sejak awal Maret sudah menerima 5.700 botol infus dari
Dinkes DKI. Rumah sakit ini membutuhkan sedikitnya 5.000 botol
cairan infus tambahan.
Dalam kesempatan itu Sri memberi angin segar dalam kasus wabah
DBD. Menurut dia, wabah DBD diperkirakan bakal berkurang secara
signifikan dalam dua pekan mendatang. "Menurut patronnya,
DBD ini ada kecenderungan untuk menurun. Mudah-mudahan dalam
waktu dua minggu ini," ujar Sri. Walau begitu, masyarakat
dan pihak rumah sakit diminta tetap waspada. Sebab saat ini
ada indikasi merebaknya wabah diare, yang juga memerlukan
cairan infus untuk penyembuhannya. "Stok ndak boleh kosong,
selalu harus ada," cetus dia mengingatkan. Kewaspadaan
memang menjadi kunci utama mengatasi penyebaran wabah DBD
di negeri ini. Tengok saja kasus serupa yang dilaporkan telah
merenggut tiga nyawa di kawasan Ternate, Maluku Utara, baru-baru
ini. Menurut data di Rumah Sakit Umum Daerah Ternate dan RS
Hasan Busoiri, hingga kini masih ada 19 pasien DBD lainnya
yang menjalani perawatan.
Sejauh ini Gubernur Maluku Utara Thayib Armain telah membebaskan
biaya perawatan bagi para korban DBD. Pemerintah daerah setempat
juga sudah memberantas sarang nyamuk dan melakukan pengasapan
secara gratis. Berdasarkan informasi, daerah endemis DBD di
Maluku Utara tersebar di 22 kelurahan, di antaranya Kelurahan
Dupa-Dupa, Salero, dan Kelurahan Ternate Utara.
Kesiagaan serupa juga dilakukan di wilayah Banjar, Priangan
Timur, Jawa Barat. Pemda Kota Banjar dilaporkan menintensifkan
gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan abatesasi dan pengasapan
ke rumah-rumah penduduk. Kegiatan itu diutamakan di sejumlah
daerah endemis DBD. Hingga pekan ini, sebanyak 22 orang--yang
sebagian besar terdiri dari anak-anak--telah dirawat di RSUD
Banjar. Menurut data Pemda setempat, DBD di wilayah Priangan
Timur telah menewaskan tiga orang, masing-masing di Tasikmalaya,
Ciamis, dan Banjar.
Perhatian buat para penderita DBD pun tak berkurang dari waktu
ke waktu. Simak saja dalam aksi mendonorkan darah yang diselenggarakan
Pundi Amal SCTV (PD SCTV) bekerja sama dengan Palang Merah
Indonesia cabang DKI Jakarta, Selasa siang. Pada kesempatan
yang digelar kali kedua ini, PD SCTV telah mengumpulkan 200
kantong darah yang akan diserahkan ke PMI Pusat. Seluruh donor
itu disumbangkan oleh karyawan SCTV dan masyarakat di sekitar
lingkungan Gedung Grha SCTV Jakarta.
Pada kesempatan pertama, PD SCTV hanya berhasil mengumpulkan
sebanyak 150 kantong darah buat disumbang kepada para penderita
wabah DBD [baca: Balita di Semarang Meninggal Karena Demam
Berdarah]. Maklumlah, kala itu, penyelenggara hanya menyediakan
150 kantong darah, sedangkan pendaftar donor darah lebih dari
250 orang.(BMI/Tim Liputan 6 SCTV)
|
|
Para Tenaga Medis di Luar RS Siap Bantu Cegah DBD
|
5 Maret 2004, JAKARTA--MIOL: Depkes bekerjasama Ikatan
Dokter Indonesia (IDI), Perhimpunan Perawat Indonesia (PPI)
dan Palang Merah Indonesia (PMI) akan memobilisasi tenaga
medis guna membantu perawatan pasien demam berdarah dengue
(DBD), kata Menkes Achmad Sujudi. "Tenaga medis dari
IDI, PPI dan PMI akan dikirim ke RS yang memiliki banyak
penderita DBD mulai Sabtu (6/3)," katanya usai pertemuan
tentang penanggulangan DBD dengan pemda provinsi, kab/kota,
di Jakarta, Jumat. Menurut Menkes, Depkes akan memberikan
honor bagi tenaga medis bantuan dari IDI, PMI, dan PPI agar
mereka dapat mempercepat bantuan pemulihan kesehatan pasien
DBD di rumah sakit (RS).
"Depkes akan merekrut lulusan perawat yang masih menganggur
dan mahasiswa dari akademi perawat untuk menjadi tenaga
honorer membantu perawatan korban DBD di RS di berabgai
provinsi," katanya. Selain itu, para tenaga medis di
luar RS yang akan direkrut Depkes itu juga akan diikutkan
dalam penyuluhan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN)
dan gerakan kebersihan di lingkungan terdekat. Menkes menambahkan,
pendirian rumah sakit (RS) lapangan terbuat dari tenda untuk
merawat penderita DBD di DKI saat ini belum diperlukan,
karena 16 RS milik pemerintah dan 60 RS swasta di ibukota
masih mampu menampung penderita.
"Kebijaksanaan yang dilakukan menambah jumlah tempat
tidur di tiap RS dan memberikan bantuan tenaga perawat guna
merawat penderita DBD," katanya. Menkes menjelaskan,
pemerintah memprogramkan penyelesaian kejadian luar biasa
(KLB) DBD di seluruh Indonesia dalam tiga bulan mendatang.
"Target selama tiga bulan itu jumlah penderita DBD
tidak mencapai 35.000 orang dan angka kematiannya tinggal
satu persen," katanya.
Sementara itu, jumlah penderita DBD sejak 1 Januari - 5
Maret di 25 provinsi 24.349 orang, 372 orang diantaranya
meninggal, sedang jumlah DBD di DKI sebanyak 8.727 orang,
61 orang diantaranya meninggal. (Ant/O-1)
|
|
Wapres Haz: Anggaran Bidang Kesehatan Perlu Ditambah
|
JENGUK PASIEN: Wakil Presiden Hamzah Haz mengunjungi salah
seorang pasien yang terkena demam berdarah di sebuah rumah
sakit di Jakarta, Sabtu. Wabah demam berdarah telah menewaskan
sedikitnya 312 orang dan ribuan lainnya dirawat di rumah
sakit.
JAKARTA--MIOL: Wakil Presiden (Wapres) Hamzah Haz mengatakan,
kasus demam berdarah yang kini merupakan kejadian luar biasa
di Indonesia menuntut pemerintah untuk menambah alokasi
anggaran bidang kesehatan pada APBN mendatang. "Idealnya
untuk kesehatan sekitar 10-15 persen dari total anggaran,"
kata Wapres ketika mengunjungi pasien demam berdarah di
RS Budi Asih, Jaktim, Sabtu.
Wapres mengatakan saat ini anggaran bidang kesehatan hanya
sekitar tujuh persen. Menurut dia, anggaran kesehatan idealnya
hampir sama dengan anggaran bidang pendidikan yang juga
penting.
Kasus demam berdarah pada tahun ini merupakan pengalaman
berharga bagi pemerintah bahwa musibah itu bukan hanya dari
bencana alam saja, tetapi juga wabah penyakit. Oleh sebab
itu perlu dana kesehatan yang memadai.
Anggaran tersebut tentunya bukan hanya untuk pengobatan
tetapi juga untuk upaya-upaya pencegahan. "Jadi lebih
baik kita sudah sediakan anggaran yang cukup untuk itu,"
katanya.
Wapres yang didampingi Ibu Nani Hamzah Haz juga melakukan
dialog dengan beberapa orang tua pasien, serta direktur
RS Budi Asih, dr Hasanudin, dan Kepala Dinas Kesehatan DKI
Abdul Cholik Masulili. Wapres mengatakan bahwa ia telah
mendapat informasi bahwa bulan ini belum merupakan puncak
wabah demam berdarah, dan puncak itu diperkirakan baru pada
bulan Juli mendatang. Namun sekarang saja jumlah kasus demam
berdarah itu sudah 300 persen lebih banyak dibandingkan
dengan tahun sebelumnya. "Jadi ini tentunya cukup mengkhawatirkan,"
kata Wapres.
Kunjungan ke RS
Wapres Hamzah Haz, Sabtu siang, melakukan kunjungan ke sejumlah
rumah sakit yang merawat para pasien demam berdarah diantaranya
RS Budi Asih, Jakarta Timur yang kini merawat 145 pasien
penyakit tersebut. Wapres beserta Ibu Nani Hamzah Haz tiba
sekitar pukul 13.00 WIB dan langsung melakukan peninjauan
ke ruang perawatan anak-anak korban demam berdarah bersama
Direktur RS, dr Hasanudin.
RS Budi Asih sendiri tampak penuh dengan pasien demam berdarah
maupun penyakit lainnya. Menurut dr Hasanudin, hari Sabtu
ini terdaftar sebanyak 500 pasien yang berobat jalan maupun
rawat inap di RS itu. Di lantai 2 tempat perawatan anak-anak
korban demam berdarah, seluruh ruangan penuh hingga lorong-lorong
terpaksa dijadikan tempat perawatan darurat dengan penambahan
tempat tidur. "Kapasitas kami sebenarnya sudah maksimal,
tapi kami berusaha untuk tidak menolak pasien demam berdarah
yang datang," katanya.
Dikatakannya pula bahwa hingga saat ini belum ada pasien
yang ditolak dan kalaupun RS Budi Asih sudah tidak mampu
menampung lagi, maka pasien akan dirujuk ke RS lainnya.
Sementara itu karena banyaknya pasien yang dirawat, suasana
ruang perawatan tampak pengap dan fasilitas yang tersedia
hanya kipas angin saja. (Ant/O-1)
|
|
| ARTIKEL |
DHF / DBD
|
Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue
Haemorrhagic Fever (DHF) adalah suatu penyakit yang disebabkan
oleh virus Dengue Famili Flaviviridae,dengan genusnya adalah
flavivirus. Virus ini mempunyai empat serotipe yang dikenal
dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Selama ini secara
klinik mempunyai tingkatan manifestasi yang berbeda, tergantung
dari serotipe virus Dengue. Morbiditas penyakit DBD menyebar
di negara-negara Tropis dan Subtropis. Disetiap negara penyakit
DBD mempunyai manifestasi klinik yang berbeda.
Di Indonesia Penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun
1968 di Surabaya dan sekarang menyebar keseluruh propinsi
di Indonesia. Timbulnya penyakit DBD ditenggarai adanya
korelasi antara strain dan genetik, tetapi akhir-akhir ini
ada tendensi agen penyebab DBD disetiap daerah berbeda.
Hal ini kemungkinan adanya faktor geografik, selain faktor
genetik dari hospesnya. Selain itu berdasarkan macam manifestasi
klinik yang timbul dan tatalaksana DBD secara konvensional
sudah berubah.
Infeksi virus Dengue telah menjadi masalah kesehatan yang
serius pada banyak negara tropis dan sub tropis. Kejadian
penyakit DBD semakin tahun semakin meningkat dengan manifestasi
klinis yang berbeda mulai dari yang ringan sampai berat.
Manifestasi klinis berat yang merupakan keadaan darurat
yang dikenal dengan Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) dan Dengue
Shock Syndrome (DSS).
Manifestasi klinis infeksi virus Dengue termasuk didalamnya
Demam Berdarah Dengue sangat bervariasi, mulai dari asimtomatik,
demam ringan yang tidak spesifik, Demam Dengue, Demam Berdarah
Dengue, hingga yang paling berat yaitu Dengue Shock Syndrome
(DSS). Dalam praktek sehati-hari, pada saat pertama kali
penderita masuk rumah sakit tidaklah mudah untuk memprediksikan
apakah penderita Demam Dengue tersebut akan bermanifestasi
menjadi ringan atau berat. Infeksi sekunder dengan serotipe
virus dengue yang berbeda dari sebelumnya merupakan faktor
resiko terjadinya manifestasi Deman Berdarah Dengue yang
berat atau Dengue Shock Syndrome (DSS). Namun sampai saat
ini mekanisme respons imun pada infeksi oleh virus Dengue
masih belum jelas, banyak faktor yang mempengaruhi kejadian
penyakit Demam Berdarah Dengue, antara lain faktor host,
lingkugan (environment) dan faktor virusnya sendiri. Faktor
host yaitu kerentanan (susceptibility) dan respon imun.
Faktor lingkungan (environment) yaitu kondisi geografi (ketinggian
dari permukaan laut, curah hujan, angin, kelembaban, musim);
Kondisi demografi (kepadatan, mobilitas, perilaku, adat
istiadat, sosial ekonomi penduduk). Jenis nyamuk sebagai
vektor penular penyakit juga ikut berpengaruh. Faktor agent
yaitu sifat virus Dengue, yang hingga saat ini telah diketahui
ada 4 jenis serotipe yaitu Dengue 1, 2, 3 dan 4. Penelitian
terhadap epidemi Dengue di Nicaragua tahun 1998, menyimpulkan
bahwa epidemiologi Dengue dapat berbeda tergantung pada
daerah geografi dan serotipe virusnya..
Untuk menegakkan diagnosa infeksi virus Dengue diperlukan
dua kriteria yaitu kriteria klinik dan kriteria laboratorium
(WHO, 1997). Pengembangan tehnologi laboratorium untuk mendiagnosa
infeksi virus Dengue terus berlanjut hingga sensitivitas
dan spesifitasnya menjadi lebih bagus dengan waktu yang
cepat pula. Ada 4 jenis pemeriksaan laboratorium yang digunakan
yaitu : uji serologi, isolasi virus, deteksi antigen dan
deteksi RNA/DNA menggunakan tehnik Polymerase Chain Reaction
(PCR). (Mariyam, 1999).
Wabah Dengue yang baru terjadi di Bangladesh yang diidentifikasi
dengan PCR ternyata Den-3 yang dominan. Sedangkan wabah
di Salta Argentina pada tahun 1997 ditemukan bahwa serotipe
Den-2 yang menyebabkan transmisinya. Sistem surveillance
Dengue di Nicaragua pada bulan Juli hingga Desember 1998
mengambil sampel dari beberapa rumah sakit dan pusat kesehatan
(Health Center) yang terdapat pada berbagai lokasi menghasilkan
temuan 87% DF, 7% DHF, 3% DSS, 3% DSAS. Den-3 paling dominan,
Den-2 paling sedikit. Disimpulkan bahwa epidemiologi Dengue
dapat berbeda tergantung pada wilayah geografi dan serotipe
virusnya.
Virus Dengue
Virus Dengue merupakan virus RNA untai tunggal, genus flavivirus,
terdiri dari 4 serotipe yaitu Den-1, 2, 3 dan 4. Struktur
antigen ke-4 serotipe ini sangat mirip satu dengan yang
lain, namun antibodi terhadap masing-masing serotipe tidak
dapat saling memberikan perlindungan silang.. Variasi genetik
yang berbeda pada ke-4 serotipe ini tidak hanya menyangkut
antar serotipe, tetapi juga didalam serotipe itu sendiri
tergantung waktu dan daerah penyebarannya. Pada masing-masing
segmen codon, variasi diantara serotipe dapat mencapai 2,6
– 11,0 % pada tingkat nukleotida dan 1,3 – 7,7
% untuk tingkat protein (Fu et al, 1992). Perbedaan urutan
nukleotida ini ternyata menyebabkan variasi dalam sifat
biologis dan antigenitasnya.
Virus Dengue yang genomnya mempunyai berat molekul 11 Kb
tersusun dari protein struktural dan non-struktural. Protein
struktural yang terdiri dari protein envelope (E), protein
pre-membran (prM) dan protein core (C) merupakan 25% dari
total protein, sedangkan protein non-struktural merupakan
bagian yang terbesar (75%) terdiri dari NS-1 – NS-5.
Dalam merangsang pembentukan antibodi diantara protein struktural,
urutan imunogenitas tertinggi adalah protein E, kemudian
diikuti protein prM dan C. Sedangkan pada protein non-struktural
yang paling berperan adalah protein NS-1.
Vektor
Virus Dengue ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan
nyamuk Aedes (Ae.) dari ssubgenus Stegomyia. Ae. aegypti
merupakan vektor epidemi yang paling utama, namun spesies
lain seperti Ae. albopictus, Ae. polynesiensis, anggota
dari Ae. Scutellaris complex, dan Ae. (Finlaya) niveus juga
dianggap sebagai vektor sekunder. Kecuali Ae. aegyti semuanya
mempunyai daerah distribusi geografis sendiri-sendiri yang
terbatas. Meskipun mereka merupakan host yang sangat baik
untuk virus Dengue, biasanya mereka merupakan vektor epidemi
yang kurang efisien dibanding Ae. aegypti. (WHO, 2000).
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis infeksi virus Dengue pada manusia sangat
bervariasi. Spektrum variasinya begitu luas, mulai dari
asimtomatik, demam ringan yang tidak spesifik, Demam Dengue,
Demam Berdarah Dengue, hingga yang paling berat yaitu Dengue
Shock Syndrome (DSS), (Soegijanto, 2000). Diagnosis Demam
Berdarah Dengue ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis
menurut WHO tahun 1997, terdiri dari kriteria klinis dan
laboratoris. Penggunaan kriteria ini dimaksudkan untuk mengurangi
diagnosis yang berlebihan (overdiagnosis).
Kriteria Klinis
-
Demam tinggi mendadak, tanpa sebab
jelas, berlangsung terus menerus selama 1-7 hari.
-
Terdapat manifestasi perdarahan yang
ditandai dengan :
• Uji tourniquet positif
• Petekia, ekimosis, purpura
• Perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi
• Hematemesis dan atau melena
• Hematuria
- Pembesaran hati (hepatomegali).
- Manifestasi syok/renjatan
Kriteria Laboratoris :
- Trombositopeni (trombosit < 100.000/ml)
- Hemokonsentrasi (kenaikan Ht > 20%)
Manifestasi klinis DBD sangat bervariasi, WHO (1997)
membagi menjadi 4 derajat, yaitu :
- Derajat I
|
-
:
|
- Demam disertai gejala-gejala umum yang tidak
khas dan manifestasi perdarahan spontan satu-satunya
adalah uji tourniquet positif.
|
- Derajat II
|
-
:
|
- Gejala-gejala derajat I, disertai gejala-gejala
perdarahan kulit spontan atau manifestasi perdarahan
yang lebih berat.
|
- Derajat III
|
-
:
|
- Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat
dan lemah, tekanan nadi menyempit (< 20 mmHg),
hipotensi, sianosis disekitar mulut, kulit dingin
dan lembab, gelisah.
|
- Derajat IV
|
-
:
|
- Syok berat (profound shock), nadi tidak dapat
diraba dan tekanan darah tidak terukur.
|
Patogenesis dan Patofisiologi
Patogenesis DBD tidak sepenuhnya dipahami,
namun terdapat dua perubahan patofisiologis yang menyolok,
yaitu
-
Meningkatnya permeabilitas kapiler
yang mengakibatkan bocornya plasma, hipovolemia dan terjadinya
syok. Pada DBD terdapat kejadian unik yaitu terjadinya
kebocoran plasma ke dalam rongga pleura dan rongga peritoneal.
Kebocoran plasma terjadi singkat (24-48 jam).
-
Hemostasis abnormal yang disebabkan
oleh vaskulopati, trombositopeni dan koagulopati, mendahului
terjadinya manifestasi perdarahan.
Aktivasi sistem komplemen selalu dijumpai pada pasien
DBD. Kadar C3 dan C5 rendah, sedangkan C3a serta C5a meningkat.
Mekanisme aktivasi komplemen tersebut belum diketahui.
Adanya kompleks imun telah dilaporkan pada DBD, namun
demikian peran kompleks antigen-antibodi sebagai penyebab
aktivasi komplemen pada DBD belum terbukti.
Selama ini diduga bahwa derajat keparahan penyakit DBD
dibandingkan dengan DD dijelaskan dengan adanaya pemacuan
dari multiplikasi virus di dalam makrofag oleh antibodi
heterotipik sebagai akibat infesi Dengue sebelumnya. Namun
demikian, terdapat bukti bahwa faktor virus serta respons
imun cell-mediated terlibat juga dalam patogenesis DBD.
(WHO, 2000).
Epidemiologi Molekuler
Infeksi virus Dengue telah menjadi masalah kesehatan yang
serius pada banyak negara tropis dan subtropis, oleh karena
peningkatan jumlah penderita, menyebarluasnya daerah yang
terkena wabah dan manifestasi klinis berat yang merupakan
keadaan darurat yaitu Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) danb
Dengue Shock Syndrome (DSS).
Antara tahun 1975 dan 1995, DD/DBD terdeteksi keberadaannya
di 102 negara di dari lima wilayah WHO yaitu : 20 negara
di Afrika, 42 negara di Amerika, 7 negara di Asia Tenggara,
4 negara di Mediterania Timur dan 29 negara di Pasifik Barat.
Seluruh wilayah tropis di dunia saat ini telah menjadi hiperendemis
dengan ke-empat serotipe virus secara bersama-sama diwilayah
Amerika, Asia Pasifik dan Afrika. Indonesia, Myanmar, Thailand
masuk kategori A yaitu : KLB/wabah siklis) terulang pada
jangka waktu antara 3 sampai 5 tahun. Menyebar sampai daerah
pedesaan, sirkulasi serotipe virus beragam (WHO, 2000).
|
|
Dua Dokter RS Labuang Baji Terserang Demam Berdarah Meninggal
|
MAKASSAR--MIOL:
Dari 51 pasien demam berdarah yang sedang dirawat di Rumah
Sakit (RS) Labuang Baji Makassar saat ini, dua orang diantaranya
adalah dokter RS tersebut yakni dr Ratna Maria (45) dan dr
Darmawati (48). Dr Ratna Maria yang sehari-hari bertugas di
poliklinik umum itu, kini terbaring di tempat tidur perawatan
RS Labuang Baji akibat serangan virus yang disebarkan nyamuk
aedes aegypti ini. Sedangkan dr Darmawati yang bertugas di
laboratorium dirawat di rumahnya.
Dr Ratna Maria yang sudah tujuh hari terbaring di RS itu Kamis
dijenguk Gubernur Sulsel HM Amin Syam di ruang Unit Gawat
Darurat (UGD). Sebelum ke ruang UGD, Gubernur yang didampingi
Kadis Kesehatan Sulsel Basir Palu menyempatkan diri ke ruangan
pasien anak dan orang dewasa penderita demam berdarah. Keluarga
pasien rata-rata baru melarikan anggota keluarganya ke RS
setelah tiga hari menderita demam berdarah tersebut.
"Anak saya dilarikan ke rumah sakit setelah seluruh badannya
panas selama empat hari dan tidak pernah turun," kata
Ny Sudarmawati yang mendampingi anaknya, M Imas Anugrah (10)
saat berdialog dengan Gubernur Amin Syam. Murid SD Mongindisi
kelas IV ini baru ketahuan terserang demam berdarah setelah
tiba di RS tersebut yang kemudian langsung diberi cairan.
"Sudah tiga hari anak saya dirawat di sini dan sudah
ada perubahan pak Gubernur," katanya sambil menatap anaknya
yang tampak tersenyum karena dibesuk orang nomor satu di provinsi
ini.
Kepada pasien penderita demam berdarah di RS itu, Gubernur
mengatakan perlunya masyarakat ikut menjaga dan membersihkan
lingkungan yang bisa menjadi sarang nyamuk penyebar virus
tersebut. Selain itu, dinas kesehatan dan aparatnya perlu
melakukan sosialisasi kepada masyarakat menyangkut kasus demam
berdarah yang akhir-akhir ini meningkat. "Sosialisasi
penyakit ini sangat penting agar masyarakat lebih mengetahui
dan berupaya mengantisipasi sehingga korban dapat ditekan,"
katanya seraya berharap agar pasien demam berdarah segera
sembuh dan kembali ke rumahnya.
Di RS Labuang Baji sejak Januari hingga minggu keempat Pebruari
2004, sudah enam orang meninggal dunia dari 194 orang penderita
yang dirawat di RS itu. Korban meninggal berasal dari Kabupaten
Gowa tiga orang, Takalar satu orang dan Kota Makassar dua
orang.
Usai meninjau RS Labuang Baji, gubernur juga melihat dari
dekat kegiatan pengasapan di beberapa kelurahan yang sedang
dilakukan Dinas Kesehatan Sulsel dan Kota Makassar untuk memberantas
nyamuk aedes aegypti. Di Kota Makassar diperkirakan terdapat
100 lebih titik rawan penyebaran penyakit demam berdarah.
(Ant/O-1)
|
|
Pemerintah Mengangkat Jumantik di Seluruh Indonesia
|
| JAKARTA--MIOL:
Pemerintah akan mengangkat juru pemantau jentik nyamuk (Jumantik)
honorer di setiap rukun warga (RW) di seluruh Indonesia, agar
dapat membantu mencegah wabah demam berdarah dengue (DBD),
kata Menko Kesra Jusuf Kalla.
"Keputusan mengangkat Jumantik dan peningkatan gerakan
pemberantasan sarang nyamuk akan dilakukan dalam pertemuan
para menteri dengan para gubernur di Jakarta, 5 Maret 2004,"
katanya di Jakarta, Sabtu sore.
Seusai memberikan penghargaan dari pemerintah kepada 59 anggota
Tim Bantuan Kemanusiaan RI ke Iran (1 Januari - 25 Februari
2004) itu, Kalla mengatakan, pemantau jentik nyamuk sejak
dini akan mencegah adanya kejadian luar biasa (KLB) DBD. "Pemda
DKI sejak Januari 2004 telah mengangkat tenaga Jumantik yang
ditempatkan di setiap RW, sehingga jika ditemukan jentik nyamuk
di salah satu rumah, maka segera diberantasnya," katanya.
Sementara itu, jumlah penderita DBD 1 Januari - 28 Februari
2004 di 25 provinsi mencapai 17.707 orang, 322 orang di antaranya
meninggal, sedang penderita DBD di DKI sebanyak 5.431 orang,
59 diantaranya meninggal.
Menurut Menko Kesra, banyaknya penderita DBD pada 2004 karena
masyarakat kurang memperhatikan kebersihan lingkungan dan
gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
Karena itu, perlu penggalakan gerakan PSN melalui tiga M,
yakni menguras bak mandi dan penampungan air seminggu sekali,
mengubur benda bekas yang berisi genangan air, dan menambur
zat abate pada tempat penampungan air untuk membunuh jentik
nyamuk. Kalla menegaskan, pemerintah telah mengalokasikan
dana Rp100 miliar untuk penanggulangan KLB DBD di seluruh
Indonesia, sehingga tidak dibenarkan jika rumah sakit (RS)
menolak pasien DBD dari kalangan miskin.
"Seluruh RS wajib langsung menerima pasien DBD dari kalangan
miskin yang total biaya perawatan dan pengobatan akan diganti
pemerintah," katanya.
Mengenai banyaknya penderita DBD yang meninggal dunia, Kalla
menjelaskan, mereka yang meninggal antara lain saat memeriksakan
ke RS keadaan pasein sudah pada stadium akhir yakni parah
dan syok akibat pendarahan. (Ant/O-1)
|
|
Korban Demam Berdarah Terus Bertambah
|
| Serangan
demam berdarah dengue (DBD) terus mengganas. Di Jakarta, dalam
dua hari terakhir, jumlah penderita bertambah hingga 600-an
orang. Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta menunjukkan, jumlah
penderita sepanjang Januari sebanyak 1.579 orang, sedangkan
Februari 1.133 orang. Sehingga, secara keseluruhan, pasien
DBD tahun ini hingga kemarin mencapai 2.712 orang. Dua hari
sebelumnya, jumlah penderita 2.059 orang.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Chalik Masulili,
tercatat 174 kelurahan di 10 kecamatan di Jakarta dinyatakan
sebagai daerah waspada kejadian luar biasa (KLB). Tidak tertutup
kemungkinan, jumlah daerah KLB ini bertambah. Di Jakarta Pusat,
daerah KLB mencakup Kecamatan Kemayoran dan Tanah Abang. KLB
di Jakarta Utara terjadi di Kecamatan Koja dan Tanjung Priok.
Di Jakarta Barat terjadi di Kecamatan Kebon Jeruk dan Palmerah.
Di Jakarta Selatan menimpa Kecamatan Pasar Minggu dan Kebayoran
Lama. Di Jakarta Timur, KLB terjadi di Kecamatan Ciracas dan
Kramat Jati.
Kota Bekasi, Jawa Barat, tiga orang meninggal akibat penyakit
tersebut selama Januari-Februari. Angka tersebut sama dengan
jumlah korban meninggal sepanjang 2003. Dinas Kesehatan Kota
Bekasi mencatat peningkatan tajam kasus DBD tahun ini. Sedikitnya
73 pasien dirawat pada periode Januari hingga 17 Februari
2004. Padahal, sepanjang 2003, hanya terjadi 15 kasus DBD.
Serangan DBD juga menghantui warga Jawa Tengah. Sebanyak 29
kabupaten/kota di provinsi tersebut terjangkiti penyakit ini.
Kota/kabupaten tersebut, antara lain, Rembang, Kudus, Pati,
Jepara, Kota Semarang, Kendal, Pekalongan, Kabupaten Tegal,
dan Brebes.
''Terjadi peningkatan kasus DBD, terutama di wilayah pantura,''
ujar dr Budihardja MPH, wakil kepala Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Tengah. Kepala Bidang Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit
Menular Dinkes Provinsi Jateng, dr Lily Herawati, menyatakan
telah mempersiapkan 187 orang pemantau jentik di beberapa
kabupaten/kota. Anggaran untuk pemantauan sebesar Rp 1 miliar.
Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, menyayangkan
lambannya penanganan DBD di rumah-rumah sakit swasta. Ketidaklancaran,
katanya, terutama terjadi pada pasien miskin.
Menurut Fauzi, rumah sakit swasta sebenarnya tidak perlu khawatir
melayani warga tidak mampu. ''Rumah sakit tinggal klaim ke
Dinas Kesehatan,'' ujarnya kemarin. Pemprov DKI Jakarta telah
mengeluarkan surat edaran kepada masyarakat agar melakukan
pemberantasan sarang nyamuk (PSN) serta program 3M (menguras,
menutup, dan mengubur). Surat edaran juga ditujukan kepada
sejumlah perkantoran, sekolah, pasar, dan tempat publik lain.
Penyakit DBD menyerang manusia melalui gigitan nyamuk Aedes
aegypti.
|
|
Demam Berdarah Kian Mengganas di Jakarta
|
Dinas
Kesehatan DKI Jakarta menyatakan, ibu kota memasuki waspada
kejadian luar biasa (KLB). Penyakit demam berdarah di Jakarta
kian mengganas. Dalam tempo lebih dari satu bulan, jumlah
penderita demam berdarah sebanyak 2.046 orang dan 13 di antaranya
meninggal dunia. Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyatakan, ibu
kota memasuki waspada kejadian luar biasa (KLB).
Menurut Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Chalik Masulili,
pihaknya mencatat 174 kelurahan di 10 kecamatan di Jakarta
dinyatakan sebagai daerah KLB. Pihaknya tak menutup diri jika
penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk aedes aegypti ini
bakal menyerang daerah lainnya. ''Daerah lainnya masih mengintip
untuk dinyatakan KLB,'' ujar Chalik Masulili kepada wartawan,
Sabtu (14/2). Masulili merinci, wilayah kecamatan yang dinyakan
sebagai daerah KLB masing-masing di wilayah Jakarta Pusat,
yakni Kecamatan Kemayoran dan Tanah Abang.
KLB di Jakarta Utara terjadi di Kecamatan Koja dan Tanjung
Priok. Di Jakarta Barat terjadi di Kecamatan Kebon Jeruk dan
Palmerah. Wilayah Jakarta Selatan masing-masing Kecamatan
Pasar Minggu dan Kebayoran Lama. Di Jakarta Timur, KLB terjadi
di Kecamatan Ciracas dan Kramat Jati. Total kelurahan yang
terjangkit KLB sebnayak 174 kelurahan.
Dijelaskan, penyakit yang disebabkan gigitan penyakit ini
perlu penanganan yang serius mengingat bisa membahayakan keselamatan
nyawa manusia. Tahun lalu, katanya, jumlah penderita demam
berdarah mencapai lebih dari 14.000 orang dengan jumlah korban
meninggal 59 orang. Penyakit ini muncul hampir setiap tahun
terutama mulai bulan Oktober hingga Februari. Mengatasi masalah
itu pihaknya sudah melakukan antisipasi sebelum penyakit ini
merebak.
Salah satu cara memerangi demam berdarag dengan memberantas
sarang nyamuk (PSN) dan program menguras, menutup dan mengubur
atau (program 3M). Upaya lainnya dengan melakukan pengasapan
(fogging) di beberapa daerah yang dikategorikan rawan demam
berdarah. Tak hanya itu, pihaknya telah menyiapkan alat fogging
hingga di puskesmas tingkat kelurahan. Pada mulanya, alat
fogging itu ditempatkan di puskesmas kecamatan. Menurut dia,
penanganan masalah demam berdarah tidak lepas dari partisipasi
masyarakat.
Hanya saja diakuinya, aspek kepedulian masyarakat menangani
masalah ini relatif kurang. Buktinya, meski sudah disosialisasikan
program PSN dan 3M, masyarakat masih banyak yang belum mau
melakukan. ''Masyarakat seolah budek, kita sudah ngomong berbusa
tetap saja partisipasi mash rendah,'' ujarnya sambil mengatakan,
minimnya partisipasi masyarakat itu justru berasal dari golongan
masyarakat menengah ke atas.
''Rumah-rmah mereka itu sulit dimasuki petugas''. Atas sikap
masyarakat yang tak peduli itu, Dinas Kesehatan DKI membuat
terobosan dengan melibatkan juru pemantau jentik (jumantik).
Petugas yang dijadikan sebagai jumantik itu direkrut dari
masyarakat sekitar daerah yang rawan demam berdarah dengan
gaji di atas upah minimum regional (UMR). '' Sebelum diterjunkan
ke lapangan, para jumantik ini akan dilatih terlebih dahulu,''
ujarnya.
Jumlah petugas yang direkrut sebagai jumantik tergantung kebutuhan
di daerah masing-masing. Puskesmas Kemayoran, misalnya, jumlah
petugas jumantiknya mencapai 27 orang. Beda dengan jumantik
di Puskesmas Kebon Jeruk yang jumlahnya hanya 22 orang saja.
''Jumlah jumantik itu tergantung banyaknya rukun warga (RW)
serta kondisi penyebaran penyakit ini,'' katanya. Didampingi
Wakadis Kesehaan Jakarta, Wanda Ningsig, dia menyatakan, program
jumantik ini akan digelar secara bersamaan, Senin (16/2) hingga
16 Maret.
Program pembentukan jumantik itu dilakukan seiring dengan
digelarnya bulan bakti kesehatan. Dia mengingatkan, daerah
rawan demam berdarah tidak hanya terjadi di pemukiman padat,
melainkan juga pemukiman orang-orang kaya. Rumah yang jarang
dihuni pun dinyatakan rawan DBD, perkantoran, mushala, termasuk
juga areal sekitar sekolah. ''Sebenarnya dari hasil evaluasi
itu daerah yang terkena DBD dari waktu ke waktu ya itu-itu
juga,''ujarnya. |
|
433 Orang Terserang Demam Berdarah
|
Wabah
demam berdarah dengue (DBD) beberapa minggu ini terus menelan
banyak korban di beberapa wilayah Jakarta. Di Wilayah Jakarta
Timur, DBD bahkan telah menyerang 433 penderita dan 2 orang
meninggal. ''Dari 433 penderita, 20 persen usia sekolah,''
tandas Cahyono, Seksi Penyakit Menular Sudin Kesmas, Jakarta
Timur. Selain di sejumlah sekolah, DBD juga mewabah di beberapa
kelurahan.
Beberapa kelurahan yang rawan DBD adalah Kelurahan Kramatjati,
Cililitan, Cawang dan Kampung Tengah. Dari keempat lokasi
itu terdapat 50 rukun warga (RW) yang rawan DBD. Penderita
DBD yang cukup besar menimpa Kelurahan Ciracas dan Cipinang
Besar Utara, Jakarta Timur. Korban DBD juga banyak dilarikan
di Rumah Sakit Budi Asih, Cawang. Menurut Cahyono, sebagian
besar penderita DBD warga RW3, Cawang.
Kawasan itu rawan DBD karena ditemukan banyak genangan di
tempat tersebut, dan sering dilanda banjir. Bahkan Cawang
telah dinyatakan sebagai wilayah endemis DBD. Wilayah endemis
DBD merupakan sumber penyebarluasan penyakit ke wilayah lain.
Kejadian luar biasa (KLB) dimulai dengan peningkatan jumlah
kasus di wilayah tersebut. Salah satu upaya membatasi penyebaran
dan mencegah penyebarluasan adalah dengan pembrantasan sarang
Nyamuk (PSN) serta pemantauan jentik berkala (PJB).
Peningkatan jumlah kasus DBD dari 18 penderita di awal Januari
hingga 433 orang pada minggu kedua Februari. Laporan tersebut
berasal dari 14 laboratorium rumah sakit di Jakarta Timur.
''Peningkatan penderita DB terjadi karena faktor pasca musim
hujan dan perubahan musim,'' tandas Cahyono. Bahkan 20 persen
dari total penderita DBD adalah anak usia sekolah dasar (5-14
tahun).
Karena itu antisipasi DBD selanjutnya tidak hanya berorientasi
pada pemukiman tapi juga lingkungan sekolah. Menurut Cahyono,
sosialisasi kebersihan telah dilakukan di beberapa sekolah,
bahkan penyemprotan juga telah dilakukan di beberapa sekolah
yang teridentifikasi positif DBD. ''Sekolah-sekolah yang ada
kasus DBD segera disemprot,'' tandas Cahyono. Menurutnya,
Sudin Kesmas berencana melakukan penyemprotan pada beberapa
lokasi yang rawan DBD.
''Kami menggerakan kader dan personel puskesmas,'' ungkap
dr Netry, kepala seksi Penyehatan Lingkungan, Jakarta Timur.
Netri mengungkapkan bahwa Sudin Kesmas Jaktim sedang gencar
menanggulangi DBD. Dinas Kesehatan DKI pun menggelar beberapa
program untuk menanggulangi DBD, tanggal 9 Februari sampai
14 Maret 2004 dicanangkan sebagai bulan bakti PSN. Karena
itu, Sudin Kesmas Jakarta Timur telah melakukan antisipasi,
yaitu dengan melaksanakan early warning system atau sistem
peringatan dini.
Sistem ini merupakan pencegahan mewabahnya demam berdarah.
''Kami akan berupaya untuk mengantisipasi DBD, salah satunya
dengan gerakan PSN,'' ungkap Netri. Salah satu upaya membatasi
penyebaran dan mencegah penyebarluasan adalah dengan PSN serta
PJB. Dia menambahkan, nyamuk aides aegepty dapat diberantas
dengan penyemprotan, tapi ini tidak cukup karena penyemprotan
hanya mematikan nyamuk dewasa.
Karena itu, diperlukan penanggulangan atau pengendali vektor
penular nyamuk aides aegepty dan virus dengue. Penanggulangan
DBD berupa kegiatan pengelolaan lingkungan, secara masal maupun
individu atau keluarga berupa menguras, menutup dan mengubur.
Dapat pula dilakukan pengendalian secara kimia (larvasi selektif/abatisasi),
serta biologis (predator ikan kepala timah). Selain itu, bisa
ditempuh modifikasi lingkungan (ovitrap), langkah-langkah
tersebut harus dilaksanakan secara berkesinambungan. |
|
Empat Warga Jakut Meninggal Karena Demam Berdarah
|
Empat
orang warga Jakarta Utara dilaporkan meninggal dunia akibat
menderita penyakit demam berdarah dengue (DBD). Tiga orang
berasal dari kecamatan Koja dan seorang lagi dari kecamatan
Tanjung Priok. Selain itu, jumlah penderita DBD di Jakarta
Utara juga meningkat tajam, dari sebelumnya hanya delapan
orang pasien (per 12 Januari) menjadi 201 pasien pada 12 Februari
ini.
Menyikapi hal tersebut, Suku Dinas Kesehatan Masyarakat (Sudin
Kesmas) langsung menggelar pertemuan yang melibatkan pihak-pihak
terkait. "Kita sedang membicarakan langkah-langkah yang
harus diambil," kata Kepala Seksi Penyakit Menular Sudin
Kesmas, Dr Ketut Sudarsana.
Kasus terbanyak terjadi di kecamatan Tanjung Priok, dengan
jumlah penderita 75 orang, disusul kecamatan Koja sebanyak
56 pasien. Menurut Ketut, Sudin Kesmas masih melakukan proses
validitas data di seluruh rumah sakit dan puskesmas.
Wali kota Jakarta Utara, Effendi Anas, mengakui kejadian ini
merupakan kasus besar. Menurutnya, melonjaknya kasus ini disebabkan
banyak genangan air di kawasan perumahan yang tidak diatasi
dengan baik oleh warga. "Tidak hanya di daerah kumuh.
Perumahan elit juga berpotensi terjangkit demam berdarah,"
katanya.
Bila dibandingkan data dua tahun sebelumnya, kasus DBD tahun
ini tergolong tinggi. Pada tahun 2003 dan 2002, tidak ada
penderita DBD yang meninggal dunia sepanjang bulan Januari.
Jumlah pasien juga sedikit, masing-masing 12 pasien dan 8
pasien pada Januari 2003 dan 2002.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Pemkot Jakarta Utara telah
mencanangkan Bulan Bakti Gerakan Menguras, Menutup dan Mengubur
(BBG3M) di seluruh kelurahan. Namun gerakan ini hanya dilaksanakan
pada bulan Januari sebagai pancingan bagi warga (Republika,
23/1).
Ketika ditanya kemungkinan pencanangan kembali gerakan tersebut,
Ketut tidak menjawab pasti. Dia mengharapkan warga di tingkat
kelurahan tetap menghidupkan gerakan 3M ini dalam rangka menekan
angka penderita dan korban DBD. "Bulan bakti itu adalah
rangsangan bagi warga untuk peduli pada lingkungannya. Tapi
kalau dibutuhkan, mungkin akan dilaksanakan kembali,"
lanjut Ketut. Meskipun demikian, Effendi memastikan pihaknya
akan terus melakukan langkah-langkah pencegahan dalam bentuk
sosialisasi kepada masyarakat di tingkat kelurahan dan RT/RW.
Sosialisasi ini, lanjutnya, disesuaikan dengan tingkat kerawanan
daerah terhadap DBD.
Sudin Kesmas mendata 17 kelurahan dari 31 kelurahan yang rentan
terhadap menyebaran nyamuk aedes aigepty. Selain mencanangkan
kerja bakti mingguan di setiap kelurahan, pihaknya akan memberikan
penyuluhan kepada masyarakat tentang penyebaran penyakit DBB,
khususnya di ke-17 kelurahan tersebut.
Sebelumnya dilaporkan, tiga orang warga di Jakarta Pusat meninggal
terserang demam berdarah dalam periode periode 1 Januari hingga
4 Februari 2004. Sementara itu, jumlah penderitanya sendiri
sudah menembus angka 111 orang di seluruh wilayah Jakarta
Pusat.
Padahal, sepanjang tahun 2003 saja hanya terdapat 4 orang
pasien meninggal dunia akibat demam berdarah. Namun sekarang,
baru 1,5 bulan tahun 2004 berjalan, pasien meninggal akibat
penyakit ini sudah ada 3 orang.
Menurut Rum Istriati, Kasudin Kesmas Jakarta Pusat, ketika
dihubungi, dua orang korban meninggal merupakan warga Bungur,
Kecamatan Kemayoran, dan satu orang lagi merupakan warga Petamburan.
Korban meninggal diduga akibat telat diagnosa dan telat penanganan
hingga akhirnya mereka meninggal dunia. |
|
|
|
|