|
| |
|
|
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
| |
|
|
| |
FLU BURUNG
|
|
| |
Pengendalian Infeksi pada Perawatan Flu Burung
Mikroorganisme Penyebab:
HPAIV: Highly Pothogenic Avian Influenza Virus
Di Komunitas: Unggas
Di Rumah Sakit: Pasien?, Petugas Kesehatan?, Pengunjung?
Di Rumah Sakit: Pasien?, Petugas Kesehatan?,
Pengunjung?
Kontak: Langsung dan tidak langsung
Penularan terjadi pada kontak langsung dari kulit pasdien ke kulit
pejamu rentan lain, dalam hal ini petugas kesehatan pada saat
memandikan pasien atau melaksanakan tindakan keperawatan yang
lain.
Secara tidak langsung dengan melibatkan benda perantara, yang
biasanya benda mati seperti alat kesehatan, jarum, kasa pembalut,
tangan yang tidak dicuci, sarung tangan bekas.
|
|
| |
|
Meskipun secara teori penularan droplet
atau melalui pecikan merupakan bentuk lain dari penularan
secara kontak, namun mekanisme perpindahan kuman patogen dari
pejamunya sangat berbeda dengan sebagaimana kontak langsung
maupun tidak langsung. Percikan dihasilkan oleh pejamu (yang
berdiameter > 5mm) melalui batuk, bersin, bicara dan selama
pelaksanaan tindakan tertentu seperti penghisapan lendir dan
bronkoskopi. .
|
|
|
|
| |
Percikan yang berasal dari pejamu tersebut terbang
dalam jerak dekat melalui udara dan mengendap di bagian tubuh
pejamu lain yang rentan seperti: konjungtiva, mukosa hidung, atau
mulut
Oleh karena percikan yang mengandung kuman tersebut
tidak menetap di udara maka untuk mencegah penyebaran lebih lanjut
tidak diperlukan pengaturan khusus pada sistem ventilasi, jangan
dikacaukan dengan penularan airborne.
Kewaspadaan terhadap penularan yang diperlukan
Memperlakukan semua darah dan duh tubuh sebagai bahan infeksius,
hindari menjamahnya dengan tangan telanjang atau segera cuci
bila mungkin tercemar
|
|
| |
Cuci tangan (dengan air mengalir dan sabun/antiseptik,
gosok selama 10 detik, dan lap kering) sebagai tindakan
rutin: sebelum dan setelah menjamah pasien, seblum memakai
dan setelah melepas sarung tangan Sarung tangan pemeriksaan
bila akan menjamah darah dan duh tubuh atau benda tercemar
lain. Ganti sarung tangan setiap ganti pasien. Lepas segera
sarung tangan setelah selesai tindakan.
Masker, kaca mata, pelindung wajah dikenakan bila ada kemungkinan
terjadi percikan darah, duh tubuh lain selama melakukan
tindakan atau perawatan pasien.
|
|
|
|
| |
Terhadap penularan melalui kontak dan percikan
(droplet)
Sebagai tambahan pada kewaspadaan universal
Pasien ditempatkan dalam ruang tersendiri.
Bila tidak tersedia ruang tersendiri dapat ditempatkan bersama
pasien dengan diagnosis yang sama (kohort).
Alat pelindung yang diperlukan
Semua petugas kesehatan harus selalu mengenakan alat pelindung
sbb:
-
Ketika masuk ke ruang pasien:
Kenakan masker, penutup kepala, kaca mata pelindung, sarung
tangan, gaun pelindung, sepatu pelindung.
-
Selama melaksanakan tindakan : ganti sarung
tangan setelah menjamah bahan infeksius.
Gaun pelindung (tidak perlu steril), pilih yang sesuai dengan
tindakan yang akan dilaksanakan (kedap air atau tidak).
-
Lepas gaun sebelum meninggalkan ruangan dan
pastikan baju kerja tidak terkontaminasi.
-
Lepas sarung tangan sebelum keluar ruangan
dan cuci tangan segera dengan antiseptik dan
-
Pastikan setelahnya tidak lagi menjamah permukaan
di ruang pasien yang mungkin tercemar.
-
Demikian pula dengan alat pelindung yang
lain
Batasi pemindahan pasien ke ruang lain kecuali
sangat diperlukan. Bila terpaksa maka pasien kenakan masker pada
pasien dan selimut bersih rapat, pastikan kewaspadaan universal
tetap terjaga untuk menekan risiko penyebaran mikroorganisme ke
pasien lain dan pencemaran permukaan lingkungan atau peralatan
lain.
Alat kesehatan untuk pasien
Bila mungkin alokasikan alat kesehatan khusus
untuk pasien tersebut atau bersama dengan pasien sejenis untuk
menghindari penyebaran antar pasien. Bila menggunakan alat untuk
pasien umum, maka perlu pembersihan yang memadai dan disinfeksi
sebelum dipakai untuk pasien lain.
|
|
| |
|
|
| |
ANTHRAX
| DIARE | DHF/DBD
| D.
CHIKUNGUYA | FILARIASIS
| FLU
BURUNG | HEPATITIS
| HIV/AIDS |
J. ENCEPHALITIS | LEPTOSPIRA
| MALARIA
| NAPZA
| PNEUMONIA |
SAPI
GILA | SARS
| TUBERKULOSIS |
TOXOPLASMOSIS |
EPILEPSI
|
|
| |
|
|
|
|