Infeksi
>> Penyakit


Direktur Jenderal PPM - PL
Halaman Utama
Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial
Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease
Informasi Penelitian
Profile RSPI - SS
Dokter - dokter di RSPI - SS
Sejarah RSPI - SS


Rumah Sakit Pusat Nasional Penyakit Infeksi
Tim Redaksi infeksi.com

 Plasmid - Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease

Kupin - Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial


 
Halaman Utama Informasi mengenai penyakit - penyakit infeksi Informasi mengenai Imunisasi Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease Informasi Penelitian Profile RSPI - SS Dokter - dokter di RSPI - SS Sejarah RSPI - SS  
   
 

FLU BURUNG

 
 

Penyelundupan ayam aduan berisiko
munculkan flu burung

06 Juli 2004, JAKARTA (CPAS): Dua bulan yang lalu, ke 2 sampel ayam aduan yang diduga diselundupkan melalui perbatasan Kalimantan-Malaysia menunjukkan positif terkena virus flu burung. Pemasukan ayam itu berisiko memunculkan wabah flu burung yang baru.
Demikian dikatakan oleh Ketua I Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Jawa Timur, CA Nidom, Senin (5/7). Dia menambahkan, setelah melalui pemeriksaan, kedua sampel ayam aduan tersebut menunjukkan perubahan anatomi yang berbeda. Struktur Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) virus yang terdapat dalam 2 sampel juga beda.
Pada sampel ayam aduan tersebut, dari penampakan fisiknya menunjukkan kerusakan organ yang lebih parah seperti warna ginjal lebih hitam. Sejumlah organ lainnya juga menunjukkan kelainan.
Selama ini, Indonesia sudah memiliki prosedur yang tetap untuk uji DNA virus flu burung. Namun, dari sampel ayam aduan itu masih diperlukan sejumlah tambahan pekerjaan seperti sentrifugasi yang berulang-ulang. Demikian pula pemurniannya juga harus berulang-ulang. (jef/dcb)

 

 
 

 

Flu Burung Kembali Merebak di Vietnam

Sabtu, 03 Juli 2004, HANOI (AFP): Penyakit flu burung kembali merebak di Vietnam. Perdana Menteri Vietnam memerintahkan semua instansi dan aparatur pemerintah terkait untuk mengambil tindakan yang dimungkinkan guna mencegah kemunculan epidemi penyakit tersebut.
Merebaknya kembali penyakit yang disebarkan melalui medium virus itu dilaporkan pada beberapa media lokal kemarin.
Dalam sebuah pesan yang disebarkan Kamis (1/7) ke seluruh negeri, baik kepada para pejabat, menteri, dan departemen terkait, disebutkan secara tegas, Perdana Menteri Vietnam Phan van Khai menyerukan, ''Agar sekuat tenaga mencegah wabah epidemi flu burung kembali berkembang,'' demikian dituturkan seorang buruh, Lao Dong.
Pejabat setempat mengatakan, pada Kamis, sekurangnya sebanyak 11.000 ekor ayam telah dibinasakan di daerah sebelah selatan Sungai Delta Mekong, menyusul perkembangan terbaru dalam penyebaran virus flu burung di Vietnam.Seorang petugas di Departemen Peternakan mengatakan setidaknya terdapat enam daerah setingkat provinsi yang telah mulai dilanda virus flu burung, meski dalam skala kecil sejak April lalu.
Bui Quang Anh, Direktur Bidang Peternakan pada Departemen Pertanian, mengatakan pada AFP bahwa semua pihak tengah bekerja keras guna mengatasi penyebaran penyakit tersebut. Sebab, gejala penyakit yang kembali melanda di Vietnam ini dikarenakan virus H5N1 ini merupakan jenis virus letal. Setidaknya, virus H5N1 telah mengakibatkan 24 orang tewas di daratan Asia pada awal permulaan tahun ini, dengan 16 orang di antaranya tercatat berada di Vietnam. Dalam arahannya, Khai meminta agar para peternak dapat bekerja sama dengan instansi terkait dan pemerintah daerah setempat untuk dapat melakukan inspeksi kesehatan di lokasi peternakan unggas mereka. Jika terbukti terinfeksi maka unggas tersebut harus dimusnahkan dan lokasi peternakan itu harus diisolasi. Setidaknya, kejadian ini akan memperburuk kondisi peternakan Vietnam, tidak hanya terkait pada ternak.

Tetapi, juga akan berimbas pada nilai perdagangan unggas serta industri terkait. Di antaranya yang terkena dampak, seperti industri makanan ternak, transportasi, serta semua produk turunan dari hasil peternakan.
Sejumlah koran lokal pada Jumat (2/7) menurunkan berita pentingnya respons sigap pemerintah dalam mengatasi masalah flu burung ini, mengingat penyebarannya yang terjadi dengan cepat dan mengakibatkan efek fatal kepada manusia. ''Informasinya telah disosialisasikan dengan tepat, cepat, dan akurat, tetapi jangan terlalu dibesar-besarkan agar publik tidak panik dan menyebabkan kehancuran bagi produksi peternakan,'' tambah Lao Dong. Pemerintah Vietnam, seperti yang pernah disebutkan pada 30 Maret lalu di Hanoi, mendeklarasikan bahwa negara ini telah terbebas dari penyakit flu burung, meski para ahli kesehatan dari badan internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan hal tersebut terlalu dini dan bersifat prematur. (YD/V-2)


 
 

 

Penyelundupan Vaksin Flu Burung Digagalkan


Rabu, 09 Juni 2004, JAKARTA -- Aparat Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta berhasil menggagalkan penyelundupan vaksin flu burung ilegal asal Cina. Setelah dilakukan langkah prosedural, pemerintah akan memusnahkan vaksin ilegal sebanyak 300 botol tersebut. ''Setiap botolnya berisi sekitar 1.000 dosis vaksin flu burung,'' ujar Kepala Badan karantina Pertanian Departemen Pertanian, Budi Tri Akoso, di Jakarta, Selasa (8/6).
Budi mengatakan vaksin flu burung ilegal asal Cina itu masuk ke Indonesia pada akhir April lalu. Berdasarkan ketentuan Badan Karantina Pertanian, kata Budi, vaksin mesti segera dimusnahkan dalam waktu tujuh hari setelah terbukti tidak memiliki dokumen resmi. ''Berdasarkan aturan yang ada, apabila dokumen tidak lengkap, maka dalam waktu tujuh hari setelah itu, kita dapat memusnahkan vaksin tersebut,'' kata Budi. ''Namun, kita bekerja sama dengan pihak Bea Cukai bandara. Dan sekarang, aparat Bea Cukai bandara sedang melakukan pemeriksaan secara lebih detail.''
Pendapat serupa dilontarkan oleh Kepala Karantina Hewan Departemen Pertanian, Mukhtar. Menurut Mukhtar, Departemen Pertanian mesti melakukan koordinasi dengan pihak pabean dalam masalah vaksin flu burung ilegal asal Cina tersebut. Karena itu, kata Mukhtar, Departemen Pertanian sedang menunggu hasil pemeriksaan dari aparat bea cukai bandara tentang vaksin flu burung ilegal sebanyak 300 ribu dosis tersebut.
Aparat menahan vaksin flu burung asal Cina karena pengiriman tersebut tidak memiliki izin impor. Selain itu, kata Mukhtar, ada upaya pemanipulasian data pada proses impor vaksin flu burung asal negeri tirai bambu itu. Dalam dokumen pengiriman, tercantum bahwa nama produk adalah vitamin, bukan vaksin flu burung.
Budi mengatakan bahwa modus operandi penyelundupan vaksin flu burung ilegal asal Cina itu dilakukan secara personal. Vaksin flu burung ilegal tersebut, kata Budi, diselundupkan dengan cara dibawa oleh penumpang pesawat secara hand and carry. Penyelundupan tidak dilakukan atas nama sebuah perusahaan.
Mukhtar mengungkapkan pendapat berbeda tentang modus penyelundupan vaksin flu burung ilegal asal Cina tersebut. Menurut Mukhtar, penyelundupan vaksin ilegal dilakukan justru dengan menggunakan jasa kurir. ''Kalau tidak salah, vaksin tersebut dikirim melalui DHL,'' tandas Mukhtar.
Dalam kesempatan tersebut, Budi mengatakan bahwa Departemen Pertanian komit untuk memusnahkan vaksin flu burung ilegal. Budi menegaskan bahwa vaksin flu burung ilegal itu tidak akan lepas dan beredar di pasaran.

Daging ilegal

Sementara itu, Badan Karantina memastikan 21 kontainer yang berisi daging impor ilegal akan dimusnahkan setelah aparat Bea Cukai menyelesaikan penyidikan berkaitan dengan pemalsuan dokumen yang dilakukan eksportirnya. ''Kalau kita maunya segera dapat memusnahkan seluruh daging impor ilegal tersebut. Tapi, hal itu tidak dapat langsung dilakukan karena masih harus menunggu penyidikan Bea Cukai,'' kata Budi.
Menurut dia, aparat Bea Cukai berhasil menangkap 23 kontainer daging sapi impor ilegal dari Amerika Serikat dan India dengan rincian satu kontainer ditangkap di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, dan 22 kontainer ditangkap di Pelabuhan Tanjung Priok. Dari 23 kontainer yang ditangkap di Tanjung Priok telah dimusnahkan satu kontainer daging ilegal milik PT KBSI tanggal 28 Mei 2004 yang dilakukan di Rawa Banteng, Bekasi.
Sementara 21 kontainer lainnya saat ini masih ditahan Bea Cukai sejak 21 April 2004 dan diketahui milik PT KBSI dan PT CTU, sementara satu kontainer di Surabaya milik PT APS. Badan Karantina Deptan menganggap pemasukan daging hewan ilegal tersebut mengancam potensi ternak nasional dan ketenteraman masyarakat karena ketidakjelasan asal-muasal termasuk kehalalannya. ''Hal ini disebabkan daging impor tersebut berasal dari negara yang belum terbebas penyakit kuku dan mulut (PMK) serta penyakit sapi gila,'' katanya. Budi menilai, maraknya peredaran daging impor ilegal, antara lain, disebabkan perbedaan yang tajam antara daging dalam negeri dan luar negeri sehingga ada kecenderungan dari pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan tanpa memperhatikan persyaratan.
Ditambahkan pula, untuk mengurangi distorsi harga di tingkat pasar akibat terbatasnya negara eksportir daging maka perlu membuka peluang pemasok daging dari negara-negara lain yang diyakini bebas penyakit hewan seperti penyakit kuku dan mulut serta sapi gila.
Selain itu, ia mengusulkan, setiap penerbitan Surat Persetujuan Pemasukan Bahan Asal Hewan harus disertai izin transit jika dalam pengangkutan memerlukan pelabuhan transit. ''Sehingga, semua bahan asal hewan yang diimpor langsung diangkut dari negara asal,'' katanya. Mengenai negara tertentu, misalnya, Australia dan Selandia Baru, yang selama ini dinyatakan bebas PMK dan sapi gila, perlu dikaji untuk diberlakukan aturan pengiriman langsung tanpa harus dilakukan persinggahan di negara lain. Laporan : dip

 

 
 

 

Pejabat Senior SAARC Membahas Tindakan Pencegahan dan Pengendalian Flu Burung

Pejabat senior Perhimpunan Kerja Sama Kawasan Asia Selatan (SAARC) kemarin di New Delhi, ibukota India mengadakan pertemuan darurat selama sehari, untuk membahas tindakan pencegahan dan pengendalian penyebaran flu burung di kawasan Asia Selatan.

Resolusi Delhi yang dikeluarkan seusai pertemuan menyatakan, di antara negara anggota SAARC bukan hanya diperlukan peningkatan kerja sama, tapi juga diperlukan kerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Bahan Pangan Dan Pertanian (FAO), mengambil tindakan yang efektif untuk mencegah penyebaran flu burung di kawasan Asia Selatan.

Sebelum itu, selain ditemukan epidemi flu burung di sebagian daerah Pakistan, di negara anggota SAARC lainnya belum ditemukan flu burung.

Dikabarkan pula, di kawasan Asia Tenggara, selama 3 hari ini di Vietnam ditemukan 12 pasien flu burung yang dicurigai, sehingga jumlah pasien flu burung dan yang dicurigai di Vietnam bertambah sampai 231 orang, 36 di antaranya meninggal. Sedangkan di sebagian daerah Thailand yang epidemi flu burung telah dikontrol ditemukan lagi epidemi flu burung selama dua hari ini.


 
 

 

Perjuangan masyarakat internasional melawan wabah flu burung memasuki tahap baru

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam hasil pengecekan dan pengujian terbaru yang diumumkan dalam situs internetnya mengesampingkan kemungkinan penularan flu burung berbahaya di antara manusia. Sementara itu, perjuangan masyarakat internasional melawan wabah flu burung telah memasuki suatu tahap baru.
Sejauh ini, 10 negara dan daerah di Asia telah dilanda flu burung dan jumlah unggas yang mati dan dimusnahkan tercatat lebih dari 55 juta ekor; 19 pasien yang dipastikan menderita flu burung dan 30 pasien yang dicurigai menderita penyakit tersebut telah meninggal dunia; Di Vietnam dan Thailand, penderita flu burung yang dicurigai melampaui 200 orang, dan di Kamboja baru-baru ini juga untuk pertama kali terjadi kematian seorang pasien flu burung yang dicurigai.

Pada saat wabah flu burung tipe H5 melanda Asia, di dua peternakan Negara Bagian Delaware Amerika Serikat juga susul-menyusul ditemukan flu burung tipe H7 sehingga mengundang perhatian serius berbagai pihak terhadap wabah tersebut. Menghadapi perkembangan baru epidemi itu, berbagai negara dan organisasi internasional terus mengambil tindakan, masyarakat internasional memasuki tahap baru dalam saling bantu dan kerjasama melawan fulung burung.

Banyak negara susul menyusul telah melarang untuk sementara impor unggas dan produknya dari daerah yang terjangkit flu burung dan mengintensifkan pemeriksaan di perbatasan. Pada awal Februari yang lalu, FAO, WHO dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia mengadakan sidang darurat tentang flu burung di Roma. Kemarin, para Menteri Kesehatan Uni Eropa dan Direktur Jenderal WHO Lee Jong-wook mengadakan pertemuan berbagi informasi dan koordinasi tentang flu burung di Brussel.

Sementara itu, FAO telah memberikan bantuan darurat sebanyak 1,6 juta dolar Amerika kepada Kamboja, Laos, Pakistan dan Vietnam untuk digunakan mencegah penyebaran wabah flu burung dan membantu negara-negara tersebut menyempurnakan sistem pengontrolan dan pemantauan penyakit. Pemerintah Tiongkok telah memberikan bantuan sebanyak 100 ribu dolar Amerika masing-masing kepada Vietnam, Indonesia dan Thailand serta 50 ribu dolar Amerika kepada Kamboja. Sementara itu, Komisi Uni Eropa kemarin dulu juga mengumumkan pemberian bantuan darurat sebanyak 1 juta Euro kepada Vietnam.

Bersamaan dengan itu, pakar berbagai negara juga menyumbangkan pikiran kepada negara dan daerah yang dilanda flu burung untuk menghadapi wabah tersebut. Para pakar mengusulkan untuk melakukan vaksinasi terhadap unggas sehat di tempat sekitar daerah wabah guna mengurangi tingkat infeksi dan membangun zona penyangga di antara daerah wabah dan bukan daerah wabah; Kedua, mengadakan pusat koordinasi di setiap negara yang terjadi epidemi untuk memperbaiki sistem pengawasan dan pengendalian kesehatan serta pendidikan kesehatan umum di negara masing-masing; Selain itu, negara-negara Asia menutup pasar burung liar, menyusun dan menyempurnakan hukum dan peraturan transaksi dan angkutan komersial burung liar.

Selain itu, para ilmuwan berbagai negara tengah mengintensifkan penelitian terhadap virus flu burung berbahaya dan telah dicapai sejumlah kemajuan baru. Ilmuwan Vietnam baru-baru ini berhasil mengungkap seri gen virus tipe H5 dan N1 dalam virus flu burung tipe H5N1, dengan demikian telah memberikan bantuan besar bagi produksi dan pemakaian vaksin flu burung. Ilmuwan Inggris tengah meneliti dan membuat vaksin flu burung dengan menggunakan tehnologi genetik untuk memadukan gen virus flu manusia dengan gen virus flu burung. WHO berpendapat, vaksin flu burung untuk manusia akan dapat dihasilkan 4 sampai 6 bulan ke depan. Sedangkan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia berpendapat, penelitian dan pembuatan vaksin untuk hewan mungkin hanya memerlukan waktu tiga bulan

 
 
 
 

 

ANTHRAX  | DIARE  | DHF/DBD  |   D. CHIKUNGUYA | FILARIASIS   | FLU BURUNG |   HEPATITIS  | HIV/AIDS  |   J. ENCEPHALITIS  | LEPTOSPIRA | MALARIA  | NAPZA   | PNEUMONIA  |  SAPI GILA | SARS  |  TUBERKULOSIS |  TOXOPLASMOSIS EPILEPSI


 

Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com


Situs Indonesia Sehat [ www.infokes.com ]

Rumah Sakit Pusat Nasional Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso Jkt


Situs Santakin [ www.santakin.com ]

Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com

 

UTAMA  |  PENYAKIT  |  IMUNISASI  |  KUPIN  |  PLASMID  |  PENELITIAN  |  PROFILE  |  S D M  |  SEJARAH  |  RSPNPI-SS  |  REDAKSI