| |
| |
HIV / AIDS
|
PERAWATAN HIV/AIDS
MENYELURUH BERKESINAMBUNGAN
|
Pendahuluan
Tulisan ini membahas tentang defenisi operasional dari
perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan dan penjelasan
tentang komponen-komponen perawatan HIV/AIDS. Penjelasan
pada Kerangka Kerja dimaksudkan untuk memberikan pedoman
dalam pengembangan kebijakan dan strategi serta mengedepankan
pembahasan mengenai keseluruhan spektrum perawatan yang
dibutuhkan oleh ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) keluarganya
dan petugas kesehatan. Tulisan ini juga dimaksudkan sebagai
sumber informasi mengenai bagaimana menerapkan suatu program
perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan.
Perawatan dan dukungan menyeluruh dan efektif bagi ODHA
telah terlupakan dalam waktu yang cukup lama. Beberapa tahun
yang lalu, banyak pemerintah negara dan lembaga donor memilih
mendukung program HIV/AIDS yang berfokus pada pencegahan
semata-mata, yang dituntun oleh keyakinan bahwa pencegahan
infeksi HIV akan menghindarkan diperlukannya perawatan dan
dukungan, juga menghindarkan pengeluaran biaya tinggi yang
harus disediakan bagi perawatan dan dukungan tersebut.
Meskipun begitu, telah ada sejumlah contoh proyek inovatif
berbasis komunitas yang berespon terhadap kebutuhan awal
pemberian perawatan dan dukungan dalam menghadapi pandemik
HIV/AIDS dengan menghubungkannya pada aspek pengobatan dan
dukungan sosial yang menyediakan pengobatan medis bagi infeksi
oportunistik, konseling, perawatan paliatif, dan dukungan
pada mereka yang tidak mampu dan anak yatim piatu akibat
salah satu atau kedua orang tuanya meninggal karena HIV/AIDS.
Pengertian dan Komponen Perawatan
HIV/AIDS Menyeluruh Berkesinambungan
Perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan adalah suatu
konsep perawatan yang menyeluruh membentuk suatu jejaring
kerja di antara semua sumber daya yang ada dalam rangka memberikan
pelayanan dan perawatan holistik, menyeluruh dan dukungan
yang luas bagi ODHA dan keluarganya. Perawatan menyeluruh
tersebut meliputi pula perawatan di rumah sakit dan di rumah
selama perjalanan penyakit. Sebelum diputuskan untuk memberikan
perawatan menyeluruh berkesinambungan perlu dipertimbangkan
beberapa hal antara lain sumber daya yang memadai yaitu dukungan
dana, bahan dan alat, sumber daya manusia, baik dari pihak
pemerintah maupun dari masyarakat serta jalinan kerjasama
yang baik di antara mereka. Konsep mata rantai perawatan HIV/AIDS
menyeluruh berkesinambungan di bangun atas dasar pelayanan
perawatan HIV/AIDS dalam kerja sama tim dan harus meliputi
beberapa aspek sebagai berikut :
-
Konseling dan Tes HIV Sukarela (Voluntary
Counseling and Testing/VCT) adalah titik awal pelayanan
dan perawatan yang berkesinambungan dan merupakan tempat
bagi ODHA untuk datang bertanya, belajar, dan menerima
status HIV seseorang dengan privasi yang terjaga, mampu
menjangkau dan menerapkan perawatan dan upaya pencegahan
yang efektif.
-
Tatalaksana klinis infeksi oportunistik
dengan diagnosis dini yang memadai, pengobatan yang rasional,
pemulangan yang terencana, dan kemampuan untuk melakukan
rujukan ke penyelenggara pelayanan yang lain.
-
Asuhan keperawatan yang mampu memberikan
kenyamanan pada pasien dan higienis, mampu mengendalikan
infeksi dengan baik, memberikan perawatan paliatif dan
menangani kasus terminal, melatih dan mendidik keluarga
tentang perawatan di rumah dan pencegahan penularan serta
melakukan promosi pemakaian kondom.
-
Perawatan di Rumah dan di Masyarakat
termasuk di antaranya melatih relawan dan anggota keluarga
tentang tatacara perawatan, pengobatan gejala yang sering
muncul, serta perawatan paliatif.
-
Promosi gizi yang baik, dukungan psikologis
dan emosional, dukungan spiritual dan konseling.
-
Membentuk kelompok dukungan masyarakat
untuk memberikan dukungan emosional pada ODHA dan para
pendampingnya. Dalam kelompok ini dapat dijajagi kesempatan
untuk meningkatkan dan menciptakan sumber pendapatan.
-
Mengurangi dan menyingkirkan stigma,
membangun sikap positif masyarakat terhadap ODHA dan keluarganya,
termasuk para petugas kesehatan baik di jajaran pemerintah
maupun swasta dan di tempat kerja.
-
Dukungan sosial atau rujukan kepada
pelayanan sosial untuk mengatasi permasalahan tempat tinggal,
pekerjaan, bantuan hokum, serta memantau dan mencegah
terjadinya diskriminasi.
-
Pendidikan dan pelatihan tentang tatalaksana
dan pencegahan HIV/AIDS bagi para pendamping ODHA (petugas
kesehatan, keluarga, tetangga dan relawan)
-
Membangun kerja sama antar penyelenggara
layanan (klinik, kelompok sosial dan kelompok dukungan/LSM)
agar layanan terjangkau melalui sistem rujukan yang saling
mendukung.
|
 |
Dengan melihat aspek-aspek
kebutuhan perawatan dan dukungan bagi ODHA, keluarga,
dan masyarakat, maka perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan
pada prinsipnya terdiri dari empat komponen yang saling
terkait satu sama lain, yaitu :
-
Pengobatan dan Perawatan Tatalaksana Klinis ; komponen
ini meliputi beberapa layanan yaitu
-
Konseling dan tes HIV sukarela
untuk tujuan screening dan diagnostik.
-
Profilaksis infeksi oportunistik
-
Tatalaksana penyakitterkait
HIV, termasuk infeksi oportunistik
|
|
- Pengendalian TB
- Tatalaksana IMS
- Tatalaksana HIV dengan HAART(Highly Active Anti Retroviral
Therapy)
- Pengobatan paliatif
- Akses kepada obat-obat HIV, termasuk obat untuk infeksi
oportunistik, ARV, dan pengobatan tradisional.
- Intervensi terhadap PMTCT
- Pengobatan dan perawatan klinis HIV bagi ibu dan bayinya.
- Sistem pendukung misalnya laboratorium fungsional dan
sistem pengaturan obat.
- Dukungan gizi
- Penyuluhan kesehatan
- UP(Universal Precautions/Kewaspadaan Universal) dan PEP(Post
Exposure Prophylaxis/PPP=Profilaksis Pasca pajanan) yang
memadai di penyelenggara layanan kesehatan.
2. Dukungan Psikologis; termasuk didalamnya
dukungan psikososial dan spiritual, mengurangi stress dan
kecemasan ODHA dukungan ini dapat diberikan pada layanan VCT,
konseling pra-nikah, konseling pre- dan pasca tes HIV, konseling
KB dan perubahan prilaku, upaya-upaya untuk mengurangi rasa
cemas dan depresi yang dialami dan dirasakan oleh ODHA.
3. Dukungan Sosio-ekonomik; dapat diberikan
dalam bentuk informasi, pengawasan atau rujukan ke kelompok
peer, dukungan spiritual, material dan dukungan sosial di
dalam masyarakat untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan gizi
dan keperluan sehari-hari. Dari komponen ini juga dapat dikembangkan
upaya untuk meningkatkan sumber pendapatan dan pemberdayaan
ODHA sehingga mereka dapat hidup mandiri dan lebih layak,
sehingga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan penghargaan.
4. Dukungan HAM dan Aspek Hukum; dalam bentuk
pelayanan dan hak yang sama pada ODHA, menghapus stigma dan
diskriminasi di fasilitas kesehatan, di dalam masyarakat,
dan di tempat kerja. |
|
Program perawatan HIV/AIDS
dan sistem pendukungnya seharusnya menekankan pada pelayanan
yang berkisar dari konseling hingga intervensi medis, hingga
ke tatalaksana kebutuhan sosial, dukungan gizi, demikian pula
perawatan paliatif, pemberdayaan ODHA. Program ini juga berperanan
dalam memperbaiki keadaan emosi pengidap HIV dan memberikan
jaminan bahwa mereka memiliki hak untuk hidup dan penghargaan
dari orang lain.
Pengembangan program perawatan HIV/AIDS menyeluruh
dan berkesinambungan tidak semestinya dianggap sebagai sumberdaya
yang terpisah dari kegiatan pencegahan, namun sebagai suatu
strategi guna meningkatkan dampak pencegahan tersebut. Program
ini seharusnya meningkatkan upaya pencegahan primer juga sekunder
serta tersier. Sebagai strategi pencegahan primer, program
tersebut harus menjamin bahwa :
- Orang yang belum terinfeksi agar tidak terkena HIV
- Mereka yang sudah terinfeksi HIV agar tidak menularkannya
ke orang lain
- Mereka yang sudah terinfeksi agar tidak mengalami infeksi
ulang
Pengembangan perawatan HIV/AIDS menyeluruh
berkesinambungan yang tepat haruslah berperan sebagai sebuah
pedoman rangkaian logis peristiwa yang dapat dimanfaatkan
dalam tindakan-tindakan penting dan sebagai jembatan bagi
intervensi terhadap meningkatnya kompleksitas yang dipergunakan
pada berbagai tingkatan layanan kesehatan.
Perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan
haruslah tersedia dan dilaksanakan pada seluruh tingkatan
layanan kesehatan, di mana didalamnya termasuk, home care,
community care, primary, secondary dan tertiary care. Semua
tingkatan layanan kesehatan tersebut haruslah tercakup dalam
perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan dan saling
berintegrasi membentuk jejaring perawatan menyeluruh berkesinambungan.
Untuk bekerja dengan benar jejaring tersebut memerlukan :
-
Penentuan peranan dan fungsi masing-masing
komponen dari perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan.
-
Menentukan layanan yang tepat dan
mobilisasi sumberdaya yang diperlukan dalam melaksanakan
peran dan fungsi tersebut di atas.
-
Membangun jembatan di antara masing-masing
komponen perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan
Model Perawatan HIV/AIDS
Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya,
perawatan HIV/AIDS menyeluruh meliputi berbagai intervensi
di seluruh sistem layanan kesehatan. Walau demikian, sebagian
besar negara tidak dapat menyediakan/melaksanakannya pada
sistem layanan kesehatan setempat. Yang terbaik yang dapat
dilakukan adalah mengembangkan layanan tersebut dengan pendekatan
bertahap. Di lain pihak, beberapa tempat mungkin memiliki
sumber daya yang cukup untuk melakukan implementasi program
sesuai dengan respon yang terjadi dalam setiap tingkatan perawatan.
Kesulitan dan kemudahan dalam memberikan layanan akan bervariasi
sebagai hasil dari ketersediaan dana, sumberdaya teknis dan
manusia dan infrastruktur kesehatan. Meski begitu, pada daerah
dengan sumberdaya yang terbatas, ada kemungkinan untuk menerapkan
suatu standar yang menjamin pemeliharaan dan peningkatan kualitas
hidup dan produktifitas ODHA.
Prinsip Dasar Perawatan HIV/AIDS Menyeluruh
Berkesinambungan
Untuk memenuhi kebutuhan fisik, emosional, sosial dan ekonomi
ODHA, perawatan harus dikelola menurut prinsip-prinsip berikut
:
-
Penghargaan : dari sisi HAM dan
harga diri seseorang.
-
Ketersediaan; perawatan yang tepat
dilaksanakan pada semua tingkatan lokal
-
Kesetaraan; perawatan diberikan
pada semua ODHA tanpa memandang, jenis kelamin, usia,
ras, etnis, identitas seksual, pendapatan dan tempat
tinggal.
-
Koordinasi dan integrasi; untuk
menjamin perawatan menyeluruh berkelanjutan dijalankan
dan pada semua tingkatan perawatan.
-
Efisien dan efektif; efisiensi perawatan
dilaksanakan pada biaya sosial yang masuk akal sebagaimana
yang diperlihatkan melalui monitoring dan evaluasi.
Standar Perawatan
Untuk menghasilkan program perawatan HIV/AIDS berkesinambungan
yang efektif dan berjalan lama, beberapa standar perawatan
perlu disepakati dan diaplikasikan. Standar tersebut haruslah
merefleksikan kualitas optimal dan tingkatan yang diharapkan,
akses dan mencakup semua perawatan HIV/AIDS.
Secara teori standar haruslah diformulasikan untuk tingkat
perawatan minimum dan optimum, memperhitungkan kemungkinan
variasi sumberdaya dan kemampuan yang tersedia, pengembangan
teknologi baru yang murah, kemudahan akese dan ketersediaan
pada berbagai tempat pada negara tertentu.
Untuk memastikan standar perawatan pada suatu tempat tertentu,
haruslah mempertimbangkan tiga dimensi yang mempengaruhi pemilihan
standar;
-
Dimensi pertama berkaitan dengan aspek
teknis dari intervensi yang dilakukan dan ditentukan oleh
efikasi dan efektifitas dari intervensi tertentu.
-
Dimensi kedua adalah ditentukan oleh
faktor sosial dan faktor konstektual yang membuat intervensi
tersebut efektif dalam kondisi operasional.
-
Dimensi ketiga meliputi penentuan
standar dan ditentukan oleh tingkatan sistem layanan kesehatan
yang melaksanakan intervensi tersebut.
Tempat Perawatan
1. Rumah
Perawatan di rumah adalah perawatan yang diberikan pada ODHA
di tempat tinggalnya sendiri. Dalam hal ini termasuk orang-orang
yang merawat dirinya sendiri, keluarga, teman, tetangga, perawat,
bidan, pekerja sosial atau petugas kesehatan lainnya. Perawatan
tersebut dapat berupa perawatan fisik, dukungan psikososial,
spiritual dan paliatif.
2. Masyarakat
Dukungan masyarakat adalah perawatan / dukungan yang diberikan
dalam masyarakat. Perawatan tersebut dapat diberikan oleh
perawat, bidan, relawan yang terlatih, petugas kesehatan masyarakat,
dukun tradisional, LSM, tokokh masyarakat setempat, pendidik/guru,
kelompok pemuda, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama dan
lain-lain. Dengan melibatkan masyarakat dalam perawatan tersebut
maka kualitas hidup ODHA akan ditingkatkan. Perawat dan petugas
sosial dapat memiliki peranan penting dalam menarik partisipasi
masyarakat setempat dalam hal menerima dan memberikan dukungan
kepada ODHA.
3. Pusat Kesehatan Masyarakat
Perawatan bagi ODHA di sarana pelayanan kesehatan primer atau
dasar di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) atau Puskesmas
Pembantu (Pustu) dapat diberikan oleh pembantu perawat.
4. Rumah Sakit Kabupaten/Kota
Pelayanan kesehatan lanjutan bagi para ODHA tersedia di Rumah
Sakit Kabupaten di mana tersedia tenaga dokter, perawat, konselor,
pekerja sosial dan sarana pendidikan dan pelatihan. Bantuan
hukum juga dapat diberikan.
5. Rumah Sakit Rujukan Provinsi/Nasional
Pelayanan di tingkat rujukan tersebut berupa pelayanan medis
spesialistik sebagai tambahan pelayanan yang berada di tingkat
Kabupaten/Kota. |
Gambar
3. Diagram penerapan konsep perawatan HIV/AIDS menyeluruh
berkesinambungan dengan menggunakan VCT sebagai pintu
masuk.
|
Membangun Kerangka
Kerja
Menjalin kerjasama dalam memberikan layanan di rumah
sakit, puskesmas, dan di masyarakat, agar terjadi perawatan
dan pelayanan yang berkesinambungan dan memenuhi kebutuhan
ODHA merupakan hal yang rumit. Hal yang terpenting adalah
memusatkan upaya pada kerjasama yang saling mendukung
bagi rekan/komponen yang lain. Dengan demikian komponen/kelompok
lain yang memiliki keterampilan lebih spesifik dapat
membantu memberikan pelatihan kepada komponen/kelompok
lainnya. Atau salah satu kelompok hanya memusatkan perhatian
pada layanan tertentu yang merupakan sebagian dari perawatan
lengkap, diikuti dengan sistem rujukan yang efektif
kepada kelompok lain yang memiliki kemampuan untuk memberikan
layanan di bidang lainnya. |
|
| Dengan pelayanan menyeluruh
berkesinambungan diasumsikan bahwa sistem pendukung seperti
di bawah ini tersedia secara terpadu dapat berjalan secara
efektif dan efisien :
-
Tersedianya bahan KIE yang sesuai
untuk promosi pencarian perawatan dan de-stigmatisasi
penyakit.
-
Mobilisasi masyarakat untuk membangun
program pelayanan masyarakat.
-
Terjalinnya kemitraan antara pemerintah
dan LSM yang bergerak i bidang kesehatan sosial.
-
Tersedianya prosedur rujukan antara
rumah sakit di pusat dan di daerah.
-
Tersedianya prosedur rujukan antara
pasien beserta keluarganya dengan lembaga dukungan sosial
dan LSM
-
Tersedianya prosedur supervisi dari
sarana kesehatan di tingkat pusat sampai ke daerah termasuk
para relawan. Pelatihan bagi petugas dan relawan.
Untuk mempermudah pembahasan lebih jauh mengenai
perawatan apa yang dapat disediakan dalam kaitannya dengan
ketersediaan sumber daya, maka diusulkan 3 skenario yang berbeda.
Alternatif perawatan yang mudah dan tepat yang berhubungan
dengan tingkat layanan kesehatan dijabarkan dalam kerangka
kerja. Standar minimum yang harus disediakan oleh suatu negara
dimasukkan dalam Skenario I dan peningkatan batasan dan spesialisasi
pelayanan yang diharapkan sejalan dengan bertambahnya sumberdaya
(sumberdaya fisik/infrastruktur, sumberdaya keuangan, sumberdaya
teknis, layanan pendukung) dan keterampilan (petugas kesehatan
yang terlatih) termasuk dalam Skenario II dan III.
Skenario tersebut adalah :
Skenario I : Dalam skenario
ini, pemeriksaan dan pengobatan dasar (misalnya pengobatan
TB, profilaksis dan terapi paliatif) tersedia dalam jumlah
terbatas pada semua tingkatan sistem layanan kesehatan (primer,
sekunder, dan tersier). Intervensi difokuskan pada kegiatan
pencegahan sekunder (misalnya profilaksi IO, menghindari prilaku
berisiko) untuk mencegah kemunduran fisik yang lebih berat
dan pemberian pengobatan simptomatik. Terapi ARV disediakan
untuk program pencegahan penularan HIV dari Ibu ke Bayi pada
sistem layanan kesehatan tingkat sekunder.
Skenario II: Pada scenario
ini, tes/pemeriksaan dan obat-obat tersedia pada semua tingkatan
layanan kesehatan, termasuk beberapa ARV di tingkat sekunder
sistem layanan kesehatan. Semua layanan yang terdapat dalam
Skenario I disediakan ditambah dengan pengobatan etiologis
pada infeksi oportunistik. Sejumlah obat-obat yang mahal,
misalnya obat antitumor, tidak tersedia pada sistem layanan
kesehatan tingkat primer dan sekunder.
Skenario III: Pada skenario
ini semua layanan yang ada di atas (Skenario I dan Skenario
II) tersedia di tambah dengan terapi ARV dan pelayanan spesialisasi.
Pada setiap bulding block, setiap komponen harus dibaca dari
atas ke bawah misalnya komponen yang dibuat dalam suatu rangkaian
pola dengan gambaran komponen perawatan awal yang harus terpenuhi.
Idealnya, semua komponen harus tersedia pada semua tingkatan
layanan kesehatan.
Pelayanan dasar pada Skenario I haruslah berjalan terlebih
dahulu sebelum bergerak ke tingkatan berikutnya. Pencapaian
semua pelayanan pada suatu skenario tertentu hendaknya menstimulasi
pergerakan ke tingkatan berikutnya. Tujuan akhirnya adalah
mendapatkan standar perawatan yang terdapat pada Skenario
III.
|
|
Monitoring dan Evaluasi
Program perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan
harus pula termasuk komponen monitoring dan evaluasi, yang
berperan untuk menemukan, mengadaptasi dan memperkuat pelayanan
yang telah ada maupun yang baru. Pelayanan tersebut hanya
akan efektif jika pelayanan tersebut secara konsisten dievaluasi
untuk menilai ke-efektif-an, efisiensi, kualitas pemanfaatan
dan penerimaannya di dalam masyarakat. Program haruslah
mencoba mengumpulkan, menganalisis dan menggunakan data
yang merefleksikan sampai dimanakah kualitas perawatan berjalan
pada semua tingkatan layanan kesehatan, dan untuk mengidentifikasi
masalah yang timbul serta jurang pemisah yang mungkin timbul
dan memerlukan tindakan penanangan dengan segera.
Tujuan monitoring adalah untuk menjamin bahwa tugas telah
berjalan sebagaimana yang direncanakan dan untuk mengantisipasi
atau mendeteksi masalah-masalah yang muncul selama implementasi
program (suplai yang memadai, ketepatan pelatihan).
Evaluasi difokuskan pada penentuan tingkatan kemajuan tindakan
dalam memenuhi tujuan atau penampilan program. Evaluasi
meliputi penilaian masukan (sumberdaya manusia dan modal
yang tersedia bagi pelaksanaan program) dan variabel operasi
program (siapa melakukan apa, dimana, kapan dan bagaimana).
Evaluasi juga meliputi penilaian mengenai dampak dan hasil
yang mungkin pula termasuk perubahan dalam hal pengetahuan,
sikap, prilaku, faktor risiko, penyakit dan kecacatan.
Indikator yang tepat untuk tujuan monitoring dan evaluasi
sebaiknya diseleksi selama tahap penyusunan program. Indikator
harus dapat menilai kualitas perawatan selain menilai pencapaian
tujuan program. Sebagai contoh, jika salah satu tujuan program
perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan adalah meningkatkan
cakupan konseling volunter dan konfidensial, maka indikator-indikator
yang mungkin adalah :
-
Proporsi klinik kesehatan primer (PKM)
yang menawarkan VCT
Jumlah klinis kesehatan primer yang menawarkan VCT dibagi
dengan jumlah seluruh klinik kesehatan primer pada wilayah
tersebut.
-
Proporsi individu yang menjalani tes
HIV
Jumlah individu yang menjalani tes HIV dibagi dengan jumlah
individu yang telah diberi konseling pre-tes dan informasi
mengani tes HIV
-
Proporsi individu yang kembali untuk
mengambil hasil tes HIV-nya
Jumlah orang yang kembali untuk mengambil hasil tes HIV
di bagi dengan jumlah individu yang dites.
-
Porporsi individu yang membawa pasangannya
untuk VCT HIV
Jumlah individu yang membawa pasangannya untuk melakukan
VCT di bagi dengan jumlah individu yang telah menjalani
VCT
Kesimpulan
Sebagaimana yang dibahas dalam tulisan ini, program perawatan
HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan terdiri dari ruang lingkup
aktifitas dan layanan yang luas yang memenuhi kebutuhan pengobatan,
situasi emosi, sosial dan ekonomi dari ODHA, keluarganya dan
pemberi layanan. Program perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan
membuat ODHA bertahan hidup lebih lama dan membuat hidup ODHA
lebih berharga, memberikan dukungan bernilai pada anggota
keluarga, dan memberikan kesempatan pada masyarakat agar lebih
dapat memahami dan menerima HIV/AIDS. Selain itu, program
ini mendukung dan memperkuat program pencegahan HIV/AIDS yang
sebelumnya telah ada sehingga dapat memperkuat upaya dalam
mencegah penyebaran HIV.
|
|
|
|
|