Infeksi
>> Penyakit


Direktur Jenderal PPM - PL
Halaman Utama
Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial
Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease
Informasi Penelitian
Profile RSPI - SS
Dokter - dokter di RSPI - SS
Sejarah RSPI - SS


Rumah Sakit Pusat Nasional Penyakit Infeksi
Tim Redaksi infeksi.com

 Plasmid - Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease

Kupin - Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial


 
Halaman Utama Informasi mengenai penyakit - penyakit infeksi Informasi mengenai Imunisasi Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease Informasi Penelitian Profile RSPI - SS Dokter - dokter di RSPI - SS Sejarah RSPI - SS  
 

HIV / AIDS

PERAWATAN HIV/AIDS
MENYELURUH BERKESINAMBUNGAN

Pendahuluan

Tulisan ini membahas tentang defenisi operasional dari perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan dan penjelasan tentang komponen-komponen perawatan HIV/AIDS. Penjelasan pada Kerangka Kerja dimaksudkan untuk memberikan pedoman dalam pengembangan kebijakan dan strategi serta mengedepankan pembahasan mengenai keseluruhan spektrum perawatan yang dibutuhkan oleh ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) keluarganya dan petugas kesehatan. Tulisan ini juga dimaksudkan sebagai sumber informasi mengenai bagaimana menerapkan suatu program perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan.
Perawatan dan dukungan menyeluruh dan efektif bagi ODHA telah terlupakan dalam waktu yang cukup lama. Beberapa tahun yang lalu, banyak pemerintah negara dan lembaga donor memilih mendukung program HIV/AIDS yang berfokus pada pencegahan semata-mata, yang dituntun oleh keyakinan bahwa pencegahan infeksi HIV akan menghindarkan diperlukannya perawatan dan dukungan, juga menghindarkan pengeluaran biaya tinggi yang harus disediakan bagi perawatan dan dukungan tersebut.
Meskipun begitu, telah ada sejumlah contoh proyek inovatif berbasis komunitas yang berespon terhadap kebutuhan awal pemberian perawatan dan dukungan dalam menghadapi pandemik HIV/AIDS dengan menghubungkannya pada aspek pengobatan dan dukungan sosial yang menyediakan pengobatan medis bagi infeksi oportunistik, konseling, perawatan paliatif, dan dukungan pada mereka yang tidak mampu dan anak yatim piatu akibat salah satu atau kedua orang tuanya meninggal karena HIV/AIDS.

Pengertian dan Komponen Perawatan HIV/AIDS Menyeluruh Berkesinambungan
Perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan adalah suatu konsep perawatan yang menyeluruh membentuk suatu jejaring kerja di antara semua sumber daya yang ada dalam rangka memberikan pelayanan dan perawatan holistik, menyeluruh dan dukungan yang luas bagi ODHA dan keluarganya. Perawatan menyeluruh tersebut meliputi pula perawatan di rumah sakit dan di rumah selama perjalanan penyakit. Sebelum diputuskan untuk memberikan perawatan menyeluruh berkesinambungan perlu dipertimbangkan beberapa hal antara lain sumber daya yang memadai yaitu dukungan dana, bahan dan alat, sumber daya manusia, baik dari pihak pemerintah maupun dari masyarakat serta jalinan kerjasama yang baik di antara mereka. Konsep mata rantai perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan di bangun atas dasar pelayanan perawatan HIV/AIDS dalam kerja sama tim dan harus meliputi beberapa aspek sebagai berikut :
  • Konseling dan Tes HIV Sukarela (Voluntary Counseling and Testing/VCT) adalah titik awal pelayanan dan perawatan yang berkesinambungan dan merupakan tempat bagi ODHA untuk datang bertanya, belajar, dan menerima status HIV seseorang dengan privasi yang terjaga, mampu menjangkau dan menerapkan perawatan dan upaya pencegahan yang efektif.
  • Tatalaksana klinis infeksi oportunistik dengan diagnosis dini yang memadai, pengobatan yang rasional, pemulangan yang terencana, dan kemampuan untuk melakukan rujukan ke penyelenggara pelayanan yang lain.
  • Asuhan keperawatan yang mampu memberikan kenyamanan pada pasien dan higienis, mampu mengendalikan infeksi dengan baik, memberikan perawatan paliatif dan menangani kasus terminal, melatih dan mendidik keluarga tentang perawatan di rumah dan pencegahan penularan serta melakukan promosi pemakaian kondom.
  • Perawatan di Rumah dan di Masyarakat termasuk di antaranya melatih relawan dan anggota keluarga tentang tatacara perawatan, pengobatan gejala yang sering muncul, serta perawatan paliatif.
  • Promosi gizi yang baik, dukungan psikologis dan emosional, dukungan spiritual dan konseling.
  • Membentuk kelompok dukungan masyarakat untuk memberikan dukungan emosional pada ODHA dan para pendampingnya. Dalam kelompok ini dapat dijajagi kesempatan untuk meningkatkan dan menciptakan sumber pendapatan.
  • Mengurangi dan menyingkirkan stigma, membangun sikap positif masyarakat terhadap ODHA dan keluarganya, termasuk para petugas kesehatan baik di jajaran pemerintah maupun swasta dan di tempat kerja.
  • Dukungan sosial atau rujukan kepada pelayanan sosial untuk mengatasi permasalahan tempat tinggal, pekerjaan, bantuan hokum, serta memantau dan mencegah terjadinya diskriminasi.
  • Pendidikan dan pelatihan tentang tatalaksana dan pencegahan HIV/AIDS bagi para pendamping ODHA (petugas kesehatan, keluarga, tetangga dan relawan)
  • Membangun kerja sama antar penyelenggara layanan (klinik, kelompok sosial dan kelompok dukungan/LSM) agar layanan terjangkau melalui sistem rujukan yang saling mendukung.
Dengan melihat aspek-aspek kebutuhan perawatan dan dukungan bagi ODHA, keluarga, dan masyarakat, maka perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan pada prinsipnya terdiri dari empat komponen yang saling terkait satu sama lain, yaitu :
  1. Pengobatan dan Perawatan Tatalaksana Klinis ; komponen ini meliputi beberapa layanan yaitu
  • Konseling dan tes HIV sukarela untuk tujuan screening dan diagnostik.
  • Profilaksis infeksi oportunistik
  • Tatalaksana penyakitterkait HIV, termasuk infeksi oportunistik
  • Pengendalian TB
  • Tatalaksana IMS
  • Tatalaksana HIV dengan HAART(Highly Active Anti Retroviral Therapy)
  • Pengobatan paliatif
  • Akses kepada obat-obat HIV, termasuk obat untuk infeksi oportunistik, ARV, dan pengobatan tradisional.
  • Intervensi terhadap PMTCT
  • Pengobatan dan perawatan klinis HIV bagi ibu dan bayinya.
  • Sistem pendukung misalnya laboratorium fungsional dan sistem pengaturan obat.
  • Dukungan gizi
  • Penyuluhan kesehatan
  • UP(Universal Precautions/Kewaspadaan Universal) dan PEP(Post Exposure Prophylaxis/PPP=Profilaksis Pasca pajanan) yang memadai di penyelenggara layanan kesehatan.

2. Dukungan Psikologis; termasuk didalamnya dukungan psikososial dan spiritual, mengurangi stress dan kecemasan ODHA dukungan ini dapat diberikan pada layanan VCT, konseling pra-nikah, konseling pre- dan pasca tes HIV, konseling KB dan perubahan prilaku, upaya-upaya untuk mengurangi rasa cemas dan depresi yang dialami dan dirasakan oleh ODHA.

3. Dukungan Sosio-ekonomik; dapat diberikan dalam bentuk informasi, pengawasan atau rujukan ke kelompok peer, dukungan spiritual, material dan dukungan sosial di dalam masyarakat untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan gizi dan keperluan sehari-hari. Dari komponen ini juga dapat dikembangkan upaya untuk meningkatkan sumber pendapatan dan pemberdayaan ODHA sehingga mereka dapat hidup mandiri dan lebih layak, sehingga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan penghargaan.

4. Dukungan HAM dan Aspek Hukum; dalam bentuk pelayanan dan hak yang sama pada ODHA, menghapus stigma dan diskriminasi di fasilitas kesehatan, di dalam masyarakat, dan di tempat kerja.


Program perawatan HIV/AIDS dan sistem pendukungnya seharusnya menekankan pada pelayanan yang berkisar dari konseling hingga intervensi medis, hingga ke tatalaksana kebutuhan sosial, dukungan gizi, demikian pula perawatan paliatif, pemberdayaan ODHA. Program ini juga berperanan dalam memperbaiki keadaan emosi pengidap HIV dan memberikan jaminan bahwa mereka memiliki hak untuk hidup dan penghargaan dari orang lain.

Pengembangan program perawatan HIV/AIDS menyeluruh dan berkesinambungan tidak semestinya dianggap sebagai sumberdaya yang terpisah dari kegiatan pencegahan, namun sebagai suatu strategi guna meningkatkan dampak pencegahan tersebut. Program ini seharusnya meningkatkan upaya pencegahan primer juga sekunder serta tersier. Sebagai strategi pencegahan primer, program tersebut harus menjamin bahwa :

  1. Orang yang belum terinfeksi agar tidak terkena HIV
  2. Mereka yang sudah terinfeksi HIV agar tidak menularkannya ke orang lain
  3. Mereka yang sudah terinfeksi agar tidak mengalami infeksi ulang

Pengembangan perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan yang tepat haruslah berperan sebagai sebuah pedoman rangkaian logis peristiwa yang dapat dimanfaatkan dalam tindakan-tindakan penting dan sebagai jembatan bagi intervensi terhadap meningkatnya kompleksitas yang dipergunakan pada berbagai tingkatan layanan kesehatan.

Perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan haruslah tersedia dan dilaksanakan pada seluruh tingkatan layanan kesehatan, di mana didalamnya termasuk, home care, community care, primary, secondary dan tertiary care. Semua tingkatan layanan kesehatan tersebut haruslah tercakup dalam perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan dan saling berintegrasi membentuk jejaring perawatan menyeluruh berkesinambungan. Untuk bekerja dengan benar jejaring tersebut memerlukan :

    • Penentuan peranan dan fungsi masing-masing komponen dari perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan.
    • Menentukan layanan yang tepat dan mobilisasi sumberdaya yang diperlukan dalam melaksanakan peran dan fungsi tersebut di atas.
    • Membangun jembatan di antara masing-masing komponen perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan

Model Perawatan HIV/AIDS

Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, perawatan HIV/AIDS menyeluruh meliputi berbagai intervensi di seluruh sistem layanan kesehatan. Walau demikian, sebagian besar negara tidak dapat menyediakan/melaksanakannya pada sistem layanan kesehatan setempat. Yang terbaik yang dapat dilakukan adalah mengembangkan layanan tersebut dengan pendekatan bertahap. Di lain pihak, beberapa tempat mungkin memiliki sumber daya yang cukup untuk melakukan implementasi program sesuai dengan respon yang terjadi dalam setiap tingkatan perawatan. Kesulitan dan kemudahan dalam memberikan layanan akan bervariasi sebagai hasil dari ketersediaan dana, sumberdaya teknis dan manusia dan infrastruktur kesehatan. Meski begitu, pada daerah dengan sumberdaya yang terbatas, ada kemungkinan untuk menerapkan suatu standar yang menjamin pemeliharaan dan peningkatan kualitas hidup dan produktifitas ODHA.

Prinsip Dasar Perawatan HIV/AIDS Menyeluruh Berkesinambungan
Untuk memenuhi kebutuhan fisik, emosional, sosial dan ekonomi ODHA, perawatan harus dikelola menurut prinsip-prinsip berikut :

    • Penghargaan : dari sisi HAM dan harga diri seseorang.
    • Ketersediaan; perawatan yang tepat dilaksanakan pada semua tingkatan lokal
    • Kesetaraan; perawatan diberikan pada semua ODHA tanpa memandang, jenis kelamin, usia, ras, etnis, identitas seksual, pendapatan dan tempat tinggal.
    • Koordinasi dan integrasi; untuk menjamin perawatan menyeluruh berkelanjutan dijalankan dan pada semua tingkatan perawatan.
    • Efisien dan efektif; efisiensi perawatan dilaksanakan pada biaya sosial yang masuk akal sebagaimana yang diperlihatkan melalui monitoring dan evaluasi.

Standar Perawatan
Untuk menghasilkan program perawatan HIV/AIDS berkesinambungan yang efektif dan berjalan lama, beberapa standar perawatan perlu disepakati dan diaplikasikan. Standar tersebut haruslah merefleksikan kualitas optimal dan tingkatan yang diharapkan, akses dan mencakup semua perawatan HIV/AIDS.
Secara teori standar haruslah diformulasikan untuk tingkat perawatan minimum dan optimum, memperhitungkan kemungkinan variasi sumberdaya dan kemampuan yang tersedia, pengembangan teknologi baru yang murah, kemudahan akese dan ketersediaan pada berbagai tempat pada negara tertentu.
Untuk memastikan standar perawatan pada suatu tempat tertentu, haruslah mempertimbangkan tiga dimensi yang mempengaruhi pemilihan standar;

  1. Dimensi pertama berkaitan dengan aspek teknis dari intervensi yang dilakukan dan ditentukan oleh efikasi dan efektifitas dari intervensi tertentu.
  2. Dimensi kedua adalah ditentukan oleh faktor sosial dan faktor konstektual yang membuat intervensi tersebut efektif dalam kondisi operasional.
  3. Dimensi ketiga meliputi penentuan standar dan ditentukan oleh tingkatan sistem layanan kesehatan yang melaksanakan intervensi tersebut.

Tempat Perawatan
1. Rumah
Perawatan di rumah adalah perawatan yang diberikan pada ODHA di tempat tinggalnya sendiri. Dalam hal ini termasuk orang-orang yang merawat dirinya sendiri, keluarga, teman, tetangga, perawat, bidan, pekerja sosial atau petugas kesehatan lainnya. Perawatan tersebut dapat berupa perawatan fisik, dukungan psikososial, spiritual dan paliatif.

2. Masyarakat
Dukungan masyarakat adalah perawatan / dukungan yang diberikan dalam masyarakat. Perawatan tersebut dapat diberikan oleh perawat, bidan, relawan yang terlatih, petugas kesehatan masyarakat, dukun tradisional, LSM, tokokh masyarakat setempat, pendidik/guru, kelompok pemuda, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama dan lain-lain. Dengan melibatkan masyarakat dalam perawatan tersebut maka kualitas hidup ODHA akan ditingkatkan. Perawat dan petugas sosial dapat memiliki peranan penting dalam menarik partisipasi masyarakat setempat dalam hal menerima dan memberikan dukungan kepada ODHA.

3. Pusat Kesehatan Masyarakat
Perawatan bagi ODHA di sarana pelayanan kesehatan primer atau dasar di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) atau Puskesmas Pembantu (Pustu) dapat diberikan oleh pembantu perawat.

4. Rumah Sakit Kabupaten/Kota
Pelayanan kesehatan lanjutan bagi para ODHA tersedia di Rumah Sakit Kabupaten di mana tersedia tenaga dokter, perawat, konselor, pekerja sosial dan sarana pendidikan dan pelatihan. Bantuan hukum juga dapat diberikan.

5. Rumah Sakit Rujukan Provinsi/Nasional
Pelayanan di tingkat rujukan tersebut berupa pelayanan medis spesialistik sebagai tambahan pelayanan yang berada di tingkat Kabupaten/Kota.

Gambar 3. Diagram penerapan konsep perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan dengan menggunakan VCT sebagai pintu masuk.

Membangun Kerangka Kerja
Menjalin kerjasama dalam memberikan layanan di rumah sakit, puskesmas, dan di masyarakat, agar terjadi perawatan dan pelayanan yang berkesinambungan dan memenuhi kebutuhan ODHA merupakan hal yang rumit. Hal yang terpenting adalah memusatkan upaya pada kerjasama yang saling mendukung bagi rekan/komponen yang lain. Dengan demikian komponen/kelompok lain yang memiliki keterampilan lebih spesifik dapat membantu memberikan pelatihan kepada komponen/kelompok lainnya. Atau salah satu kelompok hanya memusatkan perhatian pada layanan tertentu yang merupakan sebagian dari perawatan lengkap, diikuti dengan sistem rujukan yang efektif kepada kelompok lain yang memiliki kemampuan untuk memberikan layanan di bidang lainnya.

Dengan pelayanan menyeluruh berkesinambungan diasumsikan bahwa sistem pendukung seperti di bawah ini tersedia secara terpadu dapat berjalan secara efektif dan efisien :

  1. Tersedianya bahan KIE yang sesuai untuk promosi pencarian perawatan dan de-stigmatisasi penyakit.
  2. Mobilisasi masyarakat untuk membangun program pelayanan masyarakat.
  3. Terjalinnya kemitraan antara pemerintah dan LSM yang bergerak i bidang kesehatan sosial.
  4. Tersedianya prosedur rujukan antara rumah sakit di pusat dan di daerah.
  5. Tersedianya prosedur rujukan antara pasien beserta keluarganya dengan lembaga dukungan sosial dan LSM
  6. Tersedianya prosedur supervisi dari sarana kesehatan di tingkat pusat sampai ke daerah termasuk para relawan. Pelatihan bagi petugas dan relawan.

Untuk mempermudah pembahasan lebih jauh mengenai perawatan apa yang dapat disediakan dalam kaitannya dengan ketersediaan sumber daya, maka diusulkan 3 skenario yang berbeda. Alternatif perawatan yang mudah dan tepat yang berhubungan dengan tingkat layanan kesehatan dijabarkan dalam kerangka kerja. Standar minimum yang harus disediakan oleh suatu negara dimasukkan dalam Skenario I dan peningkatan batasan dan spesialisasi pelayanan yang diharapkan sejalan dengan bertambahnya sumberdaya (sumberdaya fisik/infrastruktur, sumberdaya keuangan, sumberdaya teknis, layanan pendukung) dan keterampilan (petugas kesehatan yang terlatih) termasuk dalam Skenario II dan III.
Skenario tersebut adalah :

Skenario I : Dalam skenario ini, pemeriksaan dan pengobatan dasar (misalnya pengobatan TB, profilaksis dan terapi paliatif) tersedia dalam jumlah terbatas pada semua tingkatan sistem layanan kesehatan (primer, sekunder, dan tersier). Intervensi difokuskan pada kegiatan pencegahan sekunder (misalnya profilaksi IO, menghindari prilaku berisiko) untuk mencegah kemunduran fisik yang lebih berat dan pemberian pengobatan simptomatik. Terapi ARV disediakan untuk program pencegahan penularan HIV dari Ibu ke Bayi pada sistem layanan kesehatan tingkat sekunder.

Skenario II: Pada scenario ini, tes/pemeriksaan dan obat-obat tersedia pada semua tingkatan layanan kesehatan, termasuk beberapa ARV di tingkat sekunder sistem layanan kesehatan. Semua layanan yang terdapat dalam Skenario I disediakan ditambah dengan pengobatan etiologis pada infeksi oportunistik. Sejumlah obat-obat yang mahal, misalnya obat antitumor, tidak tersedia pada sistem layanan kesehatan tingkat primer dan sekunder.

Skenario III: Pada skenario ini semua layanan yang ada di atas (Skenario I dan Skenario II) tersedia di tambah dengan terapi ARV dan pelayanan spesialisasi.
Pada setiap bulding block, setiap komponen harus dibaca dari atas ke bawah misalnya komponen yang dibuat dalam suatu rangkaian pola dengan gambaran komponen perawatan awal yang harus terpenuhi. Idealnya, semua komponen harus tersedia pada semua tingkatan layanan kesehatan.
Pelayanan dasar pada Skenario I haruslah berjalan terlebih dahulu sebelum bergerak ke tingkatan berikutnya. Pencapaian semua pelayanan pada suatu skenario tertentu hendaknya menstimulasi pergerakan ke tingkatan berikutnya. Tujuan akhirnya adalah mendapatkan standar perawatan yang terdapat pada Skenario III.


Monitoring dan Evaluasi

Program perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan harus pula termasuk komponen monitoring dan evaluasi, yang berperan untuk menemukan, mengadaptasi dan memperkuat pelayanan yang telah ada maupun yang baru. Pelayanan tersebut hanya akan efektif jika pelayanan tersebut secara konsisten dievaluasi untuk menilai ke-efektif-an, efisiensi, kualitas pemanfaatan dan penerimaannya di dalam masyarakat. Program haruslah mencoba mengumpulkan, menganalisis dan menggunakan data yang merefleksikan sampai dimanakah kualitas perawatan berjalan pada semua tingkatan layanan kesehatan, dan untuk mengidentifikasi masalah yang timbul serta jurang pemisah yang mungkin timbul dan memerlukan tindakan penanangan dengan segera.
Tujuan monitoring adalah untuk menjamin bahwa tugas telah berjalan sebagaimana yang direncanakan dan untuk mengantisipasi atau mendeteksi masalah-masalah yang muncul selama implementasi program (suplai yang memadai, ketepatan pelatihan).
Evaluasi difokuskan pada penentuan tingkatan kemajuan tindakan dalam memenuhi tujuan atau penampilan program. Evaluasi meliputi penilaian masukan (sumberdaya manusia dan modal yang tersedia bagi pelaksanaan program) dan variabel operasi program (siapa melakukan apa, dimana, kapan dan bagaimana). Evaluasi juga meliputi penilaian mengenai dampak dan hasil yang mungkin pula termasuk perubahan dalam hal pengetahuan, sikap, prilaku, faktor risiko, penyakit dan kecacatan.
Indikator yang tepat untuk tujuan monitoring dan evaluasi sebaiknya diseleksi selama tahap penyusunan program. Indikator harus dapat menilai kualitas perawatan selain menilai pencapaian tujuan program. Sebagai contoh, jika salah satu tujuan program perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan adalah meningkatkan cakupan konseling volunter dan konfidensial, maka indikator-indikator yang mungkin adalah :

  • Proporsi klinik kesehatan primer (PKM) yang menawarkan VCT
    Jumlah klinis kesehatan primer yang menawarkan VCT dibagi dengan jumlah seluruh klinik kesehatan primer pada wilayah tersebut.
  • Proporsi individu yang menjalani tes HIV
    Jumlah individu yang menjalani tes HIV dibagi dengan jumlah individu yang telah diberi konseling pre-tes dan informasi mengani tes HIV
  • Proporsi individu yang kembali untuk mengambil hasil tes HIV-nya
    Jumlah orang yang kembali untuk mengambil hasil tes HIV di bagi dengan jumlah individu yang dites.
  • Porporsi individu yang membawa pasangannya untuk VCT HIV
    Jumlah individu yang membawa pasangannya untuk melakukan VCT di bagi dengan jumlah individu yang telah menjalani VCT

Kesimpulan
Sebagaimana yang dibahas dalam tulisan ini, program perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan terdiri dari ruang lingkup aktifitas dan layanan yang luas yang memenuhi kebutuhan pengobatan, situasi emosi, sosial dan ekonomi dari ODHA, keluarganya dan pemberi layanan. Program perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan membuat ODHA bertahan hidup lebih lama dan membuat hidup ODHA lebih berharga, memberikan dukungan bernilai pada anggota keluarga, dan memberikan kesempatan pada masyarakat agar lebih dapat memahami dan menerima HIV/AIDS. Selain itu, program ini mendukung dan memperkuat program pencegahan HIV/AIDS yang sebelumnya telah ada sehingga dapat memperkuat upaya dalam mencegah penyebaran HIV.


 

Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com


Situs Indonesia Sehat [ www.infokes.com ]

Rumah Sakit Pusat Nasional Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso Jkt


Situs Santakin [ www.santakin.com ]

Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com

 

UTAMA  |  PENYAKIT  |  IMUNISASI  |  KUPIN  |  PLASMID  |  PENELITIAN  |  PROFILE  |  S D M  |  SEJARAH  |  RSPNPI-SS  |  REDAKSI