| |
| |
HIV / AIDS
|
PATOFISIOLOGI HIV
|
-
Memberikan gambaran sistem imun normal.
-
Menggambarkan tentang Human Immunodeficiency
Virus.
-
Menggambarkan komponen-komponen penting
dari siklus HIV
-
Mengidentifikasi berbagai tipe dan
subtipe HIV
-
Mendiskusikan efek HIV terhadap sistem
imun
-
Sistem imun melindungi tubuh dengan
mengenali antigen pada bakteri dan virus, lalu bereaksi.
-
Limfosit T mengatur sistem imun dan
menghancurkan antigen.
-
HIV terus menerus menggunakan sel
induk (host cell) untuk bereplikasi
-
Siklus hidup HIV dapat dibagi menjadi
5 fase : pengikatan (binding and entry), transkipsi (reverse
transcription), replikasi, budding dan maturasi.
-
Begitu HIV berada dalam sirkulasi,
targetnya adalah limfosit CD4+.
-
Terdapat dua tipe HIV yang menyebabkan
AIDS yaitu HIV-1 dan HIV-2.
-
HIV cepat bermutasi. Mutasi ini dapat
menyebabkan resistensi terhadap medikasi anti HIV.
-
Infeksi primer adalah merujuk pada
waktu saat HIV pertama memasuki tubuh.
-
Masa laten klinis menunjukkan periode
waktu sebelum mulainya gejala dan komplikasi pada individu
terinfeksi HIV. Pada dewasa, fase ini dapat berlangsung
8-10 tahun.
-
Tanda dan gejala awal HIV dapat berupa
kandidiasis, limfadenopati, karsinoma serviks, herpes
zoster dan/atau neuropati perifer.
-
Tanda dan gejala lambat dari HIV dapat
berupa timbulnya infeksi yang mengancam nyawa dan keganasan.
Bahan Bacaan
Human immunodeficiency virus (HIV) adalah suatu retrovirus
yang termasuk famili lentivirus. Jenis retrovirus memiliki
kemampuan untuk menggunakan RNAnya dan DNA sel induk untuk
membuat DNA virus baru dan terkenal pula karena masa inkubasi
yang lama. Seperti retrovirus lain, HIV menginfeksi tubuh,
memiliki masa inkubasi yang lama (masa laten klinis) dan
pada akhirnya menimbulkan tanda dan gejala AIDS. HIV menyebakan
kerusakan parah pada system imun dan menghancurkannya. Ini
dilakukan dengan menggunakan DNA limfosit CD4+ untuk bereplikasi.
Proses inilah yang menghancurkan limfosit CD4+.
|
Sistem Imun Normal
Sistem imun melindungi tubuh dengan mengenali antigen
pada bakteri dan virus, lalu bereaksi. Saat sistem
imun ini melemah atau rusak karena virus seperti HIV,
tubuh menjadi lebih rentan terhadap infeksi oportunistik.
Sistem imun terdiri atas organ-organ dan jaringan
limfoid, termasuk sumsum tulang, kelanjar timus, kelenjar
getah bening, limpa, tonsil, adenoid, apendiks, pembuluh-pembuluh
darah dan limfe. (gambar 1)
Semua komponen system imun sangat penting dalam produksi
limfosit atau sel darah putih. Limfosit T dab B diproduksi
oleh sel induk/stem di sumsum tulang. Sel B akan tetap
berada dalam sumsum tulang untuk proses maturasi,
namum sel \t akan menuju kelenjar timus untuk maturasinya.
Dalam timus limfosit T menjadi imunokompeten, bertambah
banyak dan berdiferensiasi.
|
Gambar
1.Sistem imun
|
|
Sel limfosit
B
Fungsi utama dari sel-sel B adalah sebagai imunitas atau antibody
humoral. Setiap sel B dapat mengenali target antigen spesifik
dan mampu mensekresikan antibodi spesifik. Antibodi berfungsi
dengan cara membungkus antigen, membuat sel-sel ini rentan
terhadap fagositosis (proses 'serangan' oleh leukosit atau
makrofag untuk mencerna organisme tak diundang) atau dengan
membungkus antigen kemudian memicu sistem komplemen (yang
merupakan respon peradangan). Antibodi merupaan molekul protein
serum yang sangat khusus. Terbagi dalam 5 kelas, yaitu IgG,
IgA, IgM, IgE, dan IgD.
Sel limfosit T
Limfosit T atau sel T memiliki dua fungsi utama : regulasi
system imun dan membunuh sel-sel yang membawa target antigen
spesifik. Setiap sel T memiliki penanda permukaan, seperti
CD4+, CD8+, dan CD3+, yang membedakan antar sel Sel CD4+ merupakan
sel pembantu yang mengaktivasi sel B, killer cells, dan makrofag
saat ada antigen spesifik. Sel CD8+ membunuh sel yang terinfeksi
virus atau bakteri, juga sel-sel kanker. Sel T mampu menghasilkan
sitokin (zat kimia yang dapat membunuh sel) seperti interferon.
Sitokin dapat berikatan dengan sel-sel target dan mengaktifkan
proses inflamasi. Sitokin juga meningkatkan perumbuhan sel,
mengaktivasi fagosit dan menghancurkan sel target. Interleukin
merupakan jenis sitokin yang berperan sebagai pembawa esan
antar sel darah putih. Interleukin rekombinan (sintetis) saat
ini sedang dipelajari dalam uji klinis untuk pasien terinfeksi
HIV.
Fagosit
Fagosit terdiri atas monosit dan makrofag, sel darah putih
besar yang menelan dan mencerna sel yang membawa partikel
antigen. Sel ini dapat ditemukan di seluruh tubuh, dan membersihkan
tubuh dari sel rusak, memulai respon imun dengan mempresentasikan
antigen kepada limfosit, dan penting sebagai regulasi respon
imun dan inflamasi. Sel dendritik, tipe lain dari fagosit,
juga termasuk antigen-presenting cells. Mereka memiliki juluran
benang panjang yang membantu menjebak limfosit dan antogen,
serta dapat ditemukan dalam limpa dan kelenjar getah bening.
Neutrofil adalah fagosit granulosistik yang penting dalam
respon inflamasi. |
Gambar
2. Sel-sel system imun
|
Komplemen
aeSistem komplemen terdiri atas 25 protein. Komplemen
mampu menulai suatu respon inflamasi saat ia dan antibody
memfasilitasi fagositosis atau melemahkan sel membran
bakteri. Protein komplemen saling berinteraksi dalam
cascade aktivasi, memicu respon peradangan. Meskipun
system imun kita tampaknya telah cukup kuat menghadapi
predator asing, namun seiring waktu system ini akan
kalah oleh HIV. (Gambar 2). |
|
Human Immunodeficiency
Virus
Human immunodeficiency virus (HIV)
dibentuk oleh sebuah pusat atau inti silindris yang
dikelilingi amplop lipid berbentuk bulat. Intinya Bagian
tengah dari bulatan ini terdiri atas dua rangakaian
asam ribonukleat (RNA). HIV memiliki tiga gen utama
yang mengkodekan komponen structural dan fungsionalnya.
Ketiga gen ini adalah h gag, pol dan env. Gen gag mengkodekan
protein inti. Gen pol mengkodekan enzim reverse transcriptase,protease,
dan integrase.Gen env mengkodekan komponen structural
yaitu glikoprotein. Gen lain yang juga penting bagi
replikasi virus adalah rev, nef, vif, vpu, dan vpr (Gambar
3). |

Gambar 3. Struktur HIV |
|

|
Siklus Hidup HIV
Sel induk yang terinfeksi HIV mempunyai
masa hidup yang amat pendek, karena HIV terus menerus
menggunakan sel ini untuk bereplikasi. Sebanyak 10
juta virion (virus individual) akan diproduksi tiap
harinya. HIV pertama menyerang atau tertangkap sel
dendritik di membran mukosa dan kulit dalam 24 jam
pertama setelah pajanan. Sel-sel yang terinfeksi ini
kan menuju kelenjar getah bening dan akhirnya ke darah
perifer dalam 5 hari setelah pajanan, di mana reoplikasi
virus menjadi sangat pesat. Siklus hidup HIV dapat
dibagi menjadi 5 fase, yaitu binding and entry, reverse
transcription,replikasi, budding, dan maturasi (Gambar
4) F
|
|
| Type HIV
Ada dua tipe HIV yang menyebabkan AIDS, yaitu HIV-1 dan HIV-2.
HIV-1 bermutasi secara pesat karena tingkat replikasinya tinggi.
Berbagai variasi subtipe HIV-1 telah ditemukan di daerah geografis
spesifik dan kelompok resiko tinggi tertentu. Seseorang dapat
terinfeksi dengan subtipe yang berbeda. Berikut adalah berbagi
subtipe HIV1 dan distribusi geografisnya :
Subtype A: Afrika TengahC
Subtype B: Amerika Selatan, Brazil, U.S.A., Thailand
Subtype C: Brazil, India, Afrika Selatan
Subtype D: Afrika Tengah
Subtype E: Thailand, Republik Afrika Tengah
Subtype F: Brazil, Romania, Zaire
Subtype G: Zaire, Gabon, Thailand
Subtype H: Zaire, Gabon
Subtype O: Cameroon, Gabon
Subtype C saat ini merupakan penyebab lebih dari 50% infeksi
Hiv baru di seluruh dunia.
Efek terhadap Sistem Imun
Infeksi Primer atau or Acute Retroviral Syndrome
(Kategori klinis A)
Infeksi primer menunjukkan waktu HIV pertama kali memasuki
tubuh. Saat infeksi HIV primer, dalam darah seseorang tampak
viral load yang sangat tinggi dan berarti ada banyak sekali
virus dalam darah. Jumlah kopi virus per milliliter dalam
plasma atau darah dapat melebihi 1,000,000. Orang dewasa yang
baru terinfeksi akan mengalaim sindrom retroviral aku. Tanda
dan geja;anya termasuk demam, mialgia atau nyeri otot, sakit
kepala, mual, muntah, diare, keringat malam, berat badan turun
serta timbul ruam. Tanda dan gejala ini umumnya terjadi dua
sampai empat minggu setelah infeksi, mereda setelah beberapa
hari, dan sering terdiagnosa sebagai influenza atau mononukleosis
infeksiosa. Selama infeksi primer, jumlah limfosit CD4+ dalam
darah turun secara nyata. Virus akan menargetkan limfosit
CD4+ dalam KGB dan timus selama masa ini, membuat seseorang
terinfeksi HIV rentan terhadap infeksi oportunistik serta
membatasi kemampuan produksi limfosit T di timus. Tes antibodi
HIV dengan menggunakan enzyme-linked immunoabsorbent assay
(ELISA) atau enzyme immunoassay (EIA) akan menunjukkan hasil
positif.
Sistem Klasifikasi Dewasa dan Dewasa
Muda yang Terinfeksi HIV
Centers for Disease Control and Prevention atau CDC di AS
mengkategorikan dewasa dan dewasa muda terinfeksi HIV berdasarkan
hitung limfosit CD4+ dan kondisi klinis. Sistem klasifikasi
ini digunakan sebagai pedoman bagi pekerja medis profesional
dalam menentukan pilihan terapi untuk pasien.Sistem ini berdasarkan
tiga kisaran jumlah limfosit CD4+ dan tiga kategori klinis.
(lihat tabel 6) Kategori berdasar limfosit CD4+ dapat dilihat
di bawah ini dan berbanding lurus debfan jumlah sel CD4+ per
microliter darah.
Kategory 1: Lebih besar atau sama dengan 500 cells/uL
Kategory 2: 200-499 cells/uL
Kategory 3: < 200 cells/uL
Klasifikasi ini didasaekan pada jumlah CD4+ pasien terendah
dan bukan pada hitung terbaru. Sekali seorang pasien masuk
ke dalam kategori 2 atau 3, ia tidak dapat masuk ke kategori
satu walaupun jumlah limfosit CD4+ meningkat.
Latensi Klinis (Kategori Klinis A)
Meskipun pasien yang baru terinfeksi HIV mengalaim masa latensi
klinis selama bertahun-tahun antara infeksi HIV dan timbulnya
gejala klinis AIDS, telah terbukti bahwa replikasi dan rusaknya
sistem imun terjadi sejak onset infeksi. Individu terinfeksi
HIV mungkin tidak merasakan tanda dan gejala infeksi HIV.
Pada dewasa, fase laten ini dapat berlangsung 8 sampai 10
tahun. Tes ELISA dand Western Blot atau immunofluorescencecassay
(IFA) akan positif. Jumlah limfosit CD4+ lebih besar dari
500 cells/uL.
Tanda dan Gejala Awal HIV (Kategori
Klinis B)
Orang yang terinfeksi HIV mungkin tampak sehat selama bertahun
tahun namun kemudian berbagai tanda dan gejala minor mulai
muncul. Pasien akan mengalami kandidiasis, limfadenopati,
karsinoma serviks, herpes zoster, dan/atau neuropati perifer.
Viral load meningkat dan jumlah limfosit CD4+ turun menjadi
sekitar 500 cells/uL. Sekali seseorang termasuk kategori B
ia akan tetap dalam kategori ini. Ia daoat masuk ke kategori
C kemudian, namun tak dapat lagi masuk ke kategori A saat
ia kembali tanpa gejala.
Tanda dan Gejala Lanjut HIV (Kategori
klinis C)
Individu terinfeksi HIV akan mengalami berbagai infeksi yang
mengancam nyawa serta keganasan. Terjadinya pneumonia oleh
Pneumocystis carinii,toxoplasmosis,
cryptosporidiosis, dan infeksi oportunis lain sering dijumpai.
Ia dapat pula kehilangan berat badan. Viral load terus meningkat
dan jumlah limfosit CD4+ turun sampai di bawah 200
cells/uL. Berarti ia telah memenuhi definisi AIDS.
Penyakit HIV Parah/Advanced HIV Disease
(Kategori Klinis C)
Individu terinfeksi HIV terus mengalami infeksi oportunistik
baru seperti cytomegalovirus, Mycobacterium avium complex,
cryptococcal meningitis, progressive multifocal
leukoencephalopathy, dan penyakit lain yang muncul pada system
imun yang telah rudak parah. Viral load sangat tinggi dan
jumlah limfosit CD4+ adalah < 50 cells/uL. Kematian sudah
tak terelakkan. Sekali kondisi kategori C terjadi, orang ini
akan menetap dalam kategori C walaupun kondisinya membaik.
Limfosit CD4+ pada Anak
Anak dengan infeksi HIV sering menderita penyakit serius saat
pertama dievaluasi, atau mungkin menjadi AIDS setelah beberapa
waktu, mirip seperti dewasa yang terinfeksi. |
 |
Bayi dan anak kecil
normalnya memiliki jumlah limfosit Cd4+ lebih tinggi
daripada orang dewasa. Angka normalnya bervariasi sesuai
usia namuan setara dengan nilai dewasa saat ia berusia
6 tahun. CDC telah mengembangkan sestem untuk mengklasifikasi
HIV pediatrik berdasarkan kategori klinis dan imunologis.
Kategori klinis dan imunologis ini digunakan untuk mengevaluasi
status penyakit HIV di anak-anak dan untuk memutuskan
pengobatan.
Student Review
-
Jelaskan komponen mayor dalam
system imun dan peran mereka dalam melawan infeksi.
-
Sebutkan fungsi spesifik limfosit
T dan B
-
Review siklus hidup HIV
-
Definisikan 5 fase dalam siklus
ini
-
Identifikasikan subtipe Hiv
1 yang ada di daerah anda
-
Gambarkan tanda dan gejala klinis
infeksi HIV primer
-
Jelaskan masa latensi klinis
-
Gambarkan tanda dan gejala awal
HIV
|
|
|
Apakah AIDS itu
|
Aids
singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome.
Acquired artinya didapat bukan penyakit keturunan. Immuno
berarti system kekebalan tubuh. Deficiency artinya kekurangan
sedangkan syndrome kumpulan gejala. AIDS adalah penyakit
yang disebabkan oleh virus yang merusak system kekebalan
tubuh manusia, sehingga tubuh mudah diserang penyakit-penyakit
lain yang sangat berakibat fatal, padahal penyakit tersebut
tidak akan menyebabkan gangguan yang sangat berarti
pada orang yang system kekebalannya normal.
|
 |
Penyakit ini sudah merupakan
pandemi yang menyerang seluruh dunia. Data epidemiologi menunjukkan
peningkatan yang cepat pada tahun terakhir ini khususnya dikawasan
Asia Tenggara. Perawal 1 Januari 1997 dilaporkan ada 40.320
kasus AIDS, yang diperkiran kasus AIDS sebenarnya di Asia
Tenggara ada lebih dari 3,75 juta orang.
Pada saat ini di Indonesia diperkirakan terdapat 80.000 –
120.000 ODHA (Orang Hidup dengan HIV/AIDS) dengan faktor-faktor
yang mempermudah terjadinya epidemi, maka Indonesia sangat
terancam bencana nasional HIV/AIDS di tahun 2010. Perkiraan
jumlah penderita AIDS di Indonesia di tahun 2010 adalah 100.000
dengan pengidap HIV sebanyak 1.000.000 orang pada tahun 2010
kecuali apabila dilakukan tindakan pencegahan secara serius.
(Sidang Kabinet sesi khusus HIV/AIDS Maret 2002).
Penyakit
infeksi HIV/AIDS merupakan masalah kesehatan terbesar di dunia
dewasa ini, terdapat hampir di semua negara di dunia tanpa
kecuali Indonesia. Masalah yang berkembang sehubungan dengan
penyakit infeksi HIV/AIDS adalah angka kejadiannya yang cenderung
terus meningkat dengan angka kematian yang tinggi. Data tahun
2001 yang dilaporkan WHO dan UNAIDS, penduduk dunia yang terinfeksi
HIV mencapai 40 juta jiwa, 12-18 juta orang menunjukkan gejala
penyakit AIDS, 3 juta orang meninggal karena AIDS, serta setiap
hari 5000 orang ketularan virus HIV (UNAIDS,2001). Di Indonesia
penyakit HIV /AIDS juga sudah merupakan ancaman dan dan dalam
10 tahun terakhir telah merupakan the Emerging Infectious
Disease . Sejak diketemukan kasus pertama pada tahun 1987,
maka tahun 1999 tercatat 815 kasus HIV/AIDS, dan 112 penderita
tsb diantaranya meninggal. Angka kejadian penderita HIV/AIDS
di Jawa Timur tahun 2002 tercatat sejumlah 597 kasus ( Setyobhakti,2002).
Demikian pula angka kejadian Surabaya hingga bulan November
2002 tercatat 340 kasus HIV/AIDS dan di RSUD Dr. Soetomo hingga
November 2002 telah dirawat 110 kasus, 39 (35%) diantaranya
meninggal dalam perawatan di rumah sakit. Menurut estimasi
WHO, di Indonesia angka tersebut sebenarnya sudah mendekati
35.000-50.000 orang.
Dalam
20 tahun terakhir, lebih dari 60 juta orang di dunia terinfeksi
HIV dan 20 juta di antaranya meninggal karena AIDS. Pada tahun
2001 jumlah orang yang hidup dengan HIV/AIDS 40 juta , 17,
6 juta di antaranya wanita dan 2,8 juta anak di bawah 15 tahun
. Bagian dunia yang paling menderitan adalah Afrika sub-Sahara
di mana 70% kasus HIV/AIDS berada. Akan tetapi epidemi pada
saat ini telah melanda Asia Tenggara termasuk Indonesia yang
saat ini mengalami epidemi terkonsentrasi di beberapa provinsi
seperti Jakarta, Bali, Riau,Jawa Barat dan Irian Jaya terutama
di Sorong dan Merauke.
Prevalensi
HIV pada darah calon donor darah di Indonesia meningkat 8
kali dari 0,002% (1997) menjadi 0,016% pada tahun 2000 (Sidang
kabinet sesi khusus HIV/AIDS, Maret 2002). Sedangkan prevalensi
HIV pada pengguna narkoba suntikan di Indonesia juga meningkat
tajam. Saat ini 50 – 78% pengguna narkoba suntikan adalah
pengidap HIV (Djauzi dan Djoerban, 2002)
Data Kasus
Hingga 31 Maret 2003 tercatat : 3614 Kasus HIV / AIDS di Indonesia
| TAHUN |
HIV + |
AIDS |
Jumlah |
| 1987 |
4 |
2 |
6 |
| 1988 |
5 |
2 |
7 |
| 1989 |
4 |
3 |
7 |
| 1990 |
4 |
5 |
9 |
| 1991 |
6 |
12 |
18 |
| 1992 |
18 |
10 |
28 |
| 1993 |
96 |
17 |
113 |
| 1994 |
71 |
16 |
87 |
| 1995 |
69 |
20 |
89 |
| 1996 |
105 |
32 |
137 |
| 1997 |
83 |
34 |
117 |
| 1998 |
126 |
74 |
200 |
| 1999 |
178 |
47 |
225 |
| 2000 |
403 |
178 |
581 |
| 2001 |
732 |
219 |
951 |
| 2002 |
648 |
354 |
993 |
Januari - Maret 2003 |
4 |
42 |
46 |
| JUMLAH |
2556 |
1058 |
3614 |
Kasus AIDS dan meninggal menurut propinsi :
| NO. |
Proinsi |
HIV + |
AIDS |
Jumlah |
Wafat |
| 1. |
DKI Jakarta |
861 |
328 |
1189 |
97 |
| 2. |
Papua |
527 |
326 |
853 |
113 |
| 3. |
Jatim |
282 |
157 |
439 |
29 |
| 4. |
Riau |
202 |
49 |
251 |
26 |
| 5. |
Bali |
174 |
42 |
216 |
10 |
| 6. |
Jabar |
66 |
43 |
109 |
16 |
| 7. |
Kalbar |
75 |
13 |
88 |
8 |
| 8. |
Jateng |
75 |
13 |
88 |
8 |
| 9. |
Sumsel |
72 |
4 |
76 |
3 |
| 10. |
Sumut |
28 |
23 |
51 |
8 |
| 11. |
Kaltim |
34 |
4 |
38 |
2 |
| 12. |
Sulsel |
32 |
1 |
33 |
1 |
| 13. |
Kalteng |
27 |
0 |
27 |
0 |
| 14. |
Yogyakarta |
11 |
13 |
24 |
4 |
| 15. |
Jambi |
17 |
5 |
22 |
1 |
| 16. |
Maluku |
16 |
3 |
19 |
2 |
| 17. |
Lampung |
19 |
0 |
19 |
0 |
| 18. |
Sulut |
1 |
19 |
20 |
5 |
| 19. |
NTT |
8 |
6 |
14 |
1 |
| 20. |
Sumbar |
8 |
2 |
10 |
0 |
| 21. |
NTB |
1 |
5 |
6 |
1 |
| 22. |
Bengkulu |
6 |
0 |
6 |
0 |
| 23. |
Kalsel |
5 |
0 |
5 |
0 |
| 24. |
Aceh |
1 |
0 |
1 |
0 |
25. |
Bangka-Belitung |
0 |
2 |
2 |
0 |
| |
Tidak diketahui |
8 |
0 |
8 |
0 |
| JUMLAH |
2556 |
1058 |
3614 |
332 |
Kumulatif Kasus HIV/AIDS menurut Faktor Resiko
FAKTOR
RESIKO |
HIV + |
AIDS |
Jumlah |
| Heteroseksual |
1365 |
550 |
1915 |
| Inter Drug User |
543 |
251 |
794 |
| Homo / Biseksual |
81 |
107 |
188 |
| Transmisi Prenatal |
5 |
15 |
20 |
| Transfusi Darah |
0 |
4 |
4 |
| Hemophilia |
1 |
1 |
2 |
| Tak Diketahui |
561 |
130 |
691 |
JUMLAH |
2556 |
1058 |
3614 |
Kumulatif Kasus HIV/AIDS Menurut Umum
KEBANGSAAN
/ NATIONALITY |
HIV + |
AIDS |
Jumlah |
| WNI / Indonesia |
2259 |
996 |
3255 |
| WNA / Foreigners |
232 |
57 |
289 |
| Tak Diketahui / Unknown |
65 |
5 |
70 |
Jumlah |
2556 |
1058 |
3614 |
Kumulatif Kasus HIV/AIDS Menurut Umur
Kel. Umur |
HIV + |
AIDS |
Jumlah |
< 1 |
1 |
2 |
3 |
1 - 4 |
2 |
10 |
12 |
5 - 14 |
0 |
4 |
4 |
15 - 19 |
79 |
68 |
147 |
20 - 29 |
472 |
442 |
914 |
30 - 39 |
180 |
328 |
508 |
40 - 49 |
45 |
122 |
167 |
50 - 59 |
8 |
30 |
38 |
> 60 |
1 |
7 |
8 |
Tak Diketahui |
1768 |
45 |
1813 |
Jumlah |
2556 |
1058 |
3614 |
Kumulatif Kasus HIV/AIDS Menurut Jenis Kelamin
KELAMIN
/ SEX |
HIV + |
AIDS |
Jumlah |
| Laki - Laki |
1467 |
772 |
2239 |
| Perempuan |
871 |
227 |
1098 |
| Tak Diketahui |
218 |
59 |
227 |
Jumlah |
2556 |
1058 |
3614 |
Tanya Jawab HIV/AIDS
AIDS
atau Acquired Immune Deficiency Syndrome merupakan kumpulan
gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh
virus yang disebut HIV. Kerusakan progresif pada sistem kekebalan
tubuh me-nyebabkan orang dengan HIV/AIDS (Odha) amat rentan
dan mudah terjangkit bermacam-macam penyakit. Serangan penyakit
yang biasanya tidak berbahaya pun lama-kelamaan akan menyebabkan
pasien sakit parah bahkan meninggal. Oleh karena penyakit
yang menyerang bervariasi, AIDS kurang tepat jika disebut
penyakit. Definisi yang benar adalah sindrom atau kumpulan
gejala penyakit.
Apakah HIV?
HIV
atau Human Immunodeficiency Virus, adalah virus yang menyerang
sistem kekebalan tubuh manusia dan kemudian menimbulkan AIDS.
HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang
bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut termasuk
limfosit yang disebut "sel T-4" atau disebut juga
"sel CD-4". HIV atau Human Immunodeficiency Virus,
adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia
dan kemudian menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu jenis
dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi.
Sel darah putih tersebut termasuk limfosit yang disebut "sel
T-4" atau disebut juga "sel CD-4".
Bagaimana Cara Penularan HIV?
Melalui
hubungan seksual dengan seseorang yang terinfeksi HIV tanpa
memakai kondom l Melalui transfusi darah l Melalui alat-alat
tajam yang telah tercemar HIV (jarum suntik, pisau cukur,
tatto, dll) l Melalui ibu hamil yang terinfeksi HIV kepada
janin yang dikandungnya atau bayi yang disusuinya.
Mengapa jalur-jalur tersebut dapat menularkan
HIV?
Karena
HIV - dalam jumlah yang cukup untuk menginfeksi orang lain-
ditemukan dalam darah, air mani dan cairan vagina Odha. Melalui
cairan-cairan tubuh yang lain, tidak pernah dilaporkan kasus
penularan HIV (misalnya melalui: air mata, keringat, air liur/ludah,
air kencing).
Apakah seorang Odha bisa dibedakan dari
orang lain?
Tidak.
Seorang Odha kelihatan biasa, seperti halnya orang lain karena
tidak menunjukkan gejala klinis. Kondisi ini disebut "asimptomatik"
yaitu tanpa gejala. Pada orang dewasa sesudah 5-10 tahun mulai
tampak gejala-gejala AIDS.
Siapa saja yang dapat tertular HIV?
HIV
dapat menular kepada siapapun melalui cara tertentu, tanpa
peduli kebangsaan, ras, jenis kelamin, agama, tingkat pendidikan,
kelas ekonomi maupun orientasi seksualnya. Apakah hubungan
seksual dengan Odha tetap dapat dilakukan? Ya, hubungan seksual
dengan Odha tetap dapat dilakukan tenpa risiko jika memakai
kondom yang baik mutunya dengan cara yang benar.
Kegiatan seksual seperti apa yang paling
berbahaya menularkan HIV?
Hubungan
seksual secara anal (lewat dubur) paling berisiko menularkan
HIV, karena epitel mukosa anus relatif tipis dan lebih mudah
terluka dibandingkan epitel dinding vagina, sehingga HIV lebih
mudah masuk ke aliran darah. Dalam berhubungan seks vaginal,
perempuan lebih besar risikonya daripada pria karena selaput
lendir vagina cukup rapuh. Disamping itu karena cairan sperma
akan menetap cukup lama di dalam vagina, kesempatan HIV masuk
ke aliran darah menjadi lebih tinggi. HIV di cairan vagina
atau darah tersebut, juga dapat masuk ke aliran darah melalui
saluran kencing pasangannya.
Apa yang dimaksud dengan perilaku berisiko
tinggi?
Berhubungan
seks tidak aman, termasuk tanpa kondom Ganti-ganti pasangan
l Ganti-ganti jarum suntik atau alat-alat lain yang kontak
dengan cairan tubuh dengan orang lain l Memperoleh transfusi
darah yang tidak dites HIV
Apakah hubungan seks sekali saja dengan
seorang Odha secara tidak aman dapat menularkan HIV?
Ya. Kemungkinan itu ada. Dalam satu kali hubungan seks secara
tidak aman dengan orang yang terinfeksi HIV dapat terjadi
penularan. Walaupun secara statistik kemungkinan ini antara
0,1% hingga 1% (jauh dibawah risiko penularan HIV melalui
transfusi darah) tetapi lebih dari 90% kasus penularan HIV/AIDS
terjadi melalui hubungan seks yang tidak aman
Bagaimana penularan HIV melalui darah?
Secara
langsung (transfusi darah, produk darah atau transplantasi
organ tubuh yang tercemar HIV) l Lewat alat-alat (jarum suntik,
peralatan dokter, jarum tato, tindik, dll) yang telah tercemar
HIV karena baru dipakai oleh orang yang terinfeksi HIV dan
tidak disterilisasi terlebih dahulu Apakah seorang ibu pengidap
HIV selalu akan menularkan HIV pada janinnya? Tidak, bila
seorang perempuan yang telah terinfeksi HIV hamil, kemungkinan
akan menularkan HIV kepada janinnya hanya 30%.
Jika kita dekat atau tinggal serumah
dengan Odha, apakah kita bisa tertular?
Tidak,
karena kegiatan sehari-hari Odha tidak memungkinkan terjadinya
pertukaran cairan tubuh yang menularkan HIV. Kita tidak tertular
HIV selama kita mencegah kontak darah dengan Odha dan jika
berhubungan seks, kita melakukannya secara aman dengan memakai
kondom.
Berapa lama masa inkubasi infeksi HIV?
Masa
inkubasi HIV sangat tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing
orang, rata-rata 5-10 tahun. Selama masa ini orang tidak memperlihatkan
gejala-gejala, walaupun jumlah HIV semakin bertambah dan sel
CD4 semakin menurun. Ketika sistem kekebalan tubuh sudah dalam
keadaan parah, seorang Odha akan mulai menampakkan gejala-gejala
AIDS
Apakah tes HIV itu?
Tes
HIV adalah suatu tes terhadap darah, cairan tubuh atau organ
tubuh yang dipakai untuk memastikan seseorang telah terinfeksi
HIV atau tidak.
Bagaimana cara mencegah penularan HIV
lewat hubungan seks?
Ada
tiga cara: l abstinensi (atau puasa, tidak melakukan hubungan
seks) l Melakukan prinsip monogami yaitu tidak berganti-ganti
pasangan dan saling setia kepada pasangannya l Untuk yang
melakukan hubungan seksual yang mengandung risiko, dianjurkan
melakukan seks aman termasuk menggunakan kond.
Bagaimana cara mencegah penularan lewat
alat-alat yang tercemar HIV?
Ada
dua hal yang perlu diperhatikan: l semua alat yang menembus
kulit dan darah (jarum suntik, jarum tato, atau pisau cukur)
harus disterilisasi dengan benar l Jangan memakai jarum suntik
atau alat yang menembus kulit bergantian dengan orang lain
(Sumber: Buku "AIDS dan Penanggulangannya":
Pusdiknakes Depkes RI, Ford Foundation & Studio Driya
Media, 1997)
|
|
|
|