Infeksi
>> Penyakit


Direktur Jenderal PPM - PL
Halaman Utama
Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial
Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease
Informasi Penelitian
Profile RSPI - SS
Dokter - dokter di RSPI - SS
Sejarah RSPI - SS


Rumah Sakit Pusat Nasional Penyakit Infeksi
Tim Redaksi infeksi.com

 Plasmid - Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease

Kupin - Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial


 
Halaman Utama Informasi mengenai penyakit - penyakit infeksi Informasi mengenai Imunisasi Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease Informasi Penelitian Profile RSPI - SS Dokter - dokter di RSPI - SS Sejarah RSPI - SS  
 

HIV / AIDS

PATOFISIOLOGI HIV

Tujuan dari Modul

  1. Memberikan gambaran sistem imun normal.
  2. Menggambarkan tentang Human Immunodeficiency Virus.
  3. Menggambarkan komponen-komponen penting dari siklus HIV
  4. Mengidentifikasi berbagai tipe dan subtipe HIV
  5. Mendiskusikan efek HIV terhadap sistem imun

Intisari Bahasan

  1. Sistem imun melindungi tubuh dengan mengenali antigen pada bakteri dan virus, lalu bereaksi.
  2. Limfosit T mengatur sistem imun dan menghancurkan antigen.
  3. HIV terus menerus menggunakan sel induk (host cell) untuk bereplikasi
  4. Siklus hidup HIV dapat dibagi menjadi 5 fase : pengikatan (binding and entry), transkipsi (reverse transcription), replikasi, budding dan maturasi.
  5. Begitu HIV berada dalam sirkulasi, targetnya adalah limfosit CD4+.
  6. Terdapat dua tipe HIV yang menyebabkan AIDS yaitu HIV-1 dan HIV-2.
  7. HIV cepat bermutasi. Mutasi ini dapat menyebabkan resistensi terhadap medikasi anti HIV.
  8. Infeksi primer adalah merujuk pada waktu saat HIV pertama memasuki tubuh.
  9. Masa laten klinis menunjukkan periode waktu sebelum mulainya gejala dan komplikasi pada individu terinfeksi HIV. Pada dewasa, fase ini dapat berlangsung 8-10 tahun.
  10. Tanda dan gejala awal HIV dapat berupa kandidiasis, limfadenopati, karsinoma serviks, herpes zoster dan/atau neuropati perifer.
  11. Tanda dan gejala lambat dari HIV dapat berupa timbulnya infeksi yang mengancam nyawa dan keganasan.

Bahan Bacaan

Human immunodeficiency virus (HIV) adalah suatu retrovirus yang termasuk famili lentivirus. Jenis retrovirus memiliki kemampuan untuk menggunakan RNAnya dan DNA sel induk untuk membuat DNA virus baru dan terkenal pula karena masa inkubasi yang lama. Seperti retrovirus lain, HIV menginfeksi tubuh, memiliki masa inkubasi yang lama (masa laten klinis) dan pada akhirnya menimbulkan tanda dan gejala AIDS. HIV menyebakan kerusakan parah pada system imun dan menghancurkannya. Ini dilakukan dengan menggunakan DNA limfosit CD4+ untuk bereplikasi. Proses inilah yang menghancurkan limfosit CD4+.

Sistem Imun Normal

Sistem imun melindungi tubuh dengan mengenali antigen pada bakteri dan virus, lalu bereaksi. Saat sistem imun ini melemah atau rusak karena virus seperti HIV, tubuh menjadi lebih rentan terhadap infeksi oportunistik. Sistem imun terdiri atas organ-organ dan jaringan limfoid, termasuk sumsum tulang, kelanjar timus, kelenjar getah bening, limpa, tonsil, adenoid, apendiks, pembuluh-pembuluh darah dan limfe. (gambar 1)

Semua komponen system imun sangat penting dalam produksi limfosit atau sel darah putih. Limfosit T dab B diproduksi oleh sel induk/stem di sumsum tulang. Sel B akan tetap berada dalam sumsum tulang untuk proses maturasi, namum sel \t akan menuju kelenjar timus untuk maturasinya. Dalam timus limfosit T menjadi imunokompeten, bertambah banyak dan berdiferensiasi.

Gambar 1.Sistem imun

Sel limfosit B
Fungsi utama dari sel-sel B adalah sebagai imunitas atau antibody humoral. Setiap sel B dapat mengenali target antigen spesifik dan mampu mensekresikan antibodi spesifik. Antibodi berfungsi dengan cara membungkus antigen, membuat sel-sel ini rentan terhadap fagositosis (proses 'serangan' oleh leukosit atau makrofag untuk mencerna organisme tak diundang) atau dengan membungkus antigen kemudian memicu sistem komplemen (yang merupakan respon peradangan). Antibodi merupaan molekul protein serum yang sangat khusus. Terbagi dalam 5 kelas, yaitu IgG, IgA, IgM, IgE, dan IgD.
Sel limfosit T
Limfosit T atau sel T memiliki dua fungsi utama : regulasi system imun dan membunuh sel-sel yang membawa target antigen spesifik. Setiap sel T memiliki penanda permukaan, seperti CD4+, CD8+, dan CD3+, yang membedakan antar sel Sel CD4+ merupakan sel pembantu yang mengaktivasi sel B, killer cells, dan makrofag saat ada antigen spesifik. Sel CD8+ membunuh sel yang terinfeksi virus atau bakteri, juga sel-sel kanker. Sel T mampu menghasilkan sitokin (zat kimia yang dapat membunuh sel) seperti interferon. Sitokin dapat berikatan dengan sel-sel target dan mengaktifkan proses inflamasi. Sitokin juga meningkatkan perumbuhan sel, mengaktivasi fagosit dan menghancurkan sel target. Interleukin merupakan jenis sitokin yang berperan sebagai pembawa esan antar sel darah putih. Interleukin rekombinan (sintetis) saat ini sedang dipelajari dalam uji klinis untuk pasien terinfeksi HIV.

Fagosit
Fagosit terdiri atas monosit dan makrofag, sel darah putih besar yang menelan dan mencerna sel yang membawa partikel antigen. Sel ini dapat ditemukan di seluruh tubuh, dan membersihkan tubuh dari sel rusak, memulai respon imun dengan mempresentasikan antigen kepada limfosit, dan penting sebagai regulasi respon imun dan inflamasi. Sel dendritik, tipe lain dari fagosit, juga termasuk antigen-presenting cells. Mereka memiliki juluran benang panjang yang membantu menjebak limfosit dan antogen, serta dapat ditemukan dalam limpa dan kelenjar getah bening. Neutrofil adalah fagosit granulosistik yang penting dalam respon inflamasi.

Gambar 2. Sel-sel system imun

Komplemen
aeSistem komplemen terdiri atas 25 protein. Komplemen mampu menulai suatu respon inflamasi saat ia dan antibody memfasilitasi fagositosis atau melemahkan sel membran bakteri. Protein komplemen saling berinteraksi dalam cascade aktivasi, memicu respon peradangan. Meskipun system imun kita tampaknya telah cukup kuat menghadapi predator asing, namun seiring waktu system ini akan kalah oleh HIV. (Gambar 2).

Human Immunodeficiency Virus

Human immunodeficiency virus (HIV) dibentuk oleh sebuah pusat atau inti silindris yang dikelilingi amplop lipid berbentuk bulat. Intinya Bagian tengah dari bulatan ini terdiri atas dua rangakaian asam ribonukleat (RNA). HIV memiliki tiga gen utama yang mengkodekan komponen structural dan fungsionalnya. Ketiga gen ini adalah h gag, pol dan env. Gen gag mengkodekan protein inti. Gen pol mengkodekan enzim reverse transcriptase,protease, dan integrase.Gen env mengkodekan komponen structural yaitu glikoprotein. Gen lain yang juga penting bagi replikasi virus adalah rev, nef, vif, vpu, dan vpr (Gambar 3).

Gambar 3. Struktur HIV

Siklus Hidup HIV

Sel induk yang terinfeksi HIV mempunyai masa hidup yang amat pendek, karena HIV terus menerus menggunakan sel ini untuk bereplikasi. Sebanyak 10 juta virion (virus individual) akan diproduksi tiap harinya. HIV pertama menyerang atau tertangkap sel dendritik di membran mukosa dan kulit dalam 24 jam pertama setelah pajanan. Sel-sel yang terinfeksi ini kan menuju kelenjar getah bening dan akhirnya ke darah perifer dalam 5 hari setelah pajanan, di mana reoplikasi virus menjadi sangat pesat. Siklus hidup HIV dapat dibagi menjadi 5 fase, yaitu binding and entry, reverse transcription,replikasi, budding, dan maturasi (Gambar 4) F

Type HIV
Ada dua tipe HIV yang menyebabkan AIDS, yaitu HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 bermutasi secara pesat karena tingkat replikasinya tinggi. Berbagai variasi subtipe HIV-1 telah ditemukan di daerah geografis spesifik dan kelompok resiko tinggi tertentu. Seseorang dapat terinfeksi dengan subtipe yang berbeda. Berikut adalah berbagi subtipe HIV1 dan distribusi geografisnya :
Subtype A: Afrika TengahC
Subtype B: Amerika Selatan, Brazil, U.S.A., Thailand
Subtype C: Brazil, India, Afrika Selatan
Subtype D: Afrika Tengah
Subtype E: Thailand, Republik Afrika Tengah
Subtype F: Brazil, Romania, Zaire
Subtype G: Zaire, Gabon, Thailand
Subtype H: Zaire, Gabon
Subtype O: Cameroon, Gabon
Subtype C saat ini merupakan penyebab lebih dari 50% infeksi Hiv baru di seluruh dunia.

Efek terhadap Sistem Imun
Infeksi Primer atau or Acute Retroviral Syndrome

(Kategori klinis A)
Infeksi primer menunjukkan waktu HIV pertama kali memasuki tubuh. Saat infeksi HIV primer, dalam darah seseorang tampak viral load yang sangat tinggi dan berarti ada banyak sekali virus dalam darah. Jumlah kopi virus per milliliter dalam plasma atau darah dapat melebihi 1,000,000. Orang dewasa yang baru terinfeksi akan mengalaim sindrom retroviral aku. Tanda dan geja;anya termasuk demam, mialgia atau nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, diare, keringat malam, berat badan turun serta timbul ruam. Tanda dan gejala ini umumnya terjadi dua sampai empat minggu setelah infeksi, mereda setelah beberapa hari, dan sering terdiagnosa sebagai influenza atau mononukleosis infeksiosa. Selama infeksi primer, jumlah limfosit CD4+ dalam darah turun secara nyata. Virus akan menargetkan limfosit CD4+ dalam KGB dan timus selama masa ini, membuat seseorang terinfeksi HIV rentan terhadap infeksi oportunistik serta membatasi kemampuan produksi limfosit T di timus. Tes antibodi HIV dengan menggunakan enzyme-linked immunoabsorbent assay (ELISA) atau enzyme immunoassay (EIA) akan menunjukkan hasil positif.

Sistem Klasifikasi Dewasa dan Dewasa Muda yang Terinfeksi HIV
Centers for Disease Control and Prevention atau CDC di AS mengkategorikan dewasa dan dewasa muda terinfeksi HIV berdasarkan hitung limfosit CD4+ dan kondisi klinis. Sistem klasifikasi ini digunakan sebagai pedoman bagi pekerja medis profesional dalam menentukan pilihan terapi untuk pasien.Sistem ini berdasarkan tiga kisaran jumlah limfosit CD4+ dan tiga kategori klinis. (lihat tabel 6) Kategori berdasar limfosit CD4+ dapat dilihat di bawah ini dan berbanding lurus debfan jumlah sel CD4+ per microliter darah.
Kategory 1: Lebih besar atau sama dengan 500 cells/uL
Kategory 2: 200-499 cells/uL
Kategory 3: < 200 cells/uL
Klasifikasi ini didasaekan pada jumlah CD4+ pasien terendah dan bukan pada hitung terbaru. Sekali seorang pasien masuk ke dalam kategori 2 atau 3, ia tidak dapat masuk ke kategori satu walaupun jumlah limfosit CD4+ meningkat.

Latensi Klinis (Kategori Klinis A)
Meskipun pasien yang baru terinfeksi HIV mengalaim masa latensi klinis selama bertahun-tahun antara infeksi HIV dan timbulnya gejala klinis AIDS, telah terbukti bahwa replikasi dan rusaknya sistem imun terjadi sejak onset infeksi. Individu terinfeksi HIV mungkin tidak merasakan tanda dan gejala infeksi HIV. Pada dewasa, fase laten ini dapat berlangsung 8 sampai 10 tahun. Tes ELISA dand Western Blot atau immunofluorescencecassay (IFA) akan positif. Jumlah limfosit CD4+ lebih besar dari 500 cells/uL.

Tanda dan Gejala Awal HIV (Kategori Klinis B)
Orang yang terinfeksi HIV mungkin tampak sehat selama bertahun tahun namun kemudian berbagai tanda dan gejala minor mulai muncul. Pasien akan mengalami kandidiasis, limfadenopati, karsinoma serviks, herpes zoster, dan/atau neuropati perifer. Viral load meningkat dan jumlah limfosit CD4+ turun menjadi sekitar 500 cells/uL. Sekali seseorang termasuk kategori B ia akan tetap dalam kategori ini. Ia daoat masuk ke kategori C kemudian, namun tak dapat lagi masuk ke kategori A saat ia kembali tanpa gejala.

Tanda dan Gejala Lanjut HIV (Kategori klinis C)
Individu terinfeksi HIV akan mengalami berbagai infeksi yang mengancam nyawa serta keganasan. Terjadinya pneumonia oleh Pneumocystis carinii,toxoplasmosis,
cryptosporidiosis, dan infeksi oportunis lain sering dijumpai. Ia dapat pula kehilangan berat badan. Viral load terus meningkat dan jumlah limfosit CD4+ turun sampai di bawah 200
cells/uL. Berarti ia telah memenuhi definisi AIDS.

Penyakit HIV Parah/Advanced HIV Disease (Kategori Klinis C)
Individu terinfeksi HIV terus mengalami infeksi oportunistik baru seperti cytomegalovirus, Mycobacterium avium complex, cryptococcal meningitis, progressive multifocal
leukoencephalopathy, dan penyakit lain yang muncul pada system imun yang telah rudak parah. Viral load sangat tinggi dan jumlah limfosit CD4+ adalah < 50 cells/uL. Kematian sudah tak terelakkan. Sekali kondisi kategori C terjadi, orang ini akan menetap dalam kategori C walaupun kondisinya membaik.

Limfosit CD4+ pada Anak
Anak dengan infeksi HIV sering menderita penyakit serius saat pertama dievaluasi, atau mungkin menjadi AIDS setelah beberapa waktu, mirip seperti dewasa yang terinfeksi.

Bayi dan anak kecil normalnya memiliki jumlah limfosit Cd4+ lebih tinggi daripada orang dewasa. Angka normalnya bervariasi sesuai usia namuan setara dengan nilai dewasa saat ia berusia 6 tahun. CDC telah mengembangkan sestem untuk mengklasifikasi HIV pediatrik berdasarkan kategori klinis dan imunologis. Kategori klinis dan imunologis ini digunakan untuk mengevaluasi status penyakit HIV di anak-anak dan untuk memutuskan pengobatan.

Student Review

  1. Jelaskan komponen mayor dalam system imun dan peran mereka dalam melawan infeksi.
  2. Sebutkan fungsi spesifik limfosit T dan B
  3. Review siklus hidup HIV
  4. Definisikan 5 fase dalam siklus ini
  5. Identifikasikan subtipe Hiv 1 yang ada di daerah anda
  6. Gambarkan tanda dan gejala klinis infeksi HIV primer
  7. Jelaskan masa latensi klinis
  8. Gambarkan tanda dan gejala awal HIV

Apakah AIDS itu


          Aids singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome. Acquired artinya didapat bukan penyakit keturunan. Immuno berarti system kekebalan tubuh. Deficiency artinya kekurangan sedangkan syndrome kumpulan gejala. AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak system kekebalan tubuh manusia, sehingga tubuh mudah diserang penyakit-penyakit lain yang sangat berakibat fatal, padahal penyakit tersebut tidak akan menyebabkan gangguan yang sangat berarti pada orang yang system kekebalannya normal.

       

Penyakit ini sudah merupakan pandemi yang menyerang seluruh dunia. Data epidemiologi menunjukkan peningkatan yang cepat pada tahun terakhir ini khususnya dikawasan Asia Tenggara. Perawal 1 Januari 1997 dilaporkan ada 40.320 kasus AIDS, yang diperkiran kasus AIDS sebenarnya di Asia Tenggara ada lebih dari 3,75 juta orang.
Pada saat ini di Indonesia diperkirakan terdapat 80.000 – 120.000 ODHA (Orang Hidup dengan HIV/AIDS) dengan faktor-faktor yang mempermudah terjadinya epidemi, maka Indonesia sangat terancam bencana nasional HIV/AIDS di tahun 2010. Perkiraan jumlah penderita AIDS di Indonesia di tahun 2010 adalah 100.000 dengan pengidap HIV sebanyak 1.000.000 orang pada tahun 2010 kecuali apabila dilakukan tindakan pencegahan secara serius. (Sidang Kabinet sesi khusus HIV/AIDS Maret 2002).
          Penyakit infeksi HIV/AIDS merupakan masalah kesehatan terbesar di dunia dewasa ini, terdapat hampir di semua negara di dunia tanpa kecuali Indonesia. Masalah yang berkembang sehubungan dengan penyakit infeksi HIV/AIDS adalah angka kejadiannya yang cenderung terus meningkat dengan angka kematian yang tinggi. Data tahun 2001 yang dilaporkan WHO dan UNAIDS, penduduk dunia yang terinfeksi HIV mencapai 40 juta jiwa, 12-18 juta orang menunjukkan gejala penyakit AIDS, 3 juta orang meninggal karena AIDS, serta setiap hari 5000 orang ketularan virus HIV (UNAIDS,2001). Di Indonesia penyakit HIV /AIDS juga sudah merupakan ancaman dan dan dalam 10 tahun terakhir telah merupakan the Emerging Infectious Disease . Sejak diketemukan kasus pertama pada tahun 1987, maka tahun 1999 tercatat 815 kasus HIV/AIDS, dan 112 penderita tsb diantaranya meninggal. Angka kejadian penderita HIV/AIDS di Jawa Timur tahun 2002 tercatat sejumlah 597 kasus ( Setyobhakti,2002). Demikian pula angka kejadian Surabaya hingga bulan November 2002 tercatat 340 kasus HIV/AIDS dan di RSUD Dr. Soetomo hingga November 2002 telah dirawat 110 kasus, 39 (35%) diantaranya meninggal dalam perawatan di rumah sakit. Menurut estimasi WHO, di Indonesia angka tersebut sebenarnya sudah mendekati 35.000-50.000 orang.
          Dalam 20 tahun terakhir, lebih dari 60 juta orang di dunia terinfeksi HIV dan 20 juta di antaranya meninggal karena AIDS. Pada tahun 2001 jumlah orang yang hidup dengan HIV/AIDS 40 juta , 17, 6 juta di antaranya wanita dan 2,8 juta anak di bawah 15 tahun . Bagian dunia yang paling menderitan adalah Afrika sub-Sahara di mana 70% kasus HIV/AIDS berada. Akan tetapi epidemi pada saat ini telah melanda Asia Tenggara termasuk Indonesia yang saat ini mengalami epidemi terkonsentrasi di beberapa provinsi seperti Jakarta, Bali, Riau,Jawa Barat dan Irian Jaya terutama di Sorong dan Merauke.
          Prevalensi HIV pada darah calon donor darah di Indonesia meningkat 8 kali dari 0,002% (1997) menjadi 0,016% pada tahun 2000 (Sidang kabinet sesi khusus HIV/AIDS, Maret 2002). Sedangkan prevalensi HIV pada pengguna narkoba suntikan di Indonesia juga meningkat tajam. Saat ini 50 – 78% pengguna narkoba suntikan adalah pengidap HIV (Djauzi dan Djoerban, 2002)

Data Kasus
Hingga 31 Maret 2003 tercatat : 3614 Kasus HIV / AIDS di Indonesia

TAHUN
HIV +
AIDS
Jumlah
1987
4
2
6
1988
5
2
7
1989
4
3
7
1990
4
5
9
1991
6
12
18
1992
18
10
28
1993
96
17
113
1994
71
16
87
1995
69
20
89
1996
105
32
137
1997
83
34
117
1998
126
74
200
1999
178
47
225
2000
403
178
581
2001
732
219
951
2002
648
354
993
Januari - Maret 2003
4
42
46
JUMLAH
2556
1058
3614


Kasus AIDS dan meninggal menurut propinsi :

NO.
Proinsi
HIV +
AIDS
Jumlah
Wafat
1.
DKI Jakarta
861
328
1189
97
2.
Papua
527
326
853
113
3.
Jatim
282
157
439
29
4.
Riau
202
49
251
26
5.
Bali
174
42
216
10
6.
Jabar
66
43
109
16
7.
Kalbar
75
13
88
8
8.
Jateng
75
13
88
8
9.
Sumsel
72
4
76
3
10.
Sumut
28
23
51
8
11.
Kaltim
34
4
38
2
12.
Sulsel
32
1
33
1
13.
Kalteng
27
0
27
0
14.
Yogyakarta
11
13
24
4
15.
Jambi
17
5
22
1
16.
Maluku
16
3
19
2
17.
Lampung
19
0
19
0
18.
Sulut
1
19
20
5
19.
NTT
8
6
14
1
20.
Sumbar
8
2
10
0
21.
NTB
1
5
6
1
22.
Bengkulu
6
0
6
0
23.
Kalsel
5
0
5
0
24.
Aceh
1
0
1
0
25.
Bangka-Belitung
0
2
2
0
Tidak diketahui
8
0
8
0
JUMLAH
2556
1058
3614
332


Kumulatif Kasus HIV/AIDS menurut Faktor Resiko

FAKTOR RESIKO
HIV +
AIDS
Jumlah
Heteroseksual
1365
550
1915
Inter Drug User
543
251
794
Homo / Biseksual
81
107
188
Transmisi Prenatal
5
15
20
Transfusi Darah
0
4
4
Hemophilia
1
1
2
Tak Diketahui
561
130
691
JUMLAH
2556
1058
3614


Kumulatif Kasus HIV/AIDS Menurut Umum

KEBANGSAAN / NATIONALITY
HIV +
AIDS
Jumlah
WNI / Indonesia
2259
996
3255
WNA / Foreigners
232
57
289
Tak Diketahui / Unknown
65
5
70
Jumlah
2556
1058
3614


Kumulatif Kasus HIV/AIDS Menurut Umur

Kel. Umur
HIV +
AIDS
Jumlah
< 1
1
2
3
1 - 4
2
10
12
5 - 14
0
4
4
15 - 19
79
68
147
20 - 29
472
442
914
30 - 39
180
328
508
40 - 49
45
122
167
50 - 59
8
30
38
> 60
1
7
8
Tak Diketahui
1768
45
1813
Jumlah
2556
1058
3614


Kumulatif Kasus HIV/AIDS Menurut Jenis Kelamin

KELAMIN / SEX
HIV +
AIDS
Jumlah
Laki - Laki
1467
772
2239
Perempuan
871
227
1098
Tak Diketahui
218
59
227
Jumlah
2556
1058
3614

Tanya Jawab HIV/AIDS

          AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV. Kerusakan progresif pada sistem kekebalan tubuh me-nyebabkan orang dengan HIV/AIDS (Odha) amat rentan dan mudah terjangkit bermacam-macam penyakit. Serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun lama-kelamaan akan menyebabkan pasien sakit parah bahkan meninggal. Oleh karena penyakit yang menyerang bervariasi, AIDS kurang tepat jika disebut penyakit. Definisi yang benar adalah sindrom atau kumpulan gejala penyakit.

Apakah HIV?
          HIV atau Human Immunodeficiency Virus, adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan kemudian menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut termasuk limfosit yang disebut "sel T-4" atau disebut juga "sel CD-4". HIV atau Human Immunodeficiency Virus, adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan kemudian menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut termasuk limfosit yang disebut "sel T-4" atau disebut juga "sel CD-4".

Bagaimana Cara Penularan HIV?
          Melalui hubungan seksual dengan seseorang yang terinfeksi HIV tanpa memakai kondom l Melalui transfusi darah l Melalui alat-alat tajam yang telah tercemar HIV (jarum suntik, pisau cukur, tatto, dll) l Melalui ibu hamil yang terinfeksi HIV kepada janin yang dikandungnya atau bayi yang disusuinya.

Mengapa jalur-jalur tersebut dapat menularkan HIV?
          Karena HIV - dalam jumlah yang cukup untuk menginfeksi orang lain- ditemukan dalam darah, air mani dan cairan vagina Odha. Melalui cairan-cairan tubuh yang lain, tidak pernah dilaporkan kasus penularan HIV (misalnya melalui: air mata, keringat, air liur/ludah, air kencing).

Apakah seorang Odha bisa dibedakan dari orang lain?
          Tidak. Seorang Odha kelihatan biasa, seperti halnya orang lain karena tidak menunjukkan gejala klinis. Kondisi ini disebut "asimptomatik" yaitu tanpa gejala. Pada orang dewasa sesudah 5-10 tahun mulai tampak gejala-gejala AIDS.

Siapa saja yang dapat tertular HIV?
          HIV dapat menular kepada siapapun melalui cara tertentu, tanpa peduli kebangsaan, ras, jenis kelamin, agama, tingkat pendidikan, kelas ekonomi maupun orientasi seksualnya. Apakah hubungan seksual dengan Odha tetap dapat dilakukan? Ya, hubungan seksual dengan Odha tetap dapat dilakukan tenpa risiko jika memakai kondom yang baik mutunya dengan cara yang benar.

Kegiatan seksual seperti apa yang paling berbahaya menularkan HIV?
          Hubungan seksual secara anal (lewat dubur) paling berisiko menularkan HIV, karena epitel mukosa anus relatif tipis dan lebih mudah terluka dibandingkan epitel dinding vagina, sehingga HIV lebih mudah masuk ke aliran darah. Dalam berhubungan seks vaginal, perempuan lebih besar risikonya daripada pria karena selaput lendir vagina cukup rapuh. Disamping itu karena cairan sperma akan menetap cukup lama di dalam vagina, kesempatan HIV masuk ke aliran darah menjadi lebih tinggi. HIV di cairan vagina atau darah tersebut, juga dapat masuk ke aliran darah melalui saluran kencing pasangannya.

Apa yang dimaksud dengan perilaku berisiko tinggi?
          Berhubungan seks tidak aman, termasuk tanpa kondom Ganti-ganti pasangan l Ganti-ganti jarum suntik atau alat-alat lain yang kontak dengan cairan tubuh dengan orang lain l Memperoleh transfusi darah yang tidak dites HIV

Apakah hubungan seks sekali saja dengan seorang Odha secara tidak aman dapat menularkan HIV?
           Ya. Kemungkinan itu ada. Dalam satu kali hubungan seks secara tidak aman dengan orang yang terinfeksi HIV dapat terjadi penularan. Walaupun secara statistik kemungkinan ini antara 0,1% hingga 1% (jauh dibawah risiko penularan HIV melalui transfusi darah) tetapi lebih dari 90% kasus penularan HIV/AIDS terjadi melalui hubungan seks yang tidak aman

Bagaimana penularan HIV melalui darah?
          Secara langsung (transfusi darah, produk darah atau transplantasi organ tubuh yang tercemar HIV) l Lewat alat-alat (jarum suntik, peralatan dokter, jarum tato, tindik, dll) yang telah tercemar HIV karena baru dipakai oleh orang yang terinfeksi HIV dan tidak disterilisasi terlebih dahulu Apakah seorang ibu pengidap HIV selalu akan menularkan HIV pada janinnya? Tidak, bila seorang perempuan yang telah terinfeksi HIV hamil, kemungkinan akan menularkan HIV kepada janinnya hanya 30%.

Jika kita dekat atau tinggal serumah dengan Odha, apakah kita bisa tertular?
          Tidak, karena kegiatan sehari-hari Odha tidak memungkinkan terjadinya pertukaran cairan tubuh yang menularkan HIV. Kita tidak tertular HIV selama kita mencegah kontak darah dengan Odha dan jika berhubungan seks, kita melakukannya secara aman dengan memakai kondom.

Berapa lama masa inkubasi infeksi HIV?
          Masa inkubasi HIV sangat tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing orang, rata-rata 5-10 tahun. Selama masa ini orang tidak memperlihatkan gejala-gejala, walaupun jumlah HIV semakin bertambah dan sel CD4 semakin menurun. Ketika sistem kekebalan tubuh sudah dalam keadaan parah, seorang Odha akan mulai menampakkan gejala-gejala AIDS

Apakah tes HIV itu?
          Tes HIV adalah suatu tes terhadap darah, cairan tubuh atau organ tubuh yang dipakai untuk memastikan seseorang telah terinfeksi HIV atau tidak.

Bagaimana cara mencegah penularan HIV lewat hubungan seks?
          Ada tiga cara: l abstinensi (atau puasa, tidak melakukan hubungan seks) l Melakukan prinsip monogami yaitu tidak berganti-ganti pasangan dan saling setia kepada pasangannya l Untuk yang melakukan hubungan seksual yang mengandung risiko, dianjurkan melakukan seks aman termasuk menggunakan kond.

Bagaimana cara mencegah penularan lewat alat-alat yang tercemar HIV?
          Ada dua hal yang perlu diperhatikan: l semua alat yang menembus kulit dan darah (jarum suntik, jarum tato, atau pisau cukur) harus disterilisasi dengan benar l Jangan memakai jarum suntik atau alat yang menembus kulit bergantian dengan orang lain

(Sumber: Buku "AIDS dan Penanggulangannya": Pusdiknakes Depkes RI, Ford Foundation & Studio Driya Media, 1997)

 

Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com


Situs Indonesia Sehat [ www.infokes.com ]

Rumah Sakit Pusat Nasional Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso Jkt


Situs Santakin [ www.santakin.com ]

Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com

 

UTAMA  |  PENYAKIT  |  IMUNISASI  |  KUPIN  |  PLASMID  |  PENELITIAN  |  PROFILE  |  S D M  |  SEJARAH  |  RSPNPI-SS  |  REDAKSI