Infeksi
>> Penyakit


Direktur Jenderal PPM - PL
Halaman Utama
Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial
Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease
Informasi Penelitian
Profile RSPI - SS
Dokter - dokter di RSPI - SS
Sejarah RSPI - SS


Rumah Sakit Pusat Nasional Penyakit Infeksi
Tim Redaksi infeksi.com

 Plasmid - Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease

Kupin - Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial


 
Halaman Utama Informasi mengenai penyakit - penyakit infeksi Informasi mengenai Imunisasi Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease Informasi Penelitian Profile RSPI - SS Dokter - dokter di RSPI - SS Sejarah RSPI - SS  
 

HIV / AIDS

Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak

Epidemiologi Penularan HIV dari Ibu ke Anak

Pada akhir tahun 2002, diperkirakan ada 3,2 juta anak anak di bawah usia 15 tahun hidup dengan HIV/AIDS, dan diperkirakan ada 800.000 anak tertular HIV pada tahun 2002.1
Hampir semua akan meninggal dunia sebelum usia remaja.

Sebagian besar ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) anak-anak tertular HIV dari ibunya pada saat dalam kandungan, saat persalinan, atau setelah dilahirkan melalui ASI. Tanpa intervensi, sekitar sepertiga ODHA wanita yang hamil akan menularkan HIV kepada bayinya melalui salah satu dari tiga cara tersebut.

Hampir semua penularan dari ibu ke anak (Mother To Child Trransmission /MICT) terjadi saat persalinan atau akhir kehamilan. Antara sepertiga sampai separo infeksi terjadi saat pemberian ASI. Beberapa faktor, sebagian belum jelas mengapa, berpengaruh terhadap kemungkinan terjadinya penularan, termasuk factor virus, maternal, obstetrical, fetal, dan neonatal. Viral load maternal yang tinggi, seperti pada saat serokonversi atau tahap lanjut penyakit, merupakan faktor penting dalam proses transmisi.

Tanpa intervensi, rate penularan HIV dari Ibu ke anak secara keseluruhan di negara negara berkembang berkisar antara 25%-45% dan antara 16% - 20% di Eropa dan Amerika Utara. Prevalensi HIV, durasi pemberian ASI, prematuritas, dan maternal viral load, serta perbedaan metode klasifikasi status infeksi bayi merupakan berbagai hal yang melatarbelakangi perbedaan rate transmisi perinatal HIV-1 yang dilaporkan.

Penularan HIV selama kehamilan:

Pada hampir semua ODHA wanita, virus HIV tidak menembus plasenta. Plasenta sebenarnya melindungi bayi dari HIV (Anderson, 1997). Tetapi perlindungan ini dapat rusak jika si ibu:

  • Pada masa kehamilannya menderita infeksi virus, bakteri, atau parasit (terutama malaria) pada plasentanya
  • Tertular HIV pada saat hamil, sehingga viral load nya sangat tinggi
  • Mengalami defisiensi imun terkait AIDS yang sangat parah
  • Mengalami malnutrisi saat hamil


Penularan HIV Pada saat persalinan:

Bayi dari ODHA wanita berisiko tertular HIV pada saat proses persalinan. Hampir semua bayi dengan HIV tertular karena menelan atau mengaspirasi darah ibu atau sekret servikal. Faktor-faktor yang terkait dengan risiko tinggi MTCT saat persalinan meliputi:
  • Ketuban Pecah Dini yang terbengkalai
  • Chorioamnionitis akut (akibat IMS atau infeksi lain yang tidak diobati dengan baik),
  • Bantuan persalinan yang bersifat infasif yang meningkatkan kontak bayi dengan darah ibu (misal episiotomi)
  • Bayi yang dilahirkan pertama pada persalinan kembar

Penularan melalui ASI

ASI mengandung virus HIV, meskipun dalam konsentrasi yang jauh lebih rendah daripada dalam darah. Risiko MTCT melalui pemberian ASI bergantung pada:
  • Pola pemberian ASI: Risiko penularan pada bayi yang diberi ASI secara eksklusif lebih rendah daripada bayi yang diberi ASI dan PASI
  • Patologi payudara: mastitis, puting susu yang terluka/ pecah pecah kulitnya atau berdarah, dan infeksi payudara lainnya
  • Durasi pemberian ASI: semakin lama ASI diberikan, semakin besar risiko penularan
  • Viral load maternal: risikonya meningkat dua kali lipat, 30% jika seorang wanita tertular HIV pada masa ia menyusui risiko penularan kepada bayinya sebesar 30%
  • Status imunitas ibu, risiko penularan makin besar jika si Ibu telah memasuki tahap lanjut AIDS
  • Status nutrisi ibu yang buruk

Waktu Penularan HIV Selama Masa Menyusui

  • Penularan dapat terjadi kapan saja selama masa menyusui
  • Sekitar 70% penularan post natal terjadi dalam 4-6 bulan pertama
  • HIV dapat dideteksi dalam kolostrum dan ASI tetapi risiko relative belum diketahui
  • Risiko bersifat kumulatif (makin lama durasi pemberian ASI, makin besar risikonya) Risiko pemberian ASI secara keseluruhan selama 24-36 bulan masa menyusui besarnya 10%
Faktor Risiko Penularan HIV dari Ibu ke Anak
Telah ada cukup bukti
Bukti belum cukup

Maternal

  • Viral load yang tinggi
  • Karakteristik Virus
  • Penyakit yang telah lanjut
  • Defisiensi imun
  • Ibu tertular HIV saat hamil
  • Pemberian ASI
• Status nutrisi maternal
• Defisiensi vitamin A
• Anemia
• STD
• Chorio-amnionitis
• Hubungan seks tidak terlindung
• Multiple sex partners
• Smoking
• Injecting drug use

Obstetrik

  • Persalinan per vaginam vs Seksio Sesar
  • Ketuban pecah dini yang terbengkalai
  • Intrapartum haemorrhage Prosedur obstetrif invasive

Prosedur obstetrif invasive

  • Monitoring
  • Episiotomy
Infant
• Prematuritas
• Pemberian ASI
  • Lesi kulit dan atau membrane mukosa (oral thrush) termasuk traktus gastrointestinal

Rejimen Antiretroviral untuk Profilaksi MTCT

ARV dapat mengurangi konsentrasi virus dalam jaringan dan cairan maternal dan dalam ASI sehingga mengurangi risiko pajanan intrauterine. intrapartum (IP) dan post natal. Manfaat ARV untuk PMTCT telah terbukti pada tahun 1994 dan telah diadopsi sebagai bagian dari perawatan standard untuk ODHA wanita di hamper semua negara.

ZDV Jangka Panjang

Pada tahun 1994 the AIDS Clinical Trial Group 076 (ACTG 076) mendapatkan bahwa pemberian ZDV per oral 100 mg 5 kali per hari untuk ODHA wanita hamil dari kehamilan 14 minggu sampai masa persalinan dan intra vena pada masa persalinan, dilanjutkan dengan oral ZDV untuk bayinya 4 kali per hari selama 6 minggu serta penggantian ASI dengan susu formula mengurangi risiko sebesar 67%. Rejimen ini ditetapkan sebagai “ZDV jangka panjang” dan ditetapkan sebagai tatalaksana standard ODHA wanita yang sedang hamil. Jika rejimen ini dikombinasi dengan seksio sesaria, efikasi pencegahan MTCT meningkat menjadi 98%.

ZDV jangka panjang dipertimbangkan tidak cocok untuk Negara berkembang karena:
    • Terlalu lama dan terlalu mahal
    • Terlalu rumit karena harus minum obat 5 kali per hari
    • Wanita hamil terlambat mengakses layanan ANC
    • Memerlukan pemberian ZDV intravena saat persalinan yang tidak mungkin dilaksanakan di fasilitas kesehatan di negara berkembang
    • Pemberian PASI tidak praktis untuk Negara-negara berkembang

ZDV Jangka Pendek

ZDV jangka pendek atau Rejimen Thai jangka pendek: Pada tahun 1998 penelitian yang dilaksanakan di Thailand mendapatkan bahwa pemberian ZDV selama 4 minggu dapat menurunkan penularan sebesar 50%. Rejimen ini dianggap relative lebih terjangkau untuk Negara berkembang. Rejimen tersebut terdiri dari:

  • ZDV 300 mg per oral tiap 12 jam sejak kehamilan 36 weeks
  • ZDV 300 mg setiap 3 jam selama masa persalina sampai bayi lahir
  • Setelah bayi lahir, si ibu maupun bayinya tidak perlu diberi obat lagi
  • Bayi tidak diberi ASI

Berdasarkan hasil temuan ini, lembaga-lembaga internasional merekomendasikan penggunaan rejimen ini untuk Negara berkembang. Beberapa Negara berkembang telah mulai menerapkan pemakaian rejimen ini dalam proyek percontohan. Tetapi ada beberapa kekurangan / kelemahan rejimen ini:

  • ZDV jangka pendek masih mahal
  • Beberapa ibu melahirkan secara premature dan tidak dapat mendapat manfaat dari rejimen ini.
  • Beberapa ibu dating ke pelayanan ANC sangat lambat.
  • Beberapa ibu tak pernah datang ke pelayanan ANC dan melahirkan di rumah
  • Keharusan minum obat terus menerus akan mengurangi privasi dan dapat membocorkan status HIV si ibu (sehingga dapat menimbulkan stigma dan adherence yang buruk)
  • Sebagian besar ibu cenderung memilih untuk menyusui bayinya membuat efikasi rejimen ini sangat berkurang


Nevirapine

Penelitian di Uganda (HIVNET 012) dan kemudian di Afrika Selatan menunjukan bahwa Nevirapine dosis tunggal yang diberikan kepada ibu pada saat persalinan dan kepada bayi pada 48 – 72 jam pertama kehidupan untuk menurunkan angka penularan sebesar 50%, dan bayi dapat tetap diberi ASI. Rejimen ini dianggap paling ideal untuk negara berkembang.

- Cara pemberian sederhana
- Relatif murah
- Beberapa ibu dapat tetap mendapatkan obat meskipun melahirkan di rumah
- Ibu dapat tetap memberi ASI kepada bayinya

Pertimbangan terkait pemberian nevirapin untuk PMTCT:

  1. Resistensi obat setelah pemberian obat dosis tunggal ditemukan dalam penelitian ini, tetapi perlu penelitian lebih lanjut.
  2. Jika si ibu belum diterapi ARV dan risiko penularan tingi, manfaat pemberian NVP dosis tunggal jauh lebih besar daripada risiko resistensi

 

Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com


Situs Indonesia Sehat [ www.infokes.com ]

Rumah Sakit Pusat Nasional Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso Jkt


Situs Santakin [ www.santakin.com ]

Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com

 

UTAMA  |  PENYAKIT  |  IMUNISASI  |  KUPIN  |  PLASMID  |  PENELITIAN  |  PROFILE  |  S D M  |  SEJARAH  |  RSPNPI-SS  |  REDAKSI