Epidemiologi Penularan HIV dari
Ibu ke Anak
Pada akhir tahun 2002, diperkirakan ada 3,2 juta anak anak
di bawah usia 15 tahun hidup dengan HIV/AIDS, dan diperkirakan
ada 800.000 anak tertular HIV pada tahun 2002.1
Hampir semua akan meninggal dunia sebelum usia remaja.
Sebagian besar ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) anak-anak tertular
HIV dari ibunya pada saat dalam kandungan, saat persalinan,
atau setelah dilahirkan melalui ASI. Tanpa intervensi, sekitar
sepertiga ODHA wanita yang hamil akan menularkan HIV kepada
bayinya melalui salah satu dari tiga cara tersebut.
Hampir semua penularan dari ibu ke anak (Mother To Child
Trransmission /MICT) terjadi saat persalinan atau akhir
kehamilan. Antara sepertiga sampai separo infeksi terjadi
saat pemberian ASI. Beberapa faktor, sebagian belum jelas
mengapa, berpengaruh terhadap kemungkinan terjadinya penularan,
termasuk factor virus, maternal, obstetrical, fetal, dan
neonatal. Viral load maternal yang tinggi, seperti pada
saat serokonversi atau tahap lanjut penyakit, merupakan
faktor penting dalam proses transmisi.
Tanpa intervensi, rate penularan HIV dari Ibu ke anak secara
keseluruhan di negara negara berkembang berkisar antara
25%-45% dan antara 16% - 20% di Eropa dan Amerika Utara.
Prevalensi HIV, durasi pemberian ASI, prematuritas, dan
maternal viral load, serta perbedaan metode klasifikasi
status infeksi bayi merupakan berbagai hal yang melatarbelakangi
perbedaan rate transmisi perinatal HIV-1 yang dilaporkan.
Penularan HIV selama kehamilan:
Pada hampir semua ODHA wanita, virus HIV tidak menembus
plasenta. Plasenta sebenarnya melindungi bayi dari HIV (Anderson,
1997). Tetapi perlindungan ini dapat rusak jika si ibu:
-
Pada masa kehamilannya menderita infeksi
virus, bakteri, atau parasit (terutama malaria) pada plasentanya
-
Tertular HIV pada saat hamil, sehingga
viral load nya sangat tinggi
-
Mengalami defisiensi imun terkait
AIDS yang sangat parah
-
Mengalami malnutrisi saat hamil
Penularan HIV Pada saat persalinan:
Bayi dari ODHA wanita berisiko tertular
HIV pada saat proses persalinan. Hampir semua bayi dengan
HIV tertular karena menelan atau mengaspirasi darah ibu atau
sekret servikal. Faktor-faktor yang terkait dengan risiko
tinggi MTCT saat persalinan meliputi:
-
Ketuban Pecah Dini yang terbengkalai
-
Chorioamnionitis akut (akibat IMS
atau infeksi lain yang tidak diobati dengan baik),
-
Bantuan persalinan yang bersifat infasif
yang meningkatkan kontak bayi dengan darah ibu (misal
episiotomi)
-
Bayi yang dilahirkan pertama pada
persalinan kembar
ASI mengandung virus HIV, meskipun dalam
konsentrasi yang jauh lebih rendah daripada dalam darah. Risiko
MTCT melalui pemberian ASI bergantung pada:
-
Pola pemberian ASI: Risiko penularan
pada bayi yang diberi ASI secara eksklusif lebih rendah
daripada bayi yang diberi ASI dan PASI
-
Patologi payudara: mastitis, puting
susu yang terluka/ pecah pecah kulitnya atau berdarah,
dan infeksi payudara lainnya
-
Durasi pemberian ASI: semakin lama
ASI diberikan, semakin besar risiko penularan
-
Viral load maternal: risikonya meningkat
dua kali lipat, 30% jika seorang wanita tertular HIV pada
masa ia menyusui risiko penularan kepada bayinya sebesar
30%
-
Status imunitas ibu, risiko penularan
makin besar jika si Ibu telah memasuki tahap lanjut AIDS
-
Status nutrisi ibu yang buruk
Waktu Penularan HIV Selama Masa Menyusui
-
Penularan dapat terjadi kapan saja
selama masa menyusui
-
Sekitar 70% penularan post natal terjadi
dalam 4-6 bulan pertama
-
HIV dapat dideteksi dalam kolostrum
dan ASI tetapi risiko relative belum diketahui
-
Risiko bersifat kumulatif (makin lama
durasi pemberian ASI, makin besar risikonya) Risiko pemberian
ASI secara keseluruhan selama 24-36 bulan masa menyusui
besarnya 10%
Faktor Risiko
Penularan HIV dari Ibu ke Anak |
Telah ada
cukup bukti |
Bukti belum
cukup |
Maternal
- Viral load yang tinggi
- Karakteristik Virus
- Penyakit yang telah lanjut
- Defisiensi imun
- Ibu tertular HIV saat hamil
- Pemberian ASI
|
• Status nutrisi maternal • Defisiensi
vitamin A • Anemia • STD •
Chorio-amnionitis • Hubungan seks tidak terlindung
• Multiple sex partners • Smoking
• Injecting drug use |
| Obstetrik
-
Persalinan per vaginam vs
Seksio Sesar
-
Ketuban pecah dini yang terbengkalai
-
Intrapartum haemorrhage Prosedur
obstetrif invasive
|
Prosedur obstetrif invasive
|
Infant • Prematuritas • Pemberian
ASI |
|
Rejimen Antiretroviral untuk Profilaksi MTCT
ARV dapat mengurangi konsentrasi virus dalam jaringan dan
cairan maternal dan dalam ASI sehingga mengurangi risiko
pajanan intrauterine. intrapartum (IP) dan post natal. Manfaat
ARV untuk PMTCT telah terbukti pada tahun 1994 dan telah
diadopsi sebagai bagian dari perawatan standard untuk ODHA
wanita di hamper semua negara.
ZDV Jangka Panjang
Pada tahun 1994 the AIDS Clinical Trial Group 076 (ACTG
076) mendapatkan bahwa pemberian ZDV per oral 100 mg 5 kali
per hari untuk ODHA wanita hamil dari kehamilan 14 minggu
sampai masa persalinan dan intra vena pada masa persalinan,
dilanjutkan dengan oral ZDV untuk bayinya 4 kali per hari
selama 6 minggu serta penggantian ASI dengan susu formula
mengurangi risiko sebesar 67%. Rejimen ini ditetapkan sebagai
“ZDV jangka panjang” dan ditetapkan sebagai
tatalaksana standard ODHA wanita yang sedang hamil. Jika
rejimen ini dikombinasi dengan seksio sesaria, efikasi pencegahan
MTCT meningkat menjadi 98%.
ZDV jangka panjang dipertimbangkan tidak
cocok untuk Negara berkembang karena:
-
Terlalu lama dan terlalu mahal
-
Terlalu rumit karena harus minum
obat 5 kali per hari
-
Wanita hamil terlambat mengakses
layanan ANC
-
Memerlukan pemberian ZDV intravena
saat persalinan yang tidak mungkin dilaksanakan di fasilitas
kesehatan di negara berkembang
-
Pemberian PASI tidak praktis untuk
Negara-negara berkembang
ZDV Jangka Pendek
ZDV jangka pendek atau Rejimen Thai jangka pendek: Pada
tahun 1998 penelitian yang dilaksanakan di Thailand mendapatkan
bahwa pemberian ZDV selama 4 minggu dapat menurunkan penularan
sebesar 50%. Rejimen ini dianggap relative lebih terjangkau
untuk Negara berkembang. Rejimen tersebut terdiri dari:
-
ZDV 300 mg per oral tiap 12 jam sejak
kehamilan 36 weeks
-
ZDV 300 mg setiap 3 jam selama masa
persalina sampai bayi lahir
-
Setelah bayi lahir, si ibu maupun bayinya
tidak perlu diberi obat lagi
-
Bayi tidak diberi ASI
Berdasarkan hasil temuan ini, lembaga-lembaga internasional
merekomendasikan penggunaan rejimen ini untuk Negara berkembang.
Beberapa Negara berkembang telah mulai menerapkan pemakaian
rejimen ini dalam proyek percontohan. Tetapi ada beberapa
kekurangan / kelemahan rejimen ini:
-
ZDV jangka pendek masih mahal
-
Beberapa ibu melahirkan secara premature
dan tidak dapat mendapat manfaat dari rejimen ini.
-
Beberapa ibu dating ke pelayanan ANC
sangat lambat.
-
Beberapa ibu tak pernah datang ke pelayanan
ANC dan melahirkan di rumah
-
Keharusan minum obat terus menerus
akan mengurangi privasi dan dapat membocorkan status HIV
si ibu (sehingga dapat menimbulkan stigma dan adherence
yang buruk)
-
Sebagian besar ibu cenderung memilih
untuk menyusui bayinya membuat efikasi rejimen ini sangat
berkurang
Nevirapine
Penelitian di Uganda (HIVNET 012) dan kemudian di Afrika
Selatan menunjukan bahwa Nevirapine dosis tunggal yang diberikan
kepada ibu pada saat persalinan dan kepada bayi pada 48
– 72 jam pertama kehidupan untuk menurunkan angka
penularan sebesar 50%, dan bayi dapat tetap diberi ASI.
Rejimen ini dianggap paling ideal untuk negara berkembang.
- Cara pemberian sederhana
- Relatif murah
- Beberapa ibu dapat tetap mendapatkan obat meskipun melahirkan
di rumah
- Ibu dapat tetap memberi ASI kepada bayinya
Pertimbangan terkait pemberian nevirapin untuk
PMTCT:
-
Resistensi obat setelah pemberian
obat dosis tunggal ditemukan dalam penelitian ini, tetapi
perlu penelitian lebih lanjut.
-
Jika si ibu belum diterapi ARV dan
risiko penularan tingi, manfaat pemberian NVP dosis tunggal
jauh lebih besar daripada risiko resistensi
|