Infeksi
>> Penyakit


Direktur Jenderal PPM - PL
Halaman Utama
Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial
Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease
Informasi Penelitian
Profile RSPI - SS
Dokter - dokter di RSPI - SS
Sejarah RSPI - SS


Rumah Sakit Pusat Nasional Penyakit Infeksi
Tim Redaksi infeksi.com

 Plasmid - Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease

Kupin - Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial


 
Halaman Utama Informasi mengenai penyakit - penyakit infeksi Informasi mengenai Imunisasi Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease Informasi Penelitian Profile RSPI - SS Dokter - dokter di RSPI - SS Sejarah RSPI - SS  
 

HIV / AIDS

Remaja Dinilai Rentan Tertular HIV
Diskusi panel mengenai HIV di Jakarta. Separuh dari jumlah penduduk Indonesia yang tertular HIV berumur di bawah 25 tahun. Selain melalui jarum suntik narkotik, mereka umumnya tertular HIV akibat hubungan seks bebas.
Jumlah penduduk Indonesia yang tertular human immunodeficiency virus (HIV) saat ini mencapai 130 ribu jiwa. Separuh dari jumlah tersebut berumur di bawah 25 tahun. Data-data ini diungkapkan Penasihat Ahli Komisi Penanggulangan AIDS Nafsiah Mboi dalam diskusi panel bagi para remaja di Jakarta, Sabtu (17/1) siang.
Menurut Nafsiah, selain melalui jarum suntik narkotik dan obat-obatan berbahaya, mereka umumnya tertular HIV akibat hubungan seks bebas. Sejumlah remaja yang terlibat dalam diskusi ini mengatakan, pemahaman mereka terhadap hubungan seks masih sangat terbatas. Untuk itu, mereka menuntut diperluasnya kesempatan mendapatkan pendidikan seks yang lebih terbuka, sehingga mereka mengerti akan hubungan seks yang benar. Mereka juga mengimbau adanya program pencegahan agar tak lebih banyak lagi remaja yang tertular HIV .(PIN/Rike Amru dan Dwi Nindyas) Liputan6.com

Ilmuwan: Sunat dapat Mencegah Infeksi HIV

LONDON--MIOL: Pria yang disunat mempunyai risiko jauh lebih kecil untuk terinfeksi HIV, virus penyebab penyakit AIDS karena alasan biologi, kata para ilmuwan Amerika, Jumat.
Hasil penelitian memperlihatkan pria yang disunat yang lapisan kulit luar ujung penisnya (bagian alat kelamin pria) telah diangkat mempunyai resiko enam sampai delapan kali jauh lebih kecil untuk terkena HIV (Human Immuno-dificiency Virus) virus penyebab penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh (AIDS) sehingga pengidap akan mudah terserang berbagai penyakit infeksi dan akan berakibat fatal.
Para peneliti dari Universtias John Hopkins di Baltimore, Marrland menemukan sunat pada pria mempunyai dampak sebagai pelindung terhadap HIV namun terhadap penyakit kelamin lainnya seperti syphilys (raja singa) atau gonorrhoea (kencing nanah) sejauh ini belum teruji.
"Spesifikasi dari hubungan antara sunat dan efek perlindungan terhadap HIV lebih ditekankan dalam faktor biologis dan bukan pada perilaku, " kata Dr Robert Bollinger dalam laporan hasil penelitian yang dimuat majalah kedokteran Lancet.
Sunat adalah tindakan yang kini sudah menjadi kebiasaan di Amerika Serikat dan sudah di lama dikenal belahan dunia lainnya yang berkaitan erat dengan budaya dan agama Islam . Bollinger dan timnya meneliti dari tahun 1993 hingga 2000 kepada sejumlah pria di India dimana kebiasaan sunat bukan hal yang menjadi kebiasaan dinegara itu.
Keseluruhan pria yang berjumlah 2.298 menjalani pengobatan untuk penyakit hubungan seksual pada awal penelitian ditemukan HIV negatif namun sejalan dengan waktu status HIV pria-pria tersebut mengalami perubahan. "Dari sejumlah data ditemukan sunat pada pria akan mengurangi risiko terkena HIV," kata Bollinger.
Karena penelitian efek sunat dilakukan hanya terhadap HIV maka efek serupa terhadap penyakit akibat hubungan seksual lainnya belum dapat diketahui. Namun Bollinger dan teman-temannya menarik kesimpulan hasil penelitian mereka mendukung hipotesa efek perlidungan terhadap HIV disebabkan dibuangnya kulit paling luar dari ujung penis yang mengandung sel-sel yang bersifat mudah menerima HIV yang dalam perkiraan para ilmuwan menjadi gerbang masuk virus tersebut kedalam alat kelamin pria.
"Dari penelitian kami berkesimpulan kulit paling luar dari ujung (kepala penis) memegang peranan penting dalam penularan penyakit seksual virus HIV dari sisi biologis," katanya.

Sebagian peneliti telah menganjurkan sunat pada pria dapat dijadikan upaya untuk mencegah penularan HIV. Bollinger dan rekan-rekannya mengatakan uji klinis sunat pada pria dimana dapat diterima secara budaya dan agama dapat memberikan perlindungan dan pencegahan secara efektif terhadap AIDS. (DPA/Ant/O-1)


Penderita HIV/AIDS di Kota Sukabumi Bertambah Tiga Orang
SUKABUMI -- Penderita HIV/AIDS di Kota Sukabumi terus bertambah. Selama Maret 2004, diketahui ada tiga orang yang positif mengidap penyakit menular tersebut. Hingga saat ini, jumlah keseluruhan penderita HIV di Kota Sukabumi menjadi 24 orang. Menurut Kasubdin Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Rita Fitrianingsih, ketiga orang yang positif mengidap penyakit menular tersebut terdiri dari seorang pria dan dua wanita.
''Ketiga orang ini bisa diketahui positif mengidap HIV setelah dilakukan tes darah di Rumah Sakit R Syamsudin dan PMI,'' ujarnya menjelaskan kepada Republika Jumat (30/4) di kantornya. Menurut Rita, meski belum dilakukan penelitian data yang lebih cangih, ketiga orang tersebut sudah dapat dipastikan positif. ''Paramedis juga sudah mengetahui tanda-tanda bila yang bersangkutan menunjukkan mengidap penyakit menular tersebut,'' katanya menandaskan. Rita menuturkan, ketiga orang tersebut diketahui mengidap penyakit HIV ketika dirawat di Rumah Sakit R Syamsuddin.
Pada awalnya, kata dia, kedua orang pengidap HIV itu dirawat di rumah sakit karena menderita diare berkepanjangan dan TBC. ''Setelah dilakukan pemeriksaan, keduanya mempunyai potensi ke arah HIV,'' paparnya. Sedangkan yang satu lagi, kata dia, mengidap penyakit anemia. Di antara ketiga orang itu, kata Rita, dua orang di antaranya itu sudah masuk pada kategori aids related complex (ARC). Artinya, kedua orang tersebut diperkirakan sudah mengidap HIV sekitar empat hingga lima tahun ke belakang. Dikatakan Rita, ketiga penderita itu tertular HIV melalui proses suntikan. Ketiganya merupakan pemakai dan pengguna narkoba.
''Di Kota Sukabumi ini, kebanyakan yang tertular HIV itu akibat dari suntikan. Sedangkan yang melalui hubungan seksual dan terkena HIV ini, hanya ada satu,'' paparnya menjelaskan. Saat ini, sambung Rita, ketiga penderita HIV baru, sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Namun demikian, pihaknya sudah menggelar konseling dengan pihak keluarga penderita. ''Kami sudah memberikan sedikit pengetahuan apa yang bisa menularkan penyakit dan apa yang tidak,'' katanya menandaskan.
Selain itu, pihaknya juga secara terus-menerus melakukan pembinaan terhadap penderita tentang berperi laku hidup sehat. Caranya, mulai dari hubungan seks yang benar termasuk tata cara pembersihan bercak cairan sperma atau darah yang dikeluarkan dari tubuh. Rita menuturkan, dengan cara tersebut, diharapkan para penderita dapat mencegah penularan virus HIV kepada orang di sekitar termasuk kepada keluarganya. ''Kita juga secara ekstra ketat akan terus mengawasi para penderita ini,'' katanya menegaskan. Laporan : ako

ODHA Masih Saja Diperlakukan Tidak Adil

Sebut saja namanya Yona (35 tahun). Tahun 2003 Yona dikeluarkan dari tempatnya bekerja di sebuah perusahaan suplier barang-barang kimia. Yona, ODHA (orang dengan HIV/AIDS), dikeluarkan setelah teman-teman sekerjanya mengajukan usul kepada atasannya.
''Mereka takut tertular,'' tutur Yona kepada Republika. Peristiwa itu bermula ketika ada seorang rekan sekerjanya meninggal, diduga karena AIDS. Suami Yona juga meninggal beberapa saat kemudian. Itulah yang memicu rekan sekerjanya ketakutan dan mengumpulkan tanda tangan menolak Yona bekerja di tempat itu.
Yona yang mempunyai dua orang anak itu mengaku sebelum ada petisi itu sudah ada perlakuan yang tidak biasanya. Kendati begitu menurutnya, teman-temannya itu tidak berani berterus terang. ''Saya kadang melihat, kalau saya habis pakai telepon pasti mereka lap dengan tissu. Tapi saya tidak bisa salahkan mereka karena memang belum banyak tahu tentang HIV/AIDS,'' tutur Yona yang sekarang jadi relawan AIDS di Jakarta.
Jika Yona mengalami diskriminasi (perlakukan tidak adil) hingga keluar dari pekerjaan, Deni (bukan nama sebenarnya) mengalaminya di lingkungan tempat tinggal. Deni (22 tahun) yang juga relawan AIDS positif HIV sejak empat tahun lalu. Sebagai seorang relawan AIDS dia kerap diminta berbicara di berbagai tempat. Sampai suatu saat wajahnya muncul di TV.
Tampilnya Deni di TV membuat malapetaka. Warga Tebet tempat dia kost keberatan jika ada ODHA yang tinggal disitu. ''Pertama datang preman yang mengancam akan membakar rumah tempat kami tinggal jika tidak mau pindah,'' ceritanya.
Untuk meredakan ketegangan, sejumlah pengurus LSM peduli AIDS, Yayasan Pelita Ilmu (YPI), memberikan penyuluhan tentang HIV/AIDS kepada pengurus RW setempat. Setelah diberikan penyuluhan, mereka mengadakan pemungutan suara. Hasilnya Deni dan beberapa rekannya harus hengkang.
Kisah Yona dan Deni menunjukkan bahwa perlakukan diskriminatif masih terjadi terhadap ODHA. Sebuah studi yang dilakukan Yayasan Spritia pada tahun 2002 menunjukkan banyak terjadi stigma (cap buruk) dan diskriminasi di sektor perawatan kesehatan termasuk di dalamnya konseling dan tes HIV. Sebanyak 30 persen responden yang diwawancarai pernah mengalami penolakan oleh petugas pelayanan kesehatan. Bahkan 15 persen tertunda perawatannya karena masalah status HIV positif.
Ipung Purwanto, seorang pengurus YPI mengatakan, diskriminasi terhadap ODHA juga terjadi di dalam keluarga. Dia bercerita, banyak ODHA yang dikirim ke YPI sudah dalam kondisi full blown (hancurnya kekebalan tubuh).
''Pihak keluarga tidak mau tahu lagi, umumnya mereka takut tertular,'' katanya.
Ada juga ODHA yang di kost kan di pinggir kota, dijauhi dari keluarga. Atau tetap di rumah tapi ditempatkan di ruangan mirip gudang dan diberi makanan seperti hewan.
Wakil Ketua YPI, Prof dr Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM, mengatakan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA banyak dipengaruhi oleh salah informasi. ''Padahal penularan AIDS itu tidak mudah. AIDS tidak melular karena bersalaman atau bersin,'' tuturnya.
Zubairi menjelaskan, yang pasti HIV/AIDS bisa menular melalui darah, air mani, atau ibu pengidap AIDS kepada anak yang dikandungnya. Penularan bisa terjadi melalui jarum suntik, hubungan seks, atau tranfusi darah yang sudah tercemar HIV.
''AIDS tidak menular melalui rokok, handuk, sabun, batuk, dan pilek. Bahkan gigitan nyamuk demam berdarah tidak bisa menularkan,'' tegasnya.
Menurut Zubairi diskriminasi terhadap ODHA selain terjadi di lingkungan pekerjaan, dan masyarakat juga dilakukan oleh rumah sakit, petugas kesehatan, tokoh agama, dan juga media. Dulu katanya rumah sakit enggan menerima pasien HIV/AIDS dengan alasan akan menunurunkan citra. ''Tapi kekhawatiran itu tidak terbukti. Rumah sakit seperti Dharmais, MMC, Cikini, yang banyak menerima pasien ODHA, selalu saja penuh.''
Media, kata Zubairi selain bisa memperbesar stigma terhadap ODHA juga bisa berperan sebaliknya. Media menurutnya harus mengembangkan jurnalisme empati yang tidak sekadar menjadikan ODHA sebagai objek berita.''Kendati tahu persis tapi subjek tidak dan keluarganya tidak perlu disampaikan.''
Penyuluhan, kata Zubairi memang bisa mengubah sikap masyarakat terhadap ODHA. Namun penyuluhan lebih banyak hanya berpengaruh agar masyarakat memahami dan waspada. Sedangkan untuk mengubah stigmatisasi dan diskriminasi tidak cukup hanya dengan poster atau iklan di TV. Dalam tataran ini pemberian pengertian tentang HIV/AIDS yang dilakukan ODHA sendiri akan lebih effektif.
Yona berharap peran dari pemerintah lebih besar untuk untuk mengikis stigmatisasi dan diskriminasi ODHA.''Informasi tentang HIV/AIDS harus lebih banyak disebarkan agar masyarakat bisa lebih memahami,'' katanya.
Sedangkan Deni, selain berharap kepada LSM dan pemerintah, juga punya obsesi sendiri. ''Saya bercita-cita agar tidak ada lagi diskriminasi terhadap sahabat ODHA,'' tuturnya. Laporan : subroto


Penderita AIDS/HIV di Indonesia Diperkirakan 130 ribu Orang

JAKARTA--Menteri kesehatan, Sujudi, perkembangan HIV/AIDS di Indonesia saat ini sudah dalam kondisi yang memprihatinkan. Diperkirakan saat ini jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sudah mencapai 130 ribu orang.
Sampai dengan Maret 2004, kata Sujudi, jumlah penderita AIDS sudah mencapai 1.413 sedangkan HIV 2.746. ''Jumlah ini bisa menyesatkan, sebab fenomena AIDS/HIV seperti gunung es,'' ungkap Sujudi, saat Pertemuan Koordinasi Penanggulangan HIV/AIDS, Jumat (16/4) di Batam. Karena itu, lanjutnya dia memperkirakan estimasi ODHA mencapai 130 ribu orang.
Kegiatan ini dihadiri Menteri Kesehatan Achmad Sujudi, Menteri Sosial Jusuf Kalla, Menteri Sosial Bachtiar Chamsjah, dan Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno. Datang juga pimpinan Badan Narkotika Nasional (BNN) Togar Sianipar dan Badan Koordinator Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sri Sumaryati Aryoso.
Dengan adanya enam provinsi di Indonesia yang termasuk epidemik HIV/AIDS, yaitu Papua, Riau/Batam, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur Bali, menurut Sujudi, ini berarti bahwa Indonesia sudah dalam keadaan bahaya. Dengan jumlah sebesar itu diperkirakan sepuluh tahun mendatang jumlahnya akan meningkat tajam. ''Gejala AIDS itu bisa diketahui setelah 10 tahun. Itulah susahnya, karena tidak bisa langsung diketahui gejalanya,'' ujar Sujudi.
Trend kondisi HIV/AIDS di Indonesia saat ini meningkatkan, sedangkan Thailand justru mengalami penurunan. Dulu Thailand yang dulu dikenal sebagai penderita AIDS terbesar malah trendnya menurun.
Untuk mengatasi kondisi yang lebih buruk, Menko Kesra Jusuf Kalla, meminta agar keenam provinsi diatas melakukan kampanye kondom habis-habisan. Menurutnya, persoalan AIDS tidak boleh ditangani secara malu-malu. Dia khawatir, kalau tidak ditangani kondisi Indonesia akan seperti Afrika. ''Apa mau seperti Afrika yang ribuan penduduk mati setiap tahun karena AIDS/HIV,'' ujarnya.
AIDS telah mengakibatkan tiga juta orang tiap tahunnya mati, sehingga AIDS menjadi pembunuh nomor tiga di dunia setelah Tb dan Malaria.
Dengan kondisi ini, Kalla berpikir bahwa kampanye penggunaan kondom harus digalakkan. Diakuinya, masih banyak pihak yang menentang kampanye itu, dengan alasan seperti mengesahkan perzinaan. Tapi kalau kondisinya sudah sulit, maka terpaksa kampanye harus dilakukan.
Sekalipun demikian, Kalla tetap berharap agar pencegahan AIDS/HIV dilakukan dengan cara yang benar, yaitu dengan berperilaku seks yang sehat, serta setia dengan pasangan masing-masing. Tapi kalau itu tidak bisa dilakukan maka terpaksa harus menggunakan kondom.
''Banyak sudah imbauan untuk jangan melakukan seks tidak dengan pasangan atau berganti-ganti pasangan, apalagi dengan pelacur. Tapi, tetap saja banyak yang melakukan perbuatan tersebut,''jelasnya.
Sebagaian besar penyebab AIDS/HIV di Papua dan Riau/Batam, menurut Kalla disebabkan karena adanya penyimpangan seksual. Sedang di Jakarta karena penggunaan jarum suntik, saat menggunakan narkotika. Untuk jarum suntik inipun, Kalla juga menyarankan agar tidak menggunakan secara bergantian. Laporan : dwo


 

Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com


Situs Indonesia Sehat [ www.infokes.com ]

Rumah Sakit Pusat Nasional Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso Jkt


Situs Santakin [ www.santakin.com ]

Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com

 

UTAMA  |  PENYAKIT  |  IMUNISASI  |  KUPIN  |  PLASMID  |  PENELITIAN  |  PROFILE  |  S D M  |  SEJARAH  |  RSPNPI-SS  |  REDAKSI