| |
| |
HIV / AIDS
|
Remaja Dinilai
Rentan Tertular HIV |
Diskusi panel mengenai
HIV di Jakarta. Separuh dari jumlah penduduk Indonesia yang
tertular HIV berumur di bawah 25 tahun. Selain melalui jarum
suntik narkotik, mereka umumnya tertular HIV akibat hubungan
seks bebas.
Jumlah penduduk Indonesia yang tertular human immunodeficiency
virus (HIV) saat ini mencapai 130 ribu jiwa. Separuh dari
jumlah tersebut berumur di bawah 25 tahun. Data-data ini diungkapkan
Penasihat Ahli Komisi Penanggulangan AIDS Nafsiah Mboi dalam
diskusi panel bagi para remaja di Jakarta, Sabtu (17/1) siang.
Menurut Nafsiah, selain melalui jarum suntik narkotik dan
obat-obatan berbahaya, mereka umumnya tertular HIV akibat
hubungan seks bebas. Sejumlah remaja yang terlibat dalam diskusi
ini mengatakan, pemahaman mereka terhadap hubungan seks masih
sangat terbatas. Untuk itu, mereka menuntut diperluasnya kesempatan
mendapatkan pendidikan seks yang lebih terbuka, sehingga mereka
mengerti akan hubungan seks yang benar. Mereka juga mengimbau
adanya program pencegahan agar tak lebih banyak lagi remaja
yang tertular HIV .(PIN/Rike Amru dan Dwi Nindyas) Liputan6.com |
|
Ilmuwan: Sunat
dapat Mencegah Infeksi HIV |
LONDON--MIOL: Pria yang disunat mempunyai risiko jauh lebih
kecil untuk terinfeksi HIV, virus penyebab penyakit AIDS
karena alasan biologi, kata para ilmuwan Amerika, Jumat.
Hasil penelitian memperlihatkan pria yang disunat yang lapisan
kulit luar ujung penisnya (bagian alat kelamin pria) telah
diangkat mempunyai resiko enam sampai delapan kali jauh
lebih kecil untuk terkena HIV (Human Immuno-dificiency Virus)
virus penyebab penyakit yang menyerang sistem kekebalan
tubuh (AIDS) sehingga pengidap akan mudah terserang berbagai
penyakit infeksi dan akan berakibat fatal.
Para peneliti dari Universtias John Hopkins di Baltimore,
Marrland menemukan sunat pada pria mempunyai dampak sebagai
pelindung terhadap HIV namun terhadap penyakit kelamin lainnya
seperti syphilys (raja singa) atau gonorrhoea (kencing nanah)
sejauh ini belum teruji.
"Spesifikasi dari hubungan antara sunat dan efek perlindungan
terhadap HIV lebih ditekankan dalam faktor biologis dan
bukan pada perilaku, " kata Dr Robert Bollinger dalam
laporan hasil penelitian yang dimuat majalah kedokteran
Lancet.
Sunat adalah tindakan yang kini sudah menjadi kebiasaan
di Amerika Serikat dan sudah di lama dikenal belahan dunia
lainnya yang berkaitan erat dengan budaya dan agama Islam
. Bollinger dan timnya meneliti dari tahun 1993 hingga 2000
kepada sejumlah pria di India dimana kebiasaan sunat bukan
hal yang menjadi kebiasaan dinegara itu.
Keseluruhan pria yang berjumlah 2.298 menjalani pengobatan
untuk penyakit hubungan seksual pada awal penelitian ditemukan
HIV negatif namun sejalan dengan waktu status HIV pria-pria
tersebut mengalami perubahan. "Dari sejumlah data ditemukan
sunat pada pria akan mengurangi risiko terkena HIV,"
kata Bollinger.
Karena penelitian efek sunat dilakukan hanya terhadap HIV
maka efek serupa terhadap penyakit akibat hubungan seksual
lainnya belum dapat diketahui. Namun Bollinger dan teman-temannya
menarik kesimpulan hasil penelitian mereka mendukung hipotesa
efek perlidungan terhadap HIV disebabkan dibuangnya kulit
paling luar dari ujung penis yang mengandung sel-sel yang
bersifat mudah menerima HIV yang dalam perkiraan para ilmuwan
menjadi gerbang masuk virus tersebut kedalam alat kelamin
pria.
"Dari penelitian kami berkesimpulan kulit paling luar
dari ujung (kepala penis) memegang peranan penting dalam
penularan penyakit seksual virus HIV dari sisi biologis,"
katanya.
Sebagian peneliti telah menganjurkan sunat pada pria dapat
dijadikan upaya untuk mencegah penularan HIV. Bollinger
dan rekan-rekannya mengatakan uji klinis sunat pada pria
dimana dapat diterima secara budaya dan agama dapat memberikan
perlindungan dan pencegahan secara efektif terhadap AIDS.
(DPA/Ant/O-1)
|
|
Penderita HIV/AIDS
di Kota Sukabumi Bertambah Tiga Orang |
SUKABUMI -- Penderita
HIV/AIDS di Kota Sukabumi terus bertambah. Selama Maret 2004,
diketahui ada tiga orang yang positif mengidap penyakit menular
tersebut. Hingga saat ini, jumlah keseluruhan penderita HIV
di Kota Sukabumi menjadi 24 orang. Menurut Kasubdin Pemberantasan
Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Rita
Fitrianingsih, ketiga orang yang positif mengidap penyakit
menular tersebut terdiri dari seorang pria dan dua wanita.
''Ketiga orang ini bisa diketahui positif mengidap HIV setelah
dilakukan tes darah di Rumah Sakit R Syamsudin dan PMI,''
ujarnya menjelaskan kepada Republika Jumat (30/4) di kantornya.
Menurut Rita, meski belum dilakukan penelitian data yang lebih
cangih, ketiga orang tersebut sudah dapat dipastikan positif.
''Paramedis juga sudah mengetahui tanda-tanda bila yang bersangkutan
menunjukkan mengidap penyakit menular tersebut,'' katanya
menandaskan. Rita menuturkan, ketiga orang tersebut diketahui
mengidap penyakit HIV ketika dirawat di Rumah Sakit R Syamsuddin.
Pada awalnya, kata dia, kedua orang pengidap HIV itu dirawat
di rumah sakit karena menderita diare berkepanjangan dan TBC.
''Setelah dilakukan pemeriksaan, keduanya mempunyai potensi
ke arah HIV,'' paparnya. Sedangkan yang satu lagi, kata dia,
mengidap penyakit anemia. Di antara ketiga orang itu, kata
Rita, dua orang di antaranya itu sudah masuk pada kategori
aids related complex (ARC). Artinya, kedua orang tersebut
diperkirakan sudah mengidap HIV sekitar empat hingga lima
tahun ke belakang. Dikatakan Rita, ketiga penderita itu tertular
HIV melalui proses suntikan. Ketiganya merupakan pemakai dan
pengguna narkoba.
''Di Kota Sukabumi ini, kebanyakan yang tertular HIV itu akibat
dari suntikan. Sedangkan yang melalui hubungan seksual dan
terkena HIV ini, hanya ada satu,'' paparnya menjelaskan. Saat
ini, sambung Rita, ketiga penderita HIV baru, sudah kembali
ke rumahnya masing-masing. Namun demikian, pihaknya sudah
menggelar konseling dengan pihak keluarga penderita. ''Kami
sudah memberikan sedikit pengetahuan apa yang bisa menularkan
penyakit dan apa yang tidak,'' katanya menandaskan.
Selain itu, pihaknya juga secara terus-menerus melakukan pembinaan
terhadap penderita tentang berperi laku hidup sehat. Caranya,
mulai dari hubungan seks yang benar termasuk tata cara pembersihan
bercak cairan sperma atau darah yang dikeluarkan dari tubuh.
Rita menuturkan, dengan cara tersebut, diharapkan para penderita
dapat mencegah penularan virus HIV kepada orang di sekitar
termasuk kepada keluarganya. ''Kita juga secara ekstra ketat
akan terus mengawasi para penderita ini,'' katanya menegaskan.
Laporan : ako
|
|
ODHA Masih Saja
Diperlakukan Tidak Adil |
Sebut saja namanya Yona
(35 tahun). Tahun 2003 Yona dikeluarkan dari tempatnya bekerja
di sebuah perusahaan suplier barang-barang kimia. Yona, ODHA
(orang dengan HIV/AIDS), dikeluarkan setelah teman-teman sekerjanya
mengajukan usul kepada atasannya.
''Mereka takut tertular,'' tutur Yona kepada Republika. Peristiwa
itu bermula ketika ada seorang rekan sekerjanya meninggal,
diduga karena AIDS. Suami Yona juga meninggal beberapa saat
kemudian. Itulah yang memicu rekan sekerjanya ketakutan dan
mengumpulkan tanda tangan menolak Yona bekerja di tempat itu.
Yona yang mempunyai dua orang anak itu mengaku sebelum ada
petisi itu sudah ada perlakuan yang tidak biasanya. Kendati
begitu menurutnya, teman-temannya itu tidak berani berterus
terang. ''Saya kadang melihat, kalau saya habis pakai telepon
pasti mereka lap dengan tissu. Tapi saya tidak bisa salahkan
mereka karena memang belum banyak tahu tentang HIV/AIDS,''
tutur Yona yang sekarang jadi relawan AIDS di Jakarta.
Jika Yona mengalami diskriminasi (perlakukan tidak adil) hingga
keluar dari pekerjaan, Deni (bukan nama sebenarnya) mengalaminya
di lingkungan tempat tinggal. Deni (22 tahun) yang juga relawan
AIDS positif HIV sejak empat tahun lalu. Sebagai seorang relawan
AIDS dia kerap diminta berbicara di berbagai tempat. Sampai
suatu saat wajahnya muncul di TV.
Tampilnya Deni di TV membuat malapetaka. Warga Tebet tempat
dia kost keberatan jika ada ODHA yang tinggal disitu. ''Pertama
datang preman yang mengancam akan membakar rumah tempat kami
tinggal jika tidak mau pindah,'' ceritanya.
Untuk meredakan ketegangan, sejumlah pengurus LSM peduli AIDS,
Yayasan Pelita Ilmu (YPI), memberikan penyuluhan tentang HIV/AIDS
kepada pengurus RW setempat. Setelah diberikan penyuluhan,
mereka mengadakan pemungutan suara. Hasilnya Deni dan beberapa
rekannya harus hengkang.
Kisah Yona dan Deni menunjukkan bahwa perlakukan diskriminatif
masih terjadi terhadap ODHA. Sebuah studi yang dilakukan Yayasan
Spritia pada tahun 2002 menunjukkan banyak terjadi stigma
(cap buruk) dan diskriminasi di sektor perawatan kesehatan
termasuk di dalamnya konseling dan tes HIV. Sebanyak 30 persen
responden yang diwawancarai pernah mengalami penolakan oleh
petugas pelayanan kesehatan. Bahkan 15 persen tertunda perawatannya
karena masalah status HIV positif.
Ipung Purwanto, seorang pengurus YPI mengatakan, diskriminasi
terhadap ODHA juga terjadi di dalam keluarga. Dia bercerita,
banyak ODHA yang dikirim ke YPI sudah dalam kondisi full blown
(hancurnya kekebalan tubuh).
''Pihak keluarga tidak mau tahu lagi, umumnya mereka takut
tertular,'' katanya.
Ada juga ODHA yang di kost kan di pinggir kota, dijauhi dari
keluarga. Atau tetap di rumah tapi ditempatkan di ruangan
mirip gudang dan diberi makanan seperti hewan.
Wakil Ketua YPI, Prof dr Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM, mengatakan
stigma dan diskriminasi terhadap ODHA banyak dipengaruhi oleh
salah informasi. ''Padahal penularan AIDS itu tidak mudah.
AIDS tidak melular karena bersalaman atau bersin,'' tuturnya.
Zubairi menjelaskan, yang pasti HIV/AIDS bisa menular melalui
darah, air mani, atau ibu pengidap AIDS kepada anak yang dikandungnya.
Penularan bisa terjadi melalui jarum suntik, hubungan seks,
atau tranfusi darah yang sudah tercemar HIV.
''AIDS tidak menular melalui rokok, handuk, sabun, batuk,
dan pilek. Bahkan gigitan nyamuk demam berdarah tidak bisa
menularkan,'' tegasnya.
Menurut Zubairi diskriminasi terhadap ODHA selain terjadi
di lingkungan pekerjaan, dan masyarakat juga dilakukan oleh
rumah sakit, petugas kesehatan, tokoh agama, dan juga media.
Dulu katanya rumah sakit enggan menerima pasien HIV/AIDS dengan
alasan akan menunurunkan citra. ''Tapi kekhawatiran itu tidak
terbukti. Rumah sakit seperti Dharmais, MMC, Cikini, yang
banyak menerima pasien ODHA, selalu saja penuh.''
Media, kata Zubairi selain bisa memperbesar stigma terhadap
ODHA juga bisa berperan sebaliknya. Media menurutnya harus
mengembangkan jurnalisme empati yang tidak sekadar menjadikan
ODHA sebagai objek berita.''Kendati tahu persis tapi subjek
tidak dan keluarganya tidak perlu disampaikan.''
Penyuluhan, kata Zubairi memang bisa mengubah sikap masyarakat
terhadap ODHA. Namun penyuluhan lebih banyak hanya berpengaruh
agar masyarakat memahami dan waspada. Sedangkan untuk mengubah
stigmatisasi dan diskriminasi tidak cukup hanya dengan poster
atau iklan di TV. Dalam tataran ini pemberian pengertian tentang
HIV/AIDS yang dilakukan ODHA sendiri akan lebih effektif.
Yona berharap peran dari pemerintah lebih besar untuk untuk
mengikis stigmatisasi dan diskriminasi ODHA.''Informasi tentang
HIV/AIDS harus lebih banyak disebarkan agar masyarakat bisa
lebih memahami,'' katanya.
Sedangkan Deni, selain berharap kepada LSM dan pemerintah,
juga punya obsesi sendiri. ''Saya bercita-cita agar tidak
ada lagi diskriminasi terhadap sahabat ODHA,'' tuturnya. Laporan
: subroto
|
|
Penderita AIDS/HIV
di Indonesia Diperkirakan 130 ribu Orang |
JAKARTA--Menteri kesehatan,
Sujudi, perkembangan HIV/AIDS di Indonesia saat ini sudah
dalam kondisi yang memprihatinkan. Diperkirakan saat ini jumlah
orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sudah mencapai 130 ribu orang.
Sampai dengan Maret 2004, kata Sujudi, jumlah penderita AIDS
sudah mencapai 1.413 sedangkan HIV 2.746. ''Jumlah ini bisa
menyesatkan, sebab fenomena AIDS/HIV seperti gunung es,''
ungkap Sujudi, saat Pertemuan Koordinasi Penanggulangan HIV/AIDS,
Jumat (16/4) di Batam. Karena itu, lanjutnya dia memperkirakan
estimasi ODHA mencapai 130 ribu orang.
Kegiatan ini dihadiri Menteri Kesehatan Achmad Sujudi, Menteri
Sosial Jusuf Kalla, Menteri Sosial Bachtiar Chamsjah, dan
Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno. Datang juga pimpinan Badan
Narkotika Nasional (BNN) Togar Sianipar dan Badan Koordinator
Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sri Sumaryati Aryoso.
Dengan adanya enam provinsi di Indonesia yang termasuk epidemik
HIV/AIDS, yaitu Papua, Riau/Batam, Jakarta, Jawa Barat, Jawa
Timur Bali, menurut Sujudi, ini berarti bahwa Indonesia sudah
dalam keadaan bahaya. Dengan jumlah sebesar itu diperkirakan
sepuluh tahun mendatang jumlahnya akan meningkat tajam. ''Gejala
AIDS itu bisa diketahui setelah 10 tahun. Itulah susahnya,
karena tidak bisa langsung diketahui gejalanya,'' ujar Sujudi.
Trend kondisi HIV/AIDS di Indonesia saat ini meningkatkan,
sedangkan Thailand justru mengalami penurunan. Dulu Thailand
yang dulu dikenal sebagai penderita AIDS terbesar malah trendnya
menurun.
Untuk mengatasi kondisi yang lebih buruk, Menko Kesra Jusuf
Kalla, meminta agar keenam provinsi diatas melakukan kampanye
kondom habis-habisan. Menurutnya, persoalan AIDS tidak boleh
ditangani secara malu-malu. Dia khawatir, kalau tidak ditangani
kondisi Indonesia akan seperti Afrika. ''Apa mau seperti Afrika
yang ribuan penduduk mati setiap tahun karena AIDS/HIV,''
ujarnya.
AIDS telah mengakibatkan tiga juta orang tiap tahunnya mati,
sehingga AIDS menjadi pembunuh nomor tiga di dunia setelah
Tb dan Malaria.
Dengan kondisi ini, Kalla berpikir bahwa kampanye penggunaan
kondom harus digalakkan. Diakuinya, masih banyak pihak yang
menentang kampanye itu, dengan alasan seperti mengesahkan
perzinaan. Tapi kalau kondisinya sudah sulit, maka terpaksa
kampanye harus dilakukan.
Sekalipun demikian, Kalla tetap berharap agar pencegahan AIDS/HIV
dilakukan dengan cara yang benar, yaitu dengan berperilaku
seks yang sehat, serta setia dengan pasangan masing-masing.
Tapi kalau itu tidak bisa dilakukan maka terpaksa harus menggunakan
kondom.
''Banyak sudah imbauan untuk jangan melakukan seks tidak dengan
pasangan atau berganti-ganti pasangan, apalagi dengan pelacur.
Tapi, tetap saja banyak yang melakukan perbuatan tersebut,''jelasnya.
Sebagaian besar penyebab AIDS/HIV di Papua dan Riau/Batam,
menurut Kalla disebabkan karena adanya penyimpangan seksual.
Sedang di Jakarta karena penggunaan jarum suntik, saat menggunakan
narkotika. Untuk jarum suntik inipun, Kalla juga menyarankan
agar tidak menggunakan secara bergantian. Laporan : dwo |
|
|
|
|