| |
| |
LEPTOSPIRA
|
I. Defenisi
Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan
oleh infeksi bakteri Leptospira berbentuk spiral yang
menyerang hewan dan manusia dan dapat hidup di air tawar
selama lebih kurang 1 bulan. Tetapi dalam air laut, selokan
dan air kemih yang tidak diencerkan akan cepat mati.
II. Sumber Penularan
Hewan yang menjadi sumber penularan adalah
tikus (rodent), babi, kambing, domba, kuda, anjing, kucing,
serangga, burung, kelelawar, tupai dan landak. Sedangkan
penularan langsung dari manusia ke manusia jarang terjadi.
III. Cara Penularan
Manusia terinfeksi leptospira melalui
kontak dengan air, tanah atau tanaman yang telah dikotori
oleh air seni hewan yang menderita leptospirosis. Bakteri
masuk ke dalam tubuh manusia melalui selaput lendir (mukosa)
mata, hidung, kulit yang lecet atau atau makanan yang
terkontaminasi oleh urine hewan terinfeksi leptospira.
Masa inkubasi selama 4 - 19 hari.
IV. Gejala Klinis
Stadium Pertama
• Demam menggigil
• Sakit kepala
• Malaise
• Muntah
• Konjungtivitis
• Rasa nyeri otot betis dan punggung
• Gejala-gejala diatas akan tampak antara 4-9 hari
V. Pencegahan
Membiasakan diri dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS)
-
Menyimpan makanan dan minuman dengan
baik agar terhindar dari tikus.
-
Mencucui tangan dengan sabun sebelum
makan.
-
Mencucui tangan, kaki serta bagian
tubuh lainnya dengan sabun setelah bekerja di sawah/
kebun/sampah/tanah/selokan dan tempat-tempat yang tercemar
lainnya.
-
Melindungi pekerja yang berisiko
tinggi terhadap leptospirosis (petugas kebersihan, petani,
petugas pemotong hewan, dan lain-lain) dengan menggunakan
sepatu bot dan sarung tangan.
-
Menjaga kebersihan lingkungan
-
Membersihkan tempat-tempat air dan
kolam renang.
-
Menghindari adanya tikus di dalam
rumah/gedung.
-
Menghindari pencemaran oleh tikus.
-
Melakukan desinfeksi terhadap tempat-tempat
tertentu yang tercemar oleh tikus
-
Meningkatkan penangkapan tikus.
VI. Pengobatan
- Pengobatan dini sangat menolong karena bakteri Leptospira
mudah mati dengan antibiotik yang banyak di jumpai di
pasar seperti Penicillin dan turunannya (Amoxylline)
- Streptomycine, Tetracycline, Erithtromycine.
- Bila terjadi komplikasi angka lematian dapat mencapai
20%.
- Segera berobat ke dokter terdekat.
VII. Kewaspadan oleh Kader / Masyarakat.
Bila kader / masyarakat dengan gejala-gejala
diatas segera membawa ke Puskesmas / UPK terdekat untuk
mendapat pengobatan
VIII. Sistem Kewaspadaan Dini
Analisa data penderita Leptospirosis
yang dilaporkan oleh Rumah Sakit (SARS) ke Dinas Kesehatan
Propinsi DKI Jakarta
IX. Penanggulangan KLB
Penanggulangan KLB dilakukan pada daerah
yang penderita Leptospirosis cenderung meningkat (per
jam/hari/minggu/bulan) dengan pengambilan darah bagi penderita
dengan gejala demam, sekitar 20 rumah dari kasus indeks.
|
|
LEPTOSPIROSIS
|
Leptospirosis
adalah penyakit infeksi akut yang dapat menyerang manusia
maupun hewan yang disebabkan kuman leptospira patogen dan
digolongkan sebagai zoonosis.
Gejala klinis leptospirosis mirip dengan penyakit infeksi
lainnya seperti influensa, meningitis, hepatitis, demam dengue,
demam berdarah dengue dan demam virus lainnya, sehingga seringkali
tidak terdiagnosis. Keluhan-keluhan khas yang dapat ditemukan,
yaitu: demam mendadak, keadaan umum lemah tidak berdaya, mual,
muntah, nafsu makan menurun dan merasa mata makin lama bertambah
kuning dan sakit otot hebat terutama daerah betis dan paha.
Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama
di daerah beriklim tropis dan subtropis, dengan curah hujan
tinggi (kelembaban), khususnya di negara berkembang, dimana
kesehatan lingkungannya kurang diperhatikan terutama. pembuangan
sampah. International Leptospirosis Society menyatakan Indonesia
sebagai negara insiden leptospirosis tinggi (tabel 1) dan
peringkat tiga di dunia untuk mortalitas
|

Siklus Penularan Leptospira |
Berdasarkan data Semarang tahun 1998 – 2000. Banjir
besar di Jakarta tahun 2002, dari data sementara 113 pasien
leptospirosis,
diantaranya 20 orang meninggal. Kemungkinan infeksi leptospirosis
cukup besar pada musim penghujan lebih–lebih dengan
adanya Penularan leptospirosis pada manusia ditularkan oleh
hewan yang terinfeksi kuman leptospira. Pejamu reservoar
utama adalah roden/tikus dengan kuman leptospira hidup di
dalam ginjal dan dikeluarkan melalui urin saat berkemih.
Manusia merupakan hospes insidentil yang tertular secara
langsung atau tidak langsung (gambar 1).
Penularan langsung terjadi:
-
Melalui darah, urin atau cairan
tubuh lain yang mengandung kuman leptospira masuk ke
dalam tubuh pejamu
-
Dari hewan ke manusia merupakan penyakit
kecelakaan kerja, terjadi pada orang yang merawat hewan
atau menangani organ tubuh hewan misalnya pekerja potong
hewan, atau seseorang yang tertular dari hewan peliharaan.
-
Dari manusia ke manusia meskipun
jarang, dapat terjadi melalui hubungan seksual pada
masa konvalesen atau dari ibu penderita leptospirosis
ke janin melalui sawar plasenta dan air susu ibu.
Penularan tidak langsung terjadi melalui
genangan air, sungai, danau, selokan saluran air dan lumpur
yang tercemar urin hewan seperti tikus, umumnya terjadi saat
banjir. Wabah leptospirosis dapat juga terjadi pada musim
kemarau karena sumber air yang sama dipakai oleh manusia dan
hewan.
Faktor risiko
Faktor – faktor risiko terinfeksi kuman leptospira,
bila kontak langsung / terpajan air dan rawa yang terkontaminasi
yaitu:
-
Kegiatan yang memungkinkan kontak
dengan lingkungan tercemar kuman keptospira, misalnya
saat banjir, pekerjaan sebagai tukang kebun, petani, pekerja
rumah potong hewan, pembersih selokan, pekerja tambang,
mencuci atau mandi di sungai/ danau, dan kegiatan rekreasi
di alam bebas serta petugas laboratorium.
-
Peternak dan dokter hewan. yang terpajan
karena menangani ternak, terutama saat memerah susu, menyentuh
hewan mati, menolong hewan melahirkan, atau kontak dengan
bahan lain seperti plasenta , cairan amnion dan bila kontak
dengan percikan infeksius saat hewan berkemih.
Kuman leptospira masuk ke dalam tubuh pejamu
melalui luka iris/ luka abrasi pada kulit, konjungtiva atau
mukosa utuh yang melapisi mulut, faring, osofagus, bronkus,
alveolus dan dapat masuk melalui inhalasi droplet infeksius
dan minum air yang terkontaminasi.
Infeksi melalui selaput lendir lambung, jarang terjadi, karena
ada asam lambung yang mematikan kuman leptospira.
|

Tanda Penderita Leptospirosis :
Sklera Ikterik = mata kuning. |
Gejala leptospirosis meliputi :
- demam ringan atau tinggi yang umumnya bersifat
remiten
- nyeri kepala
- menggigil
- mialgia
- mual, muntah dan anoreksia
- nyeri kepala dapat berat, mirip yang terjadi pada
infeksi dengue, disertai nyeri retro-orbital dan fotopobia
- nyeri otot terutama di daerah betis sehingga pasien
sukar berjalan, punggung dan paha.
- Sklera ikterik (gambar 2) dan conjunctival suffusion
(gambar 3) atau mata merah dan pembesaran kelenjar
getah bening, limpa maupun hati.
- kelainan mata berupa uveitis dan iridosiklitis.
- Manifestasi klinik terpenting leptospirosis anikterik
adalah meningitis atau radang selaput otak aseptik
yang tidak spesifik sehingga sering tidak terdiagnosis.
|
|
Gejala klinik
menyerupai penyakit-penyakit demam akut lain, oleh karena
itu pada setiap kasus dengan keluhan demam, harus selalu dipikirkan
leptospirosis sebagai salah satu diagnosis bandingnya, terutama
di daerah endemik.
Leptospirosis ringan atau anikterik merupakan penyebab utama
fever of unknown origin di beberapa negara Asia seperti Thailand
dan Malaysia. Mortalitas pada leptospirosis anikterik hampir
nol, meskipun pernah dilaporkan kasus leptospirosis yang meninggal
akibat perdarahan masif paru dalam suatu wabah di Cina. Tes
pembendungan terkadang positif, sehingga pasien leptospirosis
anikterik pada awalnya di diagnosis sebagai pasien dengan
infeksi dengue.
Pada leptospirosis ikterik, pasien terus menerus dalam keadaan
demam disertai sklera ikterik, pada keadaan berat terjadi
gagal ginjal akut, ikterik dan manifestasi perdarahan yang
merupakan gambaran klinik khas penyakit Weil.
Pemeriksaan laboratorium klinik rutin tidak spesifik untuk
leptospirosis, dan hanya menunjukkan beratnya komplikasi yang
telah terjadi.
|
| |
| |
| |
|
PEDOMAN TATALAKSANA KASUS DAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM
LEPTOSPIROSIS DI RUMAH SAKIT
Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan kuman
leptospira patogen. Zoonosis ini merupakan salah salah satu
dari the emerging infectious diseases. dan menjadi masalah
kesehatan masyarakat, terutama di daerah beriklim tropis
dan subtropis, dengan curah hujan tinggi seperti Indonesia.
Gejala klinis leptospirosis yang tidak spesifik dan sulitnya
tes laboratorium untuk konfirmasi diagnosis mengakibatkan
penyakit ini seringkali tidak terdiagnosis.
Pejamu reservoar kuman leptospira adalah roden dan hewan
peliharaan, dengan manusia sebagai hospes insidentil. Penularan
terjadi secara langsung dari cairan tubuh hewan infeksius
atau tidak langsung dari lingkungan terkontaminasi kuman
leptospira. Penularan dari manusia ke manusia jarang namun
dapat terjadi melalui hubungan seksual, air susu ibu dan
sawar plasenta.
Menurut keparahan penyakit, leptospirosis dibagi menjadi
ringan dan berat, tetapi untuk pendekatan diagnosis klinik
dan penanganannya, dibagi menjadi leptospirosis anikterik
dan leptospirosis ikterik.
Mayoritas kasus leptopirosis adalah anikterik yang terdiri
dari 2 fase/stadium yaitu fase leptospiremia/ fase septikemia
dan fase imun, yang dipisahkan oleh periode asimtomatik.
Pada leptospirosis ikterik, demam dapat persisten dan fase
imun menjadi tidak jelas atau nampak tumpang tindih dengan
fase septikemia. Keberadaan fase imun dipengaruhi oleh jenis
serovar dan jumlah kuman leptospira yang menginfeksi, status
imunologi, status gizi pasien dan kecepatan memperoleh terapi
yang tepat.
Manifestasi klinis berupa demam ringan atau tinggi yang
bersifat remiten, mialgia terutama pada otot betis, conjungtival
suffusion (mata merah), nyeri kepala, menggigil, mual, muntah
dan anoreksia, meningitis aseptik non spesifik.
Gejala klinik leptospirosis ikterik lebih berat, yaitu gagal
ginjal akut, ikterik dan manifestasi perdarahan (penyakit
Weil ). Selain itu dapat terjadi Adult Respiratory Distress
Syndromes (ARDS), koma uremia, syok septikemia, gagal kardiorespirasi
dan syok hemoragik sebagai penyebab kematian pasien leptospirosis
ikterik.
Faktor-faktor prognostik yang berhubungan dengan kematian
pada pasien leptospirosis adalah oliguria terutama oliguria
renal, hiperkalemia, hipotensi, ronkhi basah paru, sesak
nafas, leukositosis >12.900/ mm3, kelainan Elektrokardiografi
(EKG) menunjukkan repolarisasi, dan adanya infiltrat pada
foto pecitraan paru.
Kasus leptospirosis jarang dilaporkan pada anak, karena
tidak terdiagnosis atau manifestasi klinis yang berbeda
dengan orang dewasa.
Pemeriksaan laboratorium mutlak diperlukan untuk memastikan
diagnosa leptospirosis, terdiri dari pemeriksaan secara
langsung untuk mendeteksi keberadaan kuman leptospira atau
antigennya (kultur, mikroskopik, inokulasi hewan, immunostaining,
reaksi polimerase berantai), dan pemeriksaan secara tidak
langsung melalui pemeriksaan antibodi terhadap kuman leptospira(
MAT, ELISA, tes penyaring).
Baku emas pemeriksaan serologi adalah MAT, suatu pemeriksaan
aglutinasi secara mikroskopik untuk mendeteksi titer antibodi
aglutinasi, dan dapat mengidentifikasi jenis serovar.
Pemeriksaan penyaring yang sering dilakukan di Indonesia
adalah Lepto Tek Dri Dot dan LeptoTek Lateral Flow.
Diagnosis leptospirosis dapat dibagi dalam 3 klasifikasi
yaitu :
-
Suspek, bila ada gejala klinis, tanpa
dukungan tes laboratorium.
-
Probable, bila gejala klinis sesuai
leptospirosis dan hasil tes serologi penyaring yaitu dipstick,
lateral flow, atau dri dot positif.
-
Definitif , bila hasil pemeriksaan
laboratorium secara langsung positip, atau gejala klinis
sesuai dengan leptospirosis dan hasil tes MAT / ELISA
serial menunjukkan adanya serokonversi atau peningkatan
titer 4 kali atau lebih.
Terapi leptospirosis mencakup aspek terapi aspek
kausatif, dengan pemberian antibiotik Prokain Penisilin,
Amoksisilin, Ampisilin, Doksisiklin pada minggu pertama
infekasi, maupun aspek simtomatik dan suportif dengan pemberian
antipiretik, nutrisi, dll.
Semua kasus leptospirosis ringan dapat sembuh sempurna,
berbeda dengan leptospirosis berat yang mempunyai angka
CFR tinggi, antara 5 – 40%. Prognosis ditentukan oleh
berbagai faktor seperti virulensi kuman leptospira, kondisi
fisik pasien, umur pasien, adanya ikterik, adanya gagal
ginjal akut, gangguan fungsi hati berat serta cepat lambatnya
penanganan oleh tim medik.
Pencegahan penularan kuman leptospira dapat dilakukan melalui
tiga jalur intervensi yang meliputi intervensi sumber infeksi,
intervensi pada jalur penularan dan intervensi pada pejamu
manusia.
|
PENGAMATAN GERAKAN LEPTOSPIRA DALAM
URINE
DENGAN CARA SEDERHANA
A. Halim Mubin* Gatot Lawrence**
* Sub Bagian Penyakit Infeksi/Menular,
Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UNHAS;
** Bagian Patologi FK UNHAS; PETRI UjungPandang
ABSTRAK
Pemeriksaan sederhana dengan mikroskop biasa dapat dideteksi
adanya Leptospira dalam urine tanpa atau dengan pewarnaan.
Pada preparat hidup dapat dilihat gerakan-gerakan maju,
mundur atau rotasi mulai dari gerakan lambat sampai yang
cepat. Umumnya bentuk spiralnya sulit tampak dengan pembesaran
10 x 40 kali. Leptospira yang bergerak cepat pada akhirnya
berhenti bergerak dengan sendirinya. Sebagaian tampak membelah
diri dengan cara terpotong melintang, sehingga terpisah
menjadi mother dan daughter leptospira. Hanya sebagaian
kecil yang bergerak dengan bentuk spiral yang jelas.
Morfologi leptospira lurus atau melengkung, bentuk spiralnya
sulit kelihatan dan begitu pula ujungnya berupa kait (hook).
Ukurannya panjangnya bervariasi antara pendek, sedang dan
panjang. Beberapa tampak seperti Streptokokus.
Dengan pewarnaan Giemsa berwarna kemerah-merahan, dan dengan
gram merah kebiru-biruan (gram negatif). Dibutuhkan penelitian
lanjutan untuk menetapkan diagnosis leptospira pada seseorang.
ABSTRACT
Simple diagnostic method by using light microscopy can be
used for detecting leptospira in the urine with or without
staining. In a living specimen we can observe the movement
i.e. forward, backward and rotating, as well as slow and
fast. The morphology of leptospira is spiral and difficult
to be observed under 10x40 magnification. The fast moving
leptospira usually stop by itself. Some of them have a segmented
body and evetually separated. Thereby a mother and daughter
leptospira can be seen. The morphology usually straight,
spiral with hook ending. The size varied from short, intermediate,
and long. Some of them look like streptococcus. With Giemsa
staining the germ looks pink, and Gram staining it will
look blue ( Gram negative). Further study is needed to evaluate
the characteristic and diagnostic approach of leptospira
in human (J Med Nus 1996; 17:72-76).
Leptospira merupakan kelompok kuman yang dapat menyebabkan
leptospirosis, termasuk penyakit zoonosis, yang patogen
disebut Leptospira interrogans dan yang tidak petogen disebut
Leptospira biflexa. Disebut interrogans karena bentuknya
menyerupai tanda tanya (?) (interrogative : menanyai) (Sanford,
1984). Ada 3 serovar yang sering menyebabkan infeksi pada
manusia yaitu Leptospira ictrerohaemorrhagiae pada tikus,
Leptospira canicola pada anjing dan Leptospira pomona pada
sapi dan babi. Yang paling sering menyebabkan penyakit berat
(penyakit Weil) adalah Leptospira ictreromorrhagiae. Leptospira
masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi
dengan urine yang mengandung Leptospira. Disamping itu dapat
juga melalui kulit yang lecet atau melalui konyuktiva (Jacobs
RA, 1995). Leptospira yang masuk tubuh manusia adalah patogen
(Leptospira interrogans).
Untuk mengamati gerakan Leptospira digunakan mikroskop lapangan
gelap (darkfield microscope). Alat ini sulit disiapkan di
daerah perifer, sehingga diagnosis sangat sulit dilacak,
walaupun secara klinis prevalensi Leptospira dewasa ini
semakin meningkat.
BAHAN DAN CARA PENELITIAN
Bahan penelitian
Bahan pemeriksaan adalah urine segar penderita yang suspek
penyakit Weil.
Cara pemeriksaan :
A. Pemeriksaan urine langsung
-
Sebanyak 5 ml urine segar dimasukkan
ke dalam tabung sentrifus.
-
Urine dipusing dengan kecepatan 1000-1500
rpm selama 5-10 menit.
-
Supernatan tabung sentifus dibuang,
sehingga endapan tersisa bersama dengan urine sebanyak
1-2 tetes. Dalam prakteknya tabung dituang saja selama
3 detik lalu kemudian tabung diletakkan pada rak tabung
yang telah disediakan.
-
Dengan hati-hati satu tetes urine
tersebut disedot dengan pipa pasteur, lalu diletakkan
ke atas gelas obyek kemudian ditutup dengan kaca penutup
yang agak kecil (berukuran 22x22 mm). Harus dijaga agar
tetesan tidak terlalu banyak, supaya urine tidak melimpah
setelah ditutup dengan kaca penutup.
-
Preparat tersebut langsung diperiksa
tanpa pewarnaan di bawah microskope dengan pembesaran
10 x 40.
-
Cahaya diatur jangan sampai terlalu
terang yang menyilaukan atau justru cahaya terlalu gelap,
karena pada kedua keadaan tersebut leptospira tidak akan
tampak. Jadi kekuatan cahaya yang diatur sedemikian rupa
kira-kira sama kuatnya bila hendak melihat sedimen urine.
-
Karena Leptospira bergerak, maka untuk
mengamatinya secara cermat sewaktu-waktu diperlukan perubahan
fokus.
-
Leptospira yang tidak bergerak terlalu
cepat dapat dilihat bentuknya lebih jelas pada pembesaran
10 X 100 dengan minyak emersi.
B. Pemeriksaan dengan pewarnaan
-
Dilakukan seperti langkah 1 sampai
3 di atas.
-
Urine yang diteteskan di atas kaca
obyek dibuat preparat halus yang tipis lalu dikeringkan.
-
Setelah kering difiksasi dengan methanol
-
Setelah kering dengan methanol diberi
pengecetan Giemsa atau Gram.
HASIL PENGAMATAN
Hasil dapat diperoleh dari pemeriksaan tanpa pewarnaan atau
dengan pewarnaan.
A. Pemeriksaan tanpa pewarnaan
Pada pemeriksaan Leptospira tanpa pewarnaan akan tampak
beberapa keadaan sebagai berikut :
Bentuk leptospira
Ukuran Leptospira tidak sama, bervariasi antara 2? - 24?.
Ada tiga ukuran panjang yaitu:
-
Berukuran mini, hanya menyerupai kuman
berbentuk batang, ukurannya 4-6? (lebar 0,1-0,2?).
-
Ukuran sedang 2-3 X ukuran mini
-
Ukuran terpanjang, biasanya ukurannya
2 x ukuran sedang
-
Sebagaian leptospira berbentuk menyerupai
streptokokus, dimana yang berukuran mini hanya terdiri
dari 2 koki
-
Ditemukan bentuk-bentuk batang yang
bergerak maju sesuai dengan sumbu memanjang.
-
Ada yang bergerak sangat lincah,
sehingga cepat melintasi lapangan penglihatan pada
pembesaran 10x40 apalagi pada pembesaran 10x100. (pada
pembesaran 10x100 Leptospira sulit dilihat). Kadang-kadang
ada yang tampak bergerak secara rotasi bila mengambil
arah vertikal. Umumnya yang bergerak lincah berukuran
mini.
-
Ada yang bergerak sangat lemah,
hanya dengan pengamatan yang teliti dapat diamati
gerakannya terutama pada pembesaran 10x 100.
-
Ada yang tidak bergerak. Kalau
diamati agak lama, maka beberapa Leptospira yang aktif
akhirnya akan berhenti bergerak.
-
Hanya sebagaian kecil leptospira yang
bergerak dengan bentuk spiral yang jelas.
Beberapa bentuk leptospira dari urine penderita
Penyakit Weil
Leptospira yang berukuran panjang bila bergerak sekali
cukup laju dan jauh jangkauannya. Mereka kadang-kadang bergerak
kesatu arah, tetapi bila mengalami hambatan sering bergerak
”mundur” tanpa mengubah haluan, namun kecepatan
geraknya secepat gerakan maju. Bila diamati terus, maka
Leptospira ukuran terpanjang ini merupakan dua Leptospira
yang akan membelah secara melintang, dimana “kepalanya”
lebih dahulu lahir. Setelah “aterm” keduanya
aktif untuk memisahkan diri dengan adanya pemisahan antara
kedua “ekor”. Rupanya adanya gerakan “
maju” dan “ mundur” tersebut di atas sebagai
akibat dari gerakan individu pertama ke depan, sementara
individu kedua tertarik saja, dan bila “mundur”
berarti individu kedua yang maju sedangkan individu pertama
diam dan mengikut saja. Jadi sebelum keduanya berpisah untuk
membentuk individu masing-masing, mereka dapat bergerak
bergantian atau bersamaan dengan arah yang berlawanan.
Gerakan-gerakan inilah yang akhirnya memisahkan antara mother
dan dauhter Leptospira tersebut. Spiralisasi gerakan badannya
tidak begitu jelas, kadang-kadang hanya tampak seperti bergetar
saja.
B. Dengan Pewarnaan Giemsa dan Gram
Dengan pewarnaan Giemsa Leptospira akan tampak sebagai batang-batang
kecil yang lurus atau melengkung berwarna kemerah-merahan,
tidak berbentuk spiral. Dengan pengecetan Gram berwarna
merah kebiru-biruan (Gram Negatif). Kita mesti hati-hati
dengan hyphe jamur yang kadang-kadang juga ditemukan.
DISKUSI
Kebanyakan penulis mengemukakan bahwa Leptospira hanya dapat
dilihat dengan mikroskop lapangan gelap (dark-field microscopy),
fase kontrast (phase contrast) atau dengan cara imunofluoresens
dan tidak dapat dilihat dengan mikroskop biasa (light microscopy)
(Alexander, 1983; McClain, 1985; Kempe, 1987). Leptospira
muncul dalam urine pada minggu kedua penyakit dan dapat
bertahan satu bulan atau lebih (Kempe, 1987).
Tidak jelasnya bentuk spiral dari Leptospira sewaktu bergerak
mungkin karena spiralnya sangat halus (very fine spiral)
(Jawetz, 1982). Tetapi jika diamati beberapa preparat akan
tampak beberapa Leptospira bergerak dengan spiral jelas.
Dan gerakan rotasi jelas tampak pada waktu Leptospira bergerak
secara vertikal. Gerakan maju mundur (move forward and backward)
dalam urine dapat ditemukan sebagaimana dikemukan oleh Alexander
(1983), bila Leptospira berada dalam medium cair yang lain.
Dengan pemeriksaan lapangan redup pada mikroskop biasa morfologi
leptospira secara umum dapat dilihat. Hal mana akan terlihat
lebih jelas pada pemeriksaan khusus dengan darkfield microscope
(Jawets, 1982). Dengan scaning mikrograf elektron akan tampak
kait dan spiralnya (Boyd and Hoerl, 1986). Dengan menggunakan
mikroskop biasa struktur yang yang lebih kecil masih sulit
terlihat dengan jelas.
Dalam keadaan tidak bergerak tanpa pewarnaan atau dengan
pewarnaan atau dengan pewarnaan Giemsa atau Gram sebahagian
Leptospira terkesan seperti streptokokus, sesuai dengan
yang dikemukan potrais (pendekatan pribadi, seorang peneliti
Belgia).
Ukuran Leptospira bervariasi antara 4-20? (Sparling dan
Basemen, 1980; Joklik, 1984). Hal yang sama ditemukan pada
penelitian ini ada yang berukuran mini, sedang dan panjang.
Ukuran bervariasi dari 4 ? sampai 25 ?. Dengan pemeriksaan
sederhana ini memungkinkan mengamati Leptospira pada pemeriksaan
rutin urine dengan cukup mudah sambil dapat mengikuti gerakan-gerakannya.
KESIMPULAN
-
Leptospiruria mudah dideteksi dengan
menggunakan mikroskop biasa dengan mengatur lapangan penglihatan
redup (agak gelap) pada pembesaran minimal 10x40 atas
preparat tanpa pewarnaan.
-
Adanya Leptospiruria dianggap positif
bila ditemukan Leptospira yang bergerak minimal satu dalam
satu lapangan penglihatan 10x40.
-
Leptospiruria belum dapat memastikan
apakah Leptospira interrogans atau Leptospira biflexa.
-
Dengan pewarnaan Giemsa dan Gram sulit
memastikan Leptospira karena bentuknya menyerupai hyphe
jamur
-
Pemeriksaan leptospiruria tanpa pewarnaan
lebih mudah mendeteksi Leptospira dari pada dengan pewarnaan
Giemsa atau Gram.
Informasi tentang gerakan-gerakan Leptospira dalam urine
dapat pula dilihat dalam Jurnal Medika Nusantara, 1996,
vol 17, halaman 72-76.
BERATNYA LEPTOSPIRURI ADALAH SEBAGAI
BERIKUT:
BERAT-RINGAN JUMLAH/LP 10X40 POSITIFITAS
RINGAN <50 +
SEDANG >50-100 ++
BERAT >100 +++
-
Alexander AD : Leptospirosis, in infection
diseases, Hoeprich PD (Ed), 3rt Ed, Harper & Row Publishers,
Philadelphia, 1985, 751-759.
-
Boys RE and Hoerl BG : Spirochetal
and curved rods, In Basic Medical Micribiology, 3rd, Little
Brown co, Toronto, 1986, 593-612
-
Jacobs RA: International Disease Spirochetal,
In Current Medical Diagnosis & Treatment, Tierney
LM (Eds), 34th Ed, A Lange Medical Book, London 1995,
1197-1214.
-
Jawetz E, Melnick JL and Adelbergh
EA: Spirochetes & Other Spiral Microorganisme, Review
of Medical Microbiology, 15th Ed., Lange Medical Publications,
California, 1982, 253-260.
-
Joklik WK, Willett HP, and Amos DB:
Treponema Borrelia, and Leptospira, In Zinsser Microbiology,
18th Ed, Appleton–Century-Crofts, Norwalk, 1984,
728-739.
-
Kempe CH, Silver HK, O’brien
O, et al: Leptospirosis, In Current Pediatric Diagnosis
& Treatment 1987, 9th Ed, Appleton & Lange, Norwalk,
1987, 893-894.
-
McClaim JB : Leptospirosis, In Cecil
Textbook of Medicine, Myngaarden JB and Smith LH (Eds),
Vol-2, WB Saunder Co, Tokyo, 1985, 1666-1668.
-
Sanford JP : Leptospirosis, In Hunter’s
Tropical Medicine, 16th Ed, Stricland GT (Ed), WB Saunders
Co, Tokyo, 1984, 262-270.
-
Sparling PF and Baseman JB: The Spirochetes,
In Microbiology, 3rd Ed, Davis BD (Eds), Harper International
Ed, Philadelphia, 1980, 751-762
|
|
|
|