Gangguan
sereberal
Gangguan serebral biasanya berhubungan dengan P.falciparum.
Lebih dari 95 % pada dewasa dan lebih dari 85 % dari anak
yang sembuh dari serebral malaria tidak meninggalkan sequelae
persistent neurological( gejala sisa neurologis ) yang mana
diperkirakan gangguan bersifat sementara/ reversible.
Beberapa hipotesa yang menerangkan terjadinya koma. Teori
permeabilitas dari studi plasmodium knowlesi infektif rhesus
kera yang diperkirakan sirkulasi toxin malaria, kemungkinan
kini, menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah
otak, bocornya dari plasma yang melalui barier darah otak.,
sereberal odem dan akan terjadi koma. Pada pemeriksaan CSF
( cerebrospinal fluid ) melalui LP pada anak Afrika dengan
sereberal malaria akan menunjukan peningkatan tekanan intrakranial.
Ini disebabkan meningkatnya volume darah intrakranial, mungkin
karena sekuestrasi yang massive dari eritrosit yang mengandung
parasit dan vasodilatasi sehingga menyebabkan edema serebral
Splenomegali
Pembesaran limpa biasanya terjadi pada penderita kronis. Perubahan
pada limpa biasanya disebabkan kongesti, tetapi kemudian limpa
berubah berwarna hitam karena endapan pigmen dalam eritrosit
yang mengandung parasit dalam kapiler dan sinusoid. Pigmen
tampak bebas atau dalam sel fagosit raksasa. Hiperplasi, sinus
melebar dan kadang-kadang trombus dalam kapiler dan fokus
nekrosis tampak dalam pulpa limpa. Pada malaria kronis jaringan
ikat makin bertambah sehingga konsistensi limpa menjadi keras.
Anemia
Pada malaria terjadi anemia. Derajat anemia tergantung pada
spesies parasit yang menyebabkannya. Anemia jelas tampak pada
malaria falciparum dengan penghancuran eritrosit yang cepat
dan hebat, dan pada malaria kronis. Pada serangan akut kadar
hemoglobin turun mendadak.
Pada banyak daerah tropis, serangan berulang
dari malaria dapat menimbulkan anemia berat, terutama jika
ada riwayat kehilangan darah kronis seperti infeksi cacing,
malnutrisi, kehamilan dan kekambuhan yang menetap parasitemia.
Trombositopeni biasanya terjadi pada falciparum dan vivax.
Tingginya sekustrasi dapat menimbulkan trombositopeni dan
pada pasien dengan DIC(Disseminated Intravascular Coagulation).
Trombosit akan terlepas dari sirkulasi pada tempat endapan
fibrin.
Gangguan gastro intestinal
Mirip disentri atau kolera. Tinja mengandung darah, lendir
disertai rasa sakit pada perut dan demam tidak teratur menunjukan
bahwa ini penyulit malaria. Gejala lain cegukan dan muntah
hebat yang mengandung empedu .Hati membesar dan tampak ikterus.
Manifestasi sistemik lain
Pada malaria falciparum termasuk nefritis, kelainan paru-paru
yang mirip pneumonia, neuritis dll. Hemolisis intravascular
yang hebat dapat terjadi dan memberikan gambaran klinis khas
yaitu black water fever. Gejala mendadak seperti urin berwarna
merah tua sampai hitam, muntah cairan berwarna empedu, ikterus,
badan lemah dan mortalitas tinggi. Pada gejala ini parasit
sedikit sekali, kadang-kadang tidak ditemukan dalam darah
tepi..
Ada teori yang mengatakan bahwa ada faktor auto-immun yang
dibentuk dan menimbulkan hemolisis. Parasit dalam darah mengubah
strukrur antigenik eritrosit dan merangsang pembentukan zat
anti yang dibantu oleh komponen untuk menimbulkan hemolisis.
Faktor predisposisi black water fever adalah infeksi berat
malaria falciparum secara berulang. Faktor lain seperti hawa
dingin, stres, pekerjaan fisik yang berat.
DIAGNOSIS
Sebagai salah satu komponen pemberantasan
malaria di Indonesia maka diagnosis dan pengobatan malaria
juga berpedoman pada strategi pemberantasan malaria global
yaitu Diagnosis sedini mungkin dan pengobatan yang tepat.
Faktor – faktor yang menjadi perhatian untuk melakukan
kegiatan diagnosis dan pengobatan penderita malaria adalah
peningkatan aksesibilitas masyarakat terhadap fasilitas pemberi
pertolongan, kualitas dan kecepatan pemberian pertolongan
menjadi prioritas program malaria. Peningkatan aksesibilitas
penderita ini dilakukan dengan memperhatikan struktur pelayanan
kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada.
PEMBAGIAN DIAGNOSIS MALARIA PADA UMUMNYA
(semua kelompok umur)
1. DIAGNOSIS KLINIS (Tanpa
pemeriksaan laboratorium) :
a. Malaria klinis ringan/ tanpa komplikasi
b. Malaria klinis berat/dengan komplikasi
2. DIAGNOSIS LABORATORIUM
(Dengan pemeriksaan Sediaan Darah) :
2.1. MALARIA RINGAN / TANPA KOMPLIKASI
a. Malaria Falsiparum (Disebabkan oleh
P. falciparum)
b. Malaria Vivaks/Ovale (Disebabkan oleh
P. vivax/ovale)
c. Malaria Malariae (Disebabkan oleh
P. malariae)
2.2. MALARIA BERAT / KOMPLIKASI (Disebabkan
oleh P. falciparum)
Apabila terdapat 1 atau beberapa komplikasi/manifestasi
klinik berat maka diagnosa pasti malaria berat ditegakkan
berdasarkan hasil pemeriksaan sediaan darah (SD) tebal positip
spesies malaria yaitu : Plasmodium falciparum.
Bila hitung parasit > 5 % atau 5000 parasit/ 200 lekosit
maka di diagnosa sebagai malaria berat./komplikasi. Selain
jumlah parasit pada pemeriksaan darah tipis/tebal, penentuan
jenis plasmodium beserta stadium (aseksual) juga penting
untuk menilai malaria berat, terutama bila didapatkan P.
falciparum stadium skizon. Tetapi pada kasus yang diduga
malaria berat dengan hasil pemeriksaan darah parasit malaria
tidak ditemukan, sebaiknya dilakukan pemeriksaan imunoserologi.
Di daerah yang tidak mempunyai sarana laboratorium dan tenaga
mikroskopis, diagnosa malaria ditegakkan hanya berdasarkan
pemeriksaan klinis tanpa pemeriksaan laboratorium (anamnesa
dan pemeriksaan fisik) saja.
Kriteria yang diperhatikan dalam menentukan
diagnosis mikroskopik malaria adalah:
Pemeriksaan mikroskopik Parasit Malaria
( sediaan darah tebal / tipis )
• Untuk mengetahui jenis parasit malaria aseksual
• Untuk mengetahui kepadatan parasit .
• Untuk mengetahui follow-up pengobatan pada penderita
yang dirawat
• Untuk menentukan nilai ambang parasit
Pemeriksaan mikroskopik merupakan pemeriksaan
terpenting pada penyakit malaria karena interpretasi pemeriksaan
ini selain dapat mengidentifikasi jenis plasmodium secara
tepat sekaligus juga dapat menghitung jumlah parasit sehingga
derajat parasitemia dapat diketahui.
Pemeriksaan mikroskopis sediaan darah tebal secara kasar sering
dilaporkan dengan kode negatif, positif satu (+) s/d positif
4 (++++), artinya adalah :
-
Negatif (-) : tidak ditemukan parasit
dalam 100 lapang pandang
-
Positif satu ( + ) : didapatkan 1 –
10 parasit per 100 lapang pandang.
-
Positif dua ( ++ ) : didapatkan 11
– 100 parasit per 100 lapang pandang.
-
Positif tiga ( +++ ) : didapatkan 1
– 10 parasit per 1 lapang pandang.
-
Positif empat ( ++++ ) : didapatkan
11 – 100 parasit per 1 lapang pandang.
Pada keadaan parasitemia hitungan secara
kasar dengan kode ++++ sering sulit diinterpretasi karena
dapat diartikan sebagai perhitungan 11 parasit per lapangan
pandang s/d ratusan ribu per lapangan pandang, sehingga pada
pembacaan ++++ selalu dianjurkan untuk melaksanakan hitung
parasit yaitu dengan cara :
-
Sediaan darah tebal : dihitung jumlah
parasit setiap 200 leukosit ( eritrosit sudah lisis )
Contoh : bila didapatkan 1500 parasit / 200 leukosit dan
jumlah leukosit 8000/uL.
Hitung parasit = 8000/200 x 1500 parasit = 60.000 parasit/uL.
-
Sediaan darah tipis : plasmodium dihitung
per 1000 eritrosit atau 10.000 eritrosit.
Contoh : bila didapatkan 50 parasit/1000 eritrosit = 5
% dan jumlah eritrosit 4.500.000/uL.
Hitung parasit = 4.500.000/1000 x 50 = 225.000 parasit/uL
Salah satu penilaian prognosis dapat dilakukan
berdasarkan hitung parasit, yaitu :
- Hitung parasit < 100.000/uL, mortalitas < 1%.
- Hitung parasit > 500.000/uL, mortalitas > 50%, dan
- Umumnya prognosis buruk bila hitung parasit > 250.000/uL
atau > 5 %.
Selain jumlah parasit pada pemeriksaan darah
tipis/tebal, penentuan jenis plasmodium beserta stadium (aseksual)
juga penting untuk menilai kemungkinan terjadinya malaria
berat, terutama bila didapatkan P. falciparum stadium skizon.
Setiap pemeriksaan mikroskopis plasmodium malaria dinyatakan
negatif bila minimal dalam 100 lapang pandang tidak ditemukan
parasit malaria. Pemeriksaan ini perlu diulang setiap 4-6
jam sebanyak 3 x berturut-turut. Bila hasil tetap negative,
diulang pemeriksaan selang 1 hari, sampai 3 kali. Apabila
hasil pemeriksaan SD tebal selama 3 hari berturut-turut negatip,
maka dapat dinyatakan tidak didapatkan parasit malaria di
dalam darah pasien dan diagnosa malaria mungkin dapat disingkirkan.
Tetapi pada kasus yang diduga malaria berat dengan hasil pemeriksaan
darah parasit malaria tidak ditemukan sebaiknya dilakukan
pemeriksaan imunoserologi.
Metode diagnostik yang lain
Adalah deteksi antigen HRP II dari parasite
dengan metode Dipstick test :
- Dapat mendeteksi Plasmodium falsiparum
- Mudah dalam penyediaan dan pemeriksaan
- Dapat digunakan bila mikroskopis tidak tersedia
- Sensitifitas dan spesifisitasnya cukup tinggi (80 –
100 %)
Kelemahannya :
- Mahal harganya
- Kepekaannya tergantung densitas/kepadatan parasit
- Tidak dapat menghitung jumlah dan kepadatan parasit
- Tidak dapat mengetahui stadium parasit
- Dapat terjadi false positive atau false negative
Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam menentukan diagnosis klinis malaria adalah:
MALARIA RINGAN / MALARIA TANPA KOMPLIKASI
Pada anamnesis :
- Harus dicurigai malaria pada seseorang yang berasal dari
daerah endemis malaria
dengan demam akut dalam segala bentuk, dengan / tanpa gejala-gejala
lain.
- Adanya riwayat perjalanan ke daerah endemis malaria dalam
4 minggu terakhir.
- Riwayat tinggal di daerah malaria.
- Riwayat pernah mendapat pengobatan malaria.
- Riwayat transfusi darah.
Pada pemeriksaan fisik :
- Temperatur > 37,5oC
- Dapat ditemukan pembesaran limpa
- Dapat ditemukan anemia
Gejala klinis malaria ringan pada umumnya
:
Gejala klasik, ditemukan pada penderita
yang berasal dari daerah endemis malaria atau yang belum mempunyai
kekebalan atau yang baru pertama kali menderita malaria.
Gejala klasik yang khas ini terdiri dari 3 stadium yang berurutan,
yaitu :
a. Menggigil (15 – 60 menit)
b. Demam (2-6 jam)
c. Berkeringat (2-4 jam)
Catatan : di daerah endemis malaria, dimana
penderita telah mempunyai imunitas terhadap malaria, gejala
klasik diatas tidak timbul berurutan, bahkan tidak semua gejala
tsb ditemukan.
Selain gejala klasik diatas, dapat juga disertai gejala lain/gejala
khas setempat, seperti :
- Lemas
- Sakit kepala
- Myalgia
- Sakit perut
- Mual & muntah
- Diare
MALARIA BERAT
Malaria berat / severe malaria / complicated
malaria adalah bentuk malaria falsiparum yang serius dan berbahaya,
yang memerlukan penanganan segera dan intensif. Oleh karena
itu pengenalan tanda-tanda dan gejala-gejala malaria berat
sangat penting diketahui oleh tenaga medis pada unit pelayanan
kesehatan untuk menurunkan mortalitas malaria. Sayangnya,
tanda-tanda & gejala-gejalanya tidak spesifik dan ada
pada banyak penyakit berat lain yang disertai demam (severe
febrile disease) yang biasa ada di negara-negara endemis malaria.
Beberapa penyakit penting yang mirip dengan malaria berat
adalah : meningitis, ensefalitis, septikaemia, demam typhoid,
infeksi viral, dll. Oleh karena itu pemeriksaan laboratorium
sangat diperlukan untuk menambah kekuatan diagnosis.
WHO mendefinisikan Malaria berat sebagai
: ditemukannya Plasmodium falsiparum bentuk aseksual dengan
satu atau beberapa komplikasi/manifestasi klinik berat, antara
lain :
- Gangguan kesadaran sampai koma (malaria serebral)
- Anemia berat (Hb < 5 g% atau Ht < 15 %))
- Hipoglikemia (gula darah < 40 mmg%)
- Udem paru / ARDS (Adult Respiratory Distress Syndrome)
- Kolaps sirkulasi, syok, hipotensi ( tek. Sistolik <
70 mmHg pada dewasa dan < 50 mmHg pada anak-anak), algid
malaria dan septikemia.
- Gagal ginjal akut (ARF)
- Jaundice (bilirubin > 3 mg%)
- Kejang umum berulang ( > 3 x dalam 24 jam)
- Asidosis metabolik
- Gangguan keseimbangan cairan, elektrolit & asam-basa.
- Perdarahan abnormal dan gangguan pembekuan darah.
- Hemoglobinuria
- Kelemahan yang berat (severe prostration)
- Hiperparasitemia
- Hiperpireksia (Suhu aksila > 39,5 oC)
Seorang penderita malaria falsiparum uncomplicated/tanpa
komplikasi dapat menjadi berat dan complicated kalau tidak
diobati secara dini dan semestinya.
Siapa saja yang beresiko untuk mendapat komplikasi
berat :
- Di daerah-daerah transmisi rendah – semua kelompok
umur.
- Di daerah-daerah transmisi tinggi – anak-anak <
5 tahun, para pendatang, para pekerja yang sering berpindah-pindah,
penderita dengan daya tahan tubuh yang menurun.
- Semua ibu hamil.
|