| |
ANTHRAX
| DIARE | DHF/DBD
| D.
CHIKUNGUYA | FILARIASIS
| FLU
BURUNG | HEPATITIS
| HIV/AIDS |
J. ENCEPHALITIS | LEPTOSPIRA
| MALARIA
| NAPZA
| PNEUMONIA |
SAPI
GILA | SARS
| TUBERKULOSIS |
TOXOPLASMOSIS |
Depkes Kirim Kelambu Untuk Cegah Malaria Ke NAD
|
|
Senin, 23 Juni 2003 23:15 WIB, Departemen
Kesehatan (Depkes) mengirim sebanyak 10.000 lembar kain kelambu
untuk mencegah penularan penyakit malaria di sejumlah lokasi
pengungsi ke Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
"Pengiriman kelambu yang dibasahi insektisida untuk mencegah
penularan malaria dari gigitan nyamuk," kata Dirjen Pemberantasan
Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (P2MPL) Umar Fahmi
Ahmadi di Jakarta, Senin sore. Hasil laporan tim pemantau
Depkes di lokasi pengungsi di NAD saat ini terdapat sejumlah
penyakit, seperti infeksi saluran pernafasan atas (ISPA),
kulit, malaria, diare dan campak.
Menurut Dirjen, Depkes sejak pemberlakuan operasi terpadu
(19/5) telah mengrim obat-obatan anti ISPA, anti diare, sakit
kulit serta vaksin campak untuk balita.
Selain itu, Depkes mengirimkan puluhan ribu tablet pembersih
air minum, agar masyarakat NAD yang berada di lokasi pengungsi
terhindar dari penyakit diare. Sebelumnya, Menkes Achmad Sujudi
mengatakan Depkes memberikan bantuan total sebanyak 30 unit
mobil ambulans untuk memperlancar pelayana kesehatan ke NAD.
Sebanyak 30 mobil ambulans itu terbagi atas 20 kabupaten/kota
di NAD dan tujuh untuk rumah sakit (RS) di NAD dan tiga sisanya
untuk operasional di NAD. "Ketujuh RS penerima ambulans,
yakni RS Langsa, RS Lhokseumawe, RS Bireuen, RS Sigli, RS
Zainoel Abidin Banda Aceh, RS Meulaboh dan RS Tapak Tuan,"
katanya. Depkes juga telah mengirim bantuan 80 tenaga dokter
spesialis dan 80 perawat terampil serta 60 tenaga umum melayani
medis ke NAD sejak pemberlakuan operasi kemanusiaan, 19 Mei
2003.
Depkes juga telah menyalurkan dana bantuan pelayanan kesehatan
sebesar Rp50 miliar untuk membantu operasi kemanusiaan bagi
para pengungsi di NAD selama enam bulan ke depan. (Ant/Ol-01)
JAKARTA--MIOL
|
|
Malaria belum Mewabah di NTB, Jabar Waspada
Selasa, 22 Juni 2004, MATARAM (Media):
Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak termasuk dalam
kategori kejadian luar biasa (KLB) atau wabah penyakit Malaria,
namun tetap mewaspadai kemungkinan penularannya. Pasalnya,
kini terjadi peningkatan jumlah kasus Malaria di sana.
''Memang terjadi peningkatan, tetapi untuk saat ini tidak
termasuk dalam kategori kejadian luar biasa (KLB),'' kata
Muhammad Ismail, Kepala Seksi KLB Dinkes NTB kepada wartawan
Senin (21/6).
Seperti diungkapkan Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular
dan Penyehatan Lingkungan (PPM PL) Departemen Kesehatan
(Depkes) Umar Fahmi, setelah tiga provinsi dilanda KLB malaria,
yakni Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Jawa Barat, dan Riau,
kini menyusul Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan NTB
(Media, 19/6).
Menurut Muhammad Ismail, sejak Januari hingga Mei 2004 penularan
malaria di daerah NTB belum diketahui pasti, namun tercatat
sebanyak 31.908 jiwa masih dalam status klinis atau dicurigai.
Jumlah tersebut datanya tak jauh beda dengan kasus malaria
2003 pada periode yang sama yakni sebanyak 43.537 kasus.
''Tetapi, untuk yang sekarang ini statusnya masih klinis.
Karena itu, butuh uji laboratorium terlebih dahulu untuk
memastikan positif atau tidak.''
Ismail mengatakan dari Mei hingga Juni 2004, berdasarkan
pengalaman tahun lalu merupakan masa penularan penyakit
malaria. Untuk itu, Dinas Kesehatan NTB bekerja sama dengan
Japan International Corporation Agency (JICA) telah membagi-bagikan
sekitar 8.775 kelambu kepada ribuan keluarga di daerah endemik
malaria. Selain itu, pihak Dinas Kesehatan juga mengharapkan
bantuan kerja sama dengan sejumlah organisasi donor untuk
membiayai pencegahan berkembangnya penderita malaria di
daerah tersebut. NTB tahun lalu pernah dilanda KLB malaria
selama lima kali pada lokasi berbeda dengan jumlah penderita
309 jiwa dan lima meninggal pada periode Juni, Juli, dan
Desember.
Daerah endemik di NTB di antaranya di Desa Labu Pandan,
Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Desa Tambora, Kecamatan
Tambora, Kabupaten Bima, di Desa Hu'u, Kecamatan Hu'u, dan
Cempi Jaya keduanya di Kabupaten Dompu, serta Desa Tongo
II SP 1 (lokasi transmigrasi) Maluk, Kecamatan Sekongkang,
Kabupaten Sumbawa.
Sementara itu, menurut Ismail, nyamuk malaria yang sekarang
ini perlu diwaspadai adalah jenis anopheles balabacencis
yang biasanya kerap di kawasan pegunungan, anopheles sundaicus
dan anopheles subpictus yang berada di kawasan rawa-rawa
pantai.
|
|
Lima kabupaten
rawan
Dinas Kesehatan Jawa Barat (Jabar) sampai
kini terus mewaspadai lima kabupaten di Jabar bagian selatan
yang rawan terkena penyakit malaria.
Kadinkes Jabar Yudhi Prayudha kepada Antara di Bandung Senin
(21/6) mengatakan, kelima kabupaten itu yakni Sukabumi, Cianjur,
Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis.
Sebelumnya, jelas dia, malaria telah menyerang dua kecamatan
di Sukabumi, yaitu Lengkong dan Simpenan yang jumlah penderitanya
mencapai angka 506 orang dan delapan orang meninggal dunia.
''Dari ke-506 orang tersebut, 73 orang di antaranya mendapatkan
perawatan dan sampai kini tinggal tersisa tiga orang pasien
lagi yang masih dirawat,'' ungkapnya. Dikatakan, faktor penyebaran
nyamuk pembawa virus malaria yang ada di wilayah Jabar bagian
selatan itu, tidak terlepas dari faktor keberadaan 'laguna'
atau genangan air payau yang menyimpan jentik-jentik nyamuk
malaria itu.
DB di Aceh
Sementara itu, penyakit demam berdarah (DB) masih menyerang
Aceh. Kondisi KLB DB tersebut terjadi di Kabupaten Aceh Barat,
pada enam desa di Kecamatan Sungai Mas. Dari pemeriksaan yang
dilakukan kepada 315 orang didapati 105 penderita malaria.
Sementara itu, bulan lalu, korban kasus demam berdarah dengue
di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dalam dua hari
bertambah menjadi 54 orang, termasuk tujuh penderita yang
dinyatakan positif terkena DB akibat gigitan nyamuk aedes
aegypti.
Dalam keterangannya beberapa waktu lalu, juru bicara Dinas
Kesehatan Provinsi NAD, Muhammad Hasan, kepada Media, menyebutkan
bahwa penambahan kasus DB itu adalah dari penduduk Kabupaten
Aceh Barat, Bireuen, dan Kota Banda Aceh. (YR/HP/V-2)
|
|
Mengurai Wabah Malaria di Sukabumi
Selain adanya lagun, merebaknya wabah malaria akibat rusaknya
kondisi hutan di Kab Sukabumi. Bentangan pantai, mulai dari
Kampung Cipunaga, Desa Kertajaya, Kecamatan Simpenan, hingga
Kampung Cisaar, Desa Girimukti, Kecamatan Ciemas begitu indah.
Pantainya yang landai dan sebagian tepi pantai yang dipenuhi
karang-karang, menambah keelokan pantai tersebut. Air laut
yang jernihh dan ombaknya yang tidak terlalu besar, bisa membuat
orang betah tinggal di sana.
Namun demikian, pantai yang masih perawan tersebut sangat
sepidikunjungi para wisatawan. Ini berbeda dengan pantai di
kecamatan tetangganya, yaitu Palabuhanratu yang kesohor itu.
Sepinya kawasan pantai itu dari wisatawan, sangatlah wajah.
Pasalnya, untuk mencapai daerah itu wisatawan harus menempuh
perjalanan panjang. Selain lokasinya jauh, jalan menuju tempat
tersebut pun sangat sulit. Dengan menumpang ojek agar sampai
ke sana, pengunjung harus merogoh uang Rp 10.000. Untuk mencapai
Kampung Cipunaga (sekarang menjadi Posko Malaria 1), jalan
yang harus dilalui sangat berliku, terjal, dan sempit sehingga
sangat berbahaya.
Di balik keindahan pantai yang terletak di Desa Kertajaya
tersebut, ada bahaya besar yang bisa mengancam keselamatan
jiwa warga setempat dan wisatawan. Bahaya tersebut adalah
penyakit malaria. Penyakit yang dibawa oleh nyamuk anopeles
sundaicus, sangat berbahaya. Saat ini, sedikitnya ada lima
kampung di Desa Kertajaya yang menjadi sasaran nyamuk tersebut.
Kelima kampung tersebut di antaranya Kampung Cisantri, Cibeas,
Sangrawayang, Pamipiran, dan Cipeundeuy. Ditambah satu kampung
lagi yaitu Kampung Cisaar, yang terletak di Desa Girimukti
Kecamatan Ciemas.
Penyakit malaria bagi warga setempat bukanlah hal yang asing.
Sebab, penyakit tersebut sudah sering menyerang masyarakat
setempat sejak dulu kala. Mereka sering menyebut penyakit
ini dengan istilah muriang laut'. Masyarakat, baru mengetahui
kalau penyakit yang sering mereka sebut muriang laut itu adalah
malaria pada 2001. Saat itu, Puskemas Simpenan, yang dikomandani
oleh dr Didi Supardi, mulai membuka kasus malaria di Simpenan.
Kecamatan Simpenan, merupakan salah satu kecamatan yang termasuk
daerah endemis malaria.
Dibanding daerah endemis lainnnya di Kabupaten Sukabumi, Kecamatan
Simpenan merupakan daerah yang paling rawan terhadap penyakit
ini. Salah satu faktornya adalah adanya lagun breading place
atau genangan air, merupakan tempat mengembangbiaknya jentik
nyamuk anopeles sundaicus. Lagun yang memiliki luas sekitar
tiga hektare tersebut, berada di Kampung Cipeunduey, Desa
Kertajaya, yang berdampingan dengan Kampung Cisaar, Desa Girimukti,
Kecamatan Ciemas.
Lagun tersebtu berada sekitar 20 meter dari ujung air laut
di pantai tersebut. Penanganan agar lagun tersebut tidak menjadi
sarang nyamuk, telah dilakukan Pemkab Sukabumi dengan mengeruk
pasir panati. Dengan harapan, air laut bisa mengalir ke lagun
tersebut dan membawa air genangan di tempat itu ke laut. Hasil
pengerukan tersebut, tak bisa bertahan lama. Abrasi air laut,
kembali memisahkan antara lagun dengan laut. Jentik-jentik
nyamuk anopeles pun, kembali berkembang biak dengan cara bersembunyi
di bawah lumut-lumut di air lagun tersebut.
Dugaan lain maraknya malaria di daerah ini, akibat makin kritisnya
kondisi hutan di Kabupaten Sukabumi selatan. Akibat rusaknya
kawasan hutan, nyamuk malaria menyerbu perkampungan warga.
Kejadian luar biasa (KLB) Malaria di Sukabumi, telah mengetuk
hati berbagai pihak. Karena itu, penanggulangan wabah malarai
di Simpenan, tidak hanya dilakukan Dinas Kesehatan Kabupten
Sukabumi dan Puskesmas Simpenan saja.
Mereka mendapat bantuan dari berbagai pihak, seperti Subdit
Malaria Departemen Kesehatan, Seksi Pemberantasan Penyakit
Menular (P2M) Dinas Kesehatan Jawa Barat, Puslitbangkes dan
Nefal American Reseach Unit (NAMRU). Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten Sukabumi, dr H Buhono Thahadibrata, mengatakan,
untuk menangani KLB malaria yang terjadi di Sukabumi, pihaknya
telah membentuk tim yang diberinama Gerakan Pemberantasan
Kembali Malaria (Gebrak Malaria). Tim tersebut, langsung dipimpin
oleh Bupati Sukabumi.''Tim ini merupakan forum lintas sektor
atau instansi,'' katanya. (Laporan : ako)
|
|
|
|
|