Infeksi
>> Penyakit


Direktur Jenderal PPM - PL
Halaman Utama
Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial
Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease
Informasi Penelitian
Profile RSPI - SS
Dokter - dokter di RSPI - SS
Sejarah RSPI - SS


Rumah Sakit Pusat Nasional Penyakit Infeksi
Tim Redaksi infeksi.com

 Plasmid - Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease

Kupin - Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial


 
Halaman Utama Informasi mengenai penyakit - penyakit infeksi Informasi mengenai Imunisasi Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease Informasi Penelitian Profile RSPI - SS Dokter - dokter di RSPI - SS Sejarah RSPI - SS  

 

ANTHRAX  | DIARE  | DHF/DBD  |   D. CHIKUNGUYA | FILARIASIS   | FLU BURUNG |   HEPATITIS  | HIV/AIDS  |   J. ENCEPHALITIS  | LEPTOSPIRA | MALARIA  | NAPZA   | PNEUMONIA  |  SAPI GILA | SARS  |  TUBERKULOSIS |  TOXOPLASMOSIS 

Depkes Kirim Kelambu Untuk Cegah Malaria Ke NAD


Senin, 23 Juni 2003 23:15 WIB, Departemen Kesehatan (Depkes) mengirim sebanyak 10.000 lembar kain kelambu untuk mencegah penularan penyakit malaria di sejumlah lokasi pengungsi ke Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
"Pengiriman kelambu yang dibasahi insektisida untuk mencegah penularan malaria dari gigitan nyamuk," kata Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (P2MPL) Umar Fahmi Ahmadi di Jakarta, Senin sore. Hasil laporan tim pemantau Depkes di lokasi pengungsi di NAD saat ini terdapat sejumlah penyakit, seperti infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), kulit, malaria, diare dan campak.
Menurut Dirjen, Depkes sejak pemberlakuan operasi terpadu (19/5) telah mengrim obat-obatan anti ISPA, anti diare, sakit kulit serta vaksin campak untuk balita.
Selain itu, Depkes mengirimkan puluhan ribu tablet pembersih air minum, agar masyarakat NAD yang berada di lokasi pengungsi terhindar dari penyakit diare. Sebelumnya, Menkes Achmad Sujudi mengatakan Depkes memberikan bantuan total sebanyak 30 unit mobil ambulans untuk memperlancar pelayana kesehatan ke NAD. Sebanyak 30 mobil ambulans itu terbagi atas 20 kabupaten/kota di NAD dan tujuh untuk rumah sakit (RS) di NAD dan tiga sisanya untuk operasional di NAD. "Ketujuh RS penerima ambulans, yakni RS Langsa, RS Lhokseumawe, RS Bireuen, RS Sigli, RS Zainoel Abidin Banda Aceh, RS Meulaboh dan RS Tapak Tuan," katanya. Depkes juga telah mengirim bantuan 80 tenaga dokter spesialis dan 80 perawat terampil serta 60 tenaga umum melayani medis ke NAD sejak pemberlakuan operasi kemanusiaan, 19 Mei 2003.
Depkes juga telah menyalurkan dana bantuan pelayanan kesehatan sebesar Rp50 miliar untuk membantu operasi kemanusiaan bagi para pengungsi di NAD selama enam bulan ke depan. (Ant/Ol-01) JAKARTA--MIOL


Malaria belum Mewabah di NTB, Jabar Waspada

Selasa, 22 Juni 2004, MATARAM (Media): Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak termasuk dalam kategori kejadian luar biasa (KLB) atau wabah penyakit Malaria, namun tetap mewaspadai kemungkinan penularannya. Pasalnya, kini terjadi peningkatan jumlah kasus Malaria di sana.
''Memang terjadi peningkatan, tetapi untuk saat ini tidak termasuk dalam kategori kejadian luar biasa (KLB),'' kata Muhammad Ismail, Kepala Seksi KLB Dinkes NTB kepada wartawan Senin (21/6).
Seperti diungkapkan Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPM PL) Departemen Kesehatan (Depkes) Umar Fahmi, setelah tiga provinsi dilanda KLB malaria, yakni Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Jawa Barat, dan Riau, kini menyusul Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan NTB (Media, 19/6).
Menurut Muhammad Ismail, sejak Januari hingga Mei 2004 penularan malaria di daerah NTB belum diketahui pasti, namun tercatat sebanyak 31.908 jiwa masih dalam status klinis atau dicurigai.
Jumlah tersebut datanya tak jauh beda dengan kasus malaria 2003 pada periode yang sama yakni sebanyak 43.537 kasus. ''Tetapi, untuk yang sekarang ini statusnya masih klinis. Karena itu, butuh uji laboratorium terlebih dahulu untuk memastikan positif atau tidak.''
Ismail mengatakan dari Mei hingga Juni 2004, berdasarkan pengalaman tahun lalu merupakan masa penularan penyakit malaria. Untuk itu, Dinas Kesehatan NTB bekerja sama dengan Japan International Corporation Agency (JICA) telah membagi-bagikan sekitar 8.775 kelambu kepada ribuan keluarga di daerah endemik malaria. Selain itu, pihak Dinas Kesehatan juga mengharapkan bantuan kerja sama dengan sejumlah organisasi donor untuk membiayai pencegahan berkembangnya penderita malaria di daerah tersebut. NTB tahun lalu pernah dilanda KLB malaria selama lima kali pada lokasi berbeda dengan jumlah penderita 309 jiwa dan lima meninggal pada periode Juni, Juli, dan Desember.
Daerah endemik di NTB di antaranya di Desa Labu Pandan, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Desa Tambora, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, di Desa Hu'u, Kecamatan Hu'u, dan Cempi Jaya keduanya di Kabupaten Dompu, serta Desa Tongo II SP 1 (lokasi transmigrasi) Maluk, Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa.
Sementara itu, menurut Ismail, nyamuk malaria yang sekarang ini perlu diwaspadai adalah jenis anopheles balabacencis yang biasanya kerap di kawasan pegunungan, anopheles sundaicus dan anopheles subpictus yang berada di kawasan rawa-rawa pantai.


Lima kabupaten rawan

Dinas Kesehatan Jawa Barat (Jabar) sampai kini terus mewaspadai lima kabupaten di Jabar bagian selatan yang rawan terkena penyakit malaria.
Kadinkes Jabar Yudhi Prayudha kepada Antara di Bandung Senin (21/6) mengatakan, kelima kabupaten itu yakni Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis.
Sebelumnya, jelas dia, malaria telah menyerang dua kecamatan di Sukabumi, yaitu Lengkong dan Simpenan yang jumlah penderitanya mencapai angka 506 orang dan delapan orang meninggal dunia. ''Dari ke-506 orang tersebut, 73 orang di antaranya mendapatkan perawatan dan sampai kini tinggal tersisa tiga orang pasien lagi yang masih dirawat,'' ungkapnya. Dikatakan, faktor penyebaran nyamuk pembawa virus malaria yang ada di wilayah Jabar bagian selatan itu, tidak terlepas dari faktor keberadaan 'laguna' atau genangan air payau yang menyimpan jentik-jentik nyamuk malaria itu.

DB di Aceh
Sementara itu, penyakit demam berdarah (DB) masih menyerang Aceh. Kondisi KLB DB tersebut terjadi di Kabupaten Aceh Barat, pada enam desa di Kecamatan Sungai Mas. Dari pemeriksaan yang dilakukan kepada 315 orang didapati 105 penderita malaria.
Sementara itu, bulan lalu, korban kasus demam berdarah dengue di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dalam dua hari bertambah menjadi 54 orang, termasuk tujuh penderita yang dinyatakan positif terkena DB akibat gigitan nyamuk aedes aegypti.
Dalam keterangannya beberapa waktu lalu, juru bicara Dinas Kesehatan Provinsi NAD, Muhammad Hasan, kepada Media, menyebutkan bahwa penambahan kasus DB itu adalah dari penduduk Kabupaten Aceh Barat, Bireuen, dan Kota Banda Aceh. (YR/HP/V-2)


 

Mengurai Wabah Malaria di Sukabumi


Selain adanya lagun, merebaknya wabah malaria akibat rusaknya kondisi hutan di Kab Sukabumi. Bentangan pantai, mulai dari Kampung Cipunaga, Desa Kertajaya, Kecamatan Simpenan, hingga Kampung Cisaar, Desa Girimukti, Kecamatan Ciemas begitu indah. Pantainya yang landai dan sebagian tepi pantai yang dipenuhi karang-karang, menambah keelokan pantai tersebut. Air laut yang jernihh dan ombaknya yang tidak terlalu besar, bisa membuat orang betah tinggal di sana.
Namun demikian, pantai yang masih perawan tersebut sangat sepidikunjungi para wisatawan. Ini berbeda dengan pantai di kecamatan tetangganya, yaitu Palabuhanratu yang kesohor itu. Sepinya kawasan pantai itu dari wisatawan, sangatlah wajah. Pasalnya, untuk mencapai daerah itu wisatawan harus menempuh perjalanan panjang. Selain lokasinya jauh, jalan menuju tempat tersebut pun sangat sulit. Dengan menumpang ojek agar sampai ke sana, pengunjung harus merogoh uang Rp 10.000. Untuk mencapai Kampung Cipunaga (sekarang menjadi Posko Malaria 1), jalan yang harus dilalui sangat berliku, terjal, dan sempit sehingga sangat berbahaya.
Di balik keindahan pantai yang terletak di Desa Kertajaya tersebut, ada bahaya besar yang bisa mengancam keselamatan jiwa warga setempat dan wisatawan. Bahaya tersebut adalah penyakit malaria. Penyakit yang dibawa oleh nyamuk anopeles sundaicus, sangat berbahaya. Saat ini, sedikitnya ada lima kampung di Desa Kertajaya yang menjadi sasaran nyamuk tersebut. Kelima kampung tersebut di antaranya Kampung Cisantri, Cibeas, Sangrawayang, Pamipiran, dan Cipeundeuy. Ditambah satu kampung lagi yaitu Kampung Cisaar, yang terletak di Desa Girimukti Kecamatan Ciemas.
Penyakit malaria bagi warga setempat bukanlah hal yang asing. Sebab, penyakit tersebut sudah sering menyerang masyarakat setempat sejak dulu kala. Mereka sering menyebut penyakit ini dengan istilah muriang laut'. Masyarakat, baru mengetahui kalau penyakit yang sering mereka sebut muriang laut itu adalah malaria pada 2001. Saat itu, Puskemas Simpenan, yang dikomandani oleh dr Didi Supardi, mulai membuka kasus malaria di Simpenan. Kecamatan Simpenan, merupakan salah satu kecamatan yang termasuk daerah endemis malaria.
Dibanding daerah endemis lainnnya di Kabupaten Sukabumi, Kecamatan Simpenan merupakan daerah yang paling rawan terhadap penyakit ini. Salah satu faktornya adalah adanya lagun breading place atau genangan air, merupakan tempat mengembangbiaknya jentik nyamuk anopeles sundaicus. Lagun yang memiliki luas sekitar tiga hektare tersebut, berada di Kampung Cipeunduey, Desa Kertajaya, yang berdampingan dengan Kampung Cisaar, Desa Girimukti, Kecamatan Ciemas.
Lagun tersebtu berada sekitar 20 meter dari ujung air laut di pantai tersebut. Penanganan agar lagun tersebut tidak menjadi sarang nyamuk, telah dilakukan Pemkab Sukabumi dengan mengeruk pasir panati. Dengan harapan, air laut bisa mengalir ke lagun tersebut dan membawa air genangan di tempat itu ke laut. Hasil pengerukan tersebut, tak bisa bertahan lama. Abrasi air laut, kembali memisahkan antara lagun dengan laut. Jentik-jentik nyamuk anopeles pun, kembali berkembang biak dengan cara bersembunyi di bawah lumut-lumut di air lagun tersebut.
Dugaan lain maraknya malaria di daerah ini, akibat makin kritisnya kondisi hutan di Kabupaten Sukabumi selatan. Akibat rusaknya kawasan hutan, nyamuk malaria menyerbu perkampungan warga. Kejadian luar biasa (KLB) Malaria di Sukabumi, telah mengetuk hati berbagai pihak. Karena itu, penanggulangan wabah malarai di Simpenan, tidak hanya dilakukan Dinas Kesehatan Kabupten Sukabumi dan Puskesmas Simpenan saja.
Mereka mendapat bantuan dari berbagai pihak, seperti Subdit Malaria Departemen Kesehatan, Seksi Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Jawa Barat, Puslitbangkes dan Nefal American Reseach Unit (NAMRU). Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, dr H Buhono Thahadibrata, mengatakan, untuk menangani KLB malaria yang terjadi di Sukabumi, pihaknya telah membentuk tim yang diberinama Gerakan Pemberantasan Kembali Malaria (Gebrak Malaria). Tim tersebut, langsung dipimpin oleh Bupati Sukabumi.''Tim ini merupakan forum lintas sektor atau instansi,'' katanya. (Laporan : ako)



Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com


Situs Indonesia Sehat [ www.infokes.com ]

Rumah Sakit Pusat Nasional Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso Jkt


Situs Santakin [ www.santakin.com ]

Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com

 

UTAMA  |  PENYAKIT  |  IMUNISASI  |  KUPIN  |  PLASMID  |  PENELITIAN  |  PROFILE  |  S D M  |  SEJARAH  |  RSPNPI-SS  |  REDAKSI