Infeksi
>> Penyakit


Direktur Jenderal PPM - PL
Halaman Utama
Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial
Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease
Informasi Penelitian
Profile RSPI - SS
Dokter - dokter di RSPI - SS
Sejarah RSPI - SS


Rumah Sakit Pusat Nasional Penyakit Infeksi
Tim Redaksi infeksi.com

 Plasmid - Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease

Kupin - Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial


 
Halaman Utama Informasi mengenai penyakit - penyakit infeksi Informasi mengenai Imunisasi Kewaspadaan Universal Pengendalian Infeksi Nosokomial Pelayanan Annual Scientific Meeting On Infectious Disease Informasi Penelitian Profile RSPI - SS Dokter - dokter di RSPI - SS Sejarah RSPI - SS  

 

ANTHRAX  | DIARE  | DHF/DBD  |   D. CHIKUNGUYA | FILARIASIS   | FLU BURUNG |   HEPATITIS  | HIV/AIDS  |   J. ENCEPHALITIS  | LEPTOSPIRA | MALARIA  | NAPZA   | PNEUMONIA  |  SAPI GILA | SARS  |  TUBERKULOSIS |  TOXOPLASMOSIS 

DIAGNOSIS MALARIA


Sebagai salah satu komponen pemberantasan malaria di Indonesia maka diagnosis dan pengobatan malaria juga berpedoman pada strategi pemberantasan malaria global yaitu Diagnosis sedini mungkin dan pengobatan yang tepat.

Faktor – faktor yang menjadi perhatian untuk melakukan kegiatan diagnosis dan pengobatan penderita malaria adalah peningkatan aksesibilitas masyarakat terhadap fasilitas pemberi pertolongan, kualitas dan kecepatan pemberian pertolongan menjadi prioritas program malaria. Peningkatan aksesibilitas penderita ini dilakukan dengan memperhatikan struktur pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada.


PEMBAGIAN DIAGNOSIS MALARIA PADA UMUMNYA
(semua kelompok umur)

1. DIAGNOSIS KLINIS (Tanpa pemeriksaan laboratorium) :

  • Malaria klinis ringan/ tanpa komplikasi
  • Malaria klinis berat/dengan komplikasi

2. DIAGNOSIS LABORATORIUM (Dengan pemeriksaan Sediaan Darah) :

2.1. MALARIA RINGAN / TANPA KOMPLIKASI

a. Malaria Falsiparum (Disebabkan oleh P. falciparum)
b. Malaria Vivaks/Ovale (Disebabkan oleh P. vivax/ovale)
c. Malaria Malariae (Disebabkan oleh P. malariae)

2.2. MALARIA BERAT / KOMPLIKASI (Disebabkan oleh P. falciparum)

Apabila terdapat 1 atau beberapa komplikasi/manifestasi klinik berat maka diagnosa pasti malaria berat ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan sediaan darah (SD) tebal positip spesies malaria yaitu : Plasmodium falciparum.
Bila hitung parasit > 5 % atau 5000 parasit/ 200 lekosit maka di diagnosa sebagai malaria berat./komplikasi. Selain jumlah parasit pada pemeriksaan darah tipis/tebal, penentuan jenis plasmodium beserta stadium (aseksual) juga penting untuk menilai malaria berat, terutama bila didapatkan P. falciparum stadium skizon.
Tetapi pada kasus yang diduga malaria berat dengan hasil pemeriksaan darah parasit malaria tidak ditemukan, sebaiknya dilakukan pemeriksaan imunoserologi.

Di daerah yang tidak mempunyai sarana laboratorium dan tenaga mikroskopis, diagnosa malaria ditegakkan hanya berdasarkan pemeriksaan klinis tanpa pemeriksaan laboratorium (anamnesa dan pemeriksaan fisik) saja.

Kriteria yang diperhatikan dalam menentukan diagnosis mikroskopik malaria adalah:

Pemeriksaan mikroskopik Parasit Malaria ( sediaan darah tebal / tipis )
• Untuk mengetahui jenis parasit malaria aseksual
• Untuk mengetahui kepadatan parasit .
• Untuk mengetahui follow-up pengobatan pada penderita yang dirawat
• Untuk menentukan nilai ambang parasit

Pemeriksaan mikroskopik merupakan pemeriksaan terpenting pada penyakit malaria karena interpretasi pemeriksaan ini selain dapat mengidentifikasi jenis plasmodium secara tepat sekaligus juga dapat menghitung jumlah parasit sehingga derajat parasitemia dapat diketahui.

Pemeriksaan mikroskopis sediaan darah tebal secara kasar sering dilaporkan dengan kode negatif, positif satu (+) s/d positif 4 (++++), artinya adalah :
Negatif (-) : tidak ditemukan parasit dalam 100 lapang pandang
Positif satu ( + ) : didapatkan 1 – 10 parasit per 100 lapang pandang.
Positif dua ( ++ ) : didapatkan 11 – 100 parasit per 100 lapang pandang.
Positif tiga ( +++ ) : didapatkan 1 – 10 parasit per 1 lapang pandang.
Positif empat ( ++++ ) : didapatkan 11 – 100 parasit per 1 lapang pandang.

Pada keadaan parasitemia hitungan secara kasar dengan kode ++++ sering sulit diinterpretasi karena dapat diartikan sebagai perhitungan 11 parasit per lapangan pandang s/d ratusan ribu per lapangan pandang, sehingga pada pembacaan ++++ selalu dianjurkan untuk melaksanakan hitung parasit yaitu dengan cara :

  1. Sediaan darah tebal : dihitung jumlah parasit setiap 200 leukosit ( eritrosit sudah lisis )
    Contoh : bila didapatkan 1500 parasit / 200 leukosit dan jumlah leukosit 8000/uL.
    Hitung parasit = 8000/200 x 1500 parasit = 60.000 parasit/uL.
  2. Sediaan darah tipis : plasmodium dihitung per 1000 eritrosit atau 10.000 eritrosit.
    Contoh : bila didapatkan 50 parasit/1000 eritrosit = 5 % dan jumlah eritrosit 4.500.000/uL.
    Hitung parasit = 4.500.000/1000 x 50 = 225.000 parasit/uL

Salah satu penilaian prognosis dapat dilakukan berdasarkan hitung parasit, yaitu :
Hitung parasit < 100.000/uL, mortalitas < 1%.
Hitung parasit > 500.000/uL, mortalitas > 50%, dan
Umumnya prognosis buruk bila hitung parasit > 250.000/uL atau > 5 %.

Selain jumlah parasit pada pemeriksaan darah tipis/tebal, penentuan jenis plasmodium beserta stadium (aseksual) juga penting untuk menilai kemungkinan terjadinya malaria berat, terutama bila didapatkan P. falciparum stadium skizon.
Setiap pemeriksaan mikroskopis plasmodium malaria dinyatakan negatif bila minimal dalam 100 lapang pandang tidak ditemukan parasit malaria. Pemeriksaan ini perlu diulang setiap 4-6 jam sebanyak 3 x berturut-turut. Bila hasil tetap negative, diulang pemeriksaan selang 1 hari, sampai 3 kali. Apabila hasil pemeriksaan SD tebal selama 3 hari berturut-turut negatip, maka dapat dinyatakan tidak didapatkan parasit malaria di dalam darah pasien dan diagnosa malaria mungkin dapat disingkirkan. Tetapi pada kasus yang diduga malaria berat dengan hasil pemeriksaan darah parasit malaria tidak ditemukan sebaiknya dilakukan pemeriksaan imunoserologi.


Metode diagnostik yang lain

Adalah deteksi antigen HRP II dari parasite dengan metode Dipstick test :

    • Dapat mendeteksi Plasmodium falsiparum
    • Mudah dalam penyediaan dan pemeriksaan
    • Dapat digunakan bila mikroskopis tidak tersedia
    • Sensitifitas dan spesifisitasnya cukup tinggi (80 – 100 %)

Kelemahannya :

    • Mahal harganya
    • Kepekaannya tergantung densitas/kepadatan parasit
    • Tidak dapat menghitung jumlah dan kepadatan parasit
    • Tidak dapat mengetahui stadium parasit
    • Dapat terjadi false positive atau false negative

Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan diagnosis klinis malaria adalah:

MALARIA RINGAN / MALARIA TANPA KOMPLIKASI

Pada anamnesis :

  • Harus dicurigai malaria pada seseorang yang berasal dari daerah endemis malaria
    dengan demam akut dalam segala bentuk, dengan / tanpa gejala-gejala lain.
  • Adanya riwayat perjalanan ke daerah endemis malaria dalam 4 minggu terakhir.
  • Riwayat tinggal di daerah malaria.
  • Riwayat pernah mendapat pengobatan malaria.
  • Riwayat transfusi darah.

Pada pemeriksaan fisik :

  • Temperatur > 37,5oC
  • Dapat ditemukan pembesaran limpa
  • Dapat ditemukan anemia

Gejala klinis malaria ringan pada umumnya :

Gejala klasik, ditemukan pada penderita yang berasal dari daerah endemis malaria atau yang belum mempunyai kekebalan atau yang baru pertama kali menderita malaria.
Gejala klasik yang khas ini terdiri dari 3 stadium yang berurutan, yaitu :

a. Menggigil (15 – 60 menit)
b. Demam (2-6 jam)
c. Berkeringat (2-4 jam)

Catatan : di daerah endemis malaria, dimana penderita telah mempunyai imunitas terhadap malaria, gejala klasik diatas tidak timbul berurutan, bahkan tidak semua gejala tsb ditemukan.

Selain gejala klasik diatas, dapat juga disertai gejala lain/gejala khas setempat, seperti :

- Lemas
- Sakit kepala
- Myalgia
- Sakit perut
- Mual & muntah
- Diare


MALARIA BERAT

Malaria berat / severe malaria / complicated malaria adalah bentuk malaria falsiparum yang serius dan berbahaya, yang memerlukan penanganan segera dan intensif. Oleh karena itu pengenalan tanda-tanda dan gejala-gejala malaria berat sangat penting diketahui oleh tenaga medis pada unit pelayanan kesehatan untuk menurunkan mortalitas malaria. Sayangnya, tanda-tanda & gejala-gejalanya tidak spesifik dan ada pada banyak penyakit berat lain yang disertai demam (severe febrile disease) yang biasa ada di negara-negara endemis malaria.
Beberapa penyakit penting yang mirip dengan malaria berat adalah : meningitis, ensefalitis, septikaemia, demam typhoid, infeksi viral, dll. Oleh karena itu pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan untuk menambah kekuatan diagnosis.

WHO mendefinisikan Malaria berat sebagai : ditemukannya Plasmodium falsiparum bentuk aseksual dengan satu atau beberapa komplikasi/manifestasi klinik berat, antara lain :

1. Gangguan kesadaran sampai koma (malaria serebral)
2. Anemia berat (Hb < 5 g% atau Ht < 15 %))
3. Hipoglikemia (gula darah < 40 mmg%)
4. Udem paru / ARDS (Adult Respiratory Distress Syndrome)
5. Kolaps sirkulasi, syok, hipotensi ( tek. Sistolik < 70 mmHg pada dewasa dan < 50 mmHg pada anak-anak), algid malaria dan septikemia.
6. Gagal ginjal akut (ARF)
7. Jaundice (bilirubin > 3 mg%)
8. Kejang umum berulang ( > 3 x dalam 24 jam)
9. Asidosis metabolik
10. Gangguan keseimbangan cairan, elektrolit & asam-basa.
11. Perdarahan abnormal dan gangguan pembekuan darah.
12. Hemoglobinuria
13. Kelemahan yang berat (severe prostration)
14. Hiperparasitemia
15. Hiperpireksia (Suhu aksila > 39,5 oC)

Seorang penderita malaria falsiparum uncomplicated/tanpa komplikasi dapat menjadi berat dan complicated kalau tidak diobati secara dini dan semestinya.

Siapa saja yang beresiko untuk mendapat komplikasi berat :

  1. Di daerah-daerah transmisi rendah – semua kelompok umur.
  2. Di daerah-daerah transmisi tinggi – anak-anak < 5 tahun, para pendatang, para pekerja yang sering berpindah-pindah, penderita dengan daya tahan tubuh yang menurun.
  3. Semua ibu hamil.


Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com


Situs Indonesia Sehat [ www.infokes.com ]

Rumah Sakit Pusat Nasional Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso Jkt


Situs Santakin [ www.santakin.com ]

Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com
Pasang iklan banner , email: info@infeksi.com

 

UTAMA  |  PENYAKIT  |  IMUNISASI  |  KUPIN  |  PLASMID  |  PENELITIAN  |  PROFILE  |  S D M  |  SEJARAH  |  RSPNPI-SS  |  REDAKSI