| |
ANTHRAX
| DIARE | DHF/DBD
| D.
CHIKUNGUYA | FILARIASIS
| FLU
BURUNG | HEPATITIS
| HIV/AIDS |
J. ENCEPHALITIS | LEPTOSPIRA
| MALARIA
| NAPZA
| PNEUMONIA |
SAPI
GILA | SARS
| TUBERKULOSIS |
TOXOPLASMOSIS |
DIAGNOSIS MALARIA
|
|
Sebagai salah satu komponen pemberantasan
malaria di Indonesia maka diagnosis dan pengobatan malaria
juga berpedoman pada strategi pemberantasan malaria global
yaitu Diagnosis sedini mungkin dan pengobatan yang tepat.
Faktor – faktor yang menjadi perhatian
untuk melakukan kegiatan diagnosis dan pengobatan penderita
malaria adalah peningkatan aksesibilitas masyarakat terhadap
fasilitas pemberi pertolongan, kualitas dan kecepatan pemberian
pertolongan menjadi prioritas program malaria. Peningkatan
aksesibilitas penderita ini dilakukan dengan memperhatikan
struktur pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan
yang ada.
|
|
PEMBAGIAN DIAGNOSIS MALARIA PADA UMUMNYA
(semua kelompok umur)
1. DIAGNOSIS KLINIS (Tanpa pemeriksaan laboratorium) :
- Malaria klinis ringan/ tanpa komplikasi
- Malaria klinis berat/dengan komplikasi
2. DIAGNOSIS LABORATORIUM (Dengan pemeriksaan Sediaan Darah)
:
2.1. MALARIA RINGAN / TANPA KOMPLIKASI
a. Malaria Falsiparum (Disebabkan oleh
P. falciparum)
b. Malaria Vivaks/Ovale (Disebabkan oleh
P. vivax/ovale)
c. Malaria Malariae (Disebabkan oleh
P. malariae)
2.2. MALARIA BERAT / KOMPLIKASI (Disebabkan oleh P. falciparum)
Apabila terdapat 1 atau beberapa komplikasi/manifestasi
klinik berat maka diagnosa pasti malaria berat ditegakkan
berdasarkan hasil pemeriksaan sediaan darah (SD) tebal positip
spesies malaria yaitu : Plasmodium falciparum.
Bila hitung parasit > 5 % atau 5000 parasit/ 200 lekosit
maka di diagnosa sebagai malaria berat./komplikasi. Selain
jumlah parasit pada pemeriksaan darah tipis/tebal, penentuan
jenis plasmodium beserta stadium (aseksual) juga penting
untuk menilai malaria berat, terutama bila didapatkan P.
falciparum stadium skizon.
Tetapi pada kasus yang diduga malaria berat dengan hasil
pemeriksaan darah parasit malaria tidak ditemukan, sebaiknya
dilakukan pemeriksaan imunoserologi.
Di daerah yang tidak mempunyai sarana laboratorium dan
tenaga mikroskopis, diagnosa malaria ditegakkan hanya berdasarkan
pemeriksaan klinis tanpa pemeriksaan laboratorium (anamnesa
dan pemeriksaan fisik) saja.
Kriteria yang diperhatikan dalam menentukan diagnosis mikroskopik
malaria adalah:
Pemeriksaan mikroskopik Parasit Malaria ( sediaan darah
tebal / tipis )
• Untuk mengetahui jenis parasit malaria aseksual
• Untuk mengetahui kepadatan parasit .
• Untuk mengetahui follow-up pengobatan pada penderita
yang dirawat
• Untuk menentukan nilai ambang parasit
Pemeriksaan mikroskopik merupakan pemeriksaan terpenting
pada penyakit malaria karena interpretasi pemeriksaan ini
selain dapat mengidentifikasi jenis plasmodium secara tepat
sekaligus juga dapat menghitung jumlah parasit sehingga
derajat parasitemia dapat diketahui.
Pemeriksaan mikroskopis sediaan darah tebal secara kasar
sering dilaporkan dengan kode negatif, positif satu (+)
s/d positif 4 (++++), artinya adalah :
Negatif (-) : tidak ditemukan parasit dalam 100 lapang pandang
Positif satu ( + ) : didapatkan 1 – 10 parasit per
100 lapang pandang.
Positif dua ( ++ ) : didapatkan 11 – 100 parasit per
100 lapang pandang.
Positif tiga ( +++ ) : didapatkan 1 – 10 parasit per
1 lapang pandang.
Positif empat ( ++++ ) : didapatkan 11 – 100 parasit
per 1 lapang pandang.
Pada keadaan parasitemia hitungan secara kasar dengan
kode ++++ sering sulit diinterpretasi karena dapat diartikan
sebagai perhitungan 11 parasit per lapangan pandang s/d
ratusan ribu per lapangan pandang, sehingga pada pembacaan
++++ selalu dianjurkan untuk melaksanakan hitung parasit
yaitu dengan cara :
-
Sediaan darah tebal : dihitung jumlah
parasit setiap 200 leukosit ( eritrosit sudah lisis )
Contoh : bila didapatkan 1500 parasit / 200 leukosit dan
jumlah leukosit 8000/uL.
Hitung parasit = 8000/200 x 1500 parasit = 60.000 parasit/uL.
-
Sediaan darah tipis : plasmodium dihitung
per 1000 eritrosit atau 10.000 eritrosit.
Contoh : bila didapatkan 50 parasit/1000 eritrosit = 5
% dan jumlah eritrosit 4.500.000/uL.
Hitung parasit = 4.500.000/1000 x 50 = 225.000 parasit/uL
Salah satu penilaian prognosis dapat dilakukan berdasarkan
hitung parasit, yaitu :
Hitung parasit < 100.000/uL, mortalitas < 1%.
Hitung parasit > 500.000/uL, mortalitas > 50%, dan
Umumnya prognosis buruk bila hitung parasit > 250.000/uL
atau > 5 %.
Selain jumlah parasit pada pemeriksaan darah tipis/tebal,
penentuan jenis plasmodium beserta stadium (aseksual) juga
penting untuk menilai kemungkinan terjadinya malaria berat,
terutama bila didapatkan P. falciparum stadium skizon.
Setiap pemeriksaan mikroskopis plasmodium malaria dinyatakan
negatif bila minimal dalam 100 lapang pandang tidak ditemukan
parasit malaria. Pemeriksaan ini perlu diulang setiap 4-6
jam sebanyak 3 x berturut-turut. Bila hasil tetap negative,
diulang pemeriksaan selang 1 hari, sampai 3 kali. Apabila
hasil pemeriksaan SD tebal selama 3 hari berturut-turut
negatip, maka dapat dinyatakan tidak didapatkan parasit
malaria di dalam darah pasien dan diagnosa malaria mungkin
dapat disingkirkan. Tetapi pada kasus yang diduga malaria
berat dengan hasil pemeriksaan darah parasit malaria tidak
ditemukan sebaiknya dilakukan pemeriksaan imunoserologi.
|
|
Metode
diagnostik yang lain
Adalah deteksi antigen HRP II dari parasite dengan metode
Dipstick test :
- Dapat mendeteksi Plasmodium falsiparum
- Mudah dalam penyediaan dan pemeriksaan
- Dapat digunakan bila mikroskopis tidak tersedia
- Sensitifitas dan spesifisitasnya cukup tinggi (80 –
100 %)
Kelemahannya :
- Mahal harganya
- Kepekaannya tergantung densitas/kepadatan parasit
- Tidak dapat menghitung jumlah dan kepadatan parasit
- Tidak dapat mengetahui stadium parasit
- Dapat terjadi false positive atau false negative
Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
menentukan diagnosis klinis malaria adalah:
MALARIA RINGAN / MALARIA TANPA KOMPLIKASI
Pada anamnesis :
- Harus dicurigai malaria pada seseorang yang berasal dari
daerah endemis malaria
dengan demam akut dalam segala bentuk, dengan / tanpa gejala-gejala
lain.
- Adanya riwayat perjalanan ke daerah endemis malaria dalam
4 minggu terakhir.
- Riwayat tinggal di daerah malaria.
- Riwayat pernah mendapat pengobatan malaria.
- Riwayat transfusi darah.
Pada pemeriksaan fisik :
- Temperatur > 37,5oC
- Dapat ditemukan pembesaran limpa
- Dapat ditemukan anemia
Gejala klinis malaria ringan pada umumnya :
Gejala klasik, ditemukan pada penderita yang berasal dari
daerah endemis malaria atau yang belum mempunyai kekebalan
atau yang baru pertama kali menderita malaria.
Gejala klasik yang khas ini terdiri dari 3 stadium yang berurutan,
yaitu :
a. Menggigil (15 – 60 menit)
b. Demam (2-6 jam)
c. Berkeringat (2-4 jam)
Catatan : di daerah endemis malaria, dimana penderita telah
mempunyai imunitas terhadap malaria, gejala klasik diatas
tidak timbul berurutan, bahkan tidak semua gejala tsb ditemukan.
Selain gejala klasik diatas, dapat juga disertai gejala lain/gejala
khas setempat, seperti :
- Lemas
- Sakit kepala
- Myalgia
- Sakit perut
- Mual & muntah
- Diare
|
|
MALARIA
BERAT
Malaria berat / severe malaria / complicated
malaria adalah bentuk malaria falsiparum yang serius dan berbahaya,
yang memerlukan penanganan segera dan intensif. Oleh karena
itu pengenalan tanda-tanda dan gejala-gejala malaria berat
sangat penting diketahui oleh tenaga medis pada unit pelayanan
kesehatan untuk menurunkan mortalitas malaria. Sayangnya,
tanda-tanda & gejala-gejalanya tidak spesifik dan ada
pada banyak penyakit berat lain yang disertai demam (severe
febrile disease) yang biasa ada di negara-negara endemis malaria.
Beberapa penyakit penting yang mirip dengan malaria berat
adalah : meningitis, ensefalitis, septikaemia, demam typhoid,
infeksi viral, dll. Oleh karena itu pemeriksaan laboratorium
sangat diperlukan untuk menambah kekuatan diagnosis.
WHO mendefinisikan Malaria berat sebagai
: ditemukannya Plasmodium falsiparum bentuk aseksual dengan
satu atau beberapa komplikasi/manifestasi klinik berat, antara
lain :
1. Gangguan kesadaran sampai koma (malaria serebral)
2. Anemia berat (Hb < 5 g% atau Ht < 15 %))
3. Hipoglikemia (gula darah < 40 mmg%)
4. Udem paru / ARDS (Adult Respiratory Distress Syndrome)
5. Kolaps sirkulasi, syok, hipotensi ( tek. Sistolik <
70 mmHg pada dewasa dan < 50 mmHg pada anak-anak), algid
malaria dan septikemia.
6. Gagal ginjal akut (ARF)
7. Jaundice (bilirubin > 3 mg%)
8. Kejang umum berulang ( > 3 x dalam 24 jam)
9. Asidosis metabolik
10. Gangguan keseimbangan cairan, elektrolit & asam-basa.
11. Perdarahan abnormal dan gangguan pembekuan darah.
12. Hemoglobinuria
13. Kelemahan yang berat (severe prostration)
14. Hiperparasitemia
15. Hiperpireksia (Suhu aksila > 39,5 oC)
Seorang penderita malaria falsiparum uncomplicated/tanpa
komplikasi dapat menjadi berat dan complicated kalau tidak
diobati secara dini dan semestinya.
Siapa saja yang beresiko untuk mendapat komplikasi
berat :
- Di daerah-daerah transmisi rendah – semua kelompok
umur.
- Di daerah-daerah transmisi tinggi – anak-anak <
5 tahun, para pendatang, para pekerja yang sering berpindah-pindah,
penderita dengan daya tahan tubuh yang menurun.
- Semua ibu hamil.
|
|
|
|
|