|
| |
|
|
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
| |
| |
S A R S ( SEVERE ACUTE RESPIRATORY SYNDROMA ) |
| DEFINISI
: |
ADALAH SINDROMA
PERNAPASAN AKUT BERAT YANG MERUPAKAN PENYAKIT INFEKSI
PADA JARINGAN PARU MANUSIA YANG PENYEBABNYA ADALAH CORONA
VIRUS SUATU "SINGLE
STRANDED ENVELOPED RNA VIRUS "
|
Cara Penyebaran SARS
Cara penyebaran penyakit sindrom pernapasan
sangat akut (SARS) kini telah diketahui. Melalui penelitian
terakhir terungkap virus SARS ditemukan pada kelenjar keringat
dan pencernaan. Secara teoritis, penyakit ini dimungkinkan
menyebar tidak saja lewat perantara udara.
SARS bisa menyebar melalui makanan yang telah terkontaminasi,
kotoran, dan bahkan dengan bersalaman. Temuan ini merupakan
hasil studi yang dilakukan oleh ahli patologi dari First
Military Medical University, Guangzhou, Cina. Para peneliti
mengingatkan agar pemerintah memberi perhatian serius kepada
kesehatan masyarakat terutama jika nantinya SARS ditemukan
menyebar dengan cara yang tidak terduga.
Untuk menguji keberadaan coronavirus (SARS-CoV) yang menyebabkan
penyakit sindrom pernapasan sangat akut itu tim peneliti
menjalankan dua metode penelitian. Pertama, mengikat virus
dengan antibodi. Kedua, dengan mencari kejelasan tentang
fragmen DNA virus tersebut.
Dengan memakai dua pendekatan ini, para peneliti menguji
jaringan yang diambil dari empat orang pasien yang telah
wafat akibat SARS. Sebagai pembanding, mereka juga mengumpulkan
jaringan empat orang yang telah meninggal dengan sebab yang
berbeda. Hasilnya sangat luar biasa.
Publikasi dalam Journal of Pathology menyebutkan para peneliti
menemukan paru-paru korban SARS terlihat berlubang akibat
ulah virus SARS. Hampir 49 persen sel pada jaringan paru-parunya
terinfeksi. ''SARS-CoV ternyata juga terdeteksi keberadaannya
di banyak organ dan jaringan lain. Termasuk perut, usus
kecil, kelenjar keringat, paratiroid, ginjal, pankreas,
hati, dan cerebrum otak,'' ungkap Ding Yangqing selaku ketua
tim peneliti.
Infeksi virus pada sel usus kecil dan sistem ginjal mencapai
angka 25 sampai 49 persen. Sedangkan, di hati, pankreas,
dan otak sel yang terinfeksi kurang dari 24 persen. ''Seperti
alur pernapasan, sistem pencernaan dimungkinkan menjadi
target utama virus SARS,'' imbuhnya.
Hal itu mengindikasikan SARS-CoV dapat masuk melalui makanan
atau minuman hingga akhirnya menyerang sistem pencernaan.
''Laporan penyebaran dengan cara ini memang belum ada. Tetapi,
selama masa endemik SARS, selayaknya segala kemungkinan
cara penyebaran SARS mendapat perhatian yang sungguh-sungguh,''
ujar Yangqing.
Tahun lalu, SARS menyebabkan kematian sekitar 800 orang
di berbagai negara. Sebanyak 8 ribu lainnya terinfeksi.
Hingga kini, belum ada pengobatan ataupun vaksin yang dapat
menyelamatkan nyawa penderitanya.
Munculnya serangan SARS dalam lingkup kecil terjadi beberapa
minggu lalu di Cina. Peristiwa itu terjadi setelah adanya
kecerobohan penanganan virus di dalam laboratorium. Kejadian
ini telah menyebabkan 9 orang terdiagnosis SARS.
|
Wabah SARS Merebak, 600 Warga China Diisolasi
Beijing - Lebih dari 600 orang diisolasi di Beijing, ketika
kota tersebut tengah berupaya mencegah penyebaran wabah SARS
menjelang hari libur nasional buruh di negara tersebut. Demikian
dikatakan oleh media setempat dan karyawan medis, Selasa (27/04/2004).
"Jumlah orang yang telah diisolasi meningkat menjadi
lebih dari 600 orang karena wabah SARS," tegas Wu Jiang
selaku Direktur Departemen Pengawasan Penyakit Infeksi di
Beijing. Menurut Wu, situasi saat ini dibawah pengawasan dan
kecil kemungkinan bahwa wabah SARS akan mempengaruhi warga
Beijing.
Pihak berwajib China pekan lalu mengatakan seorang peneliti
di sebuah laboratorium yang bermaskas di Beijing terjangkit
virus SARS, dan menginfeksi seorang perawat yang menjaganya
di sebuah rumah sakit di Beijing. Sejauh ini, ada 6 tersangka
dan dua kasus telah dikonfirmasikan di Beijing dan Provinsi
An Hui. Sedikitnya 133 orang diisolasi di Anhui.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengirimkan
sebuah tim ke China untuk melakukan penyelidikan bagaimana
penyebaran virus tersebut dapat terjadi, dan memeriksa apakah
peraturan keamanan bio internasional diterapkan. Tahun lalu
wabah SARS menewaskan hampir 800 orang dan menginfeksi lebih
dari 1.800 orang di seluruh dunia. (Tom) Sumber: AFP
|
|
Beijing Kembali Menyelidiki Kasus SARS
Aktivitas di sebuah laboratorium riset di
Beijing. 26/4/2004 09:24 — Pemerintah Cina menyelidiki
empat kasus dugaan penyakit pernapasan akut (SARS) menyusul
ditemukannya kasus SARS di Beijing. WHO mengirimkan sebuah
tim ahli untuk membantu penyelidikan.
Liputan6.com, Beijing: Pemerintah Cina menyelidiki empat kasus
dugaan penyakit pernapasan akut (SARS) yang terjadi di Beijing.
Langkah ini hanya berselang beberapa hari setelah pemerintah
mengkonfirmasikan dua kasus SARS yang terkait dengan sebuah
laboratorium riset di Beijing. Pekan silam, tercatat dua orang
positif terjangkit SARS dan enam lainnya baru dugaan [baca:
Dua Kasus Dugaan SARS Ditemukan di Cina].
Penyakit mematikan itu antara lain menyerang ibunda Song,
pekerja di sebuah laboratorium SARS di Beijing. Ia adalah
korban SARS pertama yang meninggal tahun ini. Pemerintah Cina
menyatakan, si ibu meninggal akibat serangan jantung. Namun,
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai bahwa korban menderita
gejala yang mirip penyakit SARS. WHO kemudian mengirimkan
sebuah tim ahli untuk membantu menyelidiki keterkaitan laboratorium
tempat Song bekerja.
Song diduga menulari ibunya saat kembali ke Anhui. Song juga
pernah dirawat di sebuah rumah sakit di Beijing beberapa waktu
silam. Ia pun pernah berhubungan dengan seorang perawat bernama
Li yang kini menderita SARS. Kini, ratusan pekerja lab yang
pernah berhubungan dengan pasien SARS mulai dikarantina di
sebuah hotel di pinggiran Kota Beijing.(ZAQ/Yoh) |
Wabah SARS di China Berpotensial Menyebar Luas
Manila - Wabah SARS yang merebak di China belum menjadi ancaman
serius bagi kesehatan publik, namun penyakit tersebut mungkin
akan menyebar secara luas melalui jaringan kereta api di negara
bambu tersebut. Demikian disampaikan oleh Organisasi Kesehatan
Dunia (WHO), Senin (26/04/2004).
WHO khawatir bahwa wabah tersebut dapat berubah menjadi epidemi
karena pasien yang terjangkit virus tersebut, yakni seorang
peneliti medis yang melakukan perjalanan panjang menggunakan
kereta api, setelah terjangkit virus SARS.
"Karena perjalanan panjang dengan kereta api adalah tidak
mudah untuk menemukan seluruh orang yang diduga melakukan
kontak dengan pasien tersebut," kata Direktur Wilayah
Pasifik Bara Shigeru Omi dalam sebuah konferensi pers.
Pihak berwajib China mengatakan seorang peneliti di sebuah
pusat medis di Beijing terjangkit virus SARS, dan kemudian
menginfeksi seorang perawat yang menjaganya di sebuah rumah
sakit Beijing. Omni juga mengkritik keamanan laboratorium
dan mengatakan belum tahu apakah ada warga asing yang melakukan
penelitian di laboratorium tersebut. (Tom) Sumber: AFP
|
Kasus SARS Kembali Merebak
di China, Satu Orang Tewas
Beijing - China, Jumat (23/04/2004), melaporkan satu orang
tewas akibat terjangkit virus SARS. Kematian akibat wabah
SARS tersebut merupakan kasus pertama kalinya di dunia yang
dilaporkan di tahun 2004 ini.
Pemerintah China sendiri telah memerintahkan para pejabat
setempatnya untuk memulai pemeriksaan terhadap ribuan orang
di bandar udara dan stasiun kereta api, untuk mencegah penyebaran
virus SARS tersebut di negaranya.
Ratusan orang yang kemungkinan dianggap berpeluang terjangkit
virus SARS, sehubungan dengan temuan dua warga negaranya yang
mengidap gejala virus SARS beberapa hari lalu, telah ditahan
dibawah pengawasan ketat. Sejauh ini kebanyakan mereka adalah
perawat rumah sakit. Pemerintah China membenarkan bahwa dua
karyawan laboratorium mengidap penyakit SARS bersama dengan
seorang perawat.
Dua Karyawan laboratorium tersebut diidentifikasi sebagai
seorang pria berusia 31 tahun dari Beijing dan seorang wanita
berusia 26 tahun dari Provinsi An Hui. Keduanya adalah karyawan
Kantor Pusat China untuk Pengawasan Penyakit di Beijing. Sedangkan
seorang perawat wanita (20) yang diduga terjangkit penyakit
yang sama bekerja di sebuah rumah sakit di Beijing. (Tom)
Sumber: AP
|
Vaksin Kedua SARS
Sabtu, 24 April 2004, Penelitian untuk menemukan
vaksin penyakit radang pernafasan sangat akut (SARS) sepertinya
makin mendekati hasil. Eksperimen yang dilakukan oleh peneliti
asal Amerika Serikat (AS) memperlihatkan vaksin yang dikembangkannya
telah berhasil melindungi tikus dari infeksi SARS.
Vaksin eksperimental kedua ini dianggap menjanjikan harapan.
Ini merupakan vaksin eksperimental kedua yang dikembangkan
oleh Natiional Institute of Allergy and Infectious Diseases
(NIAID). Hasil eksperimen itu telah dipublikasikan di Proceedings
of the National Academy of Sciences. ''Ada dua kandidat vaksin
yang terlihat efektif bekerja memerangi infeksi SARS pada
tikus,'' ungkap Direktur NIAID, Dr Anthony Fauci. Kedua vaksin
itu dibuat berdasarkan dua teknologi yang berbeda. Pendekatan
ini menjadi terobosan tersendiri dalam penemuan vaksin SARS.
''Kemajuan yang dicapai saat ini cukup besar. Kini, pengetahuan
tentang SARS sudah lebih banyak dibandingkan apa yang diketahui
pada tahun lalu,'' imbuh Fauci. Sebelumnya, pada awal pekan
ini (19/4) Khaw Boon Wan selaku acting minister for health
Singapura memperkirakan vaksin SARS baru dapat tersedia empat
sampai lima tahun lagi. Pendapatnya itu selaras dengan prediksi
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
''Sebab, selama ini penelitian yang dilakukan oleh Singapura,
AS, dan Cina belum ada yang berhasil melampaui tahap pertama
pengujian pada hewan,'' papar Khaw Boon Wan. SARS telah merenggut
sekitar 800 nyawa. Selama tahun 2003 silam, penyakit ini sempat
menginfeksi 8.000 orang di seluruh dunia. Kebanyakan kasusnya
terjadi di Asia dan Kanada. Laporan : rei/afp/straits times |
Dua Kasus Dugaan SARS
Ditemukan di Cina
Penjagaan sebuah rumah sakit yang diisolasi
akibat wabah Sars. 23/4/2004 07:12 — Kasus SARS pertama
ditemukan di Beijing, sedangkan kasus lainnya di Anhui. Kasus
ini adalah yang pertama ditemukan sejak wabah sindrom pernapasan
akut merebak di Cina pada musim panas silam.
Liputan6.com, Beijing: SARS atau sindrom pernapasan akut kembali
menyerang Cina. Baru-baru ini, pemerintah Cina melaporkan
dua kasus dugaan SARS. Kasus SARS pertama ditemukan di Beijing,
sedangkan kasus lainnya di Anhui. Kasus ini adalah yang pertama
ditemukan sejak wabah SARS merebak di Cina pada musim panas
silam.
Pasien yang diduga mengidap SARS di Beijing adalah seorang
perawat. Ia telah dikarantina dan menjalani perawatan dari
tim ahli Kementrian Kesehatan Cina di salah satu rumah sakit.
Lima orang lainnya yang sempat kontak dengannya juga dilaporkan
menderita gejala demam dan telah diisolasi. Sementara 171
orang lainnya kini tengah diawasi setelah diketahui sempat
kontak dengan perawat tadi.
Kasus SARS di Provinsi Anhui, meski telah dilaporkan kepada
Otoritas Hongkong oleh Kementrian Kesehatan, tapi belum ada
pemberitaan soal tersebut. Asal tahu saja, Cina sempat dikecam
dunia internasional saat kasus SARS merebak di sana. Bahkan
Delegasi Cina yang akan menghadiri Konferensi Kesehatan di
Masterton, Selandia Baru, dilarang masuk oleh pemerintah setempat.
Cina dituding sengaja menyembunyikan informasi saat penyakit
itu mulai menyebar.(AWD/Uri)
|
Dua Kasus SARS Ditemukan
di China
Beijing - Menteri Kesehatan China melaporkan
dua kasus SARS, satu kasus di Provinsi An Hui dan satunya
lagi di ibukota Beijing. Demikian dikatakan oleh juru bicara
kementerian tersebut, Jumat (23/04/2004).
Juru bicara kementerian kesehatan China juga mengatakan bahwa
ibu dari wanita yang diduga terjangkit virus SARS di An Hui
tersebut, tewas pada tanggal 19 April lalu dengan dugaan mengidap
penyakit SARS.
Para pejabat kesehatan tengah melakukan penyelidikan
terhadap dua kasus SARS tersebut. Penemuan dua kasus tersebut
sedikit membuat khawatir pemerintah China, yang sebelumnya
percaya bahwa wabah SARS di negaranya telah berakhir.
Sebelumnya, pada hari Kamis (22/04/2004) kemarin dilaporkan
oleh Kantor Berita Xinhua bahwa seorang perawat wanita berumur
20 tahun jatuh sakit, dengan gejala virus SARS pada tanggal
5 April 2004, dan diakui oleh pihak rumah sakit dua hari kemudian.
Menurut juru bicara kementerian kesehatan China tersebut,
wanita tersebut menderita panas dingin dan batuk-batuk. Sementara
itu, lima orang lainnya yang diduga melakukan kontak langsung
dengan wanita itu telah diisolasi untuk diawasi. Selain itu,
171 orang juga diawasi. (Tom) Sumber: CNN |
Interferon Membantu
Pengobatan SARS
Minggu, 14 Maret 2004, Di kalangan dokter,
interferon bukanlah sesuatu yang asing. Obat ini biasa digunakan
untuk mengobati penyakit hepatitis C. Tapi ternyata, interferon
tak cuma berguna bagi pasien hepatitis C. Penelitian terbaru
menunjukkan, obat ini juga bisa membantu mengobati SARS (sindrom
pernapasan sangat akut).
Khasiat interferon ini diteliti oleh para ahli dari Erasmus
Medical Centre, Rotterdam dengan obyek penelitian berupa beberapa
ekor monyet. Mula-mula, monyet itu diinfeksi dengan virus
penyebab SARS. Setelah positif terserang SARS, binatang-binatang
itu lalu diobati dengan interferon. Hasilnya, kondisi mereka
membaik. Monyet-monyet itu pun bisa bernapas kembali dengan
lega, padahal sebelumnya mengalami sesak napas.
Selain efektivitasnya itu, interferon juga gampang didapat
dan tidak menimbulkan efek samping yang berat. ''Langkah selanjutnya,
adalah mengujinya pada manusia seandainya terjadi wabah SARS
lagi,'' kata Albert Osterhaus yang memimpin penelitian ini.
Sejak wabah SARS meledak, memang belum ada obat atau vaksin
yang efektif untuk melumpuhkan SARS. ''Obat ini (interferon)
bisa jadi merupakan cara terbaik untuk mengatasi SARS,'' kata
Stuart Siddell, ahli virus dari Universitas Bristol, Inggris.
Sementara pakar virus dari London Queen Mary's School of Medicine,
John Oxford mengatakan, interferon bisa diberikan sebagai
sarana pencegahan bagi para petugas medis, dan teman-teman
atau keluarga pasien SARS.
Merokok di Luar Ruang, Bukan Langkah Aman
Dengan maksud agar anak-anak tidak terpapar asap rokok, orangtua
yang juga perokok biasanya memilih untuk merokok di luar rumah.
Apakah ini langkah yang tepat dan aman? Jawabnya, tidak. Sebab,
walau sudah merokok di luar ruangan, orangtua yang perokok
ini masih tetap bisa menularkan efek buruk rokok pada anak-anaknya.
Mengapa begitu? Menurut para peneliti dari Universitas San
Diego, California, AS, ini karena si perokok tetap akan membawa
nikotin ke dalam rumah. Anda tahu, asap yang mengepul dari
batang rokok tak semuanya terbang ke udara, tapi ada sebagian
yang menempel pada rambut dan baju si perokok. Dengan sendirinya,
partikel-partikel yang ada dalam asap rokok itu pun akan dibawa
kembali ke dalam rumah, kemudian melekat pada debu dan udara
di dalam rumah.
Tanpa disadari, anak-anak dan anggota keluarga lain yang tidak
merokok menghirup udara yang tercemar partikel berbahaya dari
asap rokok. Sementara debu yang telah tercemar itu akan menempel
pada mainan anak-anak, karpet, seprei, selimut dan sebagainya.
''Anak-anak biasanya suka sekali memegang benda-benda di rumah,
lalu menempelkannya ke mulut. Dari sinilah, mereka menghirup
partikel-partikel berbahaya itu,'' kata Georg Matt, salah
seorang peneliti. Laporan : bbc health/hid |
Barrierman, Baju Anti-SARS
Berbahaya
Baju anti-Sindrom Saluran Pernapasan Akut.
17/2/2004 08:30 — Pakar pengendalian penularan penyakit
di Hongkong menuding baju Barrierman sangat berbahaya bagi
para dokter dan petugas medis. Karena resleting di depan depan
baju justru membantu penyebaran virus.
Liputan6.com, Hongkong: Baju anti-Sindrom Saluran Pernapasan
Akut justru mempermudah penularan SARS. Keyakinan itulah yang
disampaikan dokter Wing Hong Seto, pakar pengendalian penularan
penyakit dari Hongkong, baru-baru ini. Dia menuding baju Barrierman
sangat berbahaya. Terutama bagi para dokter dan petugas medis
yang berhubungan langsung dengan virus SARS. Hal itu disebabkan
resleting yang letaknya di bagian depan, rentan penyebaran
virus. Hal senada juga dilontarkan dokter Joanne Chung dari
Universitas Politeknik Hongkong. Ia bahkan menyebut baju anti-SARS
itu malah berbahaya karena memiliki tingkat kontaminasi yang
tinggi.
Menanggapi tudingan tadi, Dupont, perusahaan pembuat baju
anti-SARS, menyatakan bahwa baju itu dirancang untuk keperluan
industri, bukan untuk dokter yang menangani kasus SARS. Tetapi
media massa setempat mengkampanyekan perlunya pekerja medis
memiliki baju tersebut. Fatalnya, Dupont adalah sponsor kampanye
tersebut.
Selain itu, sampai sekarang sudah banyak baju Barrierman yang
dilepas ke masyarakat. Termasuk oleh pemerintah Hongkong sendiri.
Padahal dalam Jurnal Pengendalian Infeksi Amerika Serikat,
baju pelindung itu justru diyakini membantu penyebaran SARS.
Anehnya, saat menyadari kekeliruan tersebut, pihak pemerintah
maupun media Hongkong malah menyatakan tak pernah mengetahui
ihwal penyebaran Barrierman.
Sejumlah donor yang menyumbang pengadaan baju menyesalkan
kampanye yang beredar dan berharap adanya riset menyeluruh
sebelum melepas produk ke pasaran. Penelitian menunjukkan
bahwa baju steril yang dikancingkan dari belakang jauh lebih
aman. Karena saat melepasnya, orang yang memakainya tidak
akan menyentuh bagian depan baju.(YAN/Rka) |
Ada Gejala 'SARS'
Kamis, 12 Februari 2004, Mendeknya roda reformasi
menyebkan kehidupan masyarakat kian terpuruk. Konflik antardaerah
merebak. Harga-harga melambung tinggi. Wajar bila sebagian
masyarakat menilai era reformasi lebih buruk ketimbang pemerintahan
Orde Baru.
Dalam jajak pendapat beberapa waktu lalu, sekitar 39,43 persen
(407 responden) setuju saja bila ada tokoh Orba yang kembali
memimpin negeri ini. Beruntung, meskipun tipis, sebanyak 457
responden (44,28 persen) menyatakan tak setuju dengan kemungkinan
kembalinya tokoh Orba.
Dari angka itu, terlihat ada gejala masyarakat merindukan
stabilitas seperti yang dicapai Orba. Istilah populernya,
ada gejala 'Sindrom Rindu Soeharto' alias SARS. Ini bisa diperkuat
dengan adanya 141 responden atau 13,66 persen yang menyatakan
'tak tahu' harus bersikap bagaimana bila ada tokoh Orba yang
kembali memimpin. Adapun 27 responden (2,61 persen) menyatakan
bisa setuju atau menolak pemimpin Orde baru itu.
Namun, yang jelas tergambar dari jajak pendapat Republika
adalah keinginan kuat masyarakat untuk memiliki presiden baru.
Sebanyak 91,37 persen (943 responden) menghendaki Pemilu 2004
menghasilkan presiden baru. Hanya 8,63 persen saja yang berpendapat
Pemerintahan Megawati Soekarnoputri tetap dipertahankan.
Tentang siapa yang pantas memimpin negeri ini, hasil polling
surat kabar Waspada yang dikutip Antara kemarin menyebutkan
Amien Rais mendapatkan dukungan tertinggi 9.912 suara dari
total 25.866 suara (38,32 persen). Hidayat Nurwahid berada
di urutan kedua dengan dukungan 28,82 persen. Selanjutnya
SB Yudhoyono (12,66 persen) dan KH Zainudin MZ (4,27 persen).
Megawati Soekarnoputri memperoleh dukungan 908 responden (3,51
persen). |
Melacak Jejak Evolusi
SARS
Selasa, 03 Februari 2004, Pelacakan asal
penyakit sindrom pernapasan sangat akut (SARS) penting untuk
menjadi bekal menangani flu burung yang tengah merebak. Sekelompok
peneliti dari Cina berhasil mengungkap fakta baru tentang
SARS. Virus SARS dinyatakannya telah berevolusi. Virus ini
memperbaiki dirinya hingga mampu mempercepat penyebaran penyakit
pernapasan nan mematikan itu. Evolusi dikatakan terjadi tahun
lalu, saat SARS mewabah.
Penelitian ini juga membuktikan SARS benar-benar melompat
dari hewan ke manusia. Tingkat kejadiannya diperkirakan cukup
sering. Karena itu, para peneliti menyarankan agar tiap kasus
baru ditangani dengan cepat. ''Langkah sigap amat diperlukan
supaya turunan virus tidak memiliki waktu untuk beradaptasi
di tubuh manusia,'' jelas pakar evolusi virus Dr Chung-I-Wu
dari Chicago University.
Sementara itu, asal penyakit sindrom pernapasan sangat akut
(SARS) pun telah terdeteksi. Penyakit ini dinyatakannya berasal
dari binatang buas di Cina. Temuan ini dihasilkannya lewat
studi genetik.
Untuk mengungkap fakta tersebut tim peneliti asal Cina yang
tergabung dalam Konsorsium Epidemiologi SARS mengambil beberapa
lusin sampel dari orang dan hewan yang terinfeksi. Sampelnya
berasal dari Cina dan Hongkong. Hasil penelitiannya kemudian
dipublikasikan dalam jurnal Science.
Civet cats, binatang semacam musang, yang dijual hidup-hidup
di pasar belahan selatan Cina merupakan tersangka utama binatang
penyebar SARS ke manusia. Sudah ribuan ekor civet cats yang
dimusnahkan sebagai langkah pencegahan. Kendati demikian,
para peneliti belum mengetahui keberadaan hewan lain--seperti
tikus yang hidup di pasar--yang mungkin juga tertular SARS
dari civet cats berbarengan dengan penularannya kepada manusia.
Chung-I-Wu menegaskan SARS civet cats bukanlah hewan tunggal
yang berperan dalam infeksi terhadap manusia. Itu terbukti
dari penelitian yang melibatkan 11 pasien SARS. Mereka terinfeksi
secara independen di area Pearl River Delta, Provinsi Guangdong
pada November 2002. Virus pada pasien tersebut terlihat identik
dengan sampel virus yang ditemukan pada beberapa civet tangkapan.
''Temuan ini begitu mengejutkan bagi saya. Tetapi, dokumentasi
ilmiah ini sangat berharga. Lompatan virus dari musang palem
ke manusia terjadi lebih dari satu kali,'' ujar ahli mikrobiologi
dari University of Tennessee, David Brian.
Seratus tiga puluh kasus yang terjadi pada Januari 2003 dinyatakan
Chung-I Wu sebagai 'tahap pertengahan'. Sedangkan perubahan
genetik virus SARS terjadi secara cepat di bulan November
2003. ''Mutasi itu membuat penularan antarmanusia terjadi
dengan mudah,'' jelasnya.
Salah satu jenis virus hasil mutasi terlihat dominan dalam
wabah terakhir. Para peneliti mengaitkannya dengan pasien
yang terkena SARS bulan Februari tahun lalu. Dokter yang merawatnya
ternyata turut terinfeksi dan membuat virus itu menyebar di
Metropole Hotel.
Kedatangan sang dokter ke hotel di Hong Kong itu dituding
menjadi penyebab penyebaran SARS secara global. Namun, bulan
kemarin, Cina melaporkan satu kasus SARS dari tiga kasus baru.
Jenis virusnya lebih mirip dengan virus pada civet daripada
virus yang menginfeksi manusia.
Kendati begitu, kondisi itu tidak membuktikan penularan virus
dari civet ke manusia. Kabar ini ditegaskan oleh Dr Mark Denison,
pakar infeksi virus dari Vanderbilt University. ''Pendeteksian
asal inangnya mesti terus dilakukan. Apalagi, kemungkinan
transmisi virus dari binatang ke manusia cukup besar,'' ucapnya.
SARS memang tidak dengan mudah menyebar dari manusia ke manusia.
Namun, keberadaannya tetap saja menebar ketakutan. Apalagi,
penyakit ini diperkirakan bakal menyerang di musim penghujan
ini.
SARS telah menyebabkan 800 jiwa melayang dari 8.000 kasus
yang menerpa Hong Kong, Cina, dan Kanada. Flu burung yang
tengah merebak di kawasan Asia Tenggara, menurut Chung-I-Wu
dapat diatasi dengan mempelajari SARS. ''Mengingat dapat mengancam
nyawa, lompatan penyakit dari hewan ke manusia harus diamati
dengan cermat,'' tandasnya. Laporan : rei/bbc/ap |
| |
|
|
|
| |
|
|
|
|