| |
|
PROSEDUR
TETAP PENANGANAN SARS |
| 1. |
TUJUAN |
: |
Sebagai
acuan penanganan Severe Acute Respiratory Syndrome (
SARS ) di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti
Saroso Jakarta. |
| 2. |
RUANG LINGKUP |
: |
Seluruh
Petugas Medis dan Paramedis dan tenaga pendukung lainnya
dalam lingkungan Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof.
Dr. Sulianti Saroso Jakarta. |
| 3. |
URAIAN UMUM |
: |
Penanganan
SARS adalah Pelayanan Tim SARS terhadap seluruh kasus
SARS yang masuk melalui Triage Instalasi Rawat Darurat
yang dilaksanakan secara berkesinambungan selama 24
jam terus menerus. |
| DEFINISI
:
- SUSPECT CASE adalah Seseorang setelah 1 November
2002 menderita sakit dengan gejala demam tinggi
(>38°C), dengan satu atau lebih gejala gangguan
pernapasan yaitu batuk, napas pendek, kesulitan
bernapas,dengan satu atau lebih keadaan berikut;
dalam 10 hari terakhir sebelum sakit mempunyai riwayat
kontak erat dengan seseorang yang didiagnosis sebagai
penderita SARS atau dalam 10 hari terakhir sebelum
sakit melakukan perjalanan ke " Affected Areas"
lihat http://www.infeksi.com/penyakit/penyakit_sars.html
- KONTAK ERAT adalah orang yang merawat, tinggal
serumah atau berhubungan langsung dengan cairan
saluran pernapasan atau jaringan tubuh penderita
SARS.
- AFFECTED AREAS adalah Negara (daerah) yang mempunyai
penderita
yang menjadi sumber penularan langsung virus SARS.
- PROBABLE CASE adalah Suspect case dengan gambaran
foto thoraks menunjukkan tanda-tanda Pneumonia atau
" Respiratory Distress Syndrome" (RDS)
atau seseorang yang meninggal karena penyakit saluran
pernapasan yang tidak jelas penyebabnya dan pada
pemeriksaan autopsi ditemukan tanda patologis berupa
RDS yang tidak jelas penyebabnya.
- PNEUMONIA adalah peradangan pada jaringan paru
yang disebabkan oleh bakteri tipik atau atipik (Mis.
virus, mycoplasma, legionella, chlamydia). Pneumonia
dapat disebabkan juga oleh jamur, parasit dan tidak
termasuk yang mycobacterium tuberculosis.
- SARS adalah infeksi saluran napas akut berat
disebabkan oleh coronavirus. Sars merupakan salah
satu type pneumonia atipik. atau SARS adalah Pneumonia
yang didapat melalui penularan di masyarakat atau
lazim disebut Community Acquired Pneumonia ( CAP
).
- FORMULIS SARS adalah formulir yang telah disiapkan
dalam rangka pencatatan dan pelaporan kasus SARS,
terdiri dari Form Sars.01, Form Sars 02, Form Sars.03,Form
Sars.04 dan Form Sars. 05. Form.W1 ...
|
| 4. |
PROSEDUR |
: |
4.1.
|
RUJUKAN
:
- Penderita yang dirujuk ke Rumah Sakit Penyakit
Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso adalah penderita
yang oleh Petugas Kesehatan dari Rumah Sakit yang
merujuk sudah dapat mengidentifikasi bahwa penderita
tersebut adalah SUSPECT CASE SARS.
- Rumah Sakit yang melakukan rujukan sebaiknya
menghubungi petugas Triage RSPI - SS untuk mempersiapkan
segala sesuatunya dalam rangka penerimaan penderita
tersebut termasuk pengiriman kendaraan ambulans
khusus untuk penanganan kasus ini ke rumah sakit
yang merujuk tersebut.
|
| 4.2. |
AMBULANCE : (
EMERGENCY MEDICAL TRANSPORT / EMT )
- Petugas EMT telah melakukan Standart Universal
Precaution. sebelum melaksanakan tugas (menjemput
/ mengantar penderita SARS)
- Jumlah petugas EMT seminimal mungkin (satu sopir,
satu paramedis).
- Didalam perjalanan penderita tidak diperkenankan
makan dan minum.
- Memperhatikan sistim ventilasi EMT.
- Kelengkapan medis standar EMT.
- Kendaraan EMT segera melakukan sterilisasi setelah
mengantar penderita sampai ke Triage Instalasi Rawat
Darurat.
- Petugas EMT segera melakukan kontrol kesehatan
kepada dokter yang telah ditunjuk untuk pelaksanaan
tugas tersebut.
|
| 4.3. |
DATANG SENDIRI
:
- Adalah masyarakat/penderita yang dengan kesadarannya
sendiri datang memeriksakan dirinya ke Triage Instalasi
Rawat Darurat RSPI - SS setelah mengetahui gejala-gejala
SARS yang ada pada dirinya.
- Penderita yang telah menjalani perawatan di Rumah
Sakit dengan dugaan SARS, tetapi setelah kembali
kerumah ternyata gejala-gejala SARS tersebut baru
timbul/nampak, penderita tersebut harus segera melakukan
kontrol ulang demi mencegah penularan lebih lanjut.
|
| 4.4. |
TEMPAT PENDAFTARAN
PASIEN ( TPP ) :
- Adalah tempat yang disediakan oleh Rumah Sakit
Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso untuk
melakukan pendaftaran diri penderita dalam rangka
pemeriksaan kesehatan oleh tim Medis Rumah Sakit.
- Pada TPP tersebut telah ditempatkan seorang petugas
tambahan yang telah dilatih untuk melakukan seleksi
terhadap seluruh penderita yang mengalami keluhan/gejala
sesuai gejala SARS.
- Petugas TPP tersebut akan mengarahkan penderita
yang telah dicurigai menderita gejala SARS tersebut
untuk diperiksa di ruang Triage IRD.
|
| 4.5. |
GEJALA SARS :
- Demam tinggi lebih dari 38 derajat celcius
- Salah satu atau lebih gangguan pernapasan.
- Napas pendek
- Kesulitan bernapas
- Dapat diserta dengan sakit kepala, nyeri otot,
nafsu makan menurun, bingung, kulit kemerahan
dan diare.
- Dan salah satu dari beberapa hal berikut :
- Dalam 10 hari terakhir telah kontak erat
dengan seseorang yang telah didiagnostik SARS
( yang merawat, serumah dengan yang merawat,
atau secara langsung telah terkontak dengan
cairan pernapasan dan cairan tubuh penderita
SARS ).
- Dalam 10 hari terakhir melakukan perjalanan
ketempat yang dilaporkan sebagai fokus penularan
( Daerah Penularan ).lihat
http://www.infeksi.com/penyakit/penyakit_sars.html
|
| 4.6. |
TRIAGE INSTALASI
RAWAT DARURAT :
- Rawat Darurat (Emergency) adalah suatu keadaan
dimana penderita memerlukan pemeriksaan dan tindakan
medis segera dan apabila tidak segera dilakukan
akan berakibat fatal bagi penderita.
- Triage adalah ruangan yang yang mempunyai fungsi
untuk melakukan seleksi terhadap penderita SUSPECT
CASE / PROBABLE CASE SARS, dimana semua petugas
telah melakukan Standart Universal Precaution.
- Seleksi pertama dilakukan oleh Perawat yang telah
dilatih dengan berpedoman pada daftar pertanyaan
(Form SARS.01) yang telah disediakan untuk itu,
sekaligus melakukan pemeriksaan awal sebelum Dokter
yang bertugas melakukan pemeriksaan lanjutan.
- Tahapan kedua adalah pemeriksaan yang dilakukan
oleh dokter Triage dengan tetap berpedoman pada
FormSars.02 dan FormSars.03 yang dilanjutkan dengan
pemeriksaan standar diagnostik medis.
- Jika terindikasi untuk dilakukan pemeriksaan
penunjang diagnostik, maka tim dokter segera melakukan
(oleh petugas Khusus) pemeriksaan laboratorium dan
Foto Toraks pada penderita tersebut.
- Dari hasil pemeriksaan diagnostik fisik dan penunjang
tersebut , dokter dapat memulangkan atau segera
merawat penderita tersebut sesuai indikasi.
- Untuk penderita yang akan dirawat, maka dokter
Triage segera melaporkan hal rencana perawatan penderita
tersebut pada dokter Konsulen jaga pada hari itu.
|
| 4.7. |
RAWAT JALAN :
- Adalah semua jenis pelayanan kesehatan perorangan
yang dilakukan oleh dokter Triage Instalasi Rawat
Darurat Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti
Sarosa, tanpa menginap.
- Dokter yang memeriksa Penderita dengan "GEJALA
SARS" yang masih meragukan, dan secara medis
masih dapat dilakukan rawat jalan.
|
| 4.8. |
LABORATORIUM :
( pemeriksaan yang dilakukan / sesuai indikasi ) (")
- Petugas laboratorium telah melakukan Standart
Universal Precaution.
- Spesimen darah (EDTA, Beku / Serum) dapat diambil
di Triage Instalasi Rawat Darurat atau diruang perawatan,
Spesimen oleh petugas laboratorium dikirim keLitbangkes
kemudian ke Namru untuk seterusnya ke CDC Atlanta.(")
- RUTIN :
- Darah Rutin : Limfosit,Trombosit,leukosit,Hb.
- Albumin/Globulin,SGOT/SGPT
- Creatine Kinase
- A G D.
- CPK. - LDH.
- Aspartat Aminotransferase, Alanine Aminotransferase
- Mikrobiologi :
- Kultur Sputum
- Sputum Acid Fast Bacilli.
- Nasopharyngeal Aspirate for Rapid Viral Antigen
Detection.
- Serologic analysis : C.Penumoniae,C.Psittaci,M.Pneumoniae
- Urinary Antigen Detection: S.Pneumoniae,L.Pneumophilae.
|
| 4.9. |
RADIOLOGI :
- Petugas Instalasi radiologi telah mempersiapkan
diri dengan Standart Universal Precaution sebelum
melaksanakan tugasnya.
- Pemeriksaan akan dilakukan selama 24 jam dengan
menggunakan dua pesawat radiologi, satu pada ruang
Instalasi dan satu lagi pesawat radiologi yang mudah
bergerak dan berada didalam ruangan perawatan
- Pemeriksaan Foto Toraks dengan gambaran Infiltrat
pada Foto Toraks adalah menunjukan bahwa kasus ini
adalah kasus SARS.
|
| 4.10. |
RAWAT SUSPECT
CASE :
- Rawat Inap adalah pelayanan kesehatan di Rumah
Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso,
dimana pasien menginap sedikitnya 1 (satu) hari
berdasarkan rujukan dari Triage Instalasi Rawat
Darurat.
- Petugas perawatan telah melakukan Standart Universal
Precaution.
- Semua penderita yang telah memenuhi gejala SARS
dan telah dilakukan seleksi pada Triage Instalasi
Rawat Darurat.
|
| 4.11. |
RAWAT PROBABLE
CASE :
- Adalah penderita yang dirawat dengan SUSPECT SARS
dan hasil Foto Toraks terdapat gambaran Infiltrat
unilateral/bilateral.
- Oksigenasi, pertahankan O2 > 90 %
- Hidrasi
- Yaitu dengan pemasangan infus (Dapat RL /
Dextrose)
- Berikan antibiotik yang mencakup kuman atipik,
dianjurkan:
- Pneumonia ringan, dapat diberikan golongan
betalaktam+, antibetalaktamase IV, (+) New Makrolide
atau golongan Respiratory Flouroquinolon IV.
- Pneumonia sedang/berat:: respiratory Flouroquinolon
IV, bila disertai / dipikirkan dengan infeksi
pseudomonas maka selain respiratory Flouroquinolon
ditambahkan cefalosporin generasi ke III antipseudomonas
atau karbapenem, ditambah lagi dengan aminoglikosida.
- Pada kasus berat, berikan steroit dosis tinggi,
Metil Prednisolon 250 - 500 mg/hari yang dibagi
dalam dua dosis ( pemberian Inravena) selama tiga
hari, kemudian dilakukan tappering off.
- Sebaiknya sejak awal masuk rawat isolasi sudah
diberikan antivirus dengan dosis awal ( ribavirin
) 2 gr, kemudian 1 gr setiap enam jam selama empat
hari atau diberikan 500 mg setiap delapan jam selama
4-6 hari.
- Pada kasus dengan RDS ataupun berkembang menjadi
RDS, maka dilakukan pengobatan sesuai prosedur RDS
sebagimana lazimnya.
|
| 4.12. |
ICU ISOLASI :
( CAP Berat )
- Frekuensi napas lebih dari 30 kali/menit
- paO2 / FiO2 < 250
- X-Ray Thoraks : gambaran infiltrat bilateral.
- Tekanan Sistolik < 90 mmHg.
- Membutuhkan ventilasi mekanik
- Membutuhkan vasopressor > 4 jam
- Creatinin serum > = 4 mg/dl.
|
| 4.13. |
PULANG KERUMAH
: (indikasi pulang perawatan)
- Penderita tidak demam selama 48 jam.
- Tidak batuk.
- Leucocyt kembali normal.
- Trombocyt kembali normal.
- CPK kembali normal dan Uji fungsi hati kembali
normal
- Perbaikan Foto Toraks.
|
| 4.14. |
ISOLASI RUMAH
: (HOME ISOLATION)
- Mengukur suhu tubuh dua kali sehari, apabila suhu
mencapai lebih dari 38° C dua kali berturut-turut
maka penderita harus melapor ke RS.
- Hindari kontak dengan orang lain dirumah semaksimal
mungkin.
- Pemeriksaan ulang/kontrol dilakukan satu minggu
setelah pulang, pemeriksaan kontrol dilakukan Foto
Toraks dan uji lain yang abnormal.
- Gunakan masker ( N95 tipe 8210, atau surgical mask).
- Penderita baru boleh masuk kerja/sekolah setelah
14 hari pulang dari Rumah Sakit.
|
| 4.15. |
KEMBALI KE TRIAGE
RUMAH SAKIT.
- Penderita yang telah menjalani isolasi rumah,
tetapi sebelum empat belas hari telah menunjukkan
gejala Sars (Mis. Demam >380C)
- Penderita pasca perawatan dapat melakukan kontrol
pada Triage Instalasi Rawat Darurat atau Poliklinik
Paru.( sesuai Indikasi )
|
| 4.16. |
KAMAR MAYAT :
- Petugas (seminimal mungkin) pemulasaran jenasah
telah memper siapkan Standart Universal Precaution (pakaian
tidak tembus air, kacamata,masker,sarung tangan
karet,apron,sepatu boot).
- Jika diperlukan untuk memandikan (air pencuci
sudah dibubuhi desinfektan) jenasah atau
perlakuan khusus terhadap jenasah maka hanya dapat
dilakukan oleh petugas khusus dengan tetap memperhatikan
Standart Universal Precaution.
- Jenasah dibungkus dengan kain kafan atau lainnya
(setelah dibungkus jenasah tidak boleh dibuka lagi,
jenasah tidak boleh dibalsem atau disuntik untuk
pengawetan).
- Kemudian jenasah penderita SARS ditutup dengan bahan yang
terbuat dari plastik (kantong plastik / tidak dapat ditembus oleh
air). Dapat juga jenasah ditutup dengan bahan kayu
atau bahan lainnya yang tidak mudah tercemar.
- Setelah proses yang telah dilakukan dikamar
jenasah maka sebaiknya jenasah tersebut langsung
dikuburkan atau dikremasi.
- Jenasah hanya dapat dibawa kepemakaman ( tempat
krematorium ) oleh kendaraan khusus.
|
| 4.17. |
TEMPAT PEMAKAMAN
UMUM :
- Setelah pelaksanaan kemungkinan pencemaran virus
SARS ini dilaksanakan dengan baik, maka pihak keluarga
dapat turut dalam penguburan jenasah tersebut.
- Penguburan dapat dilakukan pada tempat pemakamam
umum dengan tetap memperhatikan faktor resiko
transmisi.
|
| 5. |
DOKUMEN TERKAIT |
: |
5.1. |
Jadwal dokter
jaga triage, daftar jaga dokter konsulen jaga |
| 5.2. |
Daftar jaga
perawat Instalasi Rawat Darurat / Instalasi Rawat Inap/
Instalasi Laboratorium dan Instalasi Radiologi |
| 5.3. |
FORMULIS SARS
adalah formulir yang telah disiapkan dalam rangka pencatatan
dan pelaporan kasus SARS, terdiri dari Form Sars.01,
Form Sars 02, Form Sars.03,Form Sars.04 dan Form Sars.
05.Form Sars.06 |
| 5.4. |
Surat Keputusan
Direktur Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr.Sulianti
Saroso Jakarta tentang Tim Penanganan SARS di Rumah
Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso Jakarta. |
|
|
|
| |
|
LEMBAR PERTANYAAN KASUS SARS
UNTUK RUANG TRIAGE
NAMA PENDERITA :
TANGGAL MASUK DIRAWAT :
NAMA PETUGAS IRD :
PETUGAS SEGERA MELAKUKAN Standar
Universal Precautions ( Masker N95, topi, baju /
apron, sepatu dan sarung tangan )
PENDERITA MENGGUNAKAN MASKER ( SEBAIKNYA MASKER N95
)
| No. |
Pertanyaan |
Ya |
Tidak |
| 1. |
Demam lebih dari 38° C |
|
|
| 2. |
Gejala gangguan napas ( napas pendek,
kesulitan bernapas ), sakit kepala, nyeri otot, lesu,
nafsu makan menurun, bingung, kulit kemerahan dan diare. |
|
|
| 3. |
10 hari terakhir melakukan perjalanan
ketempat yang dilaporkan sebagai fokus penularan seperti
( China, Kanada, Singapura , Inggris, Vietnam dan Amerika
). |
|
|
| 4. |
Kontak erat dengan seseorang yang
telah didiagnosa SARS ( kontak erat adalah orang yang
merawat, serumah dengan yang merawat SARS, atau secara
langsung telah terkontak dengan cairan pernapasan dan
cairan tubuh penderita SARS ) |
|
|
Hasil :
-
Jika jawaban Ya pada pertanyaan 1,2,
dan 3 maka dianjurkan untuk dilakukan perawatan pada ruang
perawatan observasi / ISOLASI
-
Jika jawaban ya pada seluruh pertanyaan
maka penderita harus dirawat di ruang Isolasi SUSPECT
CASE.
-
Jika ada hasil Thoraks foto ( Pneumonia
+ ), maka penderita harus dirawat diruang Isolasi PROBABLE
CASE .
|
|
KUESIONER SKRINING
PASIEN SUSPECT CASE SARS
Untuk
meningkatkan kewaspadaan kita terhadap wabah kasus SARS, dimana
setiap pasien yang datang ke RSPI - SS akan melakukan/dilakukan
pemeriksaan terhadap suspek SARS/Probable SARS maka akan dilakukan
anamnesa dengan menggunakan kuesioner ini, kuesioner yang
telah diisi sebaiknya dilampirkan dalam status penderita Suspek/Probable
SARS.
Nama Penderita :
Tanggal Pengisian :
Nomor Rekam Medis :
Nama yang mengisi :
- Adakah gejala berikut ini
- Demam lebih 38° C
- Batuk.
- Sesak napas / Sulit bernapas.
- Nyeri otot.
- Sakit kepala
- Sakit tenggorokan.
- Sejak kapan keluhan tersebut mulai dirasakan : ..........
hari lalu.
- Apakah yang dilakukan pasien untuk mengatasi keluhan
tersebut
- Berobat ke dokter ( sebutkan nama dan alamat dokter
tsb ) ...............................
- Minum obat flu sendiri.
- Tidak melakukan apa-apa.
- Setelah melakukan hal nomor 3 tersebut diatas, apakah
gejalanya / keluhannya membaik ? Ya : ............. Tidak:..........
- Apakah pasien pernah melakukan perjalanan / transit keluar
negeri dalam waktu 4 minggu terakhir ?.
- Tidak ......., Ya ........, bila ya pilihlah negaranya:
lihat http://www.infeksi.com/penyakit/penyakit_sars.html
a. China ( Beijing,
Guangdong, Hongkong, Shanxi, Taiwan )
b. Kanada
(Toronto)
c. Singapura
d. Philipina ( Manila )
e. Vietnam ( Hanoi )
- Apakah penderita pernah :
Mengunjungi penderita tersangka SARS
Merawat penderita tersangka SARS
Tinggal bersama penderita suspek SARS.
Bertemu / kontak dengan keluarga / relasi yang melakukan
kunjungan keluar negeri dalam waktu 4 minggu terakhir :
Ya......., Tidak ........., ? Bila ya.. negara ..............................
- Adakah hasil pemeriksaan laboratorium penderita seperti
berikut ini :
- Limfopenia : ........
- Trombositopenia : .......
- Leukopenia : ......
- Gambaran hasil pemeriksaan X-ray Thoraks yang telah dilakukan
:
- Dalam batas normal.
- Pneumonia Ringan.
- Pneumonia Berat / ARDS
- Dari data-data tersebut diatas dapat diambil kesimpulan
bahwa penderita ini di diagnosa :
- Bukan SARS.
- Suspek SARS
- Probable SARS
- Tindakan petugas terhadap pasien ini : ?
- Dirawat langsung di ruang isolasi suspek SARS.
- Dirawat langsung diruang isolasi Probable SARS
- Dirawat langsung diruang ICU Isolasi SARS
- Penderita disuruh pulang, dengan edukasi.
- Pasien disuruh pulang, tanpa edukasi.
Catatan :
Lembaran ini dilampirkan dalam status penderita
Dokter Triase
|
|
|
MEMAKAI ALAT PERLINDUNGAN PERORANGAN
(APP)
Alat
Perlindungan Perorangan meliputi: sarung tangan, masker/respirator,
pelindung mata (pelindung wajah, kacamata), tutup kepala,
apron, dan lainnya. Pembatas yang efektif adalah yang dibuat
dari bahan yang tidak bisa ditembus oleh cairan.
1. Sarung tangan
Sarung
tangan melindungi tangan dari bahan-bahan terinfeksi dan
melindungi pasien dari mikroorganisma yang berasal dari
tangan petugas. Alat ini adalah satu-satunya pembatas fisik
yang lebih penting selain cuci tangan untuk mencegah penyebaran
infeksi.
Tergantung pada situasi yang dihadapi, sarung tangan rumah
tangga perlu dikenakan oleh semua petugas bila :
-
Ada kemungkinan kontak tangan dengan
darah / cairan tubuh, selaput lendir, kulit yang terbuka
-
Melakukan prosedur medis invasif (memasang
selang infus)
-
Menangani bahan sampah terkontaminasi
atau menyentuh permukaan terkontaminasi.
Langkah-langkah mengenakan sarung tangan:
| LANGKAH 1: |
Cuci
tangan dengan air dan sabun 10-15 detik dan keringkan
dengan handuk kertas/kain sekali pakai atau pengering |
| LANGKAH 2: |
Kenakan kedua
sarung tangan. Sepasang sarung tangan bersih untuk prosedur
yang memerlukan sentuhan halus (seperti pengambilan
sampel darah) atau sepasang sarung tangan rumah tangga
untuk membersihkan permukaan yang terkontaminasi dengan
desinfektan. |
| LANGKAH 3: |
Dekontaminasi
sarung tangan dengan merendam dalam larutan klorin 0.5%
selama 10 menit bila sarung tangan akan dipakai lagi.
Bila tidak dipakai ulang, buang kedalam tempat sampah
terkontaminasi yang anti bocor. |
| LANGKAH 4: |
Cuci tangan dengan
air dan sabun 10-15 detik dan keringkan dengan handuk
kertas/kain sekali pakai atau pengering udara sebelum
kontak dengan pasien berikut atau petugas. |
2. Masker and respirator
Utamanya
masker dikenakan untuk menahan percikan cairan ketika pengguna
berbicara, batuk atau bersin. Dipakai juga sebagai pembatas
cipratan darah atau cairan tubuh terkontaminasi agar tidak
mengenai hidung atau mulut. Masker yang dibuat dari kain atau
kertas memang nyaman dipakai tetapi tidak menahan cairan,
tidak efektif sebagai saringan. Sedangkan masker bedah dibuat
dari bahan sintetis memberikan perlindungan bagi partikel
besar (> 5 m) dan tidak didesain untuk mencegah udara yang
bocor melalui tepi masker.
Respirator
adalah suatu jenis masker yang khusus, disebut “particulate
repirators”. Jenis inilah yang disarankan untuk dikenakan
pada keadaan dimana diperlukan penyaringan udara yang dihirup.
Alat ini terbuat dari beberapa lapis bahan penyaring dan menempel
pada wajah dengan sempurna. Masker respirator N95 efektif
untuk menahan partikel sampai sekecil 3 m. Tetapi masker ini
lebih sulit untuk dipakai bernapas.
Petugas
kesehatan yang secara rutin melakukan triage pasien tidak
perlu memakai masker bedah atau masker N95 secara rutin. Namun
masker perlu segera dikenakan pada pasien yang memenuhi kriteria
suspek SARS..
TIP MENGENAKAN MASKER N95
- Selalu cuci tangan dengan air dan sabun sebelum mengenakan
masker
- Selalu cuci tangan dengan air dan sabun serta mengeringkannya
setelah menyentuh atau melepaskan masker
- Jangan sering-sering menyentuh dan menyetel masker
- Ganti masker tiap 4 jam bila basah karena sekresi/air
ludah
- Selalu siapkan sepasang masker
- Pastikan bahwa masker menutup sempurna ke wajah
- Buang masker yang sudah dipakai ketempat sampah yang
disediakan untuk bahan terkontaminasi
CUCI
TANGAN
Mencuci tangan dengan air dan sabun akan
banyak mengurangi jumlah mikroorganisma dari kulit dan tangan.
Mencuci Tangan sebaiknya dilakukan, sebelum:
- Memeriksa pasien
- Memakai sarung tangan
atau sesudah:
- Terjadi kontaminasi pada tangan seperti
- Memegang instrumen dan item lain yang kotor
- Menyentuh selaput lendir, darah atau cairan tubuh
lain (sekresi dan ekskresi)
- Terjadi kontak lama dan intensif dengan pasien
- Setelah melepas sarung tangan
Pada daerah triase / penapisan di fasilitas pelayanan, perlu
disediakan paling tidak:
- Sabun (batang atau cair, yang antiseptik atau bukan)
- Wadah sabun yang berlubang supaya air bisa terbuang keluar
- Air mengalir (pipa, atau ember dengan keran) dan wastafel
- Handuk/lap sekali pakai (kertas, atau kain yang dicuci
setelah sekali pakai)
Langkah-langkah cuci tangan rutin adalah:
| LANGKAH 1 : |
Basahi
tangan seluruhnya |
| LANGKAH 2 : |
Pakai sabun (sabun
biasapun cukup memadai) |
| LANGKAH 3 : |
Gosok benar-benar
semua bagian tangan dan jari selama 10-15 detik, terutama
untuk membersihkan bagian-bagian bawah kuku, antara
jari, dan punggung tangan. |
| LANGKAH 4 : |
Bilas tangan dengan
air bersih mengalir. |
| LANGKAH 5 : |
Keringkan tangan
dengan handuk (lap) kertas dan gunakan handuk untuk
menutup keran. Bila handuk tidak tersedia, keringkan
dengan udara/dianginkan. |
Panduan tambahan untuk cuci tangan:
-
Bila kulit lecet atau perlu sering-sering
cuci tangan karena banyak kasus, bisa dipakai sabun lunak
(tanpa antiseptik) untuk mengangkat kotoran. Krim dan
lotion pelembab bisa dipakai untuk menghindari iritasi
kulit.
-
Bila diperlukan antimikroba (a.l.
kontak dengan pasien suspek SARS), dan bila tangan tampak
tidak kotor, maka sebagai altrernatif bisa dipakai antiseptik
gel setelah kontak.
MEMBUAT
LARUTAN GEL ALKOHOL UNTUK ANTISEPTIK TANGAN |
|
Untuk 100 ml gel tangan
- 100 ml Alkohol Isopropil atau etil 60-90%
- 2 ml Gliserin, propylene glycol atau sorbitol
Memakai antiseptik tangan:
- Tuangkan gel secukupnya untuk membasahi seluruh
permukaan tangan dan jari.
- Gosok benar-benar pada tangan, diantara jari, dan
bawah kuku sampai kering.
|
PEMROSESAN ALAT,
SARUNG TANGAN DAN PERLENGKAPAN
Risiko terbesar untuk terinfeksi adalah bagi
petugas yang:
- Melakukan atau membantu prosedur
- Memproses alat dan perlengkapan
- Menangani urusan kebersihan dan pembuangan sampah
Dekontaminasi
dan mencuci merupakan dua langah pencegahan infeksi yang sangat
efektif untuk mengurangi risiko terkena infeksi bagi petugas
kesehatan, termasuk petugas kebersihan dan rumah tangga bila
mereka menangani alat medis, sarung tangan dan lain-lain.
Sterilisasi atau DTT (desinfeksi tingkat tinggi) dilakukan
setelah deontaminasi dan pencucian selesai dilakukan.
Dekontaminasi
merupakan langkah pertama yang harus dilakukan untuk memproses
alat dan sarung tangan yang kotor, dimana alat-alat yang telah
kontak dengan darah atau cairan tubuh direndam dulu dalam
larutan klorin 0.5 % selama 10menit. Tindakan ini akan mematikan
berbagai virus sehingga aman untuk ditangani oleh petugas
yang mencuci.
CARA
MEMBUAT LARUTAN KLORIN 0.5 % |
|
| LANGKAH 1 |
Jumlah
bagian air dibutuhkan = ------ - 1 = 10 –
1 = 9 bagian
|
| LANGKAH 2 |
Campur 1
bagian larutan pekat dengan 9 bagian air
|
Note: cairan pemutih yang
beredar (Bayclean, Sunclean dll) pada umumnya mempunyai
kadar klorin 5.25%. Untuk kepastian harap di cek kembali.
|
PEMBUANGAN LIMBAH/SAMPAH DAN MENJAGA
LINGKUNGAN TETAP AMAN
Pembuangan Limbah/Sampah
Tujuan dari pengelolaan limbah adalah untuk:
- Melindungi petugas yang menangani limbah dari luka tak
sengaja
- Mencegah penyebaran infeksi kepada petugas kesehatan
yang menangani limbah/sampah
- Mencegah penyebaran infeksi kepada masyarakat sekitar
- Melenyapkan bahan-bahan berbahaya
Penanganan limbah terkontaminasi yang benar
mencakup:
-
Menggunakan plastik atau wadah besi
dengan tutup yang dapat dipasang dengan rapat
-
Pisahkan sampah terkontaminasi dan
tak terkontaminasi. Beri tanda pada wadah untuk sampah
terkontaminasi.
-
Taruh tempat sampah di tempat yang
memerlukan dan nyaman bagi pemakai
-
Perlengkapan yang digunakan untuk
menampung dan membawa sampah tidak boleh digunakan untuk
keperluan lain
-
Cuci semua wadah/tempat sampah dengan
larutan disinfektan (klorin 0.5%) dan bilas dengan air
secara teratur. Petugas pembersih harus memakai Barier
Protektif (pelindung wajah, apron, sarung tangan rumah
tangga dan sepatu boot).
-
Petugas kebersihan harus memakai Barier
Protektif ketika membuang sampah, kemudian setelah selesai
dan melepaskan sarung tangan, cuci tangan atau gunakan
antiseptik tangan berbahan dasar alcohol .
Sanitasi Lingkungan
Urusan kebersihan
di rumah sakit dan klinik, meliputi lantai, dinding, beberapa
perlengkapan tertentu, meja dan permukaan lain. Tujuan dari
kegiatan kebersihan adalah untuk::
- Mengurangi jumlah mikroorganisme yang mungkin tertinggal
di pasien, penjenguk, petugas, dan masyarakat
- Menciptakan suasana yang bersih dan menyenangkan bagi
pasien dan petugas
Jadwal dan Prosedur untuk Area Penerimaan
Pasien
- Saat pagi hari semua permukaan yang rata harus dibersihkan
dengan kain bersih yang telah dibasahi untuk menghapus
debu
- Pembersihan total / bongkar (mengepel lantai dan menggosok
semua permukaan dari atas sampai bawah) dilakukan pada:
- Akhir hari atau pergantian shift (area penerimaan
pasien)
- o Setelah transfer kasus Suspek SARS (ruang isolir)
Pembersihan
-
Petugas yang ditunjuk harus memakai
sarana pelindung (sarung tangan rumah tangga/utility dan
sepatu boot)
-
Ambil wadah/ember dekontaminasi yang
tertutup kemudian ganti dengan wadah/ember berisi larutan
klorin 0.5% baru
-
Ambil tempat untuk sampah terkontaminasi
dan ganti dengan tempat sampah bersih
-
Rendam kain lap ke dalam larutan disinfektan
dan gunakan untuk membersihkan semua permukaan termasuk
tempat penerimaan, meja, wastafek, lampu, dll. Bersihkan
dari atas ke bawah, sehingga debu yang jatuh ke lantai
dibersihkan paling akhir.
-
Permukaan ventilasi AC harus dibersihkan
dengan kain basah, sabun dan air. Penyaring udara harus
diperiksa dan dibersihkan setiap bulan.
-
Lantai harus dibersihkan dengan kain
/ alat pel menggunakan larutan pembersih 0.5%
-
Untuk setiap noda tetesan atau ekskresi
cairan tubuh, bersihkan dengan larutan klorin 0.5%
PEDOMAN
PENGAMBILAN DAN
PENGIRIMAN SPESIMEN
LANGKAH - LANGKAH
Pengambilan Spesimen
Pengambilan spesimen dilakukan oleh petugas
laboratorium atau petugas lain yang terampil dan berpengalaman.
Sesuai dengan kondisi dan situasi setempat, spesimen dapat
diambil oleh petugas RS/laboratorium setempat, atau oleh petugas
laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Pengambilan harus dilakukan dengan memperhatikan universal
precaution atau kewaspadaan dini untuk mencegah terjadinya
infeksi. Jenis spesimen yang diambil dapat berupa : usap nasopharynx,
usap oropharynx, bilasan broncheoalveolar, aspirat tracheal
atau pleural, darah (serum atau darah), urin, tinja, dan jaringan.
Dianjurkan untuk mengambil / mengirimkan lebih dari satu macam
spesimen.
Pengiriman Spesimen
Untuk sementara ini, pemeriksaan laboratorium
masih akan dilakukan di CDC Atlanta, Amerika Serikat. Pengiriman
spesimen dilaksanakan secara kolektif oleh Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan, bekerja sama dengan US NAMRU-2,
Jakarta. Untuk bulan pertama, pengiriman akan dilakukan seminggu
sekali atau seminggu dua kali. Frekuensi pengiriman selanjutnya
akan ditentukan kemudian, sesuai dengan perkembangan epidemiologi
SARS di Indonesia, perkembangan teknologi laboratorium global,
dan kebijakan Departemen Kesehatan RI.
Spesimen dari daerah dibawa ke atau dikirimkan ke Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan setiap kali ada kasus Suspect atau
probable SARS dengan alamat sebagai berikut:
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Jl. Percetakan Negara no.29
Jakarta 10560
Up. Drh. Gendro Wahyuhono,MTH.
Tilpon: 021-426-1088 ext. 126 / 021-425-9860
Fax: 021-424-5386
e-mail: gendro@litbang.depkes.go.id
Prosedur Cara Pengambilan Spesimen
Yang Berhubungan Dengan Kasus SARS
Persiapan Petugas Pengambil Spesimen
Petugas pengambil spesimen diharuskan memakai :
- Laboratorium jas (lengan panjang)
- Sarung tangan (karet)
- Kaca mata plastik (goggle)
- Masker (N 95 untuk petugas dan penderita atau masker bedah
sebanyak 3 lapis)
- Tutup kepala (plastik)
- Pakai sepatu boot (disediakan oleh RS di ruang isolasi).
Macam/ Jenis Spesimen
- Cairan Tubuh Spesimen Dari Saluran Pernafasan
- Spesimen Saluran Pernafasan Atas
Spesimen harus diambil segera pada waktu
pasien masih dalam keadaan sakit. Virus akan hilang dalam
waktu 72 jam setelah gejala penyakit timbul, sedangkan kuman
patogen lain akan dapat diisolasi setelah lewat 72 jam.
Tiga jenis spesimen dapat diambil untuk isolasi bakteri atau
virus dan pemeriksaan dengan PCR. Spesimen tersebut meliputi
:
- Usap nasopharynx
- Bilasan nasopharynx
- Usap uropharynx
Bilasan nasopharynx merupakan spesimen untuk
mendeteksi virus saluran nafas, terutama pada anak-anak berumur
2 tahun atau kurang.
Usap Nasopharynx atau Oropharynx
Gunakan swab yang terbuat dari dacron/rayon
steril dengan tangkai plastik. Jangan menggunakan kapas yang
mengandung kalsium alginat atau kapas dengan tangkai kayu,
karena mungkin mengandung substansi yang dapat menghambat
pertumbuhan virus tertentu dan dapat menghambat pemeriksaan
PCR. Untuk usap nasopharynx: masukkan swab ke dalam lubang
hidung sejajar dengan rahang atas. Biarkan beberapa detik
agar cairan hidung terhisap. Lakukan usapan pada kedua lubang
hidung. Untuk usap oropharynx: lakukan usapan pada bagian
belakang pharynx dan daerah tonsil, hindarkan menyentuh bagian
lidah. Kemudian masukkan swab sesegera mungkin ke dalam cryotube
(tabung tahan pendinginan) yang berisi 2 ml media transport
virus (Hanks BSS + antibiotik). Putuskan gagang plastik di
daerah mulut botol/tabung agar botol/tabung dapat ditutup
dengan rapat. Bungkus tabung ini dengan tissue bersih atau
kertas koran yang telah diremas-remas agar menghindarkan terjadinya
beturan-benturan pada tabung saat pengiriman. Masukkan tabung
ini kedalam kotak pengiriman primer (bahan boleh dari pipa
paralon atau sejenis tupper ware).
Spesimen Dari Saluran Pernafasan Bagian Bawah
Spesimen yang diambil dapat berupa bilasan
bronkhoalveolar, aspirasi trakheal, atau cairan pleural. Setelah
itu, separuh cairan disentrifugasi dan endapan selnya difiksasi
dalam formalin. Sisa cairan yang belum disentrifugasi ditampung
dalam botol dengan tutup luar yang bagian dalamnya mengandung
ring untuk penahan. Semua spesimen ini masukkan dalam kotak
pengiriman spesimen primer seperti diatas.
Komponen Darah
Darah fase akut harus diambil dan dikirim
sesegera mungkin. Jika mungkin spesimen fase konvalesen (3-4
minggu setelah pengambilan darah primer).
Cara pengambilan sampel:
Diambil 5–10 ml darah vena dalam tabung steril (5 ml
dari anak-anak dan 10 ml dari orang dewasa) secara lege artis
(memperhatikan kewaspadaan universal secara ketat).
Pengambilan darah pakai jarum suntik biasa.
-
Masukkan separuh dari darah yang diperoleh
kedalam tabung darah bertutup karet warna merah (tabung
steril vacum tanpa bahan pencegahan pembekuan darah) dan
separuh lagi masukkan kedalam tabung darah bertutup karet
ungu (tabung steril vacuum berisi EDTA-bahan pencegahan
pembekuan darah).
-
Diamkan darah dalam waktu 1 jam pada
suhu kamar, agar darah dalam tabung merah membeku dengan
baik.
-
Pemisahan darah bekuan dari serum
pada tabung merah dan darah dari plasma pada tabung ungu
harus dilakukan di Badan Litbangkes/Namru-2, Jakarta.
-
Semua tabung (tabung merah dan tabung
ungu) setelah dibungkus dengan kertas tissu atau kertas
koran diremas di masukkan ke dalam kotak pengiriman primer.
Pengambilan darah pakai jarum vacutainer*
- Darah ditampung lebih dahulu pada tabung darah bertutup
karet ungu sebanyak 2,5 ml dari anak-anak dan 5 ml dari
orang dewasa, lalu gantikan tabung ini dengan tabung darah
bertutup karet merah dan biarkan darah masuk sebesar 2,5
ml dari penderita anak-anak dan 5 ml dari penderita orang
dewasa.
- Diamkan darah dalam waktu 1 jam pada suhu kamar, agar
darah dalam tabung merah membeku dengan baik.
- Pemisahan darah bekuan dari serum pada tabung merah dan
darah dari plasma pada tabung ungu harus dilakukan di Badan
Litbangkes/Namru-2, Jakarta.
- Semua tabung (tabung merah dan tabung ungu) setelah dibungkus
dengan kertas tissu atau kertas koran diremas dimasukkan
ke dalam kotak pengiriman primer.
Urine
Urine hanya diambil pada fase akut. Untuk
mendapatkan virus yang optimal, 50 ml urin disentrifugasi
dengan kecepatan 2500 rpm selama 30 menit. Sentrifugasi hanya
dilakukan di Badan Litbangkes/NAMRU-2, Jakarta. Spesimen disimpan
dalam tabung poli propilen 50 ml. Tutup rapat-rapat dan lapis
dengan para film. Masukkan dalam kotak pengiriman primer setelah
dilindungi dengan kertas tissu atau kertas koran yang diremas.
Tinja
Tinja sebanyak 10-50 gram ditempatkan dalam
konteiner tinja transparan. Ditutup rapat-rapat dan dilapisi
dengan parafilm. Kemudian dimasukkan ke dalam kotak pengriman
primer. Spesimen harus dikirim dalam keadaan dingin (4o C).
Spesimen Jaringan
Jaringan dapat diambil dari semua organ tubuh
(paru, trakhea, jantung, limpa, hati, otak, ginjal, kelenjar
adrenal). Jarinagn difiksasi dalam formalin/paraffin. Jaringan
yang telah difiksasi tidak dinyatakan sebagai biohazard. Jaringan
disimpan dan dikirim dalam suhu kamar. Diberi tulisan: *Do
not freeze fixed tissues*.
Jaringan segar beku dari paru dan saluran nafas atas harus
diambil secara aseptic secepat mungkin. Cara dan waktu pengambilan
akan berpengaruh terhadap kontaminasi.
Gunakan instrumen steril secara terpisah untuk setiap pengambilan
di daerah tubuh tertentu. Letakkan setiap spesimen dalam wadah
yang terpisah yang berisi media transport virus (Hanks BSS/PBS).
Simpan dan kirim dalam keadaan beku.
Cara Pemberian Label
Setiap spesimen yang disimpan dalam wadah
khusus diberi label yang berisi informasi : nama pasien/ umur/
jenis kelamin/ tanggal pengambilan/ asal rumah sakit/ jenis
spesimen
(S=serum; NT=usap oro dan nasopharynx; U=urin; D=darah;T=tinja).
Label ditulis dengan pensil 2B atau tinta yang tidak luntur.
Pengepakan dan Pengiriman Spesimen
Cara pengepakan dan pengiriman spesimen untuk
keperluan diagnostik harus menuruti ketentuan WHO.
Bungkus kotak pengiriman primer dengan tissu atau kertas koran
yang diremas, untuk mencegah benturan-benturan pada spesimen
waktu pengiriman. Masukkan dalam kotak pengiriman sekunder.
Kotak pengiriman sekunder dapat menampung lebih dari satu
kotak pengiriman primer, asal persyaratan suhu pengiriman
sama. Bila pengiriman dalam suhu 4o C, masukkan beberapa ice
pack yang sudah dibekukan lebih dahulu. Sekali-kali jangan
mengirimnya dengan memasukkan dry ice (es kering) untuk mendinginkannya.
Pengepakan Primer (Kotak Pengiriman Primer)
-
Wadah spesimen yang pertama harus
kedap air, jika tutupnya berulir harus dilapisi dengan
parafilm atau sejenisnya.
-
Jika terdiri dari beberapa wadah harus
dibungkus secara terpisah untuk mencegah pecah akibat
berhimpitan.
-
Gunakan material pendukung di sela-sela
wadah yang mempunyai daya hisap untuk menghisap seluruh
isi yang terdapat dalam wadah pertama, apabila terjadi
kebocoran atau pecah.
-
Pada saat menentukan besarnya volume
spesimen yang dikirim sertakan besarnya volume media transport
yang digunakan.
-
Dalam wadah yang pertama tidak boleh
berisi lebih dari 500 ml atau 500 gram bahan.
-
Seluruh isi dari wadah yang pertama
disebut sebagai spesimen diagnostik.
Pengepakan Sekunder (Kotak Pengiriman Sekunder)
- Pengepakan sekunder harus menuruti aturan pengepakan bahan
infeksius.
- Pengepakan sekunder harus kedap air.
- Wadah bagian luar dilabel dengan :
- PEMERIKSAAN LABORATORIUM KESEHATAN
- JANGAN DIBALIK
- KEPADA:
Puslitbang Pemberantasan Penyakit,
Badan Litbang Kesehatan. Jl.Percetakan Negara 29.
Jakarta Pusat. 10560
Up. Drh Gendro Wahyuhono, MTH.
Pengamanan Petugas Kesehatan dan Laboratorium yang Berhubungan
dengan SARS
Untuk mencegah penularan mikroorganisme penyebab
SARS kepada petugas kesehatan dan petugas laboratorium yang
menangani spesimen dari penderita SARS maka dilakukan langkah-langkah
sebabgi berikut :
Spesimen darah untuk pemeriksaan serologi rutin, kimia dan
hematologi
Spesimen untuk keperluan ini hendaknya ditangani
dengan cara penanganan standard yang memenuhi aturan kewaspadaan
umum. Petugas laboratorium harus mengenakan perlengkapan pelindung
diri, termasuk sarung tangan karet sekali pakai (disposable),
jas laboraorium, kaca mata, masker untuk operasi dan/atau
pelindung wajah untuk melindungi selaput mukosa permukaan
dari paparan spesimen. Sentrifugasi harus dilakukan dengan
memakai tabung sentrifus yang memiliki tutup atau memakai
rotor yang memiliki penutup. Pekerjaan memasang tabung dan
membuka tabung sentrifus dilakukan di dalam biosafety cabinet.
|
Spesimen untuk pemeriksaan mikrobiologi
- Pekerjaan berikut dapat dilakukan di ruangan dengan fasilitas
Biosafety Level (BSL)-2 yang disertifikasi dan menggunakan
tatakerja BSL-2 (sesuai manual CDC/NIH Biosafety untuk Laboratorium
Mikrobiologi dan Biomedik):
-
Pemeriksaan patologi dan pengolahan
jaringan/organ yang difiksasi formalin ataupun jaringan
yang telah diinaktifasi
-
Ekstraksi asam nukleat untuk keperluan
analisis molekuler
-
Pengolahan spesimen untuk pemeriksaan
mikroskop elektron
-
Pemeriksaan rutin untuk perbenihan
bakteri dan jamur
-
Pewarnaan rutin untuk pemeriksaan
mikroskopis ataupun sediaan apus yang telah difiksasi
-
Pengepakan akhir spesimen untuk
dikirim ke laboratorium lain guna pemeriksaan laboratorium
yang lainnya. Spesimen harus sudah disimpan dalam
kontaimer primer yang telah di-sealed dan telah disterilkan
lebih dulu.
-
Pekerjaaan yang meliputi pengolahan
spesimen dapat dilakukan di ruangan dengan fasilitas BSL-2,
tapi dengan tata kerja lebih ketat seperti pada BSL-3.
Semua pengolahan spesimen harus dilakukan di dalam biosafety
cabinet. Petugas laboratorium mengenakan perlengkapan
pelindung diri, termasuk sarung tangan karet sekali pakai,
baju laboratorium lengan panjang, pelindung mata, dan
pelindung pernapasan. Alat pelindung pernapasan yang dianjurkan
adalah NIOSH yang dilengkapi dengan filter N-95 atau yang
dengan pori lebih halus lagi, pelindung pernapasan yang
dilengkapi dengan udara bersih yang disaring dengan HEPA
filter. Petugas yang tidak dapat mengenakan respirator
karena gangguan rambut di wajah ataupun gangguan lainnya,
diharuskan memakai helm respirator. Sentrifugasi harus
menggunakan tabung sentrifus tertutup atau memakai rotor
yang dipasang ataupun dibuka di dalam biosafety cabinet.
Pekerjaan-pekerjaan itu mencakup:
(a) Membagi atau mengencerkan spesimen.
(b) Inokulasi bakteri atau jamur pada media kultur.
(c) Melakukan diagnosis selain membiakkan virus baik secara
in vitro ataupun in vivi.
(d) Ekstraksi asam nukleat dari spesimen yang belum diolah.
(e) Pembuatan sediaan apus pemeriksaan mikroskopis, baik
dengan fiksasi kimia ataupun pemanas.
- Pekerjaan berikut memerlukan ruangan dengan fasilitas
BSL-3 dan tata kerja BSL-3 :
(a) Pembiakan virus pada sel/biakan sel.
(b) Identifikasi awal isolat yang berasal dari kultur spesimen
SARS
- Pekerjaan berikut memerlukan fasilitas BSL-3 hewan dan
tata kerja BSL-3 hewan:
(a) Inokulasi hewan percobaan untuk membiakkan mikroorganisme
yang berasal dari spesimen SARS.
(b) Tatakerja yang mencakup inokulasi hewan percobaan untuk
karakterisasi mikroorganisme SARS.
|
DAFTAR PUSTAKA
-
Kepmenkes Nomor 424/MENKES/SK/IV/2003,
tentang Penetapan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS)
sebagai penyakit yang dapat menimbulkan wabah dan pedoman
penanggulangannya, 2003.
-
WHO Western Pacific Regional Office,
Interim guidelines for national SARS preparedness, 2003
-
Website : WHO int, “SARS”,
2003
-
Website : CDC ‘s int, “SARS”,
2003
-
Website : RSPI – SS ( http//www.infeksi.com
)
|
| |
|
|